
...πππ...
Langit yang semula biru terang dengan gumpalan awan putih sebagai teman kini berubah menjadi gelap pekat, berteman awan hitam yang bergerak cepat seakan buru-buru ingin menjatuhkan titik-titik air.
"Masih sakit ya Dek?"
Damar menatap sang adik yang sejak tadi menundukan kepala, sama hal dengan langit yang mendadak mendung, seperti itulah wajah Wulan saat ini setelah Damar dan Syahal-Syahil membawanya duduk di teras depan rumah. Tangan mungilnya pun juga sudah terbalut sempurna oleh perban, mungkin masih sakit tapi Wulan hanya diam.
"Adek... kenapa diam saja?" tanya Syahil, meraih bahu sang adik yang masih diam.
"Tangan Adek masih sakit? Kita pergi ke rumah sakit saja ya kalau begitu!" timpal Syahal, berpindah duduk di depan sang adik.
"Ck! Adek cuma luka ringan kena beling, Mas! Jangan lebay deh!" celetuk Syahil.
"Ya... mungkin saja ada luka lainnya yang tak kasat mata! Lebih baik ke dokter 'kan?" jawab Syahal, mengelus tangan Wulan.
Penuturan Syahal yang berniat menghibur justru memancing tangis Wulan, memeluk Damar yang duduk di sampingnya, terisak lagi di dada Damar ketika hati diam-diam membenarkan perkataan sang mas kembar bahwa luka tak kasat mata itu memang ada.
Pletak!
"Kamu kenapa sih, Syahil!!! Sakit tau!!!" umpat Syahal, mengusap lengan yang menjadi sasaran kekesalan kembarannya.
"Mas yang kenapa? Karena perkataan Mas yang unfaedah itu Adek jadi menangis lagi!" sungut Syahil, mendaratkan pukulan lagi.
Syahal mencibir Syahil, beralih lagi pada sang adik yang saat ini sedang menangis dalam dekapan Damar.
"Damar... awas!!!" seru Syahal.
Damar menghela nafas kasar, menuruti perintah Syahal yang menyuruh pindah, bertukar posisi dengan Syahal yang kini merasa bersalah karena hiburannya tadi, ingin mendekap Wulan yang masih terisak.
"Mas minta maaf ya, Dek. Luka tak kasat mata itu pasti terbuka lebar lagi 'kan saat ini?" tutur Syahal, memeluk Wulan seraya mengelus lembut bahunya yang naik turun.
Wulan mengangguk, mengiyakan tanya sang mas kembar yang memang benar. Membuat Syahil dan Damar yang paham hanya bisa menghela nafas berat, seraya menenangkan hati sang gadis kecil.
"Adek percaya 'kan kalau setiap luka itu pasti ada obatnya? Termasuk luka yang tak kasat mata itu?" tutur Syahal lagi, lembut.
Bagai guyuran hujan di tanah gersang, pertanyaan Syahal yang terlontar sukses menghentikan isak tangis yang membuat bahu Wulan bergetar hebat, membuatnya mendongak seketika, menatap manik sang mas kembar yang memiliki selera humor nan tinggi dan selalu membuatnya terpingkal.
Syahal tersenyum, mengelus wajah sang adik yang sudah sembab, menyeka bulir kristal yang membasahi wajah cantiknya. Sementara Syahil dan Damar masih setia menjadi penonton, membiarkan Syahal mengambil alih kemudi sepenuhnya.
"Obat untuk luka tak kasat mata itu ada di dalam diri Adek sendiri! Kuat dan sabar!!! Itulah kunci untuk mendapatkan obat itu. Adek mengerti maksud Mas?" ujar Syahal, menangkup wajah sang adik yang basah.
Wulan mengangguk cepat, membenarkan penuturan sang mas kembar yang sangat mengayomi, membuatnya tenang kendati sempat membuatnya terisak. Senyum Syahal terbit, melihat anggukan sang adik yang memang cerdas, mampu menerima apapun masukan dari orang di sekitarnya.
"Wah!!! Mas Syahal hebat! Akhirnya Mas bisa menenangkan Adek." sahut Damar.
"Siapa dulu dong? Syahal Jiwathama!!! Putra pertama Papa Sadha yang genteng dan Mama Vanny yang cantik plus absurd!" seloroh Syahal, membanggakan dirinya.
"Ck!!! Putra pertama!!! Di antara kita tidak ada yang namanya putra pertama, kedua atau seterusnya, Mas! Mas dan Syahil itu lahirnya bersamaan, jadi kita sama-sama anak pertama! Artinya kita anak tunggal!" umpat Syahil, menyangkal pendapat Syahal.
"Ck!!! Kamu itu lahir 15 menit setelah Mas! Artinya, Mas anak pertama dan kamu anak kedua!!! Jangan mengingkari takdir, Syahil!" celetuk Syahal, melirik geram sang adik.
Syahil mendengus geli, melihat tingkah kembarannya yang mulai kumat lagi setelah mendapatkan pujian. Memancing kekehan Damar dan Wulan yang kini jadi penonton.
"Assalamualaikum..."
Gelak tawa penuh canda kedua pasang anak kembar itu terhenti seketika, suara lembut yang tiba-tiba merubah suasana, membuat Syahal-Syahil dan Damar-Wulan beranjak dari duduknya, menatap lekat ke arah sosok yang memiliki suara lembut itu.
"Wa'alaikumsalam... Bu Kinan?"
__ADS_1
"Apa kabar Damar? Ibu boleh bertemu dengan orang tua kamu sebentar? Ada sesuatu yang penting ingin Ibu bicarakan dengan mereka." tutur Kinan, tersenyum.
Sosok pemilik suara lembut itu ternyata Kinan. Setelah mengunjungi Bima di kantor polisi, kini wanita berhijab nan cantik itu mendarat ke rumah Dhana, ingin bertemu dan membicarakan sesuatu yang penting. Membuat Syahal-Syahil dan Wulan saling pandang, kemudian menoleh lagi ke Kinan.
"Mami sedang sakit, Bu. Mungkin hanya Papi yang bisa Bu Kinan temui." jawab Damar, membuang sejenak kekesalan ketika melihat kedatangan Kinan yang merupakan istri dari pelaku penyekapan dirinya, Wulan dan Aifa'al.
"Baiklah! Ibu akan menunggu di sini!" ujar Kinan, mengerti dengan respon Damar.
"Lebih baik Bu Kinan masuk saja. Biar Damar panggilkan dulu Papi di kamar." ujar Damar, mempersilakan sang guru masuk.
Kinan mengangguk patuh, beranjak dari tempatnya berdiri lalu masuk ke dalam rumah Dhana. Disusul Syahal-Syahil dan Wulan yang saling merangkul, mengikuti Kinan yang kini sudah duduk di sofa ruang tamu. Sementara Damar bergegas pergi, menuju ke kamar sang papi, meninggalkan Syahal-Syahil dan Wulan bersama Kinan.
"Kalian di sini sebentar ya. Mas akan meminta Bi Iyah untuk membuatkan minuman." ujar Syahal, berbisik pada Syahil dan Wulan.
Syahil dan Wulan mengangguk samar, membiarkan Syahal pergi bersama niatnya yang baik sebagai tuan rumah untuk tamu.
"Wulan... sini duduk dekat Ibu!!! Jangan takut! Ibu tidak seperti orang yang sudah tega menculik dan menyekap kamu dan Damar waktu itu. Ayo sini!!! Ibu juga ingin menanyakan sesuatu sama kamu, Nak!!!" tutur Kinan, terdengar lembut dan ramah.
Wulan terlihat gugup, tampak sekali dari gerak-geriknya yang memangku tangan Syahil dan bersembunyi di balik tangan itu. Sementara Syahil yang mendapati sikap sang adik pun mengerti, lalu ia berusaha untuk menenangkan sang adik yang takut.
"Ada keperluan penting apa yang membawa anda datang ke rumah saya?"
Sahutan suara bariton itu mengejutkan Kinan, membuat Syahil dan Wulan lega. Tidak salah bukan kalau seorang anak lugu seperti Wulan takut pada orang terdekat dari pelaku yang sempat menculik dirinya? Bukan bermaksud untuk su'uzon namun trauma yang melekat tetap sulit dilupakan.
"Selamat siang Pak Dhana..." sapa Kinan, beranjak dari duduk sebagai sikap hormat pada sang empunya rumah.
"Siang..." jawab Dhana dingin, teringat bahwa wanita berhijab itu adalah istri dari orang yang ingin mencelakai anak istrinya.
Kinan tersenyum getir, cukup mengerti dengan sambutan Dhana yang kurang bersahabat, membuatnya sadar bahwa hubungannya dengan Gibran membawanya ke dalam situasi rumit seperti sekarang ini.
"Apakah saya boleh bicara dengan anda sebentar Pak?" tanya Kinan, berusaha untuk tetap bersikap profesional di depan Dhana.
Kinan menghela nafas, menggiring mata ke arah Syahil dan Wulan, lalu Damar yang datang bersama sang papi namun enggan untuk beranjak, masih termangu melihat kedatangannya secara tiba-tiba, terlihat di wajah mereka yang ingin tau, namun sepertinya pembicaraan kali ini cukup dewasa dan tak pantas untuk mereka dengar. Membuat Dhana yang dingin tapi tetap memperhatikan sikap Kinan, paham.
"Syahil... tolong bawa adik-adikmu keluar dulu! Uncle harus bicara dengan guru mereka!" seru Dhana, menatap Syahil.
"Baik Uncle..." jawab Syahil, patuh.
Syahil bergegas pergi, menarik tangan kedua adik kembarnya yang masih terdiam, menatap Kinan dengan penuh telisik. Syahil yang sudah beranjak dewasa cukup paham, bahwa pembicaraan sang uncle kali ini akan membahas tentang sesuatu yang tidak bisa didengar oleh anak seusia Damar-Wulan.
"Duduklah!" seru Dhana.
Kinan mengangguk, mendaratkan kembali tubuhnya ke atas sofa, belum sempat bibir tipisnya terbuka untuk bicara, datang Bi Iyah bersama Syahal yang memang berniat untuk ke dapur dan meminta ART sang oma agar membuatkan minuman untuk tamu.
"Adik-adik di mana Uncle?" tanya Syahal.
"Mereka di luar! Kamu temani mereka dulu ya! Uncle ingin bicara sebentar dengan ibu guru mereka!" seru Dhana, melihat Syahal.
Syahal mengangguk paham, ikut beranjak setelah Bi Iyah selesai dengan tugasnya.
"Bicaralah!"
"Aku ingin minta maaf, Dhana!"
"Bersikap profesional lah, Bu Kinan!"
"Tapi aku..."
"Saya tidak ingin anak-anak mendengar perkataan anda yang memancing curiga, kalau kita pernah dekat! Itu hanya masa lalu! Jadi bersikap lah selayaknya seorang guru! Dan jelaskan maksud kedatangan anda ke rumah saya!"
__ADS_1
Kinan mengangguk pasrah, membuatnya paham dengan maksud perkataan dari sang pemilik rumah.
"Saya ingin meminta maaf pada Pak Dhana sebagai ibunya Zivana! Saya ingin meminta maaf atas perbuatan yang pernah dilakukan putri saya pada putri anda!!!"
Dhana berdecak lirih, melirik Kinan hanya sesaat, itu pun hanya melalui ekor matanya. Tampak sekali jika pria dua anak kembar itu tersinggung, mengingat kejahatan yang diperbuat Zivana pada Wulan selama di sekolah, namun baru hari ini permintaan maaf dari salah satu walinya terucapkan.
"Tidak perlu meminta maaf atas kesalahan yang tidak pernah anda lakukan, Bu Kinan! Bahkan Zivana bukan lah anak kandung anda!"
"Ya, saya tau! Dan saya juga sangat yakin kalau Pak Dhana sudah pernah mendengar bahwa Zivana hanya anak sambung saya! Tapi saya tidak pernah menganggapnya demikian. Saya sangat menyayangi Zivana seperti anak saya sendiri. Sejak usianya menginjak tiga tahun sampai sekarang! Saya akan tetap menyayanginya walau hubungan saya dengan papanya sudah berakhir!"
Dhana tersentak, mendengar satu kata terakhir di ujung kalimat yang terucap, mengandung makna yang membuatnya ambigu seketika.
"Berakhir?"
"Iya!!! Saya sudah mengetahui semua masalah Gibran yang melibatkan istri anda, Bu Mala! Dendam di masa lalu, membuat Gibran hilang akal sehingga nekat menculik Damar-Wulan hanya untuk memancing kedatangan ibunya. Semua rencana jahat Gibran yang melibatkan anak seperti Bima dan sekarang dia ada di kantor Polisi!!!"
Dhana bergeming, tampak tak terkejut sedikit pun dengan hal yang sudah sejak awal ia ketahui kabarnya.
"Saya baru saja menemui Bima dan dia juga meminta bantuan saya, tapi saya belum menjawab permintaan anak itu. Bima yang nakal harus mendekam di dalam sell tahanan, sedangkan Gibran masih terlepas seperti singa liar yang keberadaannya belum ditemukan! Gibran menceraikan saya sebelum dia pergi membawa Zivana seminggu yang lalu! Dan dalam waktu satu minggu itu pula, saya berusaha mencari Zivana dan Gibran, namun nihil!"
Dhana masih bergeming, tetap pada posisi duduknya yang bersandar, melihat ke depan dengan tatapan yang sukar dipahami. Sepertinya Dhana terkejut, tidak menyangka dengan akhir kisah sosok yang pernah mengisi hatinya di masa lalu, namun apa yang bisa Dhana lakukan, bahkan hanya untuk sekedar menatap netra Kinan saja dia enggan, karena ia tau batasan seorang suami yang harus menjaga hati seseorang, kendati kondisi seseorang itu saat ini jauh dari kata baik.
"Karena berita kaburnya Gibran dari penjara, sekolah jadi terancam akan ditutup, mengingat status Gibran sebagai pemilik sekolah! Namun saya berhasil mengurus semua masalah itu karena yang sebenarnya, sekolah dan semua property Jaya Mandiri adalah milik almarhum ayah saya yang diganti nama dengan liciknya oleh manusia seperti Gibran! Dan dia juga sudah menggelapkan dana sekolah yang seharusnya digunakan untuk keperluan ajang pemilihan ketua osis beserta reward nya di kemudian hari! Semuanya jadi kacau hanya karena dendam Gibran di masa lalu! Semua orang jadi korbannya termasuk saya!"
Dhana tetap terdiam, namun guratan wajahnya yang terkejut tidak mampu ditutupi, membiarkan Kinan bercerita agar tidak ada salah paham nantinya. Tidak menyangka bahwa kegamangan yang ia rasakan saat mendengar cerita Damar tentang reward menjadi ketua osis waktu itu, memang benar. Ada niat buruk dibalik ajang pemilihan ketua osis yang sangat bergengsi itu.
"Bahkan Gibran juga melibatkan anaknya sendiri untuk menutupi semua kebusukannya dari saya. Dengan ide yang tak kalah licik, Zivana dengan asisten pribadi Gibran merencanakan sesuatu agar saya mau berangkat ke Singapore. Memang sempat terjadi, tapi setelah kembali di hari itu juga saya mengetahui semua kejahatan Gibran! Dia menceritakan semuanya pada Zivana dan menuduh Bima yang sudah menyuruhnya untuk menyekap Damar-Wulan! Zivana tidak tau menau dengan rencana jahat papanya."
Dhana masih tetap diam, menjadi pendengar yang baik untuk Kinan seperti seorang teman lama. Sementara Kinan masih tertunduk, merasa tidak enak hati atas apa yang sudah terjadi pada keluarga Dhana, membuat nama baiknya ikut terseret dalam masalah mantan suaminya itu.
"Saya harap Pak Dhana dan keluarga mau menerima permintaan maaf saya yang mewakili putri saya. Saya juga akan ikut berusaha mencari Gibran!!! Karena dia juga harus membayar mahal atas kesalahan yang pernah dia lakukan pada almarhum ayah saya! Saya tidak akan melarang Pak Dhana, kalau anda ingin memberitahu Damar tentang reward yang pernah dijanjikan jika ia berhasil menjadi ketua osis. Karena saya juga akan memberitahu mereka saat hari pertama mereka masuk sekolah lagi!"
Dhana tetap saja diam, tidak dapat membohongi diri yang sangat marah pada Gibran, mengingat Kinan adalah istri dari pria itu kendati tidak lagi. Membuat Kinan menghela pasrah, tau dan sangat mengerti perasaan Dhana.
"Mungkin hanya itu keperluan saya untuk menemui anda ke sini. Kalau begitu saya permisi dulu, Pak Dhana. Terima kasih. Assalamualaikum..."
Kinan beranjak, tidak ingin menunggu jawaban dari sang tuan rumah yang masih bergeming tanpa kata, enggan melihatnya walau hanya sekedar melirik sesaat. Namun Kinan sadar, bahwa ini adalah karma karena dulu ia pernah menolak cinta tulus dari lelaki yang ada di depan matanya saat ini.
"Tunggu Bu Kinan!!!"
Langkah Kinan terhenti, mendengar suara Dhana yang akhirnya terlontar, menuntutnya berbalik, melihat Dhana yang ikut beranjak dari posisi duduk.
"Saya harap, Gibran bisa segera ditemukan dan saya beserta keluarga juga akan ikut membantu anda untuk mencari orang jahat itu, Bu Kinan!"
.
.
.
.
.
Happy Reading All πππ
Setuju kan kalau Dhana dan Kinan bekerja sama? Hanya untuk mencari Gibran kok, bukan ada maksud lainβοΈ
Oke... terima kasih banyak semua, setelah baca jangan lupa like yaβοΈ
__ADS_1