
...☘️☘️☘️...
"Non Wulan sedang apa?"
Tangan mungil nan putih itu terlihat lincah, menata piring yang sudah terisi nasi serta lauk pauk lengkap dengan sayuran segar. Wulan mengulas senyum, menatap sang ART oma tercinta dengan senyum manis, melupakan sesaat duka yang menyelimuti.
"Wulan mau bawakan makanan ini untuk Mami, Bi." jawab Wulan dengan isyarat.
Bi Iyah tersenyum getir, melihat pancaran ketulusan dari mata seorang gadis kecil yang ada di sampingnya kini. Gadis kecil yang dari sejak kecil selalu mendapatkan perlakuan buruk dari sang mami. Namun, entah apa yang terjadi hari ini. Apakah hati sang menantu majikan sudah terketuk dan menerima kehadiran sang putri di hidupnya?
"Non Mala sudah bangun Non?" tanya Bi Iyah lagi, tidak ingin melewatkan senyum manis cucu kesayangan sang majikan.
"Sudah, Bi. Kalau begitu, Wulan mau ke kamar Mami lagi ya, Bi." jawab Wulan, tangannya yang sibuk ia bawa sebentar untuk berkomunikasi dengan sang ART.
Bi Iyah yang cukup paham, mengangguk. Membiarkan Wulan meraih nampan yang sudah terisi penuh dan lengkap, beranjak pergi dari dapur seraya membawa nampan itu menuju kamar sang mami di lantai satu.
Ceklek!
Daun pintu yang tertutup kini terbuka, mempersilakan Wulan masuk dengan cekatan sembari membawa makanan khusus untuk sang mami yang sedang duduk bersandar pada headboard ranjang.
Senyum manis tak luput ia persembahkan untuk sang mami yang hanya duduk diam melirik ke arahnya. Sejak psikoterapi saat itu dijalankan, emosi Mala yang biasanya tak terkendali ketika melihat Wulan, kini mulai lebih baik walaupun sikapnya masih sama. Dingin dan terkadang masih sering kasar pada Wulan yang sering mengunjunginya.
"Aaaaai... aaaaa... aaaa... aa. Aaaaa... aaaaa... aaaaaa... Aaaaai... aaaaaaa..."
("Mami sarapan dulu ya. Wulan akan menyuapi Mami sarapan.")
Wulan mendaratkan tubuh di tepi tempat tidur, meraih piring makanan untuk sang mami tercinta yang terletak di atas nakas. Tidak ada penolakkan dari Mala, matanya masih menatap Wulan namun tatapan itu seperti kosong, namun tidak menyurutkan niat tulus Wulan untuk menyuapi maminya.
"Aaaa..."
Tangan mungil itu terangkat perlahan, menyodorkan lengkungan sendok yang sudah terisi full dengan nasi dan lauknya, siap meluncur ke dalam mulut Mala yang masih terkatup rapat. Tak lupa senyuman manis penuh cinta yang diberikan Wulan, menatap lekat wajah cantik sang mami yang mulai berbinar setelah peristiwa itu berlalu.
"Aaaa..."
Mala bergeming, masih dalam mode diam tak merespon tindakan sang putri di depan matanya saat ini. Tatapannya yang semula kosong berubah tajam, menelisik wajah di depannya dengan intens, sebelum beralih pada piring yang ada di tangan sang putri.
Sementara Wulan masih dengan senyum sumringah penuh binar kebahagiaan, tiada kalimat indah yang mampu mengungkapkan betapa bersyukur nya ia hari ini. Baru kali ini Wulan bisa duduk sedekat seperti ini dengan Mala, menatapnya dari jarak dekat, tiada penghalang yang biasa menghadang. Walaupun sikapnya masih sering berubah, namun pantang baginya untuk menyerah.
Srek!
Prank!
Binar kebahagiaan yang baru terpancar itu musnah. Wulan terjingkat hebat, mendapati tepisan tangan sang mami yang spontan namun cukup bertenaga, membuat piring yang semula bertengger di atas tangan mungilnya, tiba-tiba melayang terbang, menyentuh lantai hingga menimbulkan suara pecahan yang teramat keras.
"Aaaaai..." ucap Wulan, lirih.
"Pergi dari sini! Aku tidak mau melihat wajahmu lagi! Dasar anak sialan! Kamu bukan anakku! Pergi dari sini!!! Pergi!!!" tandas Mala, marah dan menyeramkan.
"Aaaaai..." ujar Wulan, bergetar.
"Pergi kamu!!! Aku tidak sudi punya anak perempuan!!! Aku hanya ingin anak laki-laki! Bukan anak perempuan sepertimu!!! Pergi!!!" tandas Mala, marah dan hilang kendali.
"Aaaaai... aaaa... aaaaa." ujar Wulan, lirih menahan air mata yang sudah menumpuk.
"Pergi! Kamu bukan anakku!" tandas Mala.
Wulan tergugu, menahan tubuh yang terus-terusan didorong kasar oleh sang mami, membuatnya terhuyung hingga jatuh tepat di antara serpihan pecahan piring dan nasi yang masih berserakan karena Mala.
Ceklek!
Daun pintu terbuka keras, menampakan wajah Damar dan Syahal-Syahil yang terengah-engah, menahan nafas saat bergegas lari dari teras rumah setelah mendengar suara benda pecah di lantai bawah. Suara itu juga sempat hilang sesaat, membuat ketiganya terhenti kebingungan, namun lengkingan suara Mala yang keras memberikan petunjuk, membuat mereka terjingkat kaget, teringat pada Wulan yang sedang bersama Mala di dalam kamarnya.
"Mami..."
Damar dan Syahal-Syahil beranjak cepat, menghampiri Wulan yang terduduk seraya memegangi tangannya yang berdarah.
"Cukup Mi! Mami jangan menyakiti Adek!" seru Damar, menghentikan Mala sembari Syahal-Syahil membawa Wulan menjauh.
"Pergi kamu! Pergi dari hidupku!" tandas Mala, menatap Wulan dengan tajamnya.
"Sudah Mi! Cukup!" seru Damar.
__ADS_1
Mala semakin histeris, tatapannya seperti ingin sekali menghabisi nyawa Wulan saat ini juga, membuatnya hilang kendali hingga Damar pun kewalahan menenangkannya.
"Mala..."
Suara ribut yang terdengar samar dari dalam kamar mandi membuat Dhana menghentikan ritual mandinya, bergegas keluar dari kamar mandi untuk memastikan bahwa telinganya salah menangkap sinyal. Namun harapan pun tidak sesuai, di saat mata menangkap keberadaan sang putri yang terduduk di atas lantai, memegangi tangan yang terluka akibat serpihan piring.
Dhana melangkah cepat, menarik tubuh Mala yang sedang dikendalikan Damar.
"Cukup Mala! Dia putrimu!" seru Dhana.
"Pergi kamu! Aku tidak ingin melihatmu! Pergi!!!" tandas Mala, semakin histeris.
Dhana dan Damar kewalahan, memegangi Mala yang histeris seperti orang gila nan kesurupan, hendak meraih Wulan yang masih terduduk di lantai, menatap tangan yang terluka dan berdarah, namun sesekali menatap iba sang mami yang masih histeris.
Jlep!
Mala terkulai lemas di pangkuan Damar, satu suntikan obat bius menancap tepat pada tengkuknya. Sesuai perintah sang dokter, jika Mala mendadak histeris lagi seperti ini, cukup berikan satu suntik obat bius yang sudah disediakan oleh Dokter Ali.
Dhana dan Damar membawa tubuh Mala berbaring, membiarkannya tenang walau harus memakai obat bius. Kira-kira seperti itulah kondisi psikis Mala yang terguncang efek masa lalu nan kelam terkuak kembali, terkadang diam bak orang bisu, terkadang histeris seperti orang kesetanan, membuat Dhana sering kewalahan menghadapinya.
"Kamu tidak apa-apa 'kan Sayang?" tanya Dhana, mendekati sang putri yang terluka.
"Tangan Adek berdarah, Pi. Pasti karena Mami mendorongnya, sampai tangannya terkena serpihan piring yang pecah." ujar Damar, menatap nanar tangan sang adik.
"Lebih baik kita bawa Adek keluar dari sini, Damar. Biarkan Anty istirahat dulu." timpal Syahal, dibarengi oleh anggukan Syahil.
"Baiklah, Mas..." jawab Damar.
"Tolong obati luka adikmu ya, Nak." ujar Dhana, menepuk bahu sang putra.
"Iya Pi..." jawab Damar.
Damar dan Syahal-Syahil beranjak, membawa Wulan yang masih terisak untuk keluar dari kamar sang mami. Sesaat mata cantik yang terlanjur basah itu menoleh ke arah sang mami, menatap nanar tubuh itu.
Wulan menepis tangan Damar dan Syahal-Syahil, berlari ke arah sang mami yang terbaring di lagi di atas tempat tidur. Baru sebentar ia merasakan kehangatan hadirnya sosok sang mami di depan mata, namun dalam sekejap sikap sang mami yang masih belum stabil kembali berulah.
"Aaaaai... aaaaaa... aaaaa."
Wulan tergugu, memeluk erat tubuh sang mami yang terbaring, walaupun ia tau tak akan ada balasan, namun kehangatan di tubuh sang mami yang selalu ia rindukan, membuatnya lupa dengan rasa sakit yang tengah menyiksa tangannya.
Sementara Dhana, Syahal-Syahil dan Damar yang masih berdiri tidak jauh dari pintu hanya termangu, melihat kesedihan yang sepertinya sangat senang menyiksa sang gadis kecil, hingga tak membiarkan sang gadis bahagia walau hanya sebentar.
***
"Bbb... Bu Kinan?"
Kinan tersenyum simpul, duduk di depan seseorang yang pernah menjadi siswanya, dibatasi oleh meja di dalam sebuah ruang.
"Kamu terkejut melihat saya, Bima?"
Bima bergeming, masih tak percaya akan mendapatkan kunjungan dari mantan ibu gurunya di sekolah. Membuatnya terpekur tak berkutik, menangkap sinyal aneh dari sorot mata sang mantan guru di depannya.
"Bimantara... kamu habis bertemu dengan anak yang bernama Dimas, bukan?"
"Dari mana Bu Kinan tau kalau saya baru saja bertemu dengan Dimas? Dari mana juga Bu Kinan mengenal teman saya itu?"
"Hahahaha... teman ya? Apakah anak itu pantas disebut sebagai seorang teman?"
"Maksud Bu Kinan apa?"
Alih-alih menjawab, Kinan justru memberikan senyuman miring pada Bima. Membuat wajah cantik dan anggunnya itu tampak lebih seram dari biasanya. Sosok Kinan yang tidak pernah tersenyum miring, hanya ada senyuman manis di setiap hari, seakan tidak ada lagi setelah semua yang Gibran mengakui kebusukannya selama ini.
Meninggalkan luka yang teramat sakit di hati, menghancurkan kokohnya pondasi kepercayaan yang selama ini dijaganya. Hanya dengan menggunakan satu kata, sukses meluluhlantahkan kehidupannya.
"Sepertinya kamu tidak begitu mengenal siapa teman kepercayaanmu itu, Bima!!! Dimas sudah mengkhianati kamu!!! Kini dia bekerja sama dengan Bram!!! Dia berniat untuk menggeser posisimu sebagai ketua geng motor!!!" ujar Kinan, tersenyum sinis.
"Tidak mungkin!!! Bu Kinan pasti sedang berusaha mengadu domba saya dengan Dimas. Karena Ibu tau kalau dia itu orang kepercayaan saya yang akan membantu saya keluar dari sini, bukan?" tukas Bima.
"Ck!!! Jangan terlalu bodoh, Bima! Jangan terlalu mudah percaya dengan seseorang yang bisa menikung kamu dari mana saja! Saya sudah mendengar pembicaraan anak itu dengan Bram! Kalau kamu tidak percaya, silakan dengarkan rekaman ini!" ujar Kinan.
Bima terhenyak, menatap nanar Kinan dengan seringai tipisnya yang terlukis, membuatnya bergidik sesaat, sebelum rekaman percakapan di antara Dimas dengan Bram terdengar sangat jelas dari ponsel sang mantan guru. Membuat Bima menggeram, mengepal kuat tangan yang berdosa.
__ADS_1
"Beruntung perkembangan teknologi makin canggih. Jadi tidak perlu bersusah payah untuk mengetahui niat buruk seseorang!!! Cukup dengan mencari tau informasinya, mengikutinya, menabraknya saat lengah hingga ponselnya terjatuh. Dan saat itulah, tangan ini bekerja. Saya sudah menyadap ponsel Dimas saat saya menabraknya!!! Kamu pasti tidak percaya dengan semua yang saya lakukan, tapi itu kenyataannya!"
Bima bergeming, wajahnya tampak merah menahan marah yang membuncah, tidak ingin percaya namun bukti pengkhianatan sang teman sudah jelas di depan matanya. Suara itu benar-benar suara Dimas, bicara melalui telepon dengan Bram yang entah ada di mana saat ini.
Dimas yang dipercaya, justru berbelok. Menikungnya demi ingin mendapatkan posisi sebagai kapten di dalam geng motor, bekerja sama dengan Bram yang tak lain adalah asisten dari sosok pria yang sukses menipunya, membuatnya berakhir di dalam sell tahanan sampai sekarang dan mungkin akan berlangsung lama entah sampai kapan.
"Saya datang ke sini untuk menemui kamu dan ingin menanyakan sesuatu, Bima!!!" terang Kinan, meraih ponselnya kembali.
"Apa yang ingin Bu Kinan tanyakan pada anak bandel seperti saya ini?" tanya Bima.
"Apa benar kamu yang menyuruh Gibran untuk menculik Damar dan Wulan waktu itu?" tanya Kinan, menatap penuh telisik.
"Pasti Pak Gibran yang bicara seperti itu, bukan? Justru dia lah orang yang meminta Bram untuk mendatangi saya ke Basecamp. Lalu Bram mengajak saya ke suatu tempat di mana Pak Gibran sedang menunggu!!! Dan saat itu, dia menyuruh saya membawa Damar dan adiknya yang bisu itu ke sana!!!" terang Bima, menahan amarah yang sudah memuncak sebenarnya.
"Lalu kenapa kamu mau menerimanya begitu saja sebelum berpikir dulu Bima?" tandas Kinan, menahan geram yang tak kuasa ditampiknya.
"Suami Bu Kinan itu membujuk saya!!! Dengan iming-iming bahwa dia juga akan membantu saya untuk menjatuhkan nama Damar sebagai kandidat ketua osis!!! Saya sangat membenci Damar! Dia musuh saya! Karena itu, saya memilih jalan ini!!! Bekerja sama dengan Pak Gibran yang ternyata hanya ingin memanfaatkan kesempatan!!!" tandas Bima, marah menyelimuti hatinya.
Kinan berdecak lirih, dugaan sementara yang selama ini terpikirkan ternyata tidak salah, karena kebencian semuanya jadi rumit hingga berakhir miris seperti saat ini.
"Dan sekarang kamu mengaku salah?"
"Saya tidak salah! Saya juga korban!"
"Kamu masih saja keras kepala, Bima!"
"Saya hanya ingin bebas, Bu Kinan!"
"Sayangnya, semua bukti yang Bram berikan telah memberatkan kamu, Bima!"
"A-apa? J-jadi Bram yang..."
"Dan kamu juga tidak tau tentang ini?"
Bima menggeleng, kepalanya tertunduk lemas seketika, menyentuh pinggir meja. Selama ini ia berpikir, kalau Aifa'al bahkan Damar lah yang telah melaporkan nya ke kantor Polisi, mengingat malam itu Aifa'al pernah mengancamnya. Namun ternyata, semua prasangka buruk itu tidak benar.
"Polisi yang memberitahu saya tentang pengaduan Bram!!! Semua ini adalah rencana Gibran!!! Termasuk mengadu domba di antara kamu dengan Zivana!"
Kepala Bima yang tertunduk, terangkat cepat. Menatap nanar mantan gurunya.
"Pasti Dimas sudah memperdengarkan rekaman suara Zivana padamu, bukan? Zivana memang marah! Namun dia juga tidak tau niat busuk Gibran sebenarnya!!!" tutur Kinan, mendadak sendu jika teringat dengan sang putri walau hanya anak tiri.
"Tapi Zivana sudah menghina saya, Bu! Saya sangat membencinya sekarang ini, dan saya tidak akan pernah sudi untuk bertemu apalagi menjadi kekasihnya lagi!" tandas Bima, terlanjur kecewa pada sang kekasih. Bukan kekasih, mungkin mantan.
"Itu pilihan kamu, Bima! Saya tidak ingin ambil pusing dengan masalah itu! Semua sudah jelas! Gibran memang licik dan dia masih berkeliaran di luar sana!" ujar Kinan.
Bima bergeming, mendengus dalam hati, membenarkan perkataan Kinan tentang Gibran. Selain licik dan jahat, dia adalah manusia ular yang tak mudah ditangkap, licin dan juga lincah, mempunyai 1001 macam cara untuk menjatuhkan musuh kendati harus memanfaatkan orang lain.
"Tolong bebaskan saya, Bu Kinan."
.
.
.
.
.
Happy Reading All 😇😇😇
Udah tau kan siapa wanita berhijab itu? Kinan 'kan emang berhijab 🤟 ah mungkin karena kalian terlalu fokus sama Dimas, jadi gagal fokus sama penampilan Bu Kinan 🤭
Kinan mau ngak ya menolong Bima?
Apa Bima pantas untuk ditolong?
Oke... terima kasih semuanya yang masih setia sama dina dan Wulan 🤟 dina author ya, bukan Dhina nya mas Imam wkwk 🤭
Jangan lupa buat like, komen, hadiah dan kalau bisa vote nya juga boleh yaaa 🤭🤟
__ADS_1