
...πππ...
"Post Traumatic Stress Disorder?"
Dhana terbungkam, duduk berhadapan dengan sosok dokter paruh baya, sosok dokter psikiater yang bergelut di bidang kesehatan jiwa, menatap iba sosok pria di hadapannya, sesekali terfokus pada kertas di tangan, menampik rasa cemas yang datang mendera, namun semuanya salah. Dugaan sementara saat sejak pertama kali melakukan pemeriksaan pada istri pria itu, kini terbukti nyata.
"Iya, Pak Dhana. Istri anda menderita sindrom PTSD atau Post Traumatic Stress Disorder. Menurut catatan medis yang terlampir, sindrom yang diderita oleh istri anda ini sudah ada sejak beliau berusia 13 tahun, namun tidak bertahan lama karena ada sejenis pengobatan tradisional yang mungkin saja dilakukan oleh keluarganya. Apakah Pak Dhana tidak menyadari hal ini?" tutur dokter paruh baya yang bernama Ali.
Dhana terpekur, terlihat bingung dengan rentetan penjelasan beruntun Dokter Ali, kemudian menggeleng samar, menandakan bahwa saat ini dirinya memang tidak tau.
"Bisakah Dokter jelaskan tentang sindrom PTSD yang dialami oleh istri saya? Jujur, saya tidak begitu mengetahuinya, Dokter." jawab Dhana yang terlihat tidak tenang.
Dokter Ali menghela nafas berat, memperbaiki letak kaca mata yang sudah merosot hampir jatuh, melihat wajah pria di depannya yang memang jelas tidak paham tentang penyakit sang istri saat ini.
"Baiklah, Pak Dhana. Sindrom Post Traumatic Stress Disorder atau gangguan stress pasca trauma merupakan gangguan mental yang muncul setelah seseorang mengalami atau menyaksikan peristiwa yang tidak menyenangkan. PTSD juga bisa diartikan sebagai gangguan kecemasan yang membuat penderitanya teringat pada kejadian traumatis. Peristiwa traumatis yang dapat memicu PTSD di antara lain perang, kecelakaan, bencana alam, pembunuhan, bullying hingga pelecehan seksual."
Dokter Ali membuang nafas lagi, menarik kembali udara segar yang keluar setelah penjelasan panjang pertama terjelaskan. Sementara Dhana tampak berkaca-kaca, belum sampai setengah penjelasan sudah membuat sesak, membayangkan kalimat berikutnya yang mungkin lebih menyakitkan.
"Gejala PTSD muncul setelah seseorang mengalami peristiwa yang membuatnya trauma. Waktu kemunculannya pun bisa beberapa bulan atau beberapa tahun setelah kejadian traumatis terjadi. Tingkat keparahan dan lamanya gejala pun juga berbeda-beda pada setiap penderita. Ada beberapa gejala yang dapat menunjukkan seseorang mengalami PTSD di antaranya adalah ingatan pada peristiwa traumatis, kecenderungan untuk mengelak, pemikiran dan perasaan negatif, perubahan perilaku dan emosi."
Dhana masih bungkam, mata yang masih terjaga tampak berkaca-kaca, tumpukan bulir kristal tak dapat ditampiknya begitu saja setelah mendengar kenyataan pahit lainnya mengenai sang istri. Sementara Dokter Ali menghela nafas berat, satu per satu penjelasan mulai menampakan titik terang, mengundang kesedihan yang tak dapat dihindari. Dokter Ali terlihat iba, tidak tega pada Dhana namun penjelasan harus tetap disudahi.
"Sindrom PTSD bisa muncul setelah seseorang mengalami atau menyaksikan peristiwa yang menakutkan atau bahkan mengancam nyawa. Seseorang baru dapat dikatakan menderita PTSD, jika memiliki riwayat mengalami kondisi atau peristiwa yang dapat mengganggu kejiwaan." tutur Dokter Ali yang menjelaskan panjang lebar.
"Lalu apa yang harus saya lakukan Dok? Apakah penyakit istri saya bisa diobati?" jawab Dhana yang berusaha untuk tegar.
"Untuk sembuh total dan kembali ke kondisi normal mungkin akan sulit, Pak. Pengobatan PTSD bertujuan untuk meredakan respon emosi pasien dan mengajarkan pasien cara mengendalikan diri dengan baik ketika teringat pada kejadian masa lalunya. Metode pengobatan yang bisa dilakukan seperti psikoterapi. Namun jika gejala yang dialami oleh pasien tergolong parah, dokter akan menggabungkan metode psikoterapi dengan obat-obatan sebagai penunjang." tutur Dokter Ali yang menjelaskan kembali.
Dhana terdiam, berusaha menepis rasa sesak yang kian mendera, seakan beban dalam hidup kini bertambah parah, tidak henti-hentinya cobaan yang berdatangan, menghujani keluarga kecilnya yang sangat ingin bahagia. Sedih, jelas saja! Baru satu masalah selesai, namun masalah lain tak sabar untuk mengujinya yang penyabar.
"Berapa lama psikoterapi itu Dok?" tanya Dhana, berusaha menepis kecemasan diri.
__ADS_1
"Tergantung kemajuan pasien di saat melakukan psikoterapi itu, Pak Dhana. Jika respon pasien saat menjalani terapi sangat baik dan cepat, maka bisa dikatakan pasien tersebut sudah membaik. Namun beberapa pantangan juga harus dihindari oleh pasien penderita sindrom ini, Pak Dhana. Istri anda tidak boleh berpikir berat, tidak boleh emosi dan yang paling penting, jangan mengingat kejadian traumatis di masa lalu istri anda di depannya karena itu akan berbahaya bagi keseimbangan jiwanya yang kurang stabil." jawab Dokter Ali yang menjelaskan kembali.
"Kalau pantangan itu terjadi?" tanya Dhana.
"Akan terjadi komplikasi, Pak Dhana. PTSD bisa mengganggu kehidupan si penderita, baik di lingkup keluarga maupun pekerjaan. Selain itu, gangguan PTSD juga berisiko menderita gangguan mental lain, seperti depresi, gangguan makan, gangguan kecemasan, penderita berkemungkinan memiliki keinginan untuk melukai diri sendiri, bahkan dapat berujung bunuh diri." jawab Dokter Ali, menjelaskan dan memperingati.
"Apakah penyakit istri saya ini parah Dok?" tanya Dhana, ketakutan tampak nyata di bibirnya yang bergetar, dan air mata yang jatuh perlahan membasahi wajah kacaunya.
"Menurut catatan medis, sindrom PTSD dalam diri istri anda tergolong parah, Pak. Mengingat bahwa penyakit ini sudah lama sekali dan itu pun sempat diobati walaupun tidak sampai tuntas. Itulah informasi medis tentang kondisi istri anda yang saya dapat. Dan sepertinya, penyebab pingsannya istri anda ada hubungannya dengan peristiwa traumatis di masa lalu yang terungkap lagi. Apa benar seperti itu Pak Dhana?" jawab Dokter Ali, menjelaskan namun melempar pertanyaan yang menyudut Dhana.
Dhana terhenyak, mengingat kejadian traumatis masa lalu yang sempat dikuak habis oleh Gibran beberapa jam yang lalu, menjadi penyebab perubahan sikap Mala. Membuatnya terpekur sesaat, teringat akan perkataan sang adik di saat menemuinya, ada Ammar dan juga Sadha sebagai saksi, bahwa memang ada sesuatu di dalam diri Mala yang selama ini tertutupi secara instan.
Kak Mala bukan orang jahat, Mas. Ada sesuatu yang tersembunyi di dalam dirinya yang Adek sendiri tidak dapat melihatnya. Sesuatu yang berhubungan dengan masa lalunya. Masa lalu Kak Mala tidak seindah yang kita pikirkan dan semua ini akan ada hubungannya dengan kebencian Kak Mala pada putrinya. Kak Mala tidak membenci Wulan dari hati, Mas. Dia hanya sedang berusaha mengontrol perasaannya yang terbawa emosi. Tidak hanya itu, akan ada seseorang yang datang nantinya. Orang itu memiliki niat terselubung, ada kaitannya dengan masa lalu Kak Mala yang kelam.
Sepertinya itulah perkataan mendiang arwah Dhina waktu itu, memberitahu sang mas kembar sesuatu yang belum sempat terungkap, berujung rasa penasaran yang akhirnya terjawab sudah. Membuat Dhana menduga, bahwa sikap Mala pada Wulan selama ini tidak lah atas dasar keinginan.
"Dokter... apakah penyakit ini akan berpengaruh pada sikap istri saya di masa depan? Maksud saya, jika peristiwa masa lalu itu masih menyelimutinya, apakah itu akan berpengaruh pada sifat asli istri saya?" tanya Dhana yang ingin memastikan lebih.
"Tidak hanya akan, Pak Dhana. Tapi sangat berpengaruh, terutama pada orang sekitar. Sekarang saya tanya Pak Dhana, apa istri anda selama ini baik-baik saja? Apakah dia tidak menunjukan sikap yang aneh, bahkan tidak sesuai dengan sifat aslinya?" jawab Dokter Ali, mengajukan pertanyaan kembali.
"Sikap Bu Mala yang seperti itu bukan lah karena benci, Pak Dhana. Bu Mala seakan bersikap benci pada anaknya sendiri bukan atas keingginannya, tapi karena sindrom ini. Bu Mala seakan melihat masa lalu, di mana ibunya pernah membencinya, bahkan tidak menghiraukan Bu Mala sebagai anak. Dan ketika Bu Mala melihat putrinya, seakan dia melihat dirinya sendiri di masa lalu. Bu Mala seakan tengah bercermin dengan masa itu, Pak Dhana. Itulah yang dinamakan trauma! Dengan bersikap seperti itu pada putrinya, Bu Mala bisa melampiaskan traumatis yang dialaminya selama ini." tutur Dokter Ali yang semakin memperjelas agar Dhana paham.
Seperti angin surga yang berhembus di tengah malam pekat, memberikan sejuk dalam sekejap saat mendengar penjelasan Dokter Ali tentang sikap Mala. Ada sedikit rasa menyesal, kenapa tidak dari sejak dulu dirinya membawa sang istri ke rumah sakit? Konsultasi kesehatan termasuk konsultasi psikis sang istri yang ternyata tidak sehat.
"Pak Dhana jangan khawatir. Tidak ada sosok ibu yang tega menyakiti putrinya. Apalagi di saat istri anda sadar dari koma, dia langsung mendengar kabar yang tidak menyenangkan, bahwa kondisi fisik putrinya tidak sempurna. Hal itu pasti akan sangat mengguncang psikis istri anda, belum lagi masa lalu yang tidak bisa dia lupakan." ujar Dokter Ali yang semakin meyakinkan Dhana.
"Lalu bagaimana cara untuk menyembuhkan sindrom istri saya ini Dok?" tanya Dhana yang lega dan berkaca-kaca.
"Untuk saat ini, saya sebagai dokter hanya bisa meredakan emosional istri anda, Pak. Jika untuk sembuh total, tergantung pada diri Bu Mala sendiri. Jika Bu Mala mampu melupakan masa lalu, maka kesempatan untuk kembali normal itu masih ada. Dan, dukungan dari keluarga yang paling utama." tutur Dokter Ali yang penuh keyakinan.
"Jadi kapan istri saya bisa melakukan psikoterapi itu Dokter?" tanya Dhana, tidak sabar ingin melihat sang istri cepat sembuh.
__ADS_1
"Secepatnya, Pak Dhana. Tapi untuk saat ini, biarkan Bu Mala beristirahat lebih lama agar kondisi emosional nya kembali stabil." jawab Dokter Ali, ikut terlihat semangat jika melihat keluarga pasiennya bersemangat.
Dhana menghela nafas panjang, ribuan kalimat syukur ia langitkan dalam bathin yang tersenyum, tidak menyangka bahwa kebencian sang istri pada putrinya selama ini hanya disebabkan oleh penyakit, bukan berasal dari hati.
"Terima kasih atas penjelasan panjangnya, Dokter. Saya benar-benar lega dan sangat bersyukur. Saya menduga kalau istri saya memang membenci putrinya sendiri. Saya benar-benar sangat lega sekarang, Dokter." tutur Dhana, tersenyum lega tak terkira.
"Sama-sama, Pak Dhana. Itulah tugas saya sebagai dokter. Selain menangani pasien di rumah sakit, saya juga harus bisa memberi penjelasan disertai solusi terbaik. Baik untuk pasien, dan baik pula untuk keluarganya. Jadi Pak Dhana jangan terlalu dipikirkan lagi. Kondisi Bu Mala akan baik-baik saja." jawab Dokter Ali yang tengah meyakinkan Dhana.
"Terima kasih sekali lagi, Dok. Saya harap kondisi psikis istri saya bisa kembali normal agar dia bisa kembali seperti dulu lagi." ujar Dhana, menyalami dokter paruh baya itu.
Dokter Ali tersenyum lega, melihat salah satu keluarga pasien yang ia tangani saat ini kembali bersemangat, walaupun sempat down di pertengahan cerita namun semua itu merupakan sebuah percikan semangat.
Setelah pembicaraan panjang lebar di dalam ruangan ber-AC, Dhana beranjak. Keluar dengan senyum sumringah yang tidak henti-hentinya terulas indah di wajah gusarnya, berjalan semangat menuju kamar rawat istri dan anaknya. Titik terang sudah terlihat, kian dekat dengan kebahagiaan yang akan disambut riang oleh sang putri.
Ceklek!
Pintu kamar terbuka, tidak menyurutkan senyuman penuh syukur di wajah Dhana yang terus mengembang, membawa diri berjalan menuju bed kedua bidadari yang hadir di dalam hidupnya, menatap mereka bergantian, hingga lolos sudah bulir bening dari matanya yang terlihat mengantuk berat.
"Semua orang di rumah harus mendengar kabar baik ini. Mereka pasti akan senang."
.
.
.
.
.
Happy Reading All πππ
__ADS_1
Nah, terjawab sudah kan apa sebenarnya yang membuat Mala benci sama putrinya? Bukan benci, tapi terlihat seperti benci βΊοΈ jadi itulah jawabannya π€ Mala mengidap sindrom PTSD karena masa lalu kelamnya Jadi jangan timpuk Mala lagi ya, sikapnya yang berubah karena penyakit yang Mala derita, bukan karena dia jahat βΊοΈπ Kalau Mala jahat, buktinya Mala masih bersikap sangat baik pada keluarga Dhana π€π€
Oke, terima kasih semuanya π€ khusus episode ini emang sengaja dibuat untuk membahas alasan kenapa Mala berubah, jadi jangan bosan dulu ya πβοΈ ILV π€