Takdir Si Gadis Bisu

Takdir Si Gadis Bisu
Episode 141 ~ Tekad Bram


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


"Rumi... bangun, Dek! Jangan membuat Kakak takut seperti ini melihat kondisimu!"


Di ruang tamu rumah Pak Aidi, semua sisi dinding seakan menjadi saksi bisu betapa perihnya hati seorang Bram melihat sang adik dengan kondisi seperti ini. Bulir mata yang jatuh pun juga semakin deras, namun Rumi yang pingsan tak kunjung menunjukan tanda-tanda bahwa gadis itu akan tersadar.


"Pak Bram..."


Bram terkesiap, mendengar suara sang empunya rumah datang menghampirinya yang sedang duduk, menangisi adiknya. Sementara Ammar, Sadha, Dhana, Pak Aidi, Bu Aini, Mala dan anak-anak yang sudah selesai melaksanakan kewajiban mereka, berjalan mendekati Bram yang tengah pilu.


"Lebih baik anda salat dulu! Agar pikiran anda bisa lebih tenang!!!" seru Pak Aidi.


Bram terdiam. Perkataan Pak Aidi sukses membuat kepalanya tertunduk, seakan ada beban yang menghimpit kepalanya saat ini. Sementara yang lainnya saling pandang, heran melihat respon Bram tentang salat.


"Kenapa diam? Kamu tidak bisa salat?" pungkas Pak Aidi, masih bersikap dingin.


"S-saya... s-saya lupa bagaimana cara menjalankan salat, Pak. Maaf..." jawab Bram, dirundung rasa gugup tak terkira.


"Jangan minta maaf pada saya! Minta ampun lah pada Allah! Karena melakukan kejahatan anda jadi melupakan kewajiban!" pungkas Pak Aidi, tidak heran dengan sifat orang jahat seperti Bram.


Bram semakin tertunduk, merasa sangat malu berada di antara mereka semua yang memang ta'at dalam menjalankan ibadah.


"Pantas saja hidup kau seperti ini!!! Pasti Allah sedang murka, melihat orang jahat seperti kau!" sungut Sadha, suaranya kecil namun sayup-sayup masih bisa didengar.


"Ayah, Mas Sadha... sudahlah! Mungkin Bram memang tidak terbiasa menjalankan ibadah salat. Kita tidak boleh menghakimi Bram seperti itu. Lebih baik kita semuanya duduk dulu! Mari kita bicarakan masalah ini dengan kepala dingin, tanpa ada emosi!!!" timpal Dhana, menenangkan keduanya.


"Dhana benar, Mas. Masalah ini tidak akan bisa selesai kalau kita terbawa emosi. Kita 'kan sudah mendengar semua cerita Bram, dan dia juga sudah minta maaf. Bram juga sudah menyesali perbuatannya pada cucu kita. Jadi apa salah, jika kita memberikan Bram kesempatan kedua untuk bertaubat?" timpal Bu Aini, menenangkan sang suami.


"Oma dan Papi benar, Opa, Paklik. Tidak ada salahnya juga bukan, kalau Pak Bram kita berikan kesempatan. Siapa tau saja, Pak Bram ingin membantu kita." timpal Damar, meyakinkan sang opa dan paklik.


Wulan mengangguk cepat, membenarkan perkataan sang mas yang membela Bram. Bram pun terhenyak, melihat ke arah Bu Aini, Dhana, Damar dan Wulan yang masih membela dirinya, membuatnya semakin terpuruk di dalam rasa bersalah yang tak berujung. Sementara Pak Aidi dan Sadha menghela kasar, berusaha menenangkan hati yang terlanjur dikuasai oleh emosional.


"Duduklah...!"


Bram hanya mengangguk pelan, duduk di dekat tubuh sang adik yang masih pingsan, mengikuti perintah Pak Aidi yang dingin, diikuti yang lainnya duduk. Hening sesaat, tidak ada di antara mereka yang berbicara.


"Saya minta maaf, Pak Dhana." ujar Bram dengan kepala yang masih tertunduk lesu.


"Saya sudah memaafkan anda, Pak Bram. Tapi maaf saya ini tentu tidak gratis untuk anda. Saya yakin, anda tau maksud saya!" jawab Dhana, mengambil alih setir kemudi pembicaraan malam ini.


Pak Aidi, Sadha, Aifa'al, Syahal-Syahil, dan Rainar sontak terkejut mendengar jawaban Dhana yang dengan enteng dan mudahnya mau memaafkan orang jahat seperti lelaki itu. Sementara Bu Aini, Ammar, Mala, Damar dan Wulan tampak mengulas senyumnya, mendengar penuturan Dhana yang sesuai dengan niat awal. Memaafkan Bram yang telah jahat pada anak-anaknya tempo hari.


"Dhana...! Maksud kamu apa sih?" tanya Sadha, melototi sang adik yang gegabah menurutnya.


Dhana hanya tersenyum, menganggukan kepalanya pelan seakan menuntun Sadha untuk tetap tenang dalam penyelesaian ini. Sementara Sadha berdecak, cukup paham dengan maksud Dhana yang sudah mereka bicarakan di halaman samping rumah tadi.


"Bagaimana Pak Bram? Saya sedang tidak bermain-main sekarang! Saat ini juga saya bisa dengan mudah menyeret anda ke sell tahanan. Tapi saya tidak akan melakukan itu, karena saya tidak tega pada adik anda." tukas Dhana, tanpa merespon tanya Sadha.


"Saya mengerti dengan maksud anda, Pak. Saya akan memberitahu anda dan keluarga, di mana Tuan Gibran sebenarnya." jawab Bram, perlahan mengangkat kepalanya.


Dhana tersenyum tipis, menoleh ke arah Ammar yang ikut mengulas senyum di wajahnya disertai pula anggukan samar.


"Sebenarnya Tuan Gibran berada di...


Drap!


Brak!


"Assalamualaikum... Pak Dhana tolong..."


Seruan salam yang tiba-tiba datang bergema lembut tapi keras itu memangkas perkataan Bram seketika, membuat semua mata menoleh cepat ke arah pintu utama, mendapati seseorang yang sangat mereka kenal dan datang ke rumah ini. Tampak tergesah, panik dan cukup gusar. Membuat Dhana dan semuanya beranjak dari posisi.


Sementara yang datang itu terpaku, ketika matanya menangkap sosok di dalam sana. Sosok yang tak kalah terkejut melihatnya di rumah Dhana, membuat sosok itu beranjak tanpa sadar dengan tatapan sangat kaget.


"Kamu...!"

__ADS_1


Seseorang yang semula terpaku di depan pintu utama kini melangkah lebar, berjalan masuk mendekati Bram yang terperangah, hingga kerah bajunya menjadi sasaran kini.


"Di mana Gibran? Kenapa kamu muncul di sini? Ke mana Gibran membawa putriku?! Jawab saya, Bram!" tandas seseorang itu.


"S-saya... s-saya... s-saya..." ujar Bram, terbata-bata karena kerah bajunya sudah ditarik secara brutal oleh seseorang itu.


Dhana bingung harus melakukan apa. Di satu sisi ia ingin melerai sosok yang emosi pada Bram itu. Namun Dhana tidak mungkin memisahkan keduanya dan memeganginya. Hingga akhirnya Dhana pun menjangkau Bram, berusaha menjauhkan Bram dari amukan sosok yang tengah membabi buta itu.


"Bu Kinan... Bu Kinan tenang! Kita bisa bicarakan semua masalah ini dengan baik! Tidak perlu emosi seperti ini." timpal Dhana, berusaha menenangkan Kinan yang emosi.


Ternyata Kinan lah sosok yang datang itu, menghambur ke rumah Dhana dengan tergesah, seakan tengah dikejar waktu. Membuat suasana tegang di rumah itu semakin tegang karena kedatangannya.


"Tidak bisa, Pak Dhana! Saya harus bisa menemukan Zivana malam ini juga! Saya tidak bisa menunggunya lagi! Saya takut, Gibran yang jahat itu juga akan menyakiti putrinya sendiri!" tandas Kinan, berontak.


"Iya, Bu Kinan. Saya mengerti! Tapi tidak seperti ini caranya! Yang ada kita semua tidak akan bisa mendapatkan jalan keluar!" ujar Dhana berusaha menengahi keduanya.


Kinan mendengus marah, menatap tajam Bram yang hanya diam dalam tunduknya, membuat Kinan harus melepaskan Bram karena ia sadar kalau posisinya sekarang tengah berada di rumah orang. Sementara Pak Aidi, Bu Aini, Ammar, Sadha, Mala dan anak-anak yang melihat hanya bungkam.


"Saya akan menjelaskan semua yang terjadi, Nyonya! Saya minta maaf." ujar Bram, masih tertunduk penuh penyesalan.


"Apa yang ingin kamu jelaskan? Kenapa baru muncul sekarang? Kemarin ke mana saja kamu? Ingat ya, Bram! Kalau sampai terjadi sesuatu pada Zivana, saya sendiri yang akan menyeret kamu ke kantor Polisi!" pungkas Kinan, menunjuk tajam Bram.


"Bu Kinan... sebaiknya kita duduk dulu!!!" timpal Pak Aidi dengan tampang dingin.


Kinan menghela berat, berusaha menepis rasa kesal dan amarah yang menyeruak di dalam hati saat melihat keberadaan Bram. Membuatnya merasa sangat malu saat ini, marah-marah pada asisten pribadi mantan suaminya di rumah orang lain, disaksikan oleh semua anggota keluarga inti rumah itu.


"Saya minta maaf semuanya. Saya jadi terbawa emosi saat melihat dia ada di sini." jawab Kinan, merasa tidak enak dengan semua penghuni rumah Dhana.


"Tidak masalah, Bu Kinan. Mari duduk!" timpal Dhana, meminta semuanya duduk.


Pada akhirnya semua pun kembali duduk setelah menghadapi sikap arogan Kinan yang datang tiba-tiba ke rumah Pak Aidi. Emosi pada Bram yang selama ini sudah susah payah Kinan cari, namun hasil dari pencarian itu sendiri tetap saja sama, nihil!


Hening!


"Ada apa Bu Kinan? Kenapa anda datang terburu-buru ke rumah saya? Ada masalah dengan pencarian Gibran?" ungkap Dhana, berusaha memecah hening yang kentara.


"Bukan masalah itu, Pak Dhana. Masalah kali ini lebih penting. Tadi siang Zivana sempat menghubungi saya, dan dia ingin memberitahu saya di mana dia sekarang. Dia meminta saya untuk menjemputnya. Tapi di saat Zivana ingin memberitahu di mana dia saat ini, tiba-tiba sambungan telepon kami terputus. Saya yakin sekali, kalau Gibran tengah memergoki Zivana ketika Zivana sedang menghubungi saya." tutur Kinan menceritakan semuanya.


Dhana dan keluarga termasuk Damar dan Wulan terperangah, mendengar penuturan Kinan yang tampak gusar dan panik karena Zivana sempat menghubunginya. Namun sayang, Gibran memergoki gadis itu ketika dia tengah berusaha memberitahu Kinan.


"Saya yakin, Zivana saat ini sedang tidak baik. Setelah pembicaraan singkat saya dengannya tadi siang, ponsel Zivana tidak bisa dihubungi lagi. Saya takut, lelaki jahat bernama Gibran itu nekat, dan gelap mata pada putrinya sendiri." terang Kinan, panik.


"Apakah sebelum pembicaraan kalian terputus, Zivana sempat memberitahu di mana posisinya saat ini?" tanya Dhana.


"Belum sempat, Pak Dhana. Itulah yang saya takutkan. Sebenarnya saya ingin datang ke sini tadi siang, tapi mendadak para guru di sekolah ingin mengadakan rapat. Jadi saya tidak bisa datang ke sini." jawab Kinan, melihat keluarga Dhana.


Dhana dan Mala saling pandang, gelisah dan takut juga, jika sewaktu-waktu Gibran akan bertindak lagi pada putri mereka. Begitu juga dengan Pak Aidi dan Bu Aini, Sadha dan Ammar, Syahal-Syahil, Aifa'al, Damar-Wulan dan Rainar yang saling pandang cemas bercampur rasa was-was.


"Saya tau tempat persembunyian Tuan Gibran dan Nona Zivana saat ini, Nyonya!" timpal Bram yang bersuara setelah diam.


Bram pun bersuara, memancing semua mata tertuju kepadanya yang tertunduk.


"Ck! Kenapa kau diam saja sejak tadi! Memang dasar orang jahat! Niatnya tidak pernah baik! Tidak mau membantu orang!" umpat Sadha jengah, menimpali Bram.


"Maafkan saya, tapi saya benar-benar tau di mana Tuan Gibran bersembunyi saat ini." jawab Bram, masih tertunduk di duduknya.


"Cepat katakan, Pak Bram! Apa yang anda ketahui tentang lokasi persembunyian tuan majikan anda yang terhormat itu!" pungkas Dhana, menahan geram yang kini menyala.


Bram mengambil nafas dalam, menoleh sesaat ke arah sang adik yang tak kunjung sadar dari pingsannya. Membuatnya takut jika sang adik tidak akan bangun, namun tekat yang bulat menuntunnya berbicara, mengatakan semuanya yang ia ketahui selama ini tentang tempat persembunyian Gibran.


"Sebenarnya Tuan Gibran masih berada di kota ini, namun lokasinya sekarang sangat tersembunyi dan jauh dari jangkauan orang banyak. Beliau dan Nona Zivana tinggal di sebuah Villa yang ada di sana. Tuan Gibran berani mengeluarkan banyak uang hanya untuk membeli Villa itu agar dia tidak dapat dilacak oleh Polisi dan Nyonya." tutur Bram.


"Ck! Ternyata hanya untuk itu dia gunakan semua harta kekayaan almarhum ayahku!!! Dasar lelaki tidak punya hati! Tapi kenapa informasi yang saya dapatkan dari detektif bayaran saya tidak sesuai dengan informasi kamu? Detektif bayaran saya mengatakan, bahwa Gibran berada di sebuah pulau yang jauh dari kota ini dan sangat terpencil, jauh dari jangkauan tangan manusia. Atau kamu sedang menipu kami semua saat ini? Iya?" pungkas Kinan, geram mendengar Bram.


"Saya tidak bohong, Nyonya. Saya berani bersumpah! Semua itu hanya akal-akalan Tuan Gibran. Dia sengaja membuat jejak palsu agar Nyonya Kinan dan para Polisi terkecoh. Tuan Gibran sengaja membuat jejak dan petunjuk palsu, dengan rencana liciknya sendiri karena dia yakin, Nyonya akan membayar orang untuk mencarinya. Namun yang sebenarnya adalah, bahwa Tuan Gibran bersembunyi di pelosok kota." terang Bram, membuka kedok sang tuan.

__ADS_1


"Brengsek sekali lelaki itu!!!" seru Aifa'al, menggeram saat mendengar semua itu.


"Kita harus bergerak cepat, Uncle!" seru Syahil, tak kalah geram dengan Gibran.


"Kalau tidak, Gibran bisa membayar para preman berandalan lagi untuk membawa Adek pergi seperti tadi siang." ujar Syahal.


Kinan mengeryit heran, mendengar perkataan Syahal yang belum ia ketahui bagaimana kejadian tadi siang, tidak hanya tentang Wulan dan kakak-kakaknya yang dikepung geng motor Dimas tapi juga alur Bram hingga dia bisa berakhir di rumah ini.


"Apa maksud keponakan anda, Pak Dhana?" tanya Kinan tidak mengerti.


Dhana menghela nafas, lalu menceritakan semua yang telah terjadi pada anak-anak, termasuk peristiwa Bram yang menembak kaki Aifa'al untuk mengecoh Dimas dkk.


"Kamu benar-benar keterlaluan, Bram!" pungkas Kinan setelah tau semuanya.


"Saya minta maaf, Nyonya. Saya hanya ingin membantu Damar dan Wulan agar rencana Dimas gagal. Saya utang nyawa pada mereka berdua, karena mereka lah adik saya dapat diselamatkan." ujar Bram.


"Tidak perlu merasa berutang seperti itu, Pak Bram. Saya dan adik saya ikhlas membantu Tante Rumi karena beliau memang membutuhkan itu." timpal Damar.


"Saya benar-benar tidak tau lagi harus berkata apa, Damar. Saya sangat salah! Menculik dan menyekap anak yang baik dan tidak berdosa seperti kalian. Saya benar-benar minta maaf." jawab Bram.


"Sudahlah, Pak Bram. Yang penting sekarang, anda sudah menyadari semua kesalahan anda. Saya harap anda tidak akan menyia-nyiakan kesempatan kali ini untuk bertaubat. Kasihan adik anda, Pak." tutur Dhana, melihat Rumi yang pingsan.


"Saya tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan ini, Pak. Saya benar-benar minta maaf. Saya benar-benar menyesal, karena perbuatan jahat saya selama ini, justru berdampak pada Rumi sekarang." tutur Bram, tercekat menahan pilu hatinya.


Dhana menghela berat, menoleh ke arah Ammar yang sejak tadi hanya bungkam, namun matanya tetap melihat bahkan memperhatikan gerak-gerik Bram yang lebih banyak menundukkan kepala karena besarnya rasa bersalah. Membuat Ammar semakin yakin dengan niat baiknya, niat baik yang sempat tidak mendapat dukungan dari Sadha. Tidak hanya Sadha, bahkan Pak Aidi pun juga sempat melarangnya saat Ammar mengutarakan niat baiknya untuk Bram setelah mereka selesai salat berjama'ah.


Namun berkat pengertian Bu Aini yang lembut hatinya, dibantu oleh Mala yang sudah sembuh dari sakitnya, membuat Pak Aidi dan Sadha luluh, hingga mereka pun ikut mendukung niat Ammar untuk Bram.


"Anda tenang saja, Pak Bram. Saya akan mengobati adik anda sampai dia sembuh!"


Kepala Bram terangkat seketika, melihat Ammar yang tiba-tiba mengeluarkan suara dan mengatakan sesuatu yang tentu saja membuat Bram tersenyum getir dan sedih, hingga tangisnya pun tak dapat dibendung lagi. Rasa bersalah pun juga menyelimuti, tidak menyangka kalau keluarga dari anak yang selama ini ia sakiti atas titah Gibran, justru membalasnya dengan cara seperti ini.


"Seharusnya saya dimasukkan ke dalam penjara, Pak." ucap Bram, di sela isaknya.


"Saya dan keluarga tidak ingin membalas kejahatan dengan kejahatan, Pak Bram." jawab Ammar, tak kuasa menahan sedih melihat betapa pilunya seorang penjahat seperti Bram karena adik perempuannya, mengingatkannya pada sang adik tercinta.


"Tapi saya ini orang jahat, Pak. Saya tidak pantas menerima kebaikan keluarga anda dengan cara seperti ini." jawab Bram, lirih.


"Saya melakukan ini bukan untuk anda, melainkan untuk adik anda, Pak Bram!!! Karena saya tau dan sangat mengerti posisi anda saat ini, melihat adik perempuan yang sangat anda sayangi sakit keras itu sungguh menyakitkan, Pak Bram. Dan saya pernah berada di posisi menyakitkan itu." ujar Ammar, berusaha untuk tetap tersenyum.


Kepala Bram yang tertunduk, menangis sedih memikirkan nasib penyakit sang adik pun terangkat lagi. Melihat Ammar yang menjatuhkan air matanya tak kalah deras. Memancing air mata yang lainnya untuk berlinang, termasuk Sadha yang sempat keras hatinya karena tidak menyukai pria jahat seperti Bram. Sementara Kinan yang tidak mengerti apa-apa hanya terbungkam, memilih untuk mendengarkan semuanya.


"Saya, Sadha dan Dhana... sebenarnya kami juga mempunyai seorang adik yang kehadirannya sangat mewarnai hidup kami, melengkapi kami, menerangi hidup kami. Dia adalah penerang keluarga ini. Senyum manisnya yang penuh dengan keceriaan, penuh semangat dan tidak pernah takut apalagi mengeluh, membuat kami semua sangat menyayanginya sampai detik ini. Namun sangat disayangkan, umur adik perempuan kami tidak panjang. Dia pergi untuk selamanya dari kehidupan keluarga kami. Dia meninggal karena penyakit yang sama seperti penyakit Rumi, Pak Bram." tutur Ammar, berusaha tidak menangis di depan Bram apalagi Kinan tapi tidak bisa.


"Apakah adik saya akan berakhir seperti adik anda juga Pak? Saya mohon dengan sangat, Pak. Tolong selamatkan adik saya. Saya sudah tidak mempunyai keluarga lagi selain adik saya. Hanya dia yang saya miliki sampai detik ini. Saya mohon, Pak." tutur Bram, memohon dengan pilunya di depan Ammar.


"Saya akan berusaha, Pak Bram. Karena saya tidak ingin nasib anda sama seperti saya, Sadha dan Dhana." jawab Ammar.


Tangis Bram kian bergema, mengiringi tubuhnya untuk tetap bersimpuh di depan Ammar, memohon pertolongan untuk Rumi. Hingga menguatkan tekad Bram yang bulat, berubah menjadi lebih baik, dan yang paling utama membantu Dhana menangkap sang tuan yang sudah keterlaluan. Menuntunnya beranjak, menyeka air mata dengan cepat, melihat semuanya yang menatapnya heran.


"Saya punya sebuah rencana untuk menangkap Tuan Gibran dan menjebloskan lelaki itu ke dalam kantor Polisi secepatnya!"


.


.


.


.


.


Happy Reading All πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡


Maaf ya kemarin Dina ngak bisa up 🀧 sebagai gantinya Dina up episode panjang untuk hari ini😚 terima kasih kakak2 semua yang masih setia membersamai Wulan β™₯️

__ADS_1


__ADS_2