Takdir Si Gadis Bisu

Takdir Si Gadis Bisu
Episode 48 ~ Gelagat Aneh


__ADS_3

...☘️☘️☘️...


"Silakan diminum dulu, Tuan!"


Secangkir minuman hangat yang disajikan seorang pelayan Cafe. Minuman khas yang memang dikhususkan untuk tamu spesial. Setelah meletakkan secangkir minuman itu, pelayan pun berlenggang pergi, kembali ke pekerjaannya dan meninggalkan sang tuan dengan sang manager Cafe kepercayaan.


"Silakan diminum dulu, Tuan!!! Sembari menunggu Tuan Muda datang, ada baiknya jika Tuan menikmati hidangan yang tersedia di Cafe kami ini." ujar Pak Dewa yang sejak tadi berdiri di sisi meja, menemani tamunya.


Sosok tuan itu hanya mengangguk, mata tajamnya terus mengedar ke sana ke mari, sesekali seringai tipis pun terukir di kedua sudut bibirnya namun tidak disadari oleh Pak Dewa yang sejak tadi berusaha untuk ramah dan sopan pada kolega sang bos. Sosok tuan itu bahkan tidak mengindahkan perkataan Pak Dewa yang sejak tadi sudah menawarkan minuman. Sosok tuan hanya mengedar, memperhatikan setiap sudut Cafe yang tengah ia singgahi saat ini.


"Kalau boleh saya tau, kenapa Cafe sebagus ini diberi nama Twins Cafe? Apakah tidak ada nama lain yang lebih menarik perhatian pelanggan selain nama itu?" tanya sosok tuan itu tanpa menoleh ke arah Pak Dewa.


"Maaf, Tuan. Kalau untuk pertanyaan satu itu, saya tidak bisa menjawabnya. Karena Tuan Muda sendiri yang merancang nama itu dan memberikannya pada Cafe ini. Jadi ada baiknya, jika Tuan Muda sendiri yang akan menjawabnya, Tuan." ujar Pak Dewa.


Sosok tuan itu mendengus, entah karena kesal atau merasa aneh atau bahkan geli mendengar perkataan manager dari Cafe itu. Sementara Pak Dewa hanya bergidik ngeri saat sudut matanya sesekali mulai menangkap sinyal yang aneh dari wajah kolega bosnya itu. Namun sebagai orang kepercayaan Dhana, Pak Dewa hanya bisa memberikan yang terbaik sesuai amanah tanpa melakukan kesalahan kecil sekali pun.


"Assalamualaikum... maaf Pak, kalau saya datang terlambat. Saya sempat terjebak..."


Perkataan Dhana terpangkas. Terperangah tatkala matanya menangkap sosok yang tidak asing, duduk di kursi khusus VIP Cafe sebagai tamu kehormatan yang sejak tadi menunggu kedatangannya sebagai kolega.


"Pak Gibran..."


Gibran tersenyum, beranjak dari duduknya lalu mengulurkan tangannya. Menyambut kedatangan pemilik Cafe yang sejak tadi ia tunggu kehadirannya. Dhana termangu di tempat, menoleh ke arah Pak Dewa sesaat, berusaha mencari penjelasan yang jelas.


"Apa kabar Pak Dhana? Kita bertemu lagi setelah pertemuan yang tidak terduga di rumah sakit kemarin. Saya tidak menyangka, kalau pemilik Twins Cafe ini adalah anda." ujar Gibran yang tersenyum, mengulurkan tangan yang belum disambut oleh Dhana.


"Pak Gibran... jadi kolega yang dimaksud Pak Dewa dari Singapore itu adalah anda?" tanya Dhana, menyambut tangan Gibran.


"Iya, Pak Dhana. Saya tidak menyangka kalau pemilik Cafe yang akan saya jadikan tempat untuk bekerja sama adalah anda. Teman lama istri saya, Kinan. Maaf, kalau kedatangan saya mendadak saat weekend seperti ini. Anda pasti tengah menikmati waktu libur dengan keluarga, bukan?" ujar Gibran seraya duduk dan diikuti pula oleh Dhana.


Dhana masih tidak menyangka, dahinya mengerut heran kenapa sang manager tidak memberitahunya kalau kolega yang ingin melakukan kerja sama itu adalah Gibran. Seketika, pembicaraan tentang putri dari pria yang ada di hadapannya sekarang ini kembali terngiang. Rasa penasaran dirinya terhadap siapa sosok istri Gibran terdahulu sebelum Kinan kembali menyelimuti hatinya.


"Ah tidak masalah, Pak Gibran. Waktu saya bersama keluarga bisa saya nikmati kapan saja. Tidak harus menunggu weekend juga." jawab Dhana yang berusaha untuk bersikap santai seperti biasa.


"Hahaha... beruntung sekali sosok wanita yang menjadi istri anda, Pak Dhana. Karena anda ini tipe pria yang sangat humoris dan penyayang. Saya harus banyak belajar dari anda." ujar Gibran yang tersenyum simpul.


Dhana tersenyum miring, tidak mengiyakan atau membantah perkataan Gibran tentang hal itu. Karena yang dikatakan Gibran tentu saja sangat jauh dari kata benar untuk saat ini.


"Ah iya, kalau boleh saya tau kenapa anda mengubah rencana pertemuan kita ini, Pak? Bukankah dari kabar yang saya dapatkan dari manager saya, jadwalnya besok hari?" tanya Dhana yang berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Karena saya sudah tidak sabar ingin mengetahui banyak tentang Cafe ini dan tentu saja ingin langsung bekerja sama dengan anda, Pak Dhana yang terhormat." jawab Gibran dengan sorot mata berbinar.


"Tapi sebelumnya saya ingin minta maaf, Pak. Sepertinya anda salah menangkap informasi tentang kesepakatan yang sudah kita buat. Bukan Cafe ini yang saya maksud, tapi Cafe yang lain." jawab Dhana.


"Maksud anda apa Pak Dhana?" tanya Gibran yang mengeryit tidak mengerti.

__ADS_1


"Cafe ini memang Cafe saya yang paling besar dan banyak dikenal, Pak. Tapi saya tidak pernah menjalin kerja sama dengan siapa pun yang menyangkut dengan Cafe ini, karena Cafe ini milik almarhumah adik kembar saya." jawab Dhana yang tenang.


Gibran mengangkat salah satu alisnya tatkala mendengar penuturan singkat Dhana. Lalu menggiring matanya ke arah Pak Dewa yang sejak tadi hanya diam, berdiri dan mendampingi sang bos.


"Jadi itu alasan kenapa Cafe ini diberi nama Twins Cafe?" tanya Gibran yang penasaran.


"Iya, Pak Gibran. Anda betul sekali!" jawab Dhana yang tersenyum penuh rasa bangga.


"Tapi saya sangat tertarik dengan Cafe ini, Pak Dhana. Selain luas dan modern, Twins Cafe ini sangat banyak pengunjung. Artinya pendapatan yang dihasilkan juga sangat besar, bukan?" ujar Gibran yang berusaha untuk bernegosiasi dengan Dhana.


"Tapi maaf sekali lagi, Pak Gibran. Saya tidak berniat untuk menjalin kerja sama yang menyangkut pautkan Cafe adik saya ini." jawab Dhana kekeuh dan terlihat santai.


"Tapi kenapa Pak Dhana? Bukankah itu akan menjadi sesuatu yang bernilai uang dan tentunya akan memberi keuntungan untuk kita." ujar Gibran yang masih kekeuh.


Dhana tersenyum simpul. Sejak Cafe ini berdiri, tepatnya setelah kepergian sang adik, memang sangat banyak orang yang ingin menjalin kerja sama. Tentunya untuk mendapatkan keuntungan dari income yang sukses dicapai oleh Cafe terkenal itu.


Namun Dhana tetap berada pada pendiriannya, mengelola Cafe yang sudah ia hadiahkan untuk sang adik tanpa harus mengambil sedikit pun pendapatan yang didapatkan dari sana dan memberikan hasil pendapatan Cafe kepada fakir miskin, anak yatim piatu di panti asuhan, bahkan ia sering membagikan makanan gratis untuk orang-orang yang tidak mampu. Dengan tujuan, tentu saja untuk mempermudah langkah sang adik tersayang menuju surga, membiarkan amal yang Dhana kumpulkan terus mengalir untuknya di sana.


"Maaf, Pak Gibran. Untuk jawaban yang satu itu saya tidak bisa memberitahunya." jawab Dhana seraya mengulas senyum.


Raut wajah yang tadinya tampak berbinar penuh semangat, seketika menjadi sangat pias. Gibran mendengus samar, tujuannya untuk membujuk Dhana agar mau bekerja sama dengan perusahaannya yang ada di Singapore ternyata tidak semudah yang ia bayangkan. Sementara itu, Dhana yang melihat gelagat aneh dari Gibran merasa heran. Dahinya mengerut, menoleh ke Pak Dewa yang masih setia berdiri di sisinya.


Drrrrttt...


Keheningan pun pecah tatkala getaran kuat dari ponsel Gibran yang terletak di atas meja terdengar. Masih terlihat jengah, Gibran pun meraih ponselnya dan menerima panggilan. Tidak berselang lama, pembicaraan mereka selesai. Dhana masih duduk termangu dan memperhatikan setiap gelagat aneh Gibran.


Dhana terhenyak sesaat, menatap heran punggung Gibran yang berjalan menuju pintu utama Cafe sampai menghilang.


Apa maksud perkataannya? Bumerang? Bumerang apa yang dia maksud? Apa dia sedang mengancamku karena aku menolak untuk bekerja sama dengannya. Ck! Egois sekali dia jika harus memaksakan kehendak sendiri. Sampai kapan pun Cafe ini tidak akan bekerja sama dengan perusahaan mana pun karena itu adalah janjiku pada Adek. Gumam Dhana dalam hati.


Pak Dewa mengeryit, melihat sang bos yang masih termenung seraya menatapi pintu Cafe.


"Tuan Muda... Tuan Muda..."


Dhana tersentak dari lamunan, menoleh ke arah Pak Dewa yang masih berdiri di sisinya.


"Pak Dewa... sebenarnya siapa Pak Gibran itu? Kenapa Pak Dewa tidak memberitahu saya kalau kolega yang ingin bekerja sama itu adalah dia?" cercah Dhana yang terlihat sangat penasaran.


"Tuan Gibran adalah pemilik property Jaya Mandiri yang ada di kota ini, Tuan. Dia juga pemilik perusahaan besar di Singapore dan beliau sangat tertarik dengan Cafe ini, Tuan. Saya minta maaf atas informasi yang tidak lengkap, karena Tuan Gibran sendiri yang meminta saya untuk merahasiakan identitas beliau dari anda. Beliau ingin memberikan sebuah kejutan karena beliau sudah pernah bertemu dengan anda, Tuan Muda." jawab Pak Dewa yang menjelaskan secara detail.


"Saya memang sudah bertemu dengannya, tapi baru kemarin. Sementara saya belum mengenal betul siapa Pak Gibran itu, Pak." ujar Dhana yang masih terlihat penasaran.


"Lalu bagaimana keputusan Tuan Muda?" tanya Pak Dewa agar dia bisa menjalankan tugasnya lebih baik lagi untuk sang bos.


"Apapun informasi yang diberikan Pak Gibran, tolong Pak Dewa katakan langsung pada saya. Untuk masalah ini biar saya sendiri yang menanganinya, Pak Dewa fokus saja dengan pengelolaan Cafe ini!" jawab Dhana yang menghela nafas kasar.

__ADS_1


"Baik Tuan Muda..."


Dhana mengangguk samar tanpa melihat manager kepercayaannya itu. Sementara Pak Dewa beranjak pergi karena tugasnya dirasa sudah selesai untuk menemani sang bos meeting bersama koleganya. Dhana masih duduk termangu, rasa penasarannya kian menjalar hingga ke ubun-ubun untuk mencari tau siapa Gibran sebenarnya.


Rasa penasaran tidak akan menyelesaikan masalah, membawa Dhana untuk beranjak dari duduknya dan berniat untuk pulang. Dhana berjalan, menuju pintu utama Cafe. Namun saat kakinya melangkah keluar, ia merasakan sesuatu yang mengganjal di kakinya tatkala menginjak lantai. Heran, Dhana pun menggiring matanya, melihat sesuatu yang baru terinjak olehnya tanpa disengaja.


"Dompet siapa ini?"


Sebuah dompet kulit coklat kehitaman, sukses menarik perhatian Dhana yang baru saja hendak melangkahkan kaki keluar Cafe, membuatnya harus memutar arah, masuk kembali ke dalam Cafe dan berniat untuk memberikan dompet itu pada staff bagian information. Namun belum sampai Dhana berjalan hingga bagian staff information, tiba-tiba rasa penasarannya membuncah kembali tatkala memperhatikan benda itu.


"Lebih baik aku periksa saja kartu identitas pemilik dompet ini sebelum kuberikan pada staff information yang bertugas."


Dengan berat hati, rasa was-was yang terus saja menyelimuti, Dhana membuka perlahan benda yang bernama dompet kulit itu. Tapi sepertinya, dewi fortuna belum berpihak pada Dhana. Tiba-tiba ponselnya bergetar, mendesaknya untuk mengangkat telepon yang entah dari siapa. Dhana yang kesal, mendengus seraya merogoh saku bajunya dan meraih ponsel yang terus bergetar.


"Assalamualaikum, Mas. Ada apa?" ujar Dhana yang menerima panggilan telepon.


"Wa'alaikumsalam... kamu di rumah 'kan? Ayah sama Ibu baru saja pulang. Mereka kepikiran terus sama kamu dan anak-anak. Jadi mereka mendesak ingin pulang." ujar Ammar yang ternyata menghubungi Dhana.


"Dhana sedang di jalan, Mas. Dhana baru saja meeting dengan kolega dari luar negeri. Sebentar lagi Dhana sampai kok." jawab Dhana yang terpaksa harus berbohong.


"Hari minggu pun kamu meeting Dik? Ck!!! Dasar gila pekerjaan kamu!" sungut Ammar yang menggoda adik kembarnya itu.


"Kerja untuk anak-anak tidak salah lah, Mas. Kondisi Mas Ammar bagaimana?" jawab Dhana yang terkikik lalu bertanya lagi.


"Jangan memikirkan Mas!!! Pikirkan saja masalah kamu yang tidak kunjung selesai karena sikap istrimu itu. Tapi Mas sudah baik-baik saja, kamu tidak perlu khawatir." jawab Ammar yang terdengar semangat.


"Syukurlah... Dhana pun lega mendengar kabar baik itu, Mas. Ya sudah, kalau begitu Dhana tutup dulu ya, Mas. Dhana sedang mengemudi nih. Assalamualaikum." tutur Dhana yang mengakhiri pembicaraan.


"Wa'alaikumsalam..." jawab Ammar.


Dhana menghela nafas sedikit kasar, menatap lekat benda tebal yang berjenis dompet kulit di tangannya itu. Penasaran, namun peringatan sekaligus panggilan untuk segera pulang sudah terlihat jelas melalui sinyal yang diberikan oleh Ammar.


"Sepertinya kamu belum diizinkan untuk kembali pada tuanmu, wahai dompet!!!"


Dhana menyimpan dompet itu, berbalik, lalu berjalan keluar dari Cafe menuju mobilnya di tempat parkir. Dhana yang masuk ke dalam mobilnya, tidak sadar kalau ada sosok mata yang tengah memperhatikannya dari salah satu mobil di tempat parkir itu.


"Kita lihat nanti, Tuan Muda Dhana yang terhormat! Saya akan melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang saya inginkan!!!"


.


.


.


.

__ADS_1


.


Happy Reading All 😇😇😇


__ADS_2