
...☘️☘️☘️...
"Dim... lo di mana?"
Pagi mulai menyingsing, sinar sang surya perlahan merangkak naik, memberi sensasi panas pada siapa saja yang tengah berada di luar rumah. Namun tidak dengan Bima yang kini tengah menghirup udara segar di bawah terik matahari yang menyilaukan mata, menghubungi teman seperjuangan yang entah berada di mana.
"Gue di rumah. Sini gih! Mumpung sepi. Rumah juga lagi kosong. Biasa semuanya lagi sibuk kerja kecuali gue." jawab Dimas.
Bima menghela nafas berat, seberat pikirannya yang tengah kacau dan gelisah, membuatnya tidak tenang sejak tadi malam. Ancaman Aifa'al, sukses mengusik hatinya.
"Ya sudah, gue on the way!!!" seru Bima.
***
"Semua orang pada ke mana sih?"
Setelah bangun dari tidur panjang, Damar yang sudah rapih dan tampan mengedar semua tempat, mencari keberadaan sang opa, oma, paklik, dan bulik. Membuatnya jengah, duduk di kursi meja makan sendiri, menatap piring yang tersaji di depan mata.
"Den Damar... sudah bangun, Den."
Damar menoleh, mendapati Bi Iyah yang keluar dari pintu halaman belakang rumah, meletakkan sapu di dapur sebelum berjalan menghampirinya yang bertupang dagu.
"Ayo sarapan dulu, Den. Tadi Bapak titip pesan dan meminta Bibi untuk membuat sarapan. Ayo langsung dimakan saja ya." tutur Bi Iyah yang sibuk menata piring lagi.
"Memang Opa sama Oma pergi ke mana Bi?" tanya Damar yang melihat ke Bi Iyah.
"Bapak sama Ibu sudah pergi ke rumah sakit, Den. Tidak lama setelah itu, Den Sadha dan Non Vanny juga pamit ingin pergi ke kantor. Jadi mereka menitipkan kalian semua sama Bibi." jawab Bi Iyah.
Damar menghela nafas berat, bertupang dagu lagi seraya menatap lesu semua isi piring yang sudah terhidang di depannya.
"Woi... bengong terus!!!"
Damar terjingkat, hampir jatuh dari kursi karena kehilangan keseimbangan akibat terkejut hebat, berdecak kesal saat mata menoleh ke arah belakang, melihat empat pria tampan yang akhirnya bangun juga dari tidur panjangnya dan terlihat sudah rapih.
"Mas Syahal mulai jahil nih!!! Dasar!!!"
Syahal tergelak, menepuk bahu sang adik sembari mendaratkan tubuh di atas kursi, memancing gelak tawa Aiziel dan Syahil namun masih terlalu kikuk untuk Aifa'al.
"Kamu kenapa lesu Damar?" tanya Aiziel.
"Opa sama Oma pergi ke rumah sakit tapi tidak ada yang mengajak Damar!!!" sungut Damar, lesu dan kesal.
"Kita akan menyusul mereka!" ujar Aifa'al.
"Tuh dengar!!! Kalau titah Mas Al sudah keluar, itu artinya kita akan pergi walaupun hujan badai menerjang sekali pun." timpal Syahal, menggoda adik kembarnya itu.
"Mas Syahal lebay!" sungut Syahil.
"Eh bukan lebay, tapi fakta! Lihat tuh, raut wajah Mas Al datar dan dingin sekali 'kan? Itu artinya tidak ada yang bisa menentang ucapannya. Benar 'kan Mas?" tutur Syahal.
"Syahil benar! Kamu lebay, Syahal!" seru Aifa'al, memasang wajah datar, menahan tawa yang hendak meletus sekarang juga.
Aiziel, Syahil, dan Damar tergelak lepas, membuat Syahal mendengus kesal seraya meraih piring makannya yang belum terisi.
"Tertawa saja terus!!! Menyebalkan sekali! Sepertinya aku sudah salah memuji orang! Orang yang dipuji malah menertawakan!!! Padahal buktinya sudah jelas!!! Bima saja sampai tidak berani melawan Mas Al saat mendapat ancaman. Giliran aku memberi pujian, malah ditertawakan! Menyebalkan!"
Syahal meracau kesal, mengisi piringnya yang masih kosong dengan nasi dan lauk, tidak menyadari ucapannya barusan telah memancing perhatian Damar, memancing mata Aiziel, Aifa'al dan Syahil menoleh.
"Apa? Mas Al mengancam Bima? Kapan Mas Al bertemu dengan anak sialan itu? Kenapa Mas tidak memberitahu Damar?"
Aifa'al berdecak gemas, menatap tajam Syahal yang sepertinya baru menyadari perkataan spontanitas dari mulutnya, membuat Aiziel dan Syahil geleng kepala, memancing emosi Damar saat mendengar nama Bima disebut di antara mereka.
"Mas tidak sengaja bertemu Bima tadi malam!!! Dia sedang bersama Dimas dan seorang gadis, yang Mas yakini kalau gadis itu adalah putrinya Gibran!!!" tutur Aifa'al.
Brak!
Suara hentaman meja dari tangan Damar bergema, mengejutkan keempat masnya yang terpekur, membuatnya beranjak dari kursi, menatap tajam ke arah Aifa'al yang telah membohongi dirinya.
"Jadi itu alasannya, kenapa kalian semua terlambat sampai di rumah? Kenapa Mas Al membohongi Damar?" tandas Damar yang marah.
Aifa'al menghela nafas berat, mengepal tangan kuat, sekuat emosi yang menyeruak.
"Karena Mas tidak ingin kamu seperti ini!" tandas Aifa'al, tak kalah garang, beranjak dengan membanting sendok di tangannya.
Damar terpekur, tubuhnya merosot lemas bersamaan dengan emosinya yang hilang. Hilang saat mendengar penuturan Aifa'al. Sementara Aifa'al yang terpancing emosi pun tertunduk, mengutuki diri karena telah membentak sang adik, membuatnya diam.
"Maaf Mas..." ucap Damar, lirih.
"Kamu tidak salah! Mas yang salah!" seru Aifa'al, beranjak pergi menuju teras rumah.
__ADS_1
Damar terhenyak, menatap punggung sang mas tengah yang berlalu pergi, membawa emosi yang masih menyelimuti hati.
"Biar Mas yang melihat Mas Al!"
Syahil beranjak, mengulas senyum pada Damar yang masih terbungkam, merasa bersalah karena sudah berprasangka buruk pada sang mas tengah, membiarkan emosi menguasai diri, lupa bahwa Aifa'al tengah berusaha memperbaiki semua hubungan.
"Syahal minta maaf, Mas." ucap Syahal.
"Kamu tidak salah! Seharusnya kita tidak berbohong tadi malam dan memberitahu Damar kalau kita sempat bertemu Bima." jawab Aiziel, menenangkan Syahal yang merasa bersalah karena racauan mulutnya.
Syahal menghela nafas panjang, tidak percaya dengan semua ini, niat hati ingin bercanda justru malah memancing emosi, sungguh membuat seorang Syahal kapok.
"Damar terlalu su'uzon pada Mas Al, Mas. Padahal Mas Al sudah membuktikan kalau dirinya memang sudah berubah. Tapi sikap Damar seakan masih belum menerimanya." timpal Damar yang tertunduk lemas, lesu.
"Wajar kalau kamu belum terbiasa dan belum bisa menerima Al. Karena sejak Al menjauh dari kamu dan Adek, Al memang tempramen. Dingin, cuek, ketus, jutek dan semua teman-teman dari sifat itu ada pada diri Al! Dan sekarang dia ingin berubah tapi itu tidak mudah. Tidak mudah untuk Al dan untuk kita yang belum terbiasa. Tapi kamu tau, apa yang Al katakan pada Bima?" tutur Aiziel, menenangkan sang adik yang diam.
Damar mendongak, menatap Aiziel dan Syahal bergantian dan penuh pertanyaan.
"Al mengancam Bima agar anak itu tidak mengganggu adik-adiknya lagi!!! Al juga sudah keluar dari anggota motor anak itu. Dia melakukannya demi kamu, Adek, dan Syahil agar Bima tidak mengganggu kalian lagi." tutur Aiziel, memberitahu sang adik.
Tubuh yang lemas semakin terasa lemas, membuat rasa bersalah Damar kian besar.
"Damar harus minta maaf pada Mas Al."
***
"Apakah sesulit ini untuk berubah?"
Aifa'al bergumam, mengusap kasar wajah dan kepalanya yang semula sudah tampan, mendadak kacau akibat naiknya emosi jiwa.
"Damar butuh waktu, Mas." ujar Syahil.
"Saat kamu berubah, apakah Damar juga seperti ini? Lalu bagaimana dengan Adek?" tanya Aifa'al, menoleh ke arah sang adik.
"Setiap kita yang ingin berubah, pasti akan mendapat respon yang berbeda dari orang sekitar kita, Mas." jawab Syahil, tersenyum.
Aifa'al menghela nafas berat, memandang ke arah lain, menetralisir hati yang sempat dikuasai emosi sesaat. Sementara Syahil, masih duduk di samping sang mas tengah, menenangkan hatinya yang masih labil.
"Damar minta maaf, Mas."
Aifa'al dan Syahil terkesiap, mendapati sang adik yang duduk bersimpuh di depan kakinya, tertunduk sedih, merasa bersalah. Disusul Aiziel dan Syahal dari belakang, ikut terkesiap melihat Damar tengah bersimpuh.
"Tapi Damar salah, Mas." ujar Damar.
"Jangan menjadi cengeng hanya karena masalah kecil! Mas tidak marah! Sudah!!! Jangan menunduk lagi! Menunduk hanya akan membuatmu kalah saat menghadapi musuh." seloroh Aifa'al, menangkup wajah Damar untuk dibawanya tegap kembali.
Damar mengangguk patuh, memancing kedua sudut bibir Aiziel, Syahal, dan Syahil terangkat bersama, melihat pemandangan yang sungguh menghangatkan hati.
"Tidak ada yang mau ikut dengan Paman?"
Aiziel, Aifa'al, Syahal, Syahil dan Damar menoleh serentak, melihat ke arah suara bariton khas milik sang paman yang baru menampakan diri sejak pulang dari rumah sakit tadi malam. Sementara sang paman yang tak lain adalah Imam, tampak gagah dan sudah siap pergi menuju rumah sakit.
"Paman sudah sarapan?" tanya Aiziel.
"Tidak hanya sarapan, Ziel. Bahkan Paman juga menyaksikan siaran langsung penuh drama mengharukan yang tayang di sini." jawab Imam yang terkekeh renyah.
"Paman..." ucap Aifa'al, kikuk.
"Berbohong demi kebaikan orang yang disayang memang berat, Al. Tapi kamu sudah melakukan yang terbaik. Memilih bohong demi menjaga emosi adik kamu. Hal itu memang baik, tapi tetap salah dan jangan diulangi lagi ya, Nak." potong Imam yang tersenyum melihat Aifa'al.
"Paman mendengarnya?" ujar Aifa'al.
"Semuanya!!! Tapi Paman bangga sama kamu!!! Bima sampai tidak berkutik saat kamu mengancamnya dan Paman harap kamu benar-benar bisa melindungi semua adik kamu dengan baik. Karena kamu dan Ziel yang akan menjadi tameng pelindung untuk adik-adikmu." jawab Imam, terharu.
Aifa'al terhenyak, mendapati nasihat sang paman yang mampu menyentrum hatinya, membuat semuanya terpekur dalam sesaat, membenarkan nasihat sang paman.
"Hei, kenapa kalian diam? Kalian tidak ingin melihat anty dan adik kalian di rumah sakit?" ujar Imam, mengejutkan keponakannya.
"I-iya, Paman..." jawab kelimanya, kaget.
"Ya sudah, ayo!!!" seru Imam, semangat.
Langkah lebar diambil Imam, berjalan di depan kelima keponakan tampannya, mengulum senyum saat sesekali menoleh ke belakang, melihat ekspresi kelima anak kakak iparnya itu masih terlihat canggung.
Semoga Paman masih diberi kesempatan untuk selalu mendampingi kalian. Menuju jalan yang paling baik menurut-Nya karena hanya kalian harapan Paman, jika suatu hari Paman harus pergi menyusul onty kalian. Gumam Imam dalam hati.
Mereka pun berangkat, bersama-sama dengan menggunakan mobil Aiziel yang masih terparkir di depan rumah. Melaju kencang, menyusuri ruas jalan yang ramai. Tidak ada yang mengeluarkan suara. Kikuk! Suasana di perjalanan terasa sangat kikuk, hingga akhirnya mereka tiba di rumah sakit.
"Untung Uncle Dhana masih bisa berpikir jernih di saat situasi panik ya, Paman." ujar Aiziel, keluar dari mobil mendekati Imam.
__ADS_1
"Kenapa seperti itu Mas?" tanya Damar.
"Papi kamu memilih rumah sakit Medika karena takut nanti pakdemu tau masalah kita kalau kita membawa Adek dan Anty Mala ke rumah sakit Pusat." jawab Aiziel.
"Jadi Pakde belum tau kalau Damar, Adek dan Mas Al sempat diculik?" tanya Damar.
"Kalau Pakde tau, darah tingginya bisa kumat lagi, Damar." timpal Syahal-Syahil.
"Ck!!! Mentang-mentang anak kembar, kompaknya malah sampai terbawa ke mana-mana! Menyebalkan!" cebik Aifa'al.
Syahal-Syahil mendengus geli, mencibir sang mas tengah yang menatapnya jengah. Mengundang gelak tawa Imam, Aiziel dan Damar yang menonton kekonyolan mereka.
"Sudahlah!!! Jangan dipikirkan dulu. Pakde kalian akan tau semuanya setelah masalah ini selesai dengan baik. Sekarang, ayo kita masuk ke dalam!" ujar Imam, menenangkan.
Kelima jagoan tampan mengangguk, beranjak dari posisi mengikuti sang paman masuk ke dalam rumah sakit Medika.
"Imam..."
Langkah Imam terhenti, membawa mata untuk segera menoleh ke arah suara yang tidak asing di telinganya, membuat Imam terperangah, lupa jika sosok yang datang memanggil namanya juga bekerja di sini.
"Mitha..." ucap Imam, kikuk.
"Siapa Paman?" tanya Syahil.
"Dia teman Paman semasa kuliah." jawab Imam, mendadak gugup dan canggung.
"Teman atau pengganti Onty Dhina?" bisik Aiziel yang menggoda sang paman.
Imam berdecak, gemas dengan perkataan sang keponakan sulung yang membuatnya semakin gugup. Bukan karena kemunculan Mitha, melainkan karena takut jika dokter itu menanyakan kondisi kesehatannya.
"Mereka siapa Mam?" tanya Mitha.
"Oh iya, mereka semua keponakanku." jawab Imam, merangkul keponakannya.
"Tampan semua ya. Seperti pamannya." ujar Mitha, memuji kelimanya dan Imam.
Kekehan samar terdengar jelas di telinga Imam, membuatnya semakin gelisah dan cemas.
"Aiziel... lebih baik kamu dan adik-adikmu pergi ke kamar rawat Wulan lebih dulu ya. Karena Paman ingin bicara dengan dokter itu sebentar." tutur Imam yang berbisik.
"Oke Paman! Tapi jangan lama-lama ya! Nanti Onty Dhina cemburu loh di sana!!!" jawab Aiziel yang ikut berbisik, menggoda sang paman.
Imam berdecak lirih, semakin dibuat kikuk dan gemas melihat sikap Aiziel yang sudah cukup mengerti dengan situasi seperti ini. Sementara Aiziel berlenggang pergi lebih dulu, membawa adik-adiknya sesuai titah sang paman, pergi ke kamar rawat Wulan.
"Bagaimana kondisi kamu?" tanya Mitha.
"Baik seperti yang kamu lihat." jawab Imam.
"Tapi wajahmu menunjukan kalau kamu sedang tidak baik, Mam!!!" sungut Mitha.
"In syaa Allah, aku baik-baik saja. Jangan terlalu mencemaskan kondisi kesehatanku." jawab Imam, enggan melihat Mitha.
"Kita ke ruang kerjaku dulu ya?" ujar Mitha.
"Aku tidak bisa! Aku harus menjenguk saudaraku yang sedang dirawat di sini." jawab Imam, mengedar matanya asal.
Mitha menghela nafas kasar, heran dengan sikap sang teman yang keras kepala. Bukan teman, melainkan sosok pria yang sampai detik ini sudah berhasil mencuri hatinya.
"Jangan menyiksa dirimu sendiri, Mam!"
"Aku tidak menyiksa! Aku hanya sedang menunggu waktu panggilanku datang!!!"
"Itu sama saja dengan kamu menyerah sebelum berperang!!! Ingat, kanker yang bersemayam di dalam hatimu itu sudah stadium tiga dan itu bukan perkara ringan!"
Imam bergeming, terus menundukkan kepala, enggan melihat apalagi menatap mata lawan bicaranya itu. Membuat Mitha semakin geram, tidak percaya kalau teman lama yang terkenal optimis dan pantang menyerah, kini berubah menjadi pesimis.
"Kanker hati siapa yang sudah stadium tiga?"
.
.
.
.
.
Happy Reading All 😇😇😇
__ADS_1