Takdir Si Gadis Bisu

Takdir Si Gadis Bisu
Episode 60 ~ Si Kembar Belum Pulang


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


"Dhana... kenapa anak-anakmu belum pulang juga Nak?"


Semilir angin berhembus merdu, mengalun indah bak musik di senja hari, menyaksikan pergerakan lambat dari sang raja siang yang akan bertukar tugas sang rembulan malam. Mesin waktu pun turut berputar, bergerak dari satu angka ke angka berikutnya, namun waktu yang berjalan seakan terasa lama bagi Bu Aini tatkala menyadari bahwa kedua cucu kembar tersayang belum sampai di rumah.


"Iya, Dhana. Kamu bilang kalau mereka akan pulang sebelum sore. Tapi ini sudah malam, bahkan hampir masuk waktu isya dan mereka belum pulang juga. Apakah kamu sudah coba menghubungi mereka?" timpal Imam seraya menoleh ke arah Pak Aidi, Bu Aini dan Mala.


"Aku sudah menghubungi Damar sejak tadi, tapi tidak diangkat. Aku juga cemas, Mam." jawab Dhana, terus berkutat dengan ponsel.


"Kenapa tidak kamu coba hubungi Wulan? Siapa tau saja, jika ponsel Damar tidak aktif, ponsel Wulan aktif, Dhana!" ujar Imam yang memberikan solusi untuk sang kakak ipar.


"Jika Wulan pergi bersama Damar, dia tidak akan membawa ponselnya, Mam. Karena Wulan sangat jarang memakai ponsel!!!" jawab Dhana tanpa melihat Imam, sibuk menelepon sang putra yang belum pulang.


Imam terdiam, menoleh ke arah Pak Aidi dan Bu Aini yang tampak menganggukan kepala. Guratan kecemasan juga tampak jelas sekali pada wajah keduanya, termasuk juga Mala yang mengkhawatirkan keadaan sang putra.


"Bagaimana ini Mas? Damar belum pulang sampai sekarang. Aku takut terjadi sesuatu padanya." ujar Mala yang duduk di sisi Dhana.


Hanya Damar. Mala masih tetap seperti itu, mengkhawatirkan Damar tapi tidak dengan Wulan. Membuat Imam menghela nafas kasar, memijat pelipisnya tatkala melihat sikap Mala secara langsung kali ini, tidak menyangka jika Mala benar-benar berubah menjadi jahat pada putrinya sendiri. Tidak hanya Imam, Dhana, Bu Aini dan Pak Aidi pun demikian. Berusaha dan terus berusaha untuk tetap sabar, mengurut dada dalam hati, berdo'a agar Damar Wulan baik-baik saja di luar sana.


Drrrrttt...


Dhana terlonjak kaget, getaran ponsel yang mendadak bunyi membuyarkan lamunannya, menoleh ke arah ponsel yang masih berada di atas genggaman tangannya. Dhana mengeryit, menatap nama si penelpon di layar ponselnya.


"Assalamualaikum, Syahil. Ada apa Nak?" ujar Dhana, mengangkat telepon Syahil.


"Wa'alaikumsalam, Uncle. Syahil mau bertanya, apa Damar dan Adek sudah sampai di rumah? Sejak tadi, Syahil berusaha untuk menghubungi Damar tapi tidak diangkatnya, Uncle. Kira-kira Damar sedang apa di rumah Uncle?" ujar Syahil yang terdengar gelisah di balik telepon.


Dhana termangu, mencerna perkataan sang keponakan yang terdengar panik, menanyakan keberadaan Damar dan Wulan yang ia sendiri pun tidak mengetahui di mana mereka sekarang. Raut wajah Dhana yang pias memancing rasa penasaran Pak Aidi, Bu Aini, Imam dan Mala. Mereka menatap Dhana dengan tanda tanya.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu Syahil? Apakah sebelum pulang Damar dan Wulan sempat bertemu dengan kamu?" tanya Dhana, berusaha untuk tenang, menepis rasa khawatir.


"Iya, Uncle. Syahil memang sempat bertemu dengan mereka, karena mereka yang sudah menolong Syahil saat Bima dan teman geng motornya mengeroyoki Syahil. Damar Wulan juga sempat mengantar Syahil sampai rumah dan setelah itu mereka kekeuh ingin segera pulang tanpa diantar oleh Mas Syahal, Uncle. Awalnya, Syahil dan Mas Syahal ragu untuk membiarkan mereka pulang sendirian, tapi Damar terlalu keras kepala!!! Jadi Syahil dan Mas Syahal hanya bisa memesankan taksi online untuk mereka. Tapi sampai sekarang, Damar belum memberi kabar apapun, Uncle." tutur Syahil yang menceritakan semuanya.


Dhana terpekur, menerawang jauh setelah mendengar penjelasan sang keponakan di telepon, membuat tumpukan bulir kristal di matanya terlihat, siap untuk luruh seketika.


"Damar dan Wulan belum sampai di rumah, Syahil!" jawab Dhana yang mendadak parau.


"Apa? Tidak mungkin, Uncle! Damar Wulan sudah pulang dari jam tiga sore tadi. Tidak mungkin mereka belum sampai di rumah dan tidak mungkin juga mereka terjebak macet!!! Uncle jangan bercanda!!! Jangan menakuti Syahil dan Mas Syahal seperti ini, Uncle!!!" tukas Syahil yang terdengar panik di sana.


"Tapi Uncle tidak bohong, Nak! Kedua adikmu belum pulang sampai sekarang! Uncle sudah menghubungi Damar tapi hasilnya sama seperti kamu menghubunginya." ujar Dhana, gelisah.


"Syahil, Mas Syahal, Papa dan Mama akan ke sana sekarang juga, Uncle!!!" ujar Syahil yang langsung menutup teleponnya.


Dhana terpekur, tangan yang dibawa untuk memegangi ponsel di telinganya mendadak layu tak berdaya, kekhawatiran yang semula hanya sebatas wajar, kini berubah menjadi kegelisahan yang tak berujung. Matanya pun menerawang entah ke mana, berusaha untuk menetralisir rasa takut di dalam hati, membuat rasa penasaran Mala, Pak Aidi, Bu Aini dan Imam semakin tidak menentu.


"Ada apa Mas? Kenapa kamu diam saja? Apa yang Syahil katakan di telepon?" timpal Mala yang terlihat semakin panik.


"Ada apa Dhana? Katakan, Nak!!! Ada apa?" timpal Bu Aini yang meraih tangan putranya.


Dhana pun menoleh, menggiring matanya melihat ke arah sang ibu yang menatapnya penuh harap, harapan akan kabar baik yang didengarnya dari sang putra. Dhana masih terdiam, mengambil nafas dalam sebelum akhirnya menceritakan semua yang dikatakan Syahil melalui telepon padanya. Cerita Dhana sukses membuat guratan kecemasan di wajah Pak Aidi, Bu Aini, Mala dan Imam terlihat jelas.

__ADS_1


"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang Mas? Tolong lakukan sesuatu, Mas! Aku tidak ingin putraku kenapa-kenapa di luar sana." ujar Mala yang air matanya berurai begitu saja.


"Kita laporkan ke Polisi saja, Nak!!! Ibu juga takut, jika terjadi sesuatu pada Damar dan Wulan. Ini sudah malam dan mereka tidak mungkin berkeliaran di luar sana tanpa izin darimu." timpal Bu Aini yang tak kalah panik, air matanya pun juga ikut mengalir.


"Ibu, Mala... kalian tenang dulu ya! Biarkan Dhana berpikir untuk sesaat dan mencari jalan keluar yang baik. Kalau kita panik, jalan keluar yang kita butuhkan tidak akan terlihat." timpal Imam yang menenangkan kedua wanita itu.


"Imam benar, Bu. Jika kita melaporkan hal ini pada Polisi, mereka pun tidak akan langsung memproses masalah ini sebelum 1x24 jam." timpal Pak Aidi, menenangkan sang istri.


Dhana masih duduk termangu, mengusap kasar wajahnya yang tampak panik, frustasi dengan masalah kali ini. Rasa menyesal pun menyelimutinya, menyesal karena ia memberi izin kedua anak kembarnya untuk pergi sendiri tanpa ada orang yang melindungi mereka.


"Assalamualaikum..."


"Wa'alaikumsalam..."


Pak Aidi dan Imam pun beranjak, mendekati rombongan salah satu keluarga yang datang.


"Imam..."


"Mas Sadha..."


Imam memeluk erat tubuh mas iparnya, menumpahkan kerinduan di waktu yang sebenarnya kurang tepat seperti saat ini.


"Kapan kamu sampai Mam?" tanya Vanny.


"Tadi siang, Kak. Ayo, silakan masuk!!!" ujar Imam seraya memberikan jalan pada semua.


Sadha, Vanny, Syahal dan Syahil pun bergegas masuk ke dalam rumah. Duduk di ruang tamu bersama Dhana, Bu Aini dan Mala yang masih terpekur karena panik.


"Papa benar, Uncle. Syahil juga mencurigai Bima karena hanya anak itu yang berani dan nekat melakukan hal ini." timpal Syahil yang meyakinkan sang uncle.


"Yang semakin membuat Syahal dan Syahil yakin adalah karena Damar, Adek dan Syahil sempat bertemu di jalan saat Bima bersama anggota geng motornya mengeroyoki Syahil, Uncle. Kecurigaan kami mengarah pada anak itu." timpal Syahal yang semakin menguatkan.


Dhana masih terdiam, mencerna kalimat yang dikatakan oleh kedua keponakannya itu. Tidak ingin gegabah dalam menghadapi masalah ini, karena masalah kali ini menyangkut Damar dan Wulan. Sementara Dhana yang diam, Mala dan Bu Aini yang khawatir tidak bisa membendung air matanya, membuat Vanny kewalahan ketika duduk di antara keduanya, menenangkan sang ibu mertua sekaligus adik iparnya yang panik.


"Dhana... apakah ponsel Damar masih aktif?" tanya Imam yang sejak tadi diam, mencerna perkataan kedua keponakan kembarnya itu.


"Masih, Mam. Tapi tidak diangkat olehnya." jawab Dhana tercekat, membuatnya sesak.


"Coba berikan ponselmu padaku!!!" ujar Imam seraya mengulur tangan, meraih ponsel Dhana.


Dhana memberikan ponselnya pada Imam, membuatnya mengeryit heran, apa yang akan dilakukan oleh sahabat sekaligus iparnya itu.


"Apa yang akan Paman Imam lakukan dengan ponsel Uncle Dhana?" tanya Syahal yang tidak bisa menahan rasa penasarannya.


"Syahal... ternyata rasa ingin tau di dalam diri kamu masih sama seperti dulu. Paman minta maaf karena pertemuan kita harus terjadi saat seperti ini. Paman akan melacak nomor Damar karena ponselnya masih aktif. Jadi masih bisa dilacak melalui nomor teleponnya. Semoga alat pelacak ini bisa memberikan informasi tentang keberadaan adik-adik kamu ya." jawab Imam, tapi tangannya asyik berkutat dengan ponsel.


"Kamu bisa melacak nomor telepon Mam? Sejak kapan?" timpal Sadha yang penasaran.


"Belum lama ini, Mas. Semoga saja kita dapat petunjuk dari alat pelacak ini, Mas." ujar Imam.


Sadha mengangguk, percaya pada sang adik ipar yang sebenarnya sangat ia rindukan itu, namun situasi membuat mereka untuk tetap seperti ini, memendam rasa rindu efek tidak bertemu selama 13 tahun belakangan ini.

__ADS_1


"Assalamualaikum... Adek, Mas datang!"


Suara bariton itu membuat semuanya yang duduk di ruang tamu menoleh serentak ke sumber suara, mendapati Aiziel yang datang seraya membawa dua buah goody bag kecil, berdiri terpaku melihat siapa saja yang ada di dalam rumah sang oma.


"Paklik, Bulik, Syahal, Syahil, Paman Imam..."


Aiziel melangkah lebar, menghampiri semua anggota keluarganya yang terlihat tegang dan panik, duduk di sisi kedua adik kembarnya itu.


"Paman Imam... Paman kapan sampai di Jakarta? Kenapa tidak memberitahu Ziel?" tanya Aiziel yang tersenyum senang, melihat sang paman di hadapannya.


"Paman baru datang tadi siang, Nak." jawab Imam yang masih berkutat dengan ponsel, sesekali melihat ke arah keponakannya itu.


"Ohh begitu. Lalu Paklik, Bulik, dan si kembar sedang apa di sini? Kenapa wajah semuanya tampak tegang dan panik seperti ini? Oma.... Oma dan Anty Mala kenapa menangis? Lalu Damar Wulan mana? Ziel ada sesuatu untuk mereka. Uncle Dhana bilang kalau si kembar kecil itu dapat juara! Jadi, Ziel membelikan hadiah untuk mereka." cercah Aiziel, senang seraya menatapi goody bag di tangannya.


Tangis Bu Aini dan Mala pecah seketika, mendengar penuturan Aiziel yang terlihat sangat bahagia setelah mengetahui kalau kedua adik kembarnya itu mendapat predikat juara kelas, membuat Aiziel terkesiap tatkala melihat oma dan anty-nya itu menangis dalam pelukan sang bulik. Sedangkan Dhana, Sadha, Pak Aidi, Imam, Syahal dan Syahil hanya diam. Tidak tau harus dari mana memberitahu Aiziel.


"Oma... Oma kenapa? Ziel salah bicara ya?" tanya Aiziel yang berpindah duduk ke sisi sang oma dan menenangkannya.


Bu Aini hanya menangis, tidak menjawab pertanyaan sang cucu sulung, membuatnya semakin bingung dengan semuanya.


"Uncle... ada apa? Kenapa Uncle diam saja? Damar dan Adek di mana Uncle?" ujar Aiziel yang kini beralih pada sang uncle.


"Damar dan Adek belum pulang sampai sekarang, Mas!" jawab Syahil yang mewakili sang uncle.


Aiziel menoleh cepat, menatap tidak percaya akan perkataan adiknya itu lalu berpindah lagi, duduk di samping Syahal.


"Kamu bicara apa Syahil? Apa yang terjadi? Cerita sekarang juga pada Mas!" ujar Aiziel.


Si kembar Syahal dan Syahil saling pandang, diiringi dengan anggukan Syahal pada Syahil seakan meminta sang adik kembar untuk menjelaskan semuanya pada mas sulungnya. Syahil menghela nafas panjang, menceritakan kejadian yang sebenarnya terjadi pada dirinya, Damar dan Wulan sebelumnya hingga berakhir seperti ini.


"Kita harus menemui Bima! Mas akan pergi menemui anak itu sekarang juga!" ujar Aiziel.


"Tunggu, Ziel! Kamu jangan nekat, Nak. Kita tunggu hasil dari alat pelacak pamanmu ini. Setelah ada petunjuk, baru kita bergerak!!!" timpal Pak Aidi yang menghalangi sang cucu.


"Tapi Opa, anak yang bernama Bima itu berbahaya! Dia pelaku pembulian Adek! Dia pelaku tabrak lari Damar seminggu yang lalu! Dan tidak menutup kemungkinan, kalau dia juga yang ada di balik masalah belum pulangnya Damar Wulan sampai sekarang!" jawab Aiziel yang khawatir dan gelisah.


"Ziel... Opa benar, Nak. Jangan gegabah! Kita cari solusinya dengan kepala dingin. Semoga Damar dan Wulan baik-baik saja di luar sana. Kita do'akan mereka agar mereka bisa segera pulang." timpal Sadha yang meyakinkan Aiziel.


Aiziel menghela nafas kasar, kegelisahan di dalam hatinya membuatnya tidak ingin duduk, berjalan ke sana ke mari seperti setrika panas bahkan lebih panas karena mengkhawatirkan kedua adik kembarnya yang belum pulang.


"Dhana... aku berhasil menemukan posisi ponsel Damar saat ini. Tapi posisinya tidak menetap. Ponsel Damar terus berjalan dan sekarang posisinya berada di... pelantaran tempat parkir?"


.


.


.


.


.

__ADS_1


Happy Reading All 😇😇😇


__ADS_2