Takdir Si Gadis Bisu

Takdir Si Gadis Bisu
Episode 114 ~ Tiger VC Black Moon


__ADS_3

...☘️☘️☘️...


"Turun!!! Atau mobil ini akan hancur!!!"


Itulah isyarat yang ditangkap jelas oleh Pak Aidi, menatap heran pada dua orang asing yang berpenampilan seperti seorang begal. Memegang balok kayu yang cukup besar, lalu sesekali menyodorkan kayu itu ke arah kaca mobil, membuat Bu Aini merasa takut.


"Mereka siapa Mas?" tanya Bu Aini, takut.


"Aku juga kurang tau, Sayang. Sepertinya mereka begal tapi biasanya di jalan ini tidak ada begal. Apalagi hari masih sore." jawab Pak Aidi, tampak tegang namun tenang.


"Sepertinya mereka orang suruhan, Opa!!!" timpal Aifa'al, memperhatikan gerak-gerik kedua orang berandalan di luar sana.


"Maksud Mas?" tanya Damar, heran.


"Mereka pasti suruhan Gibran!" ujar Aifa'al.


Pak Aidi dan Bu Aini saling pandang, sama halnya juga dengan Damar dan Wulan. Sementara Aifa'al fokus menghunuskan tatapan tajam ke arah dua orang asing itu.


"Kalau begitu kalian tunggu di dalam! Biar Opa yang keluar menghadapi kedua orang itu!" ujar Pak Aidi, membuka seatbelt ingin keluar.


"Al ikut, Opa!" tukas Aifa'al, tegas.


"Jangan, Al! Kamu di sini saja!" tukas Pak Aidi.


"Kita bisa melawan mereka bersama, Opa!" tukas Aifa'al, tak gentar dengan sang opa.


Pak Aidi berdecak gemas. Sifat keras sang cucu ternyata masih melekat erat walaupun sudah berubah. Sementara Aifa'al yang tak sabar, bergegas keluar, tak mengindahkan tangan Wulan yang berusaha menahannya.


"Siapa lo?" tandas Aifa'al, geram.


"Serahkan kedua anak kembar yang ada di dalam mobil lo itu!" jawab salah satu orang asing itu, menyodorkan kayu di tangannya.


"Haa? Gue tidak salah dengar nih? Lo pikir adik-adik gue barang yang bisa berpindah tangan? Apalagi ke tangan kotor kalian itu! Jangan mimpi lo berdua!" ujar Aifa'al, geli.


"Al... kamu jangan memancing mereka, Nak." ujar Pak Aidi, baru keluar dari mobil.


"Orang-orang bodoh seperti mereka ini, tidak perlu dilawan dengan otot, Opa!!!" jawab Aifa'al, menunjuk kedua orang itu.


"Lo pikir, kita main-main hah!? Cepat serahkan kedua anak itu jika nyawa lo mau selamat!!!" serkas salah satu orang itu lagi.


"Kalian pikir gue juga main-main? Dibayar berapa sih lo sama Gibran? Kalian ini, anak geng motor yang sering menyerang geng motor gue dulu 'kan?" tandas Aifa'al, kesal.


Kedua orang asing itu terbungkam, gugup seketika saat mendengar perkataan Aifa'al. Sementara Aifa'al tampak menyeringai tipis, membenarkan dugaan yang semula ragu.


"Woi!!! Gue lagi bicara sama lo berdua!!! Siapa yang menyuruh lo? Lo belum tau, berurusan sama siapa lo sekarang, hah!?" tandas Aifa'al, bergerak sedikit lebih dekat.


Alih-alih menjawab, kedua orang asing itu malah kabur. Lari terbirit menuju motornya, memancing gelak tawa Aifa'al yang puas. Sementara Pak Aidi yang masih berdiri di samping sang cucu hanya mengerti heran.


"Ayo Opa! Kita pulang!" seru Aifa'al.


Pak Aidi beranjak cepat, masuk kembali ke dalam mobil dan melaju dengan kecepatan angin, menyusuri jalan kota yang agak sepi.


"Kenapa mereka langsung kabur Mas?" tanya Damar, heran sejak melihat kedua orang asing tadi kabur dan tidak melawan.


"Iya, Al. Padahal Oma sudah was-was melihat kamu dan opa mu di luar tadi." timpal Bu Aini, masih terkejut dengan kedatangan dua orang asing tak dikenal.


"Mereka itu anak dari geng motor Tiger, Oma! Mereka itu lawan berat geng motor Black Moon, geng motornya Bimantara!" jawab Aifa'al, ternyata mengenal mereka.


"Jadi mereka benar-benar suruhannya Gibran, Mas?" tanya Damar, penasaran.


"Bisa jadi dan bisa tidak!!! Tapi yang Mas heran, kalau mereka benar-benar orang suruhan Gibran, kenapa anak geng Tiger? Bukan kah waktu Gibran menyekap kita, dia sanggup membayar bodyguard yang kuat? Dan dari mana Gibran mengenal geng Tiger jika memang benar mereka suruhannya?" jawab Aifa'al, berusaha menganalisa semua.


"Dari Bima mungkin, Mas!!! Mereka 'kan pernah bekerja sama untuk menyekap kita waktu itu!" sahut Damar, kesal jika teringat dengan nama musuh bebuyutan nya itu.


"Bisa jadi sih!!! Tapi Mas kurang yakin!!!" jawab Aifa'al, memijit pelipis yang penat.


"Sudahlah!!! Yang penting sekarang kita sudah selamat dari kejaran orang jahat itu." timpal Pak Aidi, disambut riang oleh Wulan.


Aifa'al menghela nafas panjang, mengulas senyum melihat bulan sabit yang terbentuk di bibir sang adik, membuat emosinya reda. Namun tidak dengan Damar yang terdiam.


Kalau bukan dari Bima, dari mana Gibran mengenal geng motor Tiger. Apalagi geng motor itu lawan dari geng motornya Bima. Ada yang aneh di sini. Apa mungkin Gibran mempunyai antek-antek lain selain Bima? Dan antek-antek lainnya itu yang bertugas menjalani rencana selama dia bersembunyi. Ini tidak boleh dibiarkan. Gumam Damar.


***


"Di mana hasil tugas kalian berdua?"


Di sebuah pelataran gudang kosong, dua orang asing yang sempat menghadang perjalanan pulang Aifa'al dan keluarganya tadi tampak tertunduk, mendengar suara sang bos yang tengah murka di depannya. Tugas yang diberikan ternyata gagal total, tidak membuahkan hasil yang memuaskan, membuat sang bos marah dan kesal.


"Sorry, Dim! Kami berdua tidak berhasil! Ternyata Aifa'al masih mengenali kami sebagai anak geng motor Tiger!" jawab salah satu dari mereka, masih menunduk.


Dim, yang tak lain adalah Dimas. Pemuda yang sudah berbelok, mengkhianati Bima. Memilih bersatu dengan geng motor lawan setelah berhasil memegang posisi sebagai kapten, menggantikan Bima yang dipenjara. Sempat ada kendala saat bernegosiasi beberapa waktu yang lalu dengan anggota geng motor Tiger yang tidak mempunyai seorang kapten, namun berakhir mulus, mereka akhirnya sepakat setelah dibujuk.


"Aifa'al!!! Anak itu benar-benar menguji kesabaran gue! Anak itu semakin berani! Lihat saja nanti! Gue akan membalasnya! Bima sudah tersingkir, giliran Aifa'al dan Syahil!!!" tandas Dimas, menyeringai licik.


Kedua pemuda yang masih berdiri di depan Dimas hanya diam tertunduk takut, sesekali mereka melirik Dimas yang sedang geram, mendapati tugas yang diberikan ternyata tidak membuahkan hasil sesuai keinginan.

__ADS_1


Drrrrttt!


Dimas terlonjak, mendapati getaran yang berasal dari saku jaketnya. Dengan kesal, pemuda itu merogoh sakunya, mengangkat telepon seseorang yang tak lain adalah...


"Iya Pak Bram..."


"Bagaimana? Apakah semua lancar?"


"Sorry Pak! Kali ini anak buah saya gagal!"


"Bodoh! Lakukan rencana selanjutnya!"


"Baik Pak! Rencana kali ini pasti berhasil!"


"Jangan ada kesalahan lagi!"


"Baik Pak Bram! Percayakan pada saya!"


Tidak ada jawaban, sambungan telepon langsung terputus begitu saja dari Bram. Ternyata Dimas masih menjadi anteknya Bram, menjalani rencana yang entah apa lagi.


"Kalian boleh pergi!"


"Terus mana uang yang lo janjikan, Dim?"


"Kerjaan lo tidak becus masih berani minta uang, hah? Jangan mimpi! Pergi lo berdua!"


Kedua pemuda itu berdecak kesal, beranjak pergi dengan kekesalan yang menyeruak di dada, meninggalkan Dimas seorang diri di pelataran gudang kosong itu dengan cepat.


"Lihat saja lo, Al! Setelah pekerjaan gue beres, lo akan jadi target gue selanjutnya!"


***


Lembayung senja menyapa, melambaikan tangan seakan berpamitan, memposisikan diri yang hendak beranjak, bertukar tempat dengan si rembulan malam yang merengek ingin segera menerangi gelapnya malam ini.


"Assalamualaikum..."


"Wa'alaikumsalam..."


Dhana yang menunggu sejak tadi di ruang keluarga pun beranjak, menghampiri orang tuanya yang sudah pulang dari pemakaman bersama Damar-Wulan dan Aifa'al.


"Kenapa lama sekali Yah?" tanya Dhana.


"Putrimu terlalu khusyuk mendo'akan mendiang paman dan onty nya di makam, sampai sesegukan lagi hingga dia ketiduran seperti ini." terang Pak Aidi, menggendong tubuh mungil sang cucu yang tertidur pulas.


Dhana berdecak lirih, mengambil alih tubuh sang putri dari gendongan sang ayah yang terlihat lelah, memijit pinggang yang sudah meronta kesakitan akibat menahan beban.


"Mereka di sini?" tanya Bu Aini, kaget.


"Sudah sejak tadi, Bu." jawab Dhana.


"Ammar dan Sadha?" tanya Bu Aini lagi.


"Mereka belum datang! Kata kedua kakak, mereka akan menyusul nanti!" ujar Dhana.


"Ya sudah, Ibu mau menemui mereka dulu." jawab Bu Aini, beranjak bersama Pak Aidi.


Dhana mengangguk, membiarkan kedua orang tuanya beristirahat barang sejenak.


"Kalian istirahat juga ya. Sebentar lagi maghrib akan datang dan acara kita akan dimulai setelah isya." tutur Dhana, melihat Aifa'al dan Damar yang masih berdiri.


"Mas Ziel sama si kembar absurd ada di mana, Uncle?" tanya Aifa'al, melihat-lihat.


"Mereka ada di kamar Damar. Kalian ke sana saja, Uncle mau mengantar adikmu dulu ke dalam kamarnya." jawab Dhana, beranjak membawa sang putri ke kamarnya.


"Ck!!! Pasti kamar Damar sudah seperti kapal pecah sekarang!" sungut Damar.


Aifa'al terkekeh, menepuk kecil bahu sang adik yang jengah, lalu merangkul bahunya dan berjalan menuju kamar di lantai atas.


Ceklek!


Pintu kamar terbuka. Dhana bergegas masuk dengan perlahan, membaringkan sang putri yang terlelap karena kelelahan.


"Kenapa kamu menangis Sayang? Dan kenapa kamu malah tertidur? Padahal Papi ingin memberitahu sesuatu yang pasti akan membuatmu tersenyum bahagia, Sayang!"


Setelah membaringkan sang putri, Dhana memilih duduk di tepinya, mengelus wajah cantik yang terlihat tentram ketika sedang tertidur itu, mengecupnya dengan sayang tepat di dahi sang putri, lalu mengelusnya lagi, tidak ada rasa bosan sedikit pun saat mata terus memandangi wajah polos itu.


"Wulan... bangun, Sayang! Waktu maghrib akan masuk, tidak baik kalau kamu tertidur!"


Wulan yang terlelap perlahan mengerjap, membuka matanya yang tertutup karena kantuk. Gadis kecil itu pun terduduk, saat matanya menangkap keberadaan papinya.


"Masih mengantuk ya?"


Wulan mengangguk seraya mengucek matanya, mengulas senyum andalan untuk sang papi yang terus mengelus wajahnya.


"Sekarang anak Papi yang cantik mandi, setelah itu salat maghrib. Lalu Papi akan membawa Wulan ke kamar Mami karena Mami ingin bertemu dengan princess nya."

__ADS_1


Wulan terhenyak, matanya pun melebar sempurna hingga tampak lah binar-binar keterkejutan yang tak pernah terbayangkan.


"Aaaaai?"


"Iya Sayang. Mami ingin bertemu kamu!"


Entah sejak kapan bulir telaga matanya itu menumpuk hingga sukses membelah pipi putihnya yang merona. Senyum manisnya pun ikut mengembang lebar, tidak percaya dengan perkataan sang papi baru saja.


"Aaaaai..." sahut Wulan, hendak beranjak namun tangan Dhana mencegahnya.


"Jangan sekarang, Sayang. Karena Mami masih tidur. Mami baru selesai terapi dan minum obat, jadi dia harus istirahat dahulu biar pikirannya fresh saat bertemu kamu." tutur Dhana, mengusap kepala sang putri.


"Aaaaai... aau... aaaaaa... aaaaa?"


"Iya Sayang. Karena itu, sekarang Wulan mandi lalu salat. Kita temui Mami setelah acara yasinan untuk paman selesai. Ya?"


Dengan semangat dan antusias, Wulan beranjak dari tempat tidur. Meraih handuk setelah mendaratkan satu kecupan singkat pada pipi sang papi. Membuat Dhana yang mendapatkan itu tergelak lirih, bahagia tak terkira saat melihat sang putri kembali ceria.


"Semoga, Mala benar-benar sudah mau menerima Wulan dengan tangan terbuka."


***


"Apa? Geng Tiger mencegat mobil Opa?"


Lain yang dirasakan oleh Dhana, lain pula dengan yang dirasakan oleh tiga pemuda tampan di kamar Damar. Mendengar cerita Aifa'al tentang anak geng motor Tiger yang sempat menghambat perjalanan pulang. Sungguh, memancing amarah Syahil yang sudah lama mengenal geng motor tersebut.


"Ya seperti itulah kejadiannya!" ujar Aifa'al.


"Tapi kalian baik-baik saja 'kan?" ujar Aiziel.


"Tanpa melawan mereka langsung kabur, Mas." jawab Aifa'al, menyeringai menang.


"Kenapa mereka? Dan kenapa mereka menginginkan Damar dan Adek?" timpal Syahal, memasang wajah berpikir keras.


"Jawabannya hanya satu, Syahal! Anak geng Tiger dibayar oleh Gibran!!!" jawab Aifa'al, merotasi mata sepenuhnya pada Syahal.


"Tidak masuk akal, Mas! Dari mana anak geng Tiger tau kalau kita terlibat masalah dengan Pak Gibran?" timpal Syahil, heran.


"Pasti Bima, Mas!" sahut Damar, geram.


"Itulah yang membuat Mas ragu! Walau kemungkinan besarnya memang Bima!!!" timpal Aifa'al, melihat mas dan adiknya.


"Memang ada kemungkinan apa lagi Al?" tanpa Aiziel, tidak mengerti maksud sang adik.


"Ada kemungkinan lain, Mas!" ujar Aifa'al.


"Apa?" tanya Aiziel, semakin penasaran.


"Itulah yang belum bisa Al tebak!!! Siapa bawahan Gibran yang masih berkeliaran bebas, selain Bima dan Bram?" ujar Aifa'al.


"Apa mungkin istrinya si tua bangka itu? Yang sempat datang tadi pagi! Iya 'kan Damar?" timpal Syahal, menoleh ke arah Damar.


Damar mengangguk cepat, membenarkan dugaan sang mas kembar yang mencurigai ibu kepala sekolahnya itu. Membuat Aiziel dan Aifa'al yang baru mengetahuinya saling melempar pandang, terkejut sudah pasti ya.


"Bu Kinan datang ke sini?" tanya Aiziel.


Syahal-Syahil mengangguk, menceritakan semua yang mereka dengar saat sang uncle tengah bicara dengan Kinan di ruang tamu. Mewakili Damar yang tampak enggan saat nama sang kepala sekolah disebutkan lagi.


"Kamu pasti kecewa ya Dik?" tanya Aifa'al, merangkul bahu Damar yang hanya diam.


"Belum sepenuhnya, Mas. Sampai Damar benar-benar mendengar penjelasan detail dari Bu Kinan saat di sekolah besok." jawab Damar, raut wajahnya tampak sangat lesu.


"Memang kapan kalian masuk lagi ke sekolah?" tanya Aiziel.


"Tiga hari lagi, Mas." jawab Damar, lesu.


"Mau kamu jadi ketua osis atau tidak, kami semua tetap bangga sama kamu, Damar!!!" timpal Aifa'al, menenangkan hati sang adik.


"Iya Mas! Damar mengerti! Terima kasih banyak karena selalu mendukung Damar." ujar Damar, menatap sendu keempatnya.


"Sama-sama, Dik!" jawab keempatnya.


Damar tersenyum getir, melihat ketulusan hati keempat masnya, terlebih Aifa'al dan Syahil yang sudah menunjukan nyatanya perubahan sikap mereka. Namun dibalik semua itu, hatinya yang kecewa tak dapat ditampik bahwa ia harus siap jika planning nya bersama sang adik kembar pupus.


Semoga saja masih ada harapan untuk mimpiku dan Adek bisa terwujud. Adek harus menjadi pianist di acara festival nanti. Dengan begitu Mami akan bangga pada Adek dan aku. Gumam Damar dalam diam.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Happy Reading All 😇😇😇


__ADS_2