
...🍁🍁🍁...
"Mas Al...!"
Laju motor yang membawanya kencang menuju sekolah sang adik telah terparkir, membuat Aifa'al terjingkat saat suara itu bergema memanggilnya dengan lantang. Aifa'al memutar tumit, setelah meletakkan pelindung kepalanya saat di perjalanan pada kaca spion motor, lalu melangkah lebar menuju sosok yang melambaikan tangan ke arahnya di dalam kantin sana.
Srek!
Namun langkah yang semula lebar dan bersemangat, seketika terhenti. Tatkala mata tajamnya melihat seluet sosok yang baru saja pergi melajukan motor, pergi ke arah yang berlawanan dengan arahnya tadi. Aifa'al datang dari arah kanan, namun tidak dengan sosok itu yang justru berlalu menuju arah kiri sesuai arus jalan satu arah itu.
"Sepertinya aku pernah melihat motor itu, tapi di mana? Apa hanya perasaanku saja?"
Aifa'al termangu, tatapannya kian tajam ke arah motor yang tiba-tiba melintas di sana. Namun sayangnya motor dan si pengemudi sudah menghilang, hingga setajam apapun matanya, Aifa'al tidak bisa melihat sosok itu.
"Mas...!"
Lamunan Aifa'al buyar tatkala suara itu bergema lagi menyeru namanya, menuntun kaki untuk segera melangkah lagi setelah sepersekian detik terpaku di permukaan bumi. Aifa'al pun beranjak, menghampiri sosok yang telah membuyarkan lamunan panjangnya tadi, kendati perasaannya pun juga merasakan sesuatu yang tak nyaman.
"Belum keluar juga?" tanya Aifa'al.
"Belum, Mas. Sebentar lagi mungkin. Mas duduk saja dulu. Mas mau pesan minum?" jawab Syahil, melirik jam tangannya sesaat.
"Tidak usah! Mas tidak haus." ujar Aifa'al.
"Sudah beres kuliahnya Mas?" tanya Syahal.
"Sudah!" ujar Aifa'al, jelas.
"Mas mau makan?" tanya Syahal lagi.
"Tidak!" ujar Aifa'al, tanpa melihat Syahal.
"Ketus banget sih Mas! Pasti habis kuliah dengan dosen kiler ya tadi?" sungut Syahal.
"Ck! Jangan banyak tanya! Urusan kuliah Mas, bukan urusan kamu!" sergas Aifa'al.
Syahal berdecak lirih, sudah sangat paham dengan sifat Aifa'al yang memang seperti ini sejak dulu. Ditanya satu, dijawab satu tanpa ada jabaran lainnya yang akan menjelaskan. Giliran membuat perintah pasti yang paling hebat, tak ingin diabaikan apalagi dibantah.
"Mas Al kenapa melamun tadi di sana?" tanya Syahil, sempat melihat sang mas.
"Tidak apa-apa!" jawab Aifa'al.
"Mas melihat siapa?" tanya Syahil lagi.
"Bukan siapa-siapa, Syahil!" seru Aifa'al.
"Tapi kenapa wajah Mas gusar seperti itu? Seperti habis melihat sesuatu." tanya Syahil, belum puas dengan jawaban sang mas.
Aifa'al berdecak gemas, menggiring matanya ke arah Syahil yang tengah menatapnya penuh harap agar semua pertanyaan darinya dijawab lengkap oleh sang mas tengah. Namun tatapan tajam Aifa'al menciutkan nyali Syahil, membuat saudara kembar Syahal itu memilih diam.
"Tidak perlu bertanya lagi! Sepertinya, hari Mas kita yang satu ini sama buruk dengan cuaca saat ini. Tuh, lihat sudah mau hujan." ujar Syahal, berbisik di telinga sang adik.
"Mas Al memang aneh sejak tadi pagi, tapi Mas tidak percaya pada Syahil." ujar Syahil, ikut berbisik seraya melirik Aifa'al yang diam.
"Kalian berdua bisa diam, tidak? Mas masih bisa mendengar cicitan kalian itu!" pungkas Aifa'al, menoleh tajam ke arah keduanya.
Syahal dan Syahil serentak angkat tangan, mohon ampun saat tatapan mengintimidasi dari Aifa'al tertuju pada mereka, membuat mereka diam akhirnya dan menutup mulut. Sementara Aifa'al menghela kasar, bukan karena merasa terganggu dengan gurauan kedua adik kembarnya, melainkan karena pikirannya masih tertuju pada seluet sosok yang sempat tertangkap indera penglihatan.
"Mas Al...?"
Pikiran yang menerawang jauh membuat Aifa'al tidak menyadari kehadiran Damar, Wulan dan juga Rainar. Menghampirinya yang tengah duduk menunggu bersama Syahal dan Syahil di kantin sekolah mereka.
"Kalian sudah selesai?" tanya Aifa'al.
"Sudah... Mas kenapa bisa ada di sini?" tanya Damar seraya melirik Syahal-Syahil.
"Mas kebetulan lewat saja kok. Ya sudah, ayo kita pulang, sebelum hujan lebat turun." jawab Aifa'al, memberi kode Syahal-Syahil yang sebenarnya ingin menimpali.
Damar, Rainar dan Wulan saling pandang, begitu pula dengan Syahal dan Syahil yang hanya bergidik bahu mendengar titah sang mas. Membuat niat Rainar yang ingin sekali menyapa Aifa'al, surut. Keburu takut ketika melihat raut Aifa'al yang datar dan tegas itu.
"Ayo...!"
Syahal-Syahil dan Damar mengangguk serentak dengan raut wajah yang terlanjur pias. Begitu juga dengan Rainar yang sejak tadi hanya diam, tak berani menjawab atau memberikan respon kendati hanya sekedar anggukan samar sekalipun. Sementara itu Wulan terkikik, menahan geli ketika semua wajah mendadak pias karena titah Aifa'al.
__ADS_1
Aifa'al menarik tangan Wulan, membawa sang adik berjalan lebih dulu, membiarkan keempat anak muda yang masih terpaku berada di kantin, hingga akhirnya mereka pun ikut melangkah lebar, menyusul Wulan dan Aifa'al yang sudah berjalan lebih dulu.
"Kamu...! Kenapa masih berdiri di sana?"
Aifa'al yang sudah mengenakan helm dan duduk di atas motornya bersama Wulan di belakangnya pun bersuara, melihat Rainar dengan tatapan heran. Sementara Rainar bingung, pertanyaan Aifa'al yang tiba-tiba berhasil membuatnya celingukan, bertanya dalam bathin, pada siapa Aifa'al berbicara sedangkan hanya dirinya yang masih berdiri.
"Mas Al bicara pada Rainar?" tanya Rainar.
"Lalu bicara pada siapa lagi?" ujar Aifa'al.
"Ah, hmmm.... Rainar menunggu Papa, Mas." jawab Rainar, mendadak gugup.
"Tidak perlu menunggu Om Ronald! Ayo cepat naik motor Syahil! Nanti Mas yang akan memberitahu papamu!" seru Aifa'al.
"Tapi Mas, Rainar..."
"Mau naik atau kami tinggal sendirian?" pungkas Aifa'al, melirik Rainar tajam.
"Oke, oke... Rainar ikut." jawab Rainar.
Rainar pun menurut, lalu beranjak mendekati Syahil yang mengulurkan helm. Sementara Syahal dan Damar terkikik geli, melihat ekspresi Rainar yang pias karena baru pertama kali bertemu dengan Aifa'al, mentalnya sudah diuji tanpa diduga-duga.
"Kita lewat sana saja ya!" seru Aifa'al.
"Mana bisa, Mas! Jalan ini 'kan satu jalur!" jawab Syahil.
"Tidak apa-apa melawan arus sesekali!" seru Aifa'al.
"Jangan aneh-aneh deh, Mas! Nanti kita juga yang bakalan celaka!" timpal Syahal.
"Iya, Mas. Lewat jalan biasa saja!" seru Syahil.
Aifa'al terdiam sesaat, namun matanya mengedar ke mana-mana, seakan tengah mencari sesuatu atau mungkin memastikan keadaan sekitar. Bukan tanpa alasan Aifa'al mengajak adik-adiknya pulang melewati jalan yang lain, jika teringat dengan sosok yang membuatnya curiga hingga saat ini. Sosok yang tiba-tiba berlalu pergi begitu saja, melewati jalan yang seharusnya ia lewati dengan adik-adiknya untuk pulang.
Apa mungkin, perasaan Syahil yang tiba-tiba tidak enak tadi, ada kaitannya dengan sosok yang aku lihat itu? Aku merasa, kalau aku pernah melihat motor sosok itu, tapi di mana? Gumam Aifa'al.
Aifa'al termenung jauh, membuat Wulan yang duduk di belakang pun ikut bingung, sama seperti Syahal-Syahil, Damar dan Rainar yang sudah siap meluncur pulang.
"Aass..."
"Ya sudah... kita lewat jalan biasa saja." jawab Aifa'al, mendadak tidak tenang.
"Mas baik-baik saja 'kan?" tanya Damar.
"Iya, Mas tidak apa-apa." ujar Aifa'al.
"Ya sudah kalau begitu, ayo!" seru Syahil.
"Ayo...!" jawab Aifa'al.
"Ayo...!" sahut Syahal, antusias.
Perlahan motor ketiganya melesat cepat, menyusuri ruas jalan satu arah itu menuju jalan besar yang cukup jauh dari sekolah. Motor Aifa'al melaju di bagian belakang, mengiring motor Syahal dan Syahil yang berada di depan, membawa Damar dan Rainar di masing-masing motor mereka.
Mata Aifa'al masih mengedar liar, menelisik setiap sisi jalan, memastikan bahwa jalan ini aman untuk dilewati olehnya dan yang lain.
Ciittttt!
Suara decitan rem motor Nmax hitam milik Syahil tiba-tiba membuyarkan fokus Aifa'al dan Syahal. Membuat mereka terlonjak, mendapati Syahil yang tiba-tiba berhenti.
"Ada apa sih?" sergas Aifa'al, heran.
"Ada itu, Mas!" ujar Syahil, tanpa menoleh.
Aifa'al menghela berat, lalu melihat ke depan sana, mengikuti arah mata Syahil yang tertegun, seakan tengah bertemu seseorang yang sukses membuat terkejut.
"Apa kabar Aifa'al?" sapa seseorang di depan sana dengan seringai tajamnya.
Aifa'al tersenyum miring, tak terkejut sama sekali ketika mata tajamnya itu menangkap sosok di depan sana bersama rombongan, siap menghadang bahkan menerjang lawan sekalipun. Senyum Aifa'al semakin miring, berubah menjadi seringai tipis, saat mata tertuju kepada wujud motor yang sempat tertangkap oleh indera penglihatan kendati hanya sekilas. Namun kini membuatnya yakin, bahwa semua ini adalah, jebakan!
"Ohh, jadi lo orang yang sempat gue lihat tadi? Tapi kenapa lo ada di sini? Bukannya lo, berkeliaran di sini untuk menjebak kami semua? Biar kami lewat ke arah sana dan kalian semua mengepung kami? Tapi gue rasa, lo sudah salah perhitungan ya, Dim! Kasihan sekali! Baru permulaan saja, sudah kalah telak!" cebik Aifa'al, menyeringai tipis.
Dimas, dialah orang yang sempat berlalu pergi di jalan ini. Ingin memancing Aifa'al, agar Aifa'al membawa adik-adiknya ke arah lain dengan tujuan untuk membuat jebakan, mengepung Aifa'al bersama adik-adiknya. Namun sayang, perhitungan matang harus gagal ketika Aifa'al tak terpancing, kendati semula Aifa'al memang mengajak keempat adiknya melewati jalan lain, yaitu melawan arus jalan satu jalur. Dengan maksud untuk menghindari jebakan yang ternyata jebakan itu sudah dihindarinya secara tak langsung.
__ADS_1
"Minggir...! Gue sama adik-adik gue mau lewat...! Atau lo dan rombongan pengantin lo yang banyak itu sudah bosan hidup...!" cebik Aifa'al, tanpa turun dari motornya.
"Sombong banget ya lo sekarang, Al!!! Ternyata seperti ini sifat asli dari seorang pengkhianat!" cebik Dimas, menyeringai.
"Hahaha...! Apa? Pengkhianat? Siapa? Jangan bilang, lo sedang membicarakan sifat asli lo sendiri di depan anak buah lo. Sungguh menyedihkan ya!" cebik Aifa'al.
Dimas terbungkam, menggeram dalam bathin, menahan gejolak amarah yang memuncak saat mendengar perkataan Aifa'al. Sementara Aifa'al menyeringai puas, melihat wajah sosok yang semula menjadi teman, namun berubah menjadi sosok rival yang membuatnya geram beberapa hari ini.
"Kenapa diam? Gue benar 'kan?" sahut Aifa'al, seringai di bibirnya semakin jelas.
"Ck! Jangan banyak omong lo, Al! Lebih baik, sekarang lo serahkan adik lo yang duduk di belakang lo itu pada gue! Biar rombongan gue pergi dan lo bisa lewat!" pungkas Dimas, tengah menahan geram.
Seringai tajam yang semula merekah itu tiba-tiba berubah, mendadak pias ketika mendengar perkataan rivalnya di depan sana. Membuat Wulan terperangah hebat. Wajah yang semula berseri berubah pias, bersama dengan sahutan gemuruh langit yang semakin menghitam.
Sementara Syahal-Syahil, Damar dan Rainar yang turut mendengar pun ikut was-was, jika sewaktu-waktu Dimas dan rombongan anak geng motornya bertindak. Membuat mereka semua turun dari motor, namun Aifa'al mencegahnya dengan mata yang hanya melirik sesaat, memberi isyarat, bahwa mereka harus tetap berada di atas motor dan berjaga-jaga di situasi seperti ini.
Aifa'al menjangkau tangan sang adik perlahan dari depan. Membuat Wulan terkesiap namun mengerti kalau sang mas tengah ingin dirinya tetap berpegangan kuat, mengunci pelukannya dari arah belakang tanpa melepaskannya sedikit pun.
"Cepat! Ambil gadis bisu itu dari kakaknya!" seru Dimas, tanpa menolehkan kepalanya.
"Berhenti...! Tidak ada satu pun di antara kalian yang gue izinkan mendekat ke sini!" pungkas Aifa'al, menatap tajam sang rival.
"Jangan dengarkan dia! Cepat lakukan...!" tandas Dimas, tanpa melepas tatapannya.
Aifa'al bergeming, namun lihatlah tangan yang menyusup masuk ke dalam jaketnya, meraih sesuatu yang sepertinya sudah ia persiapkan jika terjadi situasi seperti saat ini.
"Satu langkah saja kalian maju, pistol ini akan berbicara! Menembus kepala kalian satu per satu!"
Dimas beserta anggota geng motornya terlonjak mundur, melihat sebuah pistol yang ditodongkan Aifa'al ke arah mereka. Sementara Syahal-Syahil, Damar, Rainar dan Wulan tak kalah terlonjak. Melihat senjata api yang berbahaya itu ada di tangan Aifa'al, menodong Dimas tanpa harus turun dari motor. Membuat seringai licik Aifa'al terbit, bersama dengan tatapan kilat yang tak teralih sedikit pun dari Dimas.
"Hahahahahaha...!"
"Hahahahahaha...!"
"Hahahahahaha...!"
Dahi Aifa'al dan yang lainnya mengerut, melihat Dimas yang tiba-tiba saja tergelak setelah mendapat bisikan dari sosok lelaki bertubuh besar di sisinya, disambut meriah oleh gelak tawa anggota geng motornya itu. Satu hal yang baru Aifa'al sadari, bahwa di dalam rombongan itu tidak ada satu pun di antara mereka yang merupakan anak geng motor Black Moon, hanya geng motor Tiger didampingi oleh tiga lelaki bertubuh besar.
Aifa'al, Syahal-Syahil, Damar, Rainar dan Wulan saling melempar pandang bingung. Melihat rombongan di depan sana tergelak.
"Tidak perlu mengancam, Al! Kalau senjata yang lo pegang itu hanya mainan anak kecil! Kami tidak mungkin takut! Hahahahaha....!"
Raut wajah Aifa'al pias seketika, tidak percaya kalau Dimas bisa menebak jenis pistol yang ada di tangannya sekarang ini. Membuat mata Syahal-Syahil, Damar dan Wulan membulat sempurna, lebih terkejut dibandingkan saat mereka melihat Aifa'al berani menodongkan senjata berbahaya itu yang ternyata hanya sebuah mainan biasa.
"Mas... apa yang..."
"Kalian tetap di sini! Cepat pergi dari sini saat Mas memberi isyarat!" pungkas Aifa'al, tanpa melihat ke arah Syahil yang gelisah, tatapan kilatnya fokus ke satu arah, Dimas.
"Tidak, Mas! Jumlah mereka sangat banyak, belum lagi ketiga preman itu! Mereka semua pasti orang suruhan Gibran! Mas tidak akan mampu menghadapi mereka!" sahut Syahil, melambatkan suaranya seraya memegangi tangan Aifa'al yang hendak turun dan pergi.
"Iya, Mas. Lebih baik sekarang kita kabur saja. Itu jalan satu-satunya yang terbaik!" timpal Syahal yang terus memperhatikan gerak-gerik rombongan Dimas di depan.
"Jumlah kita kalah banyak dari mereka, Mas!!! Pikirkan keselamatan Adek, jika kita tetap kekeuh ingin melawan mereka, Mas!" timpal Damar, gelisah melihat rombongan Dimas yang jumlahnya melebihi jumlah rombongan hantaran orang nikahan.
"Aaaa... aass..." timpal Wulan, parau.
Aifa'al bergeming, lalu menoleh ke arah adik-adiknya yang mulai terlihat gelisah, terutama Wulan. Gadis kecil itu semakin membenamkan wajahnya yang ketakutan ke dalam punggung Aifa'al, memeluk erat tubuh Aifa'al yang menjadi tameng dirinya saat ini. Membuat Aifa'al gamang seketika, teringat dengan kegelisahan hati Syahil beberapa jam yang lalu, ditambah dengan perasaannya yang sempat campur aduk sebelum menghampiri Syahal dan Syahil, tepatnya setelah melihat seluet diri Dimas yang hilang dalam sekejap mata oleh angin.
Di satu sisi, ada Dimas dan geng motor Tiger yang harus ia hentikan. Namun di sisi lain, naluri sebagai kakak menuntutnya bersikap bijaksana dan tidak egois, mengutamakan keselamatan adik-adiknya dari apapun.
Sementara Aifa'al hanyut dalam pikirannya, Dimas dan rombongan justru menyeringai. Memperlihatkan betapa kuatnya kelompok mereka saat ini, memiliki jumlah yang lebih dari 15 orang, ditambah lagi dengan ketiga lelaki bertubuh besar seperti berandalan.
"Cepat seret gadis bisu itu ke sini!" seru Dimas, melirik salah satu lelaki besar itu.
"Baik Bos muda...!"
.
.
.
.
__ADS_1
.
Happy Reading All 😇😇😇