
...🍁🍁🍁...
Malam yang panjang terus berganti. Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan bahkan tahun pun tak terasa berganti. Satu tahun pun berlalu, sejak kejadian nahas yang menimpa orang jahat seperti Gibran, meninggal dunia dengan cara yang miris, membuat semua orang terkejut dan turut berduka cita, bagaimana pun juga dia tetap manusia biasa yang pernah berbuat khilaf.
Sejak kejadian nahas itu, tepatnya setelah menghadiri pemakaman Gibran. Kinan dan Dhana tak pernah bertemu face to face lagi karena kesibukan hidup masing-masing, hanya dengan Damar-Wulan saja wanita berhijab itu bertemu, itu pun di sekolah.
Tidak ada yang terjadi lagi setelah malam itu. Begitu pun dengan Kinan yang sempat mengikuti proses di kantor Polisi, memberi penjelasan bahwa dirinya memang sengaja menembak Gibran dengan tujuan untuk menghentikan aksi kejahatan lelaki itu yang sudah sangat keterlaluan, bahkan sangat membahayakan nyawa sosok gadis kecil. Ditambah lagi dengan keterangan Kinan tentang Gibran yang sudah menipunya selama bertahun-tahun, menjadi alasan kuat bagi Kinan untuk menghabisi Gibran agar tidak ada lagi orang yang mempunyai nasib miris dan menyedihkan seperti dirinya.
Membuat pihak kepolisian gamang sesaat setelah mendengar kesaksian Kinan malam itu, namun lagi-lagi kesalahan Gibran sudah sangat fatal. Bram datang menyusul Kinan, melanjutkan kesaksian yang sama dengan Kinan, menjabarkan setiap rencana busuk sang tuan kepada pihak kepolisian untuk menuntut keadilan bahwa Kinan tidak salah.
Dengan banyak pertimbangkan, akhirnya pihak kepolisian setuju melepaskan Kinan. Apalagi jika teringat dengan status Kinan yang masih memiliki Zivana. Anak tunggal dari mantan suaminya yang sangat kejam. Kendati Zivana adalah anak Gibran, Kinan tetap menyayangi gadis itu dengan tulus, hingga Kinan berani mengambil keputusan untuk tetap merawat dan membesarkan sang putri sambung dengan tangan sendiri.
Lalu bagaimana kabar Zivana sekarang? Mari kita dengar beritanya nanti dari Kinan.
***
Perjalanan hidup harus tetap berlanjut, sampai mesin waktu sendiri yang berhenti untuk berputar, mengelilingi kehidupan ini. Sama hal dengan Kinan, keluarga Dhana pun juga demikian. Setelah kejadian nahas itu, mereka semua kembali ke aktifitasnya.
Ammar yang sibuk dengan pasien, Sadha yang sibuk dengan perusahaan, dan Dhana yang sibuk dengan cafe-cafenya. Di posisi lain, sama halnya dengan Ibel dan Vanny. Wanita karier yang bertambah cantik dan sukses di usia mereka yang tidak muda lagi. Ibel sibuk dengan pasiennya yang berlimpah ruah, begitu juga dengan Vanny di kantor yang mengemban dua jabatan sekaligus sebagai wakil direktur dan Sekretaris Sadha.
Kendati mereka semua sibuk, mereka tidak akan melupakan anak-anak yang tentunya masih membutuhkan perhatian orang tua. Beda hal dengan Mala yang memilih untuk fokus merawat anak-anaknya di rumah, kendati sesekali juga membantu suaminya mengelola Cafe, namun fokus Mala tetap kedua anak kembarnya yang juga aktif di sekolah mereka.
Begitu pula dengan Bram dan Rumi. Kehidupan dua kakak beradik itu seakan berubah 180° setelah kejadian malam itu. Nasib hidup yang semula suram dan tak tentu arah, menjadi lebih baik. Bram berhasil membuktikan, bahwa dirinya memang baik dan amanah. Buktinya sudah satu tahun ini lelaki itu berhasil mengelola Cafe mendiang Dhina yang Dhana percayakan kepadanya.
Sementara Rumi, penyakitnya semakin hari semakin membaik, bahkan stadium kanker di dalam tubuhnya sudah turun menjadi stadium satu. Semua itu berkat kerja keras dan tekad Ammar yang sangat yakin. Mulai dari kemoterapi, obat bahkan semua yang berhubungan dengan proses pengobatan Rumi dijamin oleh Ammar sampai sembuh total dan dinyatakan bersih dari kanker.
Lalu bagaimana dengan Aiziel, Aifa'al, Syahal dan Syahil? Tentu saja, keempat pemuda tampan generasi penerus tongkat keharmonisan keluarga Pak Aidi itu tetap pada aktifitas mereka masing-masing.
Aiziel yang semakin sibuk dengan status barunya sebagai wakil direktur 2 di kantor, mendampingi paklik dan buliknya bekerja, membuat perusahaan keluarga yang telah lama berdiri atas dasar kasih sayang pada almarhumah Dhina itu semakin berkembang pesat di ibu kota. Sedangkan adiknya, yang tak lain dan tak bukan adalah Aifa'al juga tak kalah sibuk dengan urusan di kampus. Apalagi saat ini, ia sudah memasuki tahun ketiga masa kuliah, di mana statusnya yang sebagai mahasiswa itu akan semakin sibuk dengan mata kuliah yang sulit dan rumit. Tidak beda jauh dengan si kembar Syahal dan Syahil, yang juga sibuk dengan kuliah.
***
Sinar mentari merangkak naik, memberi kehangatan yang dapat mendatangkan kebaikan di setiap kehidupan manusia. Semua itu terlihat dengan aktifitas keluarga Pak Aidi pagi ini, yang seperti biasa. Setiap pagi harus melakukan sarapan bersama.
"Hari ini acara perpisahan di sekolah anak-anakmu 'kan Dhana?" tanya Pak Aidi, seraya menyeruput kopi buatan sang istri.
"Iya, Ayah. Ayah dan Ibu juga akan ikut datang ke sana 'kan? Soalnya Dhana juga mengundang Mas Ammar dan Mas Sadha sekeluarga untuk datang ke sana, karena permintaan Wulan. Wulan bilang akan ada kejutan di akhir acara perpisahan nanti." terang Dhana, sudah selesai sarapan.
"Ayah dan Ibu pasti akan ikut, Nak." timpal Bu Aini, keluar dari dapur bersama Mala.
"Tapi anak-anak sudah di sekolah 'kan Mas? Mereka 'kan harus menyiapkan acara perpisahan dengan teman-teman mereka." timpal Mala, menoleh ke arah sang suami.
__ADS_1
"Kamu tenang saja, Sayang. Anak-anak sudah sampai di sekolah setelah subuh tadi." jawab Dhana, menoleh ke arah Mala.
"Syukurlah kalau begitu, Mas." ujar Mala.
"Tidak terasa ya, Damar dan Wulan sudah mau lulus SMP saja. Sebentar lagi mereka akan masuk SMA lalu kuliah. Rasanya baru kemarin Ibu menggendong mereka secara bergantian di saat keduanya menangis." timpal Bu Aini, terkekeh teringat masa itu.
"Tidak terasa juga ya, Sayang. Kalau usia kita semakin tua. Sudah punya enam cucu dan lagi-lagi di antaranya hanya satu yang cantik, selebihnya perjantan tangguh semua sama seperti anak-anak kita. Andaikan saja putri kita masih hidup, mungkin kebahagiaan hari ini akan terasa lengkap." tutur Pak Aidi.
Seketika suasana hening terjadi. Senyum yang semula mengembang indah seketika pudar saat Pak Aidi teringat dengan Dhina, membuat semuanya terdiam, merasa kalau duka yang mendalam atas kepergian Dhina tidak akan pernah bisa sembuh lagi.
"Ayo, kita siap-siap berangkat ke sekolah Damar dan Wulan! Nanti kita telat malah tidak dapat tempat duduk loh." ujar Bu Aini, berusaha memecah keheningan rumahnya.
"Ibu siap-siap saja ya. Biar Mala yang membersihkan semuanya. Lagi pula Mala sudah siap untuk berangkat ke sekolah anak-anak. Jadi Ibu punya waktu lebih untuk bersiap-siap." timpal Mala.
"Ya sudah, kalau begitu Ibu siap-siap dulu ya." ujar Bu Aini, tersenyum pada Mala.
Mala pun mengangguk, membiarkan sang ibu mertua untuk bersiap-siap, diikuti oleh Pak Aidi yang ingin bersiap juga. Sementara Dhana masih duduk terdiam di meja makan.
"Mas... kamu baik-baik saja?"
"Iya, Sayang. Aku baik-baik saja kok."
"Tapi matamu mengatakan tidak, Mas."
"Aku teringat Dhina karena ucapan Ayah."
"Wajar, Mas. Karena Dhina adalah anak perempuan Ayah satu-satunya. Hati Ayah mana yang tidak sedih ditinggal putrinya lebih dulu. Cinta pertama anak perempuan adalah ayahnya, pun sebaliknya, Mas."
"Iya, Sayang. Kasihan Ayah dan Ibu."
"Mereka tetap butuh waktu, Mas."
Dhana menghela berat lagi, mengelus lembut tangan sang istri yang berada di bahunya. Sementara Mala tersenyum, berusaha untuk menguatkan hati suaminya. Setelah Dhana cukup tenang, Mala pun bergegas membersihkan meja makan seraya menunggu ayah dan ibu mertuanya selesai bersiap di dalam kamar mereka.
"Ayo! Kita berangkat sekarang!" seru Bu Aini, tampak semangat dan sudah cantik.
Dhana mengacungkan jempol, beranjak masuk ke dalam mobil bersama sang istri, disusul Pak Aidi dan Bu Aini yang sudah tidak sabar lagi ingin menghadiri acara perpisahan cucu kembarnya di sekolah.
***
"Damar, Wulan... kalian sudah siap Nak?"
__ADS_1
Acara perpisahan di sekolah pun berjalan dengan lancar, sesuai dengan rencana yang telah dibuat dan ditetapkan bersama-sama. Hingga kini, sampai lah mereka di penghujung acara perpisahan semester ini.
"Damar dan Wulan siap, Bu Kinan." ujar Damar dengan yakin dan percaya diri.
Disambut antusias dengan anggukan Wulan. Gadis kecil yang penampilannya kini seperti seorang putri kerajaan yang cantik. Memakai sebuah mahkota kecil di kepala, dengan polesan make up flawless yang dibuat senatural mungkin untuk anak seusia Wulan dan tidak terlalu menor, sangat pas di wajah Wulan yang cantik dan serba imut itu.
"Terima kasih, Bu Kinan. Karena Ibu sudah memberikan Damar dan Wulan kesempatan untuk bisa tampil di akhir acara. Ibu juga sudah mewujudkan impian kami berdua yang sempat gagal karena masalah demi masalah waktu itu." ujar Damar, tersenyum.
"Sama-sama, Sayang. Ibu benar-benar bangga mempunyai dua siswa dan siswi kembar yang sangat kompak, dan saling sayang seperti kalian berdua. Setelah ini, akan ada pengumuman lain yang pastinya tidak kalah menarik untuk kalian berdua." jawab Kinan, mengelus wajah keduanya.
"Pengumuman apa Bu?" tanya Damar.
"Kalian lihat saja ya nanti. Anggap saja ini kejutan untuk kita semua." jawab Kinan.
Damar dan Wulan yang heran pun saling melempar pandang. Sementara itu Kinan hanya mengulum senyum, menatap lekat keduanya dengan tatapan bangga.
"Ayo! Waktunya kalian untuk tampil!!!"
Damar dan Wulan menghela berat, saling pandang lagi dan tersenyum. Tidak percaya jika mereka akan tiba di titik ini setelah semua halangan dan rintangan yang sudah mereka lalui bersama selama ini.
"Ayo, Dek! Bismillah ya." ucap Damar.
Wulan mengangguk, senyum manisnya terlukis sepanjang acara perpisahan ini. Menuntun Wulan melangkah kecil, naik ke atas panggung acara perpisahan itu yang dibuat sesederhana mungkin. Bukan tidak mampu, tapi karena biaya yang sudah dipersiapkan untuk acara ini, dimakan sendiri oleh Gibran yang sudah meninggal.
Prok!
Prok!
Prok!
Sahutan tepuk tangan bergemuruh kuat ketika Wulan naik ke atas pentas dengan penampilannya yang sangat berbeda itu. Tak terkecuali dengan semua keluarganya yang ikut duduk bersama di antara banyak penonton. Mereka juga sangat tercengang melihat penampilan Wulan yang cantik dan anggun, menggunakan gaun sepanjang lutut berwarna putih dengan mahkotanya.
"Mas... itu Wulan 'kan?" tanya Mala.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Happy Reading All 😇😇😇