Takdir Si Gadis Bisu

Takdir Si Gadis Bisu
Episode 49 ~ Brownies Coklat


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


"Sudah siap semua 'kan Bi?"


Mesin waktu terus bergerak, membawa sang pemilik cahaya pagi beranjak, naik ke atas secara perlahan hingga memberikan sensasi panas pada setiap insan kehidupan yang memiliki kegiatan di luar rumah. Tapi tidak dengan sosok wanita bergelar mami, seperti Mala. Setelah bangun dari tidurnya yang sangat panjang karena efek mabuk berat tadi malam, membuatnya kesiangan.


Mala yang terbangun bergegas menuju dapur, berniat untuk membuatkan sarapan namun sarapan itu sendiri sudah ia lewati. Mala tidak gentar. Melihat keramaian di taman samping yang ternyata ada Rainar, Syahal dan Syahil di rumahnya. Walaupun terlambat membuatkan sarapan, akhirnya wanita itu menggantinya dengan cemilan ringan untuk menemani kegiatan belajar sang putra tercinta bersama sahabat dan para masnya di taman samping.


"Sudah, Non Mala. Sini, biar Bibi saja yang membawanya ke anak-anak." ujar Bi Iyah.


"Tidak perlu, Bi. Biar Mala saja ya. Mala juga ingin melihat Damar dan Rainar belajar di taman samping." jawab Mala yang meraih nampan berisi piring cemilan dan minuman.


Mala tersenyum, membawa nampan itu keluar dari dapur. Meninggalkan Bi Iyah yang meringis getir, menahan rasa sakit di ulu hati tatkala nama Wulan tidak disebut oleh ibunya sendiri.


Kasihan sekali Non Wulan. Mau sampai kapan Non Mala memperlakukan anaknya sendiri seperti itu, bahkan untuk menyebut namanya saja tidak mau. Seberdosa itukah Non Wulan. Gumam Bi Iyah dalam hati.


Butiran air dari telaga bening pun akhirnya jatuh, menatapi punggung majikan muda yang mengingatkan Bi Iyah pada seseorang. Namun apa lah daya seorang ART seperti Bi Iyah. Jika ia ikut campur pun tidak akan bisa menyelesaikan masalah yang sudah bertahun-tahun lamanya menyelimuti rumah sang majikan besar.


Semoga Non Mala bisa kembali menjadi orang yang berhati lembut seperti dulu lagi. Gumam Bi Iyah dalam hati.


Bi Iyah berbalik, melanjutkan tugasnya yang masih banyak. Sementara Mala bergerak cepat, keluar dari dapur seraya membawa nampan berisi penuh dengan makanan dan minuman yang tentunya sangat nikmat.


"Anty..."


Mala terhenti, melihat sang keponakan sulung yang berjalan masuk hendak ke dapur. Mala tersenyum manis, namun dibalas datar oleh Aiziel yang melangkah maju mendekatinya.


"Anty Mala mau ke mana?" tanya Aiziel.


"Anty baru saja membuat cemilan untuk kalian. Maaf ya, Anty kesiangan dan tidak bisa membuat sarapan untuk kalian." ujar Mala dengan manis dan ramah.


"Tidak apa-apa, Anty. Kalau begitu, biarkan Ziel saja yang membawa makanan ini untuk adik-adik. Mereka pasti senang." ujar Aiziel seraya merebut nampan dari sang anty.


"Ya sudah, kalau memang itu yang kamu mau. Makanan dan lima gelas jus buah segar siap kamu bawa ke taman samping." jawab Mala yang tersenyum lebar.


Aiziel terpekur, menggiring matanya ke arah lima gelas jus buah yang berdiri tegap pada nampan di tangannya. Benar saja, kalau jus buah itu hanya lima gelas. Artinya, akan ada satu orang yang tidak mendapatkan jus itu.


"Anty... kenapa jus buah ini hanya lima gelas? Ziel rasa masih kurang satu lagi. Karena ada Rainar juga di taman, Anty." timpal Aiziel yang mendongak kembali.


"Anty tau, Sayang. Jus buah itu untuk Syahal, Syahil, Damar, Rainar dan kamu!!! Sudah pas, bukan?" jawab Mala dengan santai tanpa ada beban sedikit pun di wajahnya.


Aiziel tersenyum miring, mendengus kesal dalam hati. Ternyata dugaan buruk yang berusaha ia hilangkan, sangat tepat pada sasarannya. Sementara Mala masih tetap dengan senyum lebar, tanpa rasa bersalah.


"Tapi Anty..."


"Tolong kamu bawa ke taman ya, Sayang. Anty mau mandi dulu." potong Mala yang meraih bahu Aiziel dan masih tersenyum.


Mala berlenggang pergi, meninggalkan Aiziel yang masih termangu memegang nampan itu. Diremasnya dada yang terasa sangat sesak, mendengarkan perkataan sang anty yang sangat menyakitkan hati. Beruntung, Wulan tidak mendengar perkataan Mala. Kalau tidak, Wulan pasti akan sakit hati lagi.


Aiziel menghela nafas kasar lalu berbalik, hendak menuju taman, menghampiri lagi adik-adiknya yang sedang duduk santai seraya belajar bersama. Namun langkah putra sulung Ammar itu terhenti seketika, tatkala tangan seseorang meraihnya dari belakang.


"Bi Iyah..."


"Ini jus buah untuk Non Wulan. Tolong Den bawakan ke taman ya." ujar Bi Iyah seraya meletakkan satu gelas jus di atas nampan.


"Terima kasih, Bi." jawab Aiziel tersenyum.

__ADS_1


Bi Iyah mengangguk, senyum tulus juga terukir indah di wajahnya yang tidak muda lagi. Memberikan semangat yang sempat terkikis di dalam jiwa Aiziel karena Mala, membuat cucu sulung sang majikan bergegas menyusuri taman, tidak sabar ingin memberikan makanan dan minuman sebagai teman duduk di taman rumahnya.


"Pesanan telah datang!!!"


Sahutan Aiziel disambut hangat oleh kelima adik-adiknya. Dengan berbinar, Aiziel kembali duduk di atas karpet, membagikan satu per satu sembako berupa jus buah segar pada adik-adiknya. Dengan penuh semangat pula, Syahal, Syahil, Damar, Wulan, Rainar dan Aiziel menikmati bersama hidangan di depan mata. Brownies coklat favorit Damar.


"Ummmm... brownies coklat ini enak sekali. Mas Ziel yang membuatnya?" celetuk Rainar yang sangat menikmati brownies itu.


"Ck! Kamu meledek Mas? Mana mungkin Mas membuat brownies coklat seenak ini dalam waktu 10 menit!" sungut Aiziel yang jengah.


"Ya, siapa tau saja Mas Ziel punya sihir." jawab Rainar seraya merotasi matanya.


Aiziel mendengus kesal, masih menikmati betapa lezatnya brownies coklat buatan sang anty yang tak kalah lezat dari buatan sang oma. Sementara yang lainnya, hanya terkekeh geli melihat celetukan keduanya yang receh sekali.


"Siapa yang membuat brownies ini Mas? Rasanya brownies coklat buatan Bi Iyah tidak seenak ini." celetuk Damar yang penasaran.


"Ini brownies buatan mami kamu!!!" jawab Aiziel dengan nada kesalnya, teringat lagi betapa menjengkelkan sikap anty-nya itu.


"Uhuk... uhuk... uhuk..."


Seketika Wulan terbatuk, brownies coklat yang semula mengisi penuh mulutnya, berhamburan keluar tatkala mendengar jawaban Aiziel.


"Minum dulu, Lan!" ujar Rainar yang dengan cepatnya memberikan jus buah pada Wulan.


"Adek kenapa?" timpal Syahal.


Wulan meneguk habis jus yang diberikan oleh Rainar. Menggelengkan kepala cepat sebagai jawaban dari pertanyaan sang mas kembar.


"Mungkin Adek terkejut karena baru sekali ini merasakan nikmatnya brownies coklat buatan Mami, Mas." jawab Damar yang mengerti.


"Sudah ya, Dek. Jangan dipikirkan terus. Kita do'akan saja agar hati Anty Mala bisa terbuka dan kembali seperti Anty Mala yang dulu lagi." ujar Aiziel yang mengelus pucuk kepala Wulan.


"Jangan merasa sendiri ya, Lan. Kita semua akan selalu ada untuk kamu." timpal Rainar seraya meraih kedua tangan sang sahabat.


"Ekhheemm... ada sih ada, tapi tidak harus memegang tangan adikku juga kali, Nar!!!" sungut Damar seraya melirik sahabatnya itu.


Sontak Rainar melepaskan tangan Wulan, memancing gelak tawa semuanya yang ikut melihat betapa meronanya wajah tampan si anak bungsu Dokter Ronald itu. Sementara Wulan juga ikut terpancing, tergelak lepas saat melihat ekspresi sahabat kecilnya itu.


"Damar... mami kamu kapan pulang sih? Kenapa tadi malam sikap papimu sangat aneh saat Mas menanyakan keberadaan istrinya?" tanya Aiziel yang teringat dengan tadi malam.


"Mami pulang di saat Mas Ziel pergi dengan Mas Syahal dan Mas Syahil. Mami.... Mami... Mami pulang dalam keadaan mabuk, Mas!" jawab Damar yang ragu tapi Aiziel harus tau.


"Apa? Anty Mala mabuk?" pekik Aiziel.


Damar mengangguk samar, lalu menoleh ke arah sang adik yang tampak menghela nafas panjang saat mengingat pertengkaran kedua orang tuanya. Sementara Aiziel, Syahal, Syahil dan Rainar saling pandang terperangah. Tidak menyangka kalau sang anty akan melakukan hal yang sangat buruk, bahkan sampai mabuk.


"Uncle Dhana tau?" tanya Aiziel lagi.


Lagi-lagi hanya anggukan samar yang bisa Damar berikan. Kekecewaan pada sang mami masih memenuhi hatinya. Terluka, sebagai putra dari sang mami ia tidak bisa apa-apa. Melihat gelagat sang mas yang hanya diam, Wulan menghela nafas panjang, meraih note kecil yang tergantung di lehernya lalu mulai menulis sesuatu untuk mereka semua.


'Kemarin Mami memang mabuk, Mas. Tapi Adek yakin kalau Mami tidak sengaja minum sampai mabuk. Mami bukan orang yang suka mabuk. Mami orang baik, Mas. Mungkin Mami khilaf karena mengikuti gaya teman-temannya. Mungkin Mami stress memikirkan masalah Mas Damar yang sempat masuk rumah sakit'


Seutas senyum simpul terbit di wajah cantik Wulan. Tangannya terulur, memberikan note berisi untaian kalimat miliknya kepada Aiziel. Syahal, Syahil dan Rainar pun ikut melihatnya, membaca untaian kalimat tulus yang berasal dari dalam hati sosok gadis tak berdosa tapi selalu mendapat perlakuan buruk dari ibunya.


Sungguh... Hati keempat pria tampan yang membaca note kecil Wulan, menghangat tak terkira. Bisa-bisanya Wulan masih membela ibunya yang sangat kejam itu. Namun mereka juga tidak bisa menyangkal, kalau hati Wulan sangat besar dan menerima apapun tindakan sang mami kepadanya selama ini.

__ADS_1


"Mas yakin sekali, Dek. Suatu saat nanti, Anty Mala akan melihat betapa besar dan tulusnya hati Adek. Mas bangga sekali mempunyai adik perempuan seperti Adek. Mas sayang Adek!"


Wulan tersenyum, menghambur ke dalam pelukan sang mas sulung. Menarik kedua sudut di bibir yang lainnya tatkala melihat pemandangan hangat itu. Namun berbeda dengan Syahil yang meneteskan bulir kristal dari matanya tanpa permisi. Merasa bersalah karena selama ini ia tidak mampu melihat dengan hati dan mata terbuka, betapa besar penderitaan sang adik yang hidup di dalam kebencian ibunya. Sungguh, sangat ia sesali.


Tidak ingin air matanya dilihat oleh Aiziel, Syahal, Damar, Wulan dan Rainar, dengan gerakan cepat Syahil menyeka air matanya yang penuh rasa penyesalan itu. Tersenyum getir tatkala melihat Aiziel yang masih erat memeluk tubuh mungil sang gadis kecil.


"Haduh kenapa pada melow seperti ini sih? Brownies coklatnya habis nih, Mas!!! Rainar ingin tambah!!!" celetuk Rainar yang konyol, berusaha memecahkan suasana hati Wulan.


Aiziel terkikik geli, melepaskan perlahan tubuh mungil sang adik dari pelukannya. Sementara Damar, mendengus geli melihat tingkah Rainar.


"Dasar perut gentong!!!" sungut Damar.


"Walaupun gentong tapi banyak yang suka loh, Mar. Bukan begitu Wulan?" jawab Rainar yang memainkan kedua alisnya ke arah Wulan.


"Hei! Kenapa kamu bertanya ke Wulan, hah? Masih bocah sudah pandai bilang suka-suka! Belajar dulu yang benar, baru bilang suka!" sungut Syahal yang menarik telinga Rainar.


"Heee... ampun, Mas!!! Ampun!!! Kalau Mas Syahal tidak melepaskan tangan Mas dari telinga Rainar, nanti bakal Rainar bilangin ke Om Sadha ya!" celetuk Rainar yang menahan perih di telinganya.


"Huuuu... bisanya hanya mengadu, tapi berani mengaku banyak yang suka! Mana ada cewek yang mau sama cowok pengadu seperti kamu." sungut Syahal yang menggoda Rainar lagi.


Rainar mendengus geli, melirik jengah sang mas kembar yang sudah ia anggap sebagai masnya sendiri, sama seperti sang papa yang menganggap Dokter Ronald sebagai masnya.


"Sudah, sudah! Kalian ini kalau sudah bertemu pasti selalu bertengkar! Tunggu ya, Mas ambil dulu brownies coklatnya ke dapur." ujar Aiziel yang beranjak seraya menggelengkan kepala.


Aiziel beranjak, hendak melangkah namun Wulan mencegahnya dengan cepat. Berniat untuk mengambil brownies yang tersedia di dapur dan mengambil alih tugas yang bukan menjadi tugas Aiziel.


"Biar Mas saja, Dek. Adek belajar saja ya." ujar Aiziel seraya mengelus lembut kepala Wulan.


Wulan menggeleng kuat, meraih nampan yang masih berisi piring kosong karena brownies di dalamnya sudah masuk ke dalam perut Rainar. Lalu ia berlenggang pergi, masuk dan bergegas menuju dapur untuk mengambil brownies lagi.


Wulan mengedar pandangan, mencari sang ART yang seharusnya ada di dapur. Namun sepertinya Bi Iyah sedang melakukan kegiatan yang lain sehingga Wulan tidak melihatnya. Dengan cepat dan penuh semangat, gadis itu mengambil semua brownies coklat yang ada. Lalu membawanya ke taman samping untuk dinikmati bersama-sama. Wulan yang terlihat bersemangat, melangkah cepat tanpa melihat langkahnya benar atau tidak. Hingga...


Grep!


Bruk!


Prang!


Wulan tersandung, membuatnya terjatuh dan menumpahkan semua brownies coklat yang akan ia bawa menuju taman. Semua brownies berserakan dengan pecahan kaca dari piring, membuat semua penghuni rumah terperanjat saat suara jatuhnya Wulan dan piring bergema.


"Dasar anak cacat! Kenapa bisa berserakan seperti ini, hah!!! Bangun kamu! Dasar cacat!"


.


.


.


.


.


Happy Reading All 😇😇😇


Maaf ya semua kalau author suka banget menyiksa Wulan melalui tangan Mala 🙏 bagi yang kesal dan marah banget sama Mala, sok atuh dihujat saja wkwkwk tapi jangan sampai bosan ya karena sikap Mala akan seperti ini sampai.... wkwkwk sepertinya sampai tamat deh 😁😁😁 tapi semoga saja author berubah haluan ya, jadi Wulan ngak menderita sampai akhir 😘

__ADS_1


Terima kasih atas dukungan semuanya yang masih setia menunggu kisah hidup si Wulan yang sangat pelik 😘 Percayalah, kalau kisah Wulan hanya ada di dalam halusinasi author dan semoga tidak ada di kehidupan nyata 🙏 jika pun ada, mungkin kisah ini bisa dijadikan pelajaran bahwa setiap anak yang terlahir ke dunia, baik sempurna ataupun tidak, mereka tetap lah anugerah terindah yang Allah SWT berikan 😇 jangan lupa untuk bersyukur dan semoga kita semua selalu diberi kesehatan. Aamiiiin 🙏🙏🙏


__ADS_2