
...ššš...
"Hai Aifa'al..."
Aifa'al termanggu, posisinya yang masih memeluk sang adik perlahan merenggang tatkala terdengar suara asing namun cukup familiar jika diingat-ingat. Wulan yang melihat sang mas terdiam pun menyeka cepat pipinya yang sudah basah efek menangis teringat Damar. Membuat keduanya saling pandang heran, mengeryit dahi seolah bertanya dalam hati, siapakah gerangan orang yang menyapa mereka?
Hening!
Perlahan tapi pasti, kepala yang semula terdiam saling pandang heran pun bergerak menoleh. Penasaran dengan seseorang yang datang menyapa tanpa permisi. Membuat Wulan terbelalak tapi tidak dengan Aifa'al yang justru mengulas senyum miring, sinis menatap sosok itu. Sementara sosok itu tampak membalas senyum sinis Aifa'al dengan seringainya, bertegak pinggang dengan sangat sombong, bersama dengan tiga orang teman sepertinya yang tak kalah songong, berdiri di sisi kanan dan kiri seseorang itu.
"Sudah lama kita tidak bertemu ya, Al. Ternyata lo tidak banyak berubah, sama seperti dulu. Sombong! Hahahaha." ujar seseorang itu yang tergelak lepas.
Aifa'al tergelak samar, menyeringai sinis bersama dengan tatapan tajamnya yang masih tetap sama seperti dulu. Kendati sudah berubah menjadi manusia yang lebih baik, namun baginya tatapan khas yang diturunkan sang daddy harus tetap dilestarikan, demi keselamatan diri dan orang-orang tersayang yang ada di sekitar hidupnya. Sementara Wulan hanya diam, tangannya meraih lalu menggenggam tangan sang mas dari belakang sembari menyembunyikan sedikit tubuh mungilnya itu di belakang. Bukan takut dengan sosok di depannya kini, tapi lebih memilih untuk menghindar daripada harus terlibat masalah baru dengan sosok tersebut.
"Ck! Ternyata lo masih hidup! Gue pikir, sekarang lo sedang menikmati siksaan neraka jahannam atas perbuatan jahat lo dulu terhadap adik-adik gue." jawab Aifa'al, menyeringai sinis melihat sosok itu.
"Hahaha... gue tidak akan mati semudah itu, Al." ujar seseorang itu dengan angkuh dan percaya dirinya.
"Iya, lo benar. Karena kalau lo mati pun, perut bumi tidak akan mau menerima jasad lo." timpal Aifa'al tak kalah sinis.
Seseorang itu terbungkam, seringai tipis yang dibanggakannya sejak tadi musnah begitu saja setelah mendapatkan ejekan halus dari rivalnya. Membuat Aifa'al tersenyum puas, menoleh sesaat ke arah sang adik yang terlihat cemas akan adegan selanjutnya, memberikan sedikit kode pada sang mas berupa gelengan samar namun sang mas yang diberikan kode hanya mengangguk sekilas. Lalu dibawanya kembali senyuman puas itu, menoleh ke arah sang rival yang masih terdiam dengan raut wajah yang merah padam menatapnya, emosi setelah kalah debat dengan rival di depannya kini.
"Brengsek lo, Al!"
"Ck! Brengsek kok teriak brengsek!"
"Diam lo!"
Aifa'al tergelak samar, menggeleng kepala efek tak heran sedikit pun dengan sosok rivalnya yang berani lagi menunjukkan batang hidung di depannya setelah sekian tahun menghilang tanpa kabar. Sementara Wulan semakin gusar, melihat seluet tangan kiri sang mas tengah yang mengepal kuat, begitu pun seseorang di depannya itu, pun ikut mengepal kedua tangannya setelah melihat respon Aifa'al, dan perlahan melangkah maju, mendekati Aifa'al yang berusaha tetap tenang seraya menggenggam erat tangan sang adik.
"Urusan lo sama gue di masa lalu belum selesai, Aifa'al Maryandi! Dan gue, tidak akan diam begitu saja! Karena lo dan adik-adik lo, terutama si bisu ini, gue hampir kehilangan nyawa gue!"
Aifaāal menyeringai, menatap sinis lawan mainnya yang dulu sempat menjadi teman. Sementara Wulan dibuat terkejut, melihat pergerakan lawan sang mas tengah yang begitu gesit efek emosi, meraih kerah jaker Leviās Aifaāal yang sejak tadi berusaha tetap tenang demi sang adik.
"Apa mau lo?" ujar Aifa'al, tenang namun penuh penekanan tegas bersama tatapan tajamnya yang membunuh.
"Adik lo yang bisu ini, harus membayar semuanya! Lo ingat itu!" tandas orang itu, menunjuk Wulan yang masih kaget.
Aifa'al menggeram marah, menatap rival lamanya yang hendak pergi begitu saja setelah melontarkan kata-kata menakutkan terhadap sang adik. Membuat Wulan bungkam, matanya memanas tatkala mendapatkan tunjuk tajam dari sosok rival itu. Memancing amarah Aifa'al yang berusaha ia pendam sejak tadi, tidak ingin membuat keributan, mengingat saat ini suasana kampus masih ramai. Namun sudut mata yang menangkap ketakutan di wajah sang adik membuat Aifa'al marah, tak rela jika sang adik harus mengeluarkan air mata berharganya itu untuk orang yang tidak penting di dunia ini. Lalu siapa orang itu?
"Dimas Pandawa..."
Suara bariton Aifa'al yang penuh amarah bergema, memanggil nama sang rival lama yang ternyata adalah Dimas. Rival sekaligus mantan anak buah dari seorang penjahat psikopat berdarah manusia, yang sudah mati lima tahun lalu ditangan mantan istrinya sendiri. Membuat Wulan yang terbungkam ketakutan pun tersadar, tangan sang mas tengah sudah tak lagi menggenggamnya, bergerak maju dengan gagah beraninya, mendekati rivalnya yang diduga ingin memancing keributan di sini.
Sementara sang rival yang ternyata Dimas, menoleh. Menyeringai sinis menatap rival lama sekaligus mantan teman sepergeng motoran di masa lalu, bertegak pinggang dengan angkuhnya, menunggu kedatangan Aifa'al di depan matanya langsung.
Srek!
Wulan yang terdiam kendati mata terus memperhatikan gerak-gerik Aifa'al pun dibuat semakin terbelalak. Mendapati gerakan kilat sang mas di sana, meraih kerah baju Dimas dengan amarah yang tertahan, menuntun kakinya melangkah cepat, mendekati keduanya sebelum perkelahian yang tidak diinginkan terjadi. Sementara Dimas tersenyum miring, kendati sempat terkejut, namun sebisa mungkin bersikap cool dan tenang, tak ingin lawan tau kalau dirinya terkejut.
"Apa maksud lo barusan? Lo mau mengincar adik gue lagi? Iya?" tandas Aifa'al lambat namun terdengar ganas.
__ADS_1
"Hahahaha... kenapa? Lo takut?" ujar Dimas, menyeringai puas melihat kecemasan dan amarah di mata Aifa'al.
Seakan emosi sudah diujung ubun-ubun, membuat wajah Aifa'al memerah padam, mencekam kerah baju Dimas semakin kuat, disertai dengan tatapan tajamnya. Sedangkan Dimas menyeringai puas, merasa menang karena berhasil membuat rivalnya naik pitam, namun tidak dengan Wulan yang terlihat semakin cemas.
"Gue tidak pernah takut! Lo dengar gue baik-baik, Dimas Pandawa! Seujung kuku saja lo berani menyentuh adik gue, gue akan pastikan, hidup lo di dunia ini akan terasa seperti di neraka selamanya! Lo ingat itu! Dasar pengecut! Jangan beraninya hanya sama perempuan! Lo langkahi dulu mayat gue, karena selagi gue masih hidup, tidak ada seorang pun yang bisa menyakiti adik gue! Termasuk bajingan biadab seperti lo!" seru Aifa'al, mencekam kuat kerah baju Dimas yang menyeringai.
"Hahaha... oh ya? Kita lihat saja nanti! Siapa yang akan menjadi mayat berikutnya setelah Gibran! Lo atau gue?" jawab Dimas, tersenyum miring seraya menepis tangan Aifa'al dengan kuatnya dan pergi.
Aifa'al mendengus, menatap Dimas dengan tajamnya berharap pria itu akan takut, tapi sepertinya tidak. Pria jahat di masanya itu semakin menyeringai, tak terlihat gentar sedikit pun. Membuat Aifa'al jengah, lalu mendorong Dimas dengan kuat hingga pria itu terhuyung ke belakang seraya terkekeh renyah dan membenarkan jaket Levi's nya. Sementara Wulan beranjak, bergegas meraih tangan Aifa'al yang masih mengepal dengan eratnya.
"Pergi lo dari sini!" seru Aifa'al.
"Lo pikir ini kampus nenek moyang lo? Lo tidak bisa mengusir gue dari kampus ini." jawab Dimas, berdiri dengan sombong.
Aifa'al berdecak samar, menoleh ke arah Wulan yang dapat dengan jelas dari sorot matanya, bahwa sang adik mengajaknya pergi dari tempat mereka saat ini. Membuat Aifa'al mengerti, lalu mengangguk sembari mengurai senyum, menenangkan sang adik yang khawatir.
"Ayo kita pergi, Sayang! " ujar Aifa'al, meraih tangan sang adik.
Wulan mengangguk, berjalan mengikuti sang mas tengah yang menggenggam tangannya erat, menoleh sesaat ka belakang, melihat Dimas yang tergelak melihat kepergiannya bersama Aifa'al.
Bugh!
Langkah Aifa'al dan Wulan terhenti seketika, mendapati suara gebukan keras dari arah belakang membuat keduanya saling pandang heran, saling menggeleng lalu menoleh serentak ke arah dimana Dimas dan teman-temannya berada. Hingga kedua mata mereka terbelalak, tercengang dengan apa yang telah terjadi pada Dimas. Dimas yang tadinya berdiri dengan sangat sombong, merasa menang setelah berhasil menghancurkan mood Aifa'al, kini terbaring di atas lantai kampus, dibawah kungkungan kuat seseorang yang termakan emosi jiwa yang membara.
"Damar...!"
Aifa'al dan Wulan beranjak cepat, berlari mendekati Damar yang mengungkung Dimas, menatap tajam teman-teman Dimas hingga membuat mereka tak berani berkutik bahkan membantu Dimas.
"Tidak, Mas. Damar tidak akan melepaskan orang yang sudah berani mengancam Adek! Tidak akan pernah!" jawab Damar, suaranya parau tapi seram.
"Aas... aaaaa aas." ucap Wulan, meraih tangan sang mas yang mengungkung Dimas.
Damar bergeming, tak mengindahkan seruan sang adik yang berusaha melerai dirinya dari Dimas. Begitu pula dengan Aifa'al yang kelawahan, kekuatan sang adik kini melebihi kekuatannya, Damar terlihat sangat marah, membuat Dimas yang masih berada di bawah kungkungan Damar terlihat sesak nafas.
"Lo dengar, Dim! Gue tidak akan membiarkan orang seperti lo menyakiti apalagi membahayakan nyawa adik gue! Sekali saja lo berani mengancam adik gue lagi, nyawa lo yang akan jadi taruhannya!" seru Damar, mencekam kuat leher Dimas.
"Gua tidak takut dengan ancaman bocah tengil seperti lo, Damar! Lo tidak ada bedanya dengan Aifaāal dan Syahil! Beraninya hanya mengancam dan mengancam tapi tidak ada pergerakan. Malang sekali!" jawab Dimas yang menyeringai kendati suaranya tercekat.
"Gue tidak pernah main-main dengan semua yang keluar dari mulut gue ini! Kalau lo berani, silakan lo buktikan." seru Damar, semakin kuat mencekam Dimas.
"Damar... sudahlah! Ayo kita pergi dari sini!!!" seru Aifa'al, berusaha melepaskan cengkaman tangan sang adik dari Dimas.
Deru nafas Damar kian berpacu, tangan yang mencekam kuat leher Dimas tidak terlihat melunak melainkan semakin kuat. Membuat Wulan menitikan air mata, takut jika emosi jiwa sang kembaran akan membawanya ke dalam masalah besar, mengingat hari ini adalah hari pertamanya di lingkungan kampus.
"Sudah, Damar! Ayo kita pergi! Kasihan Adek! Adek ketakutan melihat emosi mu seperti ini! Ayo!" bisik Aifaāal, berusaha menenangkan emosi sang adik.
Damar terdiam, menoleh sesaat ke arah Wulan yang berurai air mata melihatnya, membuat Damar tidak tega. Lalu dengan kerasnya Damar menghempas Dimas, membuat pria jahat itu meringis, merasa sakit dibagian punggung akibat dihempas kuat oleh Damar yang menurutnya masih bocah ingusan. Sungguh salah kau, Dimas! Ketahuilah, bahwa Damar yang kau temukan hari ini adalah Damar yang kuat dan pantang takut dengan apapun, bahkan kekuatan Damar akan melebihi kekuatan Aifaāal.
Aifaāal beranjak cepat, menarik Damar bersama Wulan menjauhi Dimas sebelum terjadi sesuatu yang melebihi dari apa yang dilakukan Damar tadi. Mereka pun berjalan, menyusuri koridor kampus hendak menuju kantin, tempat ramai pengunjung namun dapat menghilangkan rasa stress.
Sesampai di kantin, ternyata sudah ada si kembar Syahal dan Syahil yang sejak tadi menunggu, sembari menyeruput es jeruk yang tanpa terasa hamper habis. Pandangan yang semula tertuju pada gelas es jeruk, sejurus kemudian kepala terangkat, membuat mata terbuka lebar melihat kedatangan Aifaāal, Damar dan Wulan dengan raut wajah yang berbeda.
__ADS_1
"Loh Mas, Damar kenapa?" tanya Syahal, melihat kegusaran wajah sang adik.
Aifaāal menghela kasar, mendaratkan tubuhnya terlebih dahulu ke kursi duduk, diikuti juga oleh Wulan yang duduk di sisi Damar yang tertunduk. Terlihat sekali, bahwa saat ini Damar sedang berusaha setengah mati untuk meredam semua emosinya yang menggelora, ingin sekali menghabisi Dimas seperti yang hampir terjadi tadi. Sementara itu, si kembar Syahal dan Syahil saling pandang keheranan, melihat mas dan adik-adiknya dengan tampang gusar seperti ini.
"Mas⦠ada apa sebenarnya? Kenapa Damar seperti ini? Kenapa Adek menangis?" tanya Syahal lagi, khawatir.
"Damar hampir berkelahi dengan Dimas!" jawab Aifaāal, bersandar kepala.
"Apa?" pekik Syahal-Syahil serentak, terkejut.
"Dimas sudah berani menampakkan lagi wajahnya di depan Mas dan Adek. Bahkan dia juga mengancam Adek tadi." Ujar Aifaāal, menoleh ke arah sang adik.
"Lalu Mas? Kenapa Damar bisa hampir berkelahi dengan anak itu? Kenapa kita semua tidak ada yang ingat, kalau bajingan satu itu juga kuliah di sini? Aarrgghh...!" cercah Syahil, emosi mendengar cerita singkat dari sang mas.
"Mas juga menyesali hal itu, Syahil. Mas lupa kalau Mas dan Dimas satu kampus. Tau seperti ini, Mas tidak akan membiarkan Adek dan Damar memilih kampus ini untuk melanjutkan Pendidikan." jawab Aifaāal, merasa bersalah.
"Memang anak itu mengancam apa Mas?" tanya Syahal, setelah sepersekian detik hanya menyimak.
"Bajingan itu mengancam Adek, kalau semua yang terjadi padanya di masa lalu, semua karena Adek. Dan Adek harus membayar semua penderitaannya selama menghilang setelah kecelakaan yang menimpanya waktu itu." ujar Aifaāal, menceritakan ancaman Dimas terhadap Wulan yang hanya terdiam.
Syahal dan Syahil saling pandang sebelum helaan kasar keluar serentak dari mulut keduanya efek gerem mendengar cerita tentang Dimas dari sang mas tengah, melihat ke arah Wulan yang sesekali menyeka air matanya, seraya mengusap lembut punggung Damar yang sedang naik turun tak terkendali sejak tadi, berharap sang mas kembar bisa menghilangkan emosi jiwanya yang sangat tinggi entah kenapa menurut pikiran Wulan yang belum tau, namun sudah menjadi hal biasa menurut Aifaāal, Syahal dan Syahil yang paham jika situasinya sudah seperti ini.
"Damar⦠kamu baik-baik saja?" tanya Syahal, meraih tangan sang adik yang terlipat di atas meja sebagai tumpuan kepala.
Damar hanya diam, deru nafasnya yang menggebu masih terdengar jelas di telinga semuanya. Membuat Wulan menggeleng samar menatap Syahal, seakan meminta sang mas kembar untuk membiarkan Damar tenang terlebih dahulu sebelum diintrogasi lebih lanjut. Sementara Aifaāal menghela berat, seberat pikirannya sekarang jika teringat akan ancaman Dimas yang memang tidak pernah meleset seperti dulu, kendati sempat tenang saat menghadapi kesombongan pria itu tadi. Namun Aifaāal tetap lah Aifaāal yang tidak ingin terjadi sesuatu terhadap adik-adiknya, terkhusus Wulan.
"Damar⦠Mas yakin, kamu pasti mendengar semua ancaman Dimas pada Adek ākan? Karena itu kamu emosi seperti tadi." ujar Aifaāal, mengusap punggung sang adik.
Damar yang sejak tadi menunduk pun mengangkat kepalanya, mengusap wajahnya yang gusar lalu menoleh sesaat ke arah Wulan. Senyum manis Wulan pun terbit, melihat sang kembaran yang sudah lebih tenang kini. Lalu Damar menghela, sebelum menoleh ke arah Aifaāal yang menunggu jawaban dari pertanyaannya baru saja.
"Iya, Mas. Damar melihat Dimas yang mengancam Adek sambil mencekam kerah jaket Mas. Damar tidak terima, Mas. Damar marah. Setelah sekian lama keluarga kita tenang, sekarang orang itu muncul lagi dan ingin membuat keluarga kita porak-poranda lagi seperti dulu. Damar tidak akan diam saja, Mas!" jawab Damar, melihat Aifaāal, Syahal dan Syahil.
"Ya, Mas mengerti perasaan kamu. Mas juga sama seperti kamu. Mas juga tidak menyangka kalau Dimas akan kembali lagi. Tapi kamu jangan khawatir, Damar. Mas tidak akan membiarkan anak itu berbuat yang tidak-tidak lagi pada keluarga kita, terkhusus pada Adek." ujar Aifaāal berusaha meyakinkan Damar.
"Damar percaya sama Mas, tapi Damar tidak percaya kalau anak itu tidak akan berbuat sesuatu setelah ini." ujar Damar.
"Sudahlah, jangan terlalu memikirkan ancaman renyah yang keluar dari mulut bajingan seperti anak itu. Lebih baik sekarang kita pulang. Biar pikiran dan hati kamu bisa lebih tenang." ujar Aifaāal.
Syahal, Syahil dan Wulan mengangguk patuh. Sementara Damar menghela kasar sebelum akhirnya mengikuti juga. Mereka pun beranjak pergi meninggalkan kantin kampus, tanpa sadar, sepasang telinga dan mata sudah mengintai sejak pembicaraan awal mereka tadi.
"Lo lihat saja nanti, Al! Ancaman gue yang lo anggap renyah itu, akan menjadi kenyataan yang pahit di dalam hidup adik kesayangan lo yang bisu cantik itu!"
.
.
.
.
.
__ADS_1
Happy Reading Allš©µš©µš©µ