Takdir Si Gadis Bisu

Takdir Si Gadis Bisu
Episode 69 ~ Sakit Parah


__ADS_3

...☘️☘️☘️...


Derap langkah tegap terdengar, membuat sang asisten yang berdiri di depan gerbang ruang rahasia nan tertutup itu berbalik arah, menundukkan kepala sebagai rasa hormat.


"Mana Bima?" tanya pria bertubuh tegap.


"Anak itu belum datang, Tuan." ujar sang asisten yang masih menundukkan kepala.


"Dasar lamban! Di saat genting seperti ini seharusnya dia bisa bergerak cepat. Jika seperti ini terus, kita bisa ketahuan!" sungut pria bertubuh tegap itu.


Sang asisten hanya bisa menundukkan kepala, mencari jalan aman tanpa harus menjawab perkataan sang majikan.


"Maaf Pak, saya terlambat!"


Pria bertubuh tegap itu menoleh, melihat sosok yang menjadi tangan kanannya saat ini selain sang asisten, menatap tajam pria muda di depannya itu dengan sangat tajam.


"Malam ini saya harus membawa kedua anak itu pergi dari kota ini! Kalian berdua harus menjaga mereka dengan ketat dan jangan lengah! Saya sudah menghubungi beberapa bodyguard saya! Sebentar lagi mereka akan datang! Kalian pantau terus dan berikan informasi apapun pada saya!" tutur pria bertubuh tegap itu dengan tegas.


"Baik Pak!!!"


"Baik Tuan!!!"


Pria bertubuh tegap beranjak, mengambil langkah cepat menuju mobil yang terparkir tidak jauh dari ruang rahasia itu. Terletak di belakang pekarangan sekolah, cukup jauh dari jalan membuat pria itu dengan leluasa datang kapan saja dia mau. Tanpa bantuan supir, pria itu melajukan mobilnya menjauh dari ruangan rahasia yang tersembunyi itu.


"Pak Gibran?"


Mata tajam yang sejak tadi dibawa berjaga, mengikuti sosok yang membuatnya curiga, terbuka lebar dengan sempurna, bersama dengan mulut yang ikut terbuka lebar saat melihat sesuatu di balik dinding pemisah.


"Yang tadi itu bukannya Pak Gibran? Ada urusan apa Bima dengan Pak Gibran, si pemilik Jaya Mandiri? Dan itu ruangan apa? Kenapa tertutup dan tersembunyi sekali?"


Rasa penasaran kian berkecamuk dalam diri, membawa langkah kaki yang gemetar karena takut ketahuan sebenarnya, dibawa terus melangkah lambat, menyusuri sebuah jalan tikus yang sepertinya tidak disadari oleh orang lain selain dirinya. Aifa'al yang merupakan alumni siswa SMP Jaya Mandiri, membuatnya hafal betul dengan seluk beluk sekolah termasuk dengan siapa pemiliknya, namun tidak dengan tempat asing satu ini.


Aifa'al terjingkat kaget, bersembunyi lagi, terkejut dengan kedatangan sebuah mobil yang melaju kencang dari arah gerbang. Sementara mobil yang melaju itu seketika berhenti, tepat di depan Bima dan seorang pria yang diduga asisten dari pria bertubuh tegap. Pria bertubuh tegap yang diduga itu adalah Gibran, si pemilik aset Jaya Mandiri.


"Sial!!! Pak Gibran mendatangkan penjaga! Pasti ada sesuatu yang sangat berharga di dalam ruangan itu! Aku harus melihatnya!!!"


Aifa'al mendengus kesal, tangan yang semula menumpu tubuh kini dibawa untuk berdiri kembali, karena kaget membuatnya tiarap, bersembunyi di balik semak belukar yang untung sangat lebat hingga mampu menutupi tubuh six pack-nya dari musuh. Melanjutkan langkah yang sempat tertunda, mencari jalan lain menuju ruangan misterius, memastikan apa yang ada di dalam sana.


"Ck! Kenapa gelap sekali di sini? Apa yang sedang mereka sembunyikan di dalam sana? Bima dan Pak Gibran! Siswa yang terkenal bangor dan nakal bersama dengan pemilik sekolah! Sangat mencurigakan!!!"


Aifa'al meracau, mencari celah untuk bisa mengintip ke dalam ruangan gelap itu dari sisi lain tanpa harus takut ketahuan semua orang penjaga di luar sana. Menepis benda apa saja yang menghambat pemandangan dengan hati-hati, tenang dan cepat. Hingga menampakan sebuah celah yang membuat seringai tajam terbit dari sudut bibir. Aifa'al mengintip, melihat ke dalam ruangan yang gelap gulita. Namun untung saja matanya masih tajam, berfungsi dengan baik seperti burung hantu yang tengah berjaga di gelap malam, menangkap dua orang manusia di dalam sana yang terikat dengan rantai besi.


"Damar... Wulan..."

__ADS_1


Mata tajam yang masih bisa bekerja di dalam kegelapan itu terbelalak sempurna, menangkap dua sosok yang sedang dicari olehnya dan keluarga, membuat tubuhnya merosot lemas hingga menimbulkan suara.


"Suara apa itu?" sahut Bima yang tengah berjaga di depan, mengedar pandangan, mencari sumber suara yang didengarnya.


"Periksa semua sudut!" sahut ketua dari bodyguard bertubuh kekar dengan tato.


Empat orang bodyguard berpenampilan seram dan sangar pun mengedar, mencari sumber suara yang mencurigakan. Asisten Gibran pun tak kalah sigap, menelisik setiap sudut yang ada, memastikan bahwa tidak ada seorang pun yang mengetahui rencana maupun keberadaan mereka di tempat ini.


"Bagaimana Pak Bram? Ada sesuatu?" tanya Bima yang ikut mencari dari arah lain.


"Tidak ada apa-apa, Bima. Hanya kucing." jawab Bram yang datang bersama empat bodyguard di belakangnya.


"Baiklah, berarti situasi kita masih aman! Jangan sampai lengah! Jaga setiap sudut yang ada!" ujar Bima yang menegaskan.


"Siap Bos!!!" jawab para bodyguard.


Keempat bodyguard seram pun berpencar, berdiri di titik yang berbeda, menjaga ketat tempat rahasia itu sesuai permintaan sang majikan yang telah membayar mahal untuk ini, demi rencananya yang licik dan jahat.


"Hufff... untung saja aku cepat kabur dari tempat itu. Kalau tidak, nasibku juga akan berakhir sama dengan Damar dan Wulan. Aku harus tetap di sini! Mencari celah agar bisa menyelamatkan kedua adik kembarku dari Pak Gibran dan Bima!!!"


Aifa'al menghela nafas panjang, berhasil kabur dengan gesitnya, bersembunyi lagi saat menyadari kedatangan pada penjaga bayaran Gibran. Aifa'al bersembunyi tidak jauh dari ruangan rahasia nan gelap gulita itu, mengatur nafas yang terengah-engah.


***


"Bagaimana hasilnya Mit?"


Sosok cantik berambut lurus sebahu itu menoleh, sesaat setelah matanya tengah sibuk membaca secarik kertas yang sejak tadi ada di tangannya. Sosok wanita yang cantik itu membenarkan duduknya seraya menghela nafas berat, menatap nanar pria yang tengah duduk di depannya.


"Sudah stadium tiga, Mam!" ujar sosok itu.


Imam menghela nafas berat, tersenyum getir setelah mendengar perkataan sosok cantik berpakaian lengkap sebagai dokter spesialis itu.


"Kenapa baru sekarang? Kenapa tidak menunggu sampai stadium akhir saja?" sungut sosok cantik itu yang terlihat marah.


"Gejala yang aku rasakan sangat umum hingga membuatku lalai. Yang aku rasakan beberapa bulan terakhir ini hanya sakit perut dan ***** makanku berkurang. Aku berpikir kalau itu bukan lah hal yang serius, Mitha." ujar Imam yang masih bisa tersenyum.


"Tapi buktinya? Kamu mengidap penyakit kanker hati stadium tiga, Imam! Apa kamu tidak cemas?" sungut Mitha, sosok cantik di depannya yang terlihat marah.


Imam tersenyum getir, menerima apapun hasil diagnosis yang dikatakan oleh teman lamanya itu. Mitha Rahmawati, sosok yang cantik dan putih, teman lama Imam. Bukan sekedar teman lama, namun wanita cantik yang diam-diam memendam sebuah rasa pada pria di depannya ini hingga sekarang. Namun rasa itu tidak bersambut, membuat Mitha patah hati ketika mengetahui bahwa pria yang ia cintai itu, mencintai wanita lain, dan wanita lain itu adalah adik dari teman masa kuliahnya juga, yaitu Dhana.


Datang ke negara kelahiran dua hari yang lalu, tidak langsung membawanya datang mengunjungi kedua mertuanya, melainkan membawanya bertemu dengan temannya itu. Merasakan gejala aneh yang selama ini membuat berat badannya cenderung turun, memilih negara kelahiran sebagai tempat untuk memeriksa kondisi kesehatan secara keseluruhan. Bukan tidak percaya dengan pemeriksaan di negara orang yang terbilang sangat canggih, namun karena niat hatinya yang ingin mengunjungi keluarga sang istri tercinta, membuatnya berpikir lebih efektif.


"Untuk apa cemas Mit? Aku malah sangat bersyukur dengan adanya penyakit parah ini. Itu artinya, sebentar lagi aku akan segera bertemu dan bersatu dengan istriku tercinta di sana. Aku sudah menunggu hari ini, Mit." jawab Imam yang menatap ke lain arah.

__ADS_1


Sakit!!! Pastinya sangat sakit mendengar orang yang sejak lama kita cintai, terkena penyakit mematikan seperti ini, membuat bulir kristal menumpuk di manik Mitha. Cinta yang bertepuk sebelah tangan yang selalu mengharapkan balasan, namun balasan itu seakan hancur berkeping-keping seketika.


"Apa keluarga kamu tau?" tanya Mitha.


"Tidak!!! Dan tidak akan pernah!" jawab Imam yang menoleh ke arah temannya.


"Lalu apa yang harus aku lakukan untuk kamu, Mam? Sebagai temanmu, aku tidak mungkin membiarkan kamu sakit seperti ini. Setidaknya, kamu harus mulai kemoterapi!" ujar Mitha yang tercekat, terasa sesak saat berusaha membujuk Imam.


"Tidak perlu, Mitha! Aku hanya ingin obat penghilang rasa sakit untuk sementara. Pastikan agar obat itu bisa membuatku tetap kuat dan bertahan, sampai aku bisa menyelesaikan semua urusan keluargaku." tutur Imam yang tetap tersenyum simpul.


"Kenapa Mam? Kenapa kamu jadi orang yang pesimis seperti ini? Dua puluh tahun lamanya kita berkomunikasi hanya melalui Whatsapp dan dua hari yang lalu kamu mengunjungi aku di sini lalu memintaku untuk memeriksa kondisi kesehatanmu!!! Lalu apa sekarang? Berita buruk yang aku dapatkan secara langsung sebagai dokter dari temanku sendiri. Kenapa Mam? Imam yang aku kenal dulu tidak seperti ini." tutur Mitha yang tercekat, jatuh lah air matanya.


Imam tersenyum getir, mengerti dengan maksud Mitha yang sangat mencemaskan kondisi kesehatannya kini.


"Imam yang dulu sudah pergi bersama dengan cintanya, Mit. Cintanya yang telah lama pergi, meninggalkan dirinya seorang diri di dunia ini, membuatnya selalu didera kerinduan yang mendalam. Sedangkan ini, Imam yang ada di depanmu saat ini hanya seorang pria lemah dan penyakitan. Imam yang sudah siap kapan saja untuk dijemput oleh istriku tercinta." tutur Imam yang tetap tersenyum, membuat Mitha semakin sakit.


Mitha menghela nafas berat, menyeka air mata yang menetes tanpa henti. Penuturan Imam sangat menyayat hatinya yang rapuh.


Tidakkah ada setitik cinta di hatimu untuk diriku, Mam? Bahkan di saat statusku kini yang sudah mempunyai seorang suami, namun di hati ini hanya ada nama kamu. Tapi sepertinya, almarhumah adik Dhana tidak akan pernah bisa digantikan. Gumam Mitha dalam hati yang meringis perih.


Imam tersenyum getir, hanya itu yang bisa dilakukannya. Sebagai seorang suami yang setia dengan almarhumah sang istri, Imam tetap memegang teguh prinsip hidup untuk tidak bersentuhan dengan wanita lain.


"Jadi bagaimana Mit? Apa obat untukku sudah siap? Aku harus segera pulang ke rumah mertuaku karena ada sesuatu hal yang penting." ujar Imam yang berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Ini resep obat kamu! Kamu bisa menebus semuanya di apotek!" jawab Mitha dingin.


"Terima kasih, Mitha!!! Dan aku minta maaf, atas rasa yang tidak akan pernah mampu untukku balas. Terima kasih sekali lagi, Mit." ujar Imam yang tersenyum sebelum pergi.


Mitha bergeming, membiarkan pria yang masih menempati hatinya hingga saat ini pergi, keluar dari ruang kerjanya sebagai dokter spesialis kanker di rumah sakit itu. Sementara Imam, melangkah lebar masih dengan seutas senyum simpul, menemani langkahnya menuju apotek rumah sakit. Tidak lama setelah mengantri untuk menebus obat, Imam beranjak. Bergegas menuju mobil sang kakak ipar yang sudah mengantarnya ke rumah sakit, menghela nafas berat sebelum melajukan mobilnya.


"Bagaimana aku bisa memenuhi saranmu untuk membawa Wulan bersamaku ke Cairo, Sayang? Bahkan aku saja tidak yakin, apakah hidupku akan bertahan lama atau tidak setelah aku mengetahui penyakitku."


Imam menghela nafas, menyandarkan kepalanya yang diusapnya dengan kasar, memikirkan keberadaan Damar dan Wulan yang belum ada perkembangan dari Aifa'al, menepis masalah pribadi yang lebih parah demi kebahagiaan keluarga besar istrinya.


"Kamu jangan khawatir, Sayang. Aku janji akan menyelesaikan semuanya, sebelum aku pergi menyusul kamu ke surga-Nya."


.


.


.


.

__ADS_1


.


Happy Reading All 😇😇😇


__ADS_2