
...🍁🍁🍁...
POV Gibran
Tiga puluh tahun yang lalu, aku dan kedua orang tuaku menetap di Jakarta, kota maju yang memberikan peluang untuk bertahan hidup. Papaku seorang pengusaha sukses, namanya sudah cukup terkenal, sedangkan mamaku seorang designer sukses kala itu dan mempunyai butik terkenal juga saat itu.
Saat tinggal di Jakarta usiaku masih 18 tahun, memudahkan aku untuk pindah setelah lulus SMA dan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di kota ini.
Di Jakarta, aku mempunyai tetangga yang sangat baik dan anaknya juga seusiaku. Namanya Alma Larashatika, dipanggil Mala karena nama Alma sudah terlalu biasa kata orang tuanya. Kami berteman baik saat itu. Ayahnya pun ternyata rekan bisnis papaku dan aku sungguh tidak menyangka dengan hal itu, membuatku dan Mala makin dekat.
Saat itu Mala berusia 13 tahun, masih imut dan kecil sekali. Bocah SMP yang sudah kuanggap seperti adik sendiri karena aku tidak memiliki saudara alias anak tunggal. Gadis itu sering mengunjungi rumahku dan begitu pula denganku sendiri yang sering datang berkunjung ke rumahnya saat itu. Mala juga sudah menganggapku seperti kakaknya, karena posisinya pun juga anak tunggal sama sepertiku. Membuat aku dan Mala semakin akrab dan dekat layaknya seperti kakak adik pada umumnya.
Aku sempat bilang kalau aku mempunyai tetangga yang baik, bukan? Ternyata apa yang aku duga selama ini salah. Tetangga yang selama ini kuanggap baik ternyata tidak sebaik itu. Mungkin mereka memang baik pada sesama tetangga, tapi kebaikan itu sepertinya tidak tercipta di dalam jiwa seorang ibu seperti ibunya Mala.
***
Setelah beberapa bulan aku mengenal gadis itu, ternyata dia bukan lah anak yang beruntung. Ibunya membenci dirinya, selalu mengacuhkan Mala jika dia berbuat salah walaupun sedikit. Gadis itu terlihat baik dari luar namun tidak di dalam, hingga beredar kabar bahwa ibunya tidak menginginkan anak perempuan, melainkan anak laki-laki. Karena itulah kebencian di dalam hati seorang ibu yang tidak pernah bersyukur akan nikmat Tuhan di dunia ini muncul.
Setelah mengetahui semua itu, aku tetap ada untuk Mala. Memberikan semangat agar tetap kuat dalam menghadapi sang ibu. Kadang aku berpikir, kenapa ada ibu yang tega mengacuhkan anaknya, padahal gadis kecil itu sangat cantik dan baik. Aku hanya takut suatu saat Mala trauma karena tindakan ibunya itu.
Aku terus mendukung Mala yang malang, merangkulnya di saat dia terpuruk dalam kesedihan dan ketakutan. Bersama sang ayah yang memiliki sifat berbeda dengan ibunya. Pak Imran Khan itulah nama yang akrab kusapa Pak Khan. Dia baik, murah senyum dan bijaksana. Sangat bertolak belakang dengan istrinya yang sepertinya sudah tidak waras lagi. Aku dan Pak Khan selalu mendukung Mala, begitu pula orang tuaku yang sudah menyayangi Mala seperti putrinya sendiri saat itu.
Namun semua itu berubah dengan cepat. Ketika sebuah kenyataan yang aku dapat, bahwa ibunya Mala sedang dekat dengan papaku. Mereka berselingkuh di belakang pasangan mereka masing-masing. Hancur itulah yang paling tepat untuk mamaku, aku, Mala dan juga Pak Khan saat itu. Ibunya Mala terobsesi dengan papaku sehingga ibunya Mala nekat meracuni mamaku kala itu. Aku melihat semuanya dengan mataku.
Saat itu aku dan Mala sedang berada di rumahku. Kami sudah janji untuk makan malam bersama dan di saat itu aku belum mengetahui kenyataan tentang hubungan papaku dan ibunya Mala. Di saat makan malam mulai dihidang, aku dan Mala yang masih bermain di taman melihat pergerakan aneh ibunya Mala di dapur. Kami berdua yang ingin tau pun mengikutinya dan kami melihat ibunya Mala memberikan segelas jus buah pada mamaku. Tanpa rasa curiga, mamaku yang sangat menyukai jus buah itu langsung meminumnya dengan lahap.
Sepersekian detik berlalu, mamaku jatuh ambruk dengan mulut berbusa. Papaku terkejut dan sempat berdebat hebat dengan ibunya Mala yang terbahak-bahak saat itu.
"Kenapa kamu melakukan ini, hah?" tandas papaku yang sangat marah, dan aku hanya bisa memperhatikannya dari kejauhan.
"Karena dia hanya penghalang dalam hubungan kita, Mas! Hanya aku yang pantas untuk menjadi istrimu, bukan dia!!!" jawab ibunya Mala dengan percaya diri.
Air mataku mengalir begitu saja, menatap Mala yang juga menangis melihat adegan menyakitkan itu, membuatku marah dan menyesal seketika. Kenapa aku bisa dekat dengan keluarga Pak Khan, yang bisanya menghancurkan kehidupan orang lain?
"Jadi kamu benar-benar berselingkuh dengan rekan bisnisku ini?"
Pak Khan yang semula hanya menjadi pendengar, mulai angkat bicara. Tampak kecewa dan marah setelah kebenarannya terungkap, membenarkan semua tentang gosip hubungan istrinya dengan papaku.
"Kalau benar kenapa? Dia yang kelak akan memberikan aku keturunan laki-laki!!! Tidak seperti kamu!!!" tandas ibunya Mala, tragis.
__ADS_1
"Anak itu anugerah!!! Seharusnya kamu bersyukur mempunyai Mala! Kamu tidak bisa seenaknya memilih siapa yang bisa memberikan kamu anak laki-laki!!! Kamu benar-benar sudah tidak waras!!!" tandas Pak Khan yang geram, berselimut kecewa.
"Aku tidak peduli!!! Aku sudah tidak mencintai kamu lagi! Aku hanya mencintai dia! Aku akan melakukan apa saja, agar aku bisa mendapatkan dia!!!" tandas ibunya Mala, melirik papaku yang berjongkok dan memeluk tubuh kaku mamaku.
"Aku tidak ingin bersamamu lagi! Kamu sudah membunuh istriku!!! Kamu harus bertanggung jawab! Dan hubungan kita, sudah berakhir sampai di sini!!!" timpal papaku yang parau, menahan isak tangis bercampur rasa bersalah karena berkhianat.
Aku yang geram pun melangkah masuk, namun kakiku terhenti di saat Mala yang menangis tiba-tiba menarik tanganku dari belakang. Amarahku semakin memuncak, melihat Mala sama seperti melihat ibunya yang sudah tega membunuh mamaku demi ingin mendapatkan apa yang dia inginkan.
Aku mendorong Mala, membuat gadis itu terhuyung hingga terjatuh. Aku memang menganggap gadis kecil itu seperti adikku, tapi itu dulu, tidak lagi untuk sekarang!!! Dan kini, aku sangat membencinya sama seperti aku membenci ibunya yang sangat kejam.
Aku bergegas pergi, ingin menghentikan pertengkaran yang terjadi di meja makan. Namun lagi-lagi kakiku terasa kelu, ketika mata ini menangkap tangan ibunya Mala yang berada di perut papaku dengan pisau. Darah papaku tergenang di mana-mana, memenuhi lantai rumahku malam itu. Aku terduduk lemas, menatap kepergian orang tuaku karena kegilaan ibunya Mala.
Sekilas kulihat Pak Khan yang berlari, menuju taman di mana putrinya berada. Setelah itu Pak Khan membawa istrinya pergi dari rumahku, meninggalkan jasad kedua orang tuaku yang terbujur kaku. Keesokan harinya, penyelidikan kasus pembunuhan kedua orang tuaku dimulai. Namun yang membuatku aneh, tidak ada satu pun bukti yang menguatkan. Proses otopsi pun dihentikan atas izin pamanku, walaupun aku sudah susah payah untuk bersaksi, bahwa aku adalah saksi mata yang sangat kuat dan aku melihat semuanya saat kejadian itu terjadi. Tapi usahaku sia-sia, pamanku kekeuh untuk menutup kasus itu dan membuatku tidak bisa berbuat apapun.
Malam itu menjadi malam yang sangat menyakitkan untukku dan setelah malam itu, aku dibawa pamanku ke luar kota. Hidup dan tinggal bersamanya yang masih sendiri. Pamanku adalah adik dari papaku. Dia lah waliku setelah kejadian tragis malam itu dan aku harus menghormati dan mematuhinya.
***
Sepuluh tahun berlalu. Setelah berpikir cukup lama, akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke Singapore, menjalankan perusahaan papaku yang sempat fakum karena masalah di masa lalu. Berita buruk tentang perselingkuhan papaku dengan wanita kejam itu membuat perusahaan merosot hingga terancam bangkrut saat itu. Namun berkat kerja keras pamanku yang sudah menyuntikan dana besar ke dalam perusahaan papaku, membuat perusahaan itu kembali berjalan walaupun tidak sehebat dulu. Tapi aku yakin, perusahaan papaku akan maju lagi jika aku yang menjalankan. Di usiaku yang masih 28 tahun saat ini akan lebih mudah untukku menjalankan bisnis.
Satu bulan sebelum keberangkatan ku ke Singapore, pamanku jatuh sakit. Penyakit yang dideritanya sudah terlalu parah dan membuat dokter mengeluh pasrah, bahwa tidak ada harapan lagi untuk pamanku bisa sembuh seperti sedia kala. Aku kembali terpukul, setelah sekian tahun berusaha untuk mengubur kisah kelam nan pahit, menciptakan dendam di dalam diri yang tak bisa kubohongi apalagi dilupakan. Kini aku harus kuat lagi, jika sewaktu-waktu Paman dipanggil oleh sang Pencipta, pergi ke alam baka, menyusul Papa dan mamaku di sana.
"Sudahlah, Paman. Bukan kah dulu Paman yang memaksaku untuk melupakan semua itu?" jawabku yang sebenarnya penasaran, namun tidak ingin membuat pamanku lelah.
"Paman minta maaf, Gibran. Sebenarnya, uang yang sudah Paman suntikan ke dalam perusahaan papamu, adalah uang dari suami pembunuh mamamu malam itu!!! Dia menemui Paman setelah pemakaman orang tuamu, dan dia memberikan 75% hartanya padamu sebagai tanda permintaan maaf. Paman terpaksa harus menerima uang itu dan membohongimu. Uang itu bukan uang Paman. Paman tidak punya cukup banyak uang dan menyuntikan dana ke perusahaan papamu yang hampir bangkrut. Paman juga tidak bisa menjamin kehidupan kamu akan baik saat tinggal bersama Paman. Kamu tau sendiri 'kan, bagaimana kehidupan Paman? Tidak hanya itu. Paman juga yang sudah menghilangkan semua bukti pembunuhan kedua orang tuamu sesuai perjanjian kami. Paman akan mendapatkan hartanya, jika Paman berhasil menghilangkan semua bukti yang memberatkan istrinya. Paman minta maaf. Paman benar-benar minta maaf...."
Syok!!! Pastinya sangat syok. Aku tidak menyangka kalau selama ini aku hidup dengan uang Pak Khan, suami dari wanita ****** pembunuh papa dan mamaku. Aku marah, ingin sekali rasanya memukul wajah pamanku yang sudah berbohong. Sifatku yang tidak suka jika sudah dibohongi harus kutahan susah payah. Aku tidak mungkin memukul pamanku yang sudah sekarat ini, membuatku bungkam, menahan amarah yang berapi-api. Dendam yang mendalam terasa semakin dalam setelah mendengar semua cerita pamanku. Aku tetap terdiam, menahan diri yang hampir meledak karena emosi. Jadi itu alasan pamanku, menutup kasus pembunuhan Papa dan Mama yang menuntut keadilan di sana, membiarkan pembunuh itu berkeliaran bebas begitu saja.
"Di mana keluarga Pak Khan sekarang?" tanyaku yang tidak bisa menahan rasa penasaran lagi, ingin mengetahui lebih banyak tentang kehidupan keluarga Pak Khan.
"Berita yang sempat Paman dengar, Pak Khan membawa anak dan istrinya pergi. Mereka pindah ke Kalimantan. Setelah itu Paman tidak pernah tau lagi kabar mereka." jawab pamanku yang terbata-bata, susah untuk mengukir kalimat di penghujung usia.
Tangan pamanku terulur, memberikan sebuah amplop putih berisi alamat rumah Pak Khan di Kalimantan. Setelah berkata jujur dan memberitahu kebenaran lainnya tentang penyelidikan kasus pembunuhan orang tuaku yang terhenti sepuluh tahun yang lalu, pamanku meninggal dunia. Aku sedih namun kekecewaan di dalam hatiku membuatku tidak meneteskan air mata sedikit pun saat kepergiannya yang abadi.
Tekatku sudah bulat. Dendam harus tetap dibalas, darah harus dibalas dengan darah, nyawa harus dibalas dengan nyawa pula. Setelah kepergian Paman, aku mengambil keputusan untuk pergi ke Kalimantan dan menemui Pak Khan, meminta penjelasan.
Untuk mencari alamatnya tidak terlalu sulit karena aku memiliki petunjuk yang akurat. Hingga akhirnya aku menemukan kediaman Pak Khan bersama istrinya yang kejam itu, rumah reot yang sangat kecil, kehidupan Pak Khan yang dulu berubah 180° setelah kejadian itu. Saat melihatku datang, Pak Khan menangis. Isak tangis penuh sesal menyelimuti dirinya. Aku tidak terlalu mengindahkan hal itu, hingga akhirnya dia menceritakan semuanya padaku.
"Saya minta maaf, Nak Gibran. Saya tidak mau istri saya dipenjara walaupun dia sudah menyakiti hati saya dan putri saya. Tolong maafkan istri saya. Setelah kejadian malam itu, istri saya jadi stress. Karena itulah, saya hanya bisa memberikan 75% harta yang saya punya pada paman Nak Gibran dan sisanya saya gunakan untuk pengobatan istri saya. Belum lagi kehidupan saya dan sekolahnya Mala. Saya berharap semua itu bisa membayar kesalahan istri saya, Nak."
__ADS_1
Membayar kesalahan? Benar-benar picik! Apakah dengan memberikan lebih dari setengah hartanya pada Paman dan aku, bisa mengembalikan nyawa kedua orang tuaku? Tidak semudah itu! Pemikiran Pak Khan yang merupakan seorang pembisnis hebat pada masanya ternyata sedangkal dan sepicik itu, membuatku tidak bisa menahan dendam yang makin mendalam.
Aku hanya terdiam, mataku mengedar, menyisir setiap sudut rumah reot yang sangat tidak layak huni itu, hingga mataku bersiborok dengan seseorang yang sangat familiar. Dia adalah Mala, gadis kecil yang sempat aku sayangi seperti adikku sendiri. Gadis itu tampak heran, menatapku lekat seperti baru pertama kali melihat wajahku.
Gadis itu hanya diam, menyalami tangan Pak Khan lalu pergi. Kulihat wanita kejam yang telah membunuh kedua orang tuaku keluar dari kamar, menyambut Mala yang baru pulang entah dari mana. Sepertinya wanita kejam itu sudah berubah lebih baik, tidak membenci Mala lagi seperti dulu.
"Setelah kejadian malam itu, istri saya jadi stress. Tapi setelah melakukan pengobatan secara tradisional, istri saya bisa sembuh dan sikapnya berubah menjadi lebih baik pada putrinya sendiri." tutur Pak Khan, penuh haru namun memancing amarahku.
Bisa-bisanya Pak Khan bicara seperti itu tepat di depan mataku, menatap haru ke arah dua wanita yang sangat aku benci!!! Aku membenci wanita kejam itu karena dia telah membuatku hidup menjadi yatim piatu, dan aku membenci Mala karena dia adalah anak dari wanita kejam itu. Keharmonisan keluarga Pak Khan membuatku tidak tahan, aku memilih untuk pergi tanpa berpamitan.
"Aku akan membalas perbuatan istrimu yang kejam itu pada putrimu suatu hari nanti, Pak Khan!!! Aku tidak akan pernah melupakan kejadian malam itu sampai kapan pun, bahkan jika aku mati sekali pun!"
Setelah berkunjung ke rumah Pak Khan, akhirnya aku memutuskan untuk segera berangkat ke Singapore tanpa menunggu waktu satu bulan. Aku tidak ingin menunda dan akan membuatku semakin lama untuk balas dendam. Di saat keberangkatan ke Singapore, aku bertemu Mira. Gadis baik namun cacat karena lumpuh, dia berhasil mengubah duniaku yang muram. Dia juga yang berusaha meyakinkanku, kalau balas dendam itu hanya akan merusak diri sendiri.
"Sebaiknya kamu lupakan semua masa kelam itu, Mas. Dendam hanya membuat hidup kita tersiksa, aku sudah melaluinya!!! Kakiku lumpuh permanen karena dendam, dan karena dendam aku kehilangan adik sepupuku satu-satunya. Karena dendam juga, orang yang tidak bersalah kini sudah pergi untuk selama-selamanya. Dendam hanya akan merusak hati dan diri kita, Mas!"
Seperti itulah perkataannya. Kata-kata itu ampuh membuatku lupa untuk sementara, membiarkan hidup terus berjalan pada rel seharusnya. Kehadiran Mira sangat cepat mengubah sifatku. Namun semua itu pun tidak bertahan lama. Mira meninggalkanku setelah anak kami lahir, membuat dendam yang sudah terkubur lama, bangkit kembali.
Aku bertahan selama tiga tahun di Singapore setelah Zivana lahir hingga akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke Jakarta, memulai usaha baru, mendirikan sekolah ternama. Hingga pada akhirnya, aku dan Kinan bertemu. Dia menerimaku apa adanya, menerima putriku dengan hati terbuka dan kami pun menikah.
Aku tidak menyangka, kalau anak dari wanita ****** penghancur keluargaku juga ada di kota ini. Saat di Singapore, satu tahun sebelum aku menikah dengan Mira, aku sempat mendengar kabar kalau kedua orang tua Mala menjadi korban terjatuhnya pesawat. Berita itu membuatku puas, tapi dendam tetap harus dituntaskan!!!
.
.
.
.
.
Happy Reading All 😇😇😇
Wkwkwkwkwk gimana nih? Penuturan Gibran cukup menjawab siapa Mala dan siapa Gibran sebenarnya 'kan? 😂😂😂 Ternyata neneknya Wulan sama kayak maminya ya 😂 sama-sama kejam eihh...
Sedikit bocoran deh biar sahabat semua ngak bingung. Jadi, usia Gibran ternyata sama dengan Ammar. Saat Gibran pergi ke Singapore dan bertemu Mira, mereka ngak langsung nikah, mereka pacaran 7 tahun. Tujuh tahun itu bertepatan dengan Dhana yang masih terpuruk karena adiknya pergi. Dan setelah 7 tahun, akhirnya Dhana dan Mala bertemu lalu menikah tanpa Dhana cari tau terlebih dahulu bagaimana Mala, seperti apa keluarganya hingga seperti ini. Dan ternyata, pernikahan Gibran dan Mira sama dengan pernikahan Dhana dan Mala.
Gimana? Cukup membagongkan ya 😂 semoga saja para sahabat dan pembaca setia Wulan ngak bingung lagi ya 😘😘
__ADS_1