
...🍁🍁🍁...
"Mas Dhana... aku takut bertemu Ayah!"
Sepanjang perjalanan pulang, setelah selesai dengan urusan sekolah anak-anak, kini mobil Dhana telah terparkir rapih di depan halaman. Namun niatnya untuk segera turun terhalang karena sang istri tidak ingin turun dari mobil, takut jika sang ayah mertua kembali mengusir dirinya dan masih marah terhadapnya. Dhana mengulas senyum, meraih tangan Mala lalu mengecup tangan mulus itu dengan hangat.
"Bahkan Ayah ingin minta maaf sama kamu, Sayang! Jadi jangan takut lagi. Mereka yang mendesak agar aku membawamu kembali ke rumah ini. Asalkan kamu tidak bersikap kasar lagi!" tutur Dhana yang berusaha meyakinkan.
Mala mendengus lirih, mengerti apa yang dikatakan oleh suaminya itu, berhenti kasar yang ujungnya akan tertuju pada sang putri.
"Baiklah, tapi jangan paksa aku!" tukas Mala, menunjuk wajah Dhana, menatapnya tajam.
"Oke Sayang..." jawab Dhana mengalah.
Mala pun turun, diikuti Dhana setelah helaan nafas berat keluar dari mulutnya. Mengalah merupakan salah satu caranya untuk selalu bersabar, mengurut dada dalam keheningan saat menghadapi sikap Mala yang masih sama.
Dhana dan Mala berjalan, mendekati pintu rumahnya yang sedikit terbuka. Membuat Dhana mengeryit heran lalu bergegas masuk untuk memastikan semuanya baik-baik saja.
"Assalamualaikum... Ayah, Ibu..." ucap Dhana yang sedikit mengeraskan suaranya.
"Wa'alaikumsalam Dhana..."
Dhana terhenyak, suara bariton itu bukan lah suara sang ayah ataupun suara Ammar atau bahkan Sadha. Suara yang sangat familiar di telinganya, membuatnya berbalik. Sementara Mala yang ikut terkejut dengan suara itu pun berbalik. Dhana dan Mala tercengang, melihat sosok pria di hadapannya saat ini. Sosok yang sudah 13 tahun ini tidak pernah mengunjungi rumahnya karena sibuk dengan pekerjaan dan karir yang semakin meloncat tinggi ke langit.
Sosok pria itu tersenyum, di sampingnya ada Pak Aidi dan Bu Aini yang berkaca-kaca saat melihat putranya itu tercengang tak percaya. Dhana melangkah perlahan, mendekati sosok yang berdiri tegap dan tampan di hadapannya.
"Kenapa baru datang sekarang?" ujar Dhana.
"Maaf, Dhana. Karena pekerjaan membuatku terlambat datang dan menyapamu, menyapa keluarga kita, menyapa keluargaku di Jakarta. Tapi percayalah, kalau aku tidak pernah sedikit pun melupakan kamu dan semuanya, Dhana!"
Dhana mendengus kesal, memalingkan wajah untuk sesaat, bukan karena marah tapi karena air mata yang tak mampu terbendung lagi.
Grep!
Dhana memeluk sosok itu, memeluknya erat, menumpahkan segala kerinduan yang sudah bersemayam lama. Tak jauh berbeda, sosok yang dipeluk Dhana pun memeluk sahabatnya itu dengan tak kalah erat, mengusap punggung sang sahabat yang tampak semakin kokoh dari luar namun terasa rapuh di dalam. Bukan usia yang membuatnya rapuh, tapi karena masalah.
"Ayah dan Ibu sudah menceritakan semuanya padaku, Dhana!!!" ujar sosok itu yang berbisik, melirik Mala yang berdiri terpaku di belakang Dhana.
"Maaf, jika aku tidak pernah bercerita tentang putriku padamu! Dia sangat rapuh! Dia juga sangat mirip dengan istrimu! Sebagai sosok ayah, aku tidak mempunyai kekuatan untuk menceritakan semuanya padamu. Maaf......" jawab Dhana lirih, berbisik pada sosok pria itu.
"Percayalah, Dhana! Mala pasti akan segera berubah, sama seperti firasat istriku tatkala menemuiku di dalam mimpi. Aku juga telah memberitahu Ibu dan Ayah tentang hal ini!!! Karena itulah, aku datang ke sini. Aku ingin membantumu, Dhana!" ujar sosok itu masih berbisik, memeluk Dhana yang menangis pilu.
Dhana terkesiap, melerai pelukan, menatap manik teduh sosok pria di hadapannya itu.
"Adek mendatangi kamu?" tanya Dhana.
"Iya, Dhana." jawab sosok pria itu.
Dhana semakin dibuat tak percaya, sang adik benar-benar mendatangi suaminya yang jauh, tinggal di negeri orang dan meminta suaminya datang untuk membantu masalahnya saat ini. Lalu siapakah sosok pria itu sebenarnya?
"Assalamualaikum, Mala. Kamu apa kabar?" ujar sosok pria itu yang menyapa Mala.
"Wa'alaikumsalam, alhamdulillah baik. Kamu sendiri bagaimana? Kapan kamu tiba di kota Jakarta?" jawab Mala ramah, menarik seutas senyum getir pria itu saat mendengarnya.
"Dua jam yang lalu. Aku juga sempat melihat mobil Dhana keluar dari gerbang rumah Ayah. Di saat itu pula aku baru saja sampai di depan rumah." jawab sosok pria itu yang tersenyum.
Mala hanya mengangguk-anggukan kepala, tersenyum ramah pada sosok pria itu. Lalu...
"Mala... Ayah minta maaf ya, Nak. Karena hari itu Ayah emosi dan mengusir kamu dari sini." ujar Pak Aidi yang melihat ke arah menantunya.
__ADS_1
"Tidak, Ayah! Ayah tidak salah sama sekali, Mala yang keterlaluan! Mala yang harusnya meminta maaf, bukan Ayah. Mala minta maaf ya, Ayah. Mala juga minta maaf ya, Bu." jawab Mala dengan tulusnya, menatap keduanya.
"Ayah sudah memaafkan kamu, Nak." ujar Pak Aidi yang tersenyum lega, menatap lekat sang menantu.
"Ibu juga, Sayang." timpal Bu Aini, terharu.
Mala ikut tersenyum, membuat Dhana dan sosok pria di depan Dhana saling pandang.
"Lebih baik kita ke dapur, Sayang. Kita biarkan saja para lelaki ini bercengkrama terlebih dulu untuk melepaskan rindu." ujar Bu Aini seraya menghampiri Mala dan membawanya ke dapur.
Pak Aidi, Dhana dan sosok pria yang masih membuat penasaran pembaca itu terkekeh. Lalu ketiganya memilih untuk duduk di sofa ruang keluarga.
"Di mana anak-anak kamu, Dhana? Aku ingin sekali bertemu dengan mereka. Pasti kedua keponakan kembarku belum mengenal wajah pamannya." ujar pria itu seraya mengedarkan matanya ke seluruh penjuru rumah.
"Damar dan Wulan sedang ada acara di luar dengan teman-teman mereka. Kamu jangan khawatir karena aku selalu bercerita tentang paman mereka yang bernama Imam Permana ini!" jawab Dhana yang tergelak melihat Imam.
Imam, dia lah sosok pria yang mengunjungi Dhana dan keluarga setelah sekian tahun ia tidak menjajakkan kaki ke tanah kelahirannya.
"Ah kamu bisa saja, Dhana. Aku jadi semakin penasaran dengan wajah Wulan yang katanya mirip dengan wajah istriku tercinta." ujar Imam yang melihat Dhana dan Pak Aidi bergantian.
"Sabar ya, Nak. Sebentar lagi Damar dan Wulan pasti pulang. Saat mereka pulang nanti, mereka pasti akan terkejut melihat kedatangan paman kesayangannya kembali ke sini." ujar Pak Aidi.
"Imam jadi semakin tidak sabar, Yah." jawab Imam yang memang terlihat tidak sabar lagi.
Pak Aidi dan Dhana tergelak, melihat tingkah sosok pria tampan nan sholeh di hadapannya. Tidak ada yang berubah dari sosok Imam nan tampan dan sholeh, walaupun usianya tak lagi muda seperti dulu namun garis-garis halus di wajah seperti enggan menampakan wujudnya.
***
"Kita ke alamat ini ya, Pak!"
Damar mengulurkan tangan, memberikan note berisi alamat lengkap Cafe yang akan didatangi bersama sang adik untuk acara kumpul-kumpul dengan teman angkatan sekolahnya. Pak supir taksi pun masih melajukan taksinya, menyusuri ruas jalan sesuai alamat yang diberikan Damar.
Wulan mengangguk cepat, matanya berbinar karena baru kali ini dirinya mengikuti acara semacam itu bersama Damar, sedangkan Damar sendiri sudah pernah bahkan sering mengikuti acara kumpul-kumpul seperti ini, membuat gadis kecil itu semakin tidak sabar.
Damar yang gemas mencubit pipi sang adik, mengacak rambutnya namun ia perbaiki lagi, membuat Wulan berdecak sebal melihatnya. Damar terkikik, merangkul bahu sang adik hingga kini Wulan bersandar tepat di bahunya.
"Jangan cemberut dong, Dek. Keep smile!" sahut Damar yang mengelus rambut Wulan.
Wulan bergeming, memalingkan wajahnya ke arah jendela efek jengah dengan sikap Damar. Untuk sesaat Wulan merajuk, namun tidak ketika matanya tiba-tiba menangkap sosok di bahu jalan yang sangat familiar. Wulan yang penasaran, mendekatkan wajahnya pada kaca mobil, menyipit dan berusaha melihat objek itu.
"Aaa... aaaaaa!!!" pekik Wulan.
"Kenapa Dek?" tanya Damar yang terlonjak.
"Aaa... aaa... aaaaaa... aaa!!!" jawab Wulan.
Damar mengeryit, tidak mengerti dengan perkataan sang adik yang meracau tanpa menggunakan bahasa isyaratnya seperti biasa, terlihat panik seraya menunjuk seseorang dari jendela taksi. Damar yang penasaran pun ikut melihat ke arah tunjuk sang adik, dan sedikit menyipitkan mata untuk memperjelas objek.
"Mas Syahil..."
Damar terbelalak sempurna, melihat sisi ruas jalan yang memperlihatkan sang mas kembar dan tengah berkelahi, melawan banyak orang yang mengepung Syahil dengan motor. Mata Damar semakin terbuka lebar, tatkala melihat siapa yang menjadi lawan sang mas kembar.
"Bima..."
Wulan pun ikut terbelalak, baru menyadari jika lawan yang saat ini tengah di hadapi oleh mas kembarnya itu adalah Bima, membuat guratan kecemasan di wajahnya semakin terlihat jelas.
"Pak... kita ke sana ya!" ujar Damar.
"Tapi bahaya, Den! Sepertinya di sana sedang terjadi aksi taruhan antar geng motor!" jawab Pak supir taksi yang menolak permintaannya.
__ADS_1
"Itu bukan taruhan, Pak. Kakak saya sedang dikeroyoki anak-anak geng motor berandal itu. Ayo kita ke sana sekarang, Pak!" ujar Damar.
"Baiklah, Den..." jawab Pak supir taksi.
Pak supir terpaksa mengikuti permintaan penumpang, menganggap permintaan itu sebagai titah yang harus dilakukan dengan baik, tanpa membantah sedikit pun. Taksi masih berjalan, mendekati keramaian yang terjadi di bahu jalan. Taksi akhirnya sampai, membuat Damar dan Wulan bergegas turun dari taksi, menghampiri Syahil yang berada di tengah-tengah anggota geng motor Bima dan terluka.
"Hentikan, Bima!!!" sahut Damar, emosi.
"Wah... sepertinya anak kemarin sore ingin menjadi jagoan kesiangan untuk kakaknya." ujar Dimas yang setia berdiri di sisi Bima.
"Lo tidak perlu ikut campur!!! Masalah yang sekarang bukan masalah di antara lo dan gue, Damar! Masalah kita akan selesai setelah ini!" timpal Bima yang menyeringai tajam.
"Brengsek lo!!! Kalau berani, satu lawan satu dong! Jangan main keroyokan seperti ini! Lo sudah berani memukuli Mas Syahil! Gue tidak terima!!!" tandas Damar yang tersulut emosi.
Alih-alih menjawab, Bima dan Dimas malah tertawa lepas melihat Damar yang tersulut amarah. Sementara itu, di belakang Damar, Wulan membantu Syahil yang sudah babak belur, masih terlihat kuat namun luka memar pada wajahnya sangat banyak.
"Sudahlah, Damar! Kamu jangan melawan mereka. Lebih baik kamu pulang dan bawa Adek bersama kamu! Seharusnya kamu dan Adek tidak ke sini, Damar! Cepat bawa Adek pergi! Cepat, Damar!" sahut Syahil yang lemas, dipegangi Wulan di sampingnya.
"Tidak ada yang bisa pergi dari tempat ini sebelum menerima pelajaran yang pantas! Kedua adikmu ini sudah terlanjur ikut campur dalam masalah kita, Syahil! Jadi mereka juga harus merasakan pukulan dari tanganku ini!" timpal Bima yang meniup kepalan tangannya.
"Jangan berani-beraninya lo sentuh mereka! Urusan lo sama gue, Bima! Bukan mereka!!!" tukas Syahil yang masih berpegangan pada Wulan.
Bima menyeringai, mendengus kesal seraya menatap tajam Syahil yang sudah tak berdaya, bertopang pada bahu Wulan yang menangis, bulir matanya jatuh begitu saja melihat Syahil dalam kondisi seperti ini. Bima pun beranjak, mendorong Damar yang berdiri di depannya, menghampiri Syahil yang menatapnya tajam.
"Lo itu sudah lemah! Lo sudah tidak berdaya! Jadi jangan melawan lagi! Karena lo, gue jadi dikeluarkan dari sekolah! Lo yang mengadukan semuanya pada ayah si bisu ini 'kan?" tandas Bima yang menatap tajam Syahil, mendorong Wulan hingga terjatuh.
Wulan meringis, membuat emosi Syahil dan Damar semakin berkobar.
"Adek... Adek tidak apa-apa?" ujar Syahil yang membantu sang adik berdiri.
Wulan menganggukan kepala, tersenyum agar Syahil tidak mengkhawatirkan dirinya.
"Maksud lo apa dorong-dorong adik gue, hah? Lo itu harusnya sadar, Bim! Sudah bangkotan tapi masih SMP!!! Seharusnya lo ngaca!!! Kaca di rumah lo ada 'kan? Atau perlu gue belikan cermin biar lo bisa ngaca dan melihat diri lo sebenarnya seperti apa? Jangan berani sama cewek! Malu sama umur lo!!!" tandas Damar yang menyeringai, berusaha menahan tawa.
Damar tertawa lepas, menertawakan Bima di depannya yang hanya diam tak berkutik, mati kutu karena perkataan Damar yang menusuk. Marah, Bima terlihat marah sekali. Wajahnya semakin memerah, tangannya mengepal kuat, rahangnya mengeras hingga terdengar suara gertakan-gertakan samar dari mulut pria itu.
Sreeettt...
Hap!
Damar menyeringai tak kalah tajam, menatap musuhnya itu, menangkap tangan Bima yang akan memukulnya dengan gera sangat cepat, membuat Bima semakin panas dan emosi.
"Jangan main tangan! Tapi main otak dan perhatikan setiap gerakan lo terhadap gue, kakak gue dan adik gue! Lebih baik lo bawa semua anggota geng motor lo ini, sebelum Polisi meringkus kalian di sini!!!" ujar Damar menyeringai, memperlihatkan ponselnya yang sudah terhubung pada nomor kantor polisi.
Bima dan Dimas terperangah, melihat ponsel Damar yang memang terhubung pada Polisi.
"Cabut, guys!!!"
.
.
.
.
.
Happy Reading All 😇😇😇
__ADS_1