Takdir Si Gadis Bisu

Takdir Si Gadis Bisu
Episode 102 ~ Berita Pagi


__ADS_3

...☘️☘️☘️...


"Syahil... Syahil buka pintunya!!!"


Suasana pagi yang seharusnya tenang, berubah menjadi huru-hara karena ulah Syahal yang terbangun. Bergegas keluar dari kamar menuju ke kamar sang adik seraya membawa benda pipih di tangan, melangkah lebar selebar mungkin demi bisa menjangkau pintu kamar sang adik yang ia jadikan sasaran amukan di pagi yang cerah.


"Syahil! Buka pintunya! Woi!"


Syahal terus berkoar, mengetuk daun pintu kamar sang adik dengan membabi buta, tidak menghiraukan suaranya yang sangat keras akan mengganggu ketenangan orang seisi rumah, membuatnya terlihat seperti orang yang tengah dikejar oleh sosok setan.


Ceklek!


Pucuk dicinta ulam pun tiba. Akhirnya daun pintu yang sudah menjerit kesakitan sejak tadi karena menjadi sasaran amukan absurd tangan Syahal, terbuka jua. Memperlihatkan wajah Syahil yang masih terlihat mengantuk. Mata yang masih memicing dibawa paksa mendekati pintu, tidak tahan dengan suara sang kembaran yang absurd, berkoar-koar memanggil namanya seperti orang yang tengah kebakaran jenggot.


"Ada apa sih Mas? Berisik banget!"


"Ada berita yang menggemparkan!!!"


"Ck! Paling juga gossip 'kan?"


"Bukan gossip! Lebih dari itu!"


Syahil mendengus samar, tidak bisa lagi menahan kantuk yang masih membujuknya untuk kembali ke tempat tidur. Sementara Syahal terlihat gelisah, uring-uringan saat membaca sebuah judul berita di ponselnya.


"Berita kebakaran?"


"Bukan!"


"Gempa bumi?"


"Bukan!"


"Tsunami?"


"Bukan, Ya Allah!!!"


"Ada maling di komplek?"


"Ya Allah Gusti... bukan adikku!!!"


Syahil berdecak kesal, menyandarkan tubuhnya yang masih setengah sadar ke daun pintu lalu mengusap kasar wajahnya.


"Terus berita apa Mas? Syahil malas, ah!!! Syahil masih mengantuk!!! Palingan berita gossip!!! Dasar rusuh!!! Mengganggu tidur orang saja!" sungut Syahil, menutup pintu.


"Tunggu dulu! Kamu harus baca berita ini!" serkas Syahal, mencegah pintu yang akan tertutup lagi.


"Syahil lagi malas baca, Mas!" ujar Syahil.


"Tapi kamu harus baca dulu!" ujar Syahal.


"Mas Syahal saja yang baca!" ujar Syahil.


Syahal mendengus gemas, melepaskan pintu yang sudah terbuka lebar, disandari tubuh Syahil yang masih setengah sadar hingga menabrak dinding di belakangnya.


"Cepat Mas!!!" seru Syahil, tak sabar.


"Ck!!! Tunggu!!!" jawab Syahal, kesal.


Syahal menggiring mata, melihat ke arah layar ponsel yang terkunci. Membuatnya gelisah seketika, mengingat berita heboh yang sukses menghilangkan rasa kantuk.


"Serangan gas air..."


Drap!


"Kalian ini kenapa sih ribut terus!?"


Baru saja ingin membaca berita, ucapan Syahal sukses terpangkas oleh si pemilik suara absurd yang tak lain dan tak bukan suara sang mama. Membuat Syahal memicing gemas, menoleh ke arah sang mama yang datang bersama sang papa.


Sementara Sadha dan Vanny melangkah lebar, menghampiri anak kembarnya yang telah menciptakan keributan di pagi hari.


"Mas Syahal nih, Ma!!!" seru Syahil.


"Apa ada Syahal?" tanya Vanny.


"Ada apa Sayang! Bukan apa ada!" timpal Sadha, membenarkan pertanyaan Vanny.


"Oh iya, maaf typo Mas." jawab Vanny.


Syahal menghela nafas geram, melihat tingkah sang mama yang sudah cantik namun pikirannya masih melayang jauh. Sementara Sadha dan Syahil hanya bisa geleng kepala, melihat cengir kuda Vanny.


"Ada apa Syahal? Kenapa suara kamu terdengar panik seperti itu?" ujar Sadha, menelisik raut wajah sang putra kembar.


"Ada berita heboh, Pa!" jawab Syahal.

__ADS_1


"Dari tadi berita heboh terus!" umpat Syahil.


"Memang berita heboh apa?" timpal Vanny.


Alih-alih menjawab, Syahal yang sudah terlanjur kesal justru mendengus, tangan yang masih memegang ponsel terulur ke arah sang papa, seakan meminta papanya untuk melihat dan membaca sendiri berita heboh yang ia maksud sejak tadi.


Sadha yang heran pun menerima ponsel itu dari tangan sang putra, lalu membukanya.


"Serangan gas air mata yang terjadi secara tiba-tiba, menyerang seisi bangunan kantor polisi, menyebabkan sepuluh orang tahanan di dalam sell berhasil melarikan diri!!!"


Rasa kantuk yang masih bertengger di pelupuk mata seakan terbang ke nirwana, bersama dengan keterkejutan Syahil saat mendengarkan penuturan sang papa, membacakan sebuah artikel berita yang Syahal maksud sejak tadi, membuatnya bergegas mendekati sang papa, melihat layar ponsel sang mas kembaran untuk memastikan jika berita itu memang benar.


"Kejadian ini terjadi di saat malam sedang larut. Di mana penjagaan mulai renggang akibat banyaknya petugas kepolisian yang sedang melakukan operasi di lapangan, hingga menyebabkan penjagaan melemah. Diduga peristiwa ini terjadi karena adanya salah satu oknum yang sedang berusaha melarikan diri, memanfaatkan situasi yang tengah terjadi. Dari sepuluh orang tahanan yang berusaha kabur, hanya satu yang kini masih dalam proses pencarian. Tahanan dengan nomor baju 25, atas nama Gibran Athaariq yang terjerat kasus penculikan dan penyekapan anak di bawah umur, hingga kasus percobaan pembunuhan, berhasil lolos dari kejaran Polisi. Saat ini kepolisian sedang mengusut kasus ini dan mencari keberadaan tahanan yang berhasil kabur."


Sadha yang membaca artikel, terbelalak. Menoleh ke arah Vanny dan Syahil yang tak kalah terkejut bukan main. Nama seseorang yang hampir membuat salah satu anggota keluarganya terancam, diberitakan kabur!!!


"Ini benar atau hanya berita hoax?" tanya Sadha, mendadak pias saat melihat berita.


"Itu sungguhan, Pa! Karena itu Syahal jadi heboh sejak tadi. Si Gibran tua ****** itu kabur dari penjara saat kejadian nahas itu!" jawab Syahal, menatap lesu sang papa.


"Ini bahaya, Mas! Orang itu bisa menculik Damar dan Adek lagi! Atau bisa jadi, lebih buruk dari yang kita duga!!!" timpal Syahil.


"Ck!!! Sekarang baru kamu bilang bahaya!!! Tadi ke mana saja!!!" umpat Syahal, jengah.


"Yee!!! Syahil 'kan tidak tau!" sungut Syahil.


"Sudah, sudah!!! Kenapa kalian jadi ribut? Lebih baik sekarang kalian hubungi Uncle Dhana, beritahu dia tentang berita ini!" timpal Vanny, menengahi kedua putranya.


Syahal mengangguk, mengambil kembali ponsel dari tangan sang papa yang turut mengulurkan, mencari nomor sang uncle yang saat ini tengah berada di rumah sakit. Sementara Sadha, Vanny dan Syahil yang sedang tidak memegang ponsel hanya bisa melihat Syahal.


"Bagaimana Syahal?" tanya Sadha.


"Tidak diangkat, Pa!" jawab Syahal, lesu.


"Hubungi Damar!!!" seru Sadha.


Syahal mengangguk, kembali fokus pada layar ponsel dan mencari nomor sang adik.


"Bagaimana?" tanya Sadha.


"Malah tidak aktif." jawab Syahal.


"Damar pasti belum memegang ponsel. Ponselnya 'kan masih sama Uncle sejak Damar dan Adek diculik waktu itu!" timpal Syahil, teringat dengan ponsel sang adik.


Sadha pun bergeming. Berita heboh yang datang tidak tau waktu hari ini membuatnya cukup gelisah, takut jika sewaktu-waktu Gibran akan bertindak bodoh lagi seperti kemarin, tidak hanya mengancam nyawa sang adik dan adik ipar, namun juga bisa mengancam nyawa anak-anak yang secara tidak sengaja sudah terlibat dalam masalah.


Sementara Vanny, Syahal dan Syahil saling pandang, cemas setelah mendengar berita.


"Hubungi Al! Iya... hubungi masmu!" seru Sadha, terpekur sesaat sebelum teringat nama sang keponakan.


"Good idea, Pa!!!" timpal Syahil, setuju.


Syahal pun memfokuskan pandangan matanya pada ponsel lagi, mencari nama sang mas tengah untuk segera diberitahu tentang berita heboh yang mungkin masih belum tersebar luas di media.


"Assalamualaikum Mas..." ujar Syahal.


"Wa'alaikumsalam... ada apa Syahal?" tanya Aifa'al.


"Ada berita heboh, Mas!" seru Syahal.


"Berita apa?" tanya Aifa'al, penasaran.


"Gibran kabur dari penjara!" jawab Syahal.


Tidak ada jawaban apapun dari Aifa'al di balik telepon, membuat Syahal mengeryit heran, menuntun matanya untuk menoleh, melihat Sadha, Vanny dan Syahil yang ikut mengeryit heran melihat ekspresi anehnya.


"Mas... masih di sana 'kan?" tanya Syahal.


"I-iya! Nanti Mas hubungi kamu lagi!" seru Aifa'al, menutup telepon secara sepihak.


Syahal mendengus gemas, mendapatkan respon dingin dari Aifa'al, menutup telepon sebelum mengucapkan salam terlebih dulu.


"Kenapa Mas?" tanya Syahil, heran.


"Mas Al aneh!!!" ujar Syahal.


"Aneh bagaimana?" tanya Vanny.


"Dingin banget jawabannya." jawab Syahal.


"Kita harus ke rumah sakit! Uncle kalian harus tau berita ini!" timpal Sadha, panik.


"Tapi kita ada meeting di kantor, Mas." timpal Vanny, mengingatkan sang suami.

__ADS_1


Sadha berdecak gemas, lupa kalau ada jadwal meeting lagi dengan klien pagi ini.


"Papa sama Mama pergi saja ke kantor! Masalah ini biar Syahil dan Mas Syahal yang memberitahu Uncle di rumah sakit!" timpal Syahil, paham dengan kesibukan keduanya.


Sadha dan Vanny saling pandang, seakan tengah berdiskusi, menyetujui atau tidak usulan dadakan dari sang putra kembar.


"Tapi kalian harus hati-hati ya! Jujur, Papa sangat khawatir dengan situasi seperti ini!!! Kalian semua sudah terlibat! Saat ini Gibran pasti sedang merencanakan sesuatu untuk menyerang lagi! Gibran pasti ingat dengan wajah kalian! Kalian harus waspada, Nak!!!" ujar Sadha, mencemaskan kedua putranya.


"Papa tenang saja. Syahil dan Mas Syahal bisa jaga diri. Kami akan saling melindungi." jawab Syahil yang bersikap lebih tenang.


"Syahil benar, Pa!!! Lagi pula ini masalah Uncle Dhana, berarti masalah kita juga 'kan? Papa dan Mama yang selalu mengatakan itu pada kami. Apapun itu masalah keluarga, kita harus menghadapinya bersama-sama." timpal Syahal, meyakinkan sang papa.


Sadha menghela nafas berat sesaat, lalu menoleh ke arah Vanny yang mengusap lembut lengannya, menenangkan hatinya yang tengah dilanda rasa gelisah. Seutas senyum manis pun terlukis di wajah Vanny, mengangguk kecil seakan menyetujui apa yang kedua putra kembarnya katakan tadi, membuat Sadha sempat gamang. Namun sebagai kakak, ia juga tidak bisa melepas tangan begitu saja dalam masalah adiknya.


"Ya sudah... Papa serahkan semuanya sama kalian hari ini! Tapi cepat beritahu Papa kalau ada perkembangan tentang berita Gibran! Kita semua harus hati-hati." tutur Sadha, mengingatkan semuanya.


"Siap Bos! Papa dan Mama juga hati-hati! Jangan lupa beritahu Opa, Oma, dan juga Pakde Ammar." jawab Syahil yang hormat.


"Mereka semua biar jadi urusan Papa." jawab Sadha, tersenyum pada putranya.


Syahal-Syahil mengangguk semangat, beranjak pergi ke kamar masing-masing, bersiap untuk pergi ke rumah sakit untuk memberitahu sang uncle tentang Gibran. Sementara Sadha dan Vanny juga sudah pamit, beranjak lalu berangkat ke kantor.


***


"Al... maksud perkataan Bima tadi apa?"


Tangan yang masih menggenggam erat ponsel baru itu seketika terjatuh, lemas setelah mendapat kabar dari sang adik di balik telepon, membenarkan seruan Bima yang belum lama pergi dibawa oleh Polisi, bahwa Gibran benar-benar melarikan diri.


"Al... kamu kenapa Nak?" tanya Imam.


"Yang dikatakan Bima benar! Gibran kabur dari penjara, Mas!!! Gibran kabur, Paman!!!" jawab Aifa'al, menoleh ke arah keduanya.


"Mas tidak percaya, Al!" ujar Aiziel.


Aifa'al bergeming, menarik tangan yang masih menggenggam ponsel mendekati mata, memainkan jari yang sangat lincah untuk mencari sesuatu di dalam ponselnya. Berita heboh yang sempat dikatakan sang adik, masih terngiang-ngiang di telinganya.


"Mas baca sendiri berita ini!" seru Aifa'al.


Aiziel mengeryit heran, menerima uluran tangan sang adik yang memberikan ponsel padanya. Lalu membaca judul artikel berita yang tertera jelas di layar utama, dengan format bold dan ukuran yang cukup besar, membuat mata Aiziel dan Imam yang sejak tadi penasaran pun terbelalak sempurna.


"Gila!!! Gibran benar-benar nekat!!! Dia bukan manusia, tapi iblis!" umpat Aiziel.


"Kita harus ke rumah sakit, Mas! Uncle Dhana harus melihat berita ini!!!" timpal Aifa'al, cemas dan teringat sang uncle.


"Ya sudah... kalau begitu sekarang kita ke rumah sakit dulu untuk memberitahu uncle kalian!" seru Imam, menyetujui saran Aifa'al.


Aiziel dan Aifa'al mengangguk serentak, menuntun kaki selebar mungkin untuk melangkah, berjalan lebih dulu di depan sang paman yang tiba-tiba menghentikan langkah, menekan perut yang tiba-tiba didera kesakitan, membuatnya tersimpuh dan meringis menahan sakit yang teramat.


"Tuan... anda tidak apa-apa?"


Imam mendongak, pandangan yang mulai kabur membuatnya kesulitan untuk dapat melihat dengan jelas orang di sampingnya.


"Tolong panggilkan anak saya!" lirih Imam, menunjuk ke arah pintu utama Apartment.


Lelaki berseragam OB itu menoleh, melihat sekitar untuk mencari anak yang dimaksud, hingga mata menangkap dua anak laki-laki yang tengah berjalan cepat menuju tempat parkir. Lelaki berseragam OB pun beranjak, meninggalkan Imam yang tampak semakin pucat, menahan sakit yang semakin larut.


Astagfirullahalazim... sakit sekali ya Allah. Apakah sudah waktunya aku harus pergi? Tapi bagaimana dengan masalah yang tengah dihadapi oleh keluargaku saat ini. Gumam Imam dalam hati yang meringkuk.


Rasa sakit kian menjalar, keringat dingin sudah mulai membanjiri wajah pucat Imam, membuatnya semakin meringis, meringkuk, berusaha menghilangkan rasa sakit yang lebih parah dari sebelumnya. Namun rasa sakit semakin mempermainkan, membuat pandangan mata menjadi kabur dan gelap.


Bruk!


"Tolong! Ada orang pingsan!" seru security yang berjaga di dekat pintu masuk utama.


Semua orang beranjak seketika, dalam waktu singkat mereka sudah mengelilingi Imam yang pingsan tak sadarkan diri.


"Itu Mas di sana!" seru lelaki berseragam OB, menunjuk kerumunan orang banyak.


Aiziel dan Aifa'al melangkah lebar. Tidak mendapati keberadaan sang paman saat kaki hampir menginjak bibir tempat parkir, membuat keduanya heran dan khawatir. Namun kedatangan lelaki berseragam OB membuat mereka terhenyak dalam sesaat, sebelum mengambil langkah lebar, masuk ke Apartment, menghampiri sang paman.


Aiziel dan Aifa'al menelusup, masuk di sela-sela kerumunan orang yang masih berkumpul, mengitari sosok yang tengah pingsan. Saat mereka berhasil menelusup, mata yang semula biasa kini terbuka lebar.


"Paman..." pekik Aiziel dan Aifa'al.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Happy Reading All 😇😇😇


__ADS_2