
...☘️☘️☘️...
"Adek...!"
Cahaya mentari menyingsing, menyinari bumi dengan energinya, membuat siapa saja yang tengah beraktifitas di luar rumah kepanasan karenanya hingga menyilaukan mata. Namun cerahnya sinar mentari hari ini tidak secerah wajah Wulan yang termangu, termenung seraya bertopang dagu, duduk di kantin bersama Damar. Membuatnya tak sadar kalau sang mas kembar yang datang seraya membawa makanan sudah duduk manis kembali di hadapannya.
Prok!
Wulan terjingkat, mendapati suara tepukan keras tangan Damar yang membuat lamunannya terbang ke awan-awan.
"Adek kenapa lagi? Kok melamun terus sejak tadi? Masih kepikiran masalah ketua osis yang dibatalkan itu?" cercah Damar.
Wulan menggeleng, mengulum senyum yang terlihat dipaksakan, membuat sang mas kembar heran sekaligus penasaran.
"Ayo makan! Adek tidak senang ya kalau kita satu kelas sekarang? Mas perhatikan, Adek murung terus sejak tadi! Ada apa?" timpal Damar, memperhatikan sang adik.
Wulan menggeleng cepat, seakan tidak setuju dengan perkataan Damar barusan. Sebuah kejutan tak terkira, saat mereka melihat pengumuman yang terpampang di mading sekolah, ternyata mereka satu kelas tahun ini. Kelas 3A, kelas bermerek unggul menjadi kelas keduanya di jenjang saat ini. Tidak hanya mereka, Rainar pun juga sama dan sempat membuat Damar jengah sesaat.
"Terus Adek kenapa?" tanya Damar lagi.
"Aaaa... aaaaaa... aaaa." jawab Wulan.
Damar menghela panjang, sangat paham dengan kegelisahan hati sang adik yang sampai saat ini belum bertemu dengan sang mami karena sang papi melarangnya keras. Sementara Wulan kembali diam, tangannya tampak lincah memainkan sendok makanan yang sudah tersedia di depan mata, namun masih enggan untuk dilahapnya.
"Nanti kita coba lagi membujuk Papi ya. Sekarang Adek makan dulu. Perut Mas juga sudah berdisco goyang pargoy nih sejak tadi karena lapar melihat Adek termenung terus." ujar Damar, berusaha mengalihkan pikiran gusar sang adik yang teringat Mala.
Seketika gigi gingsul manis Wulan muncul bersamaan dengan deretan gigi putihnya yang lain, menciptakan senyum manis dan gelak samar setelah mendengar keluhan sang mas kembar, yang ia sadari bahwa Damar tengah membujuknya agar makan.
***
"Aifa'al..."
Aifa'al bergeming, tidak menjawab sapaan dari seseorang yang sudah berdiri di depan matanya. Seseorang itu perlahan terduduk lemas, menatap lekat Aifa'al yang memang ia harapkan untuk datang mengunjunginya. Sempat meminta tolong pada teman yang dianggapnya setia, namun dia berkhianat. Membuatnya tidak berharap lagi, memilih untuk menunggu Aifa'al yang akan datang dengan sendirinya, dan dugaannya benar.
"Al... lo akhirnya datang menjenguk gue!" ujar seseorang itu dengan tatapan haru.
Aifa'al tersenyum miring, menatap geram sosok di depan mata yang terlihat melas seperti orang tak punya daya dan upaya setelah berakhir di tempat terkutuk seperti kantor Polisi ini.
"Jangan GR dulu, Bima! Gue datang ke tempat ini hanya untuk bertanya satu hal sama lo, bukan untuk mengunjungi lo!!!" tukas Aifa'al, memberikan seringai tajam.
"Please, Al! Tolong gue! Tolong lo cabut tuntutan atas kasus yang sebenarnya bukan rencana gue! Gue dimanfaatkan, gue dijebak dan gue dikhianati Gibran dan Bram! Gue mohon bebaskan gue dari sini, Al!" tutur Bima, mengiba lalu meraih tangan Aifa'al.
"Jangan mengiba, Bim! Jijik gue melihat tampang lo yang melas itu!" tukas Aifa'al.
Bima terbungkam, bentakan samar yang terlontar dari bibir Aifa'al menusuk tepat pada jantungnya, membuatnya tertunduk seketika, tak berani menantang mata Aifa'al.
"Dimas dan geng Tiger bergabung! Lo tau itu 'kan?" tukas Aifa'al langsung pada inti.
"Dimas dan geng Tiger bergabung?" sahut Bima, terkejut bukan main.
Aifa'al tak merespon namun tatapan tajam yang ia hunuskan pada Bima sukses membuat nyali anak muda itu menciut.
"Gue tidak tau, Al!" jawab Bima, lirih.
"Bohong! Lo tau semua itu, dan lo juga tau kalau sekarang Dimas menjadi anak buahnya Gibran!" tandas Aifa'al, geram.
"Gue memang tau kalau Dimas anak buahnya Gibran, di bawah suruhan Bram! Gue akui, gue tau hal itu! Dimas berkhianat! Dia mengkhianati gue demi posisi sebagai kapten Black Moon! Dan dengan caranya yang licik, menjadi anak buah Gibran atau Bram, dia memanfaatkan situasi gue yang seperti sekarang ini! Tapi kalau untuk masalah Dimas dan geng Tiger bergabung, gue benar-benar tidak tau, Al!" terang Bima.
Aifa'al menyeringai puas, dugaan yang selama ini ia curigai ternyata benar adanya. Dua orang geng Tiger yang menghadang perjalanan pulangnya kemarin sudah pasti suruhan Dimas yang dikontrol oleh Gibran.
"Bagus! Akhirnya lo bicara juga tentang kebusukan teman lo itu!!! Dan ternyata lo sudah tau kalau teman lo itu pengkhianat!" tukas Aifa'al, menampakan seringai tajam.
"Lo lagi memancing gue?" tanya Bima.
"Tidak juga karena semua dugaan gue ternyata benar! Dimas anak buahnya Bram, dan Bram asisten Gibran! Itu artinya, Dimas adalah antek Gibran yang masih terbebas! Dan orang yang datang mengirimkan teror ke rumah opa gue kemarin, pasti dia!" ujar Aifa'al dengan seringai tajam menakutkan.
"Dimas mengirim teror?" tanya Bima.
"Sudah pasti, bukan? Dia mengkhianati lo dan bekerja sama dengan Gibran. Dia rela melakukan apapun demi posisi terkutuk itu dan berani meneror adik gue!" tukas Aifa'al.
"Maksud lo?" tanya Bima, tidak paham.
"Wulan! Gibran sedang mengincar Wulan sekarang, dan gue yakin lo juga tau 'kan?" tukas Aifa'al lagi, menatap Bima tajam.
__ADS_1
"Tidak! Gue sama sekali tidak ada hubungannya dengan masalah itu! Gue benar-benar tidak tau, Al!" ujar Bima, takut.
Aifa'al tergelak lirih, melihat wajah mantan sang kapten motor yang mendadak takut, tidak seperti Bima yang kejam dan bangor, melainkan sosok narapidana yang tengah berusaha untuk membujuk korbannya.
"Gue rasa semua jawaban lo cukup, Bim! Selain lo, ada Dimas yang menerima tahta selanjutnya sebagai anak buahnya Gibran! Dan dia, akan bernasib sama seperti sang kapten lama nantinya!" seru Aifa'al, bangkit dari duduk dan hendak pergi.
"Tunggu Al...!" seru Bima, ikut bangkit.
Langkah Aifa'al yang baru menginjak bibir pintu ruang kunjungan pun terhenti, tanpa membalikkan tubuh ia tetap berdiri di sana. Sementara Bima terlihat semakin kacau, antara peluh dan air mata seakan berpacu untuk cepat mencapai garis finish. Sosok yang terkenal nakal itu menangis, namun dengan susah payah Bima menahannya.
"Tolong keluarkan gue, Al! Gue mohon!" tutur Bima, menyatukan kedua telapak tangan sebagai tanda permohonannya.
"Gue tidak bisa! Lo jelas bersalah, Bim!" jawab Aifa'al tanpa menolehkan kepala.
"Tapi lo bisa mencabut tuntutan lo itu, Al!" seru Bima, suaranya mendadak tercekat.
"Yang jadi korban bukan cuma gue! Ada Damar dan Wulan! Walaupun mereka mau, gue tidak akan membiarkan hal itu terjadi!" jawab Aifa'al dingin.
"Please, Al! Gue mohon! Gue... gue bakal menuruti apapun keinginan lo, asalkan lo mau membantu gue untuk keluar dari sini! Gue bakal mengikuti persyaratan! Ya... lo bisa membuat persyaratan sesuai dengan keinginan lo, dan gue akan melakukannya!" tutur Bima, mengiba dan terus berusaha.
Aifa'al terdiam seketika, perlahan wajah tampannya yang terlihat mengeryit itu berbalik, menatap Bima dengan tajamnya. Sementara Bima masih di posisinya yang tengah memohon pertolongan dari Aifa'al.
"Gue juga bakal membantu lo, mencari Gibran dan menghentikan Dimas. Gue sendiri yang bakal menghadapi Dimas! Lo bisa percaya sama gue, Al! Tapi tolong, tolong bebaskan gue dari tempat kotor ini! Gue benar-benar sudah tidak tahan!" tutur Bima, terus mengiba dan berharap Aifa'al akan luluh lalu mau membantunya bebas.
Sejenak Aifa'al berpikir seraya menatap tajam manik Bima yang terlanjur basah, berusaha menelisiknya dalam-dalam, mencari kebohongan di dalam mata liar yang jahat dan kejam itu. Namun decakan lirih yang justru Aifa'al keluar dari bibirnya.
"Lo pikir gue bakal percaya? Tidak akan!"
"Lo boleh membuat persyaratan hitam di atas putih kalau lo masih meragukan gue!"
"Kalau lo melanggarnya?"
"Gue akan menyerahkan diri ke Polisi!"
"Lo yakin? Sosok Bima menyerahkan diri? Sangat mustahil bin ajaib untuk gue, Bim!"
"Nyawa gue taruhannya, Al!"
Aifa'al mendengus samar, menggeram dalam hati karena Bima tidak menyerah begitu saja. Apakah Aifa'al akan setuju? Namun sepersekian detik pikirannya justru terbuka. Terpikirkan sesuatu yang mungkin dengan cara seperti ini, ia bisa menjauhkan adik-adiknya dari sosok seorang Bimantara.
"Itu artinya, lo bersedia?" ujar Bima.
"Kasih gue waktu! Gue perlu bicarakan hal ini pada Damar dan Wulan terlebih dahulu!"
"Oke, Al. Gue akan menunggu kabar lo! Sampai kapan pun itu! Karena cuma lo, satu-satunya teman yang gue miliki saat ini!"
"Ck! Teman? Lo bukan teman gue! Lo itu cuma benalu dalam hidup gue dan ketiga adik gue yang lo jadikan musuh bebuyutan!"
"Gue... gue..."
"Sudahlah! Waktu gue sudah habis!"
Bima terbungkam, menatap nanar Aifa'al yang melangkah lebar keluar dari ruang kunjungan, meninggalkan dirinya dalam keheningan, membuatnya semakin gusar. Tidak lama kemudian, sang penjaga lapas pun bergerak, membawanya masuk lagi.
***
"Ck! Mas kembar ke mana sih? Katanya mau menjemput kita ke sekolah!"
Hari pertama sekolah pun berakhir cepat, hanya memberikan pengumuman kelas yang telah dibagi dan diacak secara random berdasarkan peringkat di kelas sebelumnya.
Setelah bel pemberitahuan pulang berbunyi, Damar-Wulan bergegas keluar gerbang, khawatir jika kedua mas kembarnya sudah datang dan lama menunggu mereka. Tapi ekspektasi yang terbayangkan tak sesuai dengan realita. Di depan gerbang tak ada satu pun motor atau pun orang menunggu.
"Aaaaa... aass! Aaaaa... aaaa... aaaa... aaaa... aaa..." ujar Wulan, menenangkan sang mas kembar yang sudah tidak sabar.
"Tapi ini sudah telat dua jam dari yang mereka janjikan, Dek! Memang sih Mas Syahal tadi sempat mengirim pesan, tapi tetap saja tidak tepat waktu dan janji! Ck!" seru Damar, berusaha menepis kekesalan.
Wulan menghela nafas, menghampiri Damar yang tidak bisa diam sejak tadi. Berjalan mondar-mandir di depan pintu gerbang, membuatnya bosan menunggu.
"Aaaaaaa... aaaaa... aaaa... aaaa... aass!" ujar Wulan, seketika menghentikan Damar.
"Jalan keluar? Tapi 'kan jauh Dek!" jawab Damar, tiba-tiba dirundung kegamangan.
"Aaaa... aass! Aaaa... aaaa... aaaa." ujar Wulan yang berusaha membujuk Damar.
__ADS_1
"Adek yakin nih? Nanti kalau Adek capek bagaimana?" tanya Damar, memastikan.
Wulan mengangguk cepat, mengiyakan pertanyaan sang mas kembar yang ragu.
"Ya sudah, ayo kita jalan!"
Wulan mengangguk, meraih tangan sang mas kembar yang terulur, mengajaknya berjalan di bawah panasnya sang mentari, menyusuri trotoar menuju jalan besar.
Namun pandangan yang semula lurus ke arah depan kini tertoleh ke arah seberang, mendapati sosok wanita yang berjalan lesu tergontai-gontai seraya menjinjing sebuah tas besar. Mata Wulan kian membola saat melihat wajah sosok wanita di seberang itu tampak pucat, berbingkai bulir-bulir peluh yang menghiasi wajahnya yang manis.
"Aass...!" ucap Wulan memanggil Damar, membuat pemuda tampan itu menoleh.
"Loh kenapa berhenti Dek?" tanya Damar saat mendapati sang adik di belakangnya.
"Aaaaa...!" ucap Wulan, menunjuk.
Damar mengeryit bingung, melihat Wulan yang hanya menunjuk ke sembarang arah, membuatnya tidak senang lalu menoleh.
Bruk!
Wulan semakin terkejut, melihat wanita di seberang sana tiba-tiba ambruk di trotoar. Sementara Damar yang baru menoleh pun ikut terkejut, dan tanpa aba-aba sang adik langsung menarik tangannya menghampiri si wanita yang sudah tak sadarkan diri itu.
"Tante... bangun, Tante! Tante...!" ujar Damar yang berusaha membangunkan.
"Aaaa... aaaaa... aass!" ujar Wulan, risau.
Damar mengedar pandangan, berusaha mencari pertolongan namun siang yang menjelang membuat suasana di sekitar sekolahnya itu menjadi sunyi, tidak ada seorang pun yang lewat di jalan itu, hanya ada dirinya dengan sang adik sekarang ini.
"Bagaimana ini Dek?" tanya Damar, panik.
"Kita bawa ke rumah sakit saja, Mas. Kasihan Tante ini pucat sekali!" jawab Wulan, dengan bahasa isyaratnya.
"Tapi kita tidak mengenal Tante ini! Kalau Tante ini orang jahat bagaimana? Atau bisa saja Tante ini orang suruhannya Gibran!" cercah Damar dengan pikiran buruknya.
"Jangan su'uzon, Mas! Mana mungkin orang suruhan Pak Gibran membawa tas besar seperti ini, apalagi seorang wanita!!! Adek yakin, Tante ini sedang tidak sehat, Mas!" tutur Wulan berusaha meyakinkan Damar dengan bahasanya.
Damar terdiam lama, tengah menimbang permintaan sang adik yang terlewat baik pada orang bahkan orang asing sekalipun, membuatnya bimbang sekaligus khawatir jika dugaannya benar.
"Aass...!" seru Wulan, mengejutkan Damar.
"Oke! Kita bawa Tante ini ke rumah sakit! Kebetulan rumah sakit dinas Pakde, tidak jauh dari sini 'kan? Jadi kalau ada apa-apa, kita bisa meminta bantuan Pakde Ammar!" jawab Damar seraya meraih ponselnya.
Wulan mengangguk, tampak sekali wajah gadis kecil Dhana itu khawatir pada sosok wanita yang tidak ia kenal sama sekali. Sementara Damar tengah menghubungi pihak rumah sakit, meminta pihak di sana mengirimkan ambulance untuk membawa pasien darurat yang pingsan di tepi jalan.
Tidak berselang lama, ambulance datang. Bergegas para petugas rumah sakit pun mengangkut tubuh wanita dewasa yang sudah terkapar tidak berdaya itu ke atas brankar, membawanya masuk ke dalam mobil ambulance.
"Kalian keluarga pasien?" tanya petugas.
"Buk..."
"Aaaa...!" potong Wulan, mengangguk.
"Adek...!" seru Damar, menatap Wulan.
"Kalau begitu kalian ikutlah! Ayo!" timpal petugas rumah sakit itu.
Wulan mengangguk cepat, ingin beranjak masuk ke dalam ambulance namun Damar mencegahnya. Keduanya pun saling tatap, menyiratkan kegamangan yang dirasakan, dan semua itu terlihat jelas di mata Damar.
"Perasaan Mas tidak enak, Dek!" seru Damar, membisikkan kerisauan hatinya.
"Bismillah, Mas. Bukannya Mas sempat bilang, kalau terjadi apa-apa kita tinggal meminta bantuan Pakde Ammar di sana. Jika ingin menolong orang yang sedang susah, tidak boleh setengah-setengah, Mas!" tutur Wulan, meyakinkan sang mas kembar dengan bahasa isyaratnya.
Damar menghela berat, berusaha menepis rasa cemas yang tiba-tiba menyelimuti hati. Permintaan sang adik tak dapat ia tolak. Jika Damar kekeuh menolak, maka Wulan juga akan kekeuh ikut dengan ambulance. Alhasil, Wulan akan pergi sendiri ke rumah sakit menemani wanita asing itu, dan tentu saja hal itu akan berbahaya untuk Wulan.
"Baiklah! Kami akan ikut ke rumah sakit!"
.
.
.
.
__ADS_1
.
Happy Reading All 😇😇😇