Takdir Si Gadis Bisu

Takdir Si Gadis Bisu
Episode 121 ~ Air Mata Penyesalan


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


"Sudah, Sayang. Jangan menangis lagi."


Mala masih tergugu, duduk bersimpuh di depan kaki Dhana yang sejak tadi sudah berusaha keras untuk membawanya berdiri. Namun Mala tetap berada di posisinya, sesekali ia juga mencium kaki sang suami, merasa bersalah dan sangat berdosa pada sang suami, teringat dengan perbuatannya pada sang putri selama bertahun-tahun.


"Aku bersalah, Mas. Tidak seharusnya aku melampiaskan trauma ku di masa lalu pada putriku. Seharusnya aku bisa mengontrol pikiran dan emosi ku yang meledak-ledak saat aku melihat putriku. Aku benar-benar minta maaf, Mas." tutur Mala, sesegukan.


"Tidak, Sayang. Kamu tidak bersalah!!! Semua ini terjadi di bawah kesadaranmu, kamu tidak sengaja membenci putri kita!!!" ujar Dhana, menenangkan sang istri.


Mala semakin tergugu, tubuhnya melemas karena menangis, menyesali perbuatannya yang buruk pada sang putri selama 8 tahun. Tidak menyayangi, menghiraukan, apalagi tidak menganggap Wulan ada di rumah itu. Seakan Wulan hanya sebuah pajangan yang tak layak untuk dianggap istimewa.


Bergegas Dhana meraih tubuh sang istri, membawanya duduk di tepi tempat tidur, merengkuh tubuhnya, menenangkannya agar sang istri lebih tenang untuk bicara.


Tangis Mala semakin pecah, guratan penyesalan terlihat jelas di wajah gusarnya. Namun dengan penuh cinta yang teramat besar, Dhana yang memiliki sifat penyabar terus berusaha menenangkan hati sang istri.


"Tenangkan dirimu, Sayang! Kalau kamu ingin menangis, maka menangis lah lebih lama agar beban di hatimu terasa ringan!" tutur Dhana seraya mengusap punggung sang istri yang bergetar hebat.


Mala mengangguk, membenamkan lagi wajahnya semakin dalam ke dekapan sang suami yang sangat hangat, membuatnya merasa tenang dan damai, hingga suara tangisnya yang menggugu pun berhenti. Membuat Dhana yang merasa sang istri sudah tenang, melerai pelukan. Menatap lekat manik sang istri yang sembab akibat menangis terlalu banyak.


Netra Mala, netra indah itu menyiratkan sesuatu yang selama bertahun-tahun ini hilang dan tidak pernah lagi kulihat. Dan sekarang, binar indah di netranya sudah kembali seperti dulu, seperti pertemuan pertama kami di Cafe. Netra indah yang membuatku terkejut, dan beranggapan bahwa adik kembarku masih ada di sini, hingga akhirnya aku jatuh cinta. Ya Allah... apakah istriku yang dulu sudah kembali? Gumam Dhana dalam hati.


Lama Dhana menatap manik indah nan basah itu, menelisik setiap inci wajah cantik sang istri yang sangat ia rindukan kebaikan dan kelembutan nya itu. Tangan kekarnya menangkup sempurna wajah sang istri, menyeka bulir-bulir penyesalan di pipinya yang terus mengalir deras. Tatapan mata keduanya semakin terkunci, hingga fokus Dhana berpindah pada bibir tipis sang istri.


Cup!


Jarak mereka pun terpangkas seketika, Dhana mendaratkan bibirnya pada bibir sang istri. Terjadilah sesuatu yang sangat dirindukan, pergerakan Dhana yang pelan dan lembut berubah menjadi lebih dalam, menuntut sesuatu yang selama ini ia tahan karena cukup tau dengan kondisi sang istri. Bibir mereka masih terpagut kuat, saling menyesap dan menikmati satu sama lain. Hingga pasokan oksigen di antara kedua insan manusia berikatan halal itu habis setelah sekian menit saling merajut kasih.


Dhana dan Mala saling melepas pagutan, mata yang masih terpejam dibawa mereka untuk saling menempel dahi, hingga jarak hidung mancung keduanya ikut terpangkas. Keduanya masih terengah-engah, berusaha mengatur nafas yang berpacu dengan kuat, bersamaan dengan kuatnya detak jantung.


"Apakah istriku sudah kembali? Apakah kegundahan yang aku rasakan selama ini salah? Tolong yakinkan aku lagi, Sayang!" tutur Dhana tanpa melepas dahi mereka.


Mala menghela pelan, berusaha mengatur nafas yang masih terengah-engah karena ulah sang suami. Menciumnya cukup lama dan membuatnya kehilangan banyak udara.


"Maafkan aku, Mas. Selama ini hati dan pikiranku porak-poranda. Mereka saling bertengkar dan aku tidak mampu untuk mengontrol mereka, hingga penyakit ku kambuh lagi. Sebenarnya aku ingin sekali memberitahumu sebelum kita menikah, tapi aku takut menyusahkan kamu dan keluarga kamu. Aku tidak ingin kalian susah hanya karena aku yang memiliki kelainan sindrom. Setiap aku ingin memberitahumu, di saat itu pula aku teringat masa lalu ku yang kelam. Aku pikir setelah melahirkan anak kembar kita, aku bisa pulih dan sindrom ku hilang. Tapi ternyata pikiranku semakin kalut dan setiap aku melihat Wulan, aku jadi teringat dengan perlakuan ibuku. Ibuku juga tidak menerima kehadiranku di dalam hidupnya."


Bulir kristal itu kembali luruh, membingkai wajah Mala yang masih terlihat pucat, memperjelas kalau kondisinya belum pulih sepenuhnya. Namun dengan sigap, Dhana menyeka bulir itu agar tak jatuh lebih jauh. Memutus lem yang semula melekatkan dahinya dengan dahi Mala, lalu menatap lekat sang istri kembali, membiarkannya terus merangkai untaian cerita masa lalu.


"Ayahku sempat membawaku dan ibuku berobat, namun karena Ayah tidak punya cukup biaya yang harus mengobati penyakitku dan penyakit Ibu yang stress waktu itu, Ayah hanya mampu memberiku dan Ibu obat tradisional. Tidak ada yang bisa menjamin penyakitku bisa sembuh total hanya dengan obat itu, hingga akhirnya penyakit sindrom dalam diriku kambuh lagi setelah aku melahirkan dan mengetahui kebenaran kalau putriku tidak sempurna. Syok, kaget dan trauma yang aku alami dulu bercampur menjadi satu, sehingga aku tidak bisa mengontrol semuanya dengan benar."


Dhana menghela nafas berat, berusaha menjadi pendengar yang baik untuk Mala. Sementara Mala terlihat sesekali menyeka air mata penyesalan yang kini menyelimuti.


"Andaikan saja Ibu tidak membunuh orang tua Mas Atha waktu itu, mungkin Ayah bisa membawaku ke rumah sakit untuk berobat. Setelah peristiwa pembunuhan itu, bukan hanya Ibu yang stress, tapi aku juga sakit!!! Dengan susah payah aku berusaha untuk melupakan peristiwa itu, tapi aku tidak bisa! Selama ini aku hanya berdiam diri, Mas! Memendam semuanya sendiri dan karena itu penyakit sindrom ku muncul kembali!"


Dhana mengangguk, mengiyakan semua keluh kesah sang istri yang selama ini ia pendam sendiri, tidak menceritakannya pada Dhana yang siap menjadi tempat berbagi rasa seumur hidup bersamanya.

__ADS_1


"Semua yang Mas Atha katakan malam itu benar, Mas. Ibuku seorang pembunuh dan ayahku rela memberikan semua hartanya pada keluarga Mas Atha agar Ibu selamat dari kejaran Polisi dan hukuman. Ibu, ibuku yang sudah membuatku jadi seperti ini! Ibu yang menyebabkan semua kekacauan ini! Karena Ibu, aku jadi benci pada putriku!" racau Mala, berusaha mengontrol dirinya.


"Tenang, Sayang! Kamu tidak boleh emosi karena kondisi psikis mu belum pulih betul! Ibumu tidak salah! Beliau hanya terbawa perasaan hingga emosi karena ambisinya. Semua ini sudah takdir, Sayang! Kita tidak bisa mengelak dan menghindarinya. Kamu harus ikhlas dan bisa melupakan peristiwa kelam itu! Kamu harus bisa mengendalikan emosi yang berkaitan dengan masa lalu!" tutur Dhana, berusaha menenangkan Mala.


Mala mengangguk, menyeka bulir kristal matanya yang terus mengalir tanpa henti, menyesali semuanya yang telah berlalu.


"Kamu tau? Hari ini adalah hari yang aku tunggu-tunggu. Hari di mana kamu akan menyebut Wulan sebagai putrimu sendiri. Aku bahagia, Sayang. Aku sangat bahagia dan bersyukur karena istriku yang dulu kini sudah kembali." tutur Dhana, mengelus lembut wajah sang istri tercinta.


"Aku minta maaf, Mas. Tolong ampuni kesalahanku selama ini. Aku juga sudah banyak menentangmu, tidak patuh pada perintah suamiku sendiri. Aku juga sudah durhaka pada Ayah dan Ibu. Mereka pasti sangat kecewa padaku, Mas. Aku mohon, maafkan aku." tutur Mala, tertunduk sedih.


"Hei, dengarkan aku! Jauh sebelum kamu meminta maaf seperti ini, aku sudah lebih dulu memaafkan kamu, Sayang. Aku tidak pernah menganggapmu sebagai istri yang durhaka. Kamu adalah wanita yang paling aku cintai, setelah Ibu dan adik kembarku! Karena adanya kamu, aku mendapat satu cinta lagi yaitu Wulan, putri kita yang cantik. Dan aku yakin, Ayah dan Ibu pasti sudah memaafkan menantunya ini." tutur Dhana, menangkup sempurna wajah sang istri.


Jatuh lagi bulir kristal itu dari mata Mala setelah mendengar penuturan penuh cinta dari bibir sang suami. Diseka cepat oleh ibu jari Dhana dengan senyum penuh cinta pula.


"Aku juga ingin minta maaf pada kedua anak kita, Mas. Aku terlalu durhaka pada mereka yang seharusnya mendapat kasih sayang dariku secara adil. Aku juga ingin memeluk tubuh putri kecilku, Mas. Benar yang dikatakan Dokter Ali dan asistennya waktu itu, jika kita mengingat wajah anak kita sendiri, semua masalah berat pasti akan terasa lebih ringan. Anak adalah anugerah dan hadiah terindah yang Allah berikan dan harus dijaga baik-baik. Menjadi seorang ibu adalah dambaan semua wanita yang ada di dunia ini. Berpikir positif dan lupakan masa lalu adalah kunci untuk bisa menjalani masa depan." tutur Mala, menatap mata Dhana.


"Iya, Sayang. Setelah mereka pulang dari sekolah nanti, kamu bisa memeluk mereka. Seperti yang pernah kita impikan dulu. Dan aku semakin yakin, kalau sekarang istriku benar-benar sudah kembali seperti dulu." jawab Dhana, mengelus kepala sang istri.


"Apakah mereka akan memaafkan aku, Mas? Karena sindrom ini, aku hanya bisa mengecewakan mereka dan membuat mereka sedih, apalagi Wulan." ujar Mala, mendadak sendu lagi.


"Tentu saja, Sayang. Aku akan menjamin semua itu. Mereka tidak pernah membenci maminya." jawab Dhana, meyakinkan Mala.


"Sekarang tolong antarkan aku bertemu dengan Ayah dan Ibu, Mas. Aku ingin meminta maaf juga pada mereka." ujar Mala, menatap Dhana penuh harapan.


Dhana mengulas senyum, rasa syukur tak terkira terus dilangitkan dalam hati untuk keajaiban hari ini. Baru dua kali full Mala melakukan terapi, kendati dibantu dengan obat-obatan sebagai penunjang psikis nya yang sudah terlalu down karena masa lalu. Namun takdir hidup seakan berpihak pada keluarga kecilnya, berkat terapi Dokter Ali, sang istri bisa sembuh secepat sekarang, membuat Dhana terus-terusan bersyukur.


***


Derap kaki semakin berpacu, membawa tubuh berlari sekuat mungkin seraya mendorong brankar yang ditempati oleh seorang wanita malang. Terbaring lemah tidak berdaya karena pingsan di tepi jalan.


"Kalian tunggu di sini! Biarkan dokter yang menangani pasien!" seru petugas pria itu.


Damar dan Wulan pun mengangguk, tau betul dengan peraturan ketat rumah sakit yang tidak mengizinkan siapa pun masuk ketika pasien berada di dalam ruang UGD.


"Tidak perlu sepanik itu, Dek! Wanita itu bukan keluarga atau kerabat kita!" seru Damar yang sudah duduk di kursi tunggu.


"Tapi kasihan Tante itu, Mas!" ujar Wulan dengan bahasa isyaratnya, menghentikan langkah yang mondar-mandir sejak tadi.


"Tapi kita sudah sampai di rumah sakit!!! Lebih baik Adek duduk di sini!!! Mas tidak rela, jika Adek sampai sakit hanya karena wanita asing itu!" seru Damar yang tegas.


Wulan berdecak gemas, bibir tipisnya seketika mengerucut saat mendengar penuturan sang mas kembar yang terlalu berlebihan menurut pendapatnya di saat situasi dan kondisi genting seperti ini. Lalu membuatnya beranjak, memilih duduk di samping sang mas kembar sesuai titahnya.


"Jangan cemberut dong! Masa karena wanita asing itu, Adek jadi cuekin Mas!" seloroh Damar, menggoda sang adik.


Wulan hanya menggeleng, bibirnya yang mengerucut itu semakin menjadi. Damar yang melihatnya hanya berdecak gemas, melihat bibir Wulan yang menggemaskan.

__ADS_1


Ceklek!


Suara gagang pintu yang terbuka pun mengejutkan Damar dan Wulan, membuat keduanya beranjak lalu mendekati dokter yang keluar bersama suster. Namun tidak berselang lama, suster lainnya pun keluar seraya mendorong brankar yang ditempati oleh wanita asing malang tak berdaya itu.


"Bagaimana keadaan Tante itu Dok?" tanya Damar, mewakili pertanyaan sang adik yang sejak tadi tidak sabar menunggu kabarnya.


"Dia hanya kelelahan. Seharusnya, untuk orang yang sedang sakit parah seperti dia itu beristirahat di rumah, bukan berkeliaran di luar rumah. Jadi tolong, kalian peringatkan dia ya. Jangan terlalu banyak beraktifitas berat apalagi berjalan jauh." jawab dokter yang menangani gadis itu.


Damar dan Wulan saling pandang heran ketika mendengar penjelasan dokter itu.


"Sakit parah? Maksud Dokter, Tante itu sedang sakit parah saat ini?" tanya Damar.


"Tidak hanya parah, bahkan sudah terlalu parah!!! Menurut catatan medis, wanita itu menderita penyakit kanker darah stadium tiga! Jadi kondisinya saat ini sangat rentan dan lemah jika dibawa untuk beraktifitas!" jawab dokter itu.


Damar dan Wulan terperangah, ternyata gadis yang mereka tolong itu sakit parah.


"Tapi kalian tidak perlu khawatir. Kondisi wanita itu sekarang sudah stabil, karena sepertinya dia baru saja selesai menjalani kemoterapi hingga daya tahan tubuhnya lebih cepat membaik dan masih kuat." timpal dokter itu untuk menenangkan Damar-Wulan yang masih tercengang.


"Terima kasih Dokter." ucap Damar.


"Sekarang kalian bisa melihatnya karena suster sudah memindahkan wanita itu ke kamar rawat. Kalau begitu, saya permisi dulu ya." tutur dokter itu dengan ramah.


"Terima kasih Dokter." ucap Damar lagi.


Dokter itu mengangguk lalu beranjak dari posisinya, meninggalkan Damar-Wulan dalam keheningan pikiran masing-masing. Membuat mereka sejenak terdiam, masih tidak percaya dengan penderitaan gadis itu.


"Mas jadi teringat Onty Dhina, Dek!"


"Aaa... aass..."


"Apa Mas salah karena terlalu su'uzon?"


Wulan yang termenung seketika menoleh, melihat sang mas kembar yang sepertinya merasa bersalah pada wanita malang itu. Lalu gadis kecil itu menggelengkan kepala, meraih tangan Damar yang terjuntai lemas dan menenangkannya. Tampak sekali guratan rasa bersalah di wajahnya karena terlalu berpikiran buruk pada wanita itu.


"Kalau begitu ayo kita lihat Tante itu dulu! Setelah itu baru kita pulang!" seru Damar.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Happy Reading All 😇😇😇


__ADS_2