Takdir Si Gadis Bisu

Takdir Si Gadis Bisu
Episode 41 ~ Salah Memilih Orang


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


"Pulanglah!!! Dan jangan pernah kamu menemui Mas lagi!!! Karena Mas tidak ingin bertemu dengan seorang pengkhianat!!!"


Syahil termangu seraya memicingkan mata tatkala mendengar penuturan Aifa'al. Benar, Syahil memang berkhianat, tapi ia bersyukur karena ia sudah menyadari kasih sayangnya pada Wulan walaupun sudah terlalu lama.


Aku harus memastikan keadaan Wulan. Ya, aku harus ke rumah Oma untuk memastikan kalau keadaan Wulan baik-baik saja. Gumam Syahil dalam hati.


Syahil beranjak, mengambil langkah cepat mencari taksi karena ia tidak membawa motor sendiri namun datang dengan Aifa'al. Sementara itu, Aifa'al yang memandang kecewa pada Syahil hanya meremas kuat tangannya yang mengepal, tatapan nanar pun tak luput dari matanya yang memerah, melihat kepergian Syahil.


"Lo sudah mengambil keputusan yang benar, Al. Biarkan saja si Syahil pulang. Itu artinya dia sudah tidak membutuhkan lo lagi." ujar Dimas yang merangkul Aifa'al.


"Kita benar-benar tidak menyangka kalau kalian punya adik yang bisu, Al." ujar salah satu anggota geng motor Aifa'al.


"Dia bukan adik gue! Gue anak bungsu! Dia hanya benalu yang membuat kasih sayang kedua orang tua gue teralih!" jawab Aifa'al.


Dimas menyeringai tipis, menoleh ke arah dua temannya yang lain seraya mengusap bahu Aifa'al. Dibalas dengan seringai pula oleh keduanya, entah apa yang terpikirkan oleh mereka setelah mengetahui semua ini.


Berita bagus buat si Bima nih. Kalau Bima tau, si bisu dan kakaknya itu adiknya si Al, dan Al membenci mereka. Gue dan Bima bisa memanfaatkan kebencian Al untuk menuntaskan dendam tanpa mengotori tangan sendiri. Gumam Dimas dalam hati.


***


"Mas... ini mau hampir maghrib loh. Kok Uncle sama si kembar belum pulang ya?"


Menunggu merupakan suatu hal yang sangat membosankan, itu terjadi pada pria remaja yang akan beranjak dewasa seperti Syahal. Sejak menginjakkan kaki di rumah sang oma, ditambah lagi tidak menemukan keberadaan sang uncle, membuat pria itu dirundung kegelisahan yang tidak menentu.


Sementara Aiziel yang melihat kegelisahan Syahal, hanya menggelengkan kepala dan terkikik geli. Aiziel tampak lebih tenang dari pada Syahal yang kelimpungan ke sana ke mari, berjalan seperti setrika panas.


"Kamu bisa diam, tidak? Duduk saja lah! Nanti Uncle Dhana juga pulang!!!" sungut Aiziel yang menatap jengah sang adik.


"Ck!!! Syahal khawatir, Mas! Syahal takut, Wulan kabur lagi dari rumah. Bahkan tadi malam dia pulang basah kuyup bersama Syahil. Syahal khawatir, Wulan akan sakit, Mas." cercah Syahal yang memang super duper pencemas tingkat dewa.


"Wulan memang sedang sakit, Syahal!!!" jawab Aiziel tanpa menolehkan matanya.


"Haaaaa? Mas jangan bercanda ya! Ini tidak lucu sama sekali, Mas!" sungut Syahal yang tidak percaya sekaligus terkejut.


"Mas tidak bercanda!!! Wulan memang sedang sakit, suhu tubuhnya tinggi tapi Wulan kekeuh ingin datang ke sekolah. Uncle, Damar dan Mas sudah berusaha mencegahnya, tapi kamu tau bagaimana sifat Wulan, bukan?" jawab Aiziel seraya mengangkat kepalanya, melihat Syahal.


"Kenapa Mas tidak memberitahu Syahal?" tanya Syahal yang mengeryit kesal.


"Kamu tidak bertanya!" jawab Aiziel.


Lagi-lagi, kedua adik kakak yang tengah duduk di teras depan rumah sang oma itu saling beradu pendapat. Syahal yang sebal, mendengus kesal melihat tingkah Aiziel. Sementara Aiziel hanya menggelengkan kepalanya melihat ekspresi sang adik.


Brum!


Brum!

__ADS_1


Brum!


Aiziel dan Syahal menoleh cepat tatkala sebuah mobil hitam milik sang uncle masuk ke dalam gerbang rumah. Mereka langsung beranjak, menghampiri mobil yang sedang menyesuaikan posisi nyaman untuk berdiri.


"Ziel, Syahal..." ujar Dhana yang keluar dari mobilnya, menatap heran kedua keponakan tampannya itu.


"Uncle dari mana saja? Ziel berusaha menghubungi Uncle tapi tidak aktif!!!" ujar Aiziel yang kini terlihat panik.


Syahal mendengus geli, melihat tingkah sang mas sulung yang tiba-tiba berbeda lagi dari sebelumnya. Aiziel yang terlihat santai sejak tadi, kini berubah menjadi panik bukan kepalang, membuat Syahal jengah.


"Heleh!!! Sejak tadi Mas Ziel duduk saja!!! Tidak menghubungi Uncle kok! Malahan Syahal yang sejak tadi kocar-kacir, panik karena Uncle dan si kembar belum pulang!" sungut Syahal seraya menyikut sang mas.


"Heh! Sebelum kamu datang, Mas yang lebih dulu mengkhawatirkan Uncle Dhana dan si kembar! Bukan kamu! Kamu hanya meniru Mas saja! Dasar menyebalkan!!!" jawab Aiziel seraya menjitak kepala Syahal.


Keributan konyol keduanya memancing gelak tawa Dhana, Damar dan Wulan yang sudah berdiri di sisi mobil. Melihat ekspresi Aiziel dan Syahal, sungguh menggelitik geli perut mereka saat ini.


"Sudah, sudah!!! Kalian ini ada-ada saja! Kalau begitu ayo kita masuk dulu! Nanti Uncle ceritakan semuanya pada kalian!!!"


Dhana beranjak, seraya merangkul bahu kedua anak kembarnya berjalan menuju pintu utama. Diikuti juga oleh Aiziel dan Syahal yang sesaat saling pandang ketika mata keduanya menangkap sesuatu pada dahi Damar. Sebuah perban yang seakan menutupi luka, ditambah lagi dengan pakaian Wulan yang kacau dan kotor, membuat keduanya heran sekaligus bertanya-tanya.


"Uncle... dahi Damar kenapa ada perban?"


Pertanyaan yang membuat penasaran pun akhirnya terlontar begitu saja dari bibir Aiziel, membuat Dhana, Damar, Wulan dan Syahal menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke arah Aiziel.


"Damar terserempet motor saat menunggu taksi di depan gerbang sekolah, Ziel!!!" ujar Dhana seraya melihat Aiziel dan Syahal.


"Tapi Damar baik-baik saja kok, Mas. Ini buktinya, Damar sudah berdiri di sini lagi dalam keadaan sehat tanpa kekurangan satu pun dari tubuh Damar. Jadi, kalian tenang saja ya." timpal Damar seraya menenangkan kedua mas sepupunya itu.


"Siapa yang melakukan ini sama kamu? Bilang sama Mas! Biar Mas laporkan dia!" cercah Syahal yang meraih bahu Damar.


Dhana dan Wulan saling pandang, tidak heran melihat sikap Syahal yang sangat protective pada adik-adiknya walaupun mereka hanya adik sepupu bagi Syahal. Begitu juga dengan Aiziel, raut wajahnya tampak bertanya-tanya, siapa orang yang telah berani mencelakai adiknya itu.


"Syahil tau siapa orangnya, Mas!!!"


Suara bariton mirip dengan Syahal, sontak menarik perhatian semua mata yang tadinya tertuju pada Damar dan Syahal, kini tertoreh ke arah sosok kembaran Syahal yang masih berdiri di ambang pintu. Sementara Syahil, mulai melangkah masuk, mendekati semua orang yang terheran-heran menatapnya.


"Syahil..." ujar Dhana, Aiziel dan Syahal.


"Mas Syahil..." ujar Damar.


Syahil terus berjalan, mendekati sang uncle yang masih berdiri menatapnya. Sesekali ia menoleh ke arah Aiziel, Syahal, Damar dan Wulan dengan tatapan sendu, tidak terbaca namun masih bisa tertangkap oleh Wulan. Namun tatapan Syahil tertuju pada Damar, memperhatikan perban di dahi kanannya, menandakan kalau yang menjadi korban tabrak lari yang dilakukan oleh Dimas dan Bima adalah Damar, bukan Wulan.


Pasti Damar yang menyelamatkan Wulan saat Dimas datang dan ingin menyerempet Wulan. Awas saja lo, Dim! Lo belum tau siapa gue sebenarnya! Lo sudah salah memilih orang dan lo belum tau dengan siapa lo berurusan saat ini!!! Gue akan membalas lo karena lo berani mencelakai adik-adik gue. Gumam Syahil dalam hati.


"Kamu mau apa datang ke sini?!" serkas Aiziel yang sepertinya masih kesal pada sikap Syahil di rumah sakit kemarin siang.


Syahil tersentak, lamunan untuk memberi sang pelaku tabrak lari Damar dan Wulan buyar seketika dari pikirannya saat Syahal mendorongnya dengan kasar karena kesal.

__ADS_1


"Syahil mau minta maaf, Mas." jawab Syahil yang tertunduk, belum berani menatap mata Aiziel.


Dhana, Damar, Wulan, Aiziel dan Syahal saling melempar pandangan heran, tidak mengerti dengan maksud permintaan maaf seperti apa yang dikatakan oleh Syahil saat ini. Namun seketika raut wajah Syahal yang tadinya mengeryit heran, kini memerah dan langsung meraih kerah baju sang adik.


"Apakah kamu yang sudah menabrak Damar sampai dia terluka seperti itu?" tandas Syahal yang mencekam kerah baju sang adik kembar.


"Mas, Mas... Mas Syahal tenang dulu! Bukan Mas Syahil pelakunya! Damar pun sudah tau, siapa dalang dari semua ini! Tenang, Mas! Jangan emosi!" ujar Damar yang berusaha memisahkan kedua mas kembarnya itu.


Tangan Syahal melemas seketika, menoleh ke arah Damar yang mengusap bahunya, berusaha menetralkan gejolak emosi yang terlanjur memuncak saat mendengar kata maaf dari mulut Syahil secara tiba-tiba.


"Memang siapa orang yang kamu ketahui itu Syahil?" tanya Dhana yang membuka suara setelah sepersekian menit terdiam.


"Bima, Uncle! Dia kapten geng motor Syahil dan Mas Al!!!" jawab Syahil seraya menatap lekat sang uncle, berusaha meyakinkannya.


Damar dan Wulan saling pandang tertegun, tidak percaya kalau Bima yang benar-benar ingin mencelakai mereka walaupun Damar sudah mencurigai anak bangor itu. Bukan mereka, tapi hanya Wulan yang dijadikan pancingan untuk Damar. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah bahwa Aifa'al dan Syahil ikut bergabung dengan geng motor Bima yang memang sejak lama sudah terbentuk.


"Lalu kamu datang ke sini untuk meminta maaf atas nama kapten geng motormu itu?" timpal Syahal yang semakin geram dengan tingkah adik kembarnya itu.


"Bukan, Mas!!! Syahil datang ke sini untuk minta maaf pada Uncle Dhana, Damar dan Adek." jawab Syahil seraya melihat ketiga nama yang ia sebut, lalu menatap Wulan.


Dhana tertegun, menoleh ke arah Wulan yang tak kalah tertegun dari sang papi. Sementara Aiziel, Syahal dan Damar pun juga ikut saling melempar pandangan.


"Ada angin apa tiba-tiba kamu mau minta maaf seperti ini? Setelah kemarin siang di rumah sakit kamu menghina Adek tepat di depan Uncle, bahkan di depan Opa, Oma, orang tua kamu dan orang tua Mas! Lalu sekarang, kamu datang tiba-tiba seperti ini dan ingin minta maaf? Apakah ini salah satu trik dan rencana kapten motormu itu untuk menjebak Damar dan Wulan?" cercah Aiziel seraya menyilangkan kedua tangan di dada.


Syahil tertunduk, sedih sekaligus merasa bersalah atas perkataan yang terlontar di saat ia datang ke rumah sakit bersama Aifa'al. Rasa bersalah yang kian mendera setelah melihat dan merasakan langsung betapa tulusnya hati Wulan padanya tadi malam. Sedangkan Wulan tau bagaimana kebenciannya tanpa alasan selama ini. Syahil beranjak, berjalan mendekati sang adik yang menatapnya berkaca-kaca dan...


Grep!


Wulan terkesiap saat Syahil memeluknya, menumpahkan rasa bersalah yang sejak tadi malam bergelayut di dalam hati, membawa langkah menuju rumah sang oma, membuatnya mengambil keputusan untuk keluar dari geng motor yang sejak beberapa tahun terakhir ini ia ikuti sebagai penghilang rasa suntuk bersama Aifa'al. Syahil menangis, memeluk erat sang adik yang ikut memeluknya tak kalah erat seraya mengusap lembut punggungnya yang naik turun tidak beraturan.


Sesekali Wulan menoleh ke arah sang papi yang mengulas senyum, bahagia melihat salah satu keponakannya yang membenci sang putri, kini telah berubah. Lalu Wulan menoleh ke arah Aiziel, Syahal dan Damar. Aiziel dan Syahal tampak termangu, namun tidak dengan Damar yang menganggukan kepalanya seraya tersenyum bahagia.


"Mas minta maaf, Dek. Selama ini Mas selalu mencaci maki Adek di belakang maupun di depan Adek, bahkan di depan semua keluarga kita. Mas tau, kata maaf tidak akan bisa menyembuhkan luka hati Adek karena hinaan yang Mas lontarkan. Tapi Mas tetap ingin minta maaf, karena sejujurnya Mas sangat menyayangi Adek. Adek adalah adik perempuan Mas Syahil satu-satunya! Tapi karena ego, Mas lupa kalau kasih sayang yang ada di hati Mas untuk Adek, ternyata sangat besar! Mas minta maaf, Dek! Mas benar-benar minta maaf!" tutur Syahil yang masih memeluk Wulan.


Lolos sudah bulir kristal dari mata Wulan, hari ini adalah hari yang selama ini ia tunggu, hari di mana Syahil akan memeluk tubuhnya dengan erat seperti ini, membuat hatinya yang terluka seakan terobati walau tidak sepenuhnya. Seutas senyum terukir indah di wajahnya yang sembap, seakan sebagai pengobat kesedihan hari ini. Tidak hanya Wulan, Dhana dan Damar pun turut terenyuh melihat pemandangan indah itu.


"Syahil... kamu jangan mempermainkan perasaan Adek ya!!! Kalau kamu berniat untuk itu, maka jangan pernah berharap maaf itu akan kamu dapatkan!"


.


.


.


.


.

__ADS_1


Happy Reading All 😇😇😇


__ADS_2