
...πππ...
"Pak Gibran..."
Ternyata sosok yang berdiri membelakangi pintu itu adalah Pak Gibran, si pemilik Jaya Mandiri. Suami Bu Kinan dan ayah Zivana. Melihatnya, berhasil membuatku terkejut.
"Ya, ini saya. Kenapa? Kamu terkejut?"
"Ada urusan apa Pak Gibran memanggil saya? Bukan kah masalah saya di sekolah ini sudah selesai?"
"Kamu tenang dulu, Bima! Saya memanggil kamu ke tempat ini, bukan untuk membahas masalah kamu di sekolah. Tapi untuk membahas sesuatu yang mungkin saja bisa kita diskusikan dan kita kerjakan bersama!!!"
Dahiku mengerut heran, tidak mengerti dengan tujuan pembicaraan Pak Gibran.
"Maksud Pak Gibran?"
Pria itu hanya tersenyum, entah apa yang dipikirkan olehnya, membuat bulu kudukku meremang seketika saat melihatnya.
"Saya ingin kamu membantu saya untuk membawa Damar dan Wulan ke tempat ini!!!"
Perkataan Pak Gibran sukses membuatku terperangah, terkejut bukan main dengan niat Pak Gibran yang belum kuketahui apa penyebabnya.
"Untuk apa Pak?"
Rasa penasaran bercampur heran tidak bisa kututupi. Sebenci-bencinya aku pada kedua anak kembar tengil itu, aku tetap ingin tau. Apa yang membuat seorang Pak Gibran memintaku melakukan tindakan kriminal ini.
"Untuk pertanyaan itu saya tidak bisa menjawabnya karena rencana ini sangat rahasia. Hanya kamu, saya dan asisten saya yang tau. Bahkan Zivana saja tidak tau. Kamu cukup melakukan apa yang saya katakan, dan sebagai imbalannya saya juga akan membantu kamu untuk mengeluarkan Damar dari calon kandidat ketua osis di sekolah. Bagaimana?" tutur Pak Gibran yang seketika membuat pendirianku goyah.
Untuk sejenak aku berpikir, mempercayai perkataan Pak Gibran yang baru kulihat secara langsung wajahnya saat Bu Kinan memanggilku ke kantor. Namun untuk sesaat kemudian, pikiranku kini tertuju pada Damar yang tadi sempat mengancamku, menggagalkan rencanaku untuk menghabisi nyawa Syahil yang berkhianat padaku. Dan dengan rencana Pak Gibran ini aku juga bisa membalas Damar dan adiknya yang bisu itu.
"Baik, Pak!!! Saya akan mengikuti rencana Bapak karena saya juga ingin membalas dendam saya pada anak kembar tengil itu."
"Saya tau tentang itu dan saya merasa kalau saya tidak akan salah pilih. Kamu adalah orang yang tepat untuk membantu saya."
Pujian Pak Gibran membuatku merasa menang dan tekat ku semakin kuat. Aku akan mengalahkan Damar dengan tanganku sendiri dan dibantu ayah dari kekasihku. Tidak peduli dengan apapun tujuan Pak Gibran, kenapa dia ingin sekali aku membawa Damar dan si bisu itu ke tempat ini, menyuruh pria yang menunggu di depan sana untuk mencariku sampai ke Basecamp, aku tidak peduli. Yang jelas, kali ini aku akan membuat Damar kalah dan jatuh.
"Kamu tinggal mengikuti Bram, asisten saya. Saya sudah memberitahu rencana selanjutnya agar kamu bisa dengan mudah membawa mereka ke sini." ujar Pak Gibran yang bergerak maju, mendekatiku dengan seringai liciknya.
Satu yang baru aku sadari, ternyata ayah dari kekasihku ini tidak sebaik yang kupikirkan. Di balik namanya yang terdengar bijaksana dan gagah, ternyata ada sifat buruk yang bahkan melebihi sifatku. Ingin menculik dua anak kembar sekaligus dan meminta bantuanku, sungguh ini semua di luar ekspektasi pikiranku tentang siapa sosok Pak Gibran sebenarnya. Namun, seketika nama Zivana terlintas begitu saja di kepalaku. Apakah Zivana tau rencana ayahnya?
"Rencana ini sangat rahasia, Bima. Bahkan istri dan anak saya tidak mengetahui hal ini. Mereka hanya tau, saat ini saya sedang menemui klien di luar negeri. Jadi saya ingin kamu menutup mulut, terutama di depan Zivana." timpal Pak Gibran, seakan mengetahui isi pikiranku saat ini.
"Baik, Pak. Saya akan menjaga rahasia ini dengan baik." jawabku, terdengar gugup karena sedikit takut dengan tatapan tajam calon ayah mertuaku.
"Kalau begitu pergilah! Lakukan tugasmu bersama Bram dengan baik! Jangan sampai ada kesalahan sedikit pun!"
Aku hanya bisa mengangguk, menuruti titah Pak Gibran yang akan menguntungkan diriku juga nantinya. Aku pun berbalik, hendak keluar meninggalkan Pak Gibran yang masih setia berdiri dan membelakangiku. Namun kakiku terhenti seketika, tatkala terpikirkan sesuatu yang akan lebih bagus untuk dijadikan ide penculikan Damar dan si bisu dengan mudah, tanpa harus mencoreng nama sendiri. Ide yang sebenarnya sudah sejak lama ingin aku gunakan untuk mengganggu kehidupan anak kembar itu.
__ADS_1
"Pak Gibran... apakah saya boleh mengusulkan ide saya untuk menangkap kedua anak itu?" tanyaku, sedikit ragu namun aku yakin kalau Pak Gibran akan menerimanya.
"Ide apa yang kamu miliki?" tanya Pak Gibran yang melihatku dengan tatapan menelisik, sepertinya dia pun ragu dengan rencanaku.
"Saya punya informasi, kalau salah satu kakak sepupu Damar dan si bisu itu sangat membenci mereka. Kakak sepupu mereka itu adalah salah satu anggota geng saya. Namanya Al. Awalnya dia bersama dengan Syahil, adik sepupu Al dan kakak sepupu Damar. Tapi Syahil sudah berkhianat dan memilih untuk keluar dari anggota motor. Saya punya rencana, bagaimana kalau kita gunakan nama Al untuk menangkap anak kembar itu Pak? Kita buat seakan-akan Al yang telah menculik kedua adiknya itu. Dengan begitu, tidak akan ada yang curiga pada kita." tuturku yang berusaha menjelaskan dan aku sangat yakin kalau Pak Gibran akan mengerti dengan maksudku.
"Maksud kamu, kita jadikan kakak sepupu Damar itu sebagai kambing hitam?" ujar Pak Gibran, membuatku tersenyum puas dan senang karena dia menangkap ideku dengan sangat tepat.
"Ya!!! Sebenarnya ini adalah ide lama saya. Saya ingin membalas Damar melalui kakaknya dan saya ingin sekali menggunakan ide ini di dalam rencana Pak Gibran. Jika kita menjadikan Al sebagai kambing hitam, tidak hanya Damar dan si bisu itu yang hancur tapi juga keluarganya. Mereka akan menuduh Al, kalau Al yang telah menculik Damar dan si bisu, lalu keluarga mereka akan terpecah. Bukan kah itu ide yang sangat bagus Pak? Niat hati yang ingin melenyapkan satu musuh, malah akan melenyapkan musuh lainnya yang saling berhubungan satu sama lain."
Dengan sangat percaya dirinya, aku menjelaskan semua rencana yang sudah lama kupikirkan bersama Dimas. kepercayaan diriku semakin terpancar tatkala melihat seringai licik Pak Gibran terbit, disusul dengan gelak tawa yang menggelegar, dan terdengar sangat lepas.
"Ide yang sangat bagus, Bima! Sudah saya katakan bukan, kalau saya tidak akan salah pilih! Saya sangat setuju dengan ide kamu dan saya akan membayarnya dengan sangat mahal pula. Kamu jangan khawatir lagi. Setelah rencana ini berjalan dengan mulus, saya akan langsung membuat musuhmu itu jatuh dan kalah di waktu yang tepat."
Bak api kecil yang hendak mati, kini kembali menyala besar setelah mendapatkan percikan kecil dari sosok di depanku saat ini. Semangatku berkobar-kobar, sudah tidak sabar ingin segera melakukan rencana ini. Setelah mendapat persetujuan dari Pak Gibran, aku pun pergi. Hendak kembali ke Basecamp namun sebelum itu, aku menghubungi Dimas terlebih dahulu, memastikan sesuatu yang saat ini tengah kuincar.
"Hallo Bim... lo di mana sih? Lama banget lo di luar! Al ada di sini nih. Tadi dia nanyain lo. Terus gue bilang aja kalau lo lagi pulang karena ada urusan penting di rumah." seloroh Dimas yang terdengar kesal karena aku pergi cukup lama.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Cerotehan Dimas sukses membuat seringai kemenangan khasku terbit saat mendengar nama target yang sudah kurencanakan bersama Pak Gibran sebelumnya.
"Gue lagi dijalan, Dim. Oh iya, suruh anak-anak pada kumpul deh. Gue bakal bawa makanan dan minuman yang banyak. Kita akan makan-makan di sana. Oke?" ujarku, semangat dan pastinya sudah tidak sabar ingin menjalankan misi.
"Ck! Kesambet setan di mana lo, Bima? Tumben banget mau bawa makanan dan minuman ke sini." sungut Dimas masih terdengar jengah.
"Nanti gue jelaskan. Lo juga harus siap-siap. Kita ada proyek raksasa hari ini. Setelah makan-makan kita langsung tancap gas." jawabku yang langsung memutuskan sambungan, malas sekali jika harus mendengar sungutan Dimas lagi.
"Makanan dan minuman datang!!!"
Tanpa menampakan kecurigaan, aku berjalan masuk seraya menenteng dua kantong besar, memberikannya pada anak-anak yang sudah menunggu sejak tadi. Mataku terus mengedar, mencari keberadaan Al yang menjadi targetku.
"Di mana Al?"
"Ada di samping. Lagi galau sepertinya."
Tidak ingin anak-anak yang lain mendengar pembicaraanku, tanpa meminta izin Dimas yang mempunyai tangan, aku pun langsung menariknya ke halaman belakang, menceritakan semua yang terjadi saat aku berada di luar beberapa jam lalu.
Ceritaku tidak hanya membuat Dimas terkejut, melainkan tidak sabar ingin melakukan rencana.
"Biar gue yang urus Aifa'al!!! Lo tenang saja, Bim."
Dimas pun melangkah pergi, meraih satu buah minuman botol yang ada di tengah anak-anak, berjalan lagi ke arahku yang memperhatikannya heran, apa yang akan dilakukan Dimas dengan minuman botol itu?
"Setelah Al meminum minuman ini, dia pasti akan ketiduran, Bim. Dengan begitu rencana kita akan berjalan lancar." ujar Dimas seraya memasukkan obat ke dalam minuman botol itu.
"Bagus, Dim. Tidak salah kalau gue ikut mengajak lo terlibat dalam rencana ini. Hari ini, akan menjadi hari yang sangat menyenangkan untuk kita."
Aku dan Dimas saling melempar seringai, sebelum akhirnya Dimas beranjak, berjalan mendekati Aifa'al yang tengah duduk di samping Basecamp. Sementara aku, hanya memperhatikan keduanya dari kejauhan, memastikan rencana Dimas sukses.
__ADS_1
"Minum dulu Al!" ujar Dimas, mengulurkan botol minuman yang sudah tercampur obat tidur.
"Gue tidak haus, Dim. Lo saja yang minum!" ujar Aifa'al tanpa menoleh ke arah Dimas sedikit pun, sukses membuatku sedikit cemas.
"Ayolah, Al!!! Jangan menyendiri terus seperti ini. Lo ada masalah lagi sama keluarga lo? Lo masih ada masalah sama Syahil? Lo datang ke sini buat menyendiri atau senang-senang? Kalau lo terus menyendiri lebih baik lo balik saja ke Apartment!!" seloroh Dimas yang berusaha membujuk Aifa'al, menoleh sesaat ke arahku yang bersembunyi.
"Gue tidak apa-apa kok. Gue lagi pengen sendiri saja. Lebih baik lo masuk saja sana. Ganggu saja lo!!!" sungut Aifa'al yang jengah pada Dimas.
Kulihat Dimas mendengus kesal, menoleh lagi ke arahku yang berusaha menahan emosi dan tawa. Ingin rasanya tangan ini ikut memukul Al, seperti memukul Syahil karena bagaimana pun mereka adalah kakak adik. Tapi otakku yang masih jernih, membuatku sadar kalau rencana harus diteruskan.
"Gue bakal masuk, kalau lo juga masuk! Tadi lo sempat nanya Bima 'kan? Sekarang dia sudah datang. Dia bawa makanan untuk kita semua di sini. Jadi, lo harus ikut gue! Kita makan-makan dulu, biar otak lo bisa jalan lagi seperti semula!!!" seru Dimas, menarik paksa tangan Aifa'al yang terlihat enggan untuk beranjak.
Melihat Aifa'al dan Dimas berjalan masuk, aku bergegas menuju ruang depan di mana semua anak buahku berkumpul, duduk bersama seraya menikmati makanan dan minuman yang dibawa Bima. Sesaat mataku dan Aifa'al bersiborok, tapi dengan cepat anak itu memutusnya, membuatku sangat yakin kalau Aifa'al tengah banyak masalah. Tapi siapa yang peduli, aku hanya memperdulikan rencanaku dan Pak Gibran dan melibatkan Aifa'al.
Acara makan-makan bersama anggota geng motor akhirnya berjalan seru, ditemani dengan alunan musik rock yang tengah viral sekarang ini, menambah keseruan hingga waktu terus berjalan, menunjukan pukul dua lewat, membuatku harus menjalankan misi selanjutnya.
"Bagaimana?"
"Coba lo perhatikan dia! Sepertinya obat tidur itu sedang melakukan tugasnya di dalam tubuh Al!!! Sebentar lagi, Al pasti akan tertidur. Sabarrrrr ya." ujar Dimas yang berusaha meyakinkan diriku dan memperhatikan Aifa'al.
Suara dengusan kasar keluar begitu saja dari mulutku, melihat waktu yang terus berputar, takut jika sewaktu-waktu Pak Gibran menghubungiku dan menanyakan rencana, membuatku jengah. Namun sejurus kemudian, pandanganku teralih pada Aifa'al yang sudah tergeletak di atas lantai dengan mata terpejam, sepertinya obat itu telah memperlihatkan reaksinya dan membuat Al tidur.
"Lo lihat sendiri 'kan? Al sudah tidur dan saatnya kita menjalankan rencana lo selanjutnya, Bima!!!" ujar Dimas yang matanya masih tertuju pada Al.
"Bagus, Dim!!! Lo memang orang yang bisa gue andalkan dalam hal ini. Kalau begitu, ayo pergi!!!" jawabku senang, menepuk bahunya atas bentuk bangga terhadap rencananya.
Dima mengangguk semangat. Kami berdua pun beranjak, mendekati Aifa'al yang sudah terlelap, merogoh sakunya dan mencari kunci motornya. Setelah aku mendapatkan kunci motornya, kami segera pergi, menjalankan misi selanjutnya.
"Tunggu, Bim! Sekarang kita ke mana? Kita tidak tau di mana Damar dan adiknya itu 'kan?" tanya Dimas yang tengah memakai jaket hitamnya.
.
.
.
.
.
Happy Reading All πππ
Tiga episode untuk hari ini ya wkwkwk... anggap saja sebagai pengganti episode yang tertunda di kemarin-kemarin hariπ Semoga bisa membayar utang upload episode untuk kalian semua yaβοΈ
Mungkin flashback pov si Bima bakal panjang, kemungkinan satu episode lagi lah ya wkwkβοΈ
Terima kasih Dina ucapkan untuk para sahabat semuanya π€ yang masih setia bersama Wulan dan mengikuti ceritanya walaupun beberapa hari sempat tertunda π₯° selain terima kasih, Dina juga mau minta maaf kalau sampai saat ini Dina masih belum bisa mampir ke cerita para sahabat author. Tapi tenang aja, bakal Dina cicil kok biar lunassπ
__ADS_1