
...🍁🍁🍁...
"Kereta?"
Imam, Damar dan Wulan terlonjak kaget, mendengar suara klakson dan mesin dari kereta api yang akan melintas di atas rel. Membuat ketiganya menoleh ke arah rel, mendapati sebuah kereta api yang cukup panjang melaju dengan sangat kencang.
Mata yang semula tertuju pada kereta, ditolehkan kembali ke arah Gibran, Dhana dan Aiziel yang tengah bernegosiasi. Suara mesin kereta membuat ketiganya tidak bisa mendengar pembicaraan Gibran dan Aiziel. Membuat Imam, Damar dan Wulan saling pandang, penasaran dengan kegaduhan yang Gibran ciptakan lagi di seberang sana.
"Mereka sedang membicarakan apa ya Paman?" tanya Damar yang penasaran.
"Paman juga heran, Damar. Sepertinya Gibran tengah bernegosiasi dengan Ziel." jawab Imam dengan mata tertuju ke sana.
Sementara Imam dan Damar saling bertanya penasaran, sembari memikirkan jalan untuk mendekat ke seberang sana tanpa diketahui oleh Gibran. Namun tidak dengan Wulan yang menangkap gerakan sinyal buruk dari Gibran terhadap sang papi.
Kenapa Pak Gibran menyuruh Mas Ziel berhenti? Padahal sedikit lagi Mas Ziel bisa meraih Papi tanpa harus melawan. Lalu itu apa? Apa yang dilakukan Pak Gibran pada Papi? Ya Allah... kenapa perasaanku jadi tidak enak seperti ini. Gumam Wulan yang terus memperhatikan gerak-gerik Gibran.
Imam, Damar dan Wulan terus memantau, melihat tingkah Gibran yang mencurigakan. Namun sepersekian detik kemudian, mata mereka terbelalak, melihat tindakan kasar Gibran kepada Dhana, mendorong Dhana hingga membuatnya jatuh tersungkur tepat di tengah rel kereta api yang akan melintas.
"Papi..." pekik Damar histeris.
Wulan beranjak, mengambil langkah lebar setelah menoleh beberapa saat ke arah kereta yang akan melintas, berlari menuju sang papi yang tersungkur di tengah rel. Berpacu dengan kencang laju kereta api, dengan sekuat tenaga Wulan terus berlari.
Tut tut tut.....
"Aaaa...." pekik Wulan.
Wulan terengah-engah, membantu sang papi untuk beranjak dalam keadaan terikat, membuatnya sempat kehilangan semangat tatkala bibir kereta api sudah di depan mata.
"Wulan..."
"Aaaa..."
Wulan menghambur, memeluk erat sang papi yang berhasil diselamatkan tepat pada waktunya, lari sekencang angin walaupun tenaganya pun sebenarnya sudah terkuras. Membuat Imam dan Damar yang termangu, sadar. Keberadaan Wulan sudah tidak ada di antara mereka lagi. Mereka pun ikut berlari, mendekati Dhana dan Wulan di tepi rel kereta api yang tengah melaju kencang.
"Adek, Papi..."
Dhana dan Wulan melerai pelukan, melihat ke arah Damar yang tengah berlari kencang disusul Imam di belakangnya, langsung menghambur ke dalam dekapan sang papi.
"Damar, Wulan... akhirnya kalian selamat, Sayang. Maafkan Papi ya, Nak. Papi tidak bisa menjaga kalian dengan baik saat itu." tutur Dhana, memeluk kedua malaikat hati, sang buah hati yang hampir nyaris mati.
Damar dan Wulan mendongak, menatap sang papi yang terisak, merasa bersalah karena gagal menjadi seorang ayah yang seharusnya bisa menjadi pelindung utama.
"Papi tidak salah kok. Damar dan Adek sudah berhasil lolos dari tangan Pak Gibran. Papi jangan merasa bersalah lagi ya." ujar Damar yang menenangkan hati sang papi.
Disambut hangat oleh anggukan Wulan, dengan senyum manis yang merekah di wajahnya. Membuat Dhana dan Damar ikut merasakan kehangatan dari senyuman itu.
"Dhana... syukurlah kamu baik-baik saja." ujar Imam, menepuk bahu sang sahabat.
"Terima kasih karena sudah membantuku untuk menyelamatkan kedua anakku ini, Mam." jawab Dhana seraya mendongak.
"Aku ini paman mereka!!! Jadi itu semua sudah menjadi kewajiban untukku, Dhana." ujar Imam yang tersenyum lega dan syukur.
"Sekali lagi terima kasih, Mam." ujar Dhana.
Imam mengangguk, menepuk kecil bahu sang sahabat, membantunya berdiri lagi, melihat laju kereta api yang sangat cepat, tidak terbayang jika Wulan tidak bergerak cepat untuk menyelamatkan jiwa sang papi.
Setelah sepersekian detik kereta pun pergi, menghilang dari pandangan setelah sukses membuat jantung hampir copot dari posisi. Cahaya lampu yang tidak terlalu terang, membuat mereka tetap berada di posisi, memantau gerak-gerik Gibran yang licik.
***
"Uncleeeeee..."
Aiziel meraung, menangis penuh sesal ketika melihat secara langsung sang uncle didorong kasar oleh bede*bah tengik itu, terlindas kereta api yang melaju kencang. Teringat pada sang daddy, oma dan sang opa di rumah, membuat darahnya semakin mendidih, menoleh ke arah Gibran yang kini sudah meringkus sang anty dari belakang.
"Dasar bajingan!!! Kau sudah membunuh uncle ku dengan sadis!! Terkutuk lah kau!" tandas Aiziel yang meraung marah, siap untuk menerkam Gibran sekarang juga.
"Stop!!! Berhenti di tempat semula atau wanita ini akan mengalami nasib yang sama seperti nasib suaminya! Hahahaha... hari ini memang menjadi hari keberuntunganku!!!" ujar Gibran yang semakin menggila di sana.
Aiziel mendengus, amarah yang ditahan sejak tadi terasa percuma, membuatnya semakin sesak. Menatap tajam Gibran di depan sana, mencengkram sang anty dari belakang dengan menodong pistol seperti yang dilakukannya pada Dhana.
"Ziel..."
Aiziel menoleh cepat, menangkap tiga sosok pria yang berlari cepat ke arahnya.
__ADS_1
"Paklik, Syahal, Syahil..."
"Di mana uncle mu?"
Aiziel terdiam, memancing air mata untuk kembali mengalir, mengingat sesuatu yang telah menimpa sang uncle secara tragis.
"Ziel... ke mana uncle mu?" tanya Sadha.
"Iya Mas, Uncle di mana?" timpal Syahil.
"Mas kenapa diam saja?" timpal Syahal.
Aiziel masih bungkam, menahan sesak di dada yang kian mendera, menahan bulir yang terus mengalir tanpa izin tapi susah. Mendongakkan kepala setelah menunduk sesaat, menatap lekat Sadha, Syahal, dan Syahil yang menunggu penjelasannya.
"Hoho... sepertinya anak muda itu tidak sanggup lagi untuk berkata-kata. Karena uncle kesayangannya sudah mati dilindas kereta api yang baru saja melintas pergi!" timpal Gibran berseru, tergelak kemudian.
Sadha, Syahal, dan Syahil menoleh cepat, membidik Gibran yang semakin tidak waras dengan tatapan intimidasi, sembarangan dalam bicara di saat otak dan hatinya tidak stabil karena tersulut dendam, membuat Sadha naik darah dalam sekejap mata.
"Ziel... katakan Nak!!! Apa yang terjadi? Di mana uncle mu? Kenapa kamu sendirian?" tanya Sadha yang meraih kedua bahu Aiziel.
"Uncle... Uncle... Uncle didorong oleh pria itu ke rel saat kereta akan melintas, Paklik." jawab Aiziel yang tercekat, menahan sesak.
Sadha, Syahal dan Syahil terperangah bukan main. Mengedar sesaat ke arah rel, mencari keberadaan Dhana, seperti yang dikatakan Aiziel. Membuat Sadha gelisah.
"Maksud kamu apa Ziel?" tandas Sadha.
Aiziel terisak hebat, rasa bersalah kembali datang menghampiri jiwa, berselimut duka. Tidak sanggup mengatakan kebenarannya pada sang paklik yang merupakan kakak dari sang uncle, teraniaya hingga terbunuh.
"Uncle terlindas oleh kereta itu, Paklik." jawab Aiziel, menunduk lemah, tak kuat menahan beban hati dan rasa bersalah di waktu yang bersamaan.
"Tidak!!! Tidak mungkin!!! Tidak mungkin Dhana pergi secepat itu! Kamu pasti salah! Itu bukan Dhana, Ziel! Dhana tidak mungkin pergi meninggalkan kita secepat ini!" tukas Sadha yang berusaha meyakinkan dirinya.
"Tapi itulah yang terjadi, Tuan! Adik anda yang bernama Dhana itu sudah menyusul adik kesayangannya ke neraka! Saya juga ikut menyaksikan kepergiannya sejak tadi!" timpal Gibran yang tergelak tanpa dosa.
Bathin menjerit perih, tidak percaya akan akhir yang berujung kematian, membuat amarah yang terpendam berkobar, mata yang memerah menahan tumpukan bulir menoleh, menatap tajam ke arah Gibran yang masih tergelak puas, mencengkram adik iparnya yang masih diam tak bersuara, menghina kedua adik kembarnya di depan mata.
"Lebih baik kalian semua pulang! Proses pemakaman Dhana harus dijalankan biar anak itu tidak gentayangan! Hahahaha..."
***
Rombongan mobil Polisi berhamburan, datang bersama Aifa'al yang memakai motor dari depan. Melaju kencang dari kantor polisi setelah membuat laporan penculikan dan penyekapan terhadap diri sendiri beserta adik-adiknya, memberikan bukti yang ada pada dirinya, bekas luka di tangan dan wajah gusar yang menghitam karena asap kebakaran. Tanpa menunggu lagi, pihak kepolisian langsung memproses kasus, bergerak menuju lokasi sesuai yang terdeteksi oleh GPS ponsel lamanya dengan keberadaan Aiziel yang pernah terhubung.
"Apakah kamu yakin di sini?" tanya Polisi.
"Saya yakin sekali, Pak. Bapak bisa lihat, keempat mobil yang terparkir itu? Tiga di antaranya adalah mobil keluarga saya!!! Saat ini mereka pasti sedang berhadapan dengan si penculik, Pak!" ujar Aifa'al yakin.
"Kalau begitu kita harus cepat! Ayo!!!" seru Polisi yang lambang Bripka di bagian bahu, berseru kuat memerintahkan bawahannya.
Sekitar 10 orang Bripda Polisi yang siap melakukan pergerakan, di bawah perintah Bripka semuanya langsung bergerak maju, menyisir semua titik yang ada, memastikan kalau tersangka penculikan tidak kabur.
Sementara Bripka dan 10 Bripda bekerja, Aifa'al pun ikut beranjak. Namun pergi ke sisi lain yang menurutnya akan ampuh di saat seperti ini, berpencar dan melakukan rencana dadakan di saat keadaan genting bila diperlukan tanpa harus berpikir panjang.
***
Sadha mendengus marah, menatap tajam Gibran yang bergerak semakin jauh seraya mengunggkung Mala dari belakang.
"Apa yang anda inginkan?" tanya Sadha.
"Tidak terlalu sulit! Cukup tinggalkan kami berdua dan kalian pulang ke rumah." ujar Gibran, masih menodongkan pistolnya.
"Itu tidak akan terjadi!" seru Sadha.
"Kalau begitu, wanita ini akan bernasib sama seperti suaminya! Kita tunggu saja sampai kereta berikutnya datang." jawab Gibran yang mengedar, dengan seringai.
Tangan Sadha mengepal kuat, Gibran tak sebodoh yang ia pikirkan, terus mengulur waktu untuk kabur dengan membawa Mala. Sementara Aiziel, Syahal dan Syahil terdiam di tempat. Mendapati hadangan dari Sadha untuk tidak ikut campur, takut jika suatu saat Gibran akan melakukan rencana yang lebih.
"Jatuhkan senjatamu!!!"
Sadha, Aiziel, Syahal dan Syahil terlonjak. Menoleh cepat ke sumber suara, melihat rombongan Polisi bergerak maju secepat kilat, meluncurkan satu peluru ke arah lain sebagai tanda peringatan pertama untuk tersangka. Sementara itu, Gibran terkejut. Mendapati beberapa orang Polisi datang, meringkus kedua bodyguard nya yang masih tergeletak pingsan di atas tanah.
"Peringatan terakhir!!! Cepat jatuhkan senjatamu dan lepaskan wanita itu!!!" seru Bripka kepolisian dengan sangat tegas.
Alih-alih menjawab, Gibran justri semakin gencar menodong Mala dengan pistolnya, bergerak mundur selangkah dua langkah, menjauhi jangkauan polisi yang bekerja.
__ADS_1
"Kalian semua mundur!!! Atau wanita ini akan mati!" seru Gibran, semakin nekat.
Kepolisian terpaksa mundur, mengikuti permintaan Gibran yang menggila demi keselamatan tawanan. Tetap memantau, menunggu sampai tersangka lengah dan siap untuk diringkus.
"Siapa yang sudah berani melapor Polisi? Siapa?!" tandas Gibran yang tampak lebih mengerikan dari sebelumnya.
Sadha, Aiziel, Syahal dan Syahil saling melempar pandang, memastikan siapa di antara mereka yang sudah melaporkan hal ini pada Polisi tanpa adanya kesepakatan, membahayakan nyawa Mala yang masih di dalam cengkraman tangan Gibran yang gila.
"Tetap diam di sana! Jangan ada yang bergerak untuk menyelamatkan wanita ini!" tandas Gibran seraya menodongkan pistol.
Semua Polisi bergeming, tidak ada yang melakukan pergerakan tanpa arahan, tidak ingin mengancam nyawa orang yang sudah terancam, tetap tenang saat menjalani misi.
Bugh!
Sret!
Bruk!
Satu pukulan kuat mendarat tiba-tiba di belakang Gibran, mengenai tengkuk leher, membuatnya jatuh tersungkur sangat keras. Pistol yang digenggam ikut terlempar jauh, memberikan kesempatan yang tepat untuk Aifa'al bergerak. Menarik tubuh sang anty lalu memberikannya kepada Sadha, Aiziel, Syahal dan Syahil yang masih terperangah, tidak menyangka dengan tindakan Aifa'al dengan gerakan kilat, membuat Mala yang masih syok terkejut, membuatnya pingsan begitu saja di tangan sang kakak ipar.
Grep!
Cekrek!
Aifa'al bergerak cepat, mengambil pistol Gibran yang tercecer, menodongkan ke arahnya yang masih tersungkur di tanah. Mencegah Polisi untuk bertindak sekarang hanya dengan satu tangan yang terangkat.
"Saya yang telah melaporkan anda ke Polisi!!! Anda mau apa?" tanya Aifa'al.
Gibran pun mendongak, melihat Aifa'al dengan tatapan sinis, mengepal tangan seraya mengutuki diri, marah dan bersiap untuk melakukan planning selanjutnya.
"Kamu lagi!" tandas Gibran.
"Kenapa? Anda terkejut melihat saya di tempat ini? Anda pikir, saya sudah mati? Hahaha... tidak semudah itu, Pak Gibran!" jawab Aifa'al yang tergelak, puas melihat tampang tersudut Gibran.
"Dasar bocah ingusan!" tukas Gibran.
Aifa'al berdecak, memalingkan wajahnya sesaat, lalu berjongkok di depan Gibran.
"Hati-hati, Al!" seru Aiziel dari belakang.
"Tenang, Mas. Tua bangka ini perlu Al berikan pelajaran karena sudah berani menculik Damar dan Wulan!!!" ujar Aifa'al, mengelus wajah Gibran dengan pistolnya.
"Jangan sombong kamu, bocah!!!" seru Gibran yang mendengus, seperti banteng.
"Bukan kah anda yang sombong? Tolong ingat, Pak Gibran!!! Saya tau semua, saya tau siapa saja orang-orang anda! Jangan pernah mengganggu keluarga uncle saya lagi! Kalau tidak, Pak Gibran yang sangat terhormat akan merasa malu karena kalah berhadapan dengan saya!!!" seru Aifa'al, menyeringai tak kalah licik dari lawannya.
Gibran mendengus kesal, menatap tajam lawannya yang hanya lah seorang bocah nakal, membuat darahnya mendidih hebat. Aifa'al beranjak, setelah memberi tepukan peringatan pada Gibran, menoleh ke arah Polisi yang sudah menunggu masa kerjanya.
Mengulas senyum pada Sadha, Aiziel dan kedua adik kembarnya yang masih terpaku. Menatapnya tidak percaya, berselimut haru setelah mendengar pembelaan yang keluar dari bibirnya untuk Damar, terutama Wulan.
"Tangkap dia, Pak! Dan pastikan orang ini membusuk di dalam penjara selamanya!!!" seru Aifa'al yang menyeringai tipis.
Bripka Polisi mengangguk, memberikan arahan langsung pada seluruh bawahan yang tersisa setelah beberapa orang lainnya sukses meringkus kedua bodyguard Gibran.
Grep!
Hap!
Aifa'al yang menoleh tak kunjung berbalik melihat Gibran, membuatnya lengah sesaat, memancing seringai bersamaan dengan rencana licik yang terlintas, beranjak gesit tanpa mengeluarkan suara, meringkus Aifa'al yang lengah lalu menodong pistol.
"Berhenti! Atau bocah ini akan mati!"
.
.
.
.
.
Happy Reading All 😇😇😇
__ADS_1