Takdir Si Gadis Bisu

Takdir Si Gadis Bisu
Episode 152 ~ Acara Perpisahan 2


__ADS_3

...☘️☘️☘️...


"Mas... itu Wulan 'kan?"


Dhana yang terperangah pun juga tak menyangka dengan apa yang ia lihat di depan sana. Melihat sang putri berdiri di atas pentas bersama dengan alat musik piano berwarna putih nan mewah.


"Iya, Sayang. Itu putri kita." ujar Dhana.


"Kenapa ada piano juga di sana?" tanya Mala, heran melihat sang putri yang telah duduk di kursi dan siap bermain piano.


"Apa ini kejutan yang dimaksud Adek?" timpal Syahal, bertepuk tangan dengan semangatnya melihat sang adik di sana.


"Bisa jadi, Mas. Tapi sejak kapan Adek pandai bermain alat musik seperti piano?" timpal Syahil, ikut bertepuk tangan.


"Padahal kita tidak pernah melihat Adek bermain alat musik 'kan?" timpal Aifa'al.


"Bahkan Mas juga tidak pernah tau kalau Adek bisa bermain piano." timpal Aiziel.


"Wulan bisa bermain piano Dhana?" tanya Vanny, terperangah melihat keponakannya.


"Dhana juga tidak tau, Kak." ujar Dhana, heran sekaligus terkejut melihat sang putri.


Dhana dan Mala saling pandang. Melihat Wulan di atas sana, sungguh membuat mereka heran. Apalagi di saat gadis kecil itu duduk di depan piano dengan elegant nya, tidak terlihat kegugupan di wajah cantiknya. Hingga akhirnya alunan musik dari piano itu terdengar, menghipnotis semua penonton yang semula bertepuk tangan dengan riuh.


Hening!


Hanya alunan musik yang Wulan mainkan saja yang terdengar saat ini, membuat semua orang hanyut dalam alunan musik permainan jari jemari mungil Wulan. Tanpa sadar, air mata menetes di wajah Mala. Tak menyangka kalau putrinya yang tidak sempurna itu bisa begitu lincahnya bermain piano di depan orang banyak tanpa gugup.


Drap!


Seruan langkah kaki seseorang di atas panggung itu seketika mencuri perhatian mata para penonton. Tak terkecuali juga dengan keluarga besar Dhana yang hadir, saat mata mereka melihat Damar berjalan, mendekati podium yang ada di dekat piano Wulan. Sementara Damar mengulas manis senyumnya yang berbinar. Penampilannya pun juga tak kalah tampan, memakai tuxedo berwarna hitam dengan dasi kupu-kupu di sana, membuat pesona Damar terpancar.


"Surat cinta untuk Mami dan Papi...!"


Ucapan Damar yang berdiri dengan gagah di depan podium itu bergema, membuat Mala, Dhana dan yang lain semakin tidak percaya melihat penampilan keduanya.


"Mami... mungkin hanya surat cinta ini yang bisa Wulan persembahkan untuk malaikat tak bersayap Wulan dan Mas Damar, yaitu Mami dan Papi. Wulan tidak terlalu pandai membuat puisi, hanya ini yang bisa Wulan berikan. Di dalam surat cinta ini, Wulan dan Mas Damar ingin mengatakan bahwa kami sangat menyayangi Mami dan Papi. Terima kasih atas semua perjuangan hebat Mami dan Papi selama ini, mengurus dan menjaga kami sampai kami berada di posisi saat ini. Terima kasih atas kasih sayang yang tidak terkira dari Mami dan Papi untuk kami. Tanpa Mami dan Papi, kami tidak akan bisa sampai di titik ini. Bahagia selalu ya, Mi, Pi. Kami berdua sangat menyayangi kalian."


Mala terisak, mendengar penuturan sang putra yang membacakan surat cinta sang putri, untuknya dan Dhana. Membuat rasa bersalah Mala pada Wulan kembali hadir, menyelimuti hatinya yang tersentuh. Memancing air mata yang lainnya, teringat dengan kisah hidup Wulan yang jauh dari kata sempurna. Dibenci banyak orang dan dibenci oleh ibunya sendiri. Tidak hanya Mala, Aifa'al dan Syahil yang juga pernah membenci sang adik pun ikut menangis.


Prok!


Prok!


Prok!


Sahutan suara tepuk tangan bergema lagi, menyisir langit-langit tenda yang berdiri kokoh di tengah lapangan sekolah. Semua orang pun berdiri, memberikan apresiasi yang sangat besar untuk Damar dan Wulan setelah menghentikan penampilan mereka, hingga memancing semua air mata untuk menetes di tengah keriuhan. Tidak hanya penonton, Damar dan Wulan sendiri pun juga ikut meneteskan air mata penuh haru.


Mereka pun saling berpelukan di atas sana, menumpahkan keharuan yang memenuhi hati mereka di hari spesial ini. Sementara Kinan yang ikut menyaksikan penampilan mereka, ikut menangis haru, teringat akan sesuatu yang membuatnya tau semuanya tentang kemampuan terpendam Wulan.


Satu minggu sebelum acara diadakan, tanpa sengaja Kinan yang baru selesai mengajar, melihat Wulan yang saat itu sedang memainkan piano di ruang musik sekolah, ditemani oleh Damar yang ikut duduk di dalam ruang itu. Membuat Kinan penasaran, hingga ia memutuskan untuk mendengar dan menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana Wulan bermain.


Kinan tercengang, mendengar betapa mahirnya Wulan memainkan jemarinya di atas alat musik itu. Tidak menyangka kalau selama ini, ia sebagai kepala sekolah tidak mengetahui bakat terpendam Wulan yang sangat bagus dan indah. Membuat Kinan kesal sendiri, hingga ia memutuskan untuk memanggil Damar dan Wulan setelah hari itu. Hingga terbongkar lah semuanya di sana, bahwa niat Damar yang ingin sekali mengikuti ajang pemilihan ketua osis saat itu, untuk membantu sang adik agar sang adik bisa bermain piano di acara festival yang akan diadakan. Namun rencana itu sirna dalam sekejap karena Gibran, hingga harapan Damar pun juga ikut musnah. Tapi kini, Kinan memberikan kesempatan itu pada Damar dan Wulan.


Kinan menghela berat, menuntun kakinya melangkah naik ke atas panggung acara.

__ADS_1


"Sebagai kepala sekolah saya sangat bangga pada mereka. Damar Wulan, mereka adalah siswa siswi kebanggaan saya. Damar... dia anak muda yang berani dan tangguh, pelindung adiknya di sekolah. Wulan... dia siswi spesial saya, dibalik jati dirinya yang tidak sempurna, dia memiliki segudang prestasi yang sangat berlimpah. Buktinya hari ini, walaupun dia tidak bisa bicara tapi dia sangat lincah bermain piano. Dan saat ini, saya sebagai kepala sekolah mereka juga ingin mengumumkan nilai UN tertinggi yang berhasil dicapai oleh salah satu siswa dan siswi terbaik di sekolah ini!"


Damar dan Wulan saling pandang, niat mereka yang ingin beranjak dari panggung itu justru ditahan cepat oleh Kinan yang kini tengah merangkul bahu mereka, seakan tak membiarkan mereka untuk pergi sekarang. Sementara Dhana dan Mala juga saling pandang heran, begitu pun dengan Pak Aidi dan Bu Aini, Ammar dan Ibel, Sadha dan Vanny, Aiziel dan Aifa'al, Syahal dan Syahil. Rasa penasaran pun menyelimuti pikiran mereka dan semua penonton yang ada.


"Nilai Ujian Nasional tertinggi berhasil diraih oleh.... Wulan Prasetya Nandala...!!!"


Wulan terperangah, mendengar seruan Kinan yang menyebut namanya dengan sangat kencang, disambut tepuk tangan semuanya, termasuk keluarga yang tak kalah terkejut dengan hal ini, menobatkan dirinya sebagai peraih nilai tertinggi Ujian Nasional tahun ini. Membuat air mata Wulan jatuh seketika seraya menoleh ke arah Damar yang tersenyum bangga padanya.


"Selamat ya, Dek...! Mas bangga banget sama Adek." ujar Damar, tak kalah haru hingga bulir matanya pun turut menetes.


Grep!


Tangis Wulan pecah, memeluk Damar dengan erat di atas panggung acara itu. Sementara Dhana dan Mala yang melihat juga tak kalah terharu, hingga mata mereka pun sudah basah karena menangis terharu sejak tadi.


"Tidak hanya Wulan, nilai tertinggi kedua juga sukses diraih oleh kakak kembarnya, yaitu Damar Prasetya Nandala...!"


Kini Damar yang terperangah, tidak percaya dengan perkataan Kinan yang menatapnya bangga dan haru. Membuat air mata Wulan semakin deras mengalir, mengetahui hal ini.


"Selamat ya, Damar, Wulan. Ibu, sebagai kepala sekolah sangat bangga. Kalian sangat menginspirasi untuk anak muda lainnya di luar sana. Kalian kompak dan saling menyayangi satu sama lain. Semoga kalian sukses di masa depan ya, Nak. Buat orang tua kalian bangga seperti hari ini." tutur Kinan, seraya memberikan sebuah piala beserta piagam penghargaan pada mereka.


"Terima kasih banyak, Bu Kinan. Tanpa jasa Ibu, kami pun tidak akan bisa berada di titik ini. Terima kasih banyak, Bu Kinan." jawab Damar, mewakili kata terima kasih adiknya.


"Sama-sama, Sayang." ujar Kinan.


Damar dan Wulan pun saling melempar senyum, saling mengacungkan piala dan piagam yang mereka dapatkan itu ke atas dengan bangganya, memperlihatkan kalau mereka berhasil lulus dengan nilai terbaik. Membuat Pak Aidi, Bu Aini, Ammar, Sadha, Dhana, Ibel, Vanny, Mala, Aiziel, Aifa'al, Syahal dan Syahil sangat bangga melihat prestasi keduanya yang sangat gemilang.


***


Damar dan Wulan beranjak, keluar dari ruang kerja Kinan, berlari cepat ke arah Dhana dan Mala di depan gerbang sekolah setelah acara perpisahan sekolah selesai.


Grep!


"Papi bangga sekali sama kalian! Kalian berdua adalah malaikat kecil Papi yang sangat berprestasi. Terima kasih ya, Nak." tutur Dhana, mengelus wajah sang putri.


"Mami juga tidak menyangka kalau putri Mami yang cantik ini pandai sekali bermain piano. Maafkan Mami ya, Sayang. Selama ini Mami tidak menjadi ibu yang baik untuk kalian berdua, terutama Wulan." ujar Mala, mengelus lembut pucuk kepala keduanya.


"Mami jangan bicara seperti itu lagi. Mami adalah ibu terbaik di sepanjang masa, sama seperti Oma, Bude dan Bulik. Kalian adalah wanita-wanita tangguh yang pernah kami semua miliki di dunia ini." tutur Damar yang mengulas senyum pada Mala, Ibel, Vanny dan Bu Aini.


"Oma juga bangga sekali. Cucu-cucu Oma semuanya hebat. Oma bersyukur memiliki kalian semua." timpal Bu Aini yang terharu.


"Kalian berdua berhasil mendidik mereka, Dhana, Mala. Sekarang mereka tumbuh menjadi anak-anak yang sangat baik dan manis, berprestasi pula." ujar Sadha, tidak kalah bangga dan terharu dengan hari ini.


"Tidak sia-sia Pakde membatalkan semua jadwal di rumah sakit demi acara kalian ini. Terima kasih ya, Nak. Sudah membuat air mata kami semua jatuh saat melihat kalian tampil tadi. Kalian tau, papi dan onty kalian juga pernah tampil di acara seperti ini loh!" timpal Ammar, mengelus kepala keduanya.


"Benarkah Pi?" tanya Damar, tidak pernah mendengar kisah sang papi dan onty nya yang bagian itu.


"Ck! Kenapa harus membuka lembar lama sih Mas? Itu 'kan sudah lama sekali!" sungut Dhana, melirik jengah sang mas sulung.


"Tapi memang benar 'kan? Ya, walaupun saat itu kamu tidak seperti Damar karena hanya Adek yang mendapat juara umum." jawab Ammar, melirik Sadha yang terkikik.


"Hahahaha... itu artinya, Uncle kalah dong dari Damar. Yang sabar ya, Uncle." timpal Syahal yang mulai kumat lagi penyakitnya.


Gelas tawa pun bergema seketika saat melihat ekspresi Dhana yang berubah pias gara-gara Ammar membuka lembar lama dengan adik kembarnya yang sudah berlalu. Sementara Kinan yang berada di sana juga ikut terkekeh, melihat sendiri betapa hangat dan harmonis nya keluarga besar Dhana.


"Pak Dhana, Bu Mala... saya ucapkan selamat ya, karena putra putri kalian berhasil meraih nilai tertinggi. Saya juga mau minta maaf atas semua yang telah terjadi selama ini karena perbuatan mantan suami saya. Jujur, saya sangat malu sebenarnya. Tapi saya harus tetap berdiri tegar demi Zivana dan sekolah ini. Sekali lagi, saya ucapkan selamat untuk Damar Wulan sekeluarga." tutur Kinan, mengulas senyum ke semua.

__ADS_1


"Semua ini juga berkat bantuan Bu Kinan. Karena masalah ini Bu Kinan juga terbawa ke dalamnya. Terima kasih kembali ya, Bu. Karena sudah mendidik anak-anak saya." jawab Dhana, tersenyum tipis pada Kinan.


"Lalu bagaimana dengan Zivana, Bu? Apakah dia baik-baik saja?" tanya Mala, penasaran dan kasihan pada nasib gadis itu.


"Setelah pemakaman papanya satu tahun yang lalu, saya memutuskan untuk mengirim Zivana ke tempat kakak saya di Yogyakarta. Dia baik-baik saja walaupun awalnya dia memang sempat marah pada saya karena saya yang sudah membunuh papanya. Tapi seiring berjalannya waktu, setelah Zivana tenang, dia kembali masuk sekolah yang ada di sana, kondisinya semakin baik dan dia tidak marah lagi pada saya." ujar Kinan.


Dhana bergeming, begitu pun dengan semuanya yang mengetahui bahwa Zivana adalah putri kandung Mira. Mala pun juga sudah tau tentang hal itu karena selama ini Dhana tidak pernah menceritakan kisahnya dengan Dhina sebelum Mala hadir di dalam kehidupannya.


"Saya juga ingin pamit pada semuanya, karena setelah ini bukan saya lagi yang akan menjadi kepala sekolah di sini. Saya harus lengser dan fokus untuk mengurus Zivana. Malam ini saya akan pergi ke Yogyakarta, menyusul Zivana dan menetap di sana. Sekali lagi saya benar-benar minta maaf, terutama pada Wulan. Karena selama ini, Zivana selalu mengganggu kamu. Ibu harap, kamu mau memaafkan kesalahan Zivana." tutur Kinan, menatap lekat manik Wulan.


Wulan mengulas senyum, mengangguk cepat seraya menggenggam tangan Kinan, seakan menjawab kalau dirinya sudah lama memaafkan semua kesalahan Zivana.


"Terima kasih, Wulan. Kamu baik-baik ya. Ibu sayang sama Wulan." ujar Kinan yang menangkup wajah Wulan.


Wulan mengangguk, air matanya pun kembali menetes. Sementara Kinan memeluk Wulan, sebelum ia pamit pergi.


"Kalau begitu saya pamit semuanya. Assalamualaikum..." ujar Kinan, parau.


"Wa'alaikumsalam..." jawab semuanya.


Kinan pun beranjak, melangkah berat namun tetap harus ia lakukan untuk kebaikan Zivana. Melepas kedudukannya sebagai kepala sekolah, dan berniat fokus untuk mengurus Zivana, putri sambungnya. Membuat Dhana, Mala, Damar, Wulan dan yang lainnya menghela berat. Melihat Kinan yang memilih pergi, menetap di luar kota.


***


Tidak terasa waktu terus berputar hingga malam pun datang. Wulan yang tengah bahagia hari ini duduk di dekat jendela, menghirup angin malam yang berhembus, menjadikan malam ini semakin nyaman untuknya. Sementara semua orang sudah tertidur lelap, terbuai dalam mimpi setelah mengadakan acara makan malam bersama untuk merayakan kelulusan Damar Wulan. Membuat semuanya memilih menginap di rumah ini, merangkai bahagia bersama yang sudah lama hilang karena banyak masalah.


Wulan pun beranjak, mendekati piala penghargaan yang diberikan sekolah padanya. Lama Wulan menatap piala itu, mengucap syukur yang tak terkira dalam hati, membenarkan perkataan seseorang yang pernah ia dengar, bahwa tidak ada ujian yang melampaui batas kemampuan manusia. Membuat Wulan tersenyum getir.


Merasa tubuhnya pun juga lelah, Wulan beranjak. Membawa piala serta piagam yang ada di tangannya menuju lemari. Sepertinya Wulan ingin menyimpan benda sakral itu untuk dijadikan kenangan nanti.


Bruk!


Namun ketika Wulan hendak meletakkan piala dan piagam itu, sebuah kotak kecil berwarna coklat tua jatuh dari atas lemari bajunya. Membuat Wulan terkesiap, lalu meletakkan terlebih dahulu piala dan piagam penghargaan miliknya ke dalam lemari. Setelah selesai, Wulan pun meraih kotak kecil berwarna coklat tua itu dan membawanya duduk di atas tempat tidur.


Perlahan Wulan membuka tutup kotak itu, hingga terlihat lah sebuah gelang di sana. Dahi Wulan mengerut, berusaha mengingat sesuatu yang berkaitan dengan benda itu.


Gelang ini... gelang ini pemberian anak laki-laki yang pernah datang menghampiriku di taman kota waktu itu. Iya, anak laki-laki yang tiba-tiba datang di saat aku sedang duduk dan menangis di taman kota karena Mami meninggalkan aku di sekolah sendiri. Iya, aku baru ingat. Padahal selama ini aku sudah berusaha mencari gelang ini karena aku ingin mencari anak laki-laki itu. Apa dia masih tinggal ada di kota ini? Gumam Wulan dalam hati.


Seketika pandangan Wulan menerawang, teringat dengan kepingan masa kecilnya yang sangat suram dan jauh dari kasih sayang sang mami. Karena Mala selalu meninggalkan Wulan di sekolah sendirian, membuat gadis itu sering mengunjungi taman kota yang tidak jauh dari sekolah.


Taman kota itulah yang menjadi tempat Wulan menunggu sang papi datang untuk menjemput, hingga mempertemukan dirinya dengan seorang anak laki-laki yang usianya 5 tahun lebih tua darinya. Tapi siapakah dia?


Semoga saja dia sehat dan bahagia selalu. Dia anak yang baik. Dan semoga aku masih diberi kesempatan untuk bertemu dengan anak laki-laki baik itu lagi di kemudian hari. Karena berkat dia, aku bisa semangat lagi waktu itu untuk melewati semua masalah. Terima kasih ya, semoga kita bisa bertemu lagi nanti walaupun aku tidak tau kapan. Gumam Wulan dalam hati.


Wulan menghela panjang, lalu menutup kembali kotak kecil berwarna coklat tua berisi gelang itu, meletakkan di bawah bantal tidur, berharap jika ia akan bertemu dengan anak laki-laki itu di dalam mimpi.


...~End~...


.


.


.


.

__ADS_1


.


Happy Reading All 😇😇😇


__ADS_2