Takdir Si Gadis Bisu

Takdir Si Gadis Bisu
Episode 117 ~ Masuk Sekolah Lagi


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


"Ayah, Ibu... Dhana pamit ingin mengantar anak-anak ke sekolah dulu ya sebentar!"


Hari pertama masuk sekolah di semester baru dan di tingkat yang baru pula telah tiba. Tiga hari berlalu sejak teror di malam itu. Ammar, Ibel, Sadha dan Vanny dibuat ketar-ketir, khawatir jika sewaktu-waktu teror yang diduga perbuatan orang suruhan Gibran kembali datang. Mengancam nyawa anak-anak mereka yang selama tiga hari itu tengah sibuk beraktifitas di luar rumah. Beda halnya dengan Dhana, karena kedua anak kembarnya belum masuk ke sekolah.


Aiziel yang bekerja di Prasetya Family Corporation terpaksa harus berangkat ke kantor bersama Sadha dan Vanny sesuai dengan titah Pak Aidi. Sedangkan Aifa'al, Syahal dan Syahil yang kuliah terpaksa harus berangkat bersama-sama, tentunya atas titah Pak Aidi juga. Pokoknya keempat anak muda itu dibuat gemas dengan sikap sang opa yang terlalu cemas. Tidak hanya Pak Aidi, Dhana pun juga memberi seruan yang sama, asal semua keluarganya aman.


Lalu bagaimana dengan Mala? Sejak teror malam itu kondisi psikis nya memburuk lagi, membuat Dhana kelimpungan selama itu, menghadapi sikap Mala yang tiba-tiba bisa histeris tanpa diduga. Di saat Mala histeris pun tatapan matanya kosong, terpekik kuat tak terkendali hingga mengejutkan semua orang yang ada di rumah. Karena hal itu, sampai saat ini Wulan tidak diizinkan oleh Dhana untuk bertemu dengan sang mami, bahkan hanya untuk sekedar masuk ke dalam kamar sang mami saja tidak boleh.


Sempat membuat Wulan sedih. Berkali-kali Wulan berusaha membujuk sang papi agar diizinkan untuk bertemu dengan sang mami, hanya untuk sekedar melepas rasa rindu. Namun sayang, Dhana yang sudah bertitah tidak mudah untuk dibantah. Tidak hanya Wulan, Damar pun juga tidak mendapat izin dari sang papi untuk bertemu sang mami. Jadi sudah dapat dipastikan bukan, wajah kedua anak kembar Dhana saat ini seperti apa? Mereka lesu dan tidak bersemangat.


"Kamu hati-hati ya, Nak!!! Kalau bisa di hari pertama si kembar sekolah ini, kamu tunggu saja mereka sampai pulang. Biasanya hari pertama masuk sekolah di semester baru, tidak terlalu memakan waktu sampai siang." tutur Bu Aini, tau betul dengan kegiatan di awal sekolah karena beliau guru pensiun.


"In syaa Allah, Bu. Rencananya Dhana ingin melihat Cafe sebentar menjelang si kembar pulang. Karena beberapa hari ini, sudah lama sekali Dhana tidak mengunjungi Cafe." ujar Dhana, melihat sesaat ke arah anaknya.


"Pak Dewa 'kan ada, Dhana!!! Anak-anak lebih penting daripada Cafe!" tegas Bu Aini.


Dhana menghela kasar, mengangguk patuh dengan titah sang ibu yang masih khawatir. Pasalnya selama tiga hari ini, tidak terlihat adanya tanda-tanda teror lagi dari Gibran maupun antek-anteknya yang masih bebas. Membuatnya sedikit lega tapi tidak dengan kedua orang tuanya yang selalu was-was.


"Ya sudah, kalau begitu kami pamit dulu, Yah, Bu. Assalamualaikum..." ujar Dhana, seraya bangkit dari duduknya.


"Damar sekolah dulu ya, Oma, Opa. Assalamualaikum..." timpal Damar yang beranjak lesu lalu menyalami opa omanya.


"Aaaa... aaaa..." timpal Wulan, tak kalah lesu seraya menyalami opa dan omanya.


"Wa'alaikumsalam... Kalian hati-hati ya, Sayang." jawab Bu Aini, mengelus wajah kedua cucu kembarnya.


Damar dan Wulan mengangguk lemas, berjalan lesu menghampiri sang papi yang sedang menunggu mereka berpamitan, seakan enggan untuk berangkat ke sekolah sebelum bertemu dengan sang mami. Membuat Pak Aidi, Bu Aini dan Dhana paham, namun tidak ada pilihan lain selain menjauhkan mereka dari jangkauan sang mami untuk sementara sampai kondisinya membaik.


"Ayo kita berangkat!"


"Pi..."


"Ada apa lagi?"


"Izinkan kami bertemu Mami sebentar ya."


"Kondisi Mami masih labil, Damar!"


"Sebentar saja, Pi!"


"Nanti saja ya! Ayo kita pergi sekarang!"


Damar menghela pasrah, menoleh sesaat ke arah sang adik yang menginginkan hal serupa, bertemu walaupun sesaat dengan sang mami untuk sekedar menghidupkan kembali semangat pagi. Namun titah sang papi tidak bisa dibantah lagi, membuatnya semakin lesu dan harus pergi ke sekolah.


"Assalamualaikum, pagi Uncle...!"


Dhana, Damar dan Wulan yang hendak masuk ke dalam mobil menoleh ke sumber suara, mendapati si kembar Syahal-Syahil yang menghampiri dengan semangat.


"Syahal-Syahil... kalian mau ke mana?"


"Ke kampus, Uncle." jawab Syahal.


"Lalu kenapa kalian ada di sini?"


"Ingin menjemput si kembar!" jawab Syahil.


"Kalian tidak bersama Al?"


"Mas Al sudah berangkat duluan, Uncle! Karena itu kami datang ke sini dan berniat untuk mengantar Damar-Wulan sekolah." ujar Syahal akan niatnya bersama Syahil.


"Tapi Syahal, kamu tau 'kan kalau..."


Drrrrttt!


Ucapan Dhana terpaksa harus dihentikan sejenak saat ponselnya tiba-tiba bergetar, mendesak untuk segera diangkat olehnya.


"Assalamualaikum... ada apa Pak Dewa?"


"..."


"Kenapa mendadak sekali?"


"..."


"Ya sudah, saya akan ke sana sekarang!"


Pembicaraan terputus, bergegas Dhana menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku. Sementara si kembar Syahal-Syahil dan Damar-Wulan hanya bisa melihat apa yang tengah Dhana lakukan sesaat tadi.

__ADS_1


"Ada apa Pi?"


"Papi harus ke Cafe, Damar."


"Nah, kebetulan sekali 'kan Uncle!"


"Ya sudah, tapi kalian hati-hati ya!"


"Siap, Uncle! Kami akan mengantar Damar dan Adek sampai gerbang sekolah, bahkan sampai ke pintu toilet sekolah sekali pun."


"Ck! Kamu ada-ada saja, Syahal!"


"Kalau begitu Damar, Adek, Mas Syahal sama Mas Syahil pamit pergi ya, Pi."


Syahal-Syahil dan Damar-Wulan beranjak, meraih tangan Dhana yang sudah terulur.


"Papi titip Wulan! Setelah dari Cafe, Papi akan menjemput kalian ke sekolah!"


"Tidak perlu, Uncle! Biar Syahil dan Mas Syahal yang menjemput mereka nanti di sekolah, sekalian pulang juga."


"Kamu yakin?"


"Yakin 100% Uncle!"


"Ya sudah, kalian harus tetap waspada ya! Hati-hati di jalan! Kalau ada apa-apa di perjalanan, cepat hubungi Uncle! Oke?"


"Siap 86 Uncle!" sahut Syahal-Syahil.


"Ya sudah..."


"Assalamualaikum Pi..."


"Wa'alaikumsalam, hati-hati ya Nak!"


Syahal-Syahil dan Damar-Wulan mengangguk patuh, mengulas senyum pada Dhana yang masih melihat mereka naik ke atas motor. Sepertinya Syahal dan Syahil sengaja membawa masing-masing motor mereka, berangkat bersama dengan Damar-Wulan yang hari ini masuk sekolah.


Setelah kedua pasang anak kembar itu pergi, Dhana pun juga ikut pergi menuju Cafe karena ada urusan yang diberitahu sebelumnya oleh Pak Dewa via telepon.


***


"Apa rencana Tuan selanjutnya?"


"Aku punya dua rencana saat ini, Bram!"


"Rencana apa itu Tuan?"


"Rahasia! Yang jelas, sudah ada orang kepercayaan saya di Jakarta dan siap untuk melakukan kedua rencana itu!"


Bram mengeryit heran, melihat sikap sang tuan majikan yang merahasiakan rencana darinya. Namun apalah daya dirinya yang hanya seorang asisten, tidak punya kuasa untuk berkomentar atau pun menyanggah. Tugasnya hanya patuh dan menjalani misi yang ditetapkan oleh sang tuan majikan.


"Bagaimana dengan teror kemarin?"


"Lancar, Tuan! Kotak-kotak itu sudah diletakkan pada tempat yang semestinya!"


"Bagus! Tunggu perintah saya selanjutnya! Kamu boleh istirahat seharian ini, Bram!"


"Terima kasih Tuan. Kalau begitu saya izin kembali ke kamar saya dulu. Permisi, Tuan."


Gibran mengangguk samar, membiarkan sang asisten yang sudah bekerja dengan keras membantunya untuk istirahat hari ini.


"Pa...!"


Siapa yang tidak kenal dengan pemilik panggilan sayang pada Gibran itu kalau bukan Zivana. Berhari-hari berada di Villa terpencil bersama sang papa dan asisten, membuatnya bosan, merasa dikekang oleh sang papa melebihi sang bunda saat dirinya masih tinggal bersama Kinan di ibu kota.


"Ada apa Sayang?"


Dengan tampang cemberut, gadis cantik seusia dengan Wulan itu duduk di depan sang papa. Sementara Gibran yang sudah mengerti dengan tingkah sang putri, hanya menghela berat. Pasalnya, sudah tiga hari ini Zivana terus merengek minta pulang ke ibu kota. Dengan alasan bosan dan alasan lainnya yang dikira masuk akal, namun hati sang papa yang teramat keras selalu saja membantah keinginannya.


"Zivana bosan, Pa!!! Zivana ingin sekolah!!! Hari ini adalah hari pertama Zivana masuk sekolah lagi di semester baru!!! Papa antar Zivana ke Jakarta lagi ya!!! Please... Zivana benar-benar bosan di Villa ini, Pa!!! Selama kita di sini, Papa tidak pernah mengizinkan Zivana memegang ponsel, hanya sebuah laptop dan itu pun juga tidak ada jaringan internet nya, bagaimana bisa digunakan!!! Hanya nonton, nonton dan nonton! Zivana sangat bosan, Pa!!!" tukas Zivana meracau.


"Kamu tidak perlu sekolah di sana lagi!!! Setelah masalah dendam Papa terbayar, kita akan pergi ke Singapore dan menetap lagi di sana!!! Kita akan tinggal di rumah kenangan indah Papa dengan mama mu, dan Papa harap kamu bersabar sebentar lagi!!!" ujar Gibran, tanpa melihat Zivana.


"Mau sampai kapan Pa? Sampai saat ini saja dendam Papa itu belum tuntas juga! Setiap Zivana ingin tau apa rencana Papa, Papa selalu mengelak! Zivana juga ingin mengetahui rencana Papa! Zivana bosan jika harus dikurung seperti ini terus!" tukas Zivana, meracau kesal pada sang papa.


"Kamu harus bersabar, Zivana! Papa janji, masalah ini akan cepat selesai dan kita bisa hidup dengan tenang di Singapore nanti."


Zivana tertunduk lemas, jawaban Gibran masih tetap sama seperti itu, tidak kurang dan tidak lebih. Membuatnya sedih, hingga pikirannya melayang dan teringat dengan sang bunda, ibu sambung yang selama ini telah mengurusnya dengan sangat baik kendati pernah keras tapi itu semua demi memperbaiki sifatnya yang sekeras batu.


"Papa tidak pernah seperti ini dulu, mengurung Zivana cukup lama di tempat aneh seperti ini. Masih mending dikurung sama Bunda Kinan, kalau seperti ini mah!" racau Zivana lirih, menundukkan kepala.

__ADS_1


"Jangan pernah kamu sebut lagi nama itu! Dia bukan ibu kamu! Dia hanya wanita lugu yang sengaja Papa manfaatkan untuk kita!" tandas Gibran, membentak lantang Zivana.


Zivana terlonjak kaget, mendengar suara bariton yang selama ini tak pernah sekali pun melontarkan kalimat keras atau nada bicara yang tinggi seperti sekarang ini. Membuatnya air matanya jatuh seketika, menatap sang papa yang bangkit karena mendengar racauan lirihnya tadi.


"Zivana tau, Pa! Zivana tau, kalau Papa memanfaatkan Bunda Kinan untuk masalah hidup pribadi Papa. Tapi kenapa sih harus Bunda Kinan? Bunda Kinan itu orang baik! Papa sudah terlalu jahat sama Bunda!!!"


Zivana menggeram, mengeluarkan semua keluh kesahnya yang selama ini ia pendam sendiri sejak peristiwa (hancur) malam itu. Pergi bersama sang papa, meninggalkan sang bunda yang teramat menyayanginya tanpa berpamitan terlebih dahulu.


"Papa tidak ingin mendengar nama itu, Zivana!" tandas Gibran, membentak lagi.


"Zivana memang senang awalnya, Papa menceraikan Bunda Kinan!!! Tapi setelah telinga Zivana mendengar kebenaran yang Papa akui pada Bunda malam itu, ternyata Papa tidak jauh berbeda dari neneknya si Damar di masa lalu! Papa juga membunuh ayahnya Bunda hanya karena harta!" seru Zivana lantang, geram pada sikap Gibran.


"Diam!!! Sekali lagi kamu bicara seperti itu, tangan Papa ini tidak akan segan-segan untuk menampar wajah kamu!!! Sekarang, kamu masuk!!! Masuk Zivana!" seru Gibran.


Berderai sudah air mata Zivana, membelah pipi putihnya yang tampak merah menahan marah dan kecewa. Diamnya selama ini bukan karena tidak berani melawan sang papa, namun karena Gibran yang selalu mengelak setiap dirinya membahas hal itu.


"Papa jahat!" tandas Zivana.


Zivana beranjak pergi, mengambil langkah lebar masuk ke dalam Villa hendak menuju kamar. Suara tangisnya pun sama kuatnya dengan derap kakinya yang melangkah, menangisi sikap sang papa yang berbeda, kasar dan membentaknya dengan keras.


"Tidak ada rencana untuk hari ini!"


Langkah Zivana terhenti seketika, saat sayup-sayup suara Bram yang sedang berbicara dengan seseorang di telepon terdengar sampai keluar. Membuat jiwa kepo Zivana meronta, kakinya melangkah pelan mendekati daun pintu kamar asisten sang papa yang sedikit terbuka.


"Tuan Gibran suka dengan kinerja kamu, Dimas! Dan sebagai bonus, hari ini kamu bisa beristirahat!"


Zivana yang menguping, terperangah. Mendengar sayup-sayup Bram menyebut nama orang yang sangat familiar di telinga.


"Dimas? Jadi orang suruhannya Pak Bram yang menjalankan rencana Papa selama ini adalah Dimas, teman geng motor Bima!"


Drap!


Zivana terjingkat, melihat Bram yang berjalan mendekati pintu dan ingin keluar. Bergegas ia bersembunyi, tak ingin asisten sang papa melihat keberadaannya saat ini yang tengah menguping, membuat sifat kepo nya semakin meronta-ronta ingin tau.


"Mau ke mana lagi Pak Bram?"


Zivana beranjak pelan, mengikuti asisten sang papa yang sepertinya ingin memberi laporan baru tentang pembicaraannya tadi.


"Permisi Tuan..."


"Ada apa lagi Bram? Saya sedang tidak ingin diganggu sekarang! Jadi pergi lah!"


"Tadi Dimas menghubungi saya, Tuan."


"Lalu? Apa hubungannya dengan saya?"


"Dia menanyakan rencana Tuan yang berikutnya. Dan dia juga berterima kasih pada Tuan, karena berkat Tuan posisinya sebagai kapten geng motor bisa terwujud."


Gibran berdecak lirih, tidak habis pikir dengan pemikiran anak seperti Dimas di masa sekarang. Baru menjadi kapten geng motor saja sudah membuatnya bangga. Sungguh, tidak ada apresiasi sedikit pun untuk posisi seperti itu bagi seorang Gibran.


"Saya tidak membutuhkan ucapan itu dari anak bau kencur seperti dia! Anak itu tidak ada bedanya dengan Bimantara, Bram!!!"


"Tapi saya hanya ingin menyampaikan salam dan ucapan anak itu saja, Tuan."


"Kalau begitu pergilah! Saya sedang tidak ingin diganggu! Zivana benar-benar sudah membuat mood saya hancur pagi ini!"


"Sebaiknya Tuan lebih berhati-hati lagi dengan Nona Zivana! Jangan sampai dia mengetahui yang sebenarnya, kalau Tuan sudah menjebak dan memanfaatkan Bima! Lalu mengadu domba mereka agar mereka berpisah! Saya takut, jika Nona akan marah besar dan kecewa pada Tuan Gibran nanti."


"Saya tau, Bram! Terima kasih sarannya!"


"Sama-sama Tuan. Saya permisi dulu."


Gibran mengangguk tanpa melihat Bram, tangannya yang bekerja seakan mengusir Bram secara halus. Sementara Bram pergi, kembali ke kamar dan merebahkan tubuh yang tertunda karena panggilan dari Dimas.


Lalu bagaimana dengan ekspresi Zivana yang tengah asyik menguping sekarang ini? Mendengar kebenaran baru tentang Bima yang dianggapnya bersalah selama ini, justru membuatnya tercengang sempurna.


"J-jadi P-papa sudah membohongi aku tentang Bima selama ini?


.


.


.


.


.


Happy Reading All πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡

__ADS_1


Cihuiii akhirnya Zivana tau kedok Gibran pada Bima, sang kekasih atau udah jadi mantan ya πŸ˜… au ah, yang penting gadis tengil itu udah tau kebusukan papanyaπŸ₯²


__ADS_2