Takdir Si Gadis Bisu

Takdir Si Gadis Bisu
Episode 78 ~ Kekejaman Bima


__ADS_3

...☘️☘️☘️...


"Tunggu, Bim! Sekarang kita ke mana? Kita tidak tau di mana Damar dan adiknya itu 'kan?" tanya Dimas yang tengah memakai jaket hitamnya.


Benar juga. Perkataan Dimas tidak terpikirkan olehku, terlalu semangat untuk menjatuhkan Damar secepatnya membuatku melupakan itu. Aku pun terdiam sesaat, memikirkan di mana kira-kira Damar dan si bisu itu berada sekarang. Hingga akhirnya, aku menemukan jawabannya. Teringat kejadian beberapa jam yang lalu, di saat kedua anak kembar tengil itu menolong Syahil.


"Lo tenang saja, Dim! Damar dan si bisu datang menyelamatkan Syahil. Gue yakin kalau sekarang mereka tengah berada di rumah Syahil. Mereka tidak akan membiarkan Syahil pulang sendiri 'kan? Sekarang kita berpencar! Lo ke rumah Syahil dan gue bakal menunggu di jalan lain. Di saat mereka pulang dari rumah Syahil, lo kasih kabar gue. Biar gue bisa beraksi dan lo susul gue dari belakang!!!" ujarku, menjelaskan dengan detail permainannya.


Dimas mengangguk, tersenyum lebar ke arahku. Sepertinya dia bangga memiliki kapten sepertiku.


"Lo memang kapten oleng, Bima. Ide lo selalu brilliant. Oke, gue akan pergi ke rumah Syahil. Tunggu kabar dari gue dan lo siap-siap. Oke?" jawab Dimas yang menaiki motor, siap untuk bergerak untuk menjalankan misi selanjutnya.


"Oke..."


Benar saja bukan? Dimas memuji kapten geng motornya ini, membuat rasa percaya diri makin meningkat pesat, menambah semangat untuk menjalani rencana ini. Aku dan Dimas bergerak, melaju kencang menuju tujuan masing-masing. Aku menuju ke suatu tempat di mana aku tidak akan kehilangan jejak Damar dan si bisu itu saat mereka dalam perjalanan pulang. Sementara itu, Dimas bergerak menuju rumah Syahil, memantau dan memastikan apakah kedua anak kembar itu benar-benar sedang berada di sana. Jika mereka tidak ada di rumah Syahil, maka plan B akan kami jalankan.


Aku pun akhirnya tiba di lokasi tujuan, menunggu kabar Dimas yang tengah memantau di lokasi lain. Hingga beberapa menit berlalu, ponselku bergetar, menandakan panggilan masuk. Dan nama Dimas tertera di layar ponselku lalu aku mengangkatnya.


"Hallo Dim..."


"Mereka sudah jalan! Next step!"


Seringai licik seketika terbit di balik masker yang terbalut helm, langsung mematikan sambungan telepon dan bergegas menuju target yang dituju. Benar saja perkataan Dimas, baru saja aku keluar dari tempat persembunyian, sebuah mobil taksi melintas hingga mataku menangkap dengan jelas sosok anak yang menjadi target penculikan kali ini.


Aku pun mengikuti mobil taksi itu, memakai motor dan juga jaket Aifa'al yang saat ini tengah tertidur pulas di Basecamp karena obat pemberian Dimas. Tanpa membuat penghuni taksi di depanku curiga, dengan jarak yang cukup jauh aku terus bergerak mengikuti ke mana arah taksi itu melaju. Sembari mengikuti taksi itu dari belakang, aku memikirkan bagaimana caranya menangkap Damar dan si bisu itu tanpa diketahui orang lain, termasuk supir taksi. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti terus taksi itu.


Sepertinya dewa keberuntunganku sedang baik hati hari ini. Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh dari perumahan di mana rumah Syahil berada, akhirnya taksi yang membawa Damar dan adiknya itu berhenti di depan sebuah Minimarket, membuat ide yang semula tidak terpikirkan, dan dalam waktu sekejap ide itu pun muncul seketika.


"Permisi Pak..." ujarku seraya mengetuk jendela mobil taksi yang tertutup, tentu saja di saat kedua anak kembar itu masuk ke dalam Minimarket.


Perlahan kaca mobil pun terbuka, tampak sosok pria paruh baya yang mengulas senyum ramah.


"Ada yang bisa saya bantu Mas?" tanya si supir taksi paruh baya itu, terlihat polos saat melihat penampilanku yang sebenarnya mencurigakan, memakai jaket hitam dan helm yang masih ada di kepalaku.


"Begini Pak, sebelumnya saya ingin berterima kasih karena Bapak sudah menjaga dan ingin mengantarkan kedua adik saya yang sempat Bapak bawa saat ini. Tapi sepertinya, perasaan saya tidak enak jika harus membiarkan mereka pulang sendiri. Biar saya saja yang mengantar mereka pulang, Pak. Bapak bisa kembali bekerja dan mencari penumpang lain saja. Ini tarif taksi Bapak karena Bapak sudah menumpangi kedua adik saya." ujarku yang berusaha bersikap halus, tidak ingin membuat si supir taksi itu mencurigai gerak-gerik tubuhku yang aneh.


"Oh jadi Mas ini kakaknya kedua anak itu? Yang sempat memesan taksi di rumah Jati Negara No. 10 tadi ya Mas?" tanya si supir taksi itu.


"Bukan, Pak. Saya ini kakak sepupu dari kedua anak yang Bapak bawa itu dan anak muda yang sempat memesan taksi Bapak. Mereka semua adalah adik-adik saya, Pak." jawabku terpaksa, pura-pura mengakui kalau Damar, si bisu dan anak muda yang memesankan taksi Bapak ini. Entah anak muda itu Syahil atau bahkan Syahal. Sungguh, aku sangat tidak peduli dengan hal itu.


"Oh begitu ya, Mas. Baiklah, kalau itu yang Mas mau. Kalau begitu saya permisi dulu ya. Tolong dijaga adik-adiknya dan antarkan mereka sampai tujuan dengan selamat. Tarif taksi saya sudah dibayar oleh adiknya Mas sebelum saya pergi. Permisi Mas." jawab si supir taksi paruh baya itu.


Hanya anggukan yang dapat kuberikan, melihat taksi itu yang akhirnya hilang dari pandanganku. Aku pun langsung menghubungi rekan kerjaku, meminta Dimas datang ke lokasiku sekarang dan membantuku menangkap Damar dan si bisu itu. Tidak butuh waktu lama, Dimas yang sebenarnya mengikutiku dari belakang akhirnya sudah sampai.


"Bagaimana Bim?"


"Mereka ada di dalam. Kita bersembunyi dulu!"


Aku dan Dimas bersembunyi di balik pohon besar yang tidak jauh dari motor Aifa'al, memantau dan terus melihat keadaan sampai benar-benar aman. Hingga akhirnya, kedua target yang kuincar keluar dari sarangnya. Damar dan si bisu terlihat bingung, mengedar pandangan mencari taksi yang sempat mereka tumpangi dari rumah Syahil.


"Loh Dek, taksi kita pergi ke mana?" tanya Damar yang mengedar pandangan, mencari mobil taksi.

__ADS_1


Kulihat si bisu hanya menggelengkan kepala, tanda tidak tau ke mana taksi itu pergi tiba-tiba, berbicara dengan bahasa isyarat yang hanya bisa dipahami oleh Damar seorang, membuatku dan Dimas saling pandang, bertanya apa maksud si bisu itu, yang aku yakini kalau dia pun tidak tau.


"Ayo Dim! Sekarang saatnya!" ujarku.


Dimas mengangguk, bergerak secepat kilat, meringkus Damar dan si bisu di saat mereka lengah, hingga keduanya kini jatuh pingsan. Dan tepat pada waktunya, mobil Pak Bram datang. Perhitungan pria perjaka dewasa itu sangat tepat, setelah aku selesai menghubungi Dimas, aku pun menghubungi Pak Bram dan meminta bantuannya untuk membawa kedua anak itu. Karena aku yakin kalau aku dan Dimas tidak akan mampu membawa mereka hanya dengan motor.


Mobil Pak Bram pun melesat cepat, menjauhi Minimarket yang tampak sepi di sore hari kali ini, tidak seperti biasanya memang. Namun aku berpikir kalau itu adalah keberuntungan dalam menjalankan misi yang sudah direncanakan. Sementara aku dan Dimas kembali ke Basecamp, meletakkan kembali pada posisi semula motor Al yang sudah aku gunakan lalu ikut berkumpul lagi dengan anak-anak yang lain tanpa menimbulkan rasa curiga di antara mereka.


Drrrrttt...


Aku terlonjak, mendapati ponselku yang bergetar tiba-tiba, membuatku harus menyingkir jauh dari kumpulan anak-anak motor lainnya agar mereka tidak curiga padaku dan Dimas.


"Hallo Pak Gibran..."


"Kerja yang bagus, Bima. Saat ini kedua anak itu sudah ada di tempat tersembunyi, tempat di saat kita bertemu sebelumnya. Nanti, sebelum pulang kamu harus memastikan mereka terlebih dahulu lalu temui saya di Apartment tepat jam 12 malam. Kita harus merencanakan sesuatu malam ini. Saya akan mengirim alamat Apartment saya. Saya baru saja keluar dari tempat tersembunyi itu dan saya harus kembali ke Apartment. Kamu ingat, bukan?"


"Baiklah Pak! Saya akan memastikan kondisi mereka nanti sebelum pulang. Saat ini saya sedang menunggu Al bangun dan memastikan kalau anak itu tidak curiga kalau motornya saya gunakan untuk rencana kita." jawabku, berbisik.


"Oke, saya percaya sama kamu." ujar Pak Gibran.


Sambungan telepon berakhir, kini saat aku dan Dimas memantau Aifa'al yang belum sadar juga dari pengaruh obat tidur pemberian Dimas.


"Dim... lo kasih obat tidurnya berapa banyak sih? Kenapa sampai sekarang Al belum bangun juga? Kalau dia over dosis obat tidur bagaimana, hah!!!" ujarku, berbisik di belakang Dimas yang sedang duduk berkumpul dengan anak-anak lainnya.


"Lo tenang saja, Bima. Dosis obat itu memang sedikit kuat, jadi lo harus sabar dan Al tidak akan kenapa-kenapa. Gue bakal jamin. Kalau terjadi sesuatu pada Al, gue yang akan tanggung jawab." jawab Dimas dengan santainya, tapi tetap berbisik.


"Lo gila ya? Mau tanggung jawab maksud lo apa? Kalau Al sampai masuk rumah sakit, rencana kita bakal ketahuan!" tandasku yang menahan amarah.


"Bima... kalau lo panik terus seperti ini, malah bukan gue yang menggagalkan rencana tapi lo sendiri. Sudahlah! Percaya sama gue. Sebentar lagi, Al bakal bangun tepat pada jam delapan!!!" jawab Dimas yang berusaha menenangkanku.


***


Tepat pada jam delapan malam, benar saja yang dikatakan Dimas. Aifa'al terbangun dari tidurnya, tampak oleng saat berjalan keluar dari Basecamp.


"Al... lo mau ke mana?" ujarku yang berteriak, menghampirinya yang berjalan mendekati motor.


"Gue mau pulang. Kepala gue pusing banget. Lo tau tidak, dari jam berapa gue ketiduran di sini?" jawab Aifa'al yang memijat pelipisnya efek pusing.


"Gue kurang tau, Al. Tapi anak-anak bilang, lo sudah terlelap setelah makan-makan tadi siang." jawabku, berusaha untuk tidak meninggalkan kesan yang membuat Aifa'al curiga sedikit pun.


"Hmmm... mungkin karena gue kebanyakan makan dan minum, jadinya ketiduran seperti tadi. Apalagi tadi malam gue sempat begadang karena tugas kuliah menumpuk. Ya sudah, gue pulang ya. Titip salam buat anak-anak lainnya." ujar Aifa'al, berjalan tidak seimbang mendekati motornya.


Benar-benar sangat puas, semudah itu aku membodohi Aifa'al dan memanfaatkan kondisi hatinya yang membenci si bisu. Setelah Aifa'al pergi, aku pun beranjak. Hendak pergi ke lokasi penyekapan Damar dan si bisu, memastikan kalau mereka benar-benar tersiksa di sana.


***


Jarak yang tak terlalu jauh membuatku dengan cepat sampai di tempat penyekapan, di sana ada Pak Bram yang berjaga, lalu aku mendekatinya.


"Bagaimana Pak?" tanyaku.


"Mereka masih belum sadar." jawab Pak Bram.

__ADS_1


"Biarkan saja dulu! Saya ingin ke Apartment Pak Gibran dan menyusun rencana selanjutnya. Jika terjadi sesuatu, Pak Bram cepat hubungi saya." ujarku yang berusaha memperingati Pak Bram.


"Baik..." jawab Pak Bram singkat.


Aku beranjak, pergi dari tempat penyekapan itu untuk menemui Pak Gibran di Apartment nya.


***


Singkat cerita, selama di Apartment aku dan Pak Gibran membuat rencana-rencana lain, menjaga jika rencana awal gagal maka rencana cadangan bisa kami gunakan. Setelah berdiskusi singkat di Apartment Pak Gibran, aku memilih untuk datang lagi ke tempat penyekapan Damar dan si bisu itu, tentunya bersama dengan bos baruku itu.


Saat aku dan Pak Gibran sampai di sana lagi, ternyata mereka masih tertidur dalam keadaan terikat rantai besar hingga inisiatif ku muncul untuk membangunkan mereka dengan cara yang cukup mengejutkan.


Byurrr...


Air dingin yang sudah Pak Bram siapkan sebelum aku dan Pak Gibran sampai di tempat ini, telah kusiramkan pada Damar dan si bisu yang masih tertidur.


Membuat mereka terlonjak hebat, merasakan dinginnya air es itu di tubuh mereka. Aku menyeringai sangat puas, melihat penderitaan mereka secara nyata. Kulihat Damar yang terus berkoar-koar, marah-marah dan mencari keberadaanku dan Pak Gibran di gelapnya ruangan itu. Karena malas mendengar perkataan Damar yang tidak menguntungkan, akhirnya aku memilih pergi dan pulang ke rumah untuk beristirahat. Begitu pula dengan Pak Gibran yang kembali ke Apartment nya.


***


Malam pun berganti pagi, Pak Gibran memintaku untuk datang ke Apartment sepagi ini dan dengan terpaksa aku pun mengikutinya. Biasanya, sepagi ini aku masih terlelap, bergulum dengan selimut. Namun demi melenyapkan musuh, aku rela dan akan melakukan apapun asalkan musuhku kalah.


Setelah berdiskusi singkat dengan Pak Gibran di pagi buta, rasa kantuk yang semakin menyerang membuatku enggan pulang, memilih Basecamp sebagai tempat pelampiasan kantuk yang datang mendera. Aku memutuskan untuk istirahat di sana, sekaligus berjaga jika Pak Gibran menghubungiku lagi secara mendadak. Dan benar saja dugaanku, baru saja mataku ingin terpejam, Pak Gibran yang panjang umur sepertinya kembali menghubungiku dan memintaku untuk datang ke tempat rahasia.


Aku pun bergerak cepat, tidak ingin membuat ayah dari kekasihku itu marah dan membatalkan bantuannya untukku menjatuhkan Damar sebagai ketua osis baru.


Sesampainya aku di sana, ada Pak Bram dan Pak Gibran yang tengah berdiri di depan ruangan itu. Pak Gibran memintaku dan Pak Bram berjaga di tempat penyekapan karena sebentar lagi orang bayaran Pak Gibran akan datang. Mereka akan membantu kami untuk menjaga Damar dan si bisu.


Pak Gibran pun pergi dan tidak berselang lama, mobil orang bayaran Pak Gibran datang. Mereka adalah para bodyguard bayaran Pak Gibran yang akan menjaga dengan ketat tempat penyekapan.


Ternyata perhitungan Pak Gibran tidak salah. Berkat bodyguard itu, aku dan Pak Bram sukses menemukan sosok penyusup yang ingin sekali bertindak seperti super hero penyelamat untuk adik-adiknya. Siapa lagi kalau bukan Aifa'al. Ternyata anak itu sudah mengendus bau-bau mencurigakan dan mengikutiku sampai ke sini hingga akhirnya dirinya sendiri pun ikut tertangkap.


...~Flashback Off~...


POV Author


Asyik membayangkan rencana yang dibuat Gibran, membuat Bima yang kelelahan kini tertidur pulas, melupakan sejenak kegiatan hari ini demi memberi tenaga pada tubuh yang terkuras sejak kemarin.


.


.


.


.


.


Happy Reading All 😇😇😇


Bonus up hari ini ✌️ semoga kalian suka ya 😅

__ADS_1


Kapan Aifa'al, Damar dan Wulan keluar dari penyekapan itu? Sabar ya kak 😘 sebentar lagi mereka bakal selamat kok✌️


Terima kasih 🖤🖤🖤


__ADS_2