Takdir Si Gadis Bisu

Takdir Si Gadis Bisu
Episode 100 ~ Hancur!!!


__ADS_3

...☘️☘️☘️...


Duuaarrr!


Dentuman suara petir di tengah malam terdengar nyata, bersamaan dengan kalimat yang baru saja terlontar dari mulut Gibran, sukses membuat lutut Kinan melemah, terduduk lemas di atas lantai tatkala kata cerai tiba-tiba membingkai rumah tangga yang selama ini terjaga utuh, rumah tangga yang terkenal bahagia dan jauh dari konflik.


"Kamu bercanda 'kan Mas?"


Hancur berkeping-keping dalam sekejap mata, menyisakan rasa sakit yang teramat perih, menusuk relung hati hingga ke dasar, meninggalkan luka yang teramat dalam, berbekas dan pasti akan sulit disembuhkan.


Duuaarrr!


Gemuruh bergema kembali, langit malam seakan mendengar jeritan hati, siap akan menjatuhkan bulir deras, sebagai tanda hati yang terluka, menyisakan rasa perih yang teramat ngilu. Membuat Kinan terpekur, menatap nanar Gibran yang sejak tadi hanya menyeringai puas, seakan tidak peduli dengan kalimat yang baru terucap.


Sementara Zivana dan Bram yang melihat hanya terdiam, menyaksikan siaran drama gratis yang tengah tayang di tengah malam. Tidak ada rasa iba pada sang bunda, justru putri Gibran Athaariq itu malah menyeringai seakan puas melihat air mata sang bunda.


"Aku tidak mungkin bercanda, Kinan!!! Waktu yang aku butuhkan untuk mengeruk semua harta kekayaan ayahmu rasanya sudah cukup bagiku. Terima kasih karena selama ini kamu sudah menerimaku dan Zivana dengan baik sebagai keluarga!!!"


Kinan mendongak, menatap tajam Gibran saat mendengar nama sang ayah disebut, membawa tubuh yang terlalu lemah untuk beranjak, mendekati sang suami yang telah melontarkan kata cerai beberapa saat yang lalu.


"Maksud kamu apa Mas?" tanya Kinan, menahan geram yang menyelimuti hati.


"Hahaha... asal kamu tau, aku menikah denganmu hanya semata-mata karena harta, bukan cinta! Aku butuh uang yang banyak untuk bisa membalas dendam!!! Karena cintaku hanya untuk ibu kandung Zivana, mendiang istriku tercinta, Miranti! Dan kamu, bukan siapa-siapa bagiku!!!"


Tangan Kinan mengepal kuat, menahan amarah hati yang sudah terkoyak lebar, semakin perih rasanya, mendengar kata demi kata, kalimat demi kalimat yang menyayat hati dari sosok pria di depan matanya. Pria yang selama ini disangka baik, ternyata sangat busuk melebihi iblis.


"Lalu apa maksud kamu mengeruk semua harta almarhum ayahku?" tanya Kinan.


Gibran tersenyum miring, mendekatkan wajahnya ke wajah Kinan yang kacau, basah karena air mata yang tak tertahan. Membuatnya semakin tidak sabar, ingin mengungkap semua rahasia yang selama bertahun-tahun ia simpan dengan sangat rapih, hingga tiada siapa pun yang mengetahui.


"Kamu ingat dengan sekolah yang pernah ayahmu pimpin dulu, lalu dia memberikan semuanya padaku setelah pernikahan kita? Tapi tidak berselang lama, sekolah itu dikabarkan tutup karena sudah tidak layak untuk dijalankan. Ya... dengan alasan yang kurang jelas juga pada saat itu. Namun aku berusaha sekuat tenaga meyakinkan kamu setelah ayahmu meninggal akibat serangan jantung setelah mendengar berita buruk itu."


Kinan bergeming, memutar memori lama yang tidak pernah terlupakan sepenuhnya. Mengingat kejadian di masa itu, di mana sang ayah mengalami serangan jantung setelah mendengar kabar kalau sekolah yang selama ini dipimpinnya harus ditutup karena alasan yang kurang masuk akal. Namun keputusan yang ditetapkan harus diterima walaupun menyisakan duka, sang ayah meninggal karena semua masalah itu.


"Asal kamu tau, Kinan!!! Sekolah itu bukan tutup, melainkan berpindah nama menjadi namaku seutuhnya! Dan sekolah itu adalah sekolah yang kamu kendalikan sekarang ini. Seluruh Jaya Mandiri, adalah Nusa Abadi yang pernah dikabarkan tutup! Hahahah..."


Kinan terbelalak sempurna, mendengar kebenaran masa lalu yang kini terungkap. Tidak percaya, jika Gibran bukan hanya monster tapi juga psikopat yang gila harta.

__ADS_1


"Aku tidak pernah membangun sekolah!!! Aku hanya mengganti namanya saja untuk mengecoh dan mengelabui kamu, Kinan!"


Gibran menyeringai puas, menatap Kinan yang hanya diam mematung tak bersuara, mendengarkan semua pengakuan Gibran yang sudah sangat terlambat.


"Karena itu, aku membiarkan kamu untuk mengendalikan semuanya agar sekolah yang dibangun oleh ayahmu itu tetap beroperasi!!! Buktinya... sekolah itu kini semakin maju berkat kerja keras kamu yang gigih!!! Aku sengaja memanfaatkan kamu untuk mengeruk semua keuntungan yang akan didapatkan dari seluruh Property Jaya Mandiri, dan keuntungan itu akan aku satukan dengan keuntungan yang tidak seberapa dari perusahaan papaku!!! Sekali lagi terima kasih banyak, istriku!!! Ups... maksudku mantan istriku! Hahaha..."


"Biadab kamu, Mas!!!" tandas Kinan.


"Hahahahah... seperti inilah aku, Kinan!!! Kamu terlalu baik untuk menjadi istriku, jadi aku akan melepaskan kamu dan semua harta ayahmu yang masih tersisa sedikit, termasuk Jaya Mandiri karena aku sudah bosan!!! Sedangkan harta yang lainnya, sudah ada di dalam genggaman tanganku!"


"Kamu kejam, Gibran!!!" tandas Kinan.


"Aku memang kejam!!! Kamu saja yang terlalu cinta mati sama aku. Cinta yang membuatmu buta kalau aku ini bukan lah orang baik!" jawab Gibran, tertawa lepas.


Tangan yang mengepal kuat, terangkat. Hendak memberikan tamparan pelajaran untuk orang yang ada di hadapannya itu. Namun tangan yang lemah itu, tertangkap cepat oleh tangan Gibran yang terlalu kuat. Membuat tangan Kinan terperangkap, tidak bisa lepas begitu saja. Tatapan tajam pun tak terelakkan, membuat suasana rumah yang tidak pernah ada masalah menjadi sangat tegang, mengusik ketenangan para hewan malam yang sedang beristirahat.


"Tanganmu terlalu lemah untuk memberi tamparan di wajahku yang biadab ini!!! Jadi jangan pernah sekali-kali kamu menampar aku di depan putriku!!!" tandas Gibran yang berbisik tegas di telinga Kinan.


Gibran menepis kasar tangan Kinan, membuat Kinan terhuyung hampir jatuh. Lalu Gibran berjalan, menghampiri Zivana yang masih termangu melihat adegan itu.


"Ayo Sayang!!! Kita pergi dari sini!"


"Berhenti Gibran!!! Kamu tidak boleh membawa Zivana!!! Zivana itu putriku!"


Gibran pun berhenti, kaki yang hampir menyentuh bibir pintu dibawanya untuk berbalik, melepaskan tangan sang putri yang digenggam, berjalan lagi mendekati Kinan yang semakin menatapnya tajam.


"Dia putriku!!! Kamu tidak punya hak atas Zivana!!! Dan satu kebenaran lagi, bahwa sebenarnya kamu tidak mandul, Kinan!!!"


Kinan semakin terperangah, mendengar penuturan Gibran tentang kebenaran lain tentang dirinya.


"Aku sengaja menukar hasil pemeriksaan labor waktu itu!!! Dan sebenarnya, aku lah yang bermasalah!!! Cairan milikku lemah, setelah beberapa tahun kita menikah!!! Aku sengaja ikut memeriksa kondisiku tanpa sepengatahuan kamu. Setelah mengetahui hasilnya, aku sengaja memanfaatkan situasi lagi yang pastinya akan membuatku untung. Walaupun aku masih bisa memuaskanmu saat bermain di atas ranjang, tapi sampai kapan pun kamu tidak akan pernah bisa mempunyai keturunan dariku!!! Dan lihat, kamu bahkan terlalu polos, bahkan percaya begitu saja padaku!!! Lalu menganggap dirimu tidak berguna!!! Kasihan sekali!!!"


Kinan tercekat, menahan rasa sesak yang menggerogoti, membuat air matanya jatuh begitu saja, membasahi wajah cantiknya, bersamaan dengan jatuhnya air dari langit, seakan memberi makna bahwa langit ikut berduka mendengar kebenaran yang tidak pernah tersembunyi selama ini. Sementara Gibran terus menyeringai sebelum akhirnya berbalik dan pergi bersama Zivana dan disusul oleh Bram, meninggalkan Kinan yang terisak di dalam keheningan malam, mengurut dada yang teramat sangat sesak.


"Astagfirullahalazim... Astagfirullahalazim... Astagfirullahalazim... Ya Allah kenapa semuanya jadi seperti ini? Sosok pria yang selama ini kuanggap baik, ternyata memiliki sifat yang bahkan melebihi kejamnya iblis. Dia sudah menipuku selama ini, bersikap lembut layaknya seorang suami. Tapi sifat aslinya sangat lah buruk, bahkan iblis saja masih lebih baik dari orang seperti dia...."


Kinan beranjak, membawa kaki yang terlanjur lemah tak berdaya untuk berjalan, menutup pintu yang terbuka lebar. Sesaat melihat keluar gerbang, tampak hujan yang sudah mengguyur deras. Matanya terus mengedar, melihat sekitarnya, memastikan kalau Gibran benar-benar sudah pergi dari rumah bahkan juga hidupnya. Setelah itu, Kinan berjalan, terseok-seok menyusuri lantai yang terasa sangat jauh menuju kamar, mengabaikan tasnya yang masih berdiri tegap di depan pintu, mengabaikan dinding yang seakan menertawakan dirinya, bodoh karena terlalu mempercayai Gibran.

__ADS_1


Ceklek!


Pintu kamar terbuka, cahaya gelap yang menghiasi seakan mendukung suasana hati, membuat Kinan semakin terisak, meratapi nasib yang malang hanya karena cinta. Dengan kaki yang lemah, terasa kelu saat berjalan, namun Kinan tetap berusaha, menjangkau meja rias di dalam kamarnya.


"Sepuluh tahun aku tertipu oleh lelaki bajingan itu!!! Ternyata dia yang sudah menyebabkan ayahku serangan jantung! Dan membuatku kehilangan ayahku untuk selamanya!!! Tidak hanya itu, Gibran juga sudah menipuku mentah-mentah!!! Dasar pria brengsek tidak tau diuntung!!!"


Air mata yang dipaksa untuk berhenti nyatanya malah semakin deras membasahi, tangan yang lemah dibawa mengurut dada, berusaha menghilangkan rasa sesak yang sejak tadi menyelimuti, menyiksa lahir dan bathin secara bersamaan, mengutuki diri yang teramat bodoh. Tidak bisa mencium gelagat busuk Gibran yang tersimpan rapih selama sepuluh tahun ini. Sungguh, malam ini Gibran membuatnya sangat hancur.


"Mas Gibran... kamu benar-benar kejam! Kamu berhasil menghancurkan mentalku malam ini!!! Kamu adalah manusia paling buruk hatinya yang pernah aku temukan! Aku tidak boleh membiarkan Zivana ikut dengan papanya!!! Aku harus merebutnya kembali dari tangan Gibran yang biadab!!! Aku tidak mau jika Zivana tumbuh seperti papanya yang biadab dan kejam itu!!!"


Kinan mengatur deru nafas, menyeka air mata yang membasahi pipi, menatap diri dari pantulan cermin meja riasnya. Tidak ingin menangis lagi, berusaha memikirkan cara untuk bisa merebut kembali Zivana, walaupun kecil kemungkinan, tapi Kinan tidak akan membiarkan Zivana bersama dengan sang papa.


Kinan termenung sesaat. Namun nama seseorang terlintas begitu saja di dalam kepalanya, teringat dengan pembicaraan Gibran dan Zivana sebelum peristiwa ini terjadi. Rencana jahat yang melibatkan seseorang. Namun cerita Gibran seperti rekayasa, terdengar aneh jika Gibran yang tersulut dendam hanya ingin memberikan sebatas pelajaran tanpa melakukan hal lain pada target dendamnya saat ini.


Kinan mengeryit, berusaha menebak dan menerka-nerka apa yang dipikirkan oleh sang suami. Apakah masih pantas Kinan menyebut Gibran sebagai suami? Setelah kata cerai terucap tanpa beban dari bibir seorang pria bergelar suami seperti Gibran?


Kinan menggeleng cepat, membuang jauh-jauh gelar yang dulu pernah tersemat pada Gibran sebagai suaminya. Memilih fokus pada niatnya sekarang, mencari tau apa sebenarnya yang Gibran lakukan pada Mala, Damar, Wulan, Bima dan juga Zivana.


"Aku harus bertemu dengan Bima!!! Dia adalah kunci dari semua rencana Gibran! Bima pasti tau apa rencana Gibran yang sebenarnya pada keluarga Bu Mala dan Damar!!! Tidak mungkin Bima menyuruh Gibran untuk menculik Damar dan Wulan! Pasti ada sesuatu yang salah di sini!!! Aku cukup mengenal Bima! Dia memang anak bandel dan sering melanggar peraturan di sekolah, tapi aku tidak pernah mendengar Bima berbuat kriminal selain, aksi taruhan! Bahkan Bima pernah mengatakan sesuatu padaku, bahwa dia tidak ingin berurusan dengan Polisi, selain mengurusi taruhan!"


Kinan menghela nafas panjang, menstabilkan hati yang terlanjur sakit akibat tipu daya Gibran selama bertahun-tahun.


"Aku harus menghentikan Gibran!!!"


.


.


.


.


.


Happy Reading All 😇😇😇


Gelar apa nih yang cocok buat Gibran wkwkwkwk 😅✌️ ampun... maapkeun Dina yang harus membuat Gibran kejam ya ✌️

__ADS_1


Terima kasih Dina ucapkan untuk kakak readers semua 😘 walaupun banyak yg menjelma jadi silent readers ya 🤭 yang penting masih ada yang mau baca ✌️🤟 jangan bosen-bosen buat dukung Wulan dan author nya 🥰🖤


__ADS_2