
...☘️☘️☘️...
Sadha, Dhana, Vanny, Imam, Aiziel, Syahal dan Syahil saling melempar pandang tercengang. Terkejut mendengar perkataan Aifa'al melalui voice note, memberitahu kebenaran bahwa Damar dan Wulan diculik bahkan tengah disekap oleh orang yang ternyata cukup mereka kenal.
"Mas tidak tau apa tujuan mereka, Syahil!!! Tapi yang pasti, Damar dan Wulan sedang dijaga oleh empat orang bodyguard seram saat ini. Mas akan mencari celah lain untuk menyelamatkan Damar dan Wulan. Pantau terus Mas dari ponsel kamu! Jangan datang ke sini! Situasinya sangat berbahaya! Biar Mas yang akan menolong Damar Wulan!!!" tutur Aifa'al di voice note kedua.
Tubuh yang semula berdiri tegap seketika terduduk lemas, mengusap kasar rambut efek frustasi, kebenaran yang disampaikan Aifa'al sukses membuat Dhana ketakutan.
"Untuk apa Gibran menculik Damar dan Wulan? Dhana... kamu tidak ada masalah dengan Gibran 'kan?" tanya Sadha yang berjongkok di depan sang adik.
"Apa ini ada hubungannya dengan Mira, Mas?" tanya Dhana yang berbisik, tidak ingin anak-anak mengetahui tentang itu.
"Mas rasa bukan, Dhana!!! Kamu yang melepas Mira di saat dia akan pergi dari kota ini, bahkan dia menangis di depan kamu untuk minta maaf. Mas merasakan kalau Gibran tidak tau apa-apa tentang masa lalu istrinya dengan Mas Ammar!!!" tutur Sadha yang tak kalah melambatkan nada bicaranya.
Diusapnya lagi wajah yang frustasi dengan kasar, tidak percaya kalau orang yang baru ia kenal beberapa hari yang lalu itu ternyata orang jahat, suami dari wanita yang pernah ia cintai kini malah menculik kedua anaknya tanpa alasan, membuat Dhana penasaran sekaligus heran dengan siapa sosok Gibran sebenarnya.
"Uncle... apa yang harus kita lakukan? Syahil merasa kalau Mas Al tidak akan bisa melawan semua bodyguard itu sendiri. Mas Al bisa celaka kalau dia nekat, Uncle." ujar Syahil yang tidak sabar ingin membantu.
"Syahil... sebaiknya kita ikuti saja apa yang Al katakan. Jika kita memaksa untuk pergi ke sana Paman takut, baik Al maupun kedua adik kamu, mereka semua akan celaka. Kita harus memikirkan hal ini dengan rencana!" timpal Imam yang menenangkan Syahil.
"Seperti ini saja, kalian masuk dulu. Lalu kalian buat rencana versi kalian, setelah kalian menemukan jalan keluar beritahu kami. Sementara itu, kami juga akan buat rencana. Rencana versi siapa yang bagus dan efektif, maka rencana itulah yang akan digunakan. Bagaimana?" timpal Vanny.
"Ide Mama ada benarnya juga, Syahil." jawab Syahal yang mendukung sang mama.
"Ziel juga setuju dengan ide, Bulik." timpal Aiziel yang menoleh ke arah Syahal Syahil.
"Ya sudah ayo kita berembuk, Mas!!" ujar Syahil yang berlari masuk lebih dulu.
Aiziel dan Syahal beranjak, berlari masuk mengikuti Syahil, berembuk versi generasi milenials seperti mereka untuk membantu Aifa'al yang tengah berjuang, melakukan aksi penyelamatan kedua adik kembarnya.
Vanny menghela nafas lega, melihat sang suami yang berbisik dengan Dhana cukup membuatnya sangat mengerti. Imam yang ikut mengerti dengan taktik Vanny pun juga menghela nafas lega, setidaknya anak-anak tidak mendengar pembicaraan mereka yang ada hubungannya dengan masa lalu.
"Dhana... kamu yakin tidak ada masalah dengan Gibran? Bukannya kamu pernah cerita, kalau Gibran pernah mengajak kamu untuk bekerja sama, mengikat Cafe Dhina dengan perusahaannya yang di Singapore dan kamu menolaknya. Apa kamu yakin, kalau Gibran tidak sakit hati lalu memilih jalan ini sebagai bentuk ancaman bahkan balas dendam?" tanya Imam yang sempat mendengar cerita itu dari Dhana, membuat Imam tiba-tiba teringat akan cerita itu.
Kepala yang berat, tertunduk lemas setelah mendengar penuturan Aifa'al melalui voice note seketika mendongak, menatap Imam yang mengingatkan dirinya dengan hari itu. Hari di mana Gibran memintanya bertemu melalui sang Manager Cafe di Cafe adiknya, pertemuan yang semula menyenangkan seketika berputar rotasi menjadi 180° lebih serius dan menegangkan, membuat Dhana teringat sesuatu yang membuatnya ganjal.
"Benarkah seperti itu Dhana?" tanya Sadha yang belum mendengar cerita dari Dhana.
"Waktu itu Pak Gibran memang kekeuh sekali ingin mengajakku untuk menjalin hubungan kerja sama, Mam. Dan di sisi lain, aku juga kekeuh menolaknya. Pak Gibran memang terlihat kesal dan dia juga sempat mengancamku dengan perkataan halus." jawab Dhana yang menoleh ke arah Imam.
"Tapi tunggu, bukannya Gibran itu punya perusahaan dan Property yang berlimpah? Kenapa dia ingin sekali melakukan kerja sama dengan Cafe Adek? Kakak merasa, ada sesuatu yang aneh, Dhana!!!" timpal Vanny yang berpikir, menyilangkan kedua tangan di depan dada dan menggigit jari.
"Sesuatu apa maksudmu, Sayang?" ujar Sadha yang menoleh ke arah sang istri.
"Entahlah, Mas. Aku merasa ada sesuatu yang lain saja dan itu tidak ada kaitannya dengan Mira maupun Adek. Sesuatu yang tengah dicari olehnya dan kita semua tidak tau apa." ujar Vanny yang menatap Sadha.
__ADS_1
"Lalu bagaimana sekarang? Dhana... apa rencana kamu? Apa kita laporkan Gibran pada Polisi?" tanya Sadha yang khawatir.
Dhana bergeming, menghela nafas berat seraya memikirkan solusi yang terbaik, demi keselamatan kedua anak kembarnya.
"Kita tunggu kabar dari Al saja dulu, Mas. Dhana yakin, Al punya rencana yang jauh lebih baik karena dia sudah melihat lokasi penyekapan Damar dan Wulan seperti apa."
***
"Kita ganti rencana! Saya ingin membuat pesta kejutan untuk ibu mereka!!! Kedua anak kembar dengan kakaknya itu pasti akan berencana melarikan diri, jadi letakkan lilin di dalam ruangan itu dan kita lihat nanti hasilnya bagaimana!!!"
Di dalam unit kamar Apartment, seraya memandangi pemandangan langit kota di tengah hari, sosok pria bertubuh tegap itu tampak sedang berbicara melalui ponsel. Seringai tajam pun terbit di wajahnya saat memberikan perintah pada sang anak buah yang tengah melakukan pekerjaan di sana.
Pria bertubuh tegap itu berbalik, hingga tampak lah wajahnya yang tak asing. Dia adalah Gibran, pemilik Jaya Mandiri dan orang yang telah menculik Damar Wulan, menyekap mereka di ruangan gelap dan sesak, menyiksa mereka sesuka hati tanpa alasan yang jelas. Gibran menutup telepon, mencari salah satu nomor yang ingin sekali ia hubungi, memberikan kejutan nan spesial, sesuai dengan rencananya yang berubah.
"Hallo Pak Dhana, apa kabar?" ujar Gibran dengan seringai tajam yang menantang.
"Pak Gibran... apa mau anda, hah? Apa yang anda lakukan pada kedua anak saya? Kenapa anda menculik mereka? Lepaskan mereka, Pak!!!" tandas Dhana yang marah.
"Hahahaha... sudah saya tebak, ternyata anda sudah tau kalau saya yang menculik kedua anak kembar anda. Bahkan saat ini tidak hanya mereka tapi ada kakaknya juga. Hahahaha..." ujar Gibran tertawa bahagia.
"Apa maksud anda hah?" tanya Dhana.
"Saya yakin, anak yang tertangkap oleh salah satu bodyguard saya adalah anak anda juga. Kalau pun bukan, ya terserah! Mau anak siapa pun, anak muda itu sudah berani ikut campur dalam rencana saya!!! Dengar, Pak Dhana! Dengarkan baik-baik! Datang lah ke alamat yang baru saja saya kirim ke email anda! Datang bersama istri anda dan jangan membawa siapa-siapa, apalagi Polisi!!! Sebenarnya bukan kedua anak anda yang saya inginkan! Yang saya inginkan adalah istri anda! Dia punya utang dengan saya dan dia harus membayarnya! Saya akan menunggu di lokasi dan jangan coba-coba untuk membawa Polisi!!! Kalau tidak, ketiga anak itu hanya tinggal nama!"
Panggilan terputus, Gibran memutuskan sambungan seenak jidatnya saja, tertawa lepas seketika, tidak sabar dengan pesta kejutan yang akan ia pertunjukkan malam ini, untuk seseorang yang ia cari selama ini.
***
"Apa maksud pria itu, Dhana? Kenapa dia bilang ketiga anak? Anak apa maksudnya?"
Dhana bergeming, berusaha menghubungi Aifa'al namun tak kunjung mendapat balas, membuatnya sangat cemas terjadi sesuatu pada sang keponakan yang telah berjuang menyelamatkan kedua anak kembarnya.
"Ponsel Al sudah tidak aktif lagi, Mas!!!" jawab Dhana yang terlihat sangat cemas.
"Jangan-jangan Al tertangkap Dhana? Seperti yang dikatakan pria itu di dalam telepon. Bodyguard pria itu menangkap anak muda, dan aku yakin itu pasti Al!!!" timpal Imam yang memiliki firasat buruk, membuat Sadha terbelalak sempurna.
"Lalu bagaimana ini?" timpal Vanny cemas.
"Tidak ada jalan lain, Kak. Dhana dan Mala akan menemui Gibran." jawab Dhana yang melihat ketiganya.
"Tapi ini bahaya, Dhana!!!" ujar Sadha.
"Lebih bahaya kalau Dhana tidak mengikuti permintaan pria itu, Mas. Sebenarnya sejak dia meminta Dhana pergi dengan Mala, ada sesuatu yang aneh. Kenapa Gibran meminta Dhana menemuinya bersama Mala? Kenapa Gibran menginginkan Mala? Ada utang apa Mala dengan Gibran?" tutur Dhana heran.
"Hanya istri kamu yang memiliki semua jawaban pertanyaan itu, Dhana." timpal Vanny yang sejak tadi sudah merasa aneh.
__ADS_1
Dhana berdecak kesal, penasaran dengan semua maksud Gibran yang mengundang sejuta pertanyaan di kepalanya. Rentetan pertanyaan buruk seakan terlintas begitu saja, memenuhi benak kepalanya.
"Lebih baik kita bicarakan hal ini dengan Ayah dan Ibu. Kita cari solusinya bersama." timpal Imam yang memilih jalan tengah.
Sadha, Vanny dan Dhana mengangguk, bergegas masuk ke dalam rumah, menuju kamar kedua orang tua mereka.
***
"Mas Al..."
Seakan tidak percaya, Damar dan Wulan yang terikat rantai besar di ruangan gelap dan sesak itu terbelalak sempurna tatkala mata mereka menangkap sosok yang baru saja dilempar kasar dari arah pintu. Dalam keadaan kaki dan tangan yang terikat kuat, serta mulut yang dibungkam dengan kain, tidak membuat Damar dan Wulan lupa akan sosok itu.
Sementara sosok yang terikat itu seketika mendongak, menatap Damar dan Wulan yang terikat rantai besar dalam kondisi tak wajar. Pucat, kacau, dan lesu seperti itulah kondisi mereka saat ini. Membuat Aifa'al mendengus marah, seakan tidak menerima jika ada orang yang menyakiti adiknya itu.
Dengan terseok-seok Aifa'al membawa tubuh yang terikat, lebih mendekati Damar dan Wulan yang menatapnya tidak percaya, seakan bertanya kenapa dirinya ada di sini. Saat tubuh yang terikat mulai dekat dengan salah satunya, Aifa'al sedikit mendongakkan kepala, meminta sesuatu saat mulutnya ada di salah satu tangan kedua adik kembarnya.
"Mas Al kenapa bisa ada di sini Mas?" cercah Damar yang melihat kondisi wajah sang mas sepupu, memar karena pukulan.
"Mmmmmmmm......" jawab Aifa'al yang mulutnya dibungkam oleh kain pengikat.
Damar mengeryit bingung, tidak paham dengan maksud sang mas sepupu yang meracau tanpa mengeluarkan suaranya. Berbeda dengan Wulan, yang sepertinya sangat mengerti dan menangkap sesuatu yang ingin dikatakan oleh sang mas itu. Perlahan, Wulan menggerakkan tangan yang terikat dengan tangan Damar. Sekuat tenaga yang masih tersisa, Wulan berusaha meraih kain yang membungkam mulut sang mas sepupu hingga kain itu terbuka juga.
"Hah! Hah! Hah! Terima kasih, Dek. Huff! Mas hampir mati karena melawan mereka hingga akhirnya Mas ikut terkurung di sini." ujar Aifa'al yang terengah-engah.
Hangat. Hati Wulan sangat hangat ketika mendengar Aifa'al memanggilnya dengan panggilan seperti itu untuk pertama kalinya, membuat seutas senyum terbit di bibirnya, bagai percikan api semangat, Wulan yang sejak tadi tertunduk lesu kini berbinar ceria, menatap lekat Aifa'al yang sepertinya belum menyadari ucapannya barusan, membuat bulir kristal yang telah kering menetes lagi.
"Kenapa Mas Al bisa ada di sini?" tanya Damar yang mengeryit heran, penasaran.
Aifa'al mendengus kesal, membenarkan terlebih dahulu posisi duduk di samping kedua adik kembarnya yang menatapnya dengan tatapan heran penuh tanda tanya.
"Panjang ceritanya kalau Mas ceritakan pada kalian sekarang ini!!!" jawab Aifa'al.
"Ceritakan yang menurut Mas penting!!!" seru Damar yang sangat penasaran.
Aifa'al menghela nafas, mengontrol emosi yang membuat pernafasannya tidak stabil.
"Yang menculik dan menyekap kalian di ruangan gelap terkutuk ini adalah pemilik sekolah kalian! Pak Gibran dengan Bima!"
.
.
.
.
__ADS_1
.
Happy Reading All 😇😇😇