
...๐๐๐...
5 tahun kemudian
Bruk!
Suara dari sebuah kotak berwarna coklat tua yang terjatuh tiba-tiba, mengejutkan seorang gadis cantik yang tengah duduk di meja rias di kamarnya. Mata yang semula fokus pada cermin terpaksa teralihkan ke arah sumber suara, membuatnya beranjak.
Gadis cantik itu menghela, sebelum memilih untuk segera beranjak dari posisi lalu berjalan mendekati nakas tempat tidurnya dan mengambil kotak tersebut.
Hmmm... kotak ini, kotak antik ini selalu saja mengingatkan aku pada bocah laki-laki yang baik hati itu. Sepuluh tahun sudah lamanya, aku tidak pernah lagi bertemu dengan bocah laki-laki itu. Semoga kita bisa bertemu kembali. Gumam Wulan, memeluk kotak antik coklat tua itu erat.
Gadis itu menghela, sembari memeluk erat kotak antik berwarna coklat tua itu. Berharap do'a dan keinginannya untuk bertemu kembali dengan bocah laki-laki yang sempat mampir ke dalam hidupnya walau hanya sebentar akan terkabulkan, membuatnya harus pasrah dan bersabar, hingga lamunan panjang menghampiri gadis cantik berusia 18 tahun itu.
"Adek..."
Lamunan panjang gadis cantik itu terpaksa berakhir, tatkala suara dari seorang anak laki-laki tampan yang tampak sangat mirip dengan gadis cantik itu memenuhi seisi kamar. Membuat gadis itu cepat-cepat memasukkan kotak antik coklat tua ditangannya ke dalam laci nakas di sisi tempat tidurnya. Sementara anak laki-laki tampan itu bergegas duduk di depan sang adik dengan senyumnya yang sumringah, membuat ketampanannya terlihat.
"Adek belum tidur? Ini sudah jam berapa hmmm?"
Gadis itu hanya mengangguk, seraya memberi senyum manis untuk anak laki-laki yang memanggilnya dengan sebutan 'adek' yang bermakna bahwa, anak laki-laki itu adalah kakak dari gadis cantik itu.
"Iya, Mas. Ini Adek sudah mau tidur kok. Mas sendiri sedang apa? Kenapa tiba-tiba Mas datang berkunjung ke kamar Adek malam-malam?"
Anak laki-laki tampan itu terkikik samar, mendengar pertanyaan sang adik yang penasaran dengan kedatangannya kini. Senyum anak laki-laki tampan itu juga tak luput dari wajah, ketika memperhatikan dengan seksama bahasa isyarat sang adik. Ya, gadis cantik itu memang bisu, hanya dengan bahasa isyaratlah caranya berkomunikasi. Lalu yang menjadi pertanyaannya, siapa gadis bisu yang cantik itu sebenarnya?
"Adik Mas yang cantik ini, dari dulu selalu saja seperti ini. Memang tidak boleh ya, kalau Mas menghampiri Adek ke kamar sebelum Mas tidur?"
Gadis cantik itu hanya terkekeh, geli melihat betapa sayang dan perhatiannya sang mas kepada dirinya, walaupun usia mereka yang beranjak remaja, tak mengikis sedikit pun kasih sayang yang terpatri lama, sembari menepuk bahu sang mas yang menatapnya sayang.
"Adikku sayang... Adikku Wulan Prasetya Nandala... Besok- besok jangan bertanya seperti ini lagi ya, Sayang. Karena jawaban Mas akan tetap sama, yaitu karena Mas sangat menyayangi adik kembar Mas satu ini. Sampai kapan pun, kebiasaan Mas yang seperti ini tidak akan pernah bisa Mas hilangkan. Setiap malam, wajib hukumnya bagi Mas untuk memastikan kalau adik kembar kesayangan Mas ini selalu baik-baik saja!!!"
Wulan Prasetya Nandala. Siapa yang tidak mengenal gadis cantik itu? Jika gadis itu adalah Wulan, artinya anak laki-laki yang tampan dan mirip dengannya itu adalah...
"Damar..."
Lantunan suara lembut beriringan dengan suara gagang pintu kamar yang kembali terbuka bergema, hingga menampakan sesosok wanita cantik yang tak kalah cantik dari Wulan. Membuat keduanya yang sedang bercengkrama sebelum tidur itu menoleh, menebar senyum pada sesosok cantik itu.
"Ternyata kedua anak kembar Mami belum tidur juga. Sedang apa kamu di kamar adikmu, Sayang?"
Kalian pasti sudah bisa menebak siapa sosok cantik itu bukan? Jika gadis bisu yang cantik tadi adalah Wulan, artinya laki-laki tampan yang tengah duduk didepannya kini adalah Damar, mas kembar Wulan. Dan itu artinya, sesosok cantik yang bergelar mami itu adalah...
"Damar hanya ingin menyapa Adek sebelum tidur, Mi."
Ya, dia adalah Mala. Siapa yang tidak mengenal wanita cantik itu? Istri dari seorang pengusaha Cafe terhebat. Siapa lagi kalau bukan Dhana. Pria tampan dimasanya, kakak kembar Dhina yang sudah tiada 25 tahun yang lalu karena mengidap penyakit mematikan nomor 2 di dunia, yaitu leukimia atau lebih sering didengar kanker darah.
Mala tersenyum manis, menatap kedua anaknya yang betanjak dewasa tanpa terasa, hingga memancing kedua sudut bibir Damar dan Wulan ikut terangkat melihatnya.
"Ya sudah, berkunjungnya sudah selesai 'kan? Sekarang, kamu kembali ke kamar dan tidur. Besok kalian harus bangun lebih pagi loh, Sayang. Jadi harus tidur lebih awal agar kegiatan di awal masuk kampus besok tubuh kalian lebih fresh dan pastinya bersemangat. Ayo!!! Damar, ayo! Jangan kamu ganggu lagi princess kecilnya Mami! Ayo!!!" tutur Mala, mengelus sayang wajah Wulan lalu menarik paksa tangan sang putra yang enggan beranjak keluar.
"Iya, iya Miii... Adek, selamat tidur ya Sayang. Besok kita berangkat bersama ke kampus baru kita. Good night my little princess..." ujar Damar, menoleh ke arah sang adik walaupun tangannya terus ditarik paksa oleh sang mami.
__ADS_1
Wulan tergelak lepas, melihat kebucinan sang kembaran melebihi kebucinan seseorang pada kekasihnya sendiri, berusaha melepaskan diri dari tarikan sang mami yang memaksanya keluar dari kamar sang adik. Membuatnya selalu bersyukur, memiliki kembaran yang tak beda jauh dengan sang papi, yaitu Dhana. Yang sangat menyayangi adik kembarnya melebihi apapun di dunia ini. Tak mau dipisahkan walaupun sedetik. Namun takdir berkata lain. Nasib sang papi tak sebaik nasib sang mas kembar kini, membuat Wulan termenung, teringat almarhumah Dhina.
***
"Kamu harus tidur sekarang, Sayang!"
Damar menghela berat, melirik jam yang tergantung di dinding, seakan menertawakan dirinya yang terus saja dipaksa tidur oleh sang mami padahal jam masih berada diangka delapan. Masih terlalu sore menurut Damar.
"Iya, Mi. Nanti Damar pasti tidur kok. Sekarang Damar belum mengantuk. Damar belum bisa tidur, Mami........"
"Tapi Damar..."
"Assalamualaikum Anty..."
Mala terkesiap lalu memutar tumit dengan cepatnya, mendapati salam dari seseorang yang sangat familiar suaranya di telinga. Membuat Damar yang melihat ke arah tangga tercengang sembari tersenyum lebar, melihat sosok yang sudah lama tak terlihat karena merantau keluar negeri untuk menyelesaikan study pertukaran mahasiswa di akhir semesternya, kini sudah menampakkan kembali batang hidungnya di rumah ini.
"Mas Al...!!!"
Al, siapa yang tidak mengenal pria tampan yang arogan seperti daddynya itu? Pria tampan yang bernama lengkap Aifa'al Maryandi, adik bungsu Aiziel, putra kedua pasangan romantis Ammar dan Ibel yang semakin dewasa dan pasti semakin menawan mempesona. Yang datang dan dipuji itu tersenyum tak kalah lebar, menjatuhkan tas menimpa lantai, lalu merentangkan tangannya selebar mungkin. Membuat Damar berlari sekencang angin, mendekap sang mas yang sangat dirindukan setelah 2 tahun kurang lebih lamanya tak bersua. Sementara Mala mengulum senyum, melihat sang keponakan yang beranjak dewasa itu pulang ke rumah ini, menuntunnya beranjak, mendekati keduanya yang sedang melepaskan rindu.
"Mas... Damar kangen sekali sama Mas Al." ujar Damar, memeluk Aifa'al dengan eratnya sangking rindunya.
"Mas juga sangat merindukan adik Mas yang tampan ini. Kamu apa kabar Dik? Kamu semakin tinggi saja ya, Mas sampai hampir kalah tingginya dengan tinggi kamu nih." jawab Aifa'al, menepuk lembut punggung sang adik yang memang benar, Damar terlihat lebih tinggi dari Aifa'al.
"Damar sehat, Mas. Seperti yang Mas lihat." ujar Damar, melerai pelukan eratnya dari sang mas tengah.
"Alhamdulillah, Mas senang melihatmu sehat Dik." jawab Aifa'al, mengelus lengan sang adik yang berbinar dengan kedatangannya.
"Wa'alaikumsalam Sayang. Keponakan Anty sudah pulang ternyata dari negeri orang. Kamu sehat Sayang?" timpal Mala, tak kalah berbinar melihat kejutan kepulangan sang keponakan dari kakak ipar sulungnya itu.
"Al sehat, Anty. Anty bagaimana? Adek?" tanya Aifa'al, bergerak cepat meraih tangan sang anty untuk disalami.
"Anty, Uncle, Opa, Oma dan adik-adikmu... Kami semua alhamdulillah sehat selalu, Sayang." ujar Mala, tersenyum.
"Al senang mendengarnya, Anty. Maaf ya Anty, kalau Al malah pulang ke sini lebih dulu sebelum pulang ke rumah. Karena Al kangen sekali sama Adek dan Damar. Karena itu Al memilih langsung meluncur ke sini dulu dan mengganggu istirahat Anty." jelas Aifa'al, berujung kikuk saat memberikan penjelasan atas kedatangannya yang mendadak malam ini.
"Astaga, Sayang. Jadi kamu belum pulang ke rumah? Lalu daddy dan mommy mu bagaimana Sayang?" tanya Mala, tercengang mendengar aksi nekat sang keponakan akibat rasa rindu pada adik-adiknya.
"Al belum memberitahu daddy dan mommy kalau Al akan pulang malam ini, Anty." jawab Aifa'al, tersenyum lebar.
Mala menggeleng tak menyangka, mengulum senyum melihat tingkah Aifa'al yang bisa dibilang kurang ajar. Memilih pulang ke rumah sang opa lebih dulu dibandingkan pulang ke rumah sendiri karena rasa rindu terbesarnnya pada sang adik. Ternyata rasa rindu Aifa'al pada adiknya lebih besar daripada rasa rindu terhadap orang tuanya, membuat Damar berdecak samar mendengar cerita sang mas.
"Ckckck! Kalau Damar jadi Pakde, mungkin detik ini juga Damar langsung keluarkan nama Mas Al dari daftar KK!!! Hahahahaha..." celetuk Damar, menertawakan sang mas.
"Damar... Tidak baik menertawakan masmu seperti itu." timpal Mala, memperingati sang putra yang terbahak.
Seketika tawa Damar berhenti, memancing senyum Aifa'al yang semula jengah dengan candaan sang adik kembar.
"Sebegitu kangennya Mas pada Damar dan Adek. Mas kangen sekalinya itu pasti sama Adek saja 'kan?" timpal Damar, mengenal betul sifat protektif Aifa'al pada sang kembaran sejak sikapnya berubah memjadi lebih baik.
Aifa'al berdecak gemas, membenarkan dalam hati semua penuturan Damar. Membuat Mala terkikik samar, melihat keduanya yang saling sikut menutupi candaan.
__ADS_1
"Lalu? Apakah kamu sudah bertemu dengan oma dan opa mu, Sayang?" ujar Mala, memastikan sang keponakan juga tidak melewatkan penghuni tertua di rumah kenangan ini.
"Kalau itu sudah, Anty. Al juga sudah bertemu Uncle tadi. Mereka sedang bersantai di ruang keluarga saat Al masuk." jawab Aifa'al, tak ingin membuat sang anty salah paham.
"Ya sudah, kalau begitu sekarang kamu istirahat ya, Nak. Anty mau ke bawah dulu. Damar... ingat pesan Mami ya! Jangan tidur terlalu malam." ujar Mala, melihat Aifa'al lalu menatap tegas sang putra yang enggan tidur sejak tadi.
"Iya, Anty. Terima kasih." jawab Aifa'al, tersenyum.
"Iya mamiku sayang..." sahut Damar, memeluk Mala.
Mala menggeleng kepala, mengelus kepala sang putra tersayang yang memeluknya gemas karena ia cerewet. Sementara Aifa'al pun demikian, tak heran melihat sifat sang adik yang masih manja walau usia sudah beranjak dewasa. Membuat Mala beranjak, berlenggang menuruni anak tangga menuju lantai bawah, meninggalkan dua pria tampan kakak beradik itu di lantai atas.
"Mas tidur di kamar Damar ya. Banyak sekali cerita yang ingin Damar dengar dari Mas selama Mas di Amerika dua tahun terakhir ini. Mas pasti juga mau mendengar cerita Damar 'kan?" tutur Damar, merebut cepat tas sang mas.
"Memang kamu punya cerita apa? Paling cerita kamu tidak jauh-jauh dari Mas Ziel, Syahal dan juga Syahil 'kan?" jawab Aifa'al, tersenyum miring menggoda sang adik kembar.
"Ck!!! Ya mau cerita apa lagi Mas? Kan memang hanya Mas Ziel, Mas Syahal, Mas Syahil, Damar dan Adek saja di sini." ujar Damar, berubah sendu karena penolakan halus Aifa'al.
"Hahahah... Iya, iyaaa. Malam ini Mas akan tidur di kamar kamu. Tapi Mas mau ke kamar Adek dulu ya. Mas kangen sekali sama princess kita yang satu itu. Kamu tunggu di kamar saja ya. Mas hanya ingin menyapa Adek saja kok." jawab Aifa'al, menepuk bahu sang adik yang cemberut.
"Oke, Mas. Tapi sepertinya Adek sudah tidur deh, soalnya tadi Mami sempat memergoki Damar saat Damar datang berkunjung ke kamar Adek sebelum tidur, Mas." ujar Damar, menoleh ke ventilator kamar sang adik yang terlihat gelap.
Aifa'al menghela nafas, menatap Damar yang matanya masih tertuju pada ventilator kamar Wulan yang gelap. Tangannya pun terulur, meraih bahu Damar yang gusar.
"Damar... Kamu masih trauma?"
Damar tertegun, mendapati pertanyaan Aifa'al yang sangat hafal dengan kebiasaannya yang tak bisa hilang sampai kini. Kebiasaan yang datang sejak kejadian nahas dua tahun lalu, yang hampir membuat nasibnya sama dengan nasib sang papi, kehilangan adik kembar yang sangat disayanginya.
"Sedikit, Mas." jawab Damar, lirih.
"Mau sampai kapan Dik?" tanya Aifa'al, prihatin.
"Entahlah, Mas. Damar... Damar takut nasib Damar akan berakhir sama dengan nasib Papi. Damar takut kehilangan Adek, Mas." jawab Damar, tertunduk sedih teringat masa itu.
"Tapi kajadian itu sudah lama sekali, Damar. Adek sendiri saja tidak apa-apa, kenapa kamu yang tidak bisa menghilangkan rasa trauma kamu itu?" cercah Aifa'al, memutar kasar tubuh sang adik karena sangking heran.
Tangan Damar mengepal, wajahnya yang semula ceria, berubah merah padam. Mendapati pertanyaan Aifa'al yang berujung pada kebiasaannya akibat peristiwa traumatis di masa lalu terkait keselamatan sang adik yang tak lain dan tak bukan adalah Wulan, memancing memori itu muncul. Membuat amarahnya naik tatkala memori buruk tentang nyawa sang adik kembali berputar-putar di kepalanya.
"Mas tidak mengerti rasanya diposisi Damar!!! Mas tidak berada di sana saat kejadian nahas itu! Adek hampir mati karena ditabrak lari seseorang, yang sampai detik ini wujud raganya saja belum bisa Damar temukan dengan tangan Damar sendiri!!! Sampai kapan pun, dan sampai ke ujung dunia pun, Damar akan terus mencari orang itu, Mas!!! Dan Damar, Damar akan menghabisi orang itu dengan tangan Damar sendiri! Itu sumpah dan janji Damar pada diri Damar sendiri!"
.
.
.
.
.
Happy Reading All๐ฅฐ๐ฅฐ๐ฅฐ
__ADS_1
Hai hai hai, kisah Wulan and family kembali hadir๐ ๐ฅฐ๐ tidak setiap hari dan tidak bisa janji untuk up terus yaaaa, tapi setidaknya janji untuk sequel Wulan akan dilanjutkan dengan season dan tetap berada di novel ini yaaa guys๐ jadi pantau terus kisah Wulan yang insyaAllah bakal akan makin seru dan menarik, karena dalam season 2 ini akan lebih banyak problem-problem tak terduga๐ semoga kakak-kakak semua suka ya sama cerita season 2 ini ๐