Takdir Si Gadis Bisu

Takdir Si Gadis Bisu
Episode 50 ~ Gelap Mata Lagi


__ADS_3

...☘️☘️☘️...


"Dasar anak cacat! Kenapa bisa berserakan seperti ini, hah!!! Bangun kamu! Dasar cacat!"


Suara jatuhnya Wulan dan pecahan piring yang menggelegar, membuat Mala naik darah. Baru saja wanita itu turun dari lantai atas, hendak ke taman samping melihat anaknya yang sedang belajar. Namun matanya yang tajam, langsung menangkap sang putri yang terjatuh tidak jauh dari pintu keluar menuju taman.


Mala yang emosi menjambak kasar rambut Wulan, membuat sang gadis kecil meringis kesakitan, beranjak dari tempatnya terjatuh seraya memegangi tangan sang mami yang masih menarik kasar rambut hitamnya. Bulir kristal pun turut hadir, rasa sakit di kepalanya akibat jambakan sang mami semakin menjalar.


"Selain tuli dan bisu, ternyata kamu juga buta! Apa kamu tidak bisa memperhatikan jalanmu sampai semua brownies coklat yang aku buat untuk putraku berserakan seperti ini, hah?!!!" tandas Mala yang masih menjambak Wulan.


"Aaaa... aaaa... aaaa... aaaaa... aaaaaa... aaaa" jawab Wulan yang menangis, berusaha untuk melepaskan diri dari jambakan sang mami.


"Aahh, sudah! Jangan banyak protes! Kalau salah ya tetap salah! Kamu harus dihukum!" tandas Mala yang menarik kasar sang putri dengan menarik rambutnya.


Wulan meringis kesakitan, menahan rasa sakit yang kian menjalar di sekujur kepalanya tatkala rambutnya ditarik paksa oleh sang mami.


"Mami... hentikan!!!"


Sahutan suara bariton Damar yang bergema, menghentikan langkah Mala. Keributan yang terdengar, membuat kelima pria tampan itu bergegas masuk ke dalam rumah sang oma, melihat apa yang terjadi. Saat mereka masuk, betapa terkejutnya mereka ketika melihat Mala yang sedang menarik paksa Wulan menuju ke kamar mandi.


Darah Damar mendidih, menatap tajam sang mami yang berdiri hampir dekat dengan pintu kamar mandi. Lalu pria tampan itu melangkah, mendekati sang mami yang masih menjambak kasar rambut sang adik, dan disusul pula oleh Aiziel, Syahal, Syahil dan Rainar dari belakang.


"Mami mau apakan lagi Adek? Belum cukup Mami menyiksanya saat di toilet rumah sakit?" tandas Damar seraya menarik tangan Wulan, memberikannya pada Aiziel yang termangu di belakangnya saat mendengar perkataannya itu.


Aiziel memeluk erat Wulan yang terlihat kacau, Syahal dan Syahil mengelus kepalanya dengan sayang, berusaha menenangkan hati sang adik yang terluka lagi akibat ulah maminya sendiri. Sementara Mala, suara dengusan samar keluar begitu saja dari mulutnya, lalu menoleh ke arah sang putra yang masih menantang matanya.


"Kamu lihat di sana? Brownies yang Mami buat susah payah dan seharusnya bisa kamu makan bersama dengan yang lain, malah berantakan!!! Semua ini karena anak sialan itu! Kenapa Nak? Kamu sudah mulai berani melawan Mami demi membela anak sialan tak berguna itu?" cercah Mala yang tersulut emosi, melototi sang putri.


"Itu hanya brownies, Mi! Bukan nyawa orang yang terbunuh! Kapan pun Mami masih bisa membuatnya untuk Damar! Tapi Mami tidak perlu menghukum Adek hanya karena hal ini! Belum puas Mami menyiksa Adek kemarin? Sampai bekas luka di punggungnya saja sampai saat ini masih belum memudar dan Mami ingin menghukumnya lagi seperti ini?" serkas Damar yang berkaca-kaca, menatap nanar sang mami dengan penuh kekecewaan.


Mala mendengus, memalingkan wajah seraya tersenyum miring tak menyangka kalau Damar semakin berani melawannya. Sementara itu, di belakang Damar, Aiziel, Syahal dan Syahil yang terperangah mendengar penuturan Damar pun saling melempar pandang. Tangan Aiziel yang masih memeluk Wulan, perlahan terangkat dan menyingkap sedikit baju bagian atas sang adik.


Wulan semakin membenamkan wajahnya ke dalam pelukan Aiziel, tampak pasrah dengan tangan sang mas sulung yang menyingkap bajunya bagian atas. Sementara itu, Syahal, Syahil dan Rainar yang melihat tangan Aiziel, terlihat tidak sabar ingin mengetahui apakah yang dikatakan oleh Damar baru saja, benar.


Degh!


Keempat pria tampan itu terbelalak sempurna tatkala mata mereka menangkap luka panjang kemerahan di punggung Wulan di bagian atas yang cukup terekspost. Keempatnya kembali melempar pandangan, tercengang kalau sang anty memang sudah menyiksa putrinya sendiri.


"Bagus, Damar! Bahkan putra Mami saat ini sudah berani melawan Mami hanya karena anak bisu itu! Bagus! Terus saja bela si bisu sialan itu karena Mami tidak akan pernah mau mengakuinya sebagai anak Mami! Kamu ingat itu!!!" tandas Mala yang semakin emosi.

__ADS_1


"Cukup, Anty!!!" serkas Aiziel yang tidak tahan.


Aiziel yang emosi, melerai pelukannya dari sang adik lalu memberikannya pada Syahal, Syahil dan Rainar yang sepertinya juga ikut emosi mendengar perkataan kasar sang anty. Aiziel melangkah, mendekati sang anty dan berdiri tepat di samping Damar yang gemetar.


"Sudah cukup, Anty! Ziel mohon! Anty jangan seperti ini terus pada Adek! Dia putri kandung Anty Mala! Tidakkah ada sedikit kasih sayang di dalam hati kecil Anty untuknya? Sejak kecil Adek selalu menerima hinaan dari Anty! Apa Anty tidak bisa melihat, betapa menderitanya putri Anty sendiri?" ujar Aiziel yang berusaha keras menepis gejolak amarah di dalam dada.


"Anty tidak peduli, Ziel! Dan Anty minta, kamu tidak perlu ikut campur dalam masalah Anty! Anak itu harus dihukum karena memecahkan piring dan menghancurkan brownies untuk Damar!!!" serkas Mala, menatap tajam Aiziel.


Tangan Aiziel dan Damar mengepal, Mala beranjak mendekati Syahal yang memeluk Wulan dengan erat. Enggan melepaskan, apalagi memberikan sang adik pada ibunya.


"Sini kamu! Kamu harus dihukum!!!" tandas Mala seraya menarik Wulan dengan paksa.


"Jangan, Anty! Adek tidak salah! Anty tidak boleh menghukum Adek!" ujar Syahil yang berusaha menjauhkan Mala dari Syahal dan Wulan.


"Diam kamu, Syahil! Kamu juga tidak berhak ikut campur!" tandas Mala, menunjuk Syahil dan membuatnya ketakutan.


Emosi yang menyeruak membuat Mala gelap mata, sama seperti di rumah sakit kemarin. Ia kembali menarik Wulan yang masih memeluk erat tubuh Syahal, begitu juga dengan Syahal yang berusaha mempertahankan sang adik.


"Jangan Anty!!!" pekik Aiziel dan Syahil.


"Hentikan, Mi!!!" pekik Damar.


Aiziel, Syahil dan Damar berusaha menjauhkan Mala dari Syahal dan Wulan. Sementara Rainar, tampak diam tak berkutik, takut melihat wajah Mala yang menurutnya sangat menyeramkan. Bukan tidak berani melawan sang anty, namun karena derajat yang lebih tinggi membuat para pria tampan itu tidak ingin bersikap kasar pada orang yang lebih tua dari mereka. Alhasil, hanya tindakan memisahkan seperti inilah yang dapat mereka lakukan demi melindungi Wulan.


"Ada apa ini?"


Suara bariton tegas Pak Aidi menggelegar, menghentikan aksi brutal Mala yang ingin menyiksa putrinya lagi. Pak Aidi dan Bu Aini beranjak, mengambil langkah lebar mendekati cucu-cucunya yang terengah-engah karena berusaha melindungi Wulan dari terkaman singa betina yang kelaparan, seperti Mala.


"Mala... apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Pak Aidi yang menghampiri menantunya itu.


"Mami ingin menghukum dan menyiksa Adek hanya karena Adek telah memecahkan piring dan menjatuhkan makanan, Opa." jelas Damar yang menatap tajam, penuh amarah ke Mala.


Pak Aidi dan Bu Aini terperangah, menggiring matanya ke arah sang cucu perempuan yang masih memeluk erat tubuh Syahal. Didukung oleh anggukan Syahal dan Syahil yang melihat mereka. Terbesit rasa heran saat melihat sang cucu kembar, yaitu Syahil. Heran, kenapa sang cucu berada di sini dan ikut membela Wulan? Namun bukan itu yang menjadi prioritas kedua paruh baya itu saat ini, melainkan penjelasan sang menantu yang sepertinya menjadi asal dari pertengkaran ini.


"Apa yang dikatakan Damar barusan tidak benar 'kan Mala? Apakah benar kalau kamu ingin menyiksa Wulan? Jawab Ibu, Mala!!!" cercah Bu Aini yang sudah berdiri di depan sang menantu, mencekam kedua bahunya.


Mala membisu, mendengus kesal dalam hati, mengutuki diri sendiri karena telat melakukan tindakan memberi hukuman pada putrinya itu. Nafasnya masih memburu, sesekali menatap tajam ke arah sang putri yang teramat sangat dibencinya. Sungguh, Mala seperti sosok ibu tiri yang kejamnya melebihi gelar itu sendiri.


"Kenapa kamu diam? Jawab Ibu, Mala!" cercah Bu Aini seraya mengguncang kuat tubuh Mala.

__ADS_1


"Iya!!! Iya, Bu!!! Yang dikatakan oleh putraku, semuanya benar! Aku memang ingin sekali menyiksa anak cacat itu! Bahkan aku ingin sekali melenyapkan anak itu dari hidupku, Bu!" tandas Mala yang semakin emosi dan gila.


Plak!


Satu tamparan keras mendarat sempurna di pipi kanan Mala. Runtuh sudah tanggul yang selama ini menampung kesabaran sosok Bu Aini, menghimpit dada yang menyesakkan dadanya selama bertahun-tahun saat melihat kebencian sang menantu pada putrinya sendiri. Sungguh, Bu Aini sudah hilang kesabaran.


Sementara Pak Aidi, Aiziel, Syahal, Syahil, Damar, Rainar dan Wulan yang melihat itu terperanjat. Tamparan keras itu memenuhi langit-langit atap rumah, bahkan cicak yang sedang berpacaran saja bisa terkejut ketika mendengar suara itu.


"Apakah kamu menyadari perkataanmu itu? Apa kamu tidak bisa membuka sedikit saja hatimu untuk Wulan? Apakah kamu ingin seperti Ibu? Kehilangan putri yang sangat Ibu sayangi untuk selamanya! Seharusnya kamu bersyukur, karena Wulan sehat dan tidak sakit! Walaupun dia tidak sempurna, tapi itu semua bukan keinginan Wulan. Dia juga tidak ingin terlahir bisu seperti caci maki yang terlontar dari mulut ibunya sendiri! Mau sampai kapan Mala? Mau sampai kapan? Kenapa sikapmu yang seperti ini baru terlihat sekarang? Kenapa tidak sebelum pernikahan kamu dan Dhana? Ibu sudah tidak bisa menahan sikap burukmu ini lagi, Mala! Hati Ibu sakit, sangat sakit saat tangan ini menampar pipi kamu! Itu sama saja dengan Ibu menampar pipi Dhina karena kamu sangat mirip dengannya!" cercah Bu Aini yang mengeluarkan keluh kesah hatinya selama ini.


Pak Aidi merengkuh bahu sang istri, berusaha menenangkan hati yang tersulut amarah. Tidak jauh berbeda dari sang istri, Pak Aidi pun juga sangat kecewa, emosi dan ingin sekali marah. Namun ia urungkan, demi menjaga perasaan sendiri yang akan tersakiti jika meluapkan isi hati pada sosok wanita berparas sama dengan almarhumah sang putri tercinta. Sementara itu, Mala hanya terdiam, wajahnya memerah tidak terima dengan tamparan sang ibu mertua yang selama ini menyayangi dirinya seperti Dhina.


"Ibu tidak bisa mengerti perasaan Mala! Mala kehilangan masa kecil Damar karena anak itu! Karena dia, Mala tidak bisa menimang Damar saat masih bayi. Karena dia, Mala tidak bisa menyusui Damar dan melihat Damar masuk ke Taman Kanak-kanak untuk pertama kalinya! Semua itu karena dia, Bu! Andai saja, dia tidak ada, mungkin Mala akan bahagia sekarang." jawab Mala yang menoleh, menatap Bu Aini.


"Itu sama saja kamu menyalahkan Damar! Kamu harus ingat, kalau Damar dan Wulan adalah saudara kembar! Mereka satu! Tidak bisa dipisahkan!!! Jika kamu ingin membunuh salah satu di antara mereka, maka yang lainnya akan ikut terbunuh!" tandas Bu Aini yang emosi.


"Tidak, Bu!!! Jika anak itu tidak ikut tumbuh di dalam rahim Mala, maka Damar akan selamat dan baik-baik saja. Kenapa anak itu harus ada? Kenapa Bu?" tandas Mala yang semakin stress.


Plak!


Tidak bisa membohongi perasaan, Pak Aidi turun tangan menampar pipi sang menantu yang semakin hilang kendali. Untuk pertama kali, Pak Aidi bersikap keras sehingga berani menampar sang menantu yang ia sayangi.


"Kamu sakit, Mala!!! Jiwa kamu benar-benar sakit!!! Tidak sepantasnya kamu melontarkan kata-kata kasar seperti itu di depan anak-anak! Ibu macam apa kamu? Ayah sangat kecewa!!! Lebih baik kamu pergi dari rumah ini! Pergi!!!" cercah Pak Aidi yang sudah tidak tahan lagi.


Mala termangu, bulir kristalnya menetes saat tangan sang ayah mertua menunjuk ke arah pintu utama rumah yang selama ini menjadi tempatnya berteduh setelah menikah dengan Dhana. Kecewa dan marah bercampur menjadi satu, namun kekecewaan Mala tidak melebihi besarnya kekecewaan Pak Aidi dan Bu Aini.


Pak Aidi menunjuk pintu, mempersilakan sang menantu bungsu untuk angkat kaki dari istana yang terjaga keutuhan dan keharmonisannya selama ini, namun harus hancur karena sikap sang menantu. Sementara Bu Aini tersentak, kaget mendengar perkataan sang suami yang mengusir istri putranya dengan cara seperti ini. Lalu bagaimana dengan Damar dan Wulan? Tentu saja, Wulan terlihat sangat syok. Namun tidak dengan Damar yang terlihat datar karena memendam kecewa, marah di lubuk hatinya.


Ekspresi datar Damar, tidak jauh berbeda dengan Aiziel, Syahal, Syahil dan Rainar yang masih berdiri di belakang Pak Aidi dan Bu Aini. Bukan karena tak peduli, tapi lebih kepada rasa kecewa yang entah kapan bisa terobati.


"Baiklah, Ayah! Kalau itu yang Ayah inginkan! Tapi Mala tidak akan pergi sendirian! Karena Mala akan membawa Damar bersama Mala!!!"


.


.


.


.

__ADS_1


.


Happy Reading All 😇😇😇


__ADS_2