
...πππ...
Krek!
Suara benda tajam berbentuk linggis terus menghantam jendela kamar Wulan secara perlahan hingga tidak menimbulkan suara yang keras sedikit pun apalagi mengusik indera pendengaran orang, hingga akhirnya usaha tidak mengkhianati hasil pun diperolehnya dengan berbangga diri.
"Bos... jendelanya sudah terbuka!"
Malam nan sepi seakan menjadi peluang besar menurut dua lelaki bertubuh besar yang saat ini tengah berada di atas balkon kamar Wulan. Keduanya terlihat celingukan, melihat ke sana ke mari bahkan ke bawah, memastikan situasi aman sentosa untuk melakukan suatu rencana. Sementara di bawah sana, terlihat seorang lagi lelaki bertubuh besar dengan seragam hitamnya yang sama persis seperti kedua lelaki di atas itu.
"Sekarang lo masuk! Bawa gadis bisu itu! Jangan lupa lo bius dulu dia biar dia tidak memberontak nanti! Biar gue yang menunggu di sini dan melihat situasi." tutur sang bos yang tubuhnya lebih besar.
"Baik Bos...!" jawab lelaki yang berhasil membuka paksa jendela kamar Wulan itu.
"Ayo cepat! Sebelum ada orang yang melihat kita di rumah ini!" seru sang bos, membantu anak buahnya masuk ke dalam kamar Wulan.
Krek!
Lelaki itu akhirnya masuk ke kamar Wulan melalui jendela, sedangkan sang bos memilih untuk tetap berada di luar melihat kondisi.
"Ayo gadis bisu yang cantik! Aku akan membawamu pergi jauh dari keluargamu dan bertemu dengan seseorang!"
Perlahan lelaki itu bergerak maju, mendekati tempat tidur di mana Wulan sedang terlelap dalam buaian mimpi indahnya bersama Damar yang tak kalah lelap tidur di samping sang adik. Tangan lelaki itu meraih sesuatu dari sakunya, hingga tampak lah sebuah sapu tangan kecil di tangannya.
"Bersiap lah wahai gadis kecil! Sapu tangan ini tidak akan membuatmu kesakitan, Sayang."
Dengan seringai licik di wajahnya lelaki itu terus bergerak maju, mendekati Wulan yang tidak sadar bahwa dirinya saat ini tengah dalam bahaya besar.
Hap!
Wulan yang terlelap seketika terkesiap, namun mulutnya sudah lebih dulu dibungkam paksa oleh lelaki itu memakai sapu tangan yang sudah terkontaminasi dengan obat bius berdosis tinggi. Membuat Wulan hanya bisa memberontak sesaat, sebelum tubuhnya melemas dan akhirnya pingsan.
Grep!
Drap!
Drap!
Krek!
Sang bos terkejut saat melihat anak buahnya itu keluar seraya membopong tubuh mungil Wulan, mengundang seringai tajam di wajahnya, karena rencana berjalan dengan sangat lancar.
"Ayo kita pergi dari sini!"
"Siap Bos!"
Secara bergantian kedua lelaki berseragam itu turun menggunakan tangga alternative yang telah mereka sediakan untuk menjalankan rencana ini, membopong tubuh mungil Wulan yang tak sadar. Lalu bergegas menuju mobil mereka yang berada tidak jauh dari rumah Pak Aidi dan Bu Aini.
"Ayo cepat kita pergi...!"
***
Grep!
Tangan yang terayun di saat mata tengah terpejam rapat itu seketika mendarat, menyentuh sisi lain tempat tidur di mana seharusnya diisi oleh sang adik yang ia ketahui ada di sisinya. Namun tangan itu tak menemukan keberadaan sang adik, membuat Damar terkesiap hingga memaksa mata untuk segera terbuka, memastikan bahwa tangannya itu salah dan sang adik masih berada di sisinya kendati dibatas oleh bantal.
"Adek..."
Damar terduduk cepat, melihat ke sekitar kamar sang adik yang sunyi, bersama dengan suara jangkrik yang berteriak memekakkan telinga namun terasa tenang. Namun tidak setenang pikiran Damar yang kalut, mencari keberadaan sang adik yang tidak ada di mana pun termasuk di kamar mandi.
"Adek⦠Adek di mana?"
Damar terus mencari bahkan sampai ke dalam lemari pakaian sang adik dan di kolong tempat tidur, berpikir kalau tidur sang adik yang cukup bar-bar membuatnya terjatuh hingga masuk ke dalam kolong tempat tidur. Sungguh konyol tapi hal itu memang pernah dialami oleh gadis kecil Dhana itu. Namun ketika Damar tengah mencari, seketika pandangan matanya terhenti pada jendela kamar sang adik yang sedikit terbuka, melayut-layut saat angin malam menyentuhnya.
Drap!
Kaki yang berat dibawanya untuk melangkah, mendekati jendela kamar yang Damar yakini tertutup rapat di saat ia bersama sang adik tertidur ditemani papi dan maminya tadi.
"Tidak mungkin...!"
Mata Damar membulat, memikirkan sesuatu hal yang buruk tengah menimpa sang adik di saat dirinya terlelap tanpa sadar, membuatnya bergegas lari keluar dari kamar, lalu menuruni anak tangga dengan cepatnya hingga menimbulkan keributan.
__ADS_1
Tok!
Tok!
Tok!
Tanpa berpikir panjang, tak menghiraukan akan membuat keributan sekeras apapun di saat malam kian larut, Damar menggedor pintu kamar sang papi yang tidak bersalah itu.
"Pi... buka pintunya, Pi! Pi...! Papi... buka pintunya, Pi!!!"
Tidak ada sahutan dari kamar sang papi, membuat Damar semakin gelisah, takut jika dugaannya benar-benar terjadi, sang adik dibawa pergi atau bahkan diculik seseorang.
Ceklek!
Daun pintu kamar Dhana dan Mala akhirnya terbuka jua, bersamaan dengan mereka yang keluar seraya mengucek mata, melihat Damar yang sudah panik di depan kamarnya.
"Damar... ada apa Nak? Kenapa kamu berteriak?" tanya Dhana, berusaha membuka matanya yang masih terkatup.
"Gawat, Pi! Gawat...!!!" sahut Damar, semakin gelisah.
"Gawat kenapa Sayang? Bicaralah dengan tenang." timpal Mala, mendekati sang putra lalu menenangkannya
"Adek, Mi! Adek tidak ada di dalam kamar!" jawab Damar, tangannya refleks menunjuk ke lantai atas.
"Apa? Maksud kamu apa Sayang? Kamu jangan membuat Mami khawatir!" sahut Mala, mengusap kepala sang putra.
"Adek benar-benar tidak ada di dalam kamar, Mi! Jendela kamar Adek juga terbuka! Tidak hanya itu, di sana juga ada bekas benda tajam! Sepertinya ada orang yang membobol jendela kamar Adek dan membawa Adek pergi, Mi!" terang Damar, memberitahu sang mami apa yang sudah dilihatnya.
"Tidak...! Ini tidak boleh terjadi, Damar!" ucap Mala, pandangan matanya seketika menjadi kosong dan menerawang jauh.
Damar terkesiap, mendapati tubuh sang mami yang seketika oleng tanpa kendali setelah mendengar ceritanya. Sementara sang papi masih bergeming, tak merespon kepanikan dirinya terhadap sang adik yang entah bagaimana nasibnya sekarang.
"Damar... ada apa Sayang?"
Damar menoleh cepat, melihat sang oma yang keluar dari kamar bersama sang opa, menghampirinya yang tengah menopang tubuh Mala. Sementara Bu Aini bergegas membantu sang cucu, memegangi tubuh sang menantu yang tiba-tiba melemas seperti ini. Membuat Pak Aidi, Aifa'al dan Syahal-Syahil yang ikut berhamburan keluar dari kamar saat mendengar kepanikan suara Damar pun saling pandang karena heran.
"Ada apa Damar? Suara kamu sampai terdengar ke lantai atas. Kenapa kamu berteriak di larut malam seperti ini?" tanya Aifa'al, memegangi kakinya yang terasa sakit lagi.
"Apa? Kamu yang benar saja Nak?" sahut Pak Aidi, tercengang bukan main mendengar berita sang cucu.
"Iya, Opa. Damar tidak mungkin bohong!" ujar Damar.
"Ini pasti ulah Gibran! Kita harus bergerak sekarang!" seru Aifa'al, bersiap memutar tumit tanpa mau menunggu lagi.
"Tunggu, Al...!" sahut Dhana yang angkat suara.
Langkah Aifa'al yang hendak disusul Syahal dan Syahil terhenti seketika, membuat ketiganya yang siap melangkah harus memutar kembali kepalanya, melihat sang uncle yang masih bersikap biasa saja, tidak ada raut panik sedikit pun di wajahnya setelah mengetahui putrinya tidak ada di kamar.
"Tidak perlu terburu-buru, Al!" seru Dhana, datar.
Aifa'al mengeryit, bingung saat mendapatkan seruan yang tidak biasa dari sang uncle ketika Wulan sedang terancam. Membuatnya menoleh, melihat Syahal dan Syahil yang ikut menolehkan kepala melihat ke arahnya dengan tatapan heran.
"Maksud Uncle apa bicara seperti itu?" tanya Aifa'al.
"Kalian tidak perlu khawatir! Uncle akan menyelesaikan semuanya malam ini juga!" jawab Dhana, masih di dalam mode datar yang tak biasa di wajahnya.
"Maksud Papi apa bicara seperti itu? Papi tau di mana Adek sekarang?" timpal Damar, tak kalah heran melihat sikap sang papi yang aneh dan tidak terlihat panik seperti biasanya.
"Uncle... Adek dalam bahaya loh! Kenapa Uncle masih bersikap tenang seperti ini?" seru Syahil, tak kalah heran.
Dhana menghela nafas berat, berusaha untuk tetap berpikir positif, tenang dalam menghadapi situasi yang sebenarnya sudah diprediksi akan terjadi pada putri kesayangannya itu. Sementara Pak Aidi, Bu Aini, Aifa'al, Syahal, Syahil dan Damar menatap heran sikap Dhana yang sungguh aneh itu, tidak biasanya Dhana bias bersikap setenang itu, seakan tak terjadi apa-apa pada keluarganya terutama pada sang putri.
Drrrrttt!
Baru saja Dhana ingin membuka mulut, memberitahu apa yang sebenarnya ada di dalam pikirannya saat ini. Namun suara getaran dari ponselnya yang terletak di atas nakas kamar, membuatnya urung untuk mengatakan sesuatu itu. Dhana pun beranjak masuk, menghampiri ponselnya yang tidak sabar ingin dijawab.
"Assalamualaikum... ada apa Pak Dewa?"
"Wa'alaikumsalam... maaf Tuan muda kalau saya telah mengganggu istirahat Tuan Muda dengan Nyonya Muda."
"Tidak apa-apa, Pak. Katakan! Ada apa?"
__ADS_1
"Cafe Nona Muda, Tuan! Cafe Nona Muda kebakaran!"
"Apa? Kenapa bisa terjadi kebakaran Pak?"
"Saya juga kurang tau pasti, Tuan. Tapi menurut cerita dari chef Cafe Nona Muda, kebakaran terjadi karena ada selang tabung gas yang bocor hingga api merambat cepat ke seluruh penjuru Cafe Nona Muda, Tuan."
Dhana menghela berat, mengacak kasar kepalanya yang tengah panik memikirkan sang putri dan kini harus menerima kabar buruk dari sang manager Cafe kepercayaannya, bahwa Cafe almarhumah sang adik tiba-tiba mengalami kebakaran.
"Pak Dewa... tolong urus semuanya! Saya akan segera ke sana nanti, karena saat ini saya juga sedang ada masalah!"
"Baik Tuan Muda. Saya akan mengurus semuanya!"
"Terima kasih banyak, Pak Dewa."
"Sama-sama Tuan Muda. Kalau begitu saya tutup dulu, karena saya harus mengurus semuanya. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam..."
Dhana menghela berat, terduduk lemas di tepi tempat tidur seraya mengusap kasar kepalanya. Sikapnya yang setenang air, kini berubah kacau setelah mendengar kabar dari Dewa. Membuat Pak Aidi dan Bu Aini saling pandang, begitu juga dengan Mala dan Damar, Aifa'al dan Syahal-Syahil di luar. Lalu mereka semua pun bergegas masuk, mendekati Dhana yang terduduk panik di tepi tempat tidurnya sendirian.
"Ada apa Dhana? Siapa yang menghubungi kamu?"
"Pak Dewa, Yah. Cafe Adek... Cafe Adek kebakaran!"
"Maksud kamu, Cafe Dhina kebakaran Mas?"
"Iya, Sayang. Cafe adikku kebakaran."
Pak Aidi dan Bu Aini saling pandang tercengang, tidak menyangka kalau masalah saat ini tidak hanya Wulan yang hilang, tapi Cafe almarhumah sang putri tercinta pun ikut mengalami masalah yang sebelumnya tak pernah mengalami masalah seperti ini. Sementara Aifa'al mendengus marah, mengepal tangannya kuat karena ia tau siapa yang berada dibalik semua masalah ini.
"Ini tidak bisa dibiarkan lagi, Uncle! Semua ini pasti ulah bajingan tua bangka yang tidak tau malu dan tidak tau diri itu!!! Al harus mencari Adek sekarang juga dan menghabisi lelaki tua bangka itu malam ini juga!" seru Aifa'al, geram.
"Jangan, Al! Uncle tau ke mana kita harus mencari Wulan! Kamu jangan emosi dan gegabah dulu. Sebelumnya kita sudah membicarakan rencana ini, bukan?" jawab Dhana, beranjak dari duduknya dan melihat semuanya.
"Maksud kamu apa Mas? Wulan dalam bahaya! Kenapa kamu bisa setenang ini? Aku takut jika terjadi sesuatu hal yang buruk pada putriku, Mas." timpal Mala, air matanya terus mengalir sejak mendengar bahwa putrinya menghilang.
"Aku bukannya tidak cemas dan tidak takut, Sayang. Kamu ingat, saat aku mengatakan ada sesuatu di dalam kalung dan cincin yang dipakai oleh anak-anak?" ujar Dhana, berusaha menenangkan hati sang istri yang gelisah seraya melihat ke arah Aifa'al, Syahal, Syahil dan Damar.
"Memang di cincin yang kami pakai ini ada apa Uncle?" timpal Syahal, penasaran seraya melihat cincin di jarinya.
Dhana menghela panjang, hendak memberitahu semuanya tentang sesuatu yang sebenarnya sudah lama ia persiapkan untuk menyelesaikan permasalahan rumit ini. Bermodalkan sesuatu yang pernah diamanahkan oleh seseorang sebelum seseorang itu pergi untuk selamanya. Kendati Dhana telah membuat rencana dengan Bram dan Kinan untuk meringkus Gibran, namun Dhana juga mempunyai rencana sendiri yang menurutnya memang harus ia lakukan demi menjaga semuanya.
"Di dalam kalung Wulan dan cincin kalian itu ada sebuah cip. Cip itu berupa alat pelacak yang canggih, berukuran sangat kecil yang sengaja Uncle persiapkan untuk kalian!!! Cip itu terhubung langsung dengan alat pelacak yang ada di dalam ponsel paman kalian. Uncle sengaja mempersiapkan semua ini untuk menjaga kalian yang pernah terlibat masalah langsung dengan Gibran, termasuk Ziel. Uncle tidak ingin kalian celaka hanya karena masalah dendam pribadi lelaki itu terhadap anty kalian. Uncle membuat semua itu, beberapa hari setelah paman kalian pergi meninggalkan kita semua."
Dahi Mala mengeryit, menatap heran sang suami yang mengatakan itu, membuatnya terkejut apalagi dengan kata-kata pergi itu. Sementara Dhana tidak sadar jika di dalam kamar itu tidak semuanya yang mengetahui kebenaran bahwa Imam telah tiada, hingga semua mata kini tertuju ke arahnya.
"Mas... paman siapa yang kamu maksud pergi meninggalkan kita semua?" timpal Mala, menatap lekat netra sang suami.
Degh!
Dhana tersentak, mendengar pertanyaan sang istri. Sadar bahwa tidak seharusnya ia membahas perihal Imam yang telah tiada di depan sang istri di situasi sulit seperti saat ini, sedangkan sang istri sendiri sampai saat ini tidak mengetahui kalau Imam telah tiada. Sementara itu semuanya mendadak bisu, suasana kamar mendadak hening, semua memilih diam seraya melihat bagaimana ekspresi Mala yang terlihat sangat terkejut.
"Mas... jawab aku! Kenapa semuanya diam? Paman siapa yang kamu maksud pergi itu?" tandas Mala, menarik baju sang suami yang mendadak diam.
"Sebaiknya Papi beritahu Mami sesuatu yang belum Mami ketahui, Pi!" timpal Damar, memilih menundukan kepala.
"Apa maksud Damar, Mas? Apa yang belum aku ketahui selama kondisi psikis ku tidak terkendali? Mas jawab aku!" pungkas Mala, mengguncang tubuh suaminya yang diam.
Dhana menghela berat, menoleh ke arah ayah dan ibunya yang tampak menganggukan kepala kendati samar, seakan memberi kebebasan padanya untuk memberitahu Mala.
"Imam, Sayang. Paman anak-anak yang aku maksud itu adalah Imam, dan Imam sudah tiada di saat kamu sakit!"
.
.
.
.
.
__ADS_1
Happy Reading All πππ