Takdir Si Gadis Bisu

Takdir Si Gadis Bisu
Episode 76 ~ Pria Asing di Basecamp


__ADS_3

...☘️☘️☘️...


"Hentikan Bima!!!"


Teriakan suara bariton anak lelaki yang terdengar tidak asing itu membuatku berhenti memukuli Syahil. Kugiring mata ke arah sumber suara itu, menangkap sosok pria itu, sosok yang sejak dia masuk ke sekolah dan mengambil semua yang sebelumnya ada di genggaman tanganku hingga membuatku benci, bahkan sangat benci.


Dia adalah Damar, yang berlari bersama adiknya yang bisu dan tuli. Mendekati Syahil yang sudah terkulai tak berdaya di tengah jalan karena aksi brutal ku dan Dimas.


Kedatangan Damar dan si bisu membuat darahku semakin mendidih. Mereka sudah mengagalkan rencanaku untuk menghabisi Syahil hari ini, hingga perdebatan di antara aku dan Damar pun tak dapat terelakkan lagi. Melibatkan si bisu yang membuatku ingin sekali untuk menyakitinya di hadapan Syahil dan Damar. Dan benar saja, aku mendorong kasar si bisu hingga dia terjatuh.


Hahahah... yang membuatku senang adalah ketika melihat ekspresi Syahil dan Damar yang terlihat marah. Wajah mereka sangat merah, sepertinya amarah kedua anak lelaki itu akan berkobar dan terpancing untuk berkelahi. Dengan begitu, tidak hanya Syahil yang akan kuhabisi melainkan juga Damar yang sudah merebut posisiku di sekolah sebagai calon ketua osis baru.


"Maksud lo apa dorong-dorong adik gue, hah? Lo itu harusnya sadar, Bim! Sudah bangkotan tapi masih SMP! Seharusnya lo ngaca!!! Kaca di rumah lo ada 'kan? Atau perlu gue belikan cermin, biar lo bisa ngaca dan melihat diri lo sebenarnya seperti apa? Jangan berani sama anak cewek! Malu tuh, sama umur lo!!!"


Damar... perkataan yang keluar dari mulutnya benar-benar tidak ada akhlak. Membuatku malu di depan anak-anak, membuat amarahku seketika terbakar lagi, membiarkan tangan yang mengepal kuat sejak tadi terangkat spontan, hendak memukulnya melebihi memukuli kakaknya.


Namun, kali ini tanganku kalah cepat dengan tangan Damar. Anak tengil itu menangkap tanganku yang hampir menyentuh wajahnya dan yang membuatku terkejut adalah seringainya. Tidak ada sedikit pun ketakutan di mata anak tengil satu itu kali ini, membuat perasaanku tidak enak ketika perlahan anak itu mengangkat ponselnya dan memperlihatkan kontak polisi yang tersambung dengan ponselnya.


"Jangan main tangan! Tapi main otak dan perhatikan setiap gerakan lo terhadap gue, kakak gue dan adik gue! Lebih baik lo bawa semua anggota geng motor lo ini, sebelum Polisi meringkus kalian di sini!!!"


Berurusan dengan Polisi adalah salah satu hal yang sangat kuhindari sampai detik ini, proses yang akan berbelit pada akhirnya membuatku dan anak-anak lainnya cabut, meninggalkan Syahil, Damar dan si bisu di sana.


Tidak peduli lagi dengan kondisi Syahil yang babak belur, aku lebih mengkhawatirkan diri sendiri saat ini. Aku dan anggota geng motor akhirnya pergi, kembali ke Basecamp adalah pilihanku, sedangkan Dimas bersama anak-anak yang lain hanya bisa mengikuti ke mana sang kapten pergi.


Akhirnya aku, Dimas dan anak-anak sampai di Basecamp. Beberapa anak geng motorku memilih untuk pulang namun masih ada juga yang memilih untuk tetap bersantai di dalam Basecamp, termasuk aku dan Dimas.

__ADS_1


Aku dan Dimas memilih duduk di luar, mengatur nafas yang masih terengah-engah akibat ancaman Damar yang sangat menyebalkan itu.


"Bim... siapa tuh?"


Perkataan Dimas sukses membuat lamunanku buyar, membuat kepalaku terangkat untuk memastikan kalau yang datang bukan lah Polisi.


Dahiku mengerut dibuatnya, menangkap sosok pria di depan halaman Basecamp seraya tersenyum ke arahku. Pakaiannya rapih, seperti seorang asisten, sama seperti asisten pribadi orang tuaku. Namun sepertinya pria itu sangat asing dan aku belum pernah melihat wajahnya.


Pria itu berjalan, mendekatiku yang masih duduk termangu di depan teras bersama Dimas seraya memperhatikan gerak-gerik pria itu.


"Apa saya bisa bertemu sebentar dengan anak yang bernama Bimantara?"


Pria itu masih tersenyum walaupun sangat tipis dan nyaris tidak terlihat, melihatku dan Dimas bergantian, membuatku dan Dimas saling pandang heran dengan sosok pria yang di depanku saat ini.


"Ikut dengan saya sebentar. Nanti kamu akan tau siapa saya. Ayo!!! Majikan saya sudah menunggu kamu di suatu tempat!" ujar pria itu, masih dengan senyumnya yang ramah.


Aku dan Dimas saling pandang heran lagi, membuatku ragu awalnya. Namun karena Dimas yang meyakinkan akan ada hal yang penting, akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti pria itu.


Aku pun mengikuti mobil pria itu dari belakang dengan motor. Awalnya pria itu menawarkan aku untuk ikut bersamanya dengan mobil, tapi keraguanku kembali datang tiba-tiba hingga kuputuskan untuk membawa motor. Walaupun aku anak nakal, tapi aku tetap harus waspada dengan kejahatan di luar. Tidak menutup kemungkinan kalau anak yang nakal sepertiku ini juga bisa dijahati orang lain, bukan???


Aku sempat berpikir dan heran, ke mana mobil ini melaju, membawaku untuk terus mengikuti arahnya yang entah akan ke mana, membuat tingkat kewaspadaan diri semakin kuat, waspada dengan kejadian tidak terduga.


Untuk sepersekian menit aku merasa heran, namun tidak lagi saat mobil pria yang ada di depan motorku saat ini menyusuri jalan familiar bagiku. Aku pun mengedarkan pandangan, memperhatikan jalan yang kulewati. Hingga dugaanku benar, ini adalah jalan pintas menuju sekolah, jalan yang tidak banyak diketahui oleh penghuni sekolah kecuali aku yang termasuk sering melewati jalan setapak ini.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 15 menit, akhirnya mobil itu berhenti tepat di depan sebuah ruang. Ruang yang tampak gelap di luar maupun di dalamnya, membuatku semakin terlihat waspada dan berhati-hati dengan pria yang baru kukenal ini.

__ADS_1


"Jangan takut. Saya tidak akan memakan kamu. Saya membawa kamu ke sini atas permintaan majikan saya. Dan beliau sudah menunggu kamu di dalam sana. Jadi masuk lah, sebelum majikan saya marah lalu memakan kamu secara brutal." tutur pria itu yang berdiri tegap di depan ruangan itu setelah turun dari mobilnya, melihat lurus ke depan seperti seorang bodyguard yang sedang siaga menjaga sang majikan.


Sungguh, bulu kuduk yang tadinya aman-aman saja kini berdiri tegap layaknya pasukan tentara yang tengah latihan baris berbaris, membuatku cukup takut jika yang dikatakan oleh pria di depanku saat ini benar. Dan tanpa basa-basi lagi, aku langsung masuk ke ruangan gelap itu. Ruangan itu terletak di belakang sekolah, dan jalan pintas yang sempit itu adalah jalan yang sering kugunakan ketika terlambat datang ke sekolah. Melalui jalan itulah aku bisa menyelusup masuk tanpa harus takut ketahuan.


"Selamat datang, Bimantara! Senang bisa melihat kamu dan memenuhi panggilan saya!"


Suara itu sukses membuatku terperanjat, ruangan gelap yang hanya menggunakan cahaya lilin membuatku sulit melihat sosok itu. Pemilik suara bariton itu berdiri tapi menghadap ke arah berlawanan hingga aku tidak bisa melihatnya dengan jelas.


"Masuk lah!"


Sosok itu kembali berbicara, menyuruhku masuk ke dalam ruangan gelap itu. Di saat aku sudah berada di dalam, sosok itu pun berbalik, memperlihatkan wajah yang sangat tidak asing hingga membuatku ternganga.


"Pak Gibran..."


.


.


.


.


.


Happy Reading All 😇😇😇

__ADS_1


__ADS_2