Takdir Si Gadis Bisu

Takdir Si Gadis Bisu
Episode 148 ~ Takdir Gadis Bisu


__ADS_3

...☘️☘️☘️...


"Adakah permintaan terakhir kali untuk ibunda tercintamu di rumah gadis kecil?"


Gemuruh langit malam tiba-tiba bergema, bersamaan dengan terucapnya pertanyaan yang keluar tanpa dosa dari mulut Gibran. Menatap lekat Wulan yang berdiri tepat di tepi gedung, dipegangi erat oleh salah satu anak buahnya. Sementara Gibran juga ada di tepi gedung itu, namun posisinya tentu masih aman, tidak seaman posisi Wulan.


Wulan hanya bungkam, air matanya terus mengalir tanpa henti, menahan rasa takut ketika ia melihat betapa tingginya puncak gedung kosong tempat ia berpijak saat ini. Membayangkan bagaimana nasibnya hari ini, jika ia terjun bebas dari atas gedung ini.


"Lepaskan Wulan...! Lepaskan Wulan...!" pekik Rumi, berdiri jauh dari tepi gedung namun tangannya tetap dicengkram dua orang anak buah Gibran.


Gibran tergelak, menggiring mata ke arah Rumi yang meraung, meminta Wulan agar dilepaskan. Sementara Wulan tetap diam, menggigit bibir bawahnya dengan sekuat tenaga agar ia tidak menangis dan terlihat lemah di mata Gibran.


"Bersabarlah sebentar, Rumi! Setelah gadis kecil ini, kamu lah giliran selanjutnya yang akan saya lempar ke bawah sana! Hahahaha...!" sahut Gibran, tidak ada rasa bersalah sedikit pun dari sorot matanya itu.


Rumi mendengus marah, memberontak kembali agar tangannya bisa lepas dari kungkungan kedua anak buah Gibran. Sementara Gibran masih tergelak, terlihat bahagia sekali menyiksa orang lain seperti malam ini. Malam yang ia tunggu-tunggu sejak dulu, di mana ia akan melenyapkan nyawa seseorang yang sangat disayangi oleh anak dari pembunuh orang tuanya.


Gibran merogoh saku, meraih ponsel dan membuka aplikasi kamera. Seringai lelaki kejam itu tidak pernah padam, membuat Rumi yang melihatnya semakin geram.


"Rekam pertunjukkan menyenangkan ini! Karena hasilnya nanti akan saya berikan kepada orang tua tercinta gadis bisu itu!" seru Gibran, memberikan ponselnya pada anak buahnya yang tidak bekerja.


"Baik Bos!" jawab sang anak buah, patuh.


Gibran menghela panjang, melangkah perlahan mendekati Wulan yang hanya terdiam dipegangi anak buah lelaki kejam berwujud manusia seperti Gibran Athaariq.


Grep!


Wulan terkesiap, mendapati tangannya telah berpindah tangan yang semula di dalam cengkraman anak buah Gibran dan kini Gibran sendiri yang mencengkram nya. Gadis itu memberontak keras, berusaha untuk melepaskan diri namun tidak bisa. Kekuatan Gibran lebih besar dibandingkan kekuatan bocah perempuan kecil seperti dirinya yang lemah dan tidak bisa apa-apa.


"Percuma saja kamu cerdas, anak manis! Tapi untuk menghadapi situasi seperti ini saja kamu bisa kehabisan akal. Maka dari itu, terima saja lah takdirmu sebagai gadis bisu yang tidak ada gunanya di dunia ini!!! Lebih baik kamu mati! Dengan begitu, aku bisa melihat betapa menderitanya ibumu tercinta untuk selamanya! Hahahahaha..."


Wulan mendengus samar, menahan api amarah yang memuncak saat mendengar perkataan Gibran. Dulu Wulan memang terbiasa mendengar hinaan tentang dirinya yang tidak beruntung seperti anak-anak lain, namun tidak untuk sekarang. Setelah Wulan berhasil mendapatkan kembali kasih sayang sang mami yang sempat memudar.


Grep!


Bruk!


Siapa yang menduga kalau Wulan, si gadis kecil dengan keterbatasan diri tapi memiliki kelebihan dibalik semua itu, berani melawan Gibran sekarang. Tanpa diketahui oleh Gibran pergerakannya, Wulan pun berbalik cepat dan langsung mendorong tubuh besar Gibran. Membuat Gibran jatuh hingga terduduk di atas lantai puncak gedung itu. Seharusnya Gibran bersyukur karena Wulan tidak gelap mata, bahkan bisa saja gadis itu melempar Gibran ke bawah. Namun Wulan tidak segila dan pendendam seperti Gibran.


"Tidak ada satu manusia pun yang bisa mengatur apalagi mengubah takdir gadis bisu seperti saya, termasuk anda!!! Jangan pernah memandang orang yang memiliki kekurangan dengan sebelah mata, karena tidak akan ada yang tau, apa yang ada di balik kekurangan orang itu, Tuan Gibran!!!" tandas Wulan dengan bahasa isyaratnya, disertai tatapan tajam yang membunuh ia hunuskan pada Gibran, namun Rumi yang membantunya memperjelas arti bahasanya.


Rumi tersenyum puas. Kendati ia sempat tercengang melihat aksi Wulan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Lalu di saat Wulan mengatakan sesuatu dengan bahasa isyaratnya, seraya berdiri di depan Gibran yang masih terduduk. Rumi angkat suara, menerjemahkan bahasa Wulan agar Gibran dapat memahami dan mendengar, kalau gadis kecil seperti Wulan tidak bisa diremehkan oleh orang jahat seperti dirinya.


Wulan mengangkat kepalanya, menatap Rumi yang mengulas senyum ke arahnya. Sementara Gibran menyeringai, masih tak percaya kalau gadis kecil seperti Wulan mampu mendorongnya sampai terduduk.


"Anda bisa lihat sendiri, bukan? Gadis bisu yang anda anggap remeh itu justru sudah menunjukan taring ganasnya, Pak Gibran! Jadi bersiap-siap lah untuk menerima kekalahan anda yang sudah jelas di depan mata!" sahut Rumi yang tersenyum miring.


Tidak pernah sekali pun melihat Wulan menyeringai. Namun kali ini, gadis kecil yang selalu mendapat hinaan di dalam hidupnya, kini menyeringai. Menatap tajam Gibran yang masih terduduk di depannya, sedangkan anak-anak buah Gibran yang hendak membantunya berdiri, dicegah oleh sang bos. Tidak ingin memperlihatkan kalau dirinya sebagai bos lemah, bahkan untuk berdiri saja butuh bantuan. Membuat anak buah Gibran beringsut lagi ke belakang.


"Kalian berdua ini memang gadis-gadis pemberani tapi sangat menyebalkan!!! Saya ingatkan kembali, jangan pernah sekali-kali memancing di dalam air yang keruh karena hanya petaka yang akan kalian dapatkan!!!" tutur Gibran, menunjuk keduanya.


Rumi dan Wulan saling pandang kendati jarak mereka cukup jauh, heran melihat sikap Gibran yang masih tenang bahkan tidak emosi setelah mendapatkan tindakan nekat Wulan. Sementara Gibran tersenyum miring, mendapati situasi pas untuk beraksi.


Grep!


"Wulan...!" pekik Rumi, histeris tiba-tiba.


Hap!

__ADS_1


"Berani sekali kamu mendorong saya, anak manis! Sepertinya malaikat maut sudah tidak sabar lagi untuk segera menjemput kamu!!!" tutur Gibran, terdengar menyeramkan di telinga Wulan kendati hanya berbisik saja.


Wulan terbelalak sempurna, menatap ke bawah sana yang sangat jauh dari mata, sedangkan tangannya dipegangi Gibran. Membuatnya susah menelan saliva, melihat posisi tubuhnya yang mengenaskan kali ini.


Degh!


Gibran menyeringai puas, melihat wajah pemberani Wulan berubah lagi ke mode ketakutan sekaligus sangat terkejut.


"Hentikan...!!!"


Seringai yang semula membingkai wajah seramnya, kini tertarik paksa. Berubah pias seketika ketika merasa sangat mengenali suara bariton itu. Sementara posisinya saat ini bisa dibayangkan, bukan? Gibran berdiri di pinggir puncak gedung tinggi itu seraya memegangi tangan Wulan yang hendak ia lempar ke bawah sana. Hanya satu kaki Wulan yang masih bertumpu pada dinding gedung itu, sedangkan kaki yang satunya lagi, mari kita bayangkan bersama betapa terancamnya posisi Wulan sekarang ini.


"Lepaskan putriku, Gibran...!"


Gibran terdiam ketika mendengar suara yang berbeda itu, menuntunnya berbalik, menoleh ke sumber suara tanpa melepas atau membawa Wulan kembali ke pinggir gedung, kepalanya memang menoleh tapi tangannya tetap kuat memegangi Wulan yang hampir jatuh. Sementara itu, air mata Wulan tak terbendung. Takut jika Gibran benar-benar akan melemparnya dari atas.


"Mala, Dhana..." ucap Gibran, terkejut.


"Lepaskan putriku, brengsek!" seru Mala.


"Lepaskan anak saya, Pak!" seru Dhana.


"Tuan... saya mohon jangan nekat!" seru Bram, setelah melirik sang adik tidak jauh dari posisinya berdiri saat ini.


"Ck! Kamu tidak perlu memohon, Bram! Setelah gadis ini mati, giliran adikmu itu yang akan menyusulnya!" tandas Gibran.


"Gibran... lepaskan putriku!" seru Mala.


"Mala... ternyata kamu bisa emosi juga ya. Baiklah, aku akan melepaskan putrimu yang bisu ini secepatnya. Lebih baik sekarang ini kamu bersiap-siap untuk melepaskan salah satu dari anak kembarmu ini mati! Hahah..." pungkas Gibran, menggertak Mala dengan posisi Wulan yang nyaris di ujung tanduk.


"Pak Gibran... saya mohon, Pak. Tolong jangan sakiti putri saya! Anda boleh meminta apapun dari saya! Anda mau apa? Anda mau harta atau Cafe saya? Silakan! Saya rela menyerahkan semuanya, asal anda melepaskan putri saya!" tutur Dhana yang berusaha mengajak Gibran bernegosiasi.


Alih-alih menjawab, Gibran justru tergelak. Gelak tawa lelaki itu bergema, bersamaan dengan gemuruh langit yang perlahan mulai menjatuhkan titik-titik air kehidupan ke muka bumi. Langit seakan ikut merasakan, betapa cemasnya perasaan Wulan saat ini.


"Setelah kebakaran, kamu baru ingin menyerahkan Cafe itu pada saya? Iya?" timpal Gibran, semakin tergelak lepas.


Dhana mengeryit, menoleh ke arah Mala yang ikut menatapnya heran, mendengar perkataan Gibran yang ambigu. Sementara Bram terdiam, cukup mengerti dengan apa yang dimaksud sang tuan karena sang tuan dulu pernah menyatakan niat jahatnya pada Cafe Dhana, teringat Dhana yang menolak diajak kerja sama dengan perusahaan sang tuan waktu itu.


"Jadi kebakaran yang terjadi di Cafe mendiang adik saya itu ulah Pak Gibran?" tandas Dhana, menahan api amarahnya.


Gibran tidak menjawab, justru gelak tawa lelaki itu semakin bergema, mengalahkan suara hujan yang mulai berjatuhan ke bumi. Membuat Dhana mengerti, bahwa pelaku kejahatan yang menyebabkan Cafe Dhina kebakaran adalah Gibran. Memang kejam!


"Saya berpikir kamu tidak akan sadar kalau putrimu ini saya culik, Dhana. Saya pikir kamu akan sibuk mengurus Cafe adik kesayanganmu yang sudah meninggal itu! Tapi ternyata saya salah ya!" gelak Gibran.


"Cukup, Gibran...! Anda memang sangat keterlaluan! Saya masih berusaha untuk bersikap sopan pada orang jahat seperti anda! Ternyata saya salah! Bahkan anda tidak pantas untuk dihormati!" seru Dhana.


"Hahahaha... terima kasih atas pujianmu, Dhana! Saya tersanjung sekali mendapat pujian dari kamu. Terima kasih ya." jawab Gibran, tergelak seraya memegangi Wulan.


"Sekarang lepaskan putri saya! Atau anda akan mendekam selamanya di penjara!!!" tandas Dhana, berusaha menahan emosi.


"Sepertinya kamu pun juga sudah tidak sabar untuk melihat putrimu ini terlepas. Baiklah! Saya akan melepaskannya agar putri kesayanganmu ini bisa terjun bebas dan mati dengan tenang!" jawab Gibran, menyeringai licik, menatap tajam Dhana.


Dhana, Mala, Bram dan tak terkecuali dengan Rumi yang masih dikekang oleh anak buah Gibran, terbelalak sempurna. Melihat pergerakan Gibran yang semakin mengerikan, mendorong Wulan perlahan hingga suara tangis gadis kecil itu terdengar pilu di telinga mereka semua. Mala terisak dalam hati, menutup mulutnya yang ingin berteriak sekencang mungkin atau bahkan membunuh Gibran dengan tangan sendiri. Namun Mala urung, melihat posisi Wulan yang semakin tipis dan nyaris akan jatuh.


Bugh!


Bugh!

__ADS_1


Bugh!


Bugh!


Bugh!


Lima serangan jitu berhasil Ammar layangkan pada kelima anak buah Gibran, tak terkecuali dengan anak buah Gibran yang memegangi Rumi hanya dengan satu sampai tiga gerakan saja. Membuat adik perempuan Bram satu-satunya itu lepas, hingga Bram bergegas meraih sang adik.


"Kamu tidak apa-apa 'kan Dek?" tanya Bram, memeriksa kondisi tubuh sang adik.


"Rumi tidak apa-apa, Kak. Tapi Wulan..." jawab Rumi, menunjuk ke arah Wulan yang tengah terancam nyawanya di tepi gedung.


Bram menghela berat, menoleh ke arah Gibran yang posisinya kini berdiri sembari mencengkram leher Wulan dari belakang. Membuat Dhana dan Mala sedikit tenang, melihat posisi tipis sang putri tidak di tepi gedung itu lagi. Sementara Ammar, tidak sampai di sana pergerakan gesit ilmu bela dirinya. Dengan kedua tangan besar nan kekarnya, kendati sudah tidak muda lagi, Ammar mencengkram dua anak buah Gibran sekaligus, bahkan mengeratkan cengkraman tangan kekarnya, membuat kedua anak buah lelaki itu meringis sakit.


"Cepat anda lepaskan keponakan saya itu! Atau kedua anak buah anda ini, saya bawa ke kantor Polisi untuk menjadi saksi betapa kejamnya anda pada seorang gadis kecil!!! Anda tau bukan, tidak hanya 1 atau 5 tahun anda akan mendekam di dalam penjara. Tapi seumur hidup!!!" tutur Ammar, tak mau kalah memperlihatkan seringai tajamnya.


Mau tau bagaimana ekspresi Gibran saat ini? Syok! Lelaki itu sangat syok dan kaget melihat kegesitan Ammar saat menyerang kelima anak buahnya dengan satu gerakan dalam waktu yang tak sampai satu menit. Gibran terbungkam, namun tangannya tak terlepas dari leher Wulan. Membuat gadis kecil itu kesulitan mengambil nafas, wajah cantiknya pun juga sudah basah karena air hujan bercampur air mata yang berderai.


"Lepaskan keponakan saya! Saya hitung sampai tiga! Jika anda tetap diam di sana, maka jangan salahkan saya. Jika saya juga bisa menyerang anda dalam satu gerakan, dan membuat anda terjun bebas dari atas!" pungkas Ammar, wajahnya yang basah itu terlihat semakin menyeramkan bagi Gibran.


Dhana, Mala, Bram dan Rumi saling pandang. Ingin bergerak maju menjangkau Wulan di saat Gibran terbungkam seperti itu, namun tatapan kilat Ammar yang sesaat menghentikan langkah mereka, karena hal itu justru akan membahayakan untuk Wulan.


"Satu...!"


Gibran terlonjak cemas, kekuatan dan kesombongan yang semula tinggi seakan luntur dibawa hujan deras yang mengguyur, membuatnya beringsut mundur, takut jika ancaman lelaki bertubuh kekar yang telah mengalahkan kelima anak buahnya tanpa jeda itu benar-benar akan dilakukannya.


"Dua...!"


Sementara Ammar melangkah ke depan, tanpa melepaskan cengkraman tangannya pada kedua anak buah Gibran yang tidak ada apa-apanya bagi seorang Ammar. Membuat Gibran semakin kalut, mundur perlahan tanpa mau melepaskan Wulan.


"Saya peringatkan sekali lagi...! Jika anda tetap kekeuh, dalam hitungan ke tiga saya akan membuat anda terjun bebas dan mati!" pungkas Ammar, mencengkram dua anak buah Gibran yang terus meringis kesakitan.


"Mas..." ucap Dhana, cemas.


"Kamu tenang saja, Dhana! Percayakan lelaki biadab itu pada Mas." ujar Ammar.


Dhana menghela berat, menatap Gibran yang masih mencengkram leher putrinya, dan terus beringsut mundur. Kalau Gibran tidak sadar, ia dan Wulan bisa terjun bebas. Sementara Ammar terus melangkah, pelan namun penuh strategi, tidak ingin jiwa sang keponakan terancam lebih lama.


"Tiga..."


Ammar mendorong kedua anak buah Gibran hingga tersungkur, hendak berlari menyerang Gibran yang hanya mematung. Sementara Dhana, Mala, Bram dan Rumi terbelalak sempurna, melihat pergerakan Ammar yang sangat gesit melebihi angin.


Dor!


"Wulan...!"


.


.


.


.


.


Happy Reading All 😇😇😇

__ADS_1


__ADS_2