
...☘️☘️☘️...
"Aaaaai..."
Cakrawala senja terus bergerak, namun waktu seakan berhenti ketika suara lembut familiar itu menyisir langit-langit ruang tamu. Membuat Mala yang terisak dalam dekapan sang ibu mertua, melerai pelukannya. Mata yang tampak semakin sembab dialihkannya ke arah sumber suara lembut itu.
Tidak hanya Mala seorang. Pak Aidi, Bu Aini dan Dhana pun juga ikut menoleh, melihat pemilik suara yang masih berdiri terpaku di bibir pintu. Menatap lekat ke dalam rumah, di mana sang mami tengah menangis pilu.
"Wulan, putriku..." lirih Mala.
Mala tak menghiraukan lagi matanya yang basah. Dengan langkah gontai, wanita dua anak itu melangkah perlahan ke arah pintu. Sedangkan Wulan yang berdiri di samping Damar, diapit oleh Aifa'al dan Syahal-Syahil bersama Ammar di belakangnya, melempar pandang ke semua orang, termasuk Dhana yang masih berdiri di ruang tamu rumahnya.
Sang papi yang ditatap hanya mengulas senyum padanya, menyiratkan sesuatu di dalam mata yang berbinar penuh bahagia.
Bruk!
Mala menjatuhkan tubuhnya, bersimpuh di depan sang putri yang terkesiap melihatnya.
"Aaaaai..."
Membuat Wulan yang sigap, menangkap kedua bahu sang mami, berusaha untuk menghentikan sang mami namun terlambat.
"Mami minta maaf, Sayang..."
Air mata yang menumpuk entah sejak bila akhirnya menembus perbatasan, membelah pipi Wulan saat mendengar perkataan Mala yang terdengar begitu lirih dan pilu. Tidak hanya Wulan. Ammar, Aifa'al, Syahal-Syahil dan Damar yang ikut mendengar pun saling pandang terkejut plus tidak percaya dengan adegan yang tersuguhkan di depan mata.
Wulan pun ikut terjongkok lemah, berusaha mensejajarkan tingginya dengan sang mami yang tengah bersimpuh di hadapannya.
"Aaaaai... aaaaa... aaaiiiss!" ujar Wulan.
Tangan mungil itu meraih dagu sang mami, membuat wajah cantik yang awet muda itu terangkat dan menatapnya dekat. Senyum manis Wulan mengembang, tangannya pun menyeka bulir-bulir penyesalan di wajah itu.
Hiks!
Tak ada rasa takut, atau pun rasa dendam pada wanita di depannya itu. Dengan cinta dan sayang sebagai seorang putri, Wulan mengelus pipi sang mami yang kian basah. Sementara Mala langsung meraih tangan mungil itu dan mengecupnya berkali-kali.
"Maafkan Mami, Sayang..."
Wulan mengangguk, air matanya terus menetes tanpa henti. Tak tau harus berkata apa lagi saat mendengar permintaan maaf sang mami padanya. Membuatnya teringat dengan derita hidup selama 13 tahun ini. Derita hidup yang tidak pernah memperoleh kasih sayang dari sang mami, tidak pernah mendapat belaian tangan halus sang mami, tidak pernah didekap oleh sang mami, tidak pernah dicium oleh sang mami. Derita hidup yang sangat miris, sangat berbeda dengan anak-anak di luar sana yang beruntung.
Mala tersenyum getir, melihat ketulusan yang benar-benar bisa ia rasakan di mata sang putri, ketulusan yang selama ini Mala tolak mentah-mentah, memilih tidak ingin menyentuh sang putri kendati seujung kuku. Membuatnya sangat menyesal sekarang ini.
"Aaaaa... aaaaa... aaaaai..."
Suara Wulan tercekat di tenggorokan, membuatnya sulit untuk mengungkap rasa yang terpatri dalam hati saat ini. Bersyukur tak terkira, mendapat kejutan di saat tubuh lelahnya baru pulang dari sekolah kendati sudah melewati batas waktu sebenarnya. Namun Damar mendengar sayup-sayup suara sang adik yang tercekat, membuat pemuda itu ikut berjongkok, meraih bahu sang mami yang terguncang penuh sesal.
"Peluk Adek, Mi! Adek ingin dipeluk Mami!"
Mata yang semula tertuju pada sang putri kini teralih. Tidak mengerti dengan bahasa sang putri membuat Mala yang sesegukan hanya diam, menangis lagi di depan Wulan. Namun setelah Damar bersuara, mewakili perasaan sang adik saat ini membuat sang mami tersenyum getir, melihat keduanya secara bergantian.
Grep!
Tangis Mala dan Wulan pecah seketika, memancing air mata yang lainnya keluar tatkala disajikan dengan adegan haru biru. Untuk pertama kali, Wulan bisa merasakan hangatnya pelukan sang mami yang selama ini ia rindukan, pelukan sang mami yang ia mimpikan, pelukan yang hanya bisa ia dapat ketika sang mami tengah tertidur dan itu pun kalau ada keberanian di dalam diri Wulan.
"Maafkan Mami, Nak. Maafkan Mami..."
Hanya itu yang bisa Mala ucapkan, disela isak tangis keduanya yang saling berpacu. Memancing isak yang lainnya saat melihat. Dibalas anggukan samar sang putri dalam dekapan hangatnya, membuat Mala kian memperkuat dekapannya untuk sang putri yang selama ini sudah ia terlantarkan.
__ADS_1
Pak Aidi, Bu Aini dan Dhana pun juga ikut meneteskan air mata lagi, melihat betapa menyesalnya Mala dengan perbuatannya selama ini pada Wulan. Menangis terisak sejak tadi, tak peduli lagi matanya sembab.
Sementara Ammar, Aifa'al, Syahal-Syahil dan Damar juga tak mau kalah meneteskan air mata, melihat adegan yang sebenarnya sudah mereka harapkan akan terjadi seperti ini dari sejak lama. Mala memeluk Wulan dengan sangat erat, bahkan enggan untuk melepas tubuh mungil itu barang sedetik.
"Aaaaai..." ujar Wulan lirih dalam pelukan Mala dan menangis sesegukan di sana.
Mala mengelus kepala Wulan, mengelus punggung sang putri yang terguncang, ribuan kecupan sayang juga mengiringi, menjadi saksi betapa besar rasa bersalah Mala yang selama ini mengabaikan Wulan.
"Aaaaai..." ucap Wulan lirih.
Sementara itu, Pak Aidi, Bu Aini, Ammar, Dhana, Aifa'al, Syahal-Syahil dan Damar hanya bisa menyaksikan adegan ibu dan anak yang tengah tergugu itu, berteman bulir kristal yang sudah membasahi wajah mereka semua. Tak kuasa menahan sedih, senang, haru, bersyukur yang menjadi satu.
"Iya Sayang. Maafkan Mami. Selama ini Mami menelantarkan kamu, mengabaikan kamu dalam hidup Mami. Mami menyesal, Nak. Mami bersalah sama kamu. Maafkan Mami. Mami janji, Mami akan memperbaiki semuanya. Mami akan selalu memelukmu, Mami tidak akan mengabaikan kamu lagi. Maafkan Mami, Sayang. Maafkan semua kesalahan Mami. Di lubuk hati Mami yang paling dalam, Mami sangat menyayangimu. Mami sangat mencintaimu. Tapi Mami tidak berdaya. Mami tidak bisa melawan pikiran Mami sendiri, hingga kamu menjadi korban." tutur Mala lirih, semakin mengerat pelukan pada tubuh mungil putrinya yang haus akan kerinduan maminya dari sejak dulu.
Wulan kian membenamkan wajahnya ke dalam dekapan sang mami yang sangat dirinya rindukan, menikmati betapa nikmat dan hangatnya pelukan tangan sang mami. Sementara Mala tampak tak mau berhenti, menghujani pucuk kepala Wulan dengan kecupan-kecupan sayang yang seharusnya ia berikan pada Wulan sejak dulu. Membuat tangis Mala dan Wulan saling berpacu lagi.
Sepersekian menit berlalu dengan tangis haru penuh kebahagiaan dan rasa syukur yang tak bisa digantikan dengan apapun. Membuat Dhana beranjak, mendekati dua wanita tercintanya yang masih sesegukan.
"Semuanya sudah berakhir, Sayang. Aku bersyukur sekali karena kamu sudah pulih dan mau mengakui Wulan. Aku bersyukur karena kamu sudah mau memeluk Wulan. Terima kasih Sayang. Terima kasih banyak." tutur Dhana, meraih bahu sang istri tercinta.
Mala menyeka air matanya cepat, lalu ia menoleh tanpa melepas dekapannya dari tubuh mungil sang putri yang terguncang. Menatap lekat manik sang suami tercinta yang selalu sabar saat menghadapi dirinya.
"Seharusnya aku yang berterima kasih, sama kamu, Ayah, Ibu, dan keluarga kita yang selalu sabar saat menghadapi sikap burukku pada Wulan. Selalu berusaha dan berdo'a agar hatiku terbuka kembali. Aku sangat beruntung mempunyai keluarga ini. Terima kasih, Mas. Terima kasih, Yah, Bu. Terima kasih Mas Ammar. Terima kasih anak-anak. Kalian juga sudah bersabar, ketika Anty hilang kendali dan memarahi Wulan. Kalian anak-anak Anty yang baik dan kakak yang baik juga untuk putri Anty." tutur Mala, melihat semuanya bergantian.
"Ayah dan Ibu bangga sama kamu, Nak! Mulai sekarang, kita jalani kehidupan ini dengan suka cita dan saling menyayangi satu sama lain. Karena itu adalah motto untuk keluarga besar kita!" tutur Pak Aidi, bahagia dengan hari ini.
"Ayah benar, Mala. Mas juga bersyukur melihat kamu yang sudah pulih sekarang. Mulai hari ini, jangan mengingat masa lalu lagi. Yang harus kamu ingat adalah masa depan keluarga, terkhusus anak-anakmu." timpal Ammar, tak kalah bersyukur karena adik iparnya telah sadar dan kembali lagi.
"Opa dan Daddy benar sekali, Anty. Dan satu hal, Anty tidak perlu berterima kasih pada kami semua. Keluarga itu tidak akan pernah membiarkan anggotanya terpuruk sendirian saat menghadapi masalah. Satu masalah menimpa salah satu di antaranya, maka yang lain juga turut merasakannya." timpal Aifa'al, tersenyum pada sang anty.
Gelak tawa semuanya pecah seketika, melihat penyakit konyol Syahal kambuh, memecah suasana yang berselimut tangis cukup membuatnya tidak senang hingga seperti ini lah jadinya. Sementara Aifa'al yang dirangkul sang adik hanya berdecak, gemas seraya menepis tangan sang adik, membuat semuanya kembali tergelak lirih.
Mala tersenyum getir, sangat terharu mendengar semua penuturan keluarga besar sang suami yang tak pernah benci atau menyalahkan dirinya. Membuatnya semakin merasa beruntung dan bersyukur memiliki mereka semua sampai sekarang.
"Damar..."
Masih dalam posisi ternyaman, mendekap tubuh sang putri yang tenang dan nyaman di dalam dekapan hangatnya. Mala meraih tangan sang putra yang masih berjongkok, menundukkan kepala karena tidak ingin air matanya tertangkap oleh indera penglihatan sang mami dan semuanya kendati percuma, air mata pemuda tampan itu sudah terlihat.
"Damar minta maaf, Mi." ucap Damar, lirih.
"Tidak, Sayang. Mami yang seharusnya mengatakan itu sama kamu. Mami juga sudah banyak menyakiti hati kamu, Nak. Maafkan Mami, Sayang." tutur Mala, lirih.
"Damar juga sering melawan Mami." ujar Damar, menundukkan kepalanya kembali.
"Kamu tidak melawan, Nak. Kamu cuma ingin membela adikmu, dan berusaha untuk menghentikan sikap Mami pada adik kamu." jawab Mala, menggenggam tangan Damar.
"Tapi Damar juga salah, Mi." ucap Damar.
"Tidak, Sayang. Mami yang salah, sama kamu dan Wulan. Mami bukan ibu yang baik, Nak. Maafkan Mami ya. Mami minta maaf." tutur Mala, mengelus kepala sang putra kendati hanya dengan satu tangan.
Sayup-sayup suara isak Damar terdengar, membuat Mala menarik tubuh sang putra masuk ke dalam pelukannya seperti Wulan.
"Mami sangat menyayangi kalian, Nak. Mami minta maaf ya. Mami benar-benar minta maaf." tutur Mala, pilu dan terisak.
Damar mengangguk samar, membalas pelukan sang mami yang sebenarnya juga sudah lama tidak ia rasakan beberapa hari belakangan ini. Sejak peristiwa penculikan malam itu, hingga kini. Damar juga sangat merindukan pelukan maminya seperti dulu.
Membuat Dhana tersenyum getir, binar kebahagiaan di sorot netranya tampak nyata saat melihat sang istri mendekap kedua anak kembarnya dengan sayang. Tidak ada lagi yang dibedakan, semuanya sama dan akan tetap seperti ini selamanya.
__ADS_1
Tangis haru seakan tidak ingin berhenti, mengiringi waktu yang terus bergulir cepat hingga langit sudah berubah menjadi gelap. Mala berusaha menghentikan isak tangis, mengelus pucuk kedua anak tercintanya. Membuat Damar yang masih nyaman di dalam dekapan sang mami pun menyeka bulir matanya yang terus jatuh tanpa izin.
Namun gerakan Damar yang ingin melerai pelukan dengan sang mami terhenti sesaat, ketika matanya tiba-tiba tertuju pada sang adik yang tidak bergerak di dalam dekapan sang mami, membuat dahinya mengeryit, menatap lekat sang adik yang seketika itu juga langsung membuatnya terperangah.
"Adek, Mi! Adek...!"
Suara sahutan Damar sukses mengejutkan semua orang, membuat Dhana terperanjat lalu mendekatkan tubuhnya ke tubuh Mala. Sementara Mala yang masih memeluk erat sang putri tampak heran, melihat raut sang putra yang terlihat sangat terkejut, khawatir.
"Kamu kenapa Damar?" tanya Dhana.
"Adek, Pi! Adek...! Adek pingsan...!" ujar Damar, menunjuk ke arah sang adik.
Sontak Mala langsung melepaskan dekapannya, menangkup wajah sang putri yang terlihat pucat dan lemas, membuat air matanya mengalir, membelah pipinya lagi.
Pak Aidi, Bu Aini, Ammar, Dhana, Aifa'al, dan Syahal-Syahil bergegas menghampiri Mala yang masih tersimpuh, memeluk erat tubuh Wulan yang ternyata sudah pingsan. Membuat semuanya terkejut plus khawatir.
"Wulan... bangun, Nak! Wulan bangun! Kamu kenapa Sayang! Wulan... bangun!" sahut Mala lirih, mengelus pipi sang putri.
"Wulan kenapa Nak?" timpal Bu Aini, tak kalah terkejut dan panik mendengar sang cucu tersayang pingsan.
"Mala juga tidak tau, Bu." jawab Mala, menangis lagi seraya memeluk Wulan.
"Sebaiknya Wulan dibawa ke kamar dulu, Dhana! Mas akan memeriksa kondisinya!" seru Ammar yang meraih bahu sang adik.
Dhana yang cemas beranjak cepat, lalu meraih tubuh Wulan dari dekapan sang istri dan membawanya cepat ke dalam kamar.
"Adek kenapa Daddy?" tanya Aifa'al, berusaha tenang namun wajahnya yang datar tetap terlihat gusar.
"Berikan Daddy waktu untuk memeriksa kondisi adikmu ya. Kamu jangan khawatir. Wulan akan baik-baik saja." jawab Ammar, berusaha menenangkan hati sang putra.
"Wulan kenapa Mas?" timpal Dhana.
"Iya, Nak. Cucu Ibu kenapa?" ujar Bu Aini.
"Ibu, Dhana, Mala dan semuanya tenang. Wulan pasti baik-baik saja." ujar Ammar.
Mala kian tergugu, memeluk sang suami yang juga memeluknya. Sama hal dengan Bu Aini yang ikut menangis, melihat sang cucu yang tiba-tiba saja sudah pingsan. Membuat haru berubah menjadi sendu dalam sekejap, takut jika sesuatu yang buruk akan menimpa Wulan.
Membuat Aifa'al, Syahal, Syahil dan Damar tak kalah khawatir. Melihat tubuh sang adik yang tadinya masih ceria dan semangat kini malah terbaring lemas di atas tempat tidur. Sementara Ammar masih dengan fokusnya, memeriksa kondisi sang keponakan cantik yang membuatnya tak kalah khawatir juga.
Ya Allah... cobaan apalagi ini... Gumam keempat pemuda tampan itu dalam hati.
.
.
.
.
.
Happy Reading All 😇😇😇
aahh... akhirnya lunas sudah untuk part Wulan dan Mala yang semoga saja ngak mengecewakan ya 🥺🥺😘 up dua part untuk hari senin, jadi hari selasa dina izin dulu ya✌️ kita ketemu lagi di hari rabu😘
Terima kasih banyak2 dina ucapkan 😘 karena sampai part Mala sadar sekarang kakak2 semua masih setia menemani dina 😘 terharu, seneng dan bersyukur banget. Semoga waktu yang kakak2 sisihkan buat mengikuti kisah Wulan, akan bernilai ibadah dan dibalas lebih baik oleh Allah SWT😘🤗
__ADS_1