Takdir Si Gadis Bisu

Takdir Si Gadis Bisu
Episode 45 ~ Kotak Buku Lama


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


"Ck!!! Kalau bukan adikku, sudah kudepak kau dari dalam mobilku ini!!!"


Syahal berdecak gemas, mendengar logat yang digunakan mas sulungnya itu untuk mengancam dirinya, memancing gelak tawa Syahil yang duduk anteng di kursi belakang. Tanpa berpikir lagi, Aiziel menancap pedal gas, melaju dengan kecepatan super tinggi.


***


Semilir angin malam berhembus merdu, membawa ketenangan untuk jiwa sosok pria yang tengah duduk melamun di halaman samping rumahnya. Setelah menyelesaikan tugas sebagai umat muslim, Dhana memilih duduk menyendiri di halaman samping, tanpa anak-anak yang tengah berada di dalam kamar, belajar sebentar menjelang Aiziel kembali ke rumah dan makan malam.


Ampuni aku, Ya Allah. Aku khilaf, dan tidak seharusnya aku menyesali apa yang sudah menjadi keputusanku 13 tahun yang lalu itu. Tidak seharusnya aku menyesali pernikahan yang sudah kujalani selama ini hanya karena sifat buruk Mala. Bagaimana pun juga, Mala tetap istriku dan ibu dari anak kembarku. Gumam Dhana dalam hati.


Sesekali Dhana menghela nafas kasar, berusaha untuk menenangkan hati serta pikiran yang tengah terguncang akibat sikap sang istri, menepis rasa kecewa yang sudah terlanjur dalam, membuang semua memory buruk tentang sikap sang istri. Namun tidak lah mudah bagi Dhana untuk melupakan itu, membuatnya frustasi, ditambah lagi dengan mimpi sang putra yang sama seperti Syahil.


Kedatangan sang adik kembar ke dalam mimpi keduanya, semakin menyeret Dhana ke sisi jurang ketakutan yang tidak bertepi. Yang sewaktu-waktu, bisa mengurungnya lagi di dalam jurang itu dan sulit untuk bisa keluar hingga tidak menemukan titik terang.


Mas minta maaf ya, Dek. Perkataan Mala yang tadi jangan Adek masukan ke dalam hati, karena perkataan orang yang sedang mabuk itu tidak lah benar. Mas akan terus berusaha untuk membuat Mala kembali seperti dulu lagi dan dia akan menyayangi putrinya. Mas janji pada diri Mas sendiri, pada Adek, pada Wulan dan keluarga kita. Gumam Dhana dalam hati.


Dhana menghela nafas kasar, beranjak dari duduknya lalu mengayun kaki menuju lantai dua, di mana anak-anaknya berada saat ini, memilih untuk menemani mereka dari pada duduk termenung seorang diri, membuatnya semakin gelisah dan stress. Hanya dengan anak-anaknya lah, Dhana bisa memulihkan kembali kondisi hati yang teramat kacau.


"Assalamualaikum, Uncle..."


Baru selangkah Dhana melangkah di anak tangga, membuatnya terhenti ketika suara bariton yang tidak asing itu memanggilnya. Dhana menoleh, mengulas senyum simpul saat melihat sang keponakan sulung sudah tiba di rumahnya. Dhana berbalik, berjalan menghampiri Aiziel yang mendekatinya.


"Wa'alaikumsalam... loh, kenapa kamu hanya sendiri? Syahal dan Syahil di mana? Kalian jadi 'kan ke apartment Al?" tanya Dhana seraya mengedar pandangannya.


"Mereka sudah pulang, Uncle. Syahal berniat langsung untuk membawa adiknya pulang agar segera bertemu dengan Paklik dan Bulik di rumah. Tadinya mereka ingin singgah dan pamit sama Uncle, tapi Ziel suruh mereka pulang saja karena sebentar lagi hujan mau turun. Apalagi mereka naik motor, nanti malah kehujanan." tutur Aiziel.


"Ya sudah, tidak apa-apa. Biarkan Syahil menyelesaikan masalahnya terlebih dahulu dengan papa dan mamanya. Lebih baik sekarang kamu mandi, setelah kamu mandi kita makan malam bersama. Uncle sudah meminta Bi Iyah untuk memasak makanan kesukaan kamu, Damar dan Wulan." ujar Dhana seraya mengusap bahu Aiziel.


"Oke Uncle..."


Dhana tersenyum, mengiring kepergian Aiziel yang menyusuri anak tangga, naik ke lantai atas dan masuk ke dalam kamar sang daddy di masa lajangnya dulu. Kamar yang menjadi saksi bisu kesuksesan seorang pria tampan bergelar dokter spesialis kanker, di mana kini, kamar itu menjadi kamar Aiziel di saat ia menginap di rumah sang oma.


"Waktu terus berjalan namun kenangan manis bercampur pahit masih bersemayam di dalam hati."


Kepingan kenangan lama membuat Dhana menggeleng sesaat, rasanya kenangan itu tak akan pernah bisa terulang lagi di masa hidupnya sekarang ini, membuat langkah kakinya terasa berat, terhenti tepat di depan kamar sang adik yang kini telah berpindah kepemilikan pada putri tercinta. Sementara kamarnya sendiri, ia biarkan bagi sang putra untuk menempatinya. Lalu di mana kamar Dhana dan Mala? Tenang, rumah Pak Aidi sudah mengalami renovasi beberapa bulan setelah Dhana menikah. Jadi jumlah kamar di rumah penuh kenangan manis itu terlihat semakin luas dan besar.


Mungkin Damar sedang berada di dalam kamar Wulan. Lebih baik aku mencari sesuatu yang bisa anak-anak gunakan untuk persiapan ujian mereka besok lusa. Gumam Dhana dalam hati.


Dhana beranjak, melangkahkan kaki menuju kamarnya di masa muda. Seutas senyum di wajah pun terbit tatkala pintu kamar terbuka luas, memperlihatkan design kamarnya yang tidak pernah mengalami perubahan sedikit pun walaupun Damar yang menempatinya. Sang putra seakan mengerti bahwa kamar itu merupakan kamar kesayangan sang papi dan ia tidak berhak mengubahnya walaupun Dhana sudah mengizinkan hal itu.

__ADS_1


Lampu kamar yang mati, Dhana hidupkan, memancarkan cahaya terang, menghiasi bekas kamarnya dulu, menuntun kakinya bergerak maju, mendekati sebuah lemari pakaian lamanya di masa muda dahulu. Sebuah kotak berukuran sedang, Dhana keluarkan dari lemari itu, mengundang para debu yang menempel, berhamburan liar.


"Uhuk... uhuk... uhuk... ahhh, tebal sekali debu di kotak berisi buku-buku lamaku ini. Semoga ada beberapa buku yang masih bisa digunakan kedua anakku untuk ujian. Ada buku Adek juga di sini, mereka pasti akan senang melihat buku catatan hasil tulisan onty mereka."


Seraya menutup hidung, Dhana menepis debu-debu jahat yang menempel di kotak itu. Lalu dengan antusias, ia beranjak keluar dari kamar menuju ke kamar sang putri.


"Papi..."


Suara bariton itu menghentikan langkah Dhana yang bergegas menghampiri daun pintu kamar sang putri. Dhana menoleh, mendapati Damar dan Wulan yang baru saja keluar dari kamar Aiziel. Mereka pun saling pandang, heran melihat kotak yang ada di dalam dekapan sang papi.


"Papi dari mana saja? Damar dan Adek sudah mencari Papi sejak tadi. Ternyata Papi di sini." ujar Damar, berjalan dengan sang adik mendekati sang papi.


"Kalian sendiri sedang apa di kamar Ziel?" tanya balik Dhana seraya meletakkan kotak itu karena berat.


"Mencari Papi! Damar juga sudah mencari Papi di kamar, ternyata hanya ada Mami di dalam dan sudah tidur. Kita sudah lapar nih, Pi. Makanya kita mencari Papi." ujar Damar yang berdecak gemas, mengelus perutnya karena lapar.


Dhana terkekeh, melupakan sejenak kotak yang baru saja ia bawa dan ia letakkan di depan pintu kamar sang putri begitu saja.


"Maaf ya, Nak. Tadi Papi habis mencari sesuatu untuk kalian. Tapi sekarang, kita makan dulu ya. Biar kalian belajarnya lebih bersemangat dan konsentrasi." ujar Dhana seraya merangkul bahu kedua anaknya itu.


"Memang Papi mencari apa sih?" tanya Damar yang berjalan seraya menoleh ke belakang, menunjuk kotak itu.


"Nanti saja kalian lihat! Sekarang kita turun dan makan malam. Sebentar lagi Ziel juga akan turun menyusul kita." jawab Dhana.


"Mami tidak ikut makan Pi?" tanya Damar yang sebenarnya sudah tau apa jawaban sang papi padanya.


"Mungkin mami kamu kelelahan. Jadi dia langsung tidur dan lupa makan. Nanti biar Papi minta Bi Iyah mengantarkan makanan untuk mami kamu." jawab Dhana seraya mengulas senyum walaupun terpaksa.


Tepat pada dugaan, Damar dan Wulan menangkap sinyal yang tidak baik dari mata sang papi tatkala menjawab pertanyaan itu. Keduanya saling pandang lagi. Wulan hanya mengangguk, menenangkan Damar walau hatinya pun merasa tidak tenang jika situasi seperti ini sedang terjadi. Melihat keadaan sang mami yang pulang ke rumah dalam kondisi mabuk, bukan hanya Dhana yang frustasi tapi juga mereka sebagai anaknya.


Namun hal itu sudah terjadi, mereka pun tidak bisa meminta sang papi untuk datang ke kamarnya lalu membujuk sang mami. Dan makan malam ini pun berjalan tanpa kehadiran sang mami yang sudah terlelap. Tidak berselang lama, Aiziel yang sudah selesai mandi pun turun dan menghampiri sang uncle di meja makan.


"Ayo, Ziel! Duduklah! Kita makan malam bersama! Ini makanan kesukaan kamu!!!" ujar Dhana seraya menyodorkan piring masakan Bi Iyah, kesukaan Aiziel.


"Anty Mala ke mana Uncle? Belum pulang ya?" tanya Aiziel seraya duduk, menoleh ke Damar dan Wulan yang mengedikan bahu.


Pertanyaan yang sama kembali terlontar, wajar karena sejak Aiziel datang ke rumah ini, ia belum menemukan sosok sang anty. Bahkan untuk seharian ini, Aiziel memang belum berpapasan langsung dengan Mala.


"Anty kamu sudah tidur. Ayo, dimakan! Jangan banyak bicara di saat makan! Nanti tersedak dan itu berbahaya!" jawab Dhana, terdengar dingin dan tidak bersemangat.


Aiziel mengangguk, meraih mangkuk berisi nasi lalu mengambil lauk kesukaannya saat masih kecil dan tinggal di rumah ini. Sesaat Aiziel yang heran dengan sikap sang uncle, menoleh ke arah Damar dan Wulan. Kedua anak kembar itu memberikan respon yang berbeda. Damar menggelengkan kepala, sedangkan Wulan mengedikan bahunya. Walaupun mereka tau, tapi mereka tidak berniat untuk membuka cerita saat makan malam berlangsung, takut ***** makan sang papi akan terganggu dengan cerita itu.

__ADS_1


***


Makan malam bersama selesai, Dhana menyuruh Aiziel untuk beristirahat karena seharian belum tidur dengan baik seperti biasa. Kejadian kemarin malam cukup menguras tenaga dan pikiran Aiziel, membuat Dhana khawatir kalau keponakan sulungnya itu bisa jatuh sakit.


Aiziel yang patuh bergegas masuk ke dalam kamar. Bukan hanya karena patuh, tapi karena tubuhnya yang memang sudah lelah. Sementara Dhana memilih untuk menemani kedua anak kembarnya belajar di kamar.


"Bagaimana? Apakah buku-buku lama Papi dapat membantu kalian dalam belajar?" ujar Dhana yang masuk ke dalam kamar Wulan.


"Membantu apanya, Pi. Buku pelajaran Papi sudah ketinggalan zaman semua. Tidak ada yang bisa dipakai karena pelajarannya tidak sama, Pi." sungut Damar seraya melirik sang papi yang kini berdiri di sampingnya.


Dhana berdecak kesal, memancing gelak tawa Wulan yang melihat tingkah keduanya, membuat Wulan yang duduk di atas karpet beranjak seraya meraih note kecilnya lalu menuliskan sesuatu pada sang papi tercinta.


'Bagaimana bisa sama, Pi. Kotak yang Papi berikan pada Mas Damar, berisi buku-buku kuliah Papi dulu, bukan buku pelajaran SMP. Mana bisa kami mempelajari buku kuliah di saat kami masih SMP, Papi'


Damar tergelak seketika, berhasil menjahili sang papi dengan mengolok-olok kalau isi kotak itu sudah tidak berguna lagi. Padahal memang tidak berguna, jika yang diberikan oleh sang papi adalah buku kuliahnya dulu bukan buku pelajaran menengah pertama. Sementara Wulan pun ikut tergelak lepas dan kembali duduk di tempatnya semula.


"Ck! Kenapa kamu tidak bilang kalau buku-buku itu bukan buku pelajaran SMP!" sungut Dhana seraya menjitak dahi Damar.


"Aihhh, sakit tau Pi!!! Sudahlah, Papi tidak perlu repot-repot tentang masalah buku! Buku Damar dan Adek sudah lengkap kok. Bahkan lebih lengkap dari buku Papi yang keluar di zaman dahulu kala." jawab Damar yang tertawa lagi, menoleh ke arah Dhana.


Dhana mendengus geli, melihat keduanya yang terlihat semangat belajar walaupun malam ini adalah malam weekend, malam yang seharusnya digunakan untuk bersantai namun mereka gunakan untuk memaksimal pelajaran sebelum melaksanakan ujian.


Dhana beranjak, memilih duduk bersandar di atas sofa seraya memandangi keduanya. Melihat sang papi yang duduk, Wulan pun mendongakkan kepalanya, menatap Damar yang melihat ke arahnya seraya memainkan kedua alisnya. Wulan mengangguk, entah apa yang tengah mereka bicarakan secara bathin seperti itu.


Damar yang mengerti pun meraih sesuatu di atas meja belajar sang adik, lalu beranjak dan diikuti oleh Wulan. Sesaat kedua anak kembar itu saling pandang, melihat sebuah foto yang ada di tangan Damar. Kemudian mereka bergerak maju, mendekati Dhana.


"Ada apa? Kenapa kalian menatap Papi seperti itu? Ada yang salah dengan wajah Papi?" tanya Dhana yang tercengang saat melihat keduanya berdiri di hadapannya.


Damar dan Wulan saling pandang sesaat, sebelum pada akhirnya Damar mengulurkan tangannya yang memegang sebuah foto ke arah sang papi. Dhana yang heran menoleh ke arah tangan sang putra dan membuatnya terbelalak sempurna dalam sekejap.


"Sejak kapan Papi menyimpan foto Bu Kinan di dalam kotak buku lama Papi?"


.


.


.


.


.

__ADS_1


Happy Reading All 😇😇😇


__ADS_2