
...🍁🍁🍁...
"Bawa mereka turun! Cepat...!"
Setelah melakukan perjalanan yang tidak terlalu jauh dari lokasi rumah kosong, kini Gibran dan anak buahnya yang berjumlah lima orang bertubuh besar itu telah sampai di suatu tempat. Tampak di depan mata, sebuah bangunan cukup tinggi mencakar langit, namun terlihat sepi seperti kuburan. Tidak berpenghuni apalagi cahaya lampu, sungguh menyeramkan jika dilihat di saat tengah malam yang pekat seperti malam ini.
"Lepas! Lepaskan kami! Dasar pecundang!" serkas Rumi, terus memberontak kuat agar dirinya bisa terlepas dari anak buah Gibran.
Wulan hanya diam, bukan berarti tidak mau melawan atau memberontak seperti Rumi, namun keterbatasan diri lah yang membuat gadis kecil yang memiliki takdir nan buruk itu harus diam. Hanya matanya yang berbicara, mengungkapkan ketakutan bercampur rasa kesal dan amarah yang membuncah di hati, seraya menghunuskan tatapan tajam pada rival sang mami yang terus menuntut balas dendam itu. Sementara Gibran menyeringai, sadar dengan tatapan tajam yang diberikan Wulan padanya, tanpa ada rasa takut lagi.
Plak!
Kejam bahkan tidak berperikemanusiaan sama sekali lelaki berusia kepala empat itu. Dengan kekuatannya sebagai lelaki dewasa, Gibran dengan entengnya menampar pipi gadis kecil yang tidak berdosa, gadis yang tidak tau apa-apa tentang dendam masa lalunya pada sang mami, membuat Wulan terhuyung. Mungkin jika tangan gadis kecil itu tidak dipegangi anak buah Gibran, gadis itu akan tersungkur. Sementara Rumi yang melihat itu semakin geram, menatap tajam Gibran yang hanya menyeringai bahagia.
"Ingatlah Pak Gibran! Anda mempunyai seorang putri, bukan? Suatu saat nanti, perbuatan yang anda lakukan pada Wulan malam ini akan berbalik pada putri anda!!!" tandas Rumi, tak kuasa lagi menahan hati yang semakin terbakar api amarah besar.
"Oh ya? Sayangnya hal itu tidak akan pernah terjadi di dalam hidup putri dari seorang Gibran Athaariq yang berkuasa!" jawab Gibran dengan seringai puasnya.
"Anda terlalu percaya diri, Pak Gibran!!! Sampai anda melupakan sesuatu, bahwa di atas langit masih ada langit!!! Jadi anda jangan sombong dulu! Karena orang yang sombong itulah yang akan berakhir celaka nantinya!" pungkas Rumi, menahan emosi.
"Rumi, Rumi...! Sejak tadi kamu itu hanya bisa ceramah, ceramah dan ceramah saja! Apa tidak ada kegiatan lain selain ceramah? Atau kamu sadar, kalau usiamu tidak akan panjang karena penyakit kerasmu itu? Dan dengan cara menceramahi saya, kamu bisa mengumpulkan banyak pahala agar kamu masuk surga? Seperti itukah niatmu, Rumi?" ujar Gibran, tergelak samar menatap Rumi.
Rumi terbungkam, mendengar hinaan Gibran yang sukses mengoyak relung hati, hingga meninggalkan bekas luka, teringat dengan penyakitnya yang memang parah. Sementara Wulan yang melihat perubahan raut wajah Rumi pun meneteskan air mata, tidak tega melihat Rumi yang sebenarnya rapuh dengan penyakitnya harus mendapat hinaan keras berbentuk kata-kata dari lelaki jahat seperti mantan pemilik sekolahnya itu.
"Kenapa diam? Itu berarti perkataan saya benar, bukan? Hahahaha... dan untukmu, gadis bisu yang cantik. Malam ini dan di sini, saya akan memperlihatkan sebuah kejutan untuk mami kamu! Dia harus menyaksikan putri kesayangannya, mati, jatuh dari atas gedung mencakar langit itu! Hahahaha...!"
Gibran tergelak lepas, menatap wajah Wulan yang berubah pias dengan bulir peluh dan air matanya. Sementara Wulan bergeming, matanya membulat sempurna ketika mendengar perkataan Gibran yang jelas-jelas akan mengancam nyawanya.
"Bawa mereka ke atas!" seru Gibran.
"Baik Bos!" jawab anak buah Gibran.
***
"Assalamualaikum...!"
Pekatnya malam seakan tak menyurutkan niat untuk terus beraksi, melakukan sesuatu yang bisa membantu untuk menyelamatkan jiwa orang tercinta. Tak menghiraukan lagi betapa dinginnya angin malam menembus kulit, menyentuh tulang yang sebenarnya sudah merintih karena merasa sangat lelah. Namun pikiran yang tidak bisa tenang terus menghantui, membayangkan jika sang adik akan mengalami hal yang mengancam jiwa.
Ceklek!
Daun pintu berwarna coklat gelap itu pun akhirnya terbuka jua, menampakan sosok cantik pemilik rumah yang masih memakai hijab, menandakan bahwa sosok itu belum tidur kendati malam larut semakin berputar.
"Damar, Aifa'al..." ujar pemilik rumah.
"Maaf jika kami mengganggu Bu Kinan." jawab Damar, tersenyum segan dan kikuk.
"Tidak apa-apa, Damar. Ayo silakan masuk dulu! Kalian pasti kedinginan! Ibu akan buat teh hangat untuk kalian ya." ujar Kinan yang berjalan masuk, dan hendak menuju dapur.
"Tidak perlu, Bu. Kami hanya sebentar." timpal Aifa'al, tidak ingin berlama-lama.
"Kalau begitu duduklah!" seru Kinan.
Aifa'al dan Damar pun mengangguk samar, berjalan mendekati sofa ruang tamu rumah Kinan. Sementara Kinan yang penasaran ikut duduk bersama Damar dan Aifa'al.
"Ada apa Damar? Kenapa kamu dan kakakmu datang ke rumah Ibu tengah malam seperti ini?" tanya Kinan, heran.
"Wulan dan Tante Rumi diculik anak buah Pak Gibran, Bu!" terang Damar, langsung.
"Apa? Kapan? Kenapa bisa Damar?" sahut Kinan, terkejut mendengar berita Damar.
"Kapan dan kenapa bisa terjadi Damar sendiri juga tidak tau pasti, Bu. Tapi yang Damar ketahui sekarang, Papi dan Mami sedang mencari Wulan bersama Pakde, Paklik, dan Mas Ziel. Pak Bram juga ikut karena Tante Rumi juga menjadi korban." terang Damar, memberitahu Kinan semua.
"Lalu kalian kenapa datang ke sini? Hanya berdua lagi! Apa keluarga kalian tau, kalau kalian datang ke sini?" tanya Kinan, heran.
"Damar ingin mengajak Ibu menyusul Papi!" jawab Damar, berani menatap mata Kinan.
Kinan terdiam sesaat, menimbang ajakan Damar yang terkesan mendadak, pastinya juga sangat berbahaya jika mereka ikut.
__ADS_1
"Bu Kinan pasti tau kelemahan lelaki itu!" timpal Aifa'al, akhirnya membuka suara.
"Ibu mau, tapi ini bahaya untuk kalian!!!" jawab Kinan, memastikan niat keduanya.
"Bahaya jika semua itu tetap dibiarkan, maka semuanya tidak akan pernah bisa selesai! Kita harus melawan mantan suami Bu Kinan itu!" pungkas Aifa'al, geram.
"Lalu bagaimana dengan orang tua kalian? Mereka pasti khawatir dengan kalian ada di sini tanpa meminta izin." ujar Kinan, cemas.
"Masalah orang tua kami, biar kami yang akan memikirkannya nanti! Bu Kinan tidak perlu khawatir." jawab Damar, meyakinkan.
"Yang penting Bu Kinan bersedia! Kalau tidak, biar saya dan Damar saja yang akan menyusul Uncle Dhana!" seru Aifa'al, tegas.
Kinan menghela berat, niatnya memang ingin menghentikan kejahatan dari mantan suaminya yang sudah sangat keterlaluan, bahkan anak sendiri pun juga ikut disekap. Ditambah lagi dengan kedatangan Damar dan Aifa'al yang tiba-tiba, mengajaknya untuk bergabung dengan Tim Dhana.
"Baik! Ibu akan ikut kalian! Tapi bagaimana caranya kita bisa mengetahui keberadaan papi kamu, Damar?" ujar Kinan, baru sadar kalau posisi Dhana dan yang lainnya sulit untuk diketahui.
"Bu Kinan tenang saja. Uncle Dhana pergi menggunakan mobil daddy saya, dan GPS mobil daddy saya itu tersambung dengan GPS di ponsel saya ini." timpal Aifa'al yang memperlihatkan ponselnya.
"Syukurlah... kalau begitu ayo kita pergi sekarang juga! Ibu juga harus menolong Zivana dari kegilaan papanya!" seru Kinan.
Aifa'al dan Damar saling pandang senang, usaha yang mereka lakukan tidak sia-sia. Lalu mereka beranjak, mengikuti langkah Kinan menuju teras, masuk ke dalam mobil. Sementara motor Aifa'al terpaksa harus ditinggal di rumah Kinan demi kelancaran aksi diam-diam yang cukup berbahaya ini.
***
Ciittttt!
Laju mobil yang semula kencang, seketika dipaksa berhenti secara mendadak di saat alat pelacak yang terlihat di layar ponsel itu tidak bergerak lagi seperti tadi. Membuat Dhana yang mengemudi gegas menginjak pedal rem, hingga mobil berhenti secara mendadak tepat di depan sebuah gedung kosong yang tinggi. Tidak hanya Dhana, melainkan mobil Bram juga sudah berhenti.
"Kenapa berhenti Dhana?" tanya Ammar.
"GPS Wulan berhenti di tempat ini, Mas." jawab Dhana, melihat layar ponsel lalu mengedar matanya ke seluruh penjuru.
"Kamu yakin Dhana?" tanya Sadha.
"Yakin, Mas. Bahkan jarak Wulan tidak terlalu jauh dengan posisi kita saat ini." jawab Dhana, terus mengedar matanya.
"Kamu yakin Mas?" tanya Mala.
"Aku yakin sekali, Sayang. Putri kita ada di tempat ini." ujar Dhana, meyakinkan Mala.
Mala menghela berat, berusaha menepis kekhawatirannya terhadap sang putri yang kini entah ada di mana posisinya saat ini.
"Lebih baik kita turun, Mas." ujar Mala.
"Mas setuju dengan ide Mala!" seru Sadha.
"Ya sudah, ayo kita turun!" ujar Ammar.
Dhana mengangguk, bergegas turun mengikuti Ammar, Sadha, Mala dan Aiziel tanpa melepas ponsel Imam di tangannya.
"Pak Dhana...!" sahut Bram, tiba-tiba.
"Ada apa Pak Bram?" tanya Dhana.
"Mobil Tuan Gibran ada di depan sana! Tepatnya di depan gedung kosong itu, Pak!" jawab Bram seraya menunjuk gedung itu.
"Jadi benar Wulan ada di sini?" tanya Sadha, panik melihat ekspresi kalut Bram.
"Benar, Pak. Lihatlah ke atas gedung itu!" seru Bram, menunjuk puncak gedung itu.
Ammar, Sadha, Dhana, Mala dan Aiziel menoleh serentak. Sedikit mendongak hingga terlihat lah sosok Gibran bersama kelima anak buahnya yang bertubuh besar, memegangi Wulan dan Rumi. Membuat semua mata terbelalak sempurna, tatkala melihat posisi Wulan yang berada di tepi gedung itu.
"Wulan...!" pekik Mala, histeris.
"Sayang... tenanglah! Kamu jangan gegabah!" ujar Dhana, merengkuh Mala yang hendak berlari menghampiri putrinya.
"Wulan, Mas! Wulan ada di atas sana!" sahut Mala, menangis seraya menunjuk ke arah puncak gedung kosong itu.
__ADS_1
"Aku tau, Sayang. Tapi kita tidak boleh gegabah, kalau tidak nyawa Wulan akan terancam!" ujar Dhana, menenangkan Mala.
"Ziel harus menyelamatkan Adek, Uncle!" seru Aiziel, menatap tajam ke arah Gibran yang berada di atas gedung tinggi itu.
"Ziel...! Jangan gegabah!" tandas Ammar, memegangi lengan sang putra yang emosi.
"Tapi Adek dalam bahaya, Dad!" pungkas Aiziel, menunjuk ke atas sana di mana sang adik berada di ujung tanduk kematian.
"Daddy tau! Tapi kita harus menggunakan rencana! Kalau kamu nekat naik ke sana dan menghentikan Gibran, bisa-bisa lelaki itu langsung mendorong adik kamu! Kamu mau itu terjadi pada Wulan? Iya?" pungkas Ammar, berusaha menenangkan putranya.
Aiziel terdiam, matanya masih tertuju ke puncak gedung kosong itu, membuatnya tak kuasa menahan air mata yang berderai begitu saja. Sama hal dengan Mala, terisak di dalam dekapan Dhana saat melihat sang putri berada di ambang kematian.
"Lalu apa yang harus kita lakukan Pak?" tanya Bram, memberanikan diri bertanya kendati hatinya juga tak kalah cemas.
"Mas Ammar, Mas Sadha, bersama Ziel menunggu di bawah saja. Biar Dhana, Mala dan Pak Bram yang akan naik ke atas sana. Jika terjadi sesuatu yang buruk pada Wulan, maka kalian bisa membantu dari bawah." tutur Dhana, masih mendekap sang istri.
"Kamu yakin Dhana? Anak buah Gibran cukup banyak loh! Mas tidak yakin kamu bisa menghadapi mereka semua hanya bersama Bram!" jawab Sadha, tau betul dengan kemampuan bela diri adiknya itu.
"Mas akan ikut dengan kamu, Dhana!!! Sedangkan Sadha dan Ziel, kalian cukup memantau dan menunggu dari bawah!!! Kalau kalian tetap di bawah, kalian bisa menghubungi polisi atau melakukan hal yang lain." timpal Ammar, memberi usul.
"Melakukan hal lain maksud Mas apa?" tanya Sadha, tidak begitu mengerti akan maksud Ammar.
"Sewaktu-waktu Gibran bisa mendorong Wulan, Sadha! Dan di sana lah kamu dan Ziel bekerja!" seru Ammar, dalam hatinya sangat berat untuk berkata kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi pada Wulan.
"Daddy ingin Ziel dan Paklik menangkap tubuh Adek, jika dia terjatuh ke bawah?" tanya Aiziel, matanya membulat paham namun tercengang mendengar dugaan buruk sang daddy.
"Kita memang harus memperhitungkan kemungkinan baik dan buruknya di saat situasi seperti ini, bukan?" tanya Ammar.
Tangis Mala semakin pecah, tidak kuasa membayangkan kemungkinan buruk yang akan terjadi pada putri kecilnya itu di atas sana. Sementara Sadha, Dhana, Aiziel dan Bram hanya terdiam. Membenarkan semua pra-duga Ammar dalam situasi seperti ini, di mana semuanya dapat terjadi begitu saja tanpa atau dengan perhitungan sekali pun.
"Kita tidak punya waktu lagi, Dhana!!!" ujar Ammar, berusaha meyakinkan sang adik.
"Baiklah, Mas. Jika memang itu cara yang terbaik, maka Dhana hanya bisa berusaha dan berdo'a. Dhana percaya saran Mas ini pasti akan berhasil." jawab Dhana, tenang.
"Baiklah! Kalau begitu Sadha bersama Ziel akan menyiapkan sesuatu di bawah untuk mengantisipasi kemungkinan buruk Mas itu!" timpal Sadha, menoleh ke arah Aiziel.
"Ide yang bagus, Sadha! Masalah di atas serahkan pada Mas, Dhana, dan Bram!!! Untuk masalah di bawah, Mas dan Dhana berharap besar sama kamu dan juga Ziel! Kemungkinan buruk itu juga dapat berlaku untuk Rumi, jika Gibran gelap mata karena marah dengan sikap Bram." jawab Ammar.
"Percayakan semua pada kami, Daddy!" timpal Aiziel, menepuk bahu sang daddy.
"Daddy akan selalu mempercayaimu, Nak." jawab Ammar, mengelus kepala sang putra.
Aiziel menghela nafas berat, seberat hati yang memegang amanah dari sang daddy untuk bisa menyelamatkan jiwa sang adik, berkolaborasi dengan sang paklik, bekerja dari bawah untuk berjaga-jaga jika situasi di atas puncak sana mulai tidak terkendali lagi.
"Ayo Mas...!" seru Dhana.
"Ayo Dhana..." jawab Ammar, yakin.
Dhana, Mala dan Bram mengangguk, melangkah lebar menuju gedung kosong tanpa mengeluarkan suara alias dengan cara mengendap-ngendap. Kendati posisi mereka cukup jauh dari mobil Gibran dan anak-anak buahnya, namun Ammar yang berstatus sebagai kepala kelompok tidak ingin mengambil resiko sebelum bertindak. Membuat mereka harus berlari diam-diam, sembunyi-sembunyi agar Gibran tidak tau kalau mereka semua telah sampai di sini.
"Apa yang harus kita lakukan selanjutnya Paklik?" tanya Aiziel, namun mata masih tertuju ke arah Ammar, Dhana, dan Mala.
Sadha menghela kasar, menenangkan hati serta pikiran yang terlanjur kalut saat melihat Wulan berada di atas gedung tinggi di sana.
"Kita harus membuat sesuatu, Ziel!!!"
.
.
.
.
.
Happy Reading All 😇😇😇
__ADS_1