Takdir Si Gadis Bisu

Takdir Si Gadis Bisu
Episode 101 ~ Memohon


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Malam yang panjang berakhir dengan cepatnya, berganti tugas dengan matahari pagi yang baru saja beristirahat, melakukan tugas di belahan dunia lain. Namun dalam waktu singkat panggilan tugas selanjutnya seakan tidak membiarkannya beristirahat.


Mata yang tertutup rapat selama seharian penuh kini mulai bergerak, asupan cahaya lampu kamar rumah sakit yang dibiarkan menyala terang sukses membuat si pemilik mata terusik, tidak nyaman ketika matanya menangkap cahaya di kala rasa kantuk masih menggerogoti. Mata itu terus bergerak, berusaha untuk terbuka walau terasa berat. Seakan terkunci rapat akibat obat yang tengah bekerja di dalam tubuh.


"Aaaass..."


Tangan lemah itu terangkat, berusaha meraih pucuk kepala yang tengah tertidur pulas di sampingnya. Mata yang berat itu pun juga sudah terbuka, masih sayu dan terlihat lemah namun tidak menyurutkan seutas senyum untuk terukir saat tangan berhasil menyentuh pucuk kepala itu.


"Aaaass..."


Damar pun terkesiap, mendapati tangan seseorang di atas kepalanya, diduga sang papi yang terbangun, membuat kepalanya terangkat, memastikan apakah benar sang papi yang telah terbangun di pagi buta ini.


"Adek..."


Damar terjingkat senang, melihat seutas senyum sambutan selamat pagi dari sang adik yang ia cemaskan dari sejak kemarin. Sementara Wulan yang sudah terbangun, semakin tersenyum lebar, melihat Damar yang terhuyung ke belakang, hampir jatuh dari tempat duduknya sangking senang.


"Apa yang Adek rasakan?" tanya Damar, mengelus sayang pucuk kepala sang adik.


Wulan menggeleng, menandakan kalau tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi dengan kondisinya. Membuat Damar lega, sembari menghempas lagi tubuhnya pada tempat duduk.


"Bahu Adek?" tanya Damar lagi.


Wulan menggeleng lagi, meraih tangan Damar yang mengusap lembut bahunya. Bahu yang menjadi sasaran tembakan Gibran tempo hari, terasa sangat sakit sebelumnya tapi tidak dengan sekarang. Wulan tersenyum, meyakinkan sang mas kembar kalau kondisinya baik-baik saja.


"Mas khawatir sama Adek!!! Adek kenapa nekat sih? Seharusnya Adek memberitahu Mas terlebih dahulu kalau ingin bertindak!!! Jangan gegabah seperti kemarin! Jantung Mas hampir copot saat melihat Pak Gibran menodong pistolnya ke arah Adek, tau!!!"


Wulan tersenyum simpul, melihat wajah sang mas kembar yang menahan marah, menggenggam tangannya yang sesekali menjadi sasaran cubitan gemas, meracau tanpa menoleh ke arahnya, membuatnya ikut gemas dan geli melihat sikap Damar.


"Damar... kamu mengigau ya Nak?"


Damar dan Wulan terkesiap, mendengar suara bariton sang papi yang terbangun, terusik oleh suara Damar yang meracau. Tidak sadar jika sang papi tengah tertidur pulas di atas sofa, berteman selimut halus.


"Damar sudah bangun, Papi. Bukan mengigau!!!" sungut Damar, efek masih kesal dengan sang adik yang gegabah.


Dhana mengerjap, mengucek matanya perlahan, membawa tubuh untuk segera duduk, melihat ke arah sang putra yang tengah mengigau seperti dugaannya itu.


"Wulan..."


Rasa kantuk seakan menguap, mendapati seutas senyum manis dari sang putri yang telah sadar dari tidurnya. Menuntun Dhana untuk segera beranjak, melangkah lebar menjangkau tempat tidur sang putri.


"Alhamdulillah Sayang... kamu sudah bangun, Nak. Papi senang sekali. Kamu sudah baik-baik saja."


Ribuan kecupan hangat penuh kasih sayang, Dhana daratkan di atas pucuk kepala sang putri yang mengulum senyum, membalas pelukan sang papi sebisanya. Setelah puas Dhana pun melerai pelukan, menggiring mata ke arah sang putra yang tengah bertupang dagu, bermuram durja.


"Kamu kenapa Nak? Kamu tidak senang adik kamu sadar dari tidur panjangnya?" tanya Dhana, mengeryit heran.


"Justru Damar yang paling senang, Pi!!!" jawab Damar yang tidak bersemangat.


"Lalu? Kenapa murung?" tanya Dhana.


Damar menghela nafas berat, menoleh ke arah sang papi yang menatapnya bingung. Sementara Wulan malah semakin terkikik, geli melihat wajah muram sang kembaran.


"Damar kesal sama Adek!!! Adek ceroboh, Pi!!! Papi kenapa diam saja? Marahi Adek dong!!! Biar Adek kapok dan tidak ceroboh lagi seperti kemarin!!!" umpat Damar, kesal.


Seketika Dhana terkikik, menahan geli di perut yang tiba-tiba menggerogoti, tidak tahan melihat ekspresi sang putra seperti itu. Sementara Wulan semakin terbahak, tidak kuasa menahan tawa saat melihat ekspresi sang mas kembar yang semakin memelas.


"Ya ampun... Papi sebenarnya juga kesal, tapi mau bagaimana lagi Nak! Semuanya sudah terjadi dan yang penting kita semua baik-baik saja." ujar Dhana, mengusap punggung sang putra yang masih murung.


"Jangan cemberut lagi, Mas." ujar Wulan, memakai bahasa isyarat walaupun hanya dengan satu tangan.


Damar mendengus geli, mengerti sekali dengan bahasa isyarat sang adik yang memintanya untuk tidak bermuram lagi. Sementara Dhana hanya bisa mengulas senyum, melihat besarnya kasih sayang kedua anak kembar kesayangannya itu.


"Oke! Mas tidak akan cemberut lagi, asal Adek janji tidak nekat lagi seperti kemarin!" seru Damar, memperingatkan sang adik.


Wulan mengangguk cepat, mengangkat tangannya sebagai tanda kesepakatan di antaranya dan Damar, tidak akan ceroboh dan nekat lagi ketika melakukan tindakan.


"Aaai... aaai iii aaaa, iii?"


Seutas senyum seakan ditarik paksa dari wajah anak dan ayah itu, menuntun mereka untuk saling pandang, menangkap makna bahasa khas Wulan yang tiba-tiba teringat dengan sang mami. Membuat Wulan pias, menangkap sinyal tak baik dari raut wajah keduanya yang terlihat enggan merespon pertanyaannya.


Wulan beranjak duduk, membawa tubuh beserta tangan yang masih tersambung dengan selang infus, membuat Dhana dan Damar terkesiap, melihat Wulan memaksa diri untuk bangkit dari tidurnya. Mengedar pandangan ke seluruh sudut hingga sosok sang mami berhasil tertangkap oleh mata.


"Aaaaai..." ucap Wulan, lirih.


Bulir kristal seakan tak bersahabat, jatuh begitu saja tanpa diinginkan, melihat sang mami terbujur lemah di atas tempat tidur, memakai selang infus dan selang oksigen. Wulan menoleh, menatap sang papi dan mas kembar yang terdiam, membuatnya mengerti bahwa sang mami juga terkena dampak peristiwa di rel kereta api tempo hari.


"Jangan dibuka Sayang! Kondisi kamu masih lemah. Ayo, Papi antar kamu ke samping Mami."


Naluri sebagai anak tersentak, membuat Wulan bergegas ingin turun, melepaskan selang infus di tangannya. Namun Dhana yang menyadari gerak-geriknya langsung mencegah, menghentikan gerakan cepat tangan Wulan yang hendak terlepas dari selang infus untuk menjangkau sang mami.


Wulan hanya mengangguk, mengikuti perkataan sang papi yang jauh lebih tau dengan kondisinya saat ini. Lalu berjalan perlahan, mendekati bed sang mami yang ada di samping bed nya, disusul oleh sang mas kembar yang selalu ada di sisinya.


"Aaaaai..."


Wulan menangis, memeluk tubuh sang mami yang sangat dirindukan walaupun tidak akan mendapat balasan, tubuh yang masih terbujur lemah di atas tempat tidur, membuatnya sakit ketika melihat kondisi sosok yang ia sayangi harus seperti ini. Memancing air mata Dhana dan Damar, tidak tega melihat Wulan yang hanya bisa memeluk Mala di saat seperti ini.


"Aaaaai... aaaaaa... iii?"


Wulan menoleh, wajahnya yang basah membuat air mata Dhana tak terkendali.


"Mami sedang istirahat, Sayang."


"Aaai... aaaaaa! Aaai... aaaaaa?"


"Mami kamu baik-baik saja, Sayang. Percaya sama Papi!"


Wulan menggeleng kuat, seakan tidak menerima jawaban sang papi tentang kondisi sang mami, membuatnya semakin terisak, memeluk tubuh sang mami yang masih belum sadar dari tidur panjangnya.

__ADS_1


"Lebih baik sekarang, Papi ceritakan semuanya pada Adek! Hanya Adek yang belum mengetahui kebenarannya, Pi!"


Wulan yang mendengar itu, mendongak. Menatap nanar Dhana dan Damar yang tengah berdiskusi, rasa gamang pun tak dapat dihindari, membuat Dhana berpikir sejenak, mengambil nafas panjang untuk membuka cerita kembali di depan Wulan.


"Papi akan menceritakan semuanya, Nak!"


***


"Mas... bangun! Sudah pagi nih!"


Mata yang masih mengantuk, terbangun. Mendapati jarum jam yang telah berpindah ruas, membuat Aifa'al terjingkat, tersadar kalau dirinya telah ketiduran di Apartment.


"Mas... Mas Ziel!"


Aifa'al yang terjingkat bergegas turun dari tempat tidur, menangkap Aiziel yang ikut terlelap di sampingnya. Entah bagaimana caranya mereka bisa sama-sama ketiduran, niat hati yang ingin bergegas pulang justru membuat keduanya ketiduran di Apartment.


"Al... kita ketiduran di sini?" tanya Aiziel, beranjak duduk seraya mengucek mata.


"Iya, Mas. Mungkin karena kita terlalu lelah saat beres-beres barang." jawab Aifa'al.


"Ck!!! Gara-gara kamu nih!" sungut Aiziel.


"Sorry Mas..." jawab Aifa'al, memelas.


Aiziel menghela nafas, menstabilkan mata yang terasa berat untuk terbuka, berusaha menghasut dalam bathin agar tidur kembali.


"Oh iya, Paman Imam di mana?"


"Astaga! Paman tidur di sofa, Mas!"


"Aifa'al!!!" seru Aiziel, geram.


Aiziel dan Aifa'al beranjak cepat, meraih gagang pintu untuk dibuka, menghambur keluar menuju ruang tamu namun sang paman yang dicari tidak ada di tempat.


"Kalian sudah bangun?"


Aiziel dan Aifa'al menoleh cepat, suara bariton sang paman berhasil membuat rasa kantuk di mata keduanya hilang begitu saja.


"Paman dari mana?" tanya Aifa'al.


"Dari kamar mandi." jawab Imam.


"Paman tidur di sofa?" tanya Aiziel.


"Iya, tapi nyaman kok." jawab Imam.


Suara helaan nafas panjang Aiziel dan Aifa'al terdengar serentak, mendengus dalam bathin seraya mengutuki diri, tega membiarkan sang paman tidur di atas sofa, tanpa selimut sementara AC tetap menyala.


"Daddy bisa marah kalau dia tau adik iparnya tidur di atas sofa!!!" ujar Aifa'al, berbisik di samping Aiziel.


"Kamu sih! Seharusnya kamu bangunin Paman lalu suruh pindah ke kamar!" ujar Aiziel, ikut berbisik tanpa berpaling wajah.


"Kamu yang tidur belakangan!" cicit Aiziel.


Perdebatan samar di antara kedua putra Ammar dan Ibel itu tak dapat dihindari lagi, memancing gelak tawa Imam yang masih berdiri, melihat perdebatan keponakannya yang menghiasi paginya hari ini.


"Paman tidak apa-apa. Kalian tidak perlu berdebat lagi ya. Lebih baik sekarang kita pulang! Daddy kalian sudah menghubungi Paman sejak tadi." ujar Imam, terkikik geli.


"Maaf Paman..." ucap Aifa'al, lirih.


"Tidak apa-apa! Ayo, kita pulang!" jawab Imam, merangkul bahu Aiziel dan Aifa'al.


Aiziel dan Aifa'al mengangguk. Sebelum pergi, Aifa'al kembali ke kamar, mengambil tas yang sudah penuh dengan baju-baju. Lalu ia keluar dan menghampiri Aiziel dan Imam yang menunggu di ruang tamu.


Mereka pun berjalan, keluar dari unit Apartment, menyusuri lorong temaram dengan cahaya lampu yang berkapasitas sedang, menambah suasana sepi di pagi hari, menandakan belum banyak orang yang melakukan aktifitasnya.


***


Ting Nong...


Ting Nong...


Ting Nong...


Suara bel terdengar mendesak, mengusik ketenangan tidur seseorang yang beranjak terpaksa dari tempat tidurnya. Berjalan terhuyung keluar dari kamar, memegangi kepala yang terasa berat karena semalam tidak bisa tidur dengan tenang dan nyaman. Walaupun fasilitas di Apartment kelas atas itu sangat lah fantastic, tidak membuatnya tenang sama sekali sejak sang pemilik unit Apartment itu beranjak meninggalkannya.


Ceklek!


Kepala yang berat membuatnya terus menunduk, tidak menyadari siapa yang tengah bertamu ke unit Apartment nya.


"Benarkah anda yang bernama Bima?"


Bima tersentak, mendengar suara bariton yang ada di hadapannya saat ini. Dengan was-was Bima mendongak, melupakan sejenak rasa sakit yang menyerang kepala. Membuatnya terbelalak sempurna, melihat ada dua orang Polisi bertubuh tegap ada di depan matanya.


"B-b-bapak ini siapa ya?" tanya Bima, gemetar mendapati tatapan tajam Polisi.


"Kami dari kepolisian mendapatkan kabar bahwa anak yang bernama Bimantara kini tengah bersembunyi di Apartment Gibran! Dan kami juga mendapatkan kabar bahwa anak yang bernama Bimantara juga ikut terlibat dalam penculikan dan penyekapan anak di bawah umur! Untuk itu, mari anda ikut bersama kami ke kantor Polisi!" cercah Bripka Polisi yang berdiri paling depan.


Bima tercekat, terlihat pucat, sulit untuk menelan saliva tatkala mendengar suara Bripka Polisi yang tenang namun penuh penekanan dan perintah, meminta secara baik-baik untuk mengikuti prosedur yang berlaku, ikut ke kantor untuk memberikan penjelasan yang jelas terkait kasus.


"T-tapi saya bukan Bimantara, Pak!"


"Ternyata kamu masih bisa berkilah ya!"


Bima semakin tersudut, beringsut mundur perlahan tanpa memperlihatkan gerakan sekecil apapun, lalu berlari sekuat tenaga.


"Tangkap dia!"


Seorang Bripda yang berdiri di belakang sang kepala pun bergegas masuk, berlari mengejar Bima yang berusaha mengelak. Berlari ke sana dan ke mari, menjauh dari jangkauan Polisi, membuat Apartment itu seketika porak-poranda karena ulah Bima.

__ADS_1


Grep!


"Jangan bergerak! Atau peluru pistol ini akan menembus betismu yang nakal itu!"


Langkah lebar Bima terhenti, mengangkat kedua tangan sebagai tanda menyerah. Membuat Bripda Polisi bertindak, meraih tangan Bima yang seketika mematung, mengikatnya dengan borgol, lalu berjalan keluar dari unit Apartment mewah itu.


"Ayo bawa dia!!!"


"Siap Komandan!!!"


Bawahan Bripka Polisi beranjak lebih dulu, menyeret Bima yang sudah terbelenggu dengan borgol namun tetap memberontak.


"Saya tidak salah, Pak!"


"Kamu bisa menjelaskannya nanti!"


"Tapi saya tidak salah, Pak!"


"Jangan banyak bicara!"


Bima terbungkam, bentakan dari Bripka Polisi itu sukses membuatnya bungkam, ingin melawan tapi percuma, tangannya sudah terjebak borgol dan dikawal oleh Polisi, bahkan untuk menghilang dengan ilmu sihir pun rasanya juga tidak akan bisa. Membuatnya menghela pasrah, menuruti perintah kedua polisi yang sudah berhasil menemukan keberadaannya.


Kedua Polisi berbeda pangkat itu berjalan, terus mengapit Bima yang sewaktu-waktu bisa melarikan diri ketika lengah. Keluar dari lift yang ada di sisi lain, berjalan cepat agar Bima bisa segera diproses sesuai hukuman.


"Aifa'al..."


Sejurus kemudian, mata yang menatap kosong ke sembarang arah tertuju pada seseorang di dekat lobby, berjalan bersama seorang pemuda yang Bima yakini bahwa pemuda itu juga ada di saat Aifa'al marah dan menyerangnya di Cafe malam itu, dan di depannya ada seorang pria paruh baya. Berjalan keluar dari lift lainnya, dan tidak menyadari keberadaannya di Apartment.


"Aifa'al!!!"


Suara Bima yang serak bergema kuat, membuat yang dipanggil menoleh ke asal suara, sempat mengedar sesaat hingga akhirnya pandangan keduanya bertemu.


"Bima!!!"


Aifa'al terperangah, melihat kapten mantan geng motornya itu diapit oleh dua orang Polisi, tangan diborgol dan tampak kacau.


Srek!


Sementara Bima yang melihat kedua Polisi mulai lengah pun berlari, membuat kedua Polisi itu terjingkat kaget saat tahanan lepas.


"Berhenti!!!" seru Bripka Polisi.


Aifa'al terperangah, terkejut juga pastinya, menoleh sesaat ke arah sang mas sulung dan paman yang tak kalah terkejut, melihat Bima yang tengah berlari ke arah mereka.


Bruk!


"Al... Al tolong gue!!! Tolong gue, Al!!!"


Aifa'al semakin terperangah, melihat Bima yang bersimpuh pasrah di hadapan mata, dengan tangan yang diborgol, mata yang mulai mengembun, menahan air yang saat ini juga ingin menembus bendungan mata. Meraih tangan Aifa'al yang masih terpekur, tidak menyangka kalau Bima benar-benar sudah tertangkap oleh Polisi.


"Al... gue mohon!!! Tolong gue!!! Gue tidak salah! Gue sudah dijebak sama Pak Gibran! Please bantu gue, Al! Gue tidak mau masuk penjara!" tutur Bima, mengiba pada Aifa'al.


Alih-alih menjawab, raut wajah Aifa'al yang semula sangat terkejut berubah sangat sinis, tersenyum miring melihat permohonan Bima yang selama ini terkenal nakal. Sementara Aiziel dan Imam yang masih berdiri di sisi Aifa'al pun hanya saling pandang, bingung dengan maksud penuturan Bima baru saja, bersamaan dengan kedua Polisi yang ingin membawa Bima pergi untuk diproses.


"Ayo berdiri!!!" seru Bripda, membentak.


"Al... tolong gue!!!" ujar Bima, mengiba.


Aifa'al berdecak, tersenyum miring melihat Bima yang sudah dibawa berdiri oleh Polisi.


"Tolong lo bilang? Lo mau gue menolong orang jahat seperti lo yang sudah menculik, menyekap dan bahkan hampir mengancam nyawa kedua adik kembar gue, seperti itu?"


Bima tertunduk, membiarkan Polisi terus mengapit tangannya, membiarkan Aifa'al mencercahnya dengan kata-kata pedas. Ingin emosi atau melawan pun tidak akan berguna, tangannya sudah terikat borgol. Membiarkan mata yang kian mengembun ketakutan, melihat senyum miring mantan anggota geng motornya yang terlihat puas.


"Gue sudah bilang 'kan malam itu? Cepat atau lambat Polisi pasti menemukan lo!!! Tapi gue heran, kenapa lo bisa tertangkap secepat ini? Padahal gue dan keluarga saja belum sempat melaporkan kejahatan lo!!! Tapi itu bagus!!! Gue tidak perlu susah, buat merangkai kata dan memberikan kesaksian atas kejahatan lo terhadap adik-adik gue!!!"


Bima mendengus marah, menggeram dalam hati yang tidak bisa dibohongi, sifat aslinya tetap ada walau sedang ketakutan.


"Bawa saja dia, Pak! Dia memang pantas dihukum atas perbuatan jahatnya!!!" seru Aifa'al, menatap tajam Bima yang terdiam.


"Bawa dia ke mobil!" seru Bripka Polisi.


"Al... tolong gue!!! Gue tidak salah, Al! Gue dijebak! Gue ditipu, Al! Gue dimanfaatkan!" seru Bima yang meracau seraya menoleh.


Aifa'al berdecak lirih, tersenyum miring melihat Bima yang terkenal egois dan keras tiba-tiba datang memohon pertolongan. Sementara Aiziel dan Imam masih tetap bungkam, melihat adegan di luar dugaan.


"Al..." ucap Imam, tercekat melihat Bima.


"Sudahlah, Paman! Dia pantas dihukum!" seru Aifa'al, menatap tajam ke arah Bima.


Aifa'al menyeringai puas, melihat secara langsung Bima yang tertangkap oleh Polisi. Sementara Bima yang diseret keluar dari Apartment, terus meraung, meronta-ronta ingin dilepaskan, menarik perhatian semua orang yang tengah berlalu lalang, memulai aktifitas pagi yang cerah.


"Al... tolong gue! Gue tidak salah!"


Aifa'al melambaikan tangan, mengantar kepergian rivalnya yang akan menghilang. Ditarik paksa oleh kedua Polisi itu, terseok hingga akhirnya mencapai bibir pintu utama.


"Asal lo tau, Al! Gibran kabur dari penjara! Dia sudah melarikan diri! Dia sudah kabur!"


.


.


.


.


.


Happy Reading All 😇😇😇

__ADS_1


__ADS_2