Takdir Si Gadis Bisu

Takdir Si Gadis Bisu
Episode 73 ~ Jepitan Rambut


__ADS_3

...☘️☘️☘️...


"Bawa si bisu itu!!!"


Aifa'al dan Damar terbelalak, menoleh ke arah sang adik yang semakin ketakutan.


"Stop! Jangan sentuh Wulan! Kalau tidak gue tidak akan melepaskan lo, Bima!" seru Aifa'al yang berusaha melindungi Wulan.


"Diam lo, Al! Urusan gue sekarang bukan sama lo! Tapi sama si bisu cantik itu!" seru Bima yang menyeringai licik.


"Selangkah saja lo maju, gue bakal nekat membunuh lo, Bima! Ini peringatan terakhir gue!" tandas Aifa'al yang memposisikan diri di depan kedua adik kembarnya.


"Hahahah... membunuh kecoa saja lo itu gemetar, Al! Dasar lemah!" ujar Bima santai.


Aifa'al mendengus, sesekali menoleh ke belakang, memastikan Damar juga turut melindungi sang adik, tidak mengizinkan siapa pun yang boleh menyentuhnya.


"Oke!!! Lagi pula untuk apa sih gue bawa adik lo yang bisu itu. Gue tidak ada waktu buat mengasuhnya. Ayo kita keluar!!! Biar mereka bisa menikmati acara reuni sampai malam tiba." ujar Bima dengan seringainya, beranjak pergi membawa para bodyguard.


Deru nafas yang menggebu dibawa santai terlebih dahulu, melepas lega karena Bima hanya menggertak, membuat ketiga kakak beradik itu menghela nafas lega seketika.


"Adek jangan takut lagi ya. Ada Damar dan Mas di sini. Kita akan melindungi Adek. Ya?" ujar Aifa'al, mengelus wajah sang adik yang menangis ketakutan dengan kepalanya.


Hangat! Benar-benar hangat rasanya hati siapa pun yang melihat adegan itu. Entah Aifa'al sadar atau tidak, hanya dirinya yang tau. Mengundang bulir keharuan Damar di wajahnya yang gusar.


"Terima kasih, Mas!" ucap Damar lirih.


Aifa'al terhenyak, menghentikan aksinya yang sangat jauh berbeda dari biasanya, mengerti dengan maksud ucapan Damar yang menatapnya nanar penuh keharuan. Membuatnya kepalanya mengangguk, merubah posisi duduknya seperti semula.


"Sekarang kita pikirkan bagaimana cara untuk bisa keluar dari tempat ini." timpal Aifa'al yang menghela nafas berat.


"Tapi bagaimana caranya Mas?" tanya Damar.


Mata Aifa'al mengedar, mencari sesuatu yang mungkin bisa membuat isi kepalanya berputar, membuat ide untuk terbebas.


"Sepertinya Mas punya satu ide! Tapi ide Mas ini agak sedikit gila dan berbahaya!" jawab Aifa'al dengan seringai kemenangan.


***


"Kamu mengerti dengan rencana kita, Sayang?"


Di kamar Dhana dan Mala, duduk bersama dengan Pak Aidi, Bu Aini, Sadha, Vanny dan Imam. Membahas rencana penyelamatan yang akan mereka lakukan malam ini juga, sesuai instruksi Gibran, bukan menurut takut melainkan menurut demi kebaikan anaknya.


Duduk berembuk, tanpa mengajak Aiziel, Syahal dan Syahil yang mungkin tengah berembuk juga di lantai dasar. Menjelaskan rencana yang telah dibuat pada Mala yang baru terbangun dari tidur panjangnya efek obat tidur pemberian Vanny yang terpaksa.


"Tapi Mas, kenapa aku harus memakai earphone ini? Untuk apa? Memang siapa orang yang telah menyekap putraku?"


Lagi! Lagi-lagi Mala hanya mencemaskan Damar, mengabaikan Wulan yang juga ikut disekap oleh sang penculik, membuat mata semua orang yang berada di sisinya saling melempar pandang. Memang tidak heran, namun sangat miris jika di saat-saat seperti ini pun hati Mala tak kunjung terketuk pada sang putri.


"Sayang... melalui earphone ini Imam dan Mas Sadha akan memantau kita dari jauh. Hanya kamu yang bisa memakainya karena telingamu tertutup rambut. Kalau aku yang memakainya, maka rencana kita bisa gagal dan nyawa anak-anak akan terancam." ujar Dhana yang meyakinkan sang istri.


"Tapi siapa yang menyekap Damar dan Al, Mas? Kenapa dia ingin kita menemuinya?" tanya Mala yang terlihat bingung.


"Bukan hanya Al dan Damar, Mala! Tapi putrimu juga! Wulan juga disekap! Kamu jangan sampai lupa tentang itu!" seloroh Vanny yang menimpal, kesal pada Mala.

__ADS_1


Mala terdiam, menahan rasa kesal yang datang tiba-tiba akibat perkataan Vanny. Sementara Vanny berdecak sebal, memilih duduk di sofa menjauhi tempat tidur Dhana.


"Tenangkan istrimu, Nak!" seru Pak Aidi, berbisik pada sang putra yang di sisinya, sedikit menoleh ke arah sang menantu.


Sadha mengangguk, menepuk bahu sang ayah sebelum beranjak menenangkan hati sang istri yang berkabut emosi, membuat Dhana menghela nafas kasar, membuang kekesalan yang dirasakan sang kakak ipar.


"Orang yang menyekap anak-anak kita adalah Pak Gibran, Sayang! Pemilik SMP Jaya Mandiri, tempat di mana anak-anak menimba ilmu." jawab Dhana.


"Apa Mas? Kenapa pemilik sekolah itu menyekap Damar? Memang apa salah putraku?" ujar Mala yang terpekik histeris.


"Sayang... tenangkan dirimu!!! Inilah yang ingin aku tanyakan padamu sebenarnya!!! Apa kamu mengenal Pak Gibran? Kenapa dia sepertinya sangat mengenal kamu? Kenapa dia sangat menginginkan kamu?" ujar Dhana yang menenangkan sang istri.


Mala terdiam, menatap sang suami yang memeluknya dari samping, menenangkan dirinya yang mendadak histeris mengingat sang putra disekap oleh orang asing jahat.


"Maksud kamu apa Mas?" tanya Mala.


Dhana menghela nafas berat, menoleh sekilas ke arah ayah, ibu dan adik iparnya yang masih setia berdiri mendampinginya. Mereka tampak mengangguk, memberikan Dhana kebebasan untuk memberitahu sang istri tentang cerita sebenarnya yang belum diketahui.


Mala mengeryit heran, mendengar cerita sang suami dengan baik, berusaha untuk memahami apa maksudnya yang sangat membuatnya kebingungan.


"Gibran! Aku tidak mengenalnya, Mas!!! Bahkan aku saja belum pernah bertemu dengannya. Bagaimana mungkin orang yang bernama Gibran itu mengenal aku." jawab Mala yang menggeleng kuat.


"Tapi kenapa orang yang bernama Gibran itu menginginkan kamu, Mala?" timpal Bu Aini yang sangat penasaran.


"Mala tidak tau, Bu. Sungguh, Mala tidak mengenalnya sama sekali. Mala memang pernah mendengar namanya, karena dia adalah pemilik sekolah. Hanya itu, Bu!!!" jawab Mala yang meyakinkan sang ibu.


"Kamu yakin Mala?" ujar Imam, menelisik.


"Aku sangat yakin, Mam. Aku tidak kenal siapa Gibran!!!" jawab Mala yang kembali meyakinkan.


"Tapi bagaimana bisa Pak Gibran mengenal kamu, Sayang?" tanya Dhana penasaran.


"Aku juga tidak tau, Mas. Aku mengenalnya hanya sekedar kenal dan tau karena dia itu pemilik sekolah, tidak lebih!!!" jawab Mala.


"Coba kamu ingat-ingat dulu, Nak. Siapa tau kamu pernah mengenal pria bernama Gibran itu, tapi kamu lupa." timpal Bu Aini.


"Mala yakin 100% kalau Mala tidak pernah mempunyai kenalan yang bernama Gibran, Bu." jawab Mala yang meyakinkan lagi.


Bu Aini menghela nafas kasar, menatap sang suami yang berusaha menenangkan hatinya yang gelisah. Memancing helaan pasrah Dhana dan Imam yang terhembus serentak, meyakinkan keraguan hati kalau Mala benar-benar tidak mengenal Gibran.


"Ya sudah, tidak apa-apa kalau memang kamu tidak mengenalnya. Tapi kita tetap harus menyelamatkan anak-anak. Kamu sudah mengerti dengan rencana kita 'kan, Sayang?" tutur Dhana yang mengalah.


"Aku mengerti, Mas." jawab Mala.


Dhana mengulas sedikit senyum, menata hati yang semakin gelisah, teringat nasib ketiga anaknya yang disekap tanpa sebab.


"Kalau begitu kita harus siap-siap!"


***


"Mas yakin kalau dengan cara ini kita bisa terbebas? Tapi cara ini bahaya sekali, Mas!"


Damar mengeryit, memperhatikan tindakan sang mas sepupu yang tengah memotong tali pengikat dengan menggunakan api lilin pemberian Bima, berusaha melepaskan diri untuk melanjutkan rencana gila menurutnya.

__ADS_1


"Tidak ada pilihan lain, Damar. Kita harus mencobanya. Semoga saja dengan cara yang berbahaya ini kita bisa terlepas dari kejahatan Bima dan Gibran. Kita tidak tau apa mau mereka dan kenapa Gibran ingin sekali menyekap kalian seperti ini. Selain harus bebas, kita juga harus waspada jika Gibran dan Bima mempunyai niat jahat lain yang lebih berbahaya dari ini!" tutur Aifa'al.


Damar menghela nafas berat, berusaha menolehkan wajahnya ke arah sang adik yang ia yakin sangat ketakutan saat ini. Namun apa lah daya tubuh yang terikat rantai besar, mengikat tubuhnya dengan tubuh Wulan yang saling beradu punggung, membuatnya kesulitan untuk melihat wajah sang adik. Sementara Aifa'al masih tampak berusaha, membakar tali agar bisa terlepas.


Buah dari usaha ternyata tidak sia-sia, usaha keras Aifa'al berhasil. Tangannya terlepas dari ikatan tali yang terikat mati, seakan tidak diizinkan untuk terlepas lagi. Membuatnya tersenyum lega, menoleh ke arah adik kembarnya yang tercengang.


"Mas... Mas Al berhasil." pekik Damar.


"Sekarang giliran kalian!!! Bagaimana cara membuka rantai besar yang digembok ini?" ujar Aifa'al yang beranjak, mendekati kedua adik kembarnya itu.


"Adek, Mas!!! Biasanya Adek ada jepitan rambut dan dengan jepitan rambut itu, Mas bisa membuka gembok ini." jawab Damar.


Aifa'al bergeser, berjongkok di depan sang adik yang terlihat semakin lesu, tersenyum manis walaupun kekuatannya sudah habis.


"Adek ada jepitan rambut?" tanya Aifa'al.


Wulan mengerjap, mata yang berat terus dipaksa untuk terjaga, membiarkan kepala yang terasa berat untuk mengangguk pelan.


"Coba Mas lihat rambut Adek! Siapa tau jepitan rambutnya ada, Mas." ujar Damar.


Aifa'al sedikit beranjak, menegakkan tubuh yang tadinya berjongkok, mengedar mata, mencari jepitan rambut Wulan yang Damar maksud.


"Ada Mas?" tanya Damar yang tidak sabar.


"Ada!!!" pekik Aifa'al, menemukan jepitan yang dicari sejak tadi.


Damar menghela nafas lega, menggiring matanya ke posisi gembok yang tidak jauh dari tangannya. Sementara Aifa'al tak mau kalah cepat, beranjak cepat dan berusaha membuka gembok dengan bantuan jepitan.


"Bagaimana Mas?" tanya Damar.


"Kamu sabar dulu dong!!! Mas sedang berusaha membukanya!" sungut Aifa'al.


Damar pasrah, terus berdo'a agas Aifa'al bisa membuka gembok itu dengan jepitan. Sementara Aifa'al terlihat sedang berusaha membuka gembok itu.


"Aaaaaa... aaaa... aaaaaa... aaa!!!" ujar Wulan yang terdengar samar dan lemas.


Damar mendongak seketika, menggiring matanya menoleh ke arah sang adik yang terkulai tak berdaya, bersandar lemah di punggungnya, tanpa suara dan gerakan.


"Mas... Adek!" ujar Damar.


Aifa'al beranjak, mendekati Wulan yang terikat di belakang tubuh Damar. Meraih wajah cantik yang pucat dan sudah tidak sadarkan diri.


"Adek pingsan, Damar!"


.


.


.


.


.

__ADS_1


Happy Reading All 😇😇😇


Translate bahasa Wulan : "Kepala Adek pusing, Mas!!!" 🤭🤭🤭


__ADS_2