
...☘️☘️☘️...
"Ck! Si Bima ke mana sih? Sejak kemarin ponselnya tidak aktif dan sulit dihubungi!"
Langit senja mulai menyapa hangat, membawa semilir angin, berhembus kian merdu, menambah suasana yang tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin bagi sosok gadis cantik dan putih bersurai hitam kecoklatan yang tengah meracau. Berdiri di balkon kamarnya yang luas, menekan kuat layar ponsel karena kesal pada seseorang yang tidak mengangkat telepon darinya dari sejak kemarin sore.
"Bimantara! Kamu di mana sih? Kenapa kamu tidak mengangkat teleponku, hah? Sudah bosan hidup ya! Mau aku cincang kamu seperti daging sapi! Awas nanti ya!"
Gadis cantik dan putih bersurai hitam kecoklatan yang tak lain adalah Zivana terus meracau, memandangi foto Bima yang tak kunjung ada kabar. Bad mood karena tidak mendapatkan izin sang bunda untuk liburan selama libur sekolah, membuatnya semakin bad mood, marah dan terlihat masam. Tidak ada senyuman di wajahnya, melainkan hanya kekesalan.
"Zivana..."
Gadis cantik itu menoleh, menangkap keberadaan sang bunda yang berjalan masuk ke dalam kamar, mendekatinya dengan senyum tipis tapi menenangkan.
Zivana memalingkan muka masam, melipat kedua tangan di depan dada, lebih memilih untuk menatap langit dengan goresan tinta berwarna jingga dibandingkan melihat sang bunda, memanyunkan bibir karena kesal.
"Kamu masih kesal sama Bunda?" ujar Kinan seraya mengelus kepala sang putri.
"Bunda jahat! Papa juga! Papa pergi ke luar negeri tapi tidak pamit pada Zivana! Dan Bunda, tidak mengadakan liburan! Zivana bosan, Bunda! Zivana bosan!!!" tukas Zivana geram, melampiaskan rasa kesal yang bersemayam di dalam dada.
Kinan menghela nafas berat, mengelus punggung sang putri, menenangkannya agar tidak marah-marah lagi.
"Bunda akan membiarkan kamu pergi berlibur ke mana pun kamu mau, Sayang. Asalkan kamu mau mengikuti persyaratan yang Bunda berikan. Hanya itu kok!" ujar Kinan yang berusaha membuang emosi.
"Ck! Persyaratan yang Bunda berikan itu tidak akan pernah Zivana lakukan! Mana mungkin Zivana harus pergi ke rumah si bisu itu, lalu minta maaf secara langsung di depan keluarganya! Tidak akan pernah terjadi, Bunda!" serkas Zivana, marah.
"Bunda tidak memaksa kamu, Zivana! Dan kamu, juga tidak boleh memaksa Bunda! Jika kamu masih kekeuh dengan pendirianmu itu, maka jangan salahkan Bunda kalau Bunda akan ikut kekeuh dengan pendirian Bunda dan melarang kamu keluar dari rumah ini!!! Selagi kata maaf tidak keluar dari mulut kamu, maka jangan pernah berharap untuk bisa keluar dari rumah dan pergi bersenang-senang! Kamu ingat itu!" ujar Kinan yang marah.
Kinan beranjak, mengambil langkah cepat keluar dari kamar sang putri sebelum amarah menguasai diri, meninggalkan sang putri tiri yang mendengus marah di balkon kamar, menatap punggung sang bunda yang sudah keluar dari kamarnya.
"Aaaarrrggggghhhhh!!! Semua ini karena si bisu sialan itu!!! Kehadiran lo di dunia ini hanya menyusahkan hidup orang saja!!! Awas saja lo, Lan! Gue tidak akan pernah membiarkan lo hidup tenang, selamanya!"
***
"Adek pingsan, Damar!"
Damar terbelalak sempurna, berusaha untuk menoleh, ingin melihat sang adik yang benar-benar sudah tak sadarkan diri.
"Adek! Bangun, Dek! Adek bangun!"
Aifa'al menangkup wajah pucat Wulan, memberikan kehangatan yang dimiliki, berharap jika sang adik sadar kembali.
"Adek bangun, Dek! Jangan seperti ini!" ujar Damar yang berusaha menolehkan wajahnya, namun tidak bisa.
"Sepertinya Adek pingsan karena kedinginan, Damar. Bajunya lembab. Kita harus membuatnya hangat." ujar Aifa'al yang menggenggam tangan sang adik.
"Lebih baik Mas lanjutkan membuka gembok ini dulu, Mas. Setelah itu, baru kita berusaha menyadarkan Adek." jawab Damar yang tercekat, menahan rasa takut jika terjadi sesuatu pada sang adik.
Aifa'al menghela kasar, beranjak cepat setelah meletakkan dengan pelan kepala sang adik di punggung Damar, melanjutkan aksi untuk membuka gembok dari rantai pengikat itu.
"Bagaimana Mas?" tanya Damar yang tidak bisa sabar lagi lebih lama.
"Susah sekali, Damar! Mas bukan orang yang ahli dalam hal membuka gembok dengan jepitan rambut! Sabar lah sedikit!" jawab Aifa'al yang tengah berusaha kuat.
Damar menghela nafas berat, menoleh sesaat ke belakang, memastikan Wulan yang masih belum sadar dari pingsannya, membuat Damar semakin tidak tenang.
__ADS_1
"Berikan pada Damar jepitan itu, Mas!" seru Damar yang mendadak parau.
Aifa'al mendongak, menatap Damar dengan kerutan di dahinya efek heran.
"Kamu bisa membukanya?" tanya Aifa'al.
"Semoga saja, Mas!" jawab Damar.
Aifa'al yang ragu pun mengangguk, memberikan jepitan rambut Wulan beserta gembok itu pada Damar.
Klek!
Tidak butuh waktu lama, gembok itu akhirnya terbuka. Mengundang senyum lega di kedua sudut bibir kedua pria itu.
"Kamu hebat, Damar!" seru Aifa'al.
Damar tersenyum lega, membuka perlahan gembok itu yang dibantu oleh sang mas sepupu, melepaskan diri dari ikatan rantai yang membelenggu. Aifa'al terkesiap, menangkap cepat tubuh Wulan yang hampir terbentur lantai, terkulai lemah ketika Damar hendak beranjak, lupa jika adiknya sedang bersandar di punggungnya, membuat Damar langsung berjongkok, meraih tubuh Wulan lalu mendekapnya.
"Adek... Bangun, Dek! Jangan seperti ini! Jangan membuat Mas cemas dong, Dek! Bangun, Dek! Bangun, Sayang!"
Damar meracau, membelai lembut wajah pucat sang adik yang pingsan, memeluk tubuh mungil itu dengan erat, memancing bulir kristal dari telaga bening yang sejak kemarin susah payah untuk ia tahan.
Aifa'al menghela kasar, hati yang keras seakan tidak tega melihat air mata yang jatuh, membuat hatinya tiba-tiba terketuk, ikut merasakan apa yang dirasakan oleh Damar. Aifa'al beranjak, membuka jaket Levi's yang membalut tubuhnya, kembali berjongkok di depan Damar yang tengah mendekap tubuh Wulan.
"Pakaikan jaket ini padanya!"
Damar mendongak, melihat uluran jaket sang mas sepupu di depannya, mengulas senyum tipis namun terlihat ikhlas, sangat berbeda dengan Aifa'al yang biasanya.
"Mas..."
"Tapi Mas Al bagaimana?"
"Mas baik-baik saja! Yang terpenting sekarang adalah keselamatan adik kita!"
"Tapi Mas..."
"Jangan banyak berpikir lagi, Damar! Buka baju Adek yang basah, lalu kamu pakaikan jaket ini agar tubuhnya kembali hangat. Dengan begitu, Adek akan sadar dari pingsannya!" tutur Aifa'al tersenyum, memberikan jaket Levi's itu pada Damar.
Damar tersenyum getir, merasa sangat yakin jika dugaannya tidak salah, mas sepupunya itu perlahan mulai berubah.
"Terima kasih Mas!"
Aifa'al hanya mengangguk, mengulas senyum tipis penuh arti, menepis rasa haru yang tiba-tiba menyelimuti hati, membuang muka sesaat, membiarkan Damar melakukan tugasnya, mengganti pakaian Wulan dengan jaket Levi's miliknya.
"Tetap lah di sini! Peluk tubuhnya dan berikan dia kehangatan! Mas akan melihat pintu itu dan mencari celah agar kita bisa keluar dari tempat ini!" seru Aifa'al yang beranjak, berjalan mendekati pintu besi itu.
"Kita lakukan saja rencana Mas yang gila itu sekarang, Mas!" jawab Damar, parau.
Kaki yang hendak melangkah terhenti seketika, memutar kepala yang semula tertuju pada pintu besi itu kini teralihkan ke arah Damar. Pria kembaran Wulan itu mendongak perlahan, menatap pintu itu dengan tajam, tergambar guratan amarah di wajahnya yang gusar.
"Kamu jangan nekat, Damar!!! Rencana gila itu memang ingin Mas lakukan! Tapi tidak, jika kondisi Adek masih seperti itu!" cercah Aifa'al yang menolak permintaan sang adik.
"Tapi Adek harus dibawa ke rumah sakit secepatnya, Mas! Sejak tadi Adek tidak sadar juga dari pingsannya! Damar takut Adek kenapa-kenapa, Mas!" seru Damar.
"Tidak Damar! Mas bertanggung jawab besar untuk menjaga keselamatan kamu dan Adek! Mas datang ke sini untuk menyelamatkan kamu dan Adek, bukan untuk mencelakai kalian!" jawab Aifa'al.
__ADS_1
"Tapi nyawa Adek dalam bahaya, Mas! Atau, Mas sengaja ya! Mas sengaja dan berlama-lama di sini saat keadaan Adek seperti ini? Iya Mas?" ujar Damar, marah.
"Jaga bicara kamu, Damar! Kalau Mas ingin Adek celaka, untuk apa Mas susah payah datang ke sini mencari kalian hah! Untuk apa Mas datang ke sini? Mas akui, Mas memang membenci Wulan! Mas ke sini hanya untuk membuktikan kalau Mas tidak terlibat dalam penculikan kalian dan Mas ingin membersihkan nama baik Mas! Kamu ingat itu!" tandas Aifa'al yang kesal.
Damar terdiam, khawatir dengan kondisi sang adik membuatnya emosi, marah pada Aifa'al, seakan lupa dengan semua tindakan hangat Aifa'al pada sang adik. Damar menghela kasar, mengontrol hati yang berkecamuk, menunduk adalah cara tepat untuk meredam emosi yang tinggi.
Sedangkan Aifa'al ikut menghela kasar, mengepal kuat tangannya, mengontrol amarah yang terlanjur memenuhi isi hati, membawa tubuh untuk mendekati pintu besi setelah mengambil wadah berisi lilin pemberian Bima beberapa jam yang lalu.
Kenapa hatiku sakit sekali rasanya saat melihat Wulan pingsan seperti ini? Aku jadi tidak tega melihatnya kedinginan sampai pingsan seperti itu. Tapi Damar malah berpikiran buruk terhadapku. Kenapa rasanya sangat hangat di saat tangan ini membelai lembut wajah Wulan? Apa benar kalau aku memang sangat menyayanginya?
Aifa'al bermonolog heran, menatapi jari jemari tangan yang sempat membelai wajah Wulan dengan lembutnya, seakan tengah menumpahkan kasih sayang yang teramat dalam pada sang adik, melupakan sejenak kebencian yang menguasai hati selama ini.
Tidak, tidak!!! Kamu harus konsisten, Al! Tujuanmu datang ke sini hanya untuk menyelamatkan anak Uncle Dhana dan membersihkan namamu dari tuduhan Mas Ziel! Fokus, Al!!! Kamu harus membawa mereka pulang dengan selamat! Setelah itu, kamu tidak perlu lagi ikut campur ke dalam masalah mereka! Gumam Aifa'al dalam hati.
Untuk sesaat adik bungsu Aiziel itu lupa akan kebenciannya pada Wulan. Namun sesaat kemudian, pertempuran di antara hati dan pikiran membuatnya ragu, hingga pikiran yang keras mengalahkan hati yang mulai melunak, membiarkan kebencian itu tetap bersemayam, mengingkari hati yang terus berkecamuk, mengatakan bahwa ia sangat menyayangi sang adik sepenuh hati.
***
"Bagaimana keadaan di dalam?"
Waktu terus bergulir, membawa si penjaga singgasana siang beranjak, memberi tugas selanjutnya pada penjaga malam, membuat sosok pria bertubuh tegap bergegas datang ke tempat penyekapan kedua anak kembar dari wanita yang saat ini tengah diincarnya.
Gibran berdiri tegap, layaknya seorang bos yang tengah menunggu jawaban dari sang anak buah. Melihat Bima dan Bram secara bergantian, meminta penjelasan agar tidak ada kesalahan di dalam rencana jahatnya.
"Saya sudah meletakkan lilin di dalam ruangan gelap itu, Pak. Sesuai dengan permintaan Pak Gibran tadi." jawab Bima.
"Untuk situasi di sekitar sini masih aman terkendali, Tuan! Saya dan para bodyguard Tuan sudah mengelilingi semua sudut. Jadi Tuan tidak perlu khawatir." timpal Bram.
"Bagus! Pekerjaan kalian memuaskan dan tetap lah berjaga-jaga!!! Sebentar lagi, kita akan kedatangan tamu spesial dan kalian semua harus bersiap-siap! Sementara itu, untuk kamu Bima! Lebih baik kamu pulang sekarang, karena tugasmu sudah selesai!!! Terima kasih karena kamu mau membantu saya dalam menjalankan rencana ini." tutur Gibran melihat semua anak buahnya tanpa melepaskan kaca mata hitamnya.
"Benarkah Pak? Lalu bagaimana dengan bayaran saya yang telah Bapak janjikan? Apakah janji Pak Gibran bisa saya pegang?" tanya Bima yang mengangkat kepalanya.
Gibran tersenyum miring, membuka kaca mata hitam yang menutupi mata teduhnya, melihat Bima dengan tatapan keyakinan.
"Kamu jangan khawatir, Bima. Saya tidak akan melupakan kesepakatan kita di awal rencana. Saya sudah membayar seorang hacker yang handal sesuai permintaanmu. Tugasmu sekarang hanya duduk, sembari menunggu apa yang akan terjadi setelah ini." ujar Gibran dengan seringai penuh arti.
Bima tersenyum puas, usahanya untuk membantu Gibran telah dibayar dengan sesuatu yang telah ia niatkan sebelumnya.
"Baiklah, Pak. Terima kasih, dan senang bekerja sama dengan anda. Kalau begitu, saya pamit pulang dulu. Permisi..." jawab Bima yang tidak henti tersenyum menang.
Gibran mengangguk, membiarkan Bima berlenggang pergi meninggalkan tempat penyekapan rahasia itu. Seringai licik pun tak luput dari wajahnya yang masih tertuju pada sosok pria bangor kebanggaan seisi sekolah, membuat Gibran merasa senang.
Bima, Bima, Bima... ternyata mudah sekali untuk membodohi anak bangor yang tengil dan penuh dendam seperti anak itu. Sekali hantam, dua sampai tiga musuh habis dibinasahkan. Gumam Gibran dalam hati.
.
.
.
.
.
Happy Reading All 😇😇😇
__ADS_1