
...🍁🍁🍁...
"Mas... kamu kenapa sih?"
Ammar terlonjak, mendapati keberadaan sang istri yang tiba-tiba datang dari arah belakang, meraih bahunya yang sedang naik turun tidak beraturan, menahan rasa sesak yang tiba-tiba datang mendera hati, membuatnya mencemaskan seseorang.
"Kamu sudah selesai?" tanya Ammar.
"Sudah! Ayo kita berangkat!" jawab Ibel.
Ammar mengangguk, melangkah cepat mendekati mobil yang sejak tadi sudah suap meluncur menuju ke tempat mereka dinas. Namun di saat tubuh didaratkan di tempat duduk, Ammar kembali termenung. Kilasan kalimat yang terlontar dari mulut sang adik ipar kemarin, masih mengusik ketenangan.
"Ayo Mas!" seru Ibel yang menoleh.
Ammar bergeming, mengabaikan ajakan sang istri yang sudah cantik dan rapih di kursi sebelahnya. Melihat Ammar terdiam lagi, membuat Ibel mengeryit, heran pada sikap sang suami yang mendadak sendu.
"Mas... kamu kenapa?" tanya Ibel, lembut.
"Maaf Sayang, aku melamun lagi. Huuff... mungkin karena aku masih kepikiran sama masalah Dhana. Maaf ya..." jawab Ammar.
Ibel mengulas senyum, mengelus lembut bahu sang suami yang sedang gelisah di sampingnya. Membawa pikiran yang ikut melayang, tertuju pada masalah sang adik ipar yang terbilang rumit dan meresahkan. Setelah mendengar semua cerita Ammar, membuatnya mengerti, terutama dengan sikap buruk Mala selama ini pada Wulan.
Sikap buruk yang bukan berasal dari hati, melainkan dari peristiwa traumatis di masa lalu, membuat jiwa Mala terbelenggu, tak mampu mengendalikan mana yang harus dilupakan. Mempengaruhi diri yang sudah menolak, membuatnya seperti orang jahat. Terutama pada putri kandungnya sendiri.
"Jangan terlalu dipikirkan, Sayang! Kamu juga harus ingat pesan Dhana!!! Dia tidak mengizinkan kamu memikirkan semua ini! Kamu juga harus ingat dengan kondisimu." tutur Ibel, menenangkan hati sang suami.
Ammar menghela berat, teringat dengan semua yang terlanjur ia katakan pada Ibel, hingga tiada satu pun yang terlewatkan.
Namun bukan masalah Dhana yang kini mengusik pikiran, melainkan kondisi Imam.
"Mas... tuh diam lagi 'kan!" sungut Ibel.
"Maaf Sayang..." ucap Ammar, lirih.
Ibel menghela nafas panjang, tersenyum simpul melihat sikap Ammar yang sukses membuatnya gemas sejak tadi.
"Mas... dibalik semua masalah pasti ada hikmahnya. Salah satunya perubahan Al! Walaupun aku sempat khawatir setelah mendengar cerita kamu, tapi aku senang. Akhirnya hati putra kita itu terbuka dan dia sudah menerima Wulan. Tidak hanya itu, dari masalah ini kita bisa mengetahui apa yang menyebabkan sikap Mala berubah."
Ammar menghela nafas panjang, sekilas tentang masalah sang adik pun terlintas, membenarkan perkataan sang istri yang memang sangat benar dan telah terjadi. Banyak hikmah dibalik masalah Dhana, namun ada juga satu masalah lain yang lebih membuatnya takut, takut kehilangan.
"Ayo Sayang! Aku sudah tidak sabar ingin melihat Wulan! Mungkin saat ini Imam juga sudah ada di sana bersama Ziel dan Al!!! Sudah lama sekali aku tidak bertemu adik iparku itu. Padahal tadi malam aku sudah bersemangat sekali menyiapkan makanan untuk menyambut kedatangannya. Tapi karena Al minta ditemani ke Apartment untuk mengambil baju, mereka malahan ketiduran di sana! Menyebalkan sekali!!!" tutur Ibel, mendengus sebal teringat chat Imam tadi pagi yang terkirim pada Ammar.
"Sebegitu rindunya kah kamu sama adik iparmu yang tampan itu?" celetuk Ammar, menatap geli ekspresi sang istri.
"Sejak pernikahan Dhana selesai, Mas!!! Sudah lama sekali loh itu!!!" umpat Ibel.
"Oke Sayang... kita jalan ya." ujar Ammar.
Ibel mengangguk semangat, tersenyum lebar pada Ammar yang terlihat menghela nafas berat sebelum menginjakkan pedal gas mobilnya. Berusaha menepis pikiran buruk yang sejak tadi menggelayuti hati, membuatnya terus kepikiran pada Imam.
Ditambah lagi sebelum Ibel menghampiri, beberapa kali ia menghubungi sang adik ipar, namun tiada jawaban yang semakin membuatnya gelisah berkepanjangan. Hanya balasan pesan singkat tadi malam dan setelah subuh tadi yang dibalas oleh Imam, setelah itu Imam hilang tanpa kabar.
Semoga kegelisahan ku ini tidak benar. Semoga Imam baik-baik saja. Gumam Ammar dalam hati.
***
"Sudah ya, Dek. Jangan menangis lagi."
Air mata seakan tak ingin berhenti mengalir, membasahi wajah lusuh Wulan yang masih setia duduk di samping tempat tidur ibunya. Menangis terisak, mengiringi penuturan dari sang papi yang mengungkapkan segalanya hingga tak ada lagi yang ditutupi dari masa lalu, baik dari masa lalu yang menyangkut keluarganya maupun keluarga sang mami.
"Papi pastikan kalau kondisi mami kamu baik-baik saja, Sayang. Dokter Ali sudah melakukan pemeriksaan menyeluruh dan tidak ada yang serius. Mami hanya butuh psikoterapi beberapa kali untuk membuat jiwanya kembali pulih seperti sedia kala." tutur Dhana, menenangkan sang putri.
"Mami akan sembuh, Dek. Dan kita akan berkumpul lagi seperti dulu dengan sikap Mami yang pastinya akan jauh lebih baik terhadap Adek. Itulah do'a Mas saat ini!!!" timpal Damar, ikut menenangkan sang adik.
Suara isak tangis Wulan berangsur reda, kepala yang tertunduk di atas tangan sang mami kini terangkat, menggiring mata ke arah sang papi dan mas kembar tampan.
"Semuanya sudah terjadi, Sayang. Tidak ada yang salah di sini. Tugas kita saat ini adalah mengambil pelajaran dari semua masalah di masa lalu, bahwa membalas dendam itu hanya bisa menyakiti diri kita sendiri! Balas dendam itu tidak akan ada habisnya! Jadi jangan pernah hati kita ini menyimpan dendam! Lebih baik saling memaafkan dari pada saling dendam!!!"
Wulan mengangguk kecil, membenarkan nasihat sang papi dalam hati, bahwa sifat pendendam hanya akan merugikan diri sendiri, tidak akan pernah memberi untung. Sementara Damar pun bergeming, merasa tertampar hebat dengan nasihat sang papi, membuatnya teringat akan sakit hatinya pada sosok yang selalu menyakiti sang adik, pernah berniat untuk balas dendam, kendati semua itu hanya sebuah gertakan belaka.
__ADS_1
"Ibuku tidak jahat! Ibuku bukan pembunuh! Ibuku orang baik! Ibuku bukan pembunuh!"
Dhana, Damar dan Wulan terjingkat kaget, menoleh cepat ke arah Mala yang tiba-tiba meronta, belum sadar sepenuhnya namun bibirnya terus mengatakan hal yang serupa. Seakan peristiwa terbongkar nya masa lalu tempo hari kembali menghantui, meskipun matanya masih terkatup dengan rapat.
"Mala... bangun Sayang! Ini aku, Dhana! Bangunlah! Ini aku! Sayang... bangunlah!"
Dhana berusaha menyadarkan sang istri, menenangkannya walaupun ia tau kalau tindakannya mungkin saja akan sia-sia. Sementara Damar dan Wulan hanya bisa melihat sang papi yang tengah berusaha menenangkan sang mami.
"Aaaaai..." ucap Wulan, lirih.
Mala yang meronta tak terkendali pun membuka matanya lebar, seakan baru saja mengalami mimpi buruk yang membuatnya meraung-raung seperti orang tidak waras. Menatap nanar langit-langit kamar, dengan pola nafas yang tidak stabil lalu menggiring mata ke arah Dhana di sampingnya.
"Mas Dhana..."
"Iya Sayang... ini aku!"
"Aku ada di mana Mas?"
"Kamu di rumah sakit, Sayang."
"Memang aku kenapa Mas?"
"Kamu sempat pingsan kemarin."
Mala bergeming, menatap langit-langit kamar rawat rumah sakit, mengedar mata ke sepanjang sudut kamar, seakan tengah berusaha mengingat kejadian yang telah terjadi hingga membuatnya berakhir di sini.
"Mas... Damar di mana?"
Ingatan Mala masih berfungsi dengan baik, membuatnya teringat akan peristiwa yang dialami sang putra tempo hari, diculik dan disekap oleh seseorang yang belum dapat ia ingat sepenuhnya.
"Damar di sini, Mi."
Mala menoleh, menangkap sosok anak muda yang tampan, berdiri di samping tempat tidurnya seraya mengulas senyum, bersyukur karena sang mami akhirnya kini telah bangun dari tidur panjangnya.
"Damar... sini Nak!" seru Mala.
"Sini Sayang! Mami sangat mencemaskan kamu! Mami sangat merindukanmu, Nak!!!" seru Mala, mengangkat kedua tangannya seakan siap menyambut pelukan putranya.
Damar menghela nafas kasar, mengelus bahu sang adik sebelum menjatuhkan tubuhnya ke dalam dekapan sang mami.
"Mami takut terjadi sesuatu padamu, Nak! Kamu baik-baik saja 'kan Sayang?" tanya Mala, mengelus lembut wajah sang putra.
"Damar baik-baik saja kok, Mi. Mami tidak perlu khawatir lagi." jawab Damar, dingin.
"Syukurlah! Mami senang mendengarnya!" ujar Mala, mencium lembut tangan Damar.
Dhana menghela nafas berat, melihat ke arah sang putri yang hanya diam tertunduk dan dianggap tidak ada oleh sang mami. Sementara Damar melerai pelukannya, tak ingin menyiksa lahir bathin sang adik yang masih terbungkam di posisinya saat ini.
"Bukan Damar yang seharusnya Mami cemaskan, tapi Adek! Adek terluka karena peristiwa kemarin! Adek terkena tembakan keji di bahunya! Dan semua itu karena....."
"Damar..." potong Dhana cepat.
Damar menoleh, melihat gelengan samar sang papi yang menghentikan ucapannya, membuatnya teringat dengan cerita sang papi terkait kondisi sang mami yang masih rapuh dan tidak stabil jika masa kelamnya kembali terungkap. Sementara Mala yang melihat keduanya pun terlihat kebingungan.
"Karena apa Sayang?" tanya Mala.
"Karena penculik itu, Mi." jawab Damar.
Dhana menghela lega, mengangguk samar seraya tersenyum, membenarkan perkataan sang putra. Sementara Mala justru mengukir senyum, meraih tangan sang putra kembali.
"Yang terpenting bagi Mami, kamu sudah aman Sayang. Itu sudah lebih dari cukup untuk Mami." ujar Mala, tanpa ingin melirik sedikit pun ke arah putrinya yang tergugu.
Wulan semakin tertunduk pilu, tidak kuat menahan jiwa yang terus saja diabaikan, tidak diperhatikan bahkan dikhawatirkan. Membuat Dhana yang melihatnya beranjak, mendekati sang putri yang semakin tergugu.
Sementara Damar, tanpa melihat sang adik, telinganya masih bisa mendengar suara isak yang terdengar samar, membuatnya geram.
"Mi... yang diculik itu bukan hanya Damar, tapi Adek dan Mas Al juga!!! Setidaknya, setelah sadar seperti ini Mami menanyakan kondisi Adek, bukan mengacuhkan Adek!" cercah Damar, menahan hati yang geram.
"Ck!!! Mami peduli pada kamu dan Al, Nak! Dan Mami tidak ingin memikirkan orang lain dulu selain kalian. Lalu bagaimana kondisi Al? Apakah dia baik-baik saja?" ujar Mala, tiada sedikit pun rasa bersalah di wajahnya.
__ADS_1
Damar menggeram, mengepal kuat tangan yang menjadi pelampiasan, menatap nanar sang mami yang tidak kunjung berubah jua.
"Wulan..." sahut Dhana, tersentak saat putrinya merebut tabung infus lalu pergi.
Damar terperanjat, menoleh cepat ke arah belakang di mana sang papi dan sang adik berada. Namun yang dilihat Damar hanya sang papi, sedangkan Wulan berlari keluar kamar, seraya membawa tabung infusnya.
"Adek ke mana Pi?" tanya Damar.
"Susul adikmu, Damar!" seru Dhana.
Damar mengangguk, melangkah cepat meninggalkan sang mami yang berusaha memanggil namanya. Tidak peduli dengan teriakan sang mami yang membuat hatinya panas, kesal melihat sikap sang mami yang masih sama. Memilih untuk mengejar sang adik yang tengah patah hati karena sikap acuh sang mami.
"Damar, Mas..." ucap Mala, lirih.
"Biarkan Damar menyusul Wulan, Sayang!"
"Tapi aku..."
"Kamu harus istirahat!"
Mala bergeming, menuruti perintah sang suami yang menyodorkan tatapan tajam, masih tetap tenang walaupun hati marah. Tidak terima jika Wulan masih diacuhkan, namun kondisi Mala yang masih seperti ini menuntutnya sabar saat menghadapinya.
Ceklek!
Dhana terjingkat, membawa mata untuk menoleh ke arah pintu saat pintu terbuka, mengira Damar dan Wulan yang datang ternyata bukan, melainkan Dokter Ali dan seorang suster cantik yang menemaninya.
"Ternyata Bu Mala sudah sadar ya. Saya baru saja ingin melihat perkembangan kondisi anda. Boleh saya periksa dulu?" timpal Dokter Ali, mengulas senyumnya.
"Silakan Dokter!" jawab Dhana.
Dokter Ali bergerak maju, diikuti suster di sisinya yang kini sudah berpindah ke sisi lain, memeriksa alat infus di tangan Mala dan mencatat beberapa penjelasan Dokter Ali setelah melakukan pemeriksaan singkat namun detail terhadap kondisi fisik pasien.
Dhana yang melihat hanya berpangku tangan, berusaha mengontrol hati yang tengah emosi sebenarnya karena sikap Mala terhadap putrinya, kendati sikapnya bukan lah keinginan hati Mala melainkan pengaruh dari sindrom yang dideritanya.
"Bagaimana Dokter?" tanya Dhana.
"Bu Mala sudah membaik, bahkan sangat stabil. Dan sepertinya saran saya kemarin, secepatnya Bu Mala bisa melakukan terapi." jawab Dokter Ali, sesekali melihat ke Mala.
"Kapan itu Dokter?" tanya Dhana.
"Sekarang!!! Itu pun jika Pak Dhana setuju." jawab Dokter Ali yang meyakinkan Dhana.
Dhana terdiam, melihat ka arah sang istri yang tampak hangat dalam perbincangan singkat dengan suster asisten Dokter Ali, membuatnya tertawa lepas walau sesekali, memancing kedua sudut bibir Dhana untuk ikut terangkat. Namun otak tetap berputar, mencerna perkataan Dokter Ali yang terlihat sekali tidak ingin membuang waktu, memilih cepat untuk mengambil tindakan pemulihan, demi pasien dan keluarga yang berharap.
"Bagaimana Pak Dhana? Menurut saya, tidak ada salahnya jika pengobatan istri anda dipercepat. Lebih cepat lebih baik! Baik untuk Bu Mala dan baik juga untuk semuanya, terkhusus untuk putri kalian!!!" tutur Dokter Ali yang meyakinkan kembali.
Dhana menghela berat, membenarkan penuturan Dokter Ali yang menjelaskan kembali. Membuatnya teringat pada sang putri yang tengah keluar menenangkan diri, menegarkan hati akibat sikap sang mami yang semakin tidak peduli.
"Baiklah Dokter! Saya setuju!"
.
.
.
.
.
Happy Reading All 😇😇😇
Maaf ya kemarin dina ngak bisa update episode baru 🥲 karena mata mendadak sepet banget, buat melek rasanya berat banget, maunya merem terus kek beruang kutub lagi hibernasi di musim dingin wkwk
Buat part Imam ditunda dulu ya, episode selanjutnya baru kita masuk ke kak Imam lagi 😘😘😘
Dina mau ngucapin makasih buaaannnyak karena kalian masih setia menemani kisah Wulan yang makin hari kayaknya semakin ngak jelas aja ya wkwkwk ✌️ namanya aja juga halusinasip ya, wajar kalau ngak jelas
Oke... sekian racauan singkat dina yang ngak jelas ✌️🤭 cuuss kaburrr...🕳️🕳️🕳️
__ADS_1