Takdir Si Gadis Bisu

Takdir Si Gadis Bisu
Episode 149 ~ Headshot


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


"Kamu yakin di sini lokasinya Al?"


Mobil yang semula melaju pelan, mencari keberadaan orang yang sedang ia cari di dalam jalan sepi dan penuh semak belukar. Membuat Kinan ragu, jika GPS yang ada di ponsel Aifa'al salah menunjukan arah jalan.


"Saya yakin, Bu. Di depan sana, mobil Daddy berhenti." jawab Aifa'al seraya menunjuk ke arah titik GPS nya berada.


"Kita turun saja, Bu. Berjalan akan lebih memudahkan kita mencari mereka semua." timpal Damar, menoleh sesaat ke Aifa'al.


"Damar benar, Bu Kinan." ujar Aifa'al.


"Ya sudah, kita berjalan saja." ujar Kinan.


Kinan pun beranjak turun dari mobil, lalu diikuti Damar dan Aifa'al. Mereka berjalan, menyusuri jalan setapak yang masih muat jika mobil lewat sana, buktinya mobil Kinan saat ini berdiri di jalan setapak nan kecil itu. Tak menghiraukan jika ada mobil yang ingin lewat sana, lagi pula siapa yang akan lewat jalan sepi itu di tengah malam seperti ini.


"Damar, Aifa'al... lihat itu...!" seru Kinan, menunjuk ke arah sebuah gedung tinggi.


Aifa'al dan Damar pun melangkah lebar, penasaran dengan arah tunjuk Kinan yang membuat mereka terkejut bukan main. Tak peduli lagi dengan hujan yang mulai deras.


"Ada apa Bu?" tanya Damar, heran.


"Wulan ada di atas gedung itu!" jawab Kinan, menunjuk ke arah puncak sana.


Aifa'al menoleh cepat, matanya terbuka lebar saat mendapati keberadaan sang adik yang benar-benar ada di atas sana. Sama dengan halnya Damar yang tak kalah panik, melihat betapa nyaris posisi adiknya di sana.


"Ayo kita ke sana!" seru Kinan, berlari.


Damar pun beranjak capet, menyusul sang kepala sekolah, mengabaikan Aifa'al yang berlari pincang seraya memegangi kakinya.


"Paklik, Mas Ziel...!" sahut Damar.


Sadha dan Aiziel terperanjat, mendengar suara seseorang yang tidak asing di telinga, menuntun mereka yang tengah sibuk memantau pergerakan Gibran dari bawah untuk segera menoleh, melihat siapa yang memanggil mereka dengan panggilan itu.


"Al, Damar, Bu Kinan..."


Sadha dan Aiziel terperangah, tak percaya jika kedua bocah itu datang bersama Kinan.


"Damar, Al...! Kenapa kalian ada di sini?" serkas Sadha, menatap tajam keduanya.


"Kami kabur dari rumah, Paklik!!!" terang Aifa'al, memilih jujur daripada berbohong.


"Keterlaluan! Apa kalian tidak memikirkan Opa, Oma, Mommy, dan Bulik kalian, hah!" pungkas Sadha, emosi melihat keduanya.


"Damar tidak bisa tenang, Paklik. Maaf!" jawab Damar, tertunduk merasa bersalah.


"Maafkan anak-anak, Pak Sadha. Damar dan Aifa'al hanya mengikuti isi hati mereka yang mencemaskan kondisi Wulan." timpal Kinan, berusaha menenangkan hati Sadha.


"Bu Kinan benar, Paklik. Lagi pula mereka sudah sampai di sini, bukan? Paklik tidak perlu marah-marah lagi!!! Lebih baik kita fokus pada Adek sekarang ini. Posisi Adek semakin nyaris di atas sana!" timpal Aiziel.


Sadha menghela kasar, tanpa melepas tatapan tajamnya pada Aifa'al yang berani menantang tatapannya, namun tidak oleh Damar yang memilih untuk menundukkan kepala, takut melihat tatapan sang paklik.


Bugh!


Bugh!


Bugh!


Bugh!


Bugh!


Sadha, Kinan, Aiziel, Aifa'al dan Damar terlonjak. Mendengar sayup-sayup suara serangan mentah di atas sana.


"Paklik... itu pasti serangan Daddy!" ujar Aiziel, matanya membulat sempurna.


"Kita harus ke atas, Mas!" seru Aifa'al.


"Jangan, Al! Bahaya!" sahut Aiziel, memegangi sang adik yang ingin nekat.


"Damar ingin ke atas!" seru Damar.

__ADS_1


"Tidak, Damar! Kamu tidak boleh ke sana!" sahut Sadha, menarik tangan Damar.


Aifa'al dan Damar memberontak, berusaha melepaskan diri dari pegangan Sadha dan Aiziel yang menghalangi mereka untuk naik. Sementara Kinan terdiam sesaat, tangannya tampak mengusap sesuatu yang selalu ia persiapkan di belakang baju tertutupnya itu.


Drap!


Kinan melangkah lebar, berlari masuk ke dalam gedung kosong itu setelah beberapa saat melihat situasi Gibran yang berada di atas dan mengungkung tubuh kecil Wulan. Membuat Sadha dan Aiziel terperangah, mendapati pergerakan Kinan yang gesit, hingga mereka tak mampu mengejarnya.


Drap!


Kinan terus berlari, menaiki anak tangga yang jumlahnya tidak sedikit, ingin cepat sampai di puncak gedung di mana sang mantan suami yang kejam berada saat ini. Hingga akhirnya Kinan mencapai lantai paling atas, menuntutnya untuk melambatkan suara langkah kakinya itu.


Drap!


Kinan pun melangkah secara perlahan, sembunyi-sembunyi seraya merogoh sesuatu yang terselip di belakang bajunya. Tatapan matanya kian menajam, di saat ia melihat Gibran yang tengah mencengkram Wulan dari belakang dan beringsut mundur. Api amarah yang Kinan tahan selama ini tidak bisa ia tahan lagi, menuntun tangan untuk menyentuh pelatuk sebuah pistol di tangannya saat ini. Mengarahkan pistol itu tepat pada sasaran. Kinan semakin geram, melihat Gibran yang tidak menghiraukan ancaman Ammar kendati posisinya sudah sangat terancam di pinggir gedung itu.


"Jika jeruji besi tidak bisa membuatmu bertaubat, maka peluru inilah yang akan membawamu pergi ke neraka, Gibran!!!"


Mata Kinan memerah padam, tak peduli derasnya air hujan yang mengguyur tubuh. Teringat dengan kata-kata Gibran yang menyakitkan saat malam itu, membuatnya naik pitam. Kinan melangkah pelan, tanpa mengeluarkan suara sedikit pun di bawah derasnya hujan. Pistolnya yang telah aktif pun tertuju pada mantan suaminya hingga...


Dor!


Satu buah peluru pun meluncur tepat pada sasaran, menembus tepat di tengah kepala Gibran. Membuat semua orang yang ada di sana tercengang dan terkejut. Sementara Gibran yang terkena Headshot dari mantan istrinya itu pun terjun bebas ke bawah sana.


"Wulan...!" pekik Mala, histeris.


Dhana melangkah lebar, mendekati tepi gedung di mana sang putri bergantung di sana karena Gibran tidak melepaskannya. Diikuti Ammar, Mala, Bram, dan Rumi yang masih terkejut sebenarnya ketika melihat Gibran terjun bebas setelah mendapat headshot. Sementara Kinan terduduk lesu, tergugu setelah ia berhasil menghentikan Gibran dengan cara dan tangannya sendiri.


"Pegang tangan Papi, Sayang!" sahut Dhana, berusaha meraih tangan Wulan.


Wulan yang tergantung di tepi gedung itu berusaha menjangkau tangan sang papi, hingga akhirnya gadis kecil itu berhasil selamat dari maut yang mengancam jiwa.


Grep!


Mala mendekap Wulan, membuat gadis kecil itu menangis sesegukan di dekapan sang mami, menumpahkan rasa takutnya yang menggunung. Takut jika ia tidak bisa lagi bertemu dengan sang mami tercinta.


"Kamu tidak apa-apa 'kan Sayang?" ujar Mala, mengelus sayang kepala sang putri.


"Papi, Mami...!"


Dhana, Mala dan Wulan melerai pelukan, menoleh cepat ke arah sumber suara itu.


"Damar..."


Dhana dan Mala tercengang, mendapati keberadaan sang putra yang ada di sini. Diikuti oleh, Sadha, Aiziel dan Aifa'al dari belakang, hingga tampak lah di matanya seluet sosok wanita berhijab yang tengah terduduk di bawah derasnya hujan. Tidak hanya Dhana dan Mala, Ammar pun ikut tercengang, melihat putra bungsunya juga ada di sini.


"Adek...!"


Damar yang berlari kencang, menghambur. Langsung merengkuh erat tubuh sang adik, dibalas erat pula oleh Wulan yang mengulas senyum penuh syukur karena masih diberi kesempatan untuk bertemu kembali dengan mas kembarnya.


"Adek... tidak apa-apa 'kan?" ujar Damar, mengelus sayang pucuk kepala sang adik.


"Adek baik-baik saja, Mas." jawab Wulan dengan bahasa isyaratnya disertai senyum.


"Wulan... kamu tidak apa-apa Sayang?" timpal Sadha, baru datang dan langsung menghampiri Wulan.


"Wulan tidak apa-apa, Paklik." ujar Wulan tetap dengan bahasa isyaratnya.


"Syukurlah Adek baik-baik saja. Mas, Paklik dan kami semua mencemaskan Adek!" ujar Aiziel, mengelus sayang kepala sang adik.


Wulan tersenyum getir, memeluk Aiziel dengan eratnya setelah beranjak berdiri. Kecupan sayang pun tak luput Aiziel berikan pada sang adik, seakan menumpahkan kekhawatiran yang membuncah sejak tadi.


"Damar, Al...! Kenapa kalian bisa ada di sini?" serkas Ammar, melihat keduanya.


"Al sama Damar kabur dari rumah, Dad!" jawab Aifa'al, bersikap biasa saja kendati sudut matanya menangkap jelas amarah sang daddy padanya dan Damar saat ini.


"Damar yang salah, Pakde. Damar yang nekat mengajak Mas Al kabur dari rumah untuk menyusul kalian semua. Damar dan Mas Al juga mengajak Bu Kinan ke sini." terang Damar, memberitahu aksinya itu.


"Sudahlah, Daddy. Yang penting semua masalah sekarang sudah selesai dengan baik, walaupun Gibran..." timpal Aiziel, mendadak ragu memberitahu kebenaran yang sempat ia saksikan saat Gibran jatuh dan terjun bebas dari atas gedung tinggi.


"Gibran sudah meninggal, Mas." timpal Sadha, melihat ke arah Ammar karena ia juga melihat betapa tragisnya nasib hidup Gibran yang sudah berakhir itu.

__ADS_1


Ammar, Dhana, Mala, Bram, Rumi dan Wulan terperangah. Bersamaan dengan itu datang lah beberapa orang Polisi yang sempat dihubungi oleh Aifa'al sebelum peristiwa headshot pada Gibran terjadi, meringkus semua anak buah Gibran yang kondisinya juga tidak baik karena Ammar. Sementara mereka semua yang masih berada di puncak gedung itu beranjak ke tepi, melihat kondisi tubuh Gibran yang sudah dalam posisi tersungkur di bawah sana, dan bergelimang darah. Sungguh sangat miris dan sangat mengenaskan.


"Selamat malam semuanya." ujar Bripka Polisi yang datang menghampiri.


"Selamat malam, Pak." jawab Dhana.


"Kami datang ke sini atas laporan seseorang bahwa buronan bernama Gibran sudah berhasil ditemukan, dan sedang melakukan percobaan pembunuhan pada dua orang wanita. Apakah benar?" tanya Bripka itu.


"Benar, Pak. Gibran ingin membunuh putri saya dan adik dari asisten pribadinya sendiri karena dendam dan sakit hati." ujar Dhana.


"Saya yang melaporkan semua itu, Pak!!! Bahkan buronan yang anda cari itu ada di bawah sana. Dia sudah meninggal, Pak!" jawab Aifa'al, melirik ke arah bawah sana.


"Ya, anggota kepolisian yang lain sedang mengurus jasadnya. Kalau boleh saya tau, siapa yang sudah menembak kepala korban hingga membuatnya terjatuh dari atas ini?" ujar Bripka Polisi, melihat mereka satu-satu.


Dhana dan Mala saling melempar pandang, begitu pula dengan Bram dan Rumi, Damar dan Wulan, Aiziel dan Aifa'al serta Ammar dan juga Sadha. Mereka semua bingung harus mengatakan apa pada pihak Polisi, bahwa yang membunuh Gibran adalah mantan istrinya sendiri, Kinan Ashila Sari.


"Saya yang menembak lelaki itu, Pak!"


Mata semua yang semula saling beradu pandang seketika menoleh serentak ke arah sumber suara lembut namun parau itu. Terlihat Kinan berjalan dengan gontai dan lemas, tangannya pun masih memegang pistol yang membuat Kinan gelap mata dan berakhir membunuh mantan suaminya itu. Sementara Ammar, Sadha, Dhana, Mala, Bram, Rumi, Aiziel, Aifa'al, Damar, Wulan menatap nanar penampilan Kinan yang basah kuyup, sangat kacau berantakan.


"Saya yang sudah membunuhnya, Pak!" jawab Kinan, memperlihatkan senjata api yang ada di tangannya.


"Tapi Bu Kinan yang sudah menghentikan kejahatan Pak Gibran. Kalau Bu Kinan tidak menembak lelaki itu, mungkin saat ini adik saya tidak akan selamat, Pak." ujar Damar, membela Kinan yang belum bisa dipastikan, apakah Kinan bersalah atau tidak.


"Kami semua saksi mata kejadian itu, Pak! Kalau Bu Kinan tidak membunuh buronan itu, mungkin kami semua juga tidak akan selamat." timpal Aifa'al, ikut membela.


"Kalau begitu, mari ikut dengan kami ke kantor Polisi untuk kami minta keterangan. Saya berharap kerja samanya, Bu." ujar Bripka Polisi, melihat Kinan yang kacau.


Kinan menghela berat, tidak heran dengan konsekuensi yang akan ia terima nantinya. Membuat semua mata semakin terbelalak, tidak menyangka kalau sosok guru seperti Kinan bisa membunuh orang, bahkan orang itu adalah mantan suaminya sendiri. Dan kini, Kinan harus menjelaskan semuanya pada Polisi, membuat Kinan berpasrah diri.


"Baiklah, Pak. Saya akan menjelaskan semua yang Bapak butuhkan. Tapi saya mohon izin untuk mencari keberadaan putri saya yang sempat disekap juga oleh lelaki itu. Saat ini dia pasti masih berada di sana." ujar Kinan, berusaha meminta keringanan.


"Baiklah, Bu. Saya dan anggota saya akan menemani Ibu ke lokasi penyekapan. Ayo!" ujar Bripka Polisi yang beranjak pergi.


Kinan mengangguk, beranjak pergi setelah menoleh ke arah Dhana dan semuanya. Sementara Dhana bergeming, tidak tau harus melakukan apa untuk Kinan saat ini.


"Lebih baik kita pulang sekarang, Dhana!" seru Sadha, melihat Dhana yang terdiam.


"Sadha benar! Kasihan Wulan dan Rumi. Mereka pasti sangat kelelahan. Biar Polisi saja yang mengurus semuanya yang telah berakhir ini." timpal Ammar, meyakinkan Dhana.


"Tapi kasihan Bu Kinan, Mas. Dia pasti membutuhkan bantuan kita." ujar Mala.


Dhana terhenyak, mendengar perkataan sang istri yang memikirkan nasih Kinan. Entah bagaimana nasib kepala sekolah Damar dan Wulan itu sekarang, apakah pihak kepolisian akan memenjarakannya atas tuduhan pembunuhan atas buronan seperti Gibran? Semoga hal itu tidak terjadi.


"Mami benar, Pi. Kasihan Bu Kinan." ujar Damar, seakan meminta sang papi untuk membantu kepala sekolahnya itu.


"Biar saya saja yang menemani Nyonya Kinan, Bu Mala, Damar! Dan Rumi..." ujar Bram, menoleh ke arah Rumi yang diam.


"Biar Rumi ikut bersama kami, Bram!!! Setelah urusahmu dengan Kinan selesai, jemput lah Rumi ke rumah." timpal Ammar.


"Baiklah, Pak. Terima kasih banyak Pak." jawab Bram seraya menundukan kepala.


"Sama-sama. Ayo, lebih baik kita pergi sekarang! Mas khawatir, orang di rumah akan kelimpungan mencari Damar dan Al yang ternyata tidak ada di kamar mereka!" seru Ammar, menyindir Aifa'al dan Damar.


"Sorry Dad..." ucap Aifa'al, lirih.


"Maaf Pakde..." ucap Damar, lirih.


Ammar menghela berat, menggeleng kepala karena gemas melihat tingkah Aifa'al dan Damar yang sangat nekat. Sementara Wulan hanya mengulum senyum, mengelus lembut lengan kedua masnya yang ia apit.


.


.


.


.


.


Happy Reading All 😇😇😇

__ADS_1


Azab buat Gibran biar di akhirat aja ya, bingung dina 😂 mau kasih azab apa lah buat orang sejahat Gibran 😌 jadi dina buat cara matinya mengenaskan aja, anggap aja itu azab awal sebelum bertemu malaikat munkar dan nakir di alam kubur nanti ✌️


__ADS_2