Takdir Si Gadis Bisu

Takdir Si Gadis Bisu
Episode 67 ~ Balada Wanita Dewasa


__ADS_3

...☘️☘️☘️...


Langit yang semula gelap perlahan berubah, meninggalkan bekas cahaya rembulan yang tengah merangkak pergi, membiarkan sang raja pagi bertahta di singgasana, berhiaskan tumpukan awan putih yang mulai menebal.


Suasana pagi yang cerah, tidak secerah pagi yang biasanya dirasakan oleh Aifa'al. Adik bungsu Aiziel itu baru saja sampai, kecepatan motor yang dibawa melambat membuatnya lambat pula tiba di Apartment. Penuturan Syahil seakan memberikan efek samping, membuatnya terdiam, melamun.


"Tidak, tidak!!! Aku tidak boleh seperti ini!!! Kehadiran Wulan hanya sebuah bencana dalam hidupku. Aku harus tetap konsisten dengan pendirianku! Wulan hanya benalu! Dan aku harus segera menemukan anak itu agar aku bisa terbebas lagi seperti semula."


Aifa'al menghela nafas, menetralisir emosi aneh yang menyelimuti hatinya, membuat pria itu bergegas masuk ke Apartment-nya.


"Bima..."


Kepala yang semula fokus menghadap ke arah depan, memperhatikan langkah kaki yang ingin segera masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuh yang lelah seketika menoleh cepat tatkala sudut mata tajamnya menangkap sosok di depan lift Apartment sepagi buta ini, membuat Aifa'al berdecak gemas. Rasa penasaran yang membuncah membuatnya melangkah cepat, mendekati Bima yang hendak masuk ke dalam lift.


"Ck!!! Anak itu memang mencurigakan!!! Kali ini aku tidak boleh kehilangan jejak anak itu!"


Pintu lift terbuka, menuntut Bima segera masuk ke dalam lift itu. Sementara Aifa'al yang bersembunyi tidak jauh dari posisi lift, keluar dari persembunyian, mengeryit heran di saat matanya menangkap angka lantai Apartment tujuan Bima dari layar monitor lift.


"Lantai 10? Lantai 10... itu bukannya lantai Apartment khusus untuk pengguna VVIP? Apa mungkin Bima membeli Apartment di lantai 10? Tapi untuk apa anak itu membeli kamar Apartment di sini, sedangkan rumah mewahnya saja melebihi mewah Apartment ini. Tidak, Bima pasti sedang mengunjungi seseorang di lantai itu. Aku harus mencari tau!!!"


Aifa'al beranjak cepat, memilih lift lainnya untuk mengikuti Bima ke lantai tujuan nan mencurigakan menurutnya. Aifa'al berlari hingga membuatnya masuk ke dalam lift tepat waktu sebelum pengguna di dalamnya menutupnya, membuat nafasnya terengah.


Tidak sampai 5 menit, pintu lift terbuka di lantai tujuannya. Aifa'al bergerak, berjalan keluar seraya mengendap, memperlambat langkah agar tidak menimbulkan suara, menoleh ke arah kanan dan kiri, mencari sosok Bima yang sedang diikuti. Namun tiada siapa pun yang terlihat, membuatnya bergerak lebih cepat, menyusuri tiap lorong yang ada. Cahaya lampu yang temaram dengan suasana hening, membuat Aifa'al bergidik ngeri saat berada di lantai asing yang baru pertama kali ia jajaki. Lantai 10 Apartment merupakan lantai di mana hanya orang-orang kelas atas yang menghuninya.


Aifa'al terus mengedar hingga matanya menangkap sosok yang tengah ia ikuti. Bima, pria itu tengah berjalan di salah satu lorong Apartment dengan cepat, melihat ke belakang sesekali, seakan takut ada orang yang akan mengikutinya. Melihat sosok itu, seringai tipis Aifa'al terbit, membuat langkah yang terhenti kembali bergerak lebih cepat, tidak ingin sasarannya hilang dalam sekejap.


"Apartment siapa yang sebenarnya Bima datangi? Kenapa aurahnya menyeramkan sekali? Kalau bukan karena ingin membuat namaku bersih di depan Uncle Dhana, aku tidak akan mungkin mau melakukan hal ini. Sangat membuang waktuku saja!!!"


Aifa'al berdecak, melangkah lagi agar lebih dekat dengan pintu kamar yang baru saja Bima kunjungi. Mata tajamnya mengedar, memperhatikan setiap sudut lorong untuk memastikan tidak ada kamera CCTV yang dapat menangkap keberadaannya. Setelah memastikan semuanya aman, Aifa'al yang cukup cerdik dalam hal-hal berbau seperti ini kembali bergerak leluasa di depan pintu Apartment yang didatangi oleh Bima.


"Unit 10 A No. 12!!! Kira-kira siapa orang yang menghuni kamar misterius ini? Aku harus mencari tau lebih lanjut."


Aifa'al mengeryit, memikirkan sesuatu yang bisa dilakukan untuk mengetahui penghuni yang ada di dalam sana. Seraya mengedar, mencari jalan keluar dengan taktik jitu yang pastinya akan lebih aman untuk diri sendiri.


"Yes... ruang kamera CCTV!!!"


Hingga akhirnya mata tajam pria tampan berstatus sebagai adik bungsu Aiziel itu melihat sebuah pintu yang tertulis dengan tulisan ruang kamera CCTV, membuatnya tersenyum tipis, melangkah lebar menuju ruangan yang tidak terlalu jauh dari kamar tujuan Bima untuk menemukan jawaban semua pertanyaan di dalam kepalanya itu.


Ceklek!

__ADS_1


Pintu ruangan kamera CCTV itu akhirnya terbuka, setelah beberapa kali Aifa'al membunyikan bel hingga keluar seorang wanita dewasa yang dipercaya sebagai pengamat sekaligus penjaga ruangan ini. Wanita itu memgeryit, menatap heran pria muda asing yang ada di depannya saat ini, menelisik penampilan pria asing di depan matanya dari atas sampai bawah. Sungguh, membuat Aifa'al bergidik ngeri dan risih.


"Maaf anda siapa?" tanya wanita itu.


"Hmmm... begini Mbak, saya adalah salah satu penghuni di Apartment ini. Kebetulan kamar saya ada di lantai bawah dan saya ada keperluan mendesak yang membawa saya ke sini. Apakah Mbak yang cantik ini bisa membantu saya?" tutur Aifa'al, gugup namun sebisa mungkin untuk menetralisir kegugupan dalam dirinya.


"Anda ada perlu apa ya?" tanya wanita itu.


"Seperti ini Mbak, saya ingin menemukan kamar sahabat lama saya yang kebetulan saya sempat melihatnya masuk ke dalam Apartment ini. Saya juga sempat mengikuti sahabat saya itu, tapi saya kehilangan jejak sahabat saya, Mbak. Jadi saya ingin minta tolong sama Mbak cantik, bisakah Mbak membantu saya untuk menemukan kamar sahabat saya itu melalui kamera CCTV?" tutur Aifa'al yang berbohong besar demi melancarkan aksi, membuka kedok Bima.


"Maaf ya Mas, tapi kamera CCTV untuk lantai ini sifatnya privasi! Tidak sembarang orang yang bisa melihatnya, sekali pun itu sahabat atau pun keluarga! Jadi maaf ya, saya tidak bisa membantu!" jawab wanita itu.


Wanita itu berbalik, berniat untuk masuk, melanjutkan pekerjaan kembali. Namun langkah wanita itu terhenti tatkala tangan kekar Aifa'al meraih tangannya dengan sigap, menarik tangan wanita itu hingga membuatnya menabrak dada bidang Aifa'al. Seringai tipis terbit di bibir Aifa'al, membuat pikiran jahat melintas di benaknya seketika.


Ck!!! Kalau bukan karena ingin menemukan di mana Damar dan Wulan, sekaligus ingin membersihkan namaku di depan Uncle dan Mas Ziel, aku malas sekali meladeni wanita tua ini. Ck!!! Aku benar-benar risih dengan keadaan seperti ini. Dan kenapa wanita tua ini sekarang malah jadi senyum-senyum? Menjijikkan sekali wanita tua ini. Gumam Aifa'al dalam hati.


Manik wanita dewasa itu seketika berbinar terang, bak sinar matahari yang menyinari bumi setelah tertutupi awan hitam nan tebal, menatap lekat manik Aifa'al yang memeluk tubuhnya, namun wanita dewasa itu tidak menyadari bahwa Aifa'al sedang berusaha mengelabui dirinya. Licik sekali ternyata!!!


"Mbak cantik sekali jika dilihat dari dekat seperti ini. Sayang loh, kalau kecantikan Mbak ini tidak bisa digunakan untuk saling membantu sesama yang sedang kesulitan. Mbak tega, membiarkan saya yang sangat tampan ini kesulitan mencari sahabat saya? Saya punya utang budi loh sama sahabat saya itu! Kalau Mbak tidak mau membantu saya, Mbak dosa loh karena Mbak sudah membiarkan saya hidup di dalam jeratan utang budi. Mbak cantik mau kena dosa?" tutur Aifa'al yang tengah merayu wanita itu.


Raut wajah wanita itu seketika berubah menjadi sendu, menarik tubuhnya keluar dari kungkungan tangan Aifa'al. Matanya masih menatap lekat Aifa'al yang sesekali memalingkan wajah, memutus sambungan tak kasat mata yang menghubungkan matanya dengan mata wanita dewasa itu.


"Baiklah, saya akan membantu Mas. Ayo, ikuti saya!!!" jawab wanita dewasa itu yang sepertinya berhasil terkena hipnotis Aifa'al.


"Kalau saya boleh tau, Mas tampan ini sempat melihat sahabatnya di mana ya?" tanya wanita dewasa itu dengan lembut, sangat berbeda dengan saat pertama ia bertemu dengan Aifa'al, dingin dan jutek.


Aifa'al mendengus kasar, bergidik ngeri tatkala melihat tatapan wanita dewasa itu, membuatnya takut dibandingkan dengan bertemu dengan sosok berbaju putih yang selalu gentayangan di pohon beringin.


"Hmmm... saya melihatnya masuk ke lift, Mbak. Setelah saya mengikutinya dan sampai di lantai ini, saya rasa dia berada di dalam salah satu unit kamar di lorong ini." jawab Aifa'al yang gugup, takut jika wanita dewasa itu malah jatuh cinta padanya.


"Baiklah, Mas. Coba Mas lihat komputer ini! Komputer ini menangkap 5 kamera CCTV dari 5 unit kamar sekaligus yang ada di lorong ini. Siapa tau saja sahabat Mas ada di dalam salah satu kamar ini. Silakan Mas!" tutur wanita itu dengan lemah lembutnya.


Aifa'al tersenyum geli, mendengus kesal di dalam hati, mengutuki dirinya sendiri yang sudah berbuat ceroboh, mengelabui wanita dewasa itu dengan cara yang sangat intim, hingga kini wanita itu jatuh hati padanya.


Tidak ingin berlama-lama di dalam ruang kamera CCTV ini, Aifa'al menoleh, menatap lekat layar komputer yang memperlihatkan beberapa kamera CCTV unit kamar lantai 10. Menelisik satu per satu rekaman itu, mencari Bima yang masuk ke salah satu unit kamar.


Bima... dengan siapa dia duduk di ruang tamu unit Apartment itu? Sial!!! Orang itu membelakangi kamera dan hanya si Bima yang bisa kulihat. Siapa pria yang duduk membelakangi kamera CCTV itu? Ahhhh, kalau seperti ini bagaimana caranya aku bisa menemukan Damar dan Wulan. Ck! Gumam Aifa'al dalam hati.


Aifa'al mendengus samar, mengepal kuat tangannya, emosi karena tidak bisa melihat dengan jelas siapa sosok pria yang duduk bersama Bima di salah satu unit Apartment.

__ADS_1


"Mbak... boleh saya minta rekaman CCTV ini? Saya ingin membuat kejutan spesial di dalam unit Apartment sahabat saya. Jadi saya butuh rekaman ini untuk melihat lebih jelas bagaimana keadaan di dalam sana." tutur Aifa'al yang menurunkan gengsi lagi, membujuk wanita itu yang sejak tadi tidak lepas menatapnya penuh damba.


"Untuk Mas yang tampan ini apa sih yang tidak saya lakukan. Bahkan jika Mas ingin semua rekaman di lantai ini, pasti akan saya berikan." jawab wanita dewasa itu seraya memainkan kedua alisnya dengan manja.


Sungguh, baru kali ini Aifa'al berinteraksi langsung dengan seorang wanita dewasa yang usianya tampak lebih jauh di atasnya, bertingkah genit, merayu lawan bicaranya seperti sekarang ini, apalagi jika lawannya itu adalah sosok pria tampan seperti Aifa'al. Membuat hati wanita itu berbunga-bunga, namun tidak dengan Aifa'al yang bergidik ngeri, menghindar sejauh mungkin darinya.


Tanpa membuang waktu, Aifa'al yang tidak ingin berlama-lama langsung memberikan flashdisk pada wanita itu. Dan untung saja, wanita itu tak kalah cepat menyalin rekaman kamera CCTV itu dan memberikannya pada Aifa'al dengan senyuman indah merekah, membuat Aifa'al bergidik ngeri sekali lagi.


"Terima kasih ya, Mbak. Semoga kebaikan Mbak dibalas oleh Sang Pencipta. Semoga Mbak selalu sehat dan segera menemukan pasangan hidup yang baik. Terima kasih..." tutur Aifa'al yang tersenyum lalu beranjak.


"Tunggu Mas..." sahut wanita itu.


Aifa'al memicing terkejut, menghentikan langkah yang baru saja menapak di luar pintu, membawa tubuhnya berbalik lagi, melihat wanita dewasa itu yang tersenyum genit padanya, membuat Aifa'al ketakutan.


"Saya sudah menemukan pasangan hidup saya, Mas. Orangnya ada di hadapan saya sekarang." tutur wanita itu dengan lembut.


Bagaikan tersengat listrik tegangan tinggi. Perkataan wanita itu sontak membuat bulu kuduk Aifa'al terbangun bersamaan, berdiri tegap seperti pasukan militer yang tengah mengadakan latihan gerak jalan bersama, sukses membuat Aifa'al bergidik lebih ngeri dari pada sebelumnya.


"Mbak pasti akan mendapatkan pasangan hidup yang tampan kok. Dan orang itu......"


Aifa'al mendengus kesal, berusaha melepaskan dirinya dari tangan wanita itu yang sejak tadi bergelayut dengan manja, namun wanita dewasa yang seperti kurang akan kasih sayang dan cinta itu terus saja menempel di tangan kekarnya. Tapi bukan Aifa'al namanya jika menghadapi seorang wanita saja tidak bisa.


"Bukan saya, Mbak! Maaf ya, saya sudah punya istri dan istri saya sudah menunggu saya di rumah. Terima kasih sekali lagi ya!"


Aifa'al berlari kencang tatkala tangannya mulai terlepas dari gelayutan manja wanita dewasa itu, berbalik sesaat sebagai tanda perpisahan seraya melambaikan tangan, mengungkapkan rasa terima kasih walau disertai dengan kebohongan kalau dirinya mempunyai seorang istri. Meninggalkan wanita dewasa itu yang memasang raut wajah kekecewaan berselimut kekesalan.


"Dasar cowok! Semua cowok sama saja! Bersikap manis di saat ada maunya saja! Dasar buaya buntung!!!"


Wanita itu meracau kesal, berbalik arah, masuk kembali ke dalam ruang penjaga kamera CCTV, melanjutkan pekerjaannya yang terabaikan karena ulah pria asing itu. Sementara Aifa'al yang sudah selamat dari gelayutan genit si wanita itu, terduduk lesu di dalam lift, mengatur nafasnya yang tidak stabil, mengutuki diri karena salah memilih solusi, membuatnya berhadapan dengan wanita dewasa yang penuh sikap manja.


"Huff... untung saja rekaman CCTV unit kamar misterius itu berhasil kudapatkan! Selanjutnya, aku harus menunggu Bima turun dan mengikutinya!!! Damar, Wulan... Mas akan menemukan kalian hari ini juga!"


.


.


.


.

__ADS_1


.


Happy Reading All 😇😇😇


__ADS_2