Takdir Si Gadis Bisu

Takdir Si Gadis Bisu
Episode 109 ~ Kunjungan Dimas


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


"Hai Bim... bagaimana kabar lo?"


Dengusan samar yang keluar dari mulut Bima terdengar jelas di wajah gusarnya, terlihat sekali kalau kondisinya sekarang sangat bertolak belakang dengan cuaca cerah di pagi ini. Cahaya sang raja pagi yang cerah seakan menertawakan, puas menyaksikan penderitaan Bima yang jahat.


Tatapan tak suka pun terlukis jelas di wajahnya yang sangat frustasi, kacau, bahkan penuh luka memar di sana sini, membuat anak yang sudah memasuki usia dewasa itu terlihat tak terurus. Menandakan jika dirinya sangat jauh dari kata baik-baik saja selama satu pekan berlalu cepat.


"Bicara seperlunya saja!!! Waktu kalian hanya 10 menit!" seru Polisi penjaga itu.


Bima bergeming, memilih duduk di depan sosok yang menjenguknya hari ini, dibatasi oleh sebuah meja seraya mengulas sedikit senyumnya. Sementara Polisi itu bergegas keluar, menjaga di depan ruang kunjungan.


"Mau apa lo datang ke sini?"


"Mau jenguk lo!!!"


Bima berdecak kesal, memberikan senyuman miring tak suka dan kecewa yang teramat besar pada sosok di depannya itu. Sementara Dimas, sosok pria yang datang menjenguk Bima pagi ini hanya menghela nafas kasar, berusaha menahan emosi yang sebenarnya sudah membuncah karena sikap ketidakramahan Bima saat dikunjungi.


"Kenapa baru datang sekarang? Selama seminggu ini lo ke mana saja, hah? Baru sadar, kalau kapten lo hilang dari permukaan bumi?" umpat Bima, marah.


"Gue sibuk, Bim. Selain sama anak-anak motor, gue juga sibuk sama tugas kuliah yang menumpuk. Jadi gue baru sempat datang ke sini buat menjenguk lo." tutur Dimas, meyakinkan sang kapten tercinta.


"Ck!!! Basi!!!" sungut Bima, memalingkan wajah karena terlanjur kecewa dan kesal.


"Lo baik-baik saja 'kan?" tanya Dimas, santai namun efeknya sangat fatal bagi Bimantara.


"Baik-baik saja lo bilang? Lo lihat nih wajah gue!!! Setiap malam gue jadi korban amukan manusia-manusia idiot bertubuh besar yang jadi peliharaan kantor Polisi di dalam sell!!!" tukas Bima, memperlihatkan wajahnya yang memang penuh dengan memar dan luka.


"Terus apa yang bisa gue bantu? Orang tua lo pasti sudah tau 'kan tentang masalah ini?" ujar Dimas, mencondongkan tubuhnya ke meja.


Bima mendengus marah, mendengar gelar sakral yang tersemat pada kedua paruh baya miliknya itu membuat darah semakin mendidih. Orang tua yang diharapkan bisa membantu, justru ikut menyalahkan. Tidak ingin menolong walaupun hanya sekedar memberikan pembelaan di depan Polisi.


Orang tua Bima lepas tangan begitu saja dan tidak ingin ikut campur lebih dengan masalah baru putranya, dan memilih pergi jauh hidup di luar negeri demi menutupi kasus yang sebenarnya sedang marak.


"Mereka tidak mau membantu gue! Justru mereka juga ikut-ikutan menyalahkan gue!" jawab Bima, kesal mengingat orang tuanya.


"Jadi mereka sudah tau?" tanya Dimas.


"Tidak cuma tau, tapi sudah pernah datang ke sini beberapa hari yang lalu!" tukas Bima, kesal.


"Terus apa rencana lo?" tanya Dimas.


"Lo bawa hp, tidak?" tanya Bima balik.


"Bawa dong! Kenapa?" jawab Dimas.


"Gue mau pinjam dong! Mau lihat media sosialnya si Damar! Gue mau memastikan kalau setidaknya Gibran masih membantu gue buat menyingkirkan nama Damar dari kandidat ketua osis di sekolah."


Dimas terbungkam, wajahnya mendadak pias saat Bima ingin meminjam ponselnya tiba-tiba, seakan ada rahasia di dalamnya.


"Dim... kok malah diam? Pinjam dong!"


Dimas terjingkat, lamunan yang terlanjur jauh dipaksa berhenti ketika mendengar suara Bima.


"Nih! Tapi jangan lama!" seru Dimas.


"Cerewet lo kayak emak-emak!" sungut Bima.


Dimas mendengus samar, membiarkan tangan Bima terus berkelana di atas layar ponselnya, membuka media sosial dan mencari akun media sosial Damar yang ia maksud tadi.


"Kenapa akun media sosial si Damar masih aman saja? Tidak ada tanda-tanda campur tangan dari hecker dalam media sosial tuh anak!!!" umpat Bima, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya barusan.


"Masa sih? Coba gue lihat sini?" tanya Dimas, merebut kembali ponselnya dari Bima yang mulai memanas.


Dimas mengeryit, namun seutas seringai tipis terbit dari kedua sudut bibirnya ketika melihat akun media sosial Damar yang digunakan untuk keperluan kampanye sebagai calon ketua osis. Sementara Bima, jangan ditanya lagi bagaimana wajahnya yang gusar itu sekarang. Sangat seram!!!


"Sepertinya Pak Gibran tidak..."


Brak!


"Gibran brengsek! Tua bangka itu benar-benar sudah menipu dan memanfaatkan tenaga gue saja! Dengan embel-embel imbalan, kalau dia bakal membantu gue buat menjatuhkan Damar! Tapi apa sekarang? Dia enak bisa terlepas. Lalu gue? Benar-benar manusia licik!"


Ucapan Dimas terpangkas sebelum terucap oleh Bima. Suara hantaman meja pun ikut mengiringi pembicaraan keduanya. Wajah Bima kian merah, menahan amarah yang sudah mencapai puncak tertinggi di ubun-ubun. Sedangkan Dimas, masih terlihat tenang, tanpa ada rasa takut dalam diri.


"Tenang dulu Bim! Kalau lo emosi, lo tidak akan mendapatkan jalan keluarnya!" ujar Dimas.

__ADS_1


"Kabar Zivana bagaimana? Terakhir kali gue coba menghubungi dia, tapi ponselnya tidak aktif." jawab Bima, menepis amarah yang memuncak.


"Gue tidak tau! Kabar yang gue dengar dari media sih, Pak Gibran tidak kabur sendirian." jawab Dimas.


"Jadi Zivana sama Bu Kinan juga ikut kabur?" tanya Bima, mencondongkan tubuhnya spontan.


"Gue tidak tau, Bim! Tapi kemarin, sempat ada pesan suara yang tiba-tiba masuk ke ponsel gue. Gue juga tidak tau dari siapa. Karena penasaran, ya gue buka dan gue dengar, ternyata suara itu milik Zivana. Suaranya seperti sedang marah!" tutur Dimas, seraya memberikan lagi ponselnya.


Guratan amarah yang tercetak semakin jelas, ketika terdengar begitu jelas suara Zivana dari ponsel Dimas. Kata-kata hinaan bercampur dengan penyesalan, tidak hanya menggambarkan kebencian namun juga kemurkaan Zivana di balik pesan suara nan singkat itu. Membuat Bima semakin geram, tangan pun menjadi sasaran kepalan nya.


"Oh... jadi seperti ini sekarang? Setelah gue membantu papanya yang licik itu, sekarang dengan mudahnya dia bilang jijik sama gue! Oke... gue tidak masalah! Bahkan gue tidak kalah jijik sama tuh cewek! Dasar munafik!"


Bima meracau, mengeluarkan segala kekesalan hati yang menguasai diri, tidak menghiraukan Dimas yang sesekali tampak menyunggingkan seringai tipis, dengan posisi tangan yang masih memegang ponsel di atas meja. Yang pasti, seringai di wajah itu sangat berbeda jauh dengan Dimas sebelumnya.


"Saat ini cuma lo yang bisa gue andalkan, Dim!"


"Gue siap buat bantu lo keluar dari sini!!! Tapi kira-kira, apa yang harus gue lakukan biar lo bisa terbebas dari tempat ini?"


"Aifa'al dan Damar! Kesaksian mereka sangat berharga buat gue! Gue yakin, mereka pasti tau kalau sebenarnya gue tidak salah! Gue dijebak dan dimanfaatkan Gibran untuk melancarkan misinya! Entah misi apa itu gue tidak peduli dan gue tidak mau tau! Yang gue pikirkan sekarang ini, bagaimana caranya gue bisa bebas dari sini!" tutur Bima, terdengar mengiba.


"Lo yakin? Mereka mau memberi kesaksian? Mereka 'kan benci banget sama lo, Bim!!!"


"Setidaknya kita coba dulu, Dim! Satu-satunya cara yang paling benar, ya ini! Gue sudah tidak punya kuasa apa-apa lagi karena semua fasilitas yang pernah gue pegang, sudah ditarik papa gue. Gue tidak punya uang lagi buat menyewa pengacara."


Dimas menghela nafas singkat, sebelum akhirnya ia memberi keputusan pada Bima yang sangat mengharapkan pertolongan.


"Oke... gue akan bawa Al dan adiknya itu ke depan lo. Kalau begitu, gue pamit dulu. Gue harus ke kampus lagi hari ini." jawab Dimas.


"Oke... terima kasih, Dim." ucap Bima.


Dimas mengangguk, menepuk bahu sang kapten sebelum beranjak pergi dari ruang kunjungan itu. Sementara Bima langsung dibawa lagi oleh Polisi, masuk ke dalam sell tahanan untuk melanjutkan hukuman.


Bruk!


Dimas yang sibuk dengan ponsel tidak sadar jika di depannya ada lawan, berjalan terburu-buru hendak masuk namun harus bertabrakan dengannya yang ingin keluar.


"Maaf saya tidak sengaja."


Sosok wanita berhijab dengan penampilan biasa dan memakai kaca mata hitam, sedikit berjongkok berusaha mengambil ponsel Dimas yang terjatuh karena kecerobohan pemiliknya sendiri.


"Maaf saya benar-benar tidak sengaja."


Dimas mendengus geram, merebut kasar ponselnya yang masih digenggam oleh wanita berhijab itu tanpa mengedepankan rasa hormat sedikit pun pada orang yang lebih tua, lalu pergi tanpa mengatakan kata maaf walau tidak didasari niat sekalipun. Mengangkat telepon yang berbunyi tidak lama setelah ia beranjak meninggalkan sosok wanita berhijab berkaca mata itu.


"Rekaman suara Bima sudah saya kirim ke ponsel anda, Pak. Dan pesan suara yang pernah anda kirim pada saya waktu itu, juga sudah didengar langsung oleh Bima. Dia sangat marah dan rencana kita berhasil!!!"


"Bagus! Terima kasih atas kerja samanya!"


"Sama-sama, Pak."


"Setelah ini kamu tidak perlu menghubungi saya lagi. Uang yang kamu minta juga sudah saya transfer, jadi kerja sama kita sudah berakhir sampai di sini."


"Baik Pak. Terima kasih juga karena berkat anda, saya bisa menjadi ketua di dalam geng motor menggantikan posisi si Bima."


"Tidak masalah!!! Kalau begitu, mari kita akhiri pembicaraan kita. Selamat pagi!!!"


Dimas mengangguk, memutus panggilan telepon setelah berbincang ria dengan sosok di balik sana. Setelah itu ia beranjak pergi, melajukan motor dengan kecepatan angin. Tanpa sadar, sosok wanita berhijab yang sempat ia tabrak di depan pintu utama kantor Polisi saat hendak keluar dari sana, melihat dan mendengar pembicaraan nya.


"Dia pasti anak yang bernama Dimas!!! Orang kepercayaan Bima. Tapi sepertinya tidak akan lagi, setelah dengan jelas aku mendengar suara di balik teleponnya itu!"


Wanita berhijab menggeleng heran, tidak mengerti lagi dengan situasi yang baru saja ia dapatkan barusan.


"Bima... selain keras kepala, ternyata kamu itu juga bodoh! Tidak bisa membedakan mana yang kawan, dan mana yang lawan!"


Wanita berhijab itu menekan layar ponselnya, memasukkan kembali benda pipih itu ke dalam tas lalu ia beranjak pergi, bergegas masuk ke dalam kantor Polisi.


***


Satu pekan berlalu setelah kabut duka menyelimuti, suasana duka pun masih begitu kentara, terasa di lubuk hati yang paling dalam, menyisakan kenangan indah yang pernah terajut mesra, menemani perjalanan hidup yang pasang surut. Kini semuanya berubah, seakan bergulir ke masa lalu yang pernah terbalut dalam duka.


Semuanya kembali ke aktifitas semula, walau duka masih ada namun hidup harus tetap optimis dan penuh tenaga, menjalani sisa hidup di penghujung waktu yang ada.


"Damar..."


Langkah kaki terhenti seketika, tatkala suara itu berseru memanggil nama, membuat Damar mengedar mata, mencari sumber suara yang wujudnya sulit untuk ditemukan.

__ADS_1


"Ck! Siapa yang memanggil sih?"


Damar meremang, mata yang terus mengedar tak mampu menemukan sosok pemilik suara itu, seakan yang memanggil adalah makhluk tak kasat mata.


"Ck! Di sini woi! Mas ada di teras depan!"


Suara bariton itu semakin bergema keras, memanggil sang adik yang terlihat bingung.


Damar berdecak gemas, ketika melihat kepala sang mas kembar di teras depan menyembul ke dalam pintu, memanggilnya seraya melambaikan tangan. Menuntun kaki untuk melangkah, mendekati kedua mas kembar yang sejak satu pekan ini memilih untuk menginap di rumah sang oma.


"Opa sama Oma pergi ke mana Mas? Kok rumah sepi banget pagi ini?" tanya Damar, mendaratkan tubuhnya di atas lantai teras.


"Mas juga kurang tau. Saat kami bangun tidur pun rumah sudah sepi." jawab Syahal.


"Uncle sama Adek mana Mar?" tanya Syahil.


"Adek masih di kamar, Mas. Kalau Papi masih di kamar juga sepertinya." jawab Damar, memasang wajah mode lesu.


Syahil mengeryit, menatap heran wajah sang adik yang mendadak lesu, seakan tidak ada semangat dalam dirinya hari ini.


"Kamu kenapa Damar? Kok lesu?" ujar Syahil, berpindah duduk ke sisi Damar.


"Rumah jadi sepi sejak Paman pergi, Mas." jawab Damar, mengusap wajahnya kasar.


"Kamu masih belum puas ketemu Paman?" tanya Syahil, memutar tubuh sepenuhnya, memberi perhatian khusus untuk sang adik.


Damar mengangguk lesu, masih teringat dengan sang paman yang sudah tenang.


"Jangan lesu lagi, Damar. Nih, lihat! Media sosial kamu semakin banyak followers nya! Tandanya, makin banyak yang voting kamu dan suka sama program osis kamu!" timpal Syahal, ikut duduk di sisi Damar yang lain.


Guratan kesedihan di wajah Damar menguap begitu saja, tatkala mata melihat layar ponsel sang mas kembar yang masih menyala, memperlihatkan sebuah akun di mana media sosial Damar terpampang.


"Yang benar Mas? Damar saja sempat lupa loh sama akun media sosial Damar. Untung saja ada Mas Syahal. Terima kasih ya Mas." jawab Damar, langsung berbinar semangat.


"Makanya jangan lesu lagi! Paman Imam sudah bahagia dan tenang bersama Onty Dhina di sana!!! Mungkin mereka sedang bulan madu di surga. Namanya pasangan suami istri yang sudah lama berpisah, lalu dipertemukan lagi. Pasti sangat bahagia." tutur Syahal, menatap langit berawan biru.


"Bulan madu!!! Dasar mesum!" sungut Syahil, mencibirkan sang mas kembar.


Syahal mencibir balik sang kembaran, mengambil kembali ponselnya dari Damar yang hanya bisa menggelengkan kepala.


"Adek mana?" tanya Syahal.


"Di kamar Mami, Mas." jawab Damar.


"Sendirian saja?" tanya Syahal.


"Ada Papi, tapi lagi mandi." jawab Damar.


Syahal dan Syahil saling pandang, merasa khawatir dengan Wulan yang ada di dalam kamar Mala di saat Dhana sedang mandi.


Prank!


.


.


.


.


.


Happy Reading All 😇😇😇


Ada yang bisa nebak Dimas lagi bicara sama siapa di telepon ngak? wkwkwk, sepertinya kalian semua udah tau nih✌️


Dan wanita berhijab itu?


Oke markijut... mari kita lanjut 😘🔜


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2