Takdir Si Gadis Bisu

Takdir Si Gadis Bisu
Episode 56 ~ Bertindak Adil


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


"Tapi Damar dan Adek sepertinya pulang belakangan deh, Pi. Teman-teman angkatan akan mengadakan acara kumpul-kumpul di Cafe. Jadi Papi dan Mami pulang duluan ya."


Dhana dan Mala saling melempar pandang, belum mengetahui rencana kedua anaknya itu bahwa setelah raport dibagikan akan ada acara kumpul-kumpul dengan teman-temannya.


"Tapi Sayang, kamu pulang dengan apa nanti? Biar Mami dan Papi menemanimu ya?" timpal Mala seraya mengusap bahu sang putra.


"Mami... mana mungkin sih Damar dan Adek ikut berkumpul kalau Mami ikut. Teman-teman bisa mengejek kami anak mami kalau begitu." sungut Damar yang menatap jengah Mala.


"Tapi Sayang..."


"Sudahlah, Sayang! Mungkin Damar dan Wulan ingin merayakan ini sebagai syukuran kenaikan kelas bersama teman-teman mereka." potong Dhana yang mengerti dengan maksud Damar.


Mala mendengus kesal dalam hati, menatap sang suami yang selalu memberikan Damar kebebasan bersama dengan Wulan, membuat raut wajahnya semakin muram karena jengah.


"Ya sudah..." jawab Mala dingin.


"Tapi kalian harus hati-hati ya. Jangan pulang terlalu siang apalagi sore! Kalian dengar 'kan?" ujar Dhana yang memperingati kedua anaknya.


"Siap Papi!" jawab Damar seraya hormat.


Sementara Wulan mengangguk cepat penuh semangat, tidak sabar ingin ikut berkumpul dengan teman-temannya, menepis rasa takut jika saat berkumpul nanti teman-temannya itu tidak semua menerima kehadirannya.


"Papi titip adikmu ya! Jaga dia dan genggam terus tangannya! Bawa adikmu ke mana pun kamu pergi! Kamu mengerti Damar?!" cercah Dhana yang penuh penekanan.


"Damar sangat mengerti, Pi!" jawab Damar.


"Ponsel kamu jangan sampai mati! Papi akan terus memperhatikan kalian melalui chatting! Jawab pesan Papi dengan cepat! Kamu ingat pesan Papi Damar?" ujar Dhana lagi, posesif, memperingati sang putra.


Damar hormat dibarengi dengan anggukan kuat dari sang putri, membuat Dhana tergelak tapi tidak dengan Mala yang mendengus kesal.


"Kalau begitu Papi dan Mami pulang dulu ya." ujar Dhana seraya mengusap kepala keduanya.


"Hati-hati, Pi!" jawab Damar.


Dhana mengangguk, mengulas senyum seraya mengusap lembut kepala sang putra dan sang putri secara bergantian. Mengambil langkah ke arah sang istri lalu merangkulnya pergi. Damar dan Wulan tersenyum, melihat kemesraan sang papi dan sang mami kembali terjalin walaupun belum sesempurna yang mereka harapkan.


"Ayo kita turun, Princess!!!" ujar Damar seraya menengadah tangannya, menantikan tangan sang adik meraih tangannya bak seorang putri.


Wulan terkikik geli, meletakkan tangannya di atas tangan sang mas kembar, bergandengan tangan, berjalan menyusuri koridor dan turun. Mereka berjalan, berdiri di samping gerbang sekolah untuk mengganggu taksi yang lewat.


Drrrrttt...


Damar terlonjak, mendapati ponselnya yang tersimpan di dalam saku bergetar kuat. Lalu...


"Kamu di mana Nar?" tanya Damar langsung.


"Ck! Baca salam dulu kek, apa kek! Dasar!" celetuk Rainar yang menghubungi Damar.


"Ah, basi! Kamu di mana, hah? Kenapa kamu tidak datang ke sekolah?" sungut Damar balik.


"Aku di rumah! Asal kamu tau ya, aku sudah datang lebih dulu bersama mamaku!" sungut Rainar yang terdengar jengah di balik telepon.

__ADS_1


"Wah rajin sekali anda, Tuan Rainar!!! Lalu isi raport mu bagaimana? Naik kelas atau tidak?" celetuk Damar seraya melirik sang adik yang terkikik gemas melihat pembicaraan keduanya.


"Oh tentu saja naik dong!!! Ya... walaupun aku tidak mendapatkan juara satu, tapi setidaknya aku mendapatkan juara dua di kelas. Sorry ya, Mar! Kamu harus kalah dari anak baru seperti aku yang tampan dan baik hati!" celetuk Rainar.


"Ckckckck! Sombong sekali anak curut satu ini! Sudahlah! Kalau niatmu hanya untuk sombong, lebih baik matikan saja teleponmu!" seru Damar yang terlihat muram dan jengah.


"Hahaha... santai dong, Bro! Kamu dan Wulan ikut acara berkumpul di Cafe atau tidak?" ujar Rainar yang tergelak di balik ponsel.


"Ikut lah!!!" jawab Damar dingin.


"Ah dingin sekali jawabanmu, Mar! Ya sudah, aku tidak ikut jadi hati-hati di sana ya. Aku titip Wulan! Jangan sampai dia terluka sedikit pun!" ujar Rainar yang memperingati Damar.


"Yaa!!!" jawab Damar semakin dingin.


"Ya sudah, assalamualaikum Damarrudin!!! Hahahahaha!!!" ujar Rainar yang menggoda sahabatnya itu sampai jengah.


Alih-alih menjawab salam, Damar langsung memutus sambungan telepon, mendengus kesal karena Rainar yang menggodanya, membuat Wulan tertawa karena pembicaraan konyol keduanya sangat terdengar jelas di telinganya yang menggunakan alat implant.


Greeeng!


Greeeng!


Greeeng!


Gelak Wulan seketika berhenti tatkala suara keras dari motor salah satu penghuni sekolah terdengar memekakkan, keluar dari gerbang dengan kecepatan angin tanpa melihat sekitar, melajukan motornya, melewati ruas jalan sepi.


"Dasar tidak punya sopan santun!!! Memang hanya dia saja yang mempunyai motor! Anak tidak tau etika!!!" sungut Damar yang jengah.


"Entahlah, Dek!!! Sepertinya anak itu tidak naik kelas lagi. Kalau benar, itu artinya golden tiket Bima sudah habis dan dia akan dikeluarkan!!!" jawab Damar yang menertawakan ke arah lain.


"Semoga dia tidak membuat onar lagi ya, Mas." ujar Wulan masih dengan bahasa isyaratnya.


Damar menoleh, melihat sang adik yang tampak ketakutan, trauma karena pembulian yang ia alami membuatnya tidak berani pada Bima. Damar merangkul sang adik, berusaha menenangkannya agar tidak takut lagi. Tidak berselang lama, taksi pun lewat. Damar yang melihat itu, melambaikan tangan ke arah taksi hingga membuat taksi itu berhenti di depannya.


Damar membawa Wulan masuk ke dalam taksi, menutup pintu taksi yang mulai berjalan. Tanpa keduanya sadari, dua sosok pria tengah melihat dan memperhatikan gerakan Damar dan Wulan, bersembunyi di tempat yang sama saat sosok itu memperhatikan gerak-gerik sang mami tadi.


"Ikuti kedua anak itu, Bram!!! Letakkan kamera CCTV ini di atas dashboard mobil! Kamu tidak perlu melakukan apa-apa, hanya mengikutinya saja! Kamu mengerti?" titah sang majikan pada sang asisten pribadinya itu.


"Baik, Tuan Gibran!" jawab Bram patuh.


Bram bergerak, mengambil langkah lebar masuk ke dalam mobil, menghidupkan mesin lalu mengikuti taksi yang membawa dua anak kembar itu. Sementara itu, Gibran keluar dari tempat persembunyian. Melangkah masuk ke dalam ruangan sang istri.


"Bagaimana Sayang? Apakah tugasmu sudah selesai?" tanya Gibran yang mendekati Kinan.


"Sudah, Mas. Terakhir, tugasku mengeluarkan Bima dari sekolah akhirnya selesai. Aku harus membuat keputusan ini karena anak itu sudah sangat keterlaluan. Dia membuli Wulan secara berkelompok dan Zivana juga ikut di dalamnya. Aku rasa, aku juga harus menghukum Zivana!" jawab Kinan yang menundukkan kepala, lelah.


Gibran merangkul bahu sang istri, mengusap punggungnya dengan lembut untuk memberi ketenangan. Namun di sela-sela itu, seringai tipis pun ikut terbit di wajah tampannya yang terlihat masih muda, teringat dengan kehadiran seseorang seminggu yang lalu, tepat di hari pertama ujian kenaikan kelas berlangsung.


...~Flashback On~...


"Saya berharap Bu Kinan dan Pak Gibran bisa mengambil keputusan yang bijak. Putri saya mengalami trauma karena pembulian teman satu kelasnya yang dipimpin oleh putri kalian dan anak yang bernama Bima! Saya sudah tau semuanya! Damar juga pernah melihat semua itu, saat adiknya dibuli secara bersama-sama! Dan kecelakaan yang dialami Damar kemarin, anak saya yakin kalau Bima lah pelakunya, dan putri kalian juga terlibat secara tidak langsung!"


Setelah mengantar kedua anaknya ke sekolah, Dhana memutuskan untuk mendatangi Kinan, membicarakan masalah pembulian sang putri dan kecelakaan yang menimpa Damar. Dhana duduk di depan Kinan, berseberangan dengan Gibran yang duduk di sofa ruang kerja istrinya. Sangat kebetulan, Gibran juga ada di sekolah. Dengan begitu Dhana tidak perlu berbicara dua kali jika keduanya sudah mendengar hari ini.

__ADS_1


Kinan menghela nafas kasar, menetralisir rasa kesal yang menyeruak di dalam dada. Kata-kata Dhana seakan pedang tajam yang menghujam jantungnya, mendengar kebenaran yang baru ia ketahui hari ini bahwa Zivana membuli Wulan. Namun hal itu tidak berlaku pada sang suami. Gibran menyeringai tipis, menatap Dhana yang tidak melihat ke arahnya dengan tatapan tajam.


Hahahahaha... ternyata putriku membuli anaknya Mala yang bisu itu bersama dengan kekasihnya. Bima, sepertinya anak itu bisa aku gunakan untuk melancarkan rencana yang telah aku buat. Gumam Gibran dalam hati.


Gibran beranjak, menghampiri sang istri lalu berdiri tepat di sisinya seraya merangkulnya, menatap Dhana yang melihat adegan mesra itu. Tidak membuatnya sakit hati, tapi terlihat sangat tidak sopan ketika sedang kedatangan tamu.


"Pak Dhana tenang saja. Istri saya pasti sudah mempunyai keputusan yang tepat untuk Wulan dan demi kemajuan sekolah ini." timpal Gibran.


"Menurutmu bagaimana Mas?" tanya Kinan.


"Semua keputusan ada di tanganmu, Sayang. Apapun itu aku akan mendukungmu!!!" jawab Gibran seraya memperkuat rangkulannya.


Kinan menghela nafas berat, menoleh ke arah Dhana yang dengan muka datar duduk di kursi, melihat adegan suami istri petinggi sekolah ini. Terbesit rasa tidak enak dengan Dhana karena melihat perlakuan sang suami yang terbilang tidak enak dipandang oleh tamu, merangkulnya dengan posesif seakan sedang menunjukan bahwa dirinya adalah istri dari Gibran Athaariq. Bahkan tanpa bersikap seperti itu pun semua orang juga sudah tau, kalau dirinya itu istri dari pemilik Jaya Mandiri Property yang berkuasa.


"Baiklah, Pak Dhana. Saya akan mengambil keputusan yang baik. Baik untuk Wulan dan baik untuk sekolah. Sudah sejak lama saya ingin mengambil tindakan untuk Bima, tapi masih saya urungkan dan berharap agar dia bisa berubah. Namun sepertinya, tidak akan mungkin dan saya pastikan Wulan tidak akan dibuli lagi di sekolah ini. Atas nama sekolah, saya sebagai kepala sekolah minta maaf yang sebesar-besarnya pada Pak Dhana. Semoga setelah ini tidak akan ada lagi masalah yang menimpa Wulan maupun Damar." tutur Kinan.


"Terima kasih, Bu Kinan, Pak Gibran. Terima kasih karena sudah bertindak adil pada putri dan putra saya. Terima kasih. Kalau begitu, saya pamit undur diri. Assalamualaikum...." jawab Dhana sesaat sebelum beranjak pergi.


Dhana pun pergi, meninggalkan pasangan suami istri petinggi sekolah ini dengan raut wajah yang berbeda. Kinan tampak perihatin, menatap sendu sosok pria yang pernah hadir dalam hidupnya, tulus dan tidak sederhana, namun memiliki masalah hidup yang berat karena salah satu anaknya tidak sempurna. Sementara itu, Gibran tampak tersenyum tipis, sepertinya senang dengan kondisi Dhana.


...~Flashback Off~...


"Mas... Mas Gibran... kamu kok jadi bengong seperti ini sih? Apakah boleh aku menghukum Zivana? Bagaimana pun juga dia itu putrimu!" ujar Kinan seraya mengguncang tubuh Gibran.


Gibran tersentak, lamunannya buyar seketika karena tindakan Kinan yang mengguncangnya.


"Boleh, Sayang. Bagaimana pun juga kamu itu ibunya Zivana. Jadi kamu berhak menghukum apapun kesalahan yang dia perbuat. Tapi tidak boleh kasar ya!" jawab Gibran yang tersenyum.


"Baiklah, Mas. Oh iya, masalah rewards ketua osis yang berhasil lolos, benar 'kan Mas?" ujar Kinan yang tiba-tiba teringat dengan masalah itu.


"Tentu saja, Sayang. Memang siapa saja yang berhasil lolos ke tahap kampanye mandiri dan kampanye itu sudah dimulai 'kan?" ujar Gibran.


"Yang berhasil lolos menjadi kandidat calon ketua osis ada tiga. Soni dari kelas 2A, Faisal dari kelas 2A dan Damar dari kelas 2C. Sejak ujian dimulai, kampanye mandiri sudah mereka lakukan melalui media sosial, Mas. Dan hasil dari kampanye akan kita rekap di hari pertama masuk sekolah nanti. Alhamdulillah, mereka bertiga juga naik kelas jadi semuanya aman." jawab Kinan dengan antusias dan semangat.


"Damar? Damar anaknya Pak Dhana?" tanya Gibran yang tercengang dan tidak menyangka.


"Iya, Mas. Siapa lagi kalau bukan Damar itu." jawab Kinan yang kini beralih pada mejanya.


Gibran menyeringai tipis. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh pria satu anak itu setelah mendengar kalau Damar ikut menjadi calon ketua osis di sekolah, membuat sesuatu terlintas begitu saja di dalam benak pikirannya.


Putra wanita itu ternyata sangat pemberani. Sepertinya ini salah satu alasan Bima ingin mencelakai Damar saat itu. Anak itu sangat nekat ternyata dan aku harus menggunakan anak itu sebagai alat. Gumam Gibran dalam hati.


.


.


.


.


.


Happy Reading All 😇😇😇

__ADS_1


__ADS_2