
...☘️☘️☘️...
Ceklek!
Daun pintu sebuah kamar rawat terbuka, Damar dan Wulan bergegas masuk ke dalam kamar itu, mendapati sosok wanita yang mereka tolong tadi sudah sadar dan tengah duduk bersandar pada headboard tempat tidur ditemani oleh seorang suster.
"Saya permisi dulu ya." ujar suster.
"Terima kasih Sus." ucap Damar.
Suster hanya mengangguk lalu bergegas pergi meninggalkan mereka di dalam kamar rawat itu. Setelah suster keluar, Damar dan Wulan saling melempar pandangan setelah melihat seluet senyum wanita asing yang mereka tolong itu. Wanita asing itu terlihat tersenyum ke arah mereka. Ya, tentu saja. Kalau bukan ke arah mereka, pada siapa lagi wanita itu melempar senyum manisnya.
Damar dan Wulan pun melangkah pelan, mendekati tempat tidur wanita asing yang masih tersenyum manis itu.
"Tante tidak apa-apa?" tanya Damar.
"Terima kasih ya. Kalian sudah menolong saya." jawab wanita itu, melihat keduanya.
"Dari mana Tante tau?" tanya Damar.
"Suster tadi yang mengatakan, kalau saya dibawa oleh dua orang anak SMP ke sini dan kalian lah yang menemukan saya jatuh pingsan di tepi jalan. Benar, bukan?" terang wanita itu dengan senyum yang terlukis.
Damar dan Wulan saling pandang sebelum mereka mengangguk bersamaan, mengulum senyum kendati rasanya sangat canggung, berbicara dengan orang asing.
"Nama saya Rumi. Nama kalian?" tanya wanita itu, melihat Damar-Wulan secara bergantian.
"Saya Damar. Dan ini adik saya, Wulan." jawab Damar, memperkenalkan sang adik.
"Damar Wulan! Nama dari seorang tokoh legenda cerita rakyat di pulau Jawa. Saya juga pernah mendengar nama sepasang kekasih dengan nama itu. Tapi sekarang ini, saya bertemu langsung dengan sepasang saudara yang namanya Damar Wulan." terang wanita yang bernama Rumi itu.
Damar dan Wulan tergelak samar, melihat Rumi yang sudah membaik kondisinya dan ikut terkikik.
"Senang bertemu dengan kalian." ujar Rumi.
"Senang juga bisa bertemu dengan Tante." ujar Damar, disambut oleh anggukan Wulan.
"Kalau bukan karena kalian, mungkin sekarang saya sudah menjadi mayat dan siap dimakamkan." ujar Rumi, terkikik lirih.
"Jangan bicara seperti itu, Tante. Kebetulan tadi saya dan Wulan baru pulang sekolah. Dan di saat kami sedang berjalan, tiba-tiba kami melihat Tante di seberang jalan." ujar Damar, menceritakan kronologi pada Rumi.
"Iya, kepala saya memang terasa berat sekali tadi. Sejak kemarin saya sedang berusaha mencari alamat kakak saya di Jakarta, tapi saya belum menemukan alamatnya." ujar Rumi, mendadak sedih.
"Memang Tante Rumi tidak punya alamat kakaknya Tante?" tanya Damar, sepertinya ingin tau banyak tentang siapa wanita asing bernama Rumi itu.
"Saya punya, Damar. Tapi hanya alamat tempat kerjanya saja dan alamat itu ada di jalan yang tadi. Jalan di mana saya pingsan dan kalian menemukan saya." jawab Rumi.
Damar dan Wulan pun saling pandang lagi, keduanya bergidik bahu bersamaan setelah mendengar cerita Rumi.
"Memang nama tempat kerja kakaknya Tante Rumi apa kalau boleh saya dan Wulan tau?" tanya Damar, berniat ingin menolong karena tidak tega.
"SMP Jaya Mandiri. Kakak saya bekerja di sana. Apakah kalian tau di mana lokasi sekolah itu?" jawab Rumi, bertanya balik pada Damar Wulan.
"Kebetulan sekali! Kami sekolah di sana, Tante. Kalau boleh tau, nama kakaknya Tante Rumi siapa? Dan bekerja sebagai guru apa di sana? Siapa tau kami kenal dan kami bisa membantu Tante Rumi." tutur Damar.
"Kakak saya bukan guru. Dia bekerja sebagai asisten pribadi seseorang di sekolah terkenal itu. Namanya..."
Drrrrttt!
Rumi terlonjak, mendengar suara ponsel miliknya yang ada di atas nakas bergetar. Sementara mata Damar-Wulan juga ikut tertuju ke arah ponsel Rumi yang bergetar.
"Sebentar ya, Damar, Wulan. Saya izin mengangkat telepon dulu sebentar."
Rasa penasaran Damar pun terpaksa diurungkan, mendapati ponsel Rumi yang tiba-tiba bergetar saat dirinya ingin sekali tau nama dari kakak wanita yang terbaring di atas tempat tidur rumah sakit itu saat ini. Damar mengangguk samar, memberikan kebebasan pada Rumi untuk mengangkat telepon entah dari siapa. Damar menoleh, menatap sang adik yang ikut mengangguk.
Entah kenapa perasaannya semakin tak karuan. Ada cemas, takut dan gelisah yang sejak tadi menyelimuti hatinya sampai detik ini. Merasa sesuatu yang tidak mampu ia uraikan dengan kalimat setelah mendengar cerita wanita asing di hadapannya itu.
__ADS_1
Damar seperti merasakan sesuatu yang mengganjal hatinya. Namun Wulan yang dapat menangkap sinyal itu dari sang mas kembar pun berusaha menenangkannya, meraih tangan kekar itu untuk digenggam terus, menenangkannya walaupun susah. Sementara Rumi terlihat asyik berbicara via telepon dengan seseorang di balik telepon.
"Maaf ya, saya jadi mengabaikan kalian." timpal Rumi, sudah selesai mengangkat telepon.
"Tidak apa-apa, Tante. Kami mengerti kok." ujar Damar, senyum dan berusaha ramah.
Rumi tersenyum bangga, melihat anak seusia Damar-Wulan yang memiliki jiwa penolong, berbeda dengan anak-anak lainnya yang seusia mereka di zaman ini. Tangan Rumi terulur, meletakkan kembali ponselnya di atas nakas.
"Alhamdulillah sekali, akhirnya kakak saya menelepon saya juga setelah beberapa hari ini dia tidak ada kabar. Sekarang dia sedang ke sini setelah saya memberitahu dia, kalau saya di rumah sakit. Kalian jangan pulang dulu ya, sampai kakak saya datang. Saya akan memperkenalkan malaikat tampan dan cantik yang ada di depan ini pada kakak saya." tutur Rumi, terlihat berbinar senang.
"Tapi sepertinya saya dan Wulan harus..."
"Sebentar saja. Dia tidak akan lama kok." potong Rumi, membuat Damar kian gusar.
Damar hanya bisa mengangguk, tersenyum simpul namun tipis karena terpaksa. Sementara Wulan yang melihat kegelisahan di wajah sang mas kembar, merasa heran. Pasalnya, sejak bertemu dengan Rumi dalam keadaan pingsan pun, Damar sudah menunjukan sikap yang aneh di depannya. Namun Wulan berusaha untuk tetap tenang. Jika ia gelisah, maka Damar juga akan makin gelisah.
"Damar... saya boleh bertanya sesuatu?" timpal Rumi, melihat ke arah Wulan di sisi Damar.
"Apa Tante?" tanya Damar, heran.
"Sejak tadi saya tidak mendengar Wulan bicara. Hanya kamu yang menjawab dan merespon saya. Sedangkan Wulan, dia hanya mengangguk saja. Adik kamu itu baik-baik saja 'kan?" ujar Rumi, melihat Wulan dengan tatapan menelisik ingin tau.
Damar tersentak. Sebenarnya sudah biasa ia menghadapi pertanyaan seperti ini terkait sang adik yang tidak bisa bicara dan mendengar tanpa alat implant, tapi karena sudah lama sekali tidak ada orang yang mengajukan pertanyaan itu padanya, membuatnya hening sesaat. Lalu menoleh ke arah sang adik yang mengangguk samar tanda setuju, seraya mengelus lengannya.
"Adik saya memang tidak bisa bicara, Tante."
Rumi terhenyak, menoleh ke arah Wulan yang sejak tadi memberikan senyum manis ke arahnya, mengerti dengan jawaban Damar yang terdengar sangat berat, membuat Rumi merasa bersalah.
"M-maksud kamu? Wulan tuna wicara?"
"Tuna rungu-wicara, Tante."
"Maaf... saya tidak tau, Damar."
"Tidak apa-apa, Tante."
Kruyuk!
Kruyuk!
Seketika Damar menoleh ke arah sumber suara yang berasal dari sampingnya. Wulan mengulum senyum, menekan perutnya yang sudah menahan lapar sejak tadi seraya melihat sang mas kembar.
"Adek lapar? Kenapa tidak bilang?"
Wulan hanya tersenyum lebar, malu untuk mengiyakan perkataan sang mas di depan Rumi yang terlihat sedang menahan tawa. Sementara Damar menghela nafas kasar, mengutuki diri karena tidak peka dengan keadaan sang adik. Padahal jarum jam sudah menempati posisinya di atas puncak waktu, menunjukan waktu makan siang telah tiba dan harus segera dilaksanakan.
"Adek di sini dulu ya. Mas mau ke kantin rumah sakit dulu, dan membelikan Adek makan siang."
Wulan pun mengangguk, mengacungkan kedua jempol tangannya pada Damar yang mengelus gemas kepalanya. Sementara Rumi yang melihat adegan mesra di antara kakak adik itu hanya bisa tersenyum getir, membuatnya teringat dengan sang kakak.
"Saya titip Wulan sebentar ya, Tante."
"Iya, Damar. Kamu tenang saja. Saya akan menjaga Wulan seperti menjaga anak sendiri."
"Terima kasih Tante."
Rumi mengangguk. Lalu Damar beranjak pergi meninggalkan Rumi dan Wulan di dalam kamar itu.
"Kamu sering dipanggil adek ya sama Damar? Sama! Saya juga." tanya Rumi, berusaha menghilangkan rasa canggung.
"Setiap saat, Tante. Itu panggilan sayang Mas Damar dan kakakku yang lainnya, setiap mereka memanggilku." ujar Wulan, tentu saja dengan bahasa isyarat karena sudah lama ia tidak membawa notenya.
"Jadi Damar bukan kakakmu satu-satunya?" ujar Rumi, mengerti dengan bahasa Wulan.
"Mas Damar kakak kembarku, sedangkan yang lainnya kakak sepupuku. Semuanya laki-laki dan hanya aku yang perempuan. Tapi tunggu, Tante mengerti bahasaku?" jawab Wulan sebelumnya beberapa saat tersadar jika Rumi bisa mengerti bahasanya.
__ADS_1
"Iya, cantik. Saya tidak hanya mengerti, bahkan sangat mengerti karena saya pengajar bahasa itu di kampung halaman saya. Tidak hanya di kota, di kampung saya pun banyak anak-anak seperti kamu. Jadi saya membuka jasa mengajar dan melatih anak-anak seperti kamu secara gratis di sana. Ya, hitung-hitung untuk amalan di akhirat nanti." tutur Rumi, tampak berbinar.
Wulan berdecak kagum, mendengar cerita Rumi yang mengagumkan untuk wanita dewasa seusianya. Usia matang untuk seorang wanita sepertinya, yang seharusnya sudah mempunyai keluarga dan hidup bahagia. Namun nasib yang tak beruntung berpihak padanya, dipaksa kuat menjalani putaran waktu yang tersisa dalam takdir hidup, menderita penyakit mematikan yang orang lain tak dapat memastikan apakah dia akan sembuh atau tidak. Membuat Wulan teringat sang onty.
"Wulan... kenapa melamun?" ujar Rumi.
"Tidak, Tante. Melihat Tante Rumi, aku jadi teringat dengan mendiang onty ku. Beliau adik kembar papiku. Kalau beliau masih hidup, mungkin usianya sama dengan usia Tante." jawab Wulan, tersenyum manis ke arah Rumi.
"Maaf ya, saya tidak tau. Saya jadi sering terkejut setiap mendengar cerita kamu. Terlalu banyak kejutan di dalam hidup kamu ya, Wulan." ujar Rumi, mengusap tangan Wulan yang ada di sisi tempat tidurnya.
"Tidak apa-apa, Tante." jawab Wulan.
"Kalau boleh saya tau, mendiang onty kamu meninggal karena apa?" tanya Rumi.
"Karena sakit kanker darah, Tante. Sudah dua puluh tahun onty ku meninggal dunia. Dan belum genap satu bulan ini, suaminya pun ikut pergi, menyusul Onty karena sakit kanker juga." ujar Wulan, dengan bahasa andalannya.
Senyum Rumi yang semula merekah hilang entah ke mana saat melihat bahasa isyarat gadis kecil di sampingnya. Membuat pikirannya melayang seketika, memikirkan nasib diri yang hampir sama dengan mendiang onty nya Wulan. Sakit kanker darah yang membuatnya meregang nyawa, meninggalkan dunia dan orang tersayang.
"Aaaaa... aaaa..." ucap Wulan.
"Ah iya, maaf Wulan. Saya jadi melamun." ujar Rumi yang tersadar dari lamunannya.
"Tante baik-baik saja?" tanya Wulan.
"Saya baik-baik saja kok. Cerita kamu barusan membuat saya takut sesaat. Saya takut kalau saya juga akan berakhir seperti onty kamu, tapi saya harus tetap optimis untuk sembuh dan saya tidak boleh menyerah begitu saja. Iya 'kan Lan?" jawab Rumi, mengerti dengan isyarat Wulan.
Wulan mengangguk cepat seraya mengacungkan kedua jempolnya. Perkataan Rumi di kalimat awal sempat membuatnya merasa bersalah, namun Rumi memperlihatkan kembali semangat dirinya untuk sembuh dari penyakit mematikan itu, tidak ingin menyerah sampai titik darah penghabisan, membuatnya menghela lega.
Ceklek!
Daun pintu terbuka keras, memperlihatkan sosok lelaki bertubuh tegap menghambur masuk ke dalam kamar rawat Rumi. Membuat Rumi terkejut namun senyumnya merekah seketika, melihat sosok lelaki yang ia tunggu sejak tadi dan tidak ada kabar beberapa hari terakhir dengan alasan sibuk dan sedang berada di luar kota. Lelaki itu berlari, menghampiri Rumi yang tersenyum.
"Rumi... kamu kenapa? Kenapa bisa ada di sini? Kenapa kamu bisa ada di Jakarta? Kenapa kamu tidak menghubungi Kakak?"
Rumi tergelak samar, melihat sang kakak yang menghujani dirinya dengan empat pertanyaan sekaligus. Sementara lelaki bertubuh tegap itu tampak mengeryit, mendengus geli dengan sikap sang adik kendati usia mereka sudah tak muda.
"Aku baik-baik saja, Kak. Aku hanya pingsan karena kelelahan dan aku datang ke Jakarta untuk mencari Kakak pastinya." ujar Rumi, menenangkan sang kakak.
"Kamu yakin baik-baik saja?" tanya lelaki itu.
"Iya, Kak. Aku baik-baik saja." jawab Rumi.
Lelaki itu menghela nafas lega, kepalanya yang terasa berat akibat mendengar kabar sang adik masuk rumah sakit kini tertunduk. Belum sadar dengan kehadiran seorang gadis kecil di seberang bed sang adik yang terlihat mematung sejak tadi.
Wulan menelan salivanya kuat. Sejak daun pintu terbuka kuat, mata Wulan membulat sempurna. Menangkap sosok lelaki yang sangat familiar di ingatan, membuatnya mematung dalam sekejap.
"Kak... perkenalkan ini Wulan. Dia dan kakaknya yang sudah menolong aku. Mereka membawaku ke rumah sakit ini. Mereka baik sekali, bukan?" tutur Rumi, meraih bahu sang kakak yang masih tertunduk dan berusaha mengontrol nafas.
"Ah iya, karena buru-buru datang ke sini untuk melihat kamu, Kakak jadi lupa kalau ada orang lain di sini. Terima kasih karena kamu sud..."
Ucapan lelaki bertubuh tegap itu yang semula melihat ke arah Rumi seketika terpangkas saat matanya tertuju pada gadis kecil di seberang tempat tidur sang adik. Bibir lelaki itu terkatup rapat seketika, mendapati sosok gadis kecil yang mematung dengan keringat dingin di wajahnya.
"Wulan...!"
.
.
.
.
.
Happy Reading All 😇😇😇
__ADS_1