
...🍁🍁🍁...
"Apa? Rumi diculik Gibran?"
Bram pun mengangguk, tengah berusaha menenangkan denyut jantung yang berpacu mengalahkan waktu karena teringat nasib sang adik di tangan Gibran. Sementara Pak Aidi, Bu Aini, Ammar, Sadha, Dhana, Ibel, Vanny, Mala dan anak-anak terperangah. Tidak menyangka kalau tak hanya Wulan yang Gibran culik, melainkan juga Rumi.
"Tuan Gibran menghubungi saya, Pak. Sekarang Rumi ada sama dia. Saya takut, Tuan Gibran akan melakukan hal buruk pada adik saya." tutur Bram, terengah.
"Wulan juga diculik Gibran, Pak Bram." jawab Dhana, mengusap punggung Bram.
"Apa? Wulan juga diculik?" sahut Bram.
"Kami menduga kalau Gibran yang telah menculik Wulan, Pak." jawab Dhana.
Bram terdiam, mengingat sesuatu yang membuatnya semakin mengerti dengan jalan pikiran licik dan jahat sang tuan.
"Saya yakin, ini adalah salah satu rencana rahasia Tuan Gibran yang dia sembunyikan dari saya. Dan saya juga yakin, Tuan Gibran pasti sudah membayar orang hebat untuk melakukan semua ini. Kita harus menolong mereka, Pak!" ujar Bram, semakin bertekad.
"Kami memang ingin pergi ke sana, Pak! Kalau Pak Bram bersedia, mari kita pergi bersama! Saya bersama kakak, istri dan keponakan sulung saya akan berangkat sekarang juga!" jawab Dhana.
"Memang Pak Dhana tau ke mana Tuan Gibran membawa Rumi dan Wulan? Saya rasa, Tuan Gibran sudah pindah tempat karena posisinya saat ini sangat terancam." ujar Bram, memastikan rencana Dhana.
"Pak Bram tenang saja. Walaupun semua rencana yang telah kita susun bersama Bu Kinan, hancur. Saya masih punya rencana cadangan lainnya." ujar Dhana, meyakinkan.
"Baiklah, Pak. Apapun rencana anda, saya akan bersedia membantu. Tuan Gibran harus dihentikan secepatnya kalau tidak, akan ada banyak nyawa yang terancam!" seru Bram, semakin yakin dengan niatnya.
"Lebih baik kita berangkat sekarang juga!!! Sebelum Gibran semakin bertindak bodoh dan mencelakai Wulan atau bahkan Rumi!" timpal Ammar, ikut mengkhawatirkan Rumi.
Sadha, Dhana, Mala dan Aiziel mengangguk. Menuntun mereka bergegas masuk kembali ke dalam mobil, sedangkan Bram memilih untuk membawa mobilnya. Setelah mereka semua siap, kedua mobil itu pun melaju cepat dan saling beriringan. Sementara Pak Aidi, Bu Aini, Ibel, Vanny, Aifa'al, Syahal-Syahil dan Damar hanya mampu menghela berat, melihat kedua mobil itu melaju, membelah ruas jalan sepi.
"Lebih baik kita semua masuk ya! Angin malam tidak baik untuk kalian. Ayo Sayang!"
Dengan sayang Bu Aini merangkul bahu keempat cucu tampannya yang terpekur, menatap ke arah jalan yang akan membawa Ammar, Sadha, Dhana dan Mala ke tempat Gibran menyekap Wulan. Sementara Pak Aidi, merangkul bahu kedua menantunya yang ikut terpekur seperti anak-anaknya.
"Oma..."
Bu Aini pun menoleh, melihat Damar yang tiba-tiba memanggilnya, suara Damar pun mendadak berat, menatap sendu sang oma.
"Iya Sayang, ada apa?" tanya Bu Aini.
"Perasaan Damar tidak bisa tenang, Oma." jawab Damar, mengurut dada yang sesak.
"Istighfar, Sayang. Berdo'a lah agar Papi, Mami, Pakde, Paklik dan masmu berhasil. Pulang dengan selamat, membawa Wulan. Semuanya akan baik-baik saja, Sayang." tutur Bu Aini, memeluk sayang sang cucu.
"Damar takut, Oma. Damar takut, mereka semua celaka. Pak Gibran itu orang jahat dan sangat berbahaya. Damar ingin ikut Papi. Damar ingin memastikan kalau Papi, Mami, Adek dan yang lain baik-baik saja." jawab Damar, tak bisa menahan rasa takut.
Bu Aini menghela berat, melihat ke arah sang suami yang bisa merasakan ketakutan sang cucu kembar. Sementara Ibel dan Vanny pun demikian, air mata mereka tak terbendung lagi, merasakan betapa kuat ikatan bathin di antara Damar dan Wulan, mengingatkan mereka pada Dhana dan almarhumah Dhina di saat masih hidup.
"Damar... Adek pasti akan selamat. Kamu harus percaya! Jika terjadi sesuatu yang buruk pada Adek, maka Mas sendiri yang akan menghabisi Gibran dengan tangan Mas, untuk kamu! Mas janji!!!" seru Aifa'al.
"Al... kamu tidak boleh bicara seperti itu!" pungkas Ibel, terkejut mendengar tekad sang putra yang terdengar tidak main-main.
"Al mohon, Mommy. Jangan halangi Al! Untuk saat ini mungkin Al masih sanggup menahan diri, tapi Al tidak yakin jika Gibran berani nekat bertindak jauh terhadap Adek! Al akan menghabisi lelaki itu sendiri, Mom!" ujar Aifa'al, menatap tajam sang mommy.
"Tapi Nak..."
"Anggap saja ini sebagai bayaran, Mom! Bayaran atas semua sikap buruk Al pada Adek selama 9 tahun. Bayaran atas sikap buruk Al pada Adek, sejak Al memilih untuk menutup mata dan hati agar mau menerima kekurangan Adek. Sebagai mas, seharusnya dari sejak dulu Al melindungi dan menerima Adek apa adanya seperti Mas Ziel. Tapi Al nakal! Berpikir kalau Adek adalah pembawa sial dalam hidup Al!" tutur Aifa'al, tulus dari lubuk hati yang paling dalam untuk Wulan.
__ADS_1
Ibel terhenyak, tidak percaya jika putranya yang nakal bisa bertutur kata setulus itu, memancing air matanya untuk jatuh lagi. Sementara Pak Aidi, Bu Aini, Syahal, Syahil dan Damar yang mendengar itu juga tidak kalah terhanyut, ikut merasakan besarnya rasa bersalah Aifa'al yang ternyata masih menyelimuti hatinya sampai sekarang ini.
"Kalau Adek mendengar itu dia pasti akan sedih, Mas." timpal Damar, sudah tenang.
"Tapi Mas harus melakukan itu, Damar!!!" ujar Aifa'al, tekad nya begitu besar untuk menghabisi Gibran yang selalu menyakiti adik perempuannya.
"Kasih sayang Mas yang seperti sekarang ini, sudah cukup membuat Adek bahagia! Adek pernah mengatakan itu pada Damar. Jadi Mas tidak perlu berpikiran seperti itu. Kasih sayang itu tidak perlu ada bayaran, Mas!" tutur Damar, meyakinkan sang mas.
"Adikmu benar, Sayang. Jika kasih sayang dalam sebuah hubungan itu ada bayaran, maka di saat kita tidak mampu membayar, kasih sayang itu akan hilang dengan cepat. Cukup dengan hati! Maka kasih sayangmu terhadap saudara saudarimu tidak akan pernah luntur dimakan waktu. Kamu bisa menyaksikan sendiri, bukan? Bagaimana besarnya kasih sayang di antara daddy mu, paklik, dan uncle terhadap onty kamu yang bahkan raganya saja tidak ada di antara mereka?" tutur Bu Aini, mengelus sayang kepala sang cucu.
Aifa'al terhanyut, teringat dengan kisah panjang sang daddy yang menceritakan sang onty di masa hidupnya dulu. Betapa besar kasih sayang di antara sang daddy terhadap adik-adiknya, bahkan pada sang onty yang sudah meninggal puluhan tahun lalu. Namun tak sedikit pun kasih sayang di antara mereka pudar, kendati usia yang tak lagi muda, justru membuat ketiganya yang masih hidup semakin erat kasih sayangnya.
"Untuk masalah Gibran, kita percayakan saja pada orang tua kalian. Tugas kita di rumah ini adalah mendo'akan mereka agar semuanya baik-baik saja. Oke?" ujar Pak Aidi, merangkul bahu Aifa'al dan Damar.
"Syahal setuju dengan Opa. Seram juga kalau Mas Al ikut campur menghabisi si tua bangka itu. Yang ada, bukannya langsung masuk neraka malah harus menderita dulu di dalam ruang ICU karena tangan Mas Al!" sahut Syahal, bergidik ngeri jika mengingat betapa kejamnya Aifa'al saat sudah marah.
Gelak tawa Pak Aidi, Bu Aini, Ibel, Vanny, Syahil dan Damar bergema, mendengar perkataan Syahal yang sukses memecah suasana di rumah itu. Sementara Aifa'al mendengus, menatap jengah sang adik yang masih bisa bercanda di saat seperti ini.
"Ck! Seharusnya kamu tidak usah bicara, Syahal! Diam saja!" sungut Aifa'al, jengah.
"Yee...! Pegal mulut Syahal kalau tidak mengganggu Mas dalam sehari." jawab Syahal, mencibir sang mas yang jengah.
"Sudah, sudah...! Lebih baik kalian semua istirahat dulu, sambil menunggu kabar dari Ammar, Sadha dan Dhana tentang Wulan." seru Bu Aini, menengahi kedua cucunya.
"Iya Oma..." jawab Aifa'al, Syahal, Syahil dan Damar yang serentak, lalu beranjak.
Bu Aini menghela nafas, melihat keempat cucu kesayangannya itu berjalan ke lantai atas seraya memapa Aifa'al yang kakinya masih terluka. Sementara Pak Aidi, Ibel dan Vanny hanya mengulas senyum, menatap anak-anak yang berjalan, selalu beriringan.
"Maafkan tingkah Syahal ya, Bu. Putra Vanny yang satu itu memang seperti itu." ujar Vanny, meraih tangan sang ibu mertua.
"Tidak apa-apa, Sayang. Sifat putramu itu sama persis seperti Sadha. Justru Ibu lega karena Syahal mampu mengontrol suasana dengan sifatnya yang lucu dan humoris itu." jawab Bu Aini, mengelus wajah Vanny.
"Setiap anak pasti memiliki sifat yang berbeda, dan di setiap perbedaan itulah yang akan mewarnai hidup kita semua." timpal Pak Aidi, tersenyum pada semuanya.
"Ya sudah, lebih baik kalian juga istirahat. Jangan terlalu memikirkan suami kalian ya. Ibu yakin, mereka akan baik-baik saja." timpal Bu Aini, meyakinkan menantunya.
Ibel dan Vanny mengangguk patuh, memeluk erat tubuh sang ibu mertua sebelum mereka beranjak, masuk ke dalam kamar masing-masing untuk beristirahat. Kendati hati tetap cemas, namun lelahnya tubuh yang sudah beraktifitas seharian ini, menuntut diri untuk merebahkan tubuh barang sejenak dan menenangkan pikiran.
***
"Lepaskan saya, Pak...!"
Cahaya lampu yang dibuat temaram, tak menyurutkan kekuatan Rumi untuk terus melakukan pemberontakan pada Gibran yang hanya berdiri tegap tidak jauh dari posisi duduknya di atas sebuah kursi kayu dalam keadaan terikat kuat oleh tali besar. Membuat Rumi tak bisa bergerak leluasa, hanya memberontak dengan sisa tenaga yang ia miliki saat ini saja, berdo'a agar sang kakak akan cepat datang menyelamatkan.
"Tenanglah gadis manis!"
"Lepaskan saya, Pak...!"
"Jika kamu memberontak terus seperti ini, maka tenagamu yang tersisa akan habis!"
"Lepaskan saya, Pak Gibran...! Jika tidak, kakak saya tidak akan mengampuni anda!"
"Hooo, saya takut sekali. Hahahaha...!!!"
Rumi mendengus, menatap kesal Gibran yang tiba-tiba tertawa lepas melihatnya. Sementara itu, di dalam sebuah rumah itu terdapat dua orang lelaki bertubuh besar, berpakaian seragam hitam, berbeda sekali dengan ketiga lelaki bertubuh besar yang sempat membantu rencananya dan Dimas. Sepertinya Gibran sudah mempersiapkan semua, demi melancarkan balas dendam.
Ceklek!
__ADS_1
Pintu yang semula tertutup kini terbuka, memancing kepala Gibran untuk menoleh cepat ke arah pintu. Sementara Rumi yang terkejut juga ikut menggiring matanya, ingin tau makhluk apa lagi yang masuk ke sana.
"Bos... kami berhasil membawa satu lagi tawanan Bos!" ujar salah satu anak buah berseragam Gibran.
"Bagus! Letakkan dia di sana dan ikat!!!" seru Gibran, melihat kursi kosong di sisi Rumi.
"Siap Bos..." jawab anak buah Gibran.
Anak buah Gibran beranjak, membopong tubuh mungil seseorang menuju kursinya. Membuat Rumi terperangah, mendapati sosok yang tidak sadarkan diri itu juga ada di tempat terkutuk ini.
"Wulan..."
Seringai licik Gibran terbit, melihat betapa terkejutnya Rumi saat melihat wajah polos Wulan yang tidak bersalah. Dalam kondisi pingsan, terikat dan masih kecil. Membuat Rumi teringat dengan keluarga Dhana yang memiliki jiwa seperti malaikat. Namun saat ini, mereka pasti sangat cemas memikirkan kondisi Wulan yang pastinya akan diduga hilang oleh keluarga besarnya di rumah.
"Anda benar-benar kejam, Pak Gibran!"
"Terima kasih atas pujian kamu, Rumi!"
"Bertaubatlah sebelum terlambat, Pak!!! Karena Allah tidak pernah tidur! Dia akan segera mendatangkan azab untuk anda!"
"Haha... saya tidak takut! Percuma kamu menceramahi saya! Karena saya bukan manusia lemah seperti kamu dan Bram!"
"Ya, anda benar! Anda memang bukan manusia, melainkan iblis berwujud manusia!"
Gibran tersenyum miring, memalingkan wajah sesaat tapi tangan mengepal kuat. Sementara Rumi yang berani, kian tajam menatap lawan bicaranya itu, tidak peduli jika lawannya kini tak sepadan dengannya.
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di wajah Rumi. Membuat gadis itu terpejam miris, menahan perih yang seketika menjalar di sekujur pipi hingga merambat ke kepalanya. Memancing seringai licik Gibran terbit lagi, terlalu bahagia melihat penderitaan orang.
"Saya akui keberanian kamu, Rumi! Dan saya semakin tidak sabar untuk segera melenyapkan kamu dari kehidupan Bram!"
"Ck! Kita lihat saja nanti! Saya atau anda yang akan lebih dulu meninggalkan dunia ini!"
"Oke...! saya terima tantangan kamu! Kita lihat saja nanti! Siapa yang akan menangis dan meratapi kepergian siapa!"
Rumi mendengus marah, menatap tajam Gibran yang menyeringai dengan percaya dirinya. Lalu Gibran beranjak, melangkah pergi meninggalkan Rumi dan Wulan yang sudah terikat di dalam sebuah kamar itu.
"Wulan... bangun, Nak! Wulan...!"
Kondisi tubuh Rumi yang terikat kuat, membuatnya tidak bisa berjalan mendekati Wulan yang masih pingsan. Hanya seruan, berusaha membangunkan gadis kecil itu.
"Wulan... bangun!!! Kita harus pergi dari tempat terkutuk ini, Sayang! Ayo bangun!"
Rumi terus memberontak, berharap jika pengikat tubuhnya akan berangsur longgar hingga ia dapat menyentuh Wulan di sana. Sementara Wulan yang terikat tak kunjung memperlihatkan tanda-tanda akan sadar, membuat Rumi cemas, bahkan tak peduli dengan rasa sakit yang mendera kepalanya.
"Ya Allah... tolong kuatkan aku dan Wulan dalam menghadapi makhluk ciptaan-Mu yang satu itu. Datangkan lah pertolongan Mu untuk kami berdua. Turunkan lah azab Mu untuk makhluk Mu yang kejam itu. Aku mohon, Ya Allah..."
.
.
.
.
.
__ADS_1
Happy Reading All 😇😇😇