Takdir Si Gadis Bisu

Takdir Si Gadis Bisu
Episode 68 ~ Mata-mata


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


"Sebaiknya kamu pergi, Bima! Jangan sampai ada orang yang mengikuti, apalagi mencurigai kamu! Saya tidak ingin jika semua rencana yang telah saya susun rapih, hancur karena orang lain! Kamu mengerti?"


Di dalam sebuah unit kamar Apartment, tampak dua orang pria berbeda generasi tengah berbincang hangat, membicarakan sesuatu yang penting, membuat suasana kamar yang temaram, semakin tegang.


Bima! Dia lah adalah salah satu pria itu, duduk berhadapan dengan sosok pria dewasa yang sepertinya terpaut sangat jauh dengan usianya. Cahaya lampu unit kamar yang sengaja dibuat temaram, menambah ketegangan di saat pembicaraan serius itu dimulai. Namun sepertinya pembicaraan itu sudah selesai setelah Bima beranjak pergi.


Bima pun keluar, mengedar pandangan terlebih dahulu untuk memastikan tidak ada siapa pun yang berani mengikutinya sampai ke sini. Setelah merasa aman, Bima berjalan ke arah lift. Bergerak cepat tanpa membuat orang di sekitar curiga akan gerak-geriknya.


Ting!


Pintu lift terbuka, membawa Bima turun dari lantai 10 menuju lantai dasar. Dengan santai, Bima berjalan keluar dari lift, menuju pintu utama Apartment. Tanpa menyadari sosok yang tengah memperhatikan dirinya di balik lembaran koran, duduk di lobby Apartment.


"Sebenarnya apa rencana lo, Bim? Kenapa lo menjadikan gue kambing hitam di dalam masalah ini? Lo juga yang memukul Syahil! Kalau sampai benar lo yang menculik dan menyembunyikan Damar Wulan, gue tidak akan membiarkan hidup lo tenang, Bima!!!"


Aifa'al beranjak, memakai kaca mata hitam serta masker dengan topi berwarna senada, membuat penampilannya menjadi semakin tampan seperti detektif muda yang berani, mengikuti Bima tanpa diketahui olehnya. Sementara Bima semakin berjalan cepat, menaiki motornya yang terparkir lalu pergi.


"Sejauh apapun lo pergi, gue tetap akan menemukan keberadaan lo, Bimantara!!!"


***


"Apa kasus ini bisa segera diproses Pak?"


Duduk berhadapan dengan seorang Polisi, di dalam kantor polisi pastinya, Sadha dan Imam duduk berdampingan, mengutarakan permasalahan yang tengah mereka hadapi. Keberadaan Damar dan Wulan yang belum ada titik terang sampai detik ini, membuat keduanya khawatir. Khawatir pada kedua anak kembar Dhana, apalagi Dhana sendiri.


"Maaf Pak, untuk kasus orang hilang kami akan memproses setelah 1x24 jam. Kedua anak Bapak belum bisa dinyatakan hilang untuk saat ini, karena masih ada sekitar 6 jam lagi. Bisa saja di dalam kurun waktu 6 jam itu kedua anak Bapak kembali pulang. Jadi harap bersabar terlebih dahulu ya, Pak. Kami akan memproses masalah ini dengan baik jika kedua anak Bapak itu tidak pulang dalam waktu 6 jam ke depan. Bapak bisa melaporkan kasus ini kembali nanti setelah cukup 1x24 jam!!!" tutur Polisi yang bertugas, duduk di meja kerja, siap menerima laporan.


Sadha dan Imam menghela nafas berat, dugaan yang menyelimuti pikiran mereka terbukti benar bahwa pihak kepolisian tidak akan memproses kasus hilangnya Damar dan Wulan jika waktunya tidak mencukupi ketentuan orang hilang, membuat kedua pria itu saling pandang sebelum akhirnya beranjak meninggalkan petugas Polisi itu.


"Bagaimana ini Mam? Polisi menolak untuk memproses kasus ini jika waktu hilangnya Damar dan Wulan belum cukup sampai 24 jam. Tapi kalau kita terus menunggu sampai 24 jam seperti ini, Mas tidak bisa tenang! Mas khawatir dengan kondisi mereka. Kita tidak pernah tau apa yang mereka alami di luar sana dalam waktu 24 jam itu. Kita juga belum tau siapa yang membawa mereka!!!" ujar Sadha yang meracau panik dan gusar.


"Tenang, Mas. Imam yakin Damar Wulan pasti baik-baik saja. Allah pasti menjaga mereka karena mereka anak-anak yang sangat baik. Mas Sadha harus percaya itu." tutur Imam yang berusaha menenangkan.


Sadha menghela nafas berat, menepis rasa takut yang menyelimuti hatinya, menetralisir perasaan yang berkecamuk, menerima apa yang sang adik ipar katakan, dijadikan penawar sementara kegundahan hatinya.


"Kita ikuti saja petunjuk Polisi, Mas. Nanti kita datang lagi ke sini sembari menunggu informasi dari Aifa'al yang saat ini sedang memata-matai Bima. Mas tenang saja ya." tutur Imam lagi yang menenangkan Sadha.


"Mas sampai lupa kalau masih ada Al. Terima kasih karena kamu mengingatkan Mas, Mam." ujar Sadha seraya menepuk bahu sang adik ipar.


Imam mengangguk, tersenyum lega saat melihat kegelisahan Sadha yang mulai surut, dibawa angin sepoy-sepoy di bawah terik matahari yang menyilaukan mata siapa pun.


"Kalau begitu, ayo kita kembali ke rumah." ujar Sadha yang hendak melangkah pergi.

__ADS_1


"Mas pulang duluan saja ya. Imam ingin menemui teman lama Imam sebentar di suatu tempat." jawab Imam yang sukses menghentikan langkah Sadha.


Sadha menggiring mata, menelisik sang adik ipar yang masih berdiri di tempatnya.


"Teman lama? Pria atau wanita?" tanya Sadha yang menatap Imam penasaran.


Imam terkekeh geli, mengerti dengan sikap dan maksud sang kakak ipar yang memang sejak dulu menginginkan dirinya mendapat kebahagiaan yang utuh, menemukan sosok pengganti sang adik untuk dijadikan istri.


"Wanita, Mas. Tapi Mas Sadha tenang saja, Imam tidak akan menduakan adik Mas kok." jawab Imam di sela-sela kekehan renyah.


"Ck, dasar!!! Mau sampai kapan kamu itu menduda terus Dik? Mas malah berharap kamu menikah lagi! Menikah itu enak loh!" ujar Sadha yang berusaha memprovokasi.


Suara kekehan samar kembali terdengar, bersamaan dengan senyum getir di kedua sudut bibirnya, menggeleng kepala ketika mendengar perkataan sang kakak ipar.


"Mas pasti sudah mengetahui jawaban Imam, bukan? Dan jawaban Imam masih tetap sama, Mas." tutur Imam tersenyum.


"Iya Dik, Mas sudah sangat hafal dengan jawaban kamu terkait hal ini. Ya sudah, kamu pakai saja mobil Mas. Biar Mas yang naik taksi pulang ke rumah Ibu." ujar Sadha seraya memberikan kunci mobil pada Imam.


"Tapi Mas..."


"Sudah! Tidak apa-apa. Mas takut nanti kamu malah ikut hilang seperti Damar dan Wulan. Kamu hati-hati ya." potong Sadha yang beranjak pergi seraya melambaikan tangan.


Imam menggeleng, tersenyum melihat tingkah Sadha yang masih sama seperti dulu, sangat peduli padanya seperti adik sendiri. Imam tersenyum getir, menatap sang kakak ipar yang dengan cepatnya mendapatkan taksi saat baru menjajakkan kaki di gerbang kantor polisi, membuatnya menerawang sesaat.


Drrrrttt...


"..."


"Wa'alaikumsalam... iya, saya sedang di dalam perjalanan. Saya akan sampai 15 menit lagi." jawab Imam seraya berjalan.


Setelah mengatakan kalimat itu, Imam langsung menutup telepon, bergegas masuk ke dalam mobil dan melajukannya.


***


"Ck! Sudah dua jam aku mengekori Bima tapi tidak ada gerak-geriknya yang akan menunjukan di mana Damar dan Wulan!!!"


Aifa'al meracau kesal, memukul stang motornya sesekali, meluapkan kekesalan pada Bima yang tidak menunjukan apapun tentang keberadaan Damar dan Wulan. Matanya yang mengantuk, dipaksa terus untuk memperhatikan gerak-gerik Bima yang saat ini tengah berkumpul dengan anggota geng motornya di Basecamp.


"Apa aku ikut berkumpul saja dengan mereka? Siapa tau saja ada petunjuk di mana keberadaan Damar dan Wulan saat aku ikut bergabung dengan mereka. Yaa!"


Aifa'al yang menimbang rencana akhirnya memilih untuk ikut bergabung dengan geng motornya di Basecamp, menghidupkan lagi mesin motor untuk melaju. Namun kegiatan itu terhenti, tatkala Aifa'al melihat Bima yang keluar dari Basecamp seraya menghubungi seseorang, bergerak mencurigakan hingga memancing rasa penasaran detektif Aifa'al.


"Baiklah, Pak. Saya akan segera ke sana." jawab Bima, berbicara dengan seseorang.

__ADS_1


Sayup-sayup jawaban Bima pun terdengar begitu jelas di telinga Aifa'al yang sejak tadi bersembunyi di balik pohon mangga besar, tidak jauh dari posisi Basecamp geng motor, membuat telinga Aifa'al seakan berdiri cepat ketika menangkap sinyal-sinyal aneh dari gelagat Bima yang sangat mencurigakan.


Bima menutup telepon, bergegas menaiki motor tanpa pamit pada teman-temannya terlebih dahulu, melaju dengan kecepatan tinggi tanpa menyadari keberadaan Aifa'al.


"Dia pasti ingin pergi ke suatu tempat!!!"


Tanpa ba-bi-bu, Aifa'al yang geram melaju. Mengikuti Bima dari jarak yang cukup jauh, menghindari kecurigaan pria bangor itu jika ia tengah diikuti dari belakang.


***


"Damar, Wulan... bersiaplah! Karena nanti malam saya akan membawa kalian pergi jauh dari negara ini! Jauh dari kedua orang tua kalian! Jauh dari keluarga kalian! Saya akan membuat mami kalian yang jahat itu menderita seumur hidupnya! Hahahaha..."


Tawa lepas sosok pria berbadan tegap itu seketika menggelegar, memenuhi ruangan sempit nan gelap itu, berdiri di depan dua anak muda yang dijadikan tawanan sejak kemarin. Siapa lagi kalau bukan sepasang anak kembar bernama Damar dan Wulan.


Damar mendengus marah, seperti seekor banteng yang tengah mengamuk melihat musuhnya di depan mata seraya mengibar bendera merah sebagai tanda menantang, membuat darahnya mendidih, membuatnya panas melebihi panasnya sinar matahari di luar sana. Menatap tajam ke arah sosok itu, entah di mana ia pun tak tau, suasana yang gelap membuatnya kesulitan, tiada cahaya yang masuk menyinari ruangan itu. Namun hal itu tidak terjadi pada Wulan yang lemah, duduk terikat rantai membuatnya lemas tak berdaya, merasakan gerakan Damar yang tengah emosi.


"Siapa kamu sebenarnya? Kenapa kamu menculik kami, hah? Kenapa kamu ingin membuat Mami menderita? Apa niatmu? Kenapa kamu melakukan ini pada kami?" serkas Damar emosi, tubuh yang terikat rantai dibawa meronta untuk dilepaskan.


"Hahahaha... sudah saya katakan, bukan? Kalian itu tidak perlu tau siapa saya! Cukup saya yang tau siapa kalian! Jadi bersiaplah!" jawab pria bertubuh tegap itu lalu beranjak.


Derap langkah kaki bergema, membuat Damar kelimpungan mencari sumber itu, menoleh ke kanan ke kiri, berharap sekali jika ia bisa melihat dengan jelas siapa pria itu. Namun sayang, hanya kegelapan yang dapat dilihatnya, membiarkan derap kaki pria bertubuh tegap itu menghilang tanpa bekas, meninggalkan dirinya dan Wulan di dalam kegelapan nan sempit menyesakkan.


"Woi!!! Lepaskan kami!!! Siapa pun kamu, kupastikan setelah ini kamu akan menyesal! Kamu akan membusuk di dalam jeruji besi! Lepaskan kami!!! Dasar lelaki pecundang!!! Pengecut!!! Aaaarrrggggghhhhh!!!"


Amarah yang menyeruak, membuat deru nafas Damar terengah-engah, mata yang memerah berpadu dengan tumpukan bulir bening yang siap terjun bebas dibawanya menoleh ke arah sang adik di belakangnya.


"Kita harus pergi dari sini, Dek! Kita harus pergi dari sini sebelum malam tiba! Kalau tidak, orang itu akan membawa kita pergi dan kita tidak bisa bertemu dengan orang tua kita lagi. Apa yang harus Mas lakukan Dek? Apa?" ujar Damar, meracau dengan suaranya yang mendadak parau, tercekat.


Wulan yang tertunduk lemas sejak tadi membawa kepala mendongak terpaksa, denyutan yang menyiksa dari sejak tadi malam membuat kepalanya menunduk sakit tanpa sepengatahuan sang mas kembar. Hanya anggukan yang sanggup Wulan berikan, membuat Damar semakin cemas.


"Adek baik-baik saja 'kan?" tanya Damar.


Wulan mengangguk lemah, walaupun sakit tetap ia usahakan agar Damar tidak cemas dengan kondisinya yang jauh dari kata baik, namun membuat Damar bernafas lega dan membuat Wulan tertunduk lagi. Memikirkan sesuatu yang sempat tertangkap matanya sekilas, sebelum pria itu berlenggang pergi.


Siapa pria pemilik suara itu? Sepatu pria itu, sepertinya aku pernah melihatnya. Tapi di mana? Sepatu pria itu rasanya tidak asing. Di mana aku melihat sepatu itu ya? Gumam Wulan dalam hati.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Happy Reading All 😇😇😇


__ADS_2