
...☘️☘️☘️...
Hantaman kuat daun pintu kamar Aifa'al membuyarkan lamunan Wulan, tersentak tatkala mendengar suara keras itu seakan menyuruhnya untuk segera pergi dari sini. Bulir kristalnya pun jatuh tanpa permisi, membasahi wajahnya yang sangat kacau.
Namun pandangan mata Wulan tiba-tiba tertuju pada kotak obat yang tergantung di dekat dapur, membuat ingatannya kembali berputar saat teringat dengan sesuatu yang sempat terjadi pada Syahil sebelum mereka berhasil melarikan diri dari preman mesum.
Wulan pun menyeka air matanya, lalu beranjak mendekati kotak obat yang ada di dekat dapur. Tangan mungilnya pun terulur, menjangkau beberapa obat-obatan seperti obat merah, kapas dan alkohol lalu berjalan menghampiri Syahil yang termenung.
"Haa... Adek! Eh, maksud Mas, Wulan!" pekik Syahil yang terkejut saat tangan Wulan menyentuh bahunya.
Wulan tersenyum getir, berusaha menerima kenyataan kalau Syahil masih sama seperti dulu. Belum bisa menerimanya sebagai adik bahkan hanya sekedar adik sepupunya. Lalu Wulan meraih tangan Syahil, membawanya ke ruang tamu dan duduk. Entah apa yang terjadi pada seorang Syahil setelah kejadian tadi, hatinya menghangat di saat tangannya menggenggam tangan Wulan tanpa sadar, membuatnya luluh dan mengikuti sang adik.
Syahil pun duduk di atas sofa, tangannya yang berdarah karena terjatuh saat berlari menyelamatkan diri dari preman, diobati Wulan. Dengan penuh kelembutan, gadis bisu yang ada di hadapannya kini tampak sibuk membersihkan dan mengobati luka berdarah di tangannya, membuat hatinya menghangat lagi. Namun seketika Syahil sadar, teringat dengan perkataan Aifa'al.
"Sudah, tidak perlu kamu obati. Aku bisa sendiri nanti!" serkas Syahil yang menarik tangannya dari paha sang adik.
Wulan terhenyak, perkataan Syahil kali ini tidak selembut tadi, membuat air matanya menumpuk di pelupuk mata, menatap lekat wajah sang mas sepupu yang memalingkan wajahnya ke arah lain. Hening, menyelimuti keduanya yang duduk di ruang tamu.
Namun bukan Wulan namanya jika untuk menyelesaikan masalah ini saja tidak bisa. Wulan mencari secarik kertas dan pena, yang bisa berguna untuknya saat ini dan mengatakan sesuatu pada Syahil.
Srek!
Entah kertas kosong dari mana ia dapat, Wulan bergegas menulis sesuatu untuk Syahil. Sementara Syahil masih terdiam.
'Maaf, Mas. Adek mengerti sekali kalau sebenarnya Mas Syahil dan Mas Al masih belum bisa menerima Adek di sini maupun di dalam keluarga kita. Tapi Adek mohon, izinkan Adek untuk mengobati luka yang ada di tangan Mas Syahil sebagai ucapan terima kasih Adek, karena Mas Syahil dan Mas Al sudah menyelamatkan Adek'
Setelah menuliskan beberapa kata yang terbingkai menjadi kalimat, ungkapan tulus dari hati untuk sang penolong malam ini, Wulan pun memberikan secarik kertas itu pada Syahil yang enggan melihat dirinya. Sementara Syahil yang melihat kertas itu pun terdiam, hati dan pikirannya seakan berperang hebat saat ini.
Apakah ia harus membaca kertas itu atau membiarkannya. Namun lagi-lagi, nalurinya muncul tatkala sudut matanya menangkap Wulan yang menatapnya penuh harapan. Akhirnya, Syahil meredam egonya yang tinggi dan membaca isi kertas itu. Seketika hatinya kembali menghangat saat untaian kalimat yang ada di atas kertas putih itu ia baca. Tapi perkataan Aifa'al saat di dapur tadi terngiang lagi di telinganya, membuat Syahil dilema dan menghela nafas panjang.
"Baiklah, Mas akan membiarkan Adek untuk mengobati luka Mas. Dan setelah ini, Adek akan Mas antarkan pulang ke rumah. Saat sampai di rumah nanti, papa Mas yang akan mengantarkan Adek pulang." tutur Syahil.
Seutas senyum bahagia dan haru pun terbit di wajah cantik Wulan, bulir kristal pun jatuh di saat mendengar penuturan Syahil. Lalu...
'Terima kasih, Mas. Terima kasih. Adek tau kalau Mas Syahil dan Mas Al adalah orang yang berhati lembut. Terima kasih atas kesempatan ini, Mas. Adek sayang Mas Syahil dan Adek juga sayang Mas Al'
Untaian kalimat baru ia sodorkan lagi pada Syahil, memancing kedua sudut bibir untuk terangkat dan menciptakan senyum manis nan tipis yang masih bisa dilihat oleh Wulan.
Tanpa berpikir panjang lagi, Wulan meraih tangan Syahil, melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda karena si pemilik tangan dirundung rasa dilema. Namun Wulan tidak ingin memaksakan diri dan berusaha untuk berdamai dengan ego yang menginginkan Syahil dan Aifa'al berubah dengan cepat.
***
__ADS_1
Malam nan pekat dengan hembusan semilir angin yang kian hadir menambah dinginnya suasana. Mesin waktu terus berputar namun mata yang sangat mengantuk, menuntut diri untuk tetap berjaga di malam nan sunyi.
Setelah berkali-kali mengelilingi ruas jalan kota, Sadha memilih untuk segera pulang, membawa sang adik dan sang keponakan yang sudah terlelap. Saat sampai di rumah, Sadha membawa Damar masuk ke dalam kamar, menidurkannya yang sudah terlelap selama pencarian adik kembarnya.
Begitu juga dengan Aiziel yang memilih untuk tetap berada di sini sampai sang adik ditemukan. Aiziel membaringkan tubuhnya di atas sofa ruang tamu, melepaskan rasa penat yang sejak tadi bergelayut di tubuh. Ditemani Syahal yang enggan untuk masuk ke dalam kamarnya.
Sementara Vanny juga tertidur duduk di sofa, menyandarkan kepala yang terasa berat seraya menemani sang suami dan adik iparnya, menunggu Wulan yang bisa saja akan pulang ke rumahnya walaupun hanya sekedar harapan. Berbeda dengan Sadha yang tidak bisa berdiam diri sejak sampai di rumah. Melihat Dhana yang terus berdiri di teras rumah, membuatnya cemas.
"Dhana... masuklah ke dalam! Angin malam tidak baik untuk kesehatanmu!" tutur Sadha.
Dhana tetap bergeming, matanya yang sembap dan terlihat berat terus menatap lekat ke arah langit, berharap kalau Sang Pencipta langit dapat mendengar isi hati yang sedang dirundung kegelisahan dan kekecewaan secara bersamaan. Melihat sang adik yang tetap diam, Sadha yang mencemaskan kondisinya pun beranjak, mengambil langkah lambat menghampiri Dhana.
"Dhana... kamu baik-baik saja? Mas sangat mengerti dengan perasaan kamu sekarang, tapi setidaknya kamu harus tetap sehat dan kuat untuk melewati semua ini, demi Wulan!"
Masih sama, Dhana tetap bergeming, diam seribu bahasa seraya menatapi langit yang semakin tampak hitam dan memekat. Tapi Sadha tidak pernah kehabisan cara untuk membujuk adik kembarnya itu, kedekatan keduanya dari sejak kecil sampai detik ini, membuat Sadha paham betul dengan sifat sang adik.
"Mas yakin kalau Wulan akan baik-baik saja di luar sana. Dia bukan kabur, tapi dia butuh waktu untuk menenangkan diri. Hati putrimu itu terluka karena perkataan istrimu, Dhana!"
Mendengar kata istri yang terucap dari bibir sang mas tengah, sedikit mengusik hatinya, membuat mata yang tadinya menatap lekat ke arah langit kini menoleh ke arah Sadha. Seutas senyum lega pun terbit di bibir Sadha tatkala melihat sang adik yang menoleh.
"Mas selalu berdo'a agar masalah yang kamu lalui saat ini berakhir secepatnya dan Wulan bisa merasakan kasih sayang ibu kandungnya. Setiap masalah itu pasti mempunyai jalan keluarnya, Dik! Kita sudah pernah melalui masalah yang begitu pahit di dalam hidup kita, bukan? Dan kita mampu melewati semua itu bersama-sama. Kamu jangan pernah merasa sendiri karena Mas akan selalu ada di pihak kamu." ujar Sadha seraya mengusap lembut punggung Dhana.
"Menangis lah, Dhana! Jangan kamu tahan lagi semua kesedihan dan kepiluhan hati yang kamu pendam sendiri. Ada Mas dan Vanny di sini. Menangis lah! Tumpahkan semua yang membebani hati dan pikiran kamu." tutur Sadha yang memeluk Dhana.
Dekapan pun bersambut hangat, penuh kasih dan sayang seorang kakak kepada adiknya. Sampai detik ini, walaupun usia yang tak muda lagi, menangis sesegukan di dalam pelukan orang tersayang merupakan salah satu andalan terbaik, melepaskan isi hati yang teramat rumit, melepaskan rasa sesak yang menyempitkan dada. Namun sejurus kemudian, Dhana terkesiap tatkala mendengar penuturan sang mas tengah.
"Mas... kata-kata itu..." ujar Dhana yang masih sesegukan namun berusaha untuk tenang dan menghentikan tangisnya.
"Iya, Mas ingat sekali dengan kata-kata yang baru saja Mas katakan. Kata-kata yang pernah diucapkan Mas Ammar saat kita bertiga melihat secara langsung betapa hancurnya hati Adek ketika rambutnya yang hitam panjang harus dipotong habis sampai botak. Kata-kata yang Mas Ammar katakan itu, terlontar sehari sebelum kepergiannya." potong Sadha yang ikut meneteskan bulir kristal dari pelupuk matanya.
Dhana terhenyak, seketika memori di masa itu kembali berputar di dalam otak, membuatnya teringat dengan sosok cantik yang sempat menemuinya sesaat, sebelum tangannya melayang, hampir menampar wajah Mala di kala emosi yang memuncak.
"Bicara tentang Adek, saat Dhana hampir menampar Mala, Dhana sempat melihat sosok arwah Adek di dekat tangga rumah kita, Mas." ujar Dhana yang menerawang.
Sadha terperangah, terkejut mendengar kejujuran sang adik yang hampir kehilangan kendali dan menampar istrinya sendiri.
"Apa? Kamu hampir menampar istrimu?" serkas Sadha yang terkejut mendengar itu.
"Dhana emosi, Mas. Kesabaran Dhana benar-benar sudah terkuras habis selama ini. Dhana berusaha untuk tetap bertahan dengan sikap Mala terhadap Wulan. Tapi semuanya sia-sia. Kebencian Mala terlalu besar pada putrinya dan karena itu Dhana hampir menampar wajahnya. Kemunculan Adek yang tiba-tiba menyadarkan Dhana, Mas." jawab Dhana seraya memalingkan wajahnya ke arah lain.
Kini Sadha yang terdiam, ingatannya pun ikut berputar tatkala teringat kejadian tadi siang di rumah sakit. Karena emosi, Sadha menampar wajah Aifa'al dan melanggar sebuah janji yang sempat ia katakan dulu.
__ADS_1
"Kamu beruntung, Dhana. Karena arwah Adek berhasil menyadarkan kamu yang terbawa emosi. Tidak seperti Mas. Rasa bersalah karena menampar Al tadi siang, masih Mas rasakan sampai saat ini." ujar Sadha yang ikut menerawang.
"Tapi semua itu bukan kesalahan Mas sepenuhnya, bahkan Mas Ammar dan Kak Ibel tidak keberatan sama sekali. Jangan terlalu memikirkan hal itu, Mas. Dhana tau kalau Mas bukan merasa bersalah pada Al, melainkan karena janji Mas pada Adek. Iya 'kan?" tutur Dhana yang kini semakin tenang.
"Adek pasti kecewa sama Mas." jawab Sadha yang menatap langit penuh bintang.
"Tidak akan, Mas. Adek pasti mengerti dengan situasi Mas saat itu. Lagi pula menampar anak-anak sesekali tidak apa lah, Mas. Biar ada efek jera yang tertanam dalam diri mereka dan membuat mereka sadar dengan perbuatannya sendiri." ujar Dhana seraya menyilangkan tangannya.
Suara kekehan Sadha yang menerawang pun terdengar lirih di telinga Dhana. Tapi masih bisa ia dengar dengan sangat jelas.
"Semoga saja Adek tidak marah ya, karena Mas menampar pipi keponakannya." jawab Sadha yang berusaha memecah suasana.
Seutas senyum terukir di bibir kedua pria tampan itu, keduanya saling tersenyum lega, melupakan sejenak masalah yang ada dan bersenggama di depan teras rumah. Namun dinginnya malam tidak dapat dibohongi, membuat keduanya memilih untuk masuk.
Brum!
Brum!
Brum!
Suara halus dari mesin motor yamaha Nmax hitam yang baru saja masuk ke pekarangan rumah pun menarik perhatian, Sadha dan Dhana menggiring matanya cepat ke asal suara itu, melihat sosok pria yang sangat mereka kenal masuk seraya memboncengi seorang gadis kecil di belakangnya. Mata kedua pria tampan anak Bu Aini terbelalak serentak, menatap nanar sosok gadis yang mereka cari sejak tadi, kini telah kembali.
"Wulan..."
.
.
.
.
.
Happy Reading All 😇😇😇
Bagi yang ingin kepo dengan perkataan Sadha di atas, boleh kok diintip ke novel author di sebelah 🥰 ada di episode 202 tepatnya, itung2 buat nostalgia 😁😁😁
Alhamdulillah, sudah episode 30 berkat dukungan kalian semua 🤗🤗🤗 author bocil yang masih harus banyak belajar ini merangkak untuk mengetik kata demi kata 🥲🥲🥲 maaf ya kalau masih banyak typo atau malah membuat kalian bosan 🥺🥺🥺 atau malah ngak nyambung karena author masih belajar untuk merangkai kata-kata, semoga kalian semua suka sama hasil dari ketikan tangan author bocil ini 😅😅😅 iya, author masih bocil kok 🤭🤭 bocoran usia author, hmmm.... sama dengan usia Dhina di novel sebelah kok 😜😜😜 masih bocil 'kan? iya bocil yang beranjak dewasa 😂😂 ya ampun, garing amat ya, maaf semua 😘
Terima kasih author ucapkan untuk para sahabat di mana pun kalian berada 🥰🥰 semoga kesehatan dan kelancaran rezeki selalu tercurahkan untuk kita semua 😇😇 terima kasih karena masih setia bersama author dan Wulan😘 semangat dan safe healthy semua kesayangan kuuuu😘😘😘
__ADS_1