Takdir Si Gadis Bisu

Takdir Si Gadis Bisu
Episode 22 ~ Siapa Zivana Sebenarnya


__ADS_3

...☘️☘️☘️...


"Kali ini kamu benar-benar membuat Bunda marah, Zivana!!!"


Setelah menempuh perjalanan yang tidak terlalu jauh, Kinan dan Zivana pun sampai tepat di depan halaman rumah mewah mereka yang terletak di perumahan elite nan modern. Kinan yang sejak tadi berusaha untuk sabar di saat mengendarai mobil, kini tidak bisa menahan amarahnya lagi. Saat mobil masuk ke dalam halaman rumah, Kinan yang turun lebih dulu bergegas menghampiri sang putri yang duduk di kursi belakang. Saat pintu mobil terbuka, Kinan langsung menarik tangan Zivana dan bergegas masuk ke dalam rumah mewah itu.


"Bunda jangan termakan dengan omongan Damar. Dia itu berbohong. Masa Bunda lebih percaya sama Damar dibandingkan Zivana." jawab Zivana yang duduk di sofa ruang tamu.


"Jelas Bunda percaya sama Damar karena Bunda melihat semuanya! Kamu dan Bima sangat keterlaluan! Kenapa kamu membuat kacau semuanya? Padahal di saat rapat tadi, Bunda sudah mati-matian membela kamu!!! Semua guru mengeluh dengan sikap kamu, ditambah lagi dengan Bima!!! Apakah kamu masih berhubungan dengan anak bangor itu?" serkas Kinan yang tidak bisa menahan geram.


Zivana terdiam dan menundukan kepalanya. Gadis itu tampak mendengus kesal sekaligus tidak menyangka kalau sang bunda melihat semua yang ia lakukan bersama Bima pada Damar, Wulan dan Rainar. Sementara Kinan yang melihat sang putri terdiam, menghela nafas berat seraya duduk di samping Zivana.


"Sayang... Bunda tidak bermaksud untuk memarahi kamu seperti ini. Hati Bunda sakit jika harus bicara kasar seperti ini sama kamu. Tapi Bunda benar-benar sudah tidak bisa lagi menahan rasa kesal Bunda melihat sikapmu. Terlebih lagi tadi pagi, dengan beraninya kamu meremehkan Wulan di depan Bunda. Semua orang tau kalau kamu itu anak Bunda, Nak."


Zivana tetap bergeming. Kebenciannya pada Wulan semakin besar saat mendengar sang bunda yang selalu membelanya. Tangannya tampak mengepal namun Kinan tidak dapat melihat itu karena Zivana menyembunyikan itu.


"Zivana... jawab Bunda!!! Kenapa kamu selalu membuat onar di sekolah? Kamu tau, semua guru menyalahkan Bunda sebagai ibu kepala sekolah karena tidak tegas mengajari putrinya sendiri! Kamu ingin membuat Bunda malu? Lalu apa yang kamu lakukan tadi? Saat Bima ingin memukul Damar dengan batu bata, tapi kamu hanya diam berdiri dan tersenyum! Apa seperti ini sikap yang mencerminkan kalau kamu anak dari seorang pemilik sekolah?" ujar Kinan seraya meraih kedua bahu Zivana.


"Untuk apa lagi Zivana jawab, Bunda! Semua itu tidak akan membuat Bunda percaya 'kan? Yang Bunda percaya hanya Damar dan gadis bisu itu! Bunda hanya percaya dengan semua penuturan guru yang menjelekkan Zivana di depan Bunda! Memang benar! Zivana masih menjadi kekasih Bima! Lalu kalau benar, Bunda mau apa?" jawab Zivana yang menatap tajam sang bunda.


"Bunda mau kamu putus dari Bima! Bima itu anak yang tidak baik. Karena Bima, kamu jadi seperti ini dan karena anak itu juga kamu jadi keras kepala!!! Kamu tidak boleh berhubungan dengan anak itu lagi! Asal kamu tau, Bima itu salah satu siswa yang tidak tau etika!!! Bima sudah 4x tidak naik kelas dan seharusnya dia saat ini sudah masuk ke bangku perkuliahan! Dan usianya jauh di atas kamu!!! Kalau bukan karena orang tuanya yang memohon, mungkin Bunda sudah mengeluarkan Bima sejak dulu!" serkas Kinan seraya meyakinkan sang putri.


"Persetan dengan usia atau sudah 4x Bima tidak naik kelas, Bunda!!! Selain Papa hanya Bima yang bisa mengerti perasaan Zivana!!! Sedangkan Bunda, bisanya hanya menuduh dan menyalahkan Zivana seenak hati Bunda! Zivana benci, Bunda!!! Zivana benci!!!" tandas Zivana yang emosi dan beranjak pergi.


Kinan pun menghela nafas kasar dan terus memijat pelipisnya yang terasa sangat berat melihat sikap sang putri. Kinan yang sudah berusaha untuk sabar sejak dulu, tepatnya di saat sang suami memberikan kepercayaan padanya untuk menjadi kepala sekolah SMP Jaya Mandiri. Namun akhirnya rasa sabar itu melewati batas dan berakhir seperti ini.


"Ada apa Sayang?"


Lamunan Kinan buyar seketika saat suara itu tiba-tiba terdengar dari arah belakang. Akibat terkejut, Kinan pun menoleh dan mendapati keberadaan sang suami yang mendekatinya.


"Mas Gibran..."


Gibran Athaariq, sosok seorang pria yang sudah menginjak kepala empat di usianya saat ini. Sosok pria dewasa yang menjadi pemilik di SMP Jaya Mandiri, sekaligus ayah dari Zivana Asmeralda dan suami dari Kinan Ashilla Sari.


"Ada apa Sayang? Sepertinya aku mendengar suara ribut-ribut di ruang tamu. Kamu sedang bertengkar dengan siapa?" tanya Gibran yang mengedar pandangan mencari lawan bicara sang istri.


"Aku... aku bertengkar dengan Zivana, Mas." jawab Kinan yang tertunduk sedih dan ragu untuk cerita pada suaminya itu.


"Ada apa dengan Zivana? Apa dia buat masalah lagi di sekolah?" tanya Gibran yang sudah kenal betul dengan sifat sang putri.


Kinan pun menghela nafas panjang seraya memijat pelipisnya lagi. Sementara Gibran merasa heran dengan sikap Kinan yang tidak seperti biasanya. Walaupun ia mengenal betul sifat Kinan terhadap sang putri tapi sikap sang istri kali ini terlihat sangat frustasi dan berbeda dengan sebelumnya.

__ADS_1


Melihat sang istri yang terlihat begitu stress, Gibran pun membawanya duduk agar istrinya itu bisa lebih tenang dan rileks.


"Aku minta maaf, Mas. Mungkin aku terlalu kasar pada Zivana. Karena terlalu emosi dan kesabaranku habis, aku jadi marah-marah. Zivana pasti membenci aku sekarang karena memarahinya." tutur Kinan seraya tertunduk.


"Memang ada apa? Kamu tidak mungkin marah tanpa alasan. Pasti ada sebabnya kenapa kamu sampai marah pada Zivana." ujar Gibran seraya meraih dan menggenggam tangan sang istri.


"Tadi ada rapat sebentar di ruang para guru setelah pulang sekolah. Semua guru marah, kecewa dan kesal dengan sikap Zivana, Mas. Sejak awal tahun pelajaran yang lalu, Zivana berubah secara drastis. Sifatnya jadi angkuh, tidak peduli dengan peraturan sekolah, tidak membuat tugas dan latihan yang diberikan guru, sering cabut dan yang lebih parah lagi Zivana masih berhubungan dengan Bima!!!"


Gibran menghela nafas kasar saat mendengar cerita sang istri. Gibran sendiri memang sudah melihat perubahan dengan sikap putrinya itu. Namun tidak separah ini. Cerita sang istri kini membuatnya cemas dengan sikap putrinya itu.


"Zivana yang sekarang semakin tidak tau etika, Mas. Semua guru mengeluh dan sudah tidak tahan lagi dengan sikap buruk Zivana. Dengan susah payah aku berusaha meyakinkan para guru tapi seketika Zivana menghancurkan itu, Mas. Sebelum aku membawanya pulang, dia dan Bima sedang menghadang jalan 3 orang siswa untuk bisa pulang. Bahkan Bima hampir memukul salah satu dari siswa itu dengan batu bata. Kalau aku telat sedikit saja, mungkin anak itu sudah masuk ICU karena ulah Bima. Mas tau apa yang dilakukan Zivana? Anak itu hanya diam, tersenyum melihat pertunjukkan itu. Aku benar-benar tidak habis pikir, Mas. Bagaimana lagi caranya aku mendidik Zivana dengan baik? Jujur, aku capek Mas! Aku capek kalau Zivana seperti ini terus."


Lolos sudah bulir bening dari pelupuk mata seorang Kinan yang mempunyai hati nurani yang sangat lembut. Sejujurnya Kinan lelah menghadapi sikap Zivana yang semakin hari semakin tidak baik. Dengan sekuat tenaga, Kinan masih berusaha untuk mengubahnya tapi hal itu hanya sia-sia dan Zivana tetap bersikap tidak baik di sekolah. Melihat bulir bening yang jatuh di wajah sang istri, Gibran pun merangkul dan membawanya ke dalam pelukan. Kinan pun bersandar di dada bidang sang suami dan mencari kehangatan di sana.


"Kamu sudah berusaha kuat, Sayang. Aku sangat berterima kasih karena kamu masih sanggup bertahan untuk mengurus putriku sampai detik ini. Maafkan aku, kalau selama kamu menjadi istriku, kamu hanya mendapat kesedihan ketika mengurus serta mendidik Zivana sampai sebesar itu. Maaf kalau aku hanya memberikan beban ke dalam hidupmu." tutur Gibran yang mengelus kepala sang istri.


"Kamu bicara apa sih Mas? Aku bukan capek karena mengurus dan mendidik Zivana. Tapi aku capek karena harus memegang dua peran sekaligus di dalam hidupku. Aku sudah lelah dengan posisiku sebagai kepala sekolah dan sekaligus wali kelas. Walaupun ini merupakan pilihanku sejak awal, mengemban dua peran langsung agar aku bisa mendidik Zivana dari sisi pandangan seorang guru dan sebagai ibu. Tapi kenyataannya, aku tidak sanggup, Mas." tutur Kinan yang menatap lekat manik Gibran.


Seutas senyum pun terbit di bibir Gibran saat mendengar penuturan sang istri yang sangat tulus. Pria berusia kepala empat itu merasa sangat beruntung mendapatkan istri setulus dan selembut Kinan Ashilla Sari sebagai ibu untuk Zivana. Dengan hati yang penuh rasa haru, Gibran menarik dan memeluk Kinan lagi.


"Terima kasih, Sayang. Terima kasih karena kamu sangat menyayangi Zivana. Aku dan Zivana beruntung punya kamu. Maafkan aku karena selama ini, aku terkesan diam. Tapi percayalah, aku sangat mencintaimu, Kinan!" ujar Gibran yang memeluk erat sang istri.


Senyum Gibran semakin terbit tatkala Kinan berkata tulus seperti itu. Lalu Gibran melerai pelukannya dan menatap lekat manik Kinan.


"Aku akan bicara dengan Zivana. Lebih baik kamu mandi dan istirahat. Biarkan aku yang menangani Zivana sekarang." ujar Gibran seraya menangkup wajah cantik istrinya itu.


Kinan yang sudah tampak lelah pun menghela nafas lalu mengangguk. Lalu Kinan beranjak, berjalan menuju kamarnya agar bisa langsung rebahan dan istirahat. Sementara Gibran yang menatap sang istri berjalan sampai hilang dari pandangan pun ikut beranjak, berjalan menuju kamar sang putri yang berada di lantai atas.


Ceklek!


Saat membuka pintu kamar Zivana, kepala Gibran pun masuk sedikit untuk melihat situasi yang ada di dalam kamar itu. Sementara sang pemilik kamar yang baru saja keluar dari kamar mandi dibuat terkejut saat melihat keberadaan sang papa di dalam kamarnya.


"Papa bikin kaget saja nih!" sungut Zivana.


"Sorry, sorry, Papa memang sengaja ingin membuat kamu terkejut. Kamu habis mandi?" jawab Gibran yang bertanya balik pada Zivana.


"Menurut Papa?" tanya Zivana dingin.


"Papa boleh bicara sebentar?" tanya Gibran.


Zivana hanya mengangguk seraya duduk di kursi meja riasnya. Sementara Gibran duduk di tepi tempat tidur sang putri dan menatapnya.

__ADS_1


"Jangan terlalu keras sama bundamu, Nak. Tidak ada salahnya bukan kalau kamu ikut mematuhi apa yang menjadi aturannya di sekolah? Jangan membuat bundamu susah. Dia sudah bekerja keras selama ini, Sayang." tutur Gibran yang to the point pada Zivana.


"Oh jadi Bunda sudah mengadu pada Papa? Baguslah kalau seperti itu. Jadi sekarang ini Papa sedang melanjutkan amarah Bunda?" sungut Zivana tanpa menoleh ke arah Gibran.


"Bukan seperti itu, Sayang. Bunda tidak mengadukan apa-apa pada Papa. Tapi coba kamu pikirkan, betapa sayangnya bundamu itu sama kamu. Papa perhatikan akhir-akhir ini sikap kamu memang banyak berubah. Papa bicara saja tidak kamu acuhkan dan sibuk di depan cermin!!!" ujar Gibran yang berusaha membujuk putri semata wayangnya itu.


"Pa... ayolah, Zivana capek! Jangan bicara tentang masalah itu sekarang ya. Please..." tutur Zivana yang memelas dan memohon.


Melihat puppy eyes sang putri yang sangat memohon, membuat Gibran luluh juga dan akhirnya mengangguk setelah helaan nafas panjang ia hembuskan. Lalu Gibran beranjak dan mendekati putrinya itu.


"Sifat keras kepala kamu yang seperti ini mengingatkan Papa dengan almarhumah mama kamu, Nak. Mama kamu pasti sedih melihat putrinya juga memiliki sifat keras kepala seperti dirinya. Tapi ya sudah, Papa akan memberikan kamu waktu. Jika kamu sudah siap untuk bicara, maka jangan lupa untuk menemui Papa." ujar Gibran seraya membelai lembut kepala sang putri.


"Jangan bawa-bawa Mama, Pa. Mama sudah tenang di sana dan tidak perlu disebut lagi!!!" jawab Zivana yang merasa sedih jika Gibran menyebut nama sang mama.


"Ya sudah, Papa keluar dan kamu langsung istirahat." ujar Gibran yang menunjuk wajah Zivana.


Zivana yang masih cemberut dan kesal pun hanya mengangguk. Sementara Gibran yang mengerti dengan sikap sang putri memilih untuk langsung keluar dari kamar itu. Dengan perlahan, Gibran menutup kembali pintu kamar sang putri. Seutas senyum pun terbit tatkala memori otaknya seakan berputar mengingat kenangan bersama mendiang sang istri yang meninggal dunia setelah melahirkan Zivana.


Pertemuan yang unik dan singkat saat ia hendak melakukan perjalanan keluar negeri, membuat Gibran langsung merasa nyaman dengan kehadiran mendiang sang istri saat itu. Apalagi setelah mengetahui, bahwa negara tujuan mendiang sang istri sama dengannya. Perjalanan cinta pun dimulai di negeri orang, tepatnya di Singapore. Setelah tujuh tahun berpacaran, Gibran dan mendiang sang istri pun memutuskan untuk menikah. Kehidupan pernikahan mereka semakin bahagia tatkala Zivana tumbuh di dalam rahim mendiang istri tercinta hingga pada akhirnya sang istri harus meninggal setelah melahirkan buah cintanya.


Tiga tahun lamanya, Gibran mengurus dan merawat Zivana seorang diri. Hingga Kinan hadir di dalam hidupnya setelah tidak lama Gibran pindah ke Jakarta dan membangun beberapa sekolah yang di antaranya adalah Taman Kanak-kanak Jaya Mandiri, Sekolah Dasar Jaya Mandiri, SMP serta SMA Jaya Mandiri. Dengan menggunakan modal yang berasal dari harta warisan orang tua, Gibran berhasil sukses dan hidup seperti sekarang bersama Zivana dan Kinan. Kehidupan sang putri yang tidak mengalami kekurangan apa pun, membuat Gibran bersyukur. Paling tidak kehidupan sang putri tidak seperti kehidupan dirinya yang kelam di masa lalu.


Gibran pun berjalan menuruni tangga hendak menuju ruang kerjanya. Tempat yang menjadi saksi bisu kesuksesan seorang Gibran hingga saat ini. Memori otak yang sempat berputar membawa Gibran mendekati lemari kerjanya. Lemari yang tertata rapih dengan buku-buku, berkas-berkas penting dan pastinya rahasia. Saat ia berdiri di depan lemari itu, Gibran pun meraih sesuatu yang tampak seperti bingkai sebuah foto. Bukan sekedar foto biasa, tapi foto yang memiliki kenangan indah saat raga sang pemilik wajah di dalam foto itu masih ada di dunia ini. Dipeluknya bingkai foto itu dengan erat, seakan tengah memeluk raga sang pemilik wajah di dalam foto itu. Tanpa terasa air mata pun ikut mengalir beriringan dengan kerinduan yang mendalam namun harus ditutup rapat.


"Aku sangat merindukan kamu, istriku. Aku sangat merindukan kamu, Mira sayang..."


.


.


.


.


.


Happy Reading All 😇😇😇


Ada yang ingat dengan nama Mira? Atau Miranti nama panjangnya 🤭 Wkwk kalau kalian sudah membaca novel pertama author, kalian pasti tau siapa Miranti 🤭🤭🤭 kapan-kapan bakal author buat flasback-nya yaa, kalau sudah masuk konflik besar 😅😅


Terima kasih karena kalian para sahabat masih senantiasa mengikuti kisah ini ❤️ jangan lupa untuk di favoritkan biar ngak ketinggalan sama ceritanya ya 😘 jangan lupa di like, komen dan kalau boleh author minta vote juga deh 🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2