Takdir Si Gadis Bisu

Takdir Si Gadis Bisu
Episode 36 ~ Bertemu


__ADS_3

...☘️☘️☘️...


"Dhana..."


Gibran menggiring matanya, menoleh ke arah sang istri yang memanggil nama itu seraya menunjuk ke sosok di hadapannya saat ini. Dahinya mengerut, heran kenapa sang istri bisa mengenali lawan bicaranya itu, padahal sang istri baru datang setelah beberapa menit berada di kantin.


"Sayang... kamu mengenal Pak Dhana?" tanya Gibran yang cukup penasaran.


Dhana terhenyak, entah kenapa ia merasa sesuatu yang seharusnya tidak ia rasakan, rasa yang dulu sempat bersemayam lama, menempati hatinya yang kosong, bertahta hingga pernah membuatnya merasakan betapa indahnya jatuh cinta di saat remaja. Berbeda dengan Kinan yang hanya diam, berusaha mengikis kecanggungan yang tercipta di antara mereka.


"Dia... dia... dia... teman kuliah aku dulu, Mas." jawab Kinan yang tersenyum kikuk seraya mengalihkan pandangan dari Dhana.


"I-iya, Pak. Kinan ini teman kuliah saya!!!" timpal Dhana yang berusaha mencairkan suasana.


"Ternyata dunia ini sempit ya. Teman lama bisa saja dipertemukan kembali seperti ini. Oh iya Pak Dhana perkenalkan, saya Gibran serta ini Kinan, istri saya dan kepala sekolah Damar dan Wulan. Sayang... ini Pak Dhana, ayahnya Damar dan Wulan." jawab Gibran yang berjabat tangan Dhana seraya meraih pinggang ramping sang istri.


Dhana tersenyum tipis, sedikit menunduk seakan menerima perkenalan itu, menepis setitik rasa yang membuncah tanpa sebab. Sementara Kinan ikut membalas senyum, terlihat sekali di wajahnya yang berusaha keras untuk mengontrol gejolak hati, tidak menyangka kalau Dhana yang sempat ia hubungi tadi, adalah Dhana yang pernah hadir di dalam kehidupannya di masa silam.


Drrrrttt...


Getaran ponsel membuat Dhana dan Kinan tersentak, menghapus bayang-bayang diri yang menari di dalam pikiran. Gibran yang tersenyum ke arah Kinan pun beranjak, menerima telepon yang sepertinya sangat penting dari kolega, meninggalkan Dhana dan Kinan di dalam rasa canggung yang semakin mendera. Sementara Wulan dan Rainar memilih untuk duduk kembali, tidak memperhatikan keduanya, namun melihat gelagat Zivana yang terus melototi mereka.


"Apa kabar Kinan? Sudah lama sekali kita tidak pernah bertemu." ujar Dhana seraya tersenyum tipis.


"Aku baik, Dhana. Aku juga tidak pernah menyangka bisa bertemu dengan kamu lagi." jawab Kinan yang tersenyum kikuk.


"Jadi Pak Gibran orangnya?" ujar Dhana seraya menyelipkan tangannya ke dalam saku celananya.


"Bukan, Dhana. Mas Gibran bukan orang yang pernah aku katakan saat itu. Setelah hari itu, hubunganku dengan dia berakhir. Ternyata dia sudah mengkhianati aku dan menuduh aku yang mengkhianati dia. Aku ingin meminta maaf sama kamu, tapi aku tidak pernah melihatmu lagi setelah kuliah kita sama-sama selesai. Maaf... maaf jika saat itu aku telah menyakiti hatimu, Dhana." tutur Kinan yang tampak berkaca-kaca.


Dhana hanya tersenyum getir, kepingan kenangan masa lalu seakan berputar kembali, membuatnya teringat dengan kejadian di masa silam yang sempat meluluhlantakan hatinya hingga remuk redam tak berbentuk, menyisakan luka yang teramat dalam dan sulit untuk disembuhkan.


"Sayang... ayo kita pulang! Tiba-tiba aku ada keperluan penting dengan kolegaku." ujar Gibran yang datang setelah menerima telepon.


"Tapi kondisi Damar bagaimana Mas?" tanya Kinan seraya melirik Dhana.


"Damar sudah baik-baik saja. Sekarang sudah ada Pak Dhana yang akan menjaga Damar. Jadi kamu tidak perlu repot-repot lagi." ujar Gibran yang mendesak Kinan.


"Benar, Bu Kinan. Sebaiknya anda pulang. Terima kasih karena sudah membawa putra saya ke rumah sakit dan menjaga putri saya sampai saya datang." timpal Dhana seraya melempar senyum yang terkesan dipaksa.


Kinan tertegun, kini panggilan Dhana pada namanya telah berubah, tidak seperti yang sebelumnya. Rasa nyeri di dalam hati pun entah kenapa datang tiba-tiba, mengetahui bahwa sosok yang pernah hadir di masa silam sudah mempunyai dua anak bahkan kembar yang semakin memperjelas status Dhana, bahwa Dhana sudah memiliki istri.


"Ayo, Bunda!!! Zivana sudah lelah di sini!!! Lebih baik kita pulang. Zivana harus mulai belajar untuk ujian besok lusa." timpal sang putri yang ikut mendesak Kinan.


Kinan menghela nafas berat, melihat Dhana yang mengalihkan pandangannya ke Wulan demi menjaga mata dan hatinya yang terus saja bergejolak. Sementara Wulan, melihat gelagat sang papi yang sangat berbeda dari biasanya, gugup dan kikuk tatkala matanya bersiborok dengan mata kepala sekolahnya.


"Baiklah, kita pulang sekarang." ujar Kinan yang akhirnya mengalah dan luluh.


"Pak Dhana... kalau begitu kami pamit pulang dulu ya. Semua urusan Damar di rumah sakit sudah diurus oleh istri saya, sebagai bentuk tanggung jawab sekolah. Saya harap Pak Dhana tidak keberatan." timpal Gibran yang tersenyum pada Dhana.


"Terima kasih, Pak Gibran, Bu Kinan. Saya tidak keberatan jika hal itu sudah menjadi sebuah kewajiban dari pihak sekolah." ujar Dhana yang sedikit menundukan kepala.


"Kalau begitu kami permisi." ujar Gibran.

__ADS_1


Dhana mengangguk, tersenyum, melepas kepergian sepasang suami istri romantis itu, menciptakan rasa nyeri yang tidak mampu ia gambarkan saat ini. Entah rasa apa tapi sangat sulit untuk dihempaskan begitu saja. Namun rasa itu tak berhak ada, tak berhak bersemayam seperti dulu karena semuanya tidak lagi sama.


Sementara Kinan, sesekali ia menggiring mata ke belakang, menatap Dhana yang membelakangi kepergiannya, membuat Kinan tidak fokus ke depan saat berjalan.


Bruk!


Mata yang tidak fokus ke depan membuat Kinan menabrak tubuh seorang wanita, membuat Gibran jengah melihat wanita itu.


"Maaf, Mbak. Saya tidak sengaja. Saya sedang buru-buru. Maaf sekali lagi, Mbak."


Sementara wanita itu bergegas pergi, bukan untuk menghindar namun memang karena buru-buru setelah mendapat kabar buruk.


"Dasar tidak tau adat berjalan! Sebesar ini pintu masuk ke dalam rumah sakit, masih saja dia menabrak istriku!!!" sungut Gibran.


"Sudahlah, Mas. Aku yang kurang hati-hati dalam berjalan. Aku yang lengah dan tidak melihat ke depan." ujar Kinan yang sedang menenangkan sang suami.


Gibran mendengus kesal, matanya masih tertuju pada wanita yang menabrak Kinan saat berjalan masuk menuju rumah sakit.


Wanita itu... kenapa sepertinya aku sangat tidak asing dengan wajahnya? Dia seperti... ah tidak mungkin wanita itu ada di kota ini. Mungkin hanya perasaanku saja. Gumam Gibran dalam hati.


Namun sesaat raut wajah Gibran berubah, tatkala matanya menyipit, berusaha untuk melihat sosok wanita yang menabrak sang istri tanpa sebab. Sementara Kinan yang melihat Gibran melamun, berdecak kesal seraya melambaikan tangannya di depan wajah sang suami.


"Mas... kamu kenapa melamun? Kamu masih kesal dengan wanita tadi? Dia 'kan sudah meminta maaf jadi tidak perlu kita permasalahkan lah, Mas. Kasihan!!! Siapa tau dia memang sedang buru-buru. Ayo, Mas! Malah melamun di depan pintu." ujar Kinan yang berlenggang pergi lebih dulu, menggenggam tangan Zivana.


Gibran tersentak, mengontrol pikiran yang sudah sejak tadi memikirkan hal-hal aneh. Entah apa yang sedang dipikirkan olehnya, namun dengan cepat Gibran beranjak dari posisinya, menyusul sang istri yang sudah berjalan lebih dulu bersama sang putri.


***


"Jangan bersedih lagi ya, Sayang. Mas kembarmu sudah baik-baik saja saat ini."


"Rainar... sebenarnya apa yang terjadi Nak? Kenapa Damar bisa kecelakaan seperti ini?" tanya Dhana yang menatap lekat Rainar.


"Ada seseorang yang ingin mencelakai Damar, Om. Sepertinya dia dendam karena Damar yang berhasil lolos seleksi pemilihan ketua osis, sedangkan dia tidak." ujar Rainar yang menjelaskan semuanya pada Dhana.


"Apa? Jadi Damar lolos seleksi itu? Artinya Damar berhasil menjadi salah satu kandidat yang terpilih?" tanya Dhana yang terkejut.


"Iya, Om. Rainar dan Wulan mencurigai salah satu musuh bebuyutan Damar." ujar Rainar seraya melirik Wulan yang melerai pelukannya dari sang papi.


Dhana tertegun, tidak pernah mengetahui kalau sang putra mempunyai sosok musuh dalam hidupnya, membuat Dhana menatap sang putri. Wulan mengangguk samar, ia merasa tidak enak karena selama ini baik Damar atau pun dirinya sendiri tidak pernah mengatakan hal ini pada sang papi.


"Musuh? Sejak kapan Damar punya musuh?" tanya Dhana yang tampak syok.


Rainar menghela nafas panjang, berusaha menstabilkan pernafasan sebelum memulai cerita yang seharusnya diceritakan Damar. Namun mengingat kondisi Damar saat ini, ditambah lagi dengan rasa geram di dalam hati Rainar yang menyelimutinya sejak awal bertemu, berhadapan dengan rival Damar.


Sesaat Rainar menggiring mata, menatap Wulan yang mengangguk pelan, memberi izin untuk menceritakan semuanya yang pernah diceritakan oleh Damar kepadanya. Rainar menghela nafas lagi, mengangguk pelan, menerima izin lalu menceritakannya.


Dhana menghela nafas kasar, mengusap kasar wajahnya yang tampak syok setelah mendengar cerita Rainar. Tidak menyangka kalau selama ini sang putra memiliki musuh, dan tidak menyangka kalau selama ini sang putri menjadi bahan pembulian di sekolah.


"Siapa yang berani membuli anak Papi? Ayo, Sayang!!! Bilang sama Papi!!! Siapa orang yang berani membuli putri Papi ini?" tanya Dhana seraya menangkup wajah Wulan.


Gadis kecil itu menggeleng cepat, enggan memberitahu sang papi siapa orang yang menjadi biang kerok dari pembulian dirinya. Tidak ingin sang papi tersulut emosi, Wulan meraih note kecilnya, menuliskan sesuatu.


'Orang yang membuli Adek sudah jera, Pi. Jadi Papi tidak perlu khawatir lagi. Karena pembulian itu sudah tidak terjadi lagi pada Adek. Semuanya berkat Mas Damar sama Rainar yang selalu ada di samping Adek'

__ADS_1


Dengan mata yang berkaca-kaca, Wulan memberikan note hasil untaian kalimat itu, membiarkan sang papi membacanya dan berharap agar sang papi tidak memperluas masalah pembulian yang sudah berakhir sejak kesabaran Damar habis di hari itu.


Dhana terhenyak, menatap lekat untaian kalimat yang tidak terlalu panjang itu lalu menoleh ke arah Wulan. Tangannya pun terangkat perlahan, menyentuh wajah itu. Wajah yang selalu menyinari hidupnya, wajah yang selama ini dibenci oleh sang istri, wajah yang selama ini mendapatkan perlakuan tidak baik di sekolah, dan wajah yang tak pernah berhenti menebar senyum.


"Papi minta maaf, Sayang. Karena Papi tidak pernah peka dengan perasaanmu." ujar Dhana seraya mengelus wajah Wulan.


Wulan menggeleng cepat, menggenggam tangan sang papi lalu menciumnya dengan lekat. Seakan memberi isyarat pada sang papi kalau dirinya baik-baik saja, selama ia berada di dekat sang papi dan juga Damar.


Seutas senyum mengembang di wajah Dhana dan Rainar yang melihat tingkah Wulan, menciptakan suasana haru di saat seperti ini.


"Mas Dhana..."


Sahutan suara lembut itu membuyarkan suasana haru yang datang, menggantinya dengan suasana tegang yang kian kentara, membuat guratan wajah Wulan yang ceria, menjadi ketakutan saat melihat kedatangan sang mami. Dhana menoleh jengah, melihat sang istri yang terlihat sangat panik setelah mendengar kabar berita yang ia beritahu.


"Mas... bagaimana keadaan Damar? Kenapa putraku bisa kecelakaan Mas?" tanya Mala yang beruntun, mendesak Dhana untuk segera menjawabnya.


"Damar baik-baik saja!!! Kondisinya sudah stabil. Kamu dari mana saja? Kenapa lama sekali sampai di sini?" jawab Dhana dingin, melontarkan pertanyaan pada sang istri.


"Aku terkena macet, Mas. Karena itu aku terlambat. Tapi kamu belum menjawab pertanyaanku, Mas. Kenapa Damar bisa kecelakaan? Apa yang membuat putraku terluka?" tanya Mala yang penasaran.


Dhana tetap bergeming, melirik sang putri yang tampak panik dan ketakutan. Wulan takut jika sang mami akan memarahinya atas peristiwa tabrak lari yang dialami mas kembarnya itu. Sementara Rainar, tampak mengeryit heran saat melihat tingkah Mala.


"Rainar..."


Seketika mata Mala tertuju pada Rainar, putra Dokter Ronald yang cukup ia kenal, memakai pakaian seragam sekolah yang sama dengan Wulan, membuatnya cukup mengerti dan bergegas mendekati Rainar.


"Rainar... kamu Rainar anak Mas Ronald, bukan? Apakah kamu masih ingat Tante?" ujar Mala yang duduk di samping Rainar.


"Iya, Tante. Aku Rainar dan aku juga masih mengingat Tante." jawab Rainar yang tidak tau kalau Mala membenci Wulan.


"Kalau begitu kamu beritahu Tante ya, Nak. Kenapa Damar bisa kecelakaan?" ujar Mala seraya meraih kedua bahu Rainar.


"Saat kami sedang menunggu taksi di depan gerbang, tiba-tiba ada motor yang ingin menyerempet Wulan, Tante. Damar yang melihat itu langsung menarik Wulan, tapi malah Damar yang terkena serempet." jawab Rainar yang memang masih jujur.


Dhana dan Wulan terperangah, penuturan Rainar yang sangat benar itu menciptakan percikan api amarah Mala. Dhana merasa bersalah karena pasalnya Rainar tidak tau bagaimana hubungan Wulan dengan Mala selama ini, dan ia belum memperingatkan Rainar untuk tidak menceritakan semua ini pada Mala. Namun nasi sudah jadi bubur, penuturan Rainar tidak bisa ditarik kembali.


Wajah Mala memerah, menatap tajam sang putri yang duduk di samping Rainar. Dhana bergegas beranjak, meraih tubuh Wulan dari amukan keji ibu kandungnya yang emosi.


"Wulan tidak salah. Ini murni kecelakaan yang disebabkan oleh musuh bebuyutan Damar. Jadi kamu jangan menyalahkan Wulan!" serkas Dhana seraya melindungi putrinya yang bersembunyi di belakang.


Mala bergeming, tidak mengindahkan perkataan Dhana yang berusaha meredam emosinya yang semakin tersulut, matanya tajam menatap Wulan yang ketakutan. Tangannya mengepal kuat, beranjak dari kursi dan menarik paksa tangan sang putri yang bersembunyi di belakang tubuh sang suami.


"Kamu harus dihukum anak sialan!"


.


.


.


.


.

__ADS_1


Happy Reading All 😇😇😇


__ADS_2