Takdir Si Gadis Bisu

Takdir Si Gadis Bisu
Episode 119 ~ Keluhan Black Moon


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


"Adek kecewa ya?"


Wulan masih terdiam, setelah beberapa menit yang lalu mendengar cerita Damar. Duduk bersebelahan dengan sang mas di kursi panjang yang ada di tepi lapangan, riuh pikuk tak menjadi penghalang Wulan untuk tetap membungkam mulutnya yang imut itu. Membuat Damar cemas, jika sang adik kecewa padanya.


"Adek... jangan diam saja! Lebih baik Adek marah-marah sama Mas daripada diam!!!"


Wulan menghela nafas berat, menoleh perlahan ke arah Damar yang berbinar saat melihat sang adik menoleh ke arahnya. Diraihnya tangan Damar lalu digenggam, mengulas senyum manis hingga tampak gingsulnya. Sementara Damar yang melihat senyum itu ikut tersenyum, rasanya pasti sangat lega karena Wulan tidak diam lagi.


"Adek sama sekali tidak kecewa, Mas. Apalagi kecewa sama Mas Damar. Tidak akan pernah! Diamnya Adek justru sedang memikirkan perasaan Mas yang kecewa. Adek takut Mas berkecil hati lalu minder. Mas Damar baik-baik saja 'kan?" tutur Wulan dengan bahasa isyaratnya.


"Jangan mengkhawatirkan Mas, Dek! Karena Mas akan selamanya baik-baik saja jika Adek di samping Mas. Jangan diam lagi ya! Mas tidak bisa didiamkan seperti tadi!" jawab Damar, mengelus kepala sang adik.


Wulan mengangguk patuh, senyum manis dengan gingsulnya semakin mengembang, membuat Damar lega. Keduanya tampak tegar, menerima keputusan sekolah yang membatalkan acara pemilihan ketua osis, artinya festival di akhir tahun pun juga ikut dibatalkan. Memang berat, apalagi Damar dan Wulan yang sudah memiliki rencana, namun semuanya harus berakhir sebelum waktunya.


Drrrrttt!


Lamunan si kembar Damar-Wulan buyar, tatkala suara getaran ponsel Damar yang mendesak ingin diangkat terdengar jelas. Sang pemilik ponsel pun merogoh saku, mengambil ponsel yang sudah tidak sabar.


"Ya... ada apa?"


"Ck! Salam dulu kenapa sih Mar!"


"Wa'alaikumsalam... ada apa Rainar?"


Ternyata yang menghubungi Damar adalah Rainar. Pemuda tampan yang selama ini hilang entah ke mana dari peradaban dunia, namun sekarang dia muncul tiba-tiba dan menghubungi Damar. Entah ada di mana anak bungsu Dokter Ronald itu saat ini.


"Assalamualaikum... aku rindu saja sama kamu dan Wulan, Mar! Ponselmu kenapa tidak aktif sih seminggu lebih ini? Ke mana saja kamu?" cercah Rainar di balik telepon.


"Ck! Tidak ada rindu-rinduan! Seharusnya aku yang bertanya, kamu di mana? Sejak tadi aku tidak melihat puncak hidungmu di sekolah ini!" ujar Damar seraya mengedar.


"Hahaha... aku masih di Surabaya, Mar. Rencananya bakal balik besok ke Jakarta, biasa lah hari pertama sekolah 'kan belum belajar. Jadi aku menambah libur dulu ya." celetuk Rainar yang tergelak di balik sana.


"Ck! Seharusnya anak sepertimu itu tidak dapat juara! Menyebalkan sekali!" umpat Damar, berdecak kesal pada sahabatnya.


"Hahaha... santai, Bro!!! Oh ya, calon istri masa depanku di mana?" celetuk Rainar.


"Siapa yang kamu maksud itu, hah?" ujar Damar, mengerti dengan maksud Rainar.


"Bercanda, Damar! Kenapa sih marah-marah terus? Kamu lagi PMS?" celetuk Rainar yang semakin tergelak.


"Tidak apa-apa. Lebih baik kamu cepat kembali, Nar! Terlalu banyak peristiwa di Jakarta yang kamu lewatkan selama libur!" ujar Damar, menoleh ke arah sang adik.


"Memang ada peristiwa apa Mar?" tanya Rainar, seketika jiwa keponya menggebu.


"Besok saja aku ceritakan!" jawab Damar.


"Ya sudah, kamu ada utang cerita sama aku! Kalau pengumuman kelas sudah ada, cepat beritahu aku ya Mar." tukas Rainar.


"Oke... assalamualaikum!" ucap Damar.


Percakapan unfaedah di antara Damar dengan Rainar akhirnya berakhir. Wulan yang hanya menjadi pendengar setia pun tergelak lepas mendengar pembicaraan kedua sahabat karib yang super receh itu.


"Jangan tertawa, Dek! Lebih baik kita melihat pengumuman yuk!" seru Damar.


Wulan mengangguk, beranjak mengikuti Damar yang berjalan di depannya hendak menuju ke depan ruang para guru di mana papan mading berada, melihat pembagian kelas yang telah diumumkan seperti biasa setelah liburan kenaikan kelas berakhir.


***


"Assalamualaikum..."


Bu Aini yang tengah duduk di ruang tamu terlonjak, mendengar suara bariton yang tiba-tiba mengucapkan salam saat masuk, membuatnya menoleh cepat ke asal suara.


"Wa'alaikumsalam... kenapa kamu pulang Dhana? Bukan kah Ibu menyuruhmu untuk menunggu anak-anak di sekolah mereka?" cercah Bu Aini, mengintimidasi sang putra.


"Dhana habis dari Cafe, Bu. Tadi ada tamu dari relasi Dhana yang ada di Solo. Mereka ingin memperpanjang kerja sama dengan Cafe Dhana, jadi Dhana harus pergi ke sana dan menemui mereka." terang Dhana, agar sang ibu tidak marah dan kesal padanya.

__ADS_1


"Lalu anak-anak kamu?" sahut Bu Aini, mendadak risau teringat cucu kembarnya.


"Damar-Wulan berangkat dengan Syahal dan Syahil tadi, Bu. Mereka yang meminta sendiri dan membujuk Dhana. Ibu jangan cemas ya!!! Syahal-Syahil juga yang akan menjemput adik-adiknya nanti ke sekolah." terang Dhana, menenangkan sang ibu.


"Dhana, Dhana! Apa kamu tidak khawatir melepas mereka beraktifitas di luar tanpa pengawasan? Ibu takut jika terjadi sesuatu pada mereka, Nak!" tutur Bu Aini, mengiba.


"Ibu tenang ya! Dhana punya alat pelacak yang Imam berikan pada Dhana. Dengan alat itu, Dhana bisa melacak semua anak, menantu dan cucu-cucu Ibu saat di luar!" ujar Dhana, berusaha meyakinkan ibunya.


Bu Aini menghela nafas berat, berusaha untuk menepis kecemasan hati terhadap semua anak dan cucunya, percaya pada Dhana yang terlihat tenang tapi waspada.


"Ya sudah, lebih baik kamu temui Mala! Setelah sarapan dan minum obat, istrimu tidak mau tidur. Dia termenung terus dan selalu memanggil nama putrimu, Dhana." terang Bu Aini yang mengurus istri sang putra hari ini.


"Mala memanggil Wulan?" tanya Dhana, tercengang mendengar perkataan sang ibu.


"Iya, Nak. Sorot matanya sendu, seperti sedang memikirkan sesuatu tentang Wulan. Sepertinya Mala benar-benar ingin bertemu dengan putrinya, karena selama ini kamu tidak mengizinkan Wulan dan Damar untuk bertemu dengan maminya." tutur Bu Aini.


"Bukan tanpa alasan, Bu. Dhana takut, penyakit Mala akan kambuh jika melihat Wulan. Dhana ragu untuk mempertemukan mereka berdua, Bu." ujar Dhana, bimbang.


"Lebih baik kamu temui dia! Tanyakan baik-baik dan jangan terlalu memaksa! Kondisi psikis istrimu masih labil, Dhana! Kamu harus hati-hati dan pelan-pelan saat menghadapi sikap Mala." tutur Bu Aini.


Dhana menghela kasar, membenarkan perkataan sang ibu yang membuatnya teringat dengan permintaan Mala waktu itu. Namun karena kotak teror malam itu semua rencana Dhana untuk mempertemukan sang istri dengan putrinya harus urung lagi.


"Ya sudah, Dhana ke kamar dulu ya Bu."


Bu Aini mengangguk, mengulas senyum seraya mengusap lembut bahu sang putra bungsu. Sementara Dhana berjalan cepat menuju kamar, menemui sang istri tercinta.


***


"Mas Al...!"


Tangan yang hendak mengambil helm, terhenti saat terdengar suara seruan yang memanggil nama, membuatnya menoleh dan mendapati dua anak kembar familiar. Sementara kedua pemuda kembar di sana tampak berlari, setelah keluar dari kelas.


"Syahal-Syahil... mau pulang juga?"


"Belum, Mas. Masih ada kuliah 1 jam lagi." jawab Syahal, terengah-engah efek berlari.


"Syahil?"


"Ya sudah, Mas duluan ya. Jangan lupa kalian menjemput Damar-Wulan nanti!!!" ujar Aifa'al seraya memasang helm nya.


"Iya, Mas. Tadi Syahal juga sudah mengirim pesan pada Damar dan mereka juga belum pulang. Jadi masih aman." jawab Syahal.


"Ya sudah, masuk lagi sana!" seru Aifa'al.


"Mas hati-hati ya!" seru Syahil.


"Iya..." jawab Aifa'al.


"Kami masuk dulu, Mas. Bye!" seru Syahal.


Aifa'al menghela kasar, menggeleng geli melihat tingkah kedua adik kembarnya yang keluar dari kelas hanya untuk memberikan peringatan padanya agar selalu hati-hati. Lalu Aifa'al yang sudah siap memakai helm pun menghidupkan motor, siap meluncur dan angkat kaki dari kampus setelah puas belajar dari pagi hingga setengah siang.


"Aifa'al...!"


Motor yang baru saja melaju lambat terpaksa harus dihentikan. Aifa'al mengedar, mencari sosok yang memanggilnya barusan hingga matanya menangkap seseorang. Sementara seseorang yang berperawakan sama dengannya itu tampak berlari menuju ke arahnya, setelah melepaskan helm nya.


"Mau apa lo ke sini?" tukas Aifa'al.


"Sorry kalau gue mengganggu lo, Al." ujar pria itu.


"Langsung saja! Gue tidak punya waktu!" tukas Aifa'al, menghunuskan tatapan tak suka pada pria itu.


"Gue butuh bantuan lo, Al!" ujar pria itu.


"Untuk apa? Untuk membebaskan Bima?" tukas Aifa'al lagi, semakin tidak suka.


"Bukan itu! Ada yang lebih parah dari ini!" jawab pemuda itu yang tampak gelisah.

__ADS_1


"Jangan bertele-tele!" tandas Aifa'al.


"Dimas, Al! Dimas dan geng Tiger bergabung!"


Aifa'al terbelalak kaget, menoleh cepat ke arah lawan bicaranya itu, dahinya mengerut, matanya menatap tajam pemuda yang sejak tadi sudah menunjukan guratan cemas di wajah tampannya.


"Apa? Sejak kapan Ken?" sahut Aifa'al.


"Sejak Bima masuk penjara, Al." jawab pemuda yang bernama Kenzie, salah satu teman geng motor Aifa'al dan Syahil dulu.


Aifa'al terdiam seketika, jawaban Kenzie membuatnya teringat dengan peristiwa yang sempat dialaminya bersama sang opa saat dalam perjalanan pulang dari makam. Anak geng Tiger yang tiba-tiba datang, menghadang perjalanan pulangnya dan mengancam agar dirinya menyerahkan Damar-Wulan, namun berkat wibawa diri yang terkenal sangar membuat lawan takut.


"Bima tau tentang ini?" tanya Aifa'al.


"Gue rasa tidak, Al! Dan sebenarnya gue ingin menemui Bima di kantor Polisi, tapi anak geng Tiger selalu mengawasi gue dan teman-teman yang lain. Jadi gue atau pun teman-teman yang lain tidak bisa berbuat apa-apa karena Dimas selalu mengancam." terang Kenzie, tampak sekali ketakutannya.


"Terus kenapa harus gue?" tanya Aifa'al.


"Selain Bima dan Dimas, lo satu-satunya orang yang selalu diandalkan dalam geng motor kita! Sekarang Bima di penjara dan Dimas berkhianat. Lo tau sendiri 'kan kalau Black Moon itu musuhan sama geng Tiger! Dan Bima yang menetapkan itu! Tapi gue heran, kenapa tiba-tiba Dimas mengambil alih posisi Bima lalu bergabung dengan geng Tiger? Yang lebih parah, Dimas yang sekarang, suka banget bertitah dan kalau titahnya tidak dilakukan, kami semua akan diancamnya, Al!" terang Kenzie, mengiba.


Aifa'al terdiam lagi, mendengar perkataan Kenzie yang mengatakan bahwa Dimas telah mengambil alih posisi Bima sebagai kapten. Membuatnya semakin yakin akan sesuatu yang saat ini tengah dipikirkannya.


"Tapi gue bukan anggota lagi, Ken!"


"Please, Al! Gue dan anak-anak butuh lo! Dimas makin seenaknya sama kami semua dan tidak ada yang berani melawannya!!! Cuma lo, Al! Cuma lo! Cuma lo selain Bima!" tutur Kenzie, berusaha membujuk Aifa'al.


"Gue tidak bisa janji, Ken! Gue pun juga sedang ada masalah berat sekarang ini!"


"Gue harap lo bisa, Al! Gue dan anak-anak lainnya berharap besar sama lo dan Syahil! Kembali lah! Dan jadikan geng motor kita, seperti geng motor yang solid seperti dulu! Walaupun kita nakal dan berandalan, tapi kita masih punya hati nurani. Tidak seperti Dimas dan geng Tiger yang semena-mena!" tutur Kenzie, memohon bantuan Aifa'al.


Aifa'al bergeming, tidak mengiyakan dan tidak menolak apapun, hanya diam yang bisa ia lakukan. Gamang, pastinya itu yang dirasakan oleh sosok Aifa'al sekarang ini.


"Kalau begitu gue pamit dulu, Al. Gue berharap lo bisa. Dimas harus dihentikan! Anak itu lebih kejam daripada Bima, Al!!!"


Kenzie beranjak pergi, setelah menepuk keras bahu Aifa'al yang tetap bergeming. Menatap punggung Kenzie yang hampir hilang dibawa motor. Lama Aifa'al dalam posisi berdiam diri di bawah terik mentari siang yang semakin menyingsing ke atas kepala, memberikan sensasi panas yang menyengat. Hingga akhirnya Aifa'al pun beranjak, membawa motor melaju kencang.


***


"Aku minta maaf, Mas. Aku minta maaf."


Dhana terperanjat, melihat Mala yang tiba-tiba bersimpuh di depan kakinya. Dhana yang berniat untuk melihat kondisi Mala setelah berbincang sebentar dengan sang ibu, justru mendapati sang istri yang tengah tertidur. Namun di saat Dhana mendekati tempat tidur, Mala terbangun. Sempat menangis sesegukan di dekapan sang suami, cukup lama dan kini berakhir seperti sekarang. Membuat Dhana heran.


"Sayang... bangun! Ayo bangun! Jangan seperti ini! Kamu kenapa Sayang? Cerita sama aku! Jangan bersimpuh seperti ini!" tutur Dhana, membawa sang istri berdiri.


"Tidak, Mas! Aku ingin seperti ini sampai kamu mau memaafkan semua kesalahan yang pernah aku lakukan! Aku menyesali perbuatanku selama ini! Tidak seharusnya aku berbuat seperti itu!" tutur Mala, terisak memangku kedua kaki sang suami.


"Sayang... apa yang kamu lakukan? Aku benar-benar tidak mengerti maksudmu! Kesalahan apa yang kamu katakan ini?" timpal Dhana, heran dengan sikap Mala.


Mala bergeming, tangisnya semakin membahana hingga memenuhi langit-langit atap kamar yang hanya bisa diam melihat betapa pilu dan sedihnya seorang Mala saat ini. Tapi yang menjadi pertanyaan, apa yang menyebabkan Mala menangis sesegukan sampai seperti itu di depan kaki suaminya?


"Sayang... ayo berdiri! Duduk di samping aku dan bicarakan baik-baik padaku! Apa yang telah terjadi sebenarnya? Kenapa kamu jadi seperti ini, hmmm?" ujar Dhana, mengusap lembut wajah Mala yang basah.


Mala masih diam, terlihat nafasnya yang terengah-engah karena terisak, berusaha mengontrol perasaan yang membuatnya sedih dan sensitive hari ini. Teringat pada seseorang yang ingin sekali ia temui, lalu memeluknya dengan erat dan minta maaf.


"Aku... aku minta maaf karena selama ini aku telah menelantarkan putri kandungku sendiri, Mas!"


.


.


.


.


.


Happy Reading All 😇😇😇

__ADS_1


Sepertinya otak dan hati Mala yang agak gesrek udah membaik dan berangsur pulih nih 🤭 hayo siapa yang nungguin Mala bakalan memeluk putrinya setelah sekian tahun lamanya, dikira Mala nya yang jahat ternyata ada kisah kelam yang membuat Mala trauma hingga berujung benci pada putrinya sendiri 🤧 setelah ini, jangan hujat Mala lagi ya, kasihan dia 'kan mirip Dhina


Oke... Terima kasih banyak untuk semua sahabat dina yang ngak pernah bosen buat ngikutin cerita Wulan 😘 semoga ngak ada part yang meleset dan ngak nyambung ya


__ADS_2