
...☘️☘️☘️...
Gemercik suara hujan yang perlahan jatuh membasahi bumi, membawa langkah kaki sosok gadis kecil menuju taman. Tubuhnya yang kesakitan tersimpuh, bersama dengan derasnya hujan yang akhirnya jatuh ke bumi.
Tangisnya pecah lagi, menatapi langit nan mendung berselimut awan tebal nan hitam. Tetes air hujan seakan saling berjatuhan di wajahnya yang menengadah, menatap iba ke langit gelap. Air mata pun tak kalah dari derasnya hujan, hatinya menjerit perih, sakit sangat sakit jika mendengar perkataan sang mami yang sangat ia sayangi, malah justru mencaci makinya dengan keji seperti tadi.
"Aaaaaa... aaaaaa... aaaaaaaa..."
Wulan berteriak, mengeluarkan semuanya yang menyesakkan dada. Menangis keras, itulah yang ia lakukan di bawah derasnya air hujan. Seakan mengerti dengan perasaan Wulan, langit semakin menghitam, awan tebal semakin menyelimuti langit, hembusan angin kencang pun turut menemani, melihat kesedihan hati seorang gadis bisu yang tak pernah diakui.
Seketika Dhana datang, berdiri termangu menatap sang putri yang duduk bersimpuh di bawah derasnya air hujan. Sesekali sang putri meringkuk, berteriak, lalu menangis. Membuat hatinya remuk redam bersamaan dengan emosi yang mulai padam. Hatinya sakit melihat kondisi sang putri yang tidak berdaya, dibuat semakin tidak berdaya oleh ibu kandungnya sendiri. Terlihat di tengkuk lehernya yang memerah, akibat hukuman cambuk yang diberikan sosok ibu berdosa, tidak punya hati nurani sebagai seorang ibu dan tidak berperikemanusiaan. Kejam!!!
"Kenapa nasib putriku harus seperti ini? Kenapa Mala bisa sekejam itu padanya? Apa salah putriku? Kenapa Kau memberi cobaan sebesar ini, Ya Allah? Aku sudah terlalu rapuh untuk bisa kuat kembali. Aku bukan Dhana yang kuat, tapi aku Dhana yang rapuh setelah Kau mengambilnya."
Dhana meracau seraya menatapi langit, tetes air hujan pun turut membasahinya yang frustasi. Tidak cukup kuat untuk menahan keluh kesah yang ada di dalam hati, membuat air matanya jatuh begitu saja.
Perlahan Dhana melangkah, mendekati sang putri yang masih duduk tersimpuh di tengah taman rumah sakit. Lalu ia meraih bahu Wulan, memeluknya dari belakang. Wulan terkesiap, lalu ia menoleh, melihat siapa gerangan yang memeluknya seperti ini.
"Maafkan Papi, Nak. Maaf..."
Hanya kata itu yang mampu terucap dari mulut Dhana, lidahnya terasa kelu tak kuat untuk berkata panjang lebar, membuatnya ikut terduduk lemas seraya memeluk erat tubuh sang putri yang membalas pelukan tak kalah erat. Keduanya pun larut dalam suasana pilu di bawah derasnya air hujan, membiarkan hujan membawa semua rasa kecewa dan penderitaan pergi bersamaan dengan hembusan angin nan kencang.
***
"Adek... Adek..."
Suara bariton Damar yang mulai tersadar, sukses mengejutkan Rainar dan Dokter Ronald. Keduanya pun beranjak. Dokter Ronald memeriksa kondisi Damar secara umum, memastikan bahwa kondisi Damar sudah membaik dan tidak terjadi hal serius.
"Bagaimana Pa? Damar sudah sadar 'kan?" tanya Rainar yang berdiri di sisi bed Damar.
"Kamu jangan khawatir. Damar baik-baik saja. Sebentar lagi dia pasti akan siuman." jawab Dokter Ronald yang melihat Damar.
Sepersekian menit setelah Dokter Ronald bicara, mata Damar pun terlihat bergerak, berusaha membukanya walaupun masih terasa berat. Namun perlahan tapi pasti, Damar yang sejak tadi tertidur pun sadar.
"Rainar, Om Ronald..." ujar Damar yang menoleh ke kanan dan ke kiri, mendapati Rainar dan Dokter Ronald di sampingnya.
"Damar... apa yang kamu rasakan saat ini?" ujar Dokter Ronald yang ingin memastikan.
"Hanya pusing sedikit, Om. Tapi Damar sudah merasa lebih enak sekarang ini." jawab Damar yang beranjak dari tidurnya.
Rainar membantu Damar untuk duduk, menyandarkan tubuhnya ke headboard tempat tidurnya. Terlihat sebuah kamar rawat dengan fasilitas yang cukup lengkap, membuat Damar heran melihat kamarnya.
"Kamar rawatnya bagus sekali. Siapa yang membawa Damar ke sini Om? Oh iya, Adek di mana Nar?" tanya Damar pada keduanya.
__ADS_1
"Om yang membawa kamu ke sini, Damar. Sedangkan Wulan... Wulan dibawa mami kamu, dan papimu sedang mengejarnya." ujar Dokter Ronald, terpaksa memberitahu Damar.
"Mami tau Damar kecelakaan Om? Siapa yang memberitahu Mami? Kalau Mami tau, pasti Mami akan memarahi Adek, Om." ujar Damar yang terlihat panik mendengar itu.
"Sorry, Mar. Saat Tante Mala datang dan bertanya pada Om Dhana tentang kejadian yang menimpamu ini, Om Dhana tidak memberikan jawaban yang memuaskan pada Tante Mala. Lalu Tante Mala malah bertanya padaku dan aku memberitahunya kalau kamu terserempet motor karena menolong Wulan." timpal Rainar yang tertunduk, merasa bersalah pada Wulan.
Damar menghela nafas sedikit berat, mengacak rambutnya frustasi, cukup tau ke mana arah pembicaraan sahabatnya yang baru kemarin ini mengetahui bagaimana hubungan Wulan dengan sang mami yang jauh dari kata baik. Jika sudah seperti ini, Damar sudah cukup hafal dengan sikap sang mami, yang memang sudah terjadi di saat dirinya belum sadarkan diri.
"Lalu ke mana mamiku, Nar? Mami pasti marah besar dan bisa saja Mami malah menghukum Adek atau mencaci makinya." ujar Damar yang terlihat panik.
"Aku juga tidak tau di mana Tante Mala. Setelah pergi bersama Wulan dan disusul oleh Om Dhana, mami kamu tidak datang lagi ke ruang UGD untuk melihatmu, Mar." jawab Rainar yang ikut merasakan khawatir.
"Karena itu Om membawamu ke sini, Nak. Bahkan Om sudah mencari papi dan juga adikmu, tapi mereka tidak ada di sini. Om curiga kalau mamimu itu membawa paksa Wulan pulang. Tapi kamu tenang saja ya. Papimu pasti akan melindungi putrinya." timpal Dokter Ronald yang menenangkan.
"Tapi kalau Papi mencari Damar bagaimana Om? Damar yakin Papi dan Adek masih ada di rumah sakit ini. Papi tidak akan memberi Mami kesempatan membawa Adek pulang, apalagi dengan cara dipaksa seperti itu." ujar Damar yang berusaha berpikir positif.
"Kamu tenang saja. Papimu pasti akan bertanya pada resepsionis atau bahkan pada suster yang bertugas di ruang UGD. Jadi kamu jangan khawatir lagi ya. Kamu harus sehat dulu, Damar." jawab Dokter Ronald seraya mengusap bahu Damar.
Damar menghela nafas, menyandarkan tubuhnya ke headboard, menepis jauh kegundahan hatinya yang mencemaskan sang adik. Takut jika sang mami bertindak bodoh pada putri yang dibencinya hanya karena kesalahpahaman.
"Damar takut Mami gelap mata, Om. Bisa saja Mami membunuh Adek hanya karena Damar terserempet motor. Om tau sendiri 'kan bagaimana sifat Mami yang sekeras batu? Damar bingung harus berbuat apa lagi agar Mami bisa berubah menyayangi Adek." cercah Damar yang meracau kesal.
Dokter Ronald dan Rainar saling pandang, menghela nafas panjang mendengar keluh kesah kembaran Wulan itu.
"Iya, Damar. Tante Mala tidak mungkin nekat melakukan itu. Kamu tenang saja, karena aku dan Papa akan selalu berdiri di pihak sahabat kembarku ini." timpal Rainar seraya menepuk bahu Damar.
"Terima kasih, Rainar. Terima kasih, Om." ujar Damar yang melihat keduanya.
Dokter Ronald dan Rainar mengangguk, berusaha menenangkan Damar walaupun sudah terlihat lebih tenang dari sebelumnya, membuat ayah dan anak itu turut tenang.
***
"Minum dulu, Sayang. Anak Papi sudah terlalu banyak menangis dan bermain air hujan. Jadi harus minum teh hangat dulu."
Setelah puas menangis di bawah derasnya air hujan, Dhana yang mencemaskan sang putri pun membawanya ke kantin rumah sakit. Menikmati segelas teh hangat untuk mengusir rasa dingin yang menyelimuti diri. Tidak hanya Wulan, Dhana pun juga ikut menikmati minuman hangat karena dingin tubuhnya kian menjalar hingga menembus kulit.
Wulan terlihat kedinginan, langsung meraih gelas teh hangat yang sudah siap dihidang, menyeruputnya dengan nikmat, merasakan hangat tenggokannya yang dialiri teh manis nan hangat itu. Sementara Dhana termangu, menatap lekat sang putri yang kehausan, meneguk habis teh hangat di tangannya, memancing senyum Dhana untuk terukir.
"Anak Papi mau makan apa? Kamu belum makan siang 'kan Sayang? Kita makan dulu ya. Setelah itu baru kita kembali lagi ke UGD dan melihat Damar." ujar Dhana yang ingin beranjak.
Dengan cepat Wulan meraih tangan sang papi, menariknya kembali hingga terduduk ke posisi awal. Wulan meraih note kecilnya yang hampir hancur karena basah. Namun untung saja note itu sempat terselip, masuk ke dalam bajunya tanpa ia sadari.
'Makannya dibungkus saja, Pi. Saat ini Mas Damar pasti sudah sadar dari tidurnya. Kita makan siang bersama saja di sana. Kasihan Mas Damar juga belum makan siang, sama seperti kita'
__ADS_1
Wulan merobek note kecil berwarna itu, memberikannya pada sang papi yang duduk termangu menatapnya sendu. Matanya pun terlihat mengembun, terlihat tumpukan bulir bening yang hampir jatuh saat membaca untaian kalimat sang putri. Bagaimana bisa sang putri mencemaskan masnya di saat hatinya terluka lebih parah dibandingkan dengan luka yang dirasakan oleh Damar. Hati Dhana sangat terenyuh, membayangkan betapa besarnya sayang Wulan pada Damar. Membuatnya teringat akan kasih sayang Dhina terhadap dirinya.
"Baiklah, Sayang. Papi akan membeli lima bungkus makan siang untuk kita sekaligus untuk Rainar juga. Saat ini dia pasti sudah menahan lapar karena menemani masmu."
Kekehan renyah yang Dhana lontarkan, sukses memancing gelak tawa sang putri. Dhana yang terkekeh pun beranjak pergi memesan beberapa makan. Sementara Wulan memilih untuk menunggu di meja tempat duduknya bersama sang papi. Namun seketika tatapan matanya tertuju pada luka bekas cambuk sang mami yang terlukis indah di lengan putihnya.
Adek minta maaf, Mi. Karena Adek, Mas Damar jadi celaka. Karena Adek, Mas Damar terluka dan dirawat di rumah sakit. Kalau Mami marah sama Adek, Adek ikhlas kok. Asalkan Mami puas dan tidak marah lagi pada Papi. Adek tidak akan sanggup melihat Papi dan Mami bertengkar terus hanya karena Adek. Gumam Wulan dalam hati.
Tidak berselang lama, Dhana kembali seraya membawa bungkusan makanan di tangannya. Dengan cepat Wulan menyeka air matanya yang menetes tanpa permisi agar sang papi tidak melihatnya menangis.
"Ayo, Sayang! Kita kembali ke ruang tunggu dan menunggu masmu itu sadar. Ayo!" ujar Dhana yang hanya berdiri seraya mengulur tangannya pada sang putri.
Wulan bergeming, menatap lekat manik sang papi yang membuatnya teringat akan sesuatu. Lalu ia menarik tangan sang papi untuk duduk di kursinya. Demi menghemat waktu, Wulan yang penasaran pun bicara dengan menggunakan bahasa isyaratnya.
"Aaaaa... aaaaa... aaaa... aaaaaaaa... aa... aaaaa?" ujar Wulan dan hanya Dhana yang dapat mengerti dengan bahasa putrinya itu.
Seketika mata Dhana membulat sempurna tatkala mendapatkan pertanyaan putrinya, detak jantungnya pun seakan bertalu-talu, membuatnya salah tingkah dalam sesaat.
"Papi baru mengenalnya tadi, Nak!!!"
Wulan menyipit, menatap penuh selidik sang papi yang terlihat gugup tiba-tiba. Namun sejurus kemudian, Wulan yang masih menatap Dhana pun tersenyum, mengangguk kepala seakan menerima jawaban sang papi walaupun, berbohong.
Huff... untung saja putriku tidak sekepo Dhina. Gumam Dhana dalam hati.
.
.
.
.
.
Happy Reading All 😇😇😇
Translate bahasa Wulan :
Sejak kapan Papi mengenal Bu Kinan?
Ternyata Wulan mulai penasaran dengan papinya yang aneh saat bertemu Bu Kinan 😂😂 memang anak pintar ya kamu, Lan...
Siapa Kinan sebenarnya baru sedikit ya author kasih tau? Wkwkwk, nanti bakal author adakan flashback kok, tenang aja...
__ADS_1
Terima kasih author ucapkan karena para sahabat masih setia bersama Wulan😘😘 Semangat dan sukses untuk kita semua 🌹